Work
Per Maret tahun ini aku udah berkarya alias bekerja alias mengabdi ke negara selama 5 tahun. 


Kalau pake itungan aktifnya idol kpop di ukuran tengah. Bukan rookie a.k.a newbie. Dibilang senior juga belum. Middle gitu deh. Pegawai loyal nggak sih ini itungannya? Jiakh.

Beberapa tahun belakangan ini instansi tempatku dapet banyak hujatan ujian. Mempertanyakan apa sih kerjaan kami. Malah dituduh nggak kerja. Jujur sedih sih dibilang gitu. Dari awal bergabung rasanya udah kerja keras. Bukan cuma aku, tapi keseluruhan tim di kantor ga ada yang keliatan gabut. Malah sering pulang lebih lama dari jamnya.

Nah, buat merayakan lima tahun bekerja ini, mau mengabadikan di blog ah.

Awal-awal jadi calon umbi bisa dibilang semangat membara. 
AKU AKAN MENGABDI!
AKU AKAN MENJADI PEGAWAI TERBAIK!
Liat aja cerita tes menjadi umbi, latsar, uji kompetensi, kegiatan random pun ditulis disini. 

Kemudian diserang pandemi. Lalu berlanjut dikasih kejutan berupa mutasi. Dibilang demotivasi iya, kecewa iya, susah move on iya. Baru setahun ini mencoba untuk menerima.


Okay, jadi apa sih sebenernya kerjaanku ini?

Aku adalah lulusan Sarjana Kesehatan Masyarakat. Dengan peminatan gizi kesehatan masyarakat. Kebanyakan lulusanku ini mengabdinya di Dinas Kesehatan. Aku termasuk minoritas yang melenceng dari jalan pada umumnya. Walaupun pada akhirnya di pekerjaan yang sekarang ini SELALU berkolaborasi sama Dinkes :))
 
Konsep instansiku ini adalah pengawas Obat dan Makanan. Obat dan Makanan ini dijabarkan lagi menjadi 5 komoditi. Obat, obat tradisional (sekarang berubah istilah jadi obat bahan alam), suplemen kesehatan, kosmetik, dan pangan olahan. 

Pengawasannya dilakukan dengan 2 cara. Pre-market atau sebelum dipasarkan. Dengan cara melakukan audit sarana produksi bagi siapapun yang mau produksi ke-lima komoditi diatas. Setelah beredar, dilakukan pengawasan post-market, yang dikenal dengan sidak-sidak itu. Diluar sidak pun kami melakukan secara rutin. Hanya yang disetting untuk pemberitaan ya sidak itu.

Kegiatan di Pasar Cariu

Nah selain pengawasan, kami juga ada fungsi memberikan edukasi ke masyarakat. Tentunya masih seputar Obat dan Makanan. Disinilah fokus pekerjaanku berada. Kurang lebih jadi promotor kesehatan bagi masyarakat. 

Kegiatan rutinku itu:
1. Jadi mbak-mba customer service. Melayani konsultasi tatap langsung tentang gimana cara dapet izin edar. Sejauh mana prosesnya. Lewat kanal media lain pun dilayani, seperti Whatapp misalnya. Akulah manusia yang dipanggil mimin itu.
2. Melakukan edukasi ke masyarakat. Kadang ke sekolah, ke mahasiswa, ibu rumah tangga, pelaku usaha. Siapapun sih harapannya bisa teredukasi.

Edukasi jajanan aman ke guru SD


Di kampus farmasi UI

Itu yang rutin, ya. Yang lainnya? Yaa tentu saja ada. Konsep menjadi umbi ini palugada. Apa yang lu butuhkan, gue ada.
1. Kadang ikut periksa sarana
2. Jadi arsiparis
3. Pernah gabung tim food security buat ngecek keamanan pangan VVIP tiap kunjungan
4. Tim Kejadian Luar Biasa (KLB) Keamanan Pangan

Yaa begitulah. Berusaha mengerjakan yang ditugaskan. Harapannya sih ya sejalur dengan fungsional yang diberikan: Pengawas Farmasi dan Makanan (PFM). Cuma, hidup kan tidak se-ideal gitu. Tau-tau jadi arsiparis. Tau-tau jadi umbi. Eh emang umbi ini bukan mendadak.

***

Setahun sepuluh bulan penempatan di kota Solo. Wuih enak banget ya ges ya. Deket rumah. Apa aja ada. Murah. Ga kekurangan satu hal pun. Kurang bersyukur aja sih kayaknya. Ga pernah bermasalah sama rekan kerja atau atasan. Malah dapet temen ikrib disini. 

Berusaha nyempetin main bareng walau udah beda kota

Udah takdir kali ya si anak baru merantau ini disuruh merantau lebih jauh lagi. Pindah ke Bogor (kabupaten). Auto darderdor. 

Menurutku si orang Jawa kalem lemah lembut ini, semuanya berubah menjadi ganas. Di tiga bulan awal kepindahan kerjaannya mau nangis aja tiap malem. Ketika pagi datang udah stress duluan. Baik kerjaannya, lingkungannya maupun rekan kerjanya. Kalo diinget sekarang sih terharu. Ternyata bisa melewati itu semua...

Emang apa sih yang bikin berat? Secara kultur semuanya kerasa kudu cepet-cepet. Demanding. Jumlah pasien dan sarana banyak. Ah, nikmat sekali. Dari awal di Bogor udah berjanji ngga akan disini selamanya. Hahahaa..masa depan siapa yang tau?

Ngomong-ngomong soal instansiii...aku berbagi kebaikannya aja ya. Haha. Katanya kan jangan meludahi sumur dimana kamu minum airnya. Siapa tauuu ada nih yang kepo gimana sih kultur kerja di instansiku ini.

1. Science-based BANGET! 

Asli. Case di jabatan PFM ya. Buanyak banget pelatihan untuk kami yang omai omaigad kalo ngikutin tuh berasa kuliah lagi. Narasumbernya juga sering dari perguruan tinggi. Dari organisasi diluar negeri? Banyak. WHO, PMDA, etc.

Ada dua sisi sih. Satunya bersyukur bisa nambah keilmuan. Satunya puyeng ini teh bahas apa. Apalagi ketika udah merepet bahas farmakologi, obat-obatan, hal yang berbau farmasi. Auto merasa salah jurusan. Apa kudu kuliah farmasi? :))

Pusinkkk sertifikasi :"))

Nama obat yang dulunya cuma tau paracetamol sekarang bare minimumnya tau deksa, tramadol, LOL. Otakku ini harus digunakan secara ekstra untuk menyerap semuanya.

2. Mayoritas perempuan

Berhubung kebanyakan apoteker, dan fakultas farmasi di Indonesia itu juga udah settingan kebanyakan perempuan. Alhasil...banyak perempuannya. Di timku yang sekarang 6 orang perempuan semua. Di tim lain belasan orang, lakinya 1 doang. Ya begitulah adanya.

Timku setahun ini

Kembali lagi ini juga hal yang sama ketika aku kuliah di FKM. Kebanyakan mbak-mbak. Apakah ngaruh di kerjaan? Yaa sedikit banyak ngaruh. Dari sisi emosi kadang kan perempuan lebih perasa. Ada aja gesekannya. Hihi.

3. Selalu mendukung untuk berpendidikan tinggi

Sedari awal masih jadi calon umbi udah didorong untuk ayo kuliah lagi ayo kuliah lagi. Di titik ini setelah 5 tahun kerja baru gerak buat lanjut kuliah. Yang emang mau kerja dan dapet kesempatan lanjut kuliah, no worries. Instansiku sangat suprot!


4. Gap senioritas tipis (minimal di unitku)

Duluuu waktu awal kerja, setengahnya kelahiran 90an alias seangkatan. Sekarang udah lebih beragam berhubung dapet tambahan dari unit sana sini. Alhamdulillahnya tetep sih ga berasa senioritas yang gimana-gimana. Semua bekerja sesuai dengan porsinya. Yang junior menghormati senior. Yang senior pun mau mendengarkan pendapat junior.

Memang ga selalu begitu. Cuma ketika dibandingkan dengan unit atau instansi lain, aku berkesimpulan sih ini masih di koridor aman. Haha.

Kegambar nggak sih kerjaannya kayak apa? Kok kayak ngalor ngidul? Maap yaaa..
Mohon doanya aja semoga apapun yang kami kerjakan saat ini punya dampak baik ke masyarakat. Bisa memberikan pelayanan yang maksimal. Dan buatku pribadi bisa lanjut kuliah. Hohooo ~

Hola.

Ikut Bimbingan Study Abroad, Apakah Worth It?

Sejak lulus S1 gue udah bercita-cita untuk melanjutkan studi S2. Targetnya diluar Indonesia dan menggunakan beasiswa. Sebagai umbies, ada persyaratan tahun bekerja serta rekomendasi atasan sebagai persyaratannya. Sebenarnya instansi gue sangat terbuka dengan kesempatan ini. Bahkan setiap ada pembinaan dari esmelon, didorong untuk kuliah. Cuma ya begitu. Namanya udah kerja, suka ngga bisa fokus dan membagi waktu untuk mempersiapkan ini itu. 

Gue pribadi waktu itu ada pertimbangan lain. Yaitu karena ada persyaratan harus "mengabdi" di penempatan selama beberapa tahun. Sedangkan gue posisinya ngga mau lama-lama di penempatan sekarang. 

Namun setelah berpikir agak panjang dan jernih, gue memutuskan yaudah coba aja dulu. Takut kepentok umur nanti malah menyesal mengundur-undur pendaftaran. Tapi, mulai darimana?  

Sebagai orang awam yang ngga banyak koneksi, ga punya mentor, ternyata agak bingung kudu ngapain. Habis punya topik, nentuin univ tujuan, lalu apa? Daftar uni dulu atau beasiswa dulu? Disinilah gue menemukan jawabannya. 

Instansi gue mengadakan Scholarship Intensif Bootcamp yang ngebedah seputar study abroad. Bekerjasama dengan schoters, bootcamp ini diselenggarakan full 5 hari kerja. Senin-Jumat. Buat yang penasaran, isi bimbingan tuh kayak apa sih? Worth it ga? Sebagai orang yang nol besar langkah awalnya, gue bisa bilang worth it! Apalagi difasilitasi kantor. Sangat terbantu.

Biar ada gambaran bimbingan itu isinya apa, gue coba sharing ya. Selama 5 hari, menu yang kami dapatkan sebagai berikut:

1. Pretest dan post test IELTS. Dilanjutkan dengan pembahasan tiap sectionnya. Listening, reading, writing dan speaking.
2. Workshop penulisan CV Akademik dan Motivation Letter
3. Workshop beasiswa LPDP dan Penulisan Essay
4. Roleplay Simulasi Interview LPDP

Pertama, bahas tentang IELTS dulu


Kenapa IELTS? Disini memang didorong untuk keluar negeri. Dan, seperti yang kita tahu ya. IELTS atau TOEFL itu wajib bagi kita yang bukan penutur asli bahasa Inggris. Kedua test ini punya tipe soal berbeda. Tapi yang sering diminta di persyaratan adalah IELTS. Makanya kami diminta untuk pre test IELTS dulu. 

Gue pribadi belum pernah ambil IELTS yah. Klaimnya sih pre test ini punya 90% kemiripan dengan IELTS yang asli. Enaknya disini dibahas tips and trick menjawab soalnya. Soal IELTS udah punya pattern. Memang nggak semata-mata "bisa" bahasa Inggris lalu bakal dapet score yang bagus. Contohnya nih di soal listening ada yang diminta nulis kata yang dieja, ada soal map, dll. Nah itu dibedaaah semua. Gue hanya bisa mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan tutornya. Baru tau, gaes!

Pembahasannya komprehensif banget. Lumayan ngebut karena ada 4 section sedangkan waktunya terbatas.

Kedua, workshop penulisan CV Akademik dan Motivation Letter


Apaan tuh? Kedua dokumen ini dibutuhkan untuk mendapatkan LoA dari kampus tujuan. Gue kira LoA tuh didapet dari hasil interview atau test gitu. Ternyata enggak. Eh tergantung juga sih dari univ, fakultas serta jurusan yang kita targetin. Pada umumnya memang dengan mengirimkan cv akademik serta motivation letter. 

Isi cv akademik agak beda dengan cv untuk melamar kerja. Disini kita bisa fokusin ke research atau publikasi yang pernah kita lakukan. Kemudian dihubungkan dengan jurusan studi yang akan kita ambil. Sedangkan motivation letter lebih menjelaskan tujuan studi kita.

Kenapa penting? Karena nggak semua orang bakal ambil studi yang linear dari kuliah sebelumnya ya. Bisa aja kuliah di teknologi pangan, tapi mau ambil S2-nya public health. Atau sebaliknya, kuliah S1 di kesehatan masyarakat tapi S2 mau ambil food science. Bisa? Bisa aja. Selama dalam motivation letter itu mendukung 1) alasan kita ambil jurusan itu, 2) "modal" awal kita untuk berkuliah disitu. 

Kayak gue misal mau ambil food safety. Padahal gue S1 kesehatan masyarakat. Nah bisa ambil aja beberapa mata kuliah yang berhubungan dengan food safety, yaitu gizi kesehatan masyarakat. Kemudian ditambah deh penjelasan tentang pengalaman kerja di instansi yang juga berkutat soal food safety. Pada intinya kita bisa menunjukkan bahwa kita tuh layak untuk berkuliah di tempat tersebut.

Harapannya dengan membaca cv serta motivation letter, kampus ((terketuk hatinya)) dan bisa memberikan LoA. Kenapa LoA penting? Ini berlanjut ke topik ketiga tentang LPDP.

Serba-serbi LPDP


I assume you reader know a bit about LPDP. Minimal tahu bahwa LPDP itu beasiswa dari pemerintah untuk ((rakyatnya)). Di LPDP secara garis besar ada 3 tahapan seleksi. Dimulai dari seleksi administrasi, skolastik, dan berakhir di wawancara. Tapiii, ada keuntungan bagi kamu yang udah punya LoA kampus. Apakah itu? Dari tahapan administrasi, bisa langsung wawancara! Mantap gak tuh? Iyalah. Skolastik tuh macem ujian cpns yang isinya TPA dkk itu loh gaes. Menghemat waktu dan energi banget kan.

Kenapa langsung ke LPDP?
Diantara sekian banyak beasiswa, kenapa fokusnya ke LPDP? Bagi umbies cocok banget dengan kewajiban mengabdi ke Indonesia. Mau apalagi kalau nggak memanfaatkan ilmu yang didapet untuk memajukan instansi, yang nantinya memajukan pelayanan publik di Indonesia? Inti dari beasiswa LPDP ini ada di essay berisi kontribusi. Ternyataa ada tips and tricknya juga gaes. Buatlah essay kontribusi itu yang sejalan dengan nilai-nilai LPDP. Apa aja itu? Salah satunya, kolaborasi. Lainnya? Banyak

Lagi-lagi memang dibutuhkan berpikir jernih untuk bisa menulis. Mau itu cv akademik, motivation letter maupun penulisan essay. Menurut gue, kalau alasan kuliah karena mau dapet pengalaman hidup diluar negeri sah-sah aja. Asalkan didalam tulisan nantinya bisa menemukan alasan yang lebih kuat dari itu. Tentunya juga terkait dengan studi yang akan kita ambil. Pengalaman bisa dibilang nomor 2 lah. Tanpa alasan yang jelas ini, kita akan terombang-ambing dan mengawang dengan target-target yang kita tentukan. 

Sebenarnya ngga akan sedetail ini yah kalau mau kuliah dengan biaya sendiri. Tapi ini kan ada pihak lain yang mau membiayai, disinilah kita harus bisa meyakinkan pemberi beasiswa bahwa kita tuh layak dan cocok dengan nilai yang mereka usung. Jadi, kalau kata para tutor, coba cari tau lebih dalam apa sih visi misi pemberi beasiswa. Dan tentukan dengan tujuan studi kita, align nggak sih dengan nilai mereka? Bisa jadi mereka ngga hanya mencari yang pintar, tapi yang cocok. Bukan jodoh doang yang cocok-cocokan. Daftar beasiswa juga ya ges ya!

Terakhir, latihan wawancara


Untuk beasiswa LPDP, wawancara pada intinya menjelaskan apa yang kita tulis. Makanya penting banget untuk konsisten. Apa yang kita tulis dan apa yang kita jelaskan nantinya. Jangan plin plan. Pewawancara akan terbagi jadi 3 yaitu psikolog, akademisi serta pihak LPDP. Kami diberi daftar list kemungkinan pertanyaan yang akan diajukan. Membantu banget sih untuk kita persiapkan jawabannya. Selama roleplay, kami udah panas dingin. Semoga dengan persiapan yang matang bisa bikin lebih rileks dan pede.

Gue bisa bilang seluruh rangkaian kegiatan ini amat sangat bermanfaat. Tinggal dipraktekkin dan daftar beasiswanya aja. 

Nilai plusnya lagi: setelah bootcamp masih ada les tambahan :))))))) Doakan yahh semoga bisa tercapai salah satu tujuan hidup ini. Yukk bisa yuuu~~
Udah macam hubungan aja ada anniversary. Yep, bulan Maret ini setahun sudah kita hidup ((berdampingan)) dengan Covid-19. Dibandingkan dengan tahun lalu, ada perbedaan nggak? Jelas ada dong.

Covid-19 Anniversary

Pertama: mobilitas. Awal tahun ini aku udah merasakan bepergian. Satu hal yang sejak tahun lalu aku hindari. Bahkan sekadar jogging pagi pun aku kurangi *ini males aja sih*. Ketemu orang macem ketemu macan. Ga berani deket-deket. Eh tahun ini ya mau ga mau bepergian karena keadaan memaksa. Alias mutasi.

Baca: Dari Solo ke Bogor: Mutasi!

Kedua: pekerjaan. Februari 2021 aku masih mengalami hanya masuk kantor sehari diantara 5 hari kerja. Sisanya WFH alias kerja dari rumah. Sejak mutasi, kebijakan dikantor baru berbeda. Disini kebalikannya. 1 hari wfh sisanya wfo. Di hari ketiga mutasi pun aku udah diajak untuk dinas keluar kota. Wow.

Ketiga karena disini yang terdekat adalah kakakku, aku ngikut aja kemana dia pergi. Terutama di bagian jalan-jalan. LOL. Aku pernah menjadi orang yang menentang jalan-jalan saat pandemi. Bahkan sekadar memposting pun gimanaa gitu. Menurutku bahayanya postingan itu bisa memicu orang yang liat untuk berpikir, "Ah dia aja bisa jalan kesana kemari aman. Masa aku enggak" - dan akhirnya banyak orang keluar rumah tanpa urgensi penting.

Lama kelamaan rasanya hal ini nggak bisa dihindari. Kecuali: rumahmu seluas lapangan sepakbola dengan fasilitas lengkap, semua pekerjaan bisa dikerjakan dari rumah. Nggak perlu cari nafkah diluar rumah. Sementara aku tinggal dikos aja udah bosen sih yuyur. Akhirnya yaudah mau ga mau ikutan kemana pergi.

Apakah aku merasa aman? Nggak sama sekali. Aku masih memantau berita perkembangan jumlah positif Covid-19 dan belum ada penurunan signifikan. Yah begitulah.

Nggak jarang aku merasa hipokrit dulu menggaungkan dirumah aja sekarang kok justru dirumah cuma weekend dan wfh doang? :) aih hidupku. Tapi ya gimana setelah beberapa waktu memang pendapatku mulai tergoyahkan.

Babak baru di masa pandemi pun dimulai. Vaksin! Instansi kerjaku naik daun karena dia. Makanya begitu keluar izin penggunaan darurat langsung harap-harap cemas. Dapet jatah di bulan apa, ya?

Sejak bulan Februari udah dilakukan pendataan dikantor. Sayangnya karena aku mutasi jadi mundur dari nama yang didaftarkan. Saat itu di Kota Surakarta. Tahu lah ya alasannya kenapa. Vaksin covid-19 ini kan butuh 2x dosis dengan interval 14 hari (pada saat itu). Dengan jumlah terbatas, yang dapet vaksin harus mendapat dosis 1 dan 2 ditempat yang sama.

Akhirnya aku kembali didata di lokasi kerja baru. Menunggu..menunggu...menunggu... Baru pada tanggal 23 Maret 2021 siang aku mendapatkan vaksin dosis 1! Yeay. Alhamdulillah.

Kami (yup, dengan rekan sekantor yang sama belum divaksin) mendapat jadwal di Kota Bogor. Tempatnya adalah lokasi vaksinasi massal. Ada 2 kelompok yang divaksin pada saat aku datang. Pekerja pelayanan publik dan lansia. Jujur aku senang melihat antusiasme masyarakat disini. Mereka tertib dan raut mukanya terlihat sumringah sembari menunggu giliran.

Aku melihat beberapa pasangan lansia yang datang sendiri tanpa didampingi. Haru aja. Kelompok umur mereka kan yang paling rentan, ya. Bagai mendapat angin segar.

Saat vaksinasi aku salut kepada petugas dari Dinas Kesehatan Kota Bogor. Semua dilayani dengan cepat. Arahan jelas. Nggak ada kebingungan sama sekali. Dan ramah dong petugasnya. Baru merasa, "Oh jadi orang-orang ini ya yang dilatih sebagai vaksinator". Aku melihat mereka bekerja keras dan beberapa diantaranya memakai double masker :)

Jadi gimana rasanya divaksin?

Kayak udah lama banget ngga sih ga divaksin? LOL. Aku memang orang kesehatan yang patut dipertanyakan hmm. Untuk muslimah berhijab ada bilik khusus yang tertutup. Vaksinatornya pun berhijab semua.

Setelah melalui beberapa meja (registrasi dan screening), lengan kiriku disuntikkan vaksin. Kata vaksinatornya, "Rileks aja ya mbak biar gampang" - bener dong nggak kerasa apa-apa saat disuntik itu. Aku malah nggak yakin ini udah kena kulit apa belum. Hehe.

Barulah beberapa saat setelah vaksin itu terasa pegal di bagian yang disuntik. Udah gitu aja? Ternyata nggak dong. Sesampainya dikantor aku merasa pusing. Bukan karena akhir bulan, sungguhan. Pusingnya seperti orang jawa bilang nggliyeng. Alhasil sampe kos aku bebersih dan langsung tidur. Bangun magrib dan laper. Pas mager masak yaudah gofood aja #Lyfe.

Baca: Kebiasaan Baru di Tahun 2021

Senangnya hatiku mendapat vaksin yang telah lama kutunggu. Masih belum selesai memang. Menunggu 28 hari lagi untuk mendapatkan dosis kedua. Bulan puasa dongg. Wish me luck! Semoga bisa tetap sehat dan negatif Covid-19 sembari menunggu suntik dosis kedua.

Aku tetap konsisten menggunakan masker sampai pandemi benar-benar usai. Dan menguatkan hati untuk nggak keluar rumah untuk urusan remeh temeh. Gimana kabar kalian setahun pandemi ini? Adakah hal yang berubah?
Pindah tugas artinya ngga cuma memindahkan diri sendiri. Barang yang ada di kos juga butuh diangkut. Dan keberadaan mereka ini bawanya lebih ribet dari diri sendiri. Jelas lah, lebih banyak dan berat.

Pengalaman Menggunakan Jasa Indah Logistik Cargo

Baca: Dari Solo ke Bogor: Mutasi!

2 minggu sebelum keberangkatan, saya udah menimbang berbagai pilihan kargo.

Pertama, sewa mobil sendiri. Pertimbangannya barang bisa nyampe ditempat baru sama dengan orangnya. Ngga perlu nunggu. Iseng ngecek di go-box biaya antara 3-4 juta. Nanya juga tuh sama satpam kantor. Antara 2-3 juta. Masih masuk akal sih, mengingat tol Solo ke Bogor aja udah 800ribuan sendiri.

Sampe seminggu sebelum pindahan hampir pasti pilih ini. Sayangnya karena di SBM sistem reimburse sewa mobil ini ga jelas, saya ngga pilih. Ogah lah ngeluarin budget segitu tanpa bisa kembali uangnya. Wekeke.

Kedua, KAI logistik. Layanan dari kereta api. Denger-denger sih murah dan bisa dianter ke tempat. Nggak usah ambil sendiri di stasiun gitu, lho. Pilihan ini dicoret karena Bogor ga masuk dalam jangkauannya.

Terakhir ya per-kargo-an punya swasta(?). Sama sekali ga ada bayangan apa. Asal nyari di google kargo terdekat. Eh ketemu Indah Cargo yang kantornya emang deket banget dari kos.

Saya telpon tuh bisa dijemput nggak barangnya? BISA. Janjian dulu H-1. Yeay. Untuk biaya seinget saya Rp4.000/kg dengan minimal berat 11 kg.

Biar nggak syok, saya jelasin dulu barang saya apa aja.

1. Printilan macem baju, buku, alat dapur
2. Dipan
3. Sepeda

Nah si dipan ini yang problematic banget. Gara-gara pandemi saya merasa butuh dipan. Banyak waktu di kos kan. Ngga mikir bakal pindah :") Alhamdulillah kardusnya masih disimpen. Jadilah masukin sendiri.

Hari Jumat, masnya dateng sesuai janji. Yang pertama dicek dulu barangnya. Ada beberapa yang saya belum berhasil packing. Katanya ada jasa pengepakan yaudahlahhh sekalian aja. Capek lahir batin ngepak sendiri.


Eh beneran dipak ditempat 😂 masnya baik. Malah nanya ada kardus ga mbak? Saya pak in aja. Gausah dibawa kekantor daripada nambah biaya.

Saya pantengin tuh waktu ngebungkus. Dan satu hal terbersit, buat ngepak tuh bukan barang yang nyesuaikan kardus. Tapi kardus yang nyesuaikan bentuk barang. Asli nggak kepikiran buat guntingin kardus tebel males banget kan. Eh masnya bisa. Jadilah tuh barang-barang yang saya pikir ga bisa masuk kardus, ditangan masnya langsung kebungkus. Happy!

Yang saya bingung ini gimana menentukan harganya? Secara dia ga bawa timbangan.

Ternyata diukur volume. Beratnya kira-kira masnya aja. Total kargo saya kurleb 10 kardus (ukuran Aqua dan kardus rokok gitu) + dipan + sepeda adalah.... 230 kg! HAHAHA. Shockedddd. Padahal itu udah ada 3 atau 4 kardus yang dikirim kerumah. Gilak sih ternyata barang saya berkembang biak. Perintilannya banyak bener! I feel greedy huhuhu. Kirain selama ini cukup minimalis, lho. Ternyata.......halu 🙂 menyumbang terbanyak ya apalagi kalau bukan dipan seberat 75kg.


Selesai dipak. Nanya dong, sampenya berapa hari ya? Dijawab antara 3-4 hari. Pengiriman setiap harinya maksimal jam 5 sore. Barang yang masuk diatas itu dikirim keesokan harinya. Diitung-itung, perkiraan nyampe Selasa/Rabu. Hari Ahadnya ga ada pengiriman yaakkk.

Senin saya dapet WA tuh dari kurirnya. Mau dikirim. Saya minta pulang kerja kirimnya. Beneran sampe dong. Happyyy. Lebih cepet dari perkiraan.

Wujud barangnya gimana saat diterima?

No cacat samsek. Jujur udah pasrah loh itu barang kayak serum (LOL) bakal pecah 😂 ternyata enggak. Semua kardusnya dikasih tanda FRAGILE emanggg. Tapi ngga nyangka aja beneran aman 🥰 luv.

Masnya juga mau kok diminta naikin barang sampe lantai dua. Ngga cuma depan rumah aja. So far sih puasss pake layanan Indah cargo. Ramah dari awal nelpon langsung dikasih CP pribadi biar enak tektokan. Nyampe lebih cepet dari perkiraan. Oh ya sempet nanya juga, dia bisa kirim ke seluruh Indonesia.

Dari segi harga saya ngga tau ya, ngga ngebandingin. Murni karena gatau di Indonesia tuh ada layanan kargo apa aja? 😌 Alhasil sedapetnya ajalah udahhh. Alhamdulillah pilihannya tepat.

Thank you Indah Cargo. Semoga kedepannya saya bisa pake jasa buat pindahan ke Semarang *aminin dulu ya kan.
Fiuuuh. Udah lama mau menuliskan berita ini akhirnya kelar! Another twist in life ~

Dari Solo ke Bogor: Mutasi!

16 Januari 2021

Atasan saya menginfokan di grup kerjaan tentang isu redistribusi. Iya isu karena masih belom pasti dan nggak semua orang tahu. Antara bersyukur dikasih tahu dan takut. Informasinya hanya sebatas: unit kerja saya kelebihan pegawai. Alhasil 2 orang harus dimutasi. Langsung panas deh semuanya. Nggak nyangka? Banget.

18 Januari 2021

Pengumuman siapakah kedua orang tersebut? Saya salah satunya. Dweenggg. Gimana rasanya? Sejujurnya lebih ke, "I knew it..". Kenapa? Baca pertanda, bun.

Pertama, saya masih belom berkeluarga. Ini alasan paling logis untuk dipindah. Asumsinya ya kalau berkeluarga lebih rempong kan. Kedua, saya nggak ada alasan untuk "menetap". Toh keluarga saya di Semarang, bukan di Solo. Kemungkinan pindah ke Semarang sangat kecil. Nyatanya dari data yang dibagikan justru mereka juga kelebihan pegawai. Meskipun secara hati yahhh udah cocok bangetlah di Solo tuh. Zona nyaman.

Saat itu masih ngga tau akan dipindah kemana. Permintaan saya ke atasan yang penting di Jawa aja. Apakah saya menyesali takdir kepilih sebagai yang dipindah? Sejujurnya enggak. Hanya saja, proses hingga terpilih itu somehow unfair. Kayak udah meruncing ke nama saya dan mbak S. I refrained to tell the detail ya hahaha.

Jadilah hari-hari itu semangat udah ninuninu. Bukan nol lagi tapi minus. Selama hidup saya menghindari ketidakpastian. Tapi apa boleh buat. Justru dikasih sama Allah ketidakpastian + kesabaran untuk menunggu.

Positive side-nya ada yang ngechat sekadar kasih semangat. I really appreciate it!

08 Februari 2021

Akhirnya penantian panjang itu terjawab. Saya dipindahkan ke Bogor. Setelahnya diberi waktu 2 minggu untuk berpindah. Heol.

Bisa dibilang ini pengalaman pindahan pertama saya. Waktu awal pindah dari Semarang ke Solo tuh gampang banget. Tinggal ambil barang dirumah dan taruh di tas gede. Dianterin ayah pula. Ngga kepikiran rempong.

Nah ini? Oemji ngga habis pikirlah. Barang bisa beranak pinak banget. Hahaha.

Setelah tahu bakal dipindah ke Bogor, saya merencanakan beberapa hal:

1) Cari kenalan anak Bogor. Wow emang se-nggak pernah itu kontakan sama temen Bogor. Ada sih yang diklat 1 angkatan. Tapi nggak pernah chat personal. Ya turned out she doesn't even remember me.

Baca: Diklat Online Selama Sebulan, Rasanya?

2) Cari kos.

3) Cari kargo. Awalnya berencana untuk sewa 1 mobil sendiri gitu tapi kok mahal?!??? Kisaran 2-3 jeti duh sayang. Memutuskan untuk cari kargo, deh. Akhirnya pake Indah kargo. Alasannya sesimpel karena mereka bisa jemput barang dari rumah. Dipan kan ngga mungkin gitu saya bawa ke tempat kargonya.

Orangnya 1 kargonya banyak

4) Cari transportasi umum yang terjangkau. Well...tidak semudah itu ternyata, Ferguso. Entah kenapa jalur kereta ga sampe sini. Katanya medannya sulit. Baeklah.

Karena kasih sayang Allah juga ya, kok pas banget dengan kepindahan kakak saya di Depok. Jarak Depok-Bogor 30 menitlah ngga terlalu lama dan terjangkau banget.

Akhirnya...

09 Februari 2021

Memutuskan untuk langsung survei kos. Ambil cuti 2 hari berikutnya. Kalo boleh jujur sih cari kos mah bisa pake aplikasi. Ini adalah aku...melarikan diri. Hahaha. Yes. Belum siap menghadapi kenyataan harus berpindah. Seperti pion yang dijalanin sama masternya aja gitu.

Pertama kalinya dalam hidup: ke Jakarta sendirian pake kereta. Sungguh merasa takjub. Selama pandemi NGGAK pernah menyengaja bepergian. Meski urusan pribadi kayak pulang kerumah. Eh ini malah ke Jakarta yang saya sebut medan perang.

Beli tiket sendiri. Harus swab antigen di stasiun. Semua dilakukan serba sendiri. Rada bangga sama diri sendiri akhirnya bisa mengambil keputusan. Rasional atau enggak ya gatau lah pokoknya ngga nyusahin diri dan orang lain aja, gitu.

Turun di Gambir subuh, harus nunggu dijemput dari Depok. Pas keluar stasiun baru nyadar itu sebelahan sama Monas. Hahaha. Pandangan saya sama Jakarta tuh kan keras ya. Selama nunggu sejam itu didalem terus LOL.

11 Februari 2021

Nyari kos langsung sekalian cek kantornya. Ternyata...jeng jeng jeng. Kayak rumah. Emang rumah sih, hanya difungsikan sebagai kantor. Mau mampir sungkan kan belom kenalan. 

Cari kos di sekitar kantor aja. Maklum belum punya kendaraan pribadi. Mampu sih belinya. Tapi nggak tau merawatnya nanti. Kan butuh dimakanin (bensin), bayar pajak, servis rutin, dll. Belum serajin itu. Dan rasanya masih belom prioritas aja gitu...

Rencana awal setelah dari Depok mau ke Semarang dulu. Sayangnya saya baru tahu aturan antigen itu hanya berlaku 1x24 jam untuk long weekend. Pas banget kan itu libur Imlek. Hadeeh. Duit lagi duit lagi :") yaudah akhirnya pulang di akhir pekan sekalian. Nggak jadi ke Semarang. Sad gak? BANGET.


14 Februari 2021

Mulai packing. Tau-tau dapet WA dari umi udah di bus mau ke kos. Me be like: HAH???? Asli loh emak saya tuh love language-nya quality time kali ya. Beneran disamperin yaAllah padahal aku jarang pulang dengan berbagai alasan.

Teringat setahun lalu umi melakukan hal sama saat saya ngabarin masuk rumah sakit. Terharu banget. This is why my mom is everything. Kayak nggak mau jadi dewasa. Maunya tetep diurusin umi aja :" mana sorenya langsung balik gitu kan. YaAllaaahhhh saya mana pernah (dan mau) kayak gitu. Emang perkara gini aja harus ditampar semesta dulu, ya.

And here's the heartbreaking part: saying good bye to my loved ones.

16 Februari 2021

Jadwalnya WFH dikabarin untuk makan siang all you can eat. WOW jarang-jarang banget kan. Udah feeling nih bakal perpisahan. Yha bener dong. 

Sesaat sebelom banjir air mata


What I love about this team is they strict to Covid-19 protocol. Ok maybe eating out is definitely not following into "avoid crowded". But when we eat, we don't speak. And we can only speak once we don't eat. Pokoknya ga boleh ngobrol pas lagi buka masker.

Selesai makan ya dikasih deh tuh kenang-kenangan perpisahan. Jujyuur saya nangis kejer hahaha. Malu? Iya. Tapi gimana yak. Itu adalah emosi yang tertumpahkan setelah 2 minggu dikasih kejutan. 2 minggu yang melelahkan. 2 minggu yang mikir banget gimana nih cara bertahan hidupnya? Kenalan lagi sama orang barunya? Kerjaannya? And so on. Mana saya overthinker banget. Tidur tuh cuma 2-3 jam aja, sisanya muter bolak balik kasur doang.

19 Februari 2021

Literally pamitan. Makan-makan (lagi) kali ini sama orang infokom aja. Partner in crime dalam melayani konsumen, mikirin konten, penyuluhan, dll. Belom sempat foto grup dengan proper udah harus caw aja yak. 

Bakalan kangen gontok-gontokan ma klean gaes

Dan lagi-lagi berpelukan dengan satu persatu pegawai. Melanggar protokol kesehatan yak ini tapi yaudahlah kan ngga tau kapan lagi bakal ketemu :") and so Mbak N sebagai sohib nangis hahahaha :") makasih ya udah mau menangisiku.


Oh ya hari Jum'at ini kargo dijemput. Yeay. Habis berapa? Rp979.000 LOL. Total kargo 230 kg. Termasuk dipan 75kg + sepeda lipat. Boncos aja dah tuh.

20 Februari 2021

Departure day. Kami (yep saya dan mbak S) memutuskan berangkat bareng naik kereta. Kenapa nggak pesawat? Masih syok dengan berita Sriwijaya. Cuaca pun belum membaik. Jadwal kereta kami 08.30 dari Solo Balapan. Mbak S harus berangkat duluan karena belom swab antigen. Jangan dicontoh yak, lebih baik swab antigen H-1 keberangkatan demi ketenangan hati.

Pagi saat lagi final check barang eh dateng krucil. Ga tega ninggalin krucil satu ini yang udah nempel kek perangko. Yaudah sambil sarapan sambil mandi. Mbak D ninggalin dulu untuk cari sarapan. Dateng-dateng bawa lontong opor dan jajanan pasar huhuhu. Berasa disayang banget. Udahlah mau pergi tetep dibawain makan.

07.00 saya caw stasiun. Udah gitu aja di Solonya? Belom dong. Mbak N yang janji mau dateng beneran dateng. Bawa masakannya sendiri sesuai permintaan saya: mi dan telor ceplok. Terinspirasi dari bekal kita bersama jaman dulu saat renang. Yang ditaruh di kotak bekal dan mbentuk kotak gitu, klean pasti tau kan? :))


Kata mbak N, "Anggep aja perjalanan ini piknik. Nanti balik lagi ke Solo." - Amin paling serius :"))
Bulan Oktober lalu udah nulis beberapa di jurnal. Sekarang satu persatu ditulis di blog biar gampang ngetrack-nya. Awal bulan Oktober justru dihadapkan dengan perpisahan. Wow, sungguh hidup nggak tertebak.

Foto tidak untuk ditiru karena tidak menjaga jarak. Sigh

Ini tentang atasan langsung saya. Secara struktur di kantor memang Kepala langsung staf. Belum ada kepala bidang atau kepala divisi. Hanya secara tidak tertulis ada koordinator. Nah Pak Kepala alias Pak Bos ini merupakan mentor pertama dalam perjalanan karir saya. 


Sebelumnya santer terdengar Pak Bos akan dipromosikan. Kirain hanya gosip belaka. Eh kok kejadian. Ternyata gini rasanya "ditinggal" atasan. Diantara rezeki yang Allah kasih saya bisa bilang beliau salah satunya.

Lewat beliau saya bisa belajar banyak
Lewat beliau saya menyabet ranking 2 saat latsar
Lewat beliau saya ngerti gimana rasanya dapat kepercayaan
Lewat beliau saya saya merasakan gimana sincere-nya atasan yang selalu berusaha keep up dengan tren bawahannya yang notabene lebih muda.

Dan pada saat hari disumpah itu datang, duh "nyesss..." di hati. Pertama kali liat secara langsung pejabat disumpah. Padahal via daring sih Jakarta - Solo. Tapi tetep berasa kesakralannya. 

Saya belum bisa mengkategorikan ini perasaan apa. Sedih kah karena ditinggal? Merinding kah karena bersumpah dengan menyebut nama Allah? Feels like choked.

Terima kasih bapak atas segala kerjasama, arahan dan kesabarannya selama ini.
Terima kasih udah kasih kesempatan untuk mendapatkan atasan yang baik disaat ini pekerjaan kantoran pertama saya.

Semoga bapak selalu diberi kesehatan di tempat kerja yang baru. Dan bisa memajukannya dari Balai menjadi Balai Besar. It is not a good bye, but see you again Pak!
Orang Dalam Pengawasan. Sekarang sebutannya apa ya? Ganti istilah malah ngga inget. Ih, kok bisa ODP gimana ceritanya?


Alkisah pada suatu hari nama saya diusulkan menjadi peserta pelatihan. Entah dapet ilham darimana pelatihannya diadakan offline (luring) di suatu hotel. Rada amaze juga ya kok, bisa? Cuma seminggu aja. Padahal diklat yang sebulanan itu dijabanin online (daring) aja kuat.

Baca: Diklat Online Selama Sebulan, Rasanya?

Walau nggak memungkiri ada sisi hati terdalam saya yang seneng, “Wah akhirnya bisa keluar rumah!” - meskipun itu dalam konteks kerja. Kan nggak 24 jam pelatihan toh, pasti ada waktu istirahat untuk melipir dikit? Bahkan ada keinginan untuk mampir ke rumah. Alhamdulillah masih dikasih akal sehat jadi niat itu diurungkan.

Ada 60 peserta yang dibagi menjadi 2 kelas. Tiap kelas berisi 30 peserta. Nah, persyaratan untuk bisa mengikuti adalah: hasil swab negatif. Baiklah, swab itu dadakan saya masih menghadapi konsumen terpaksa undur diri. Alhamdulillah negatif. Ikutlah berangkat.

Fyi aja untuk swab mandiri saya menyarankan di klinik dibandingkan rumah sakit. Karena klinik relatif sepi. Di rumah sakit lebih riskan karena disitu orang sakit berkumpul, kan?

Intermezzo dikit yak barangkali ada yang membutuhkan. Saya menelepon beberapa klinik di Solo yang melayani uji swab. Berikut detail harganya:

1. Prodia 
Biaya Rp 1.025.000 + Rp 6.000 (materai) total Rp 1.031.000. Reservasi sehari sebelumnya. Hasil keluar kurang lebih 3 hari.

2. Cito 
Biaya Rp 1.900.000 hasil keluar kurang lebih 2 hari.

3. Budi Sehat
Biaya Rp 1.750.000 hasil keluar kurang lebih 5 hari.

Meskipun pemerintah udah mengatur harga tertinggi Rp 900.000 ternyata di lapangan nggak begitu ya, gaes. Ada biaya lain yang ditambahkan. Untuk prodia sih tertulisnya Rp 125.000 itu untuk biaya konsultasi dokter.

***

Back to pelatihan. Dalam peraturan memang sudah tercantum: peserta harus karantina di hotel. Alias nggak boleh keluar. Lalu tidak diperkenankan ada peserta tambahan selain yang tercantum di surat pemanggilan.

Tapi ya begitulah ajaibnya. Ada aja yang menyelisihi aturan. Pertama, ada peserta yang memilih PP dibanding menginap. Kedua, ada peserta tambahan yang masih menunggu hasil swab. Di saat yang lain udah mengantongi status negatif eh ini bisa ikut sebelum hasil keluar. Dan ternyata disinilah masalah itu timbul.

Hasil swab yang keluar menunjukkan positif. I feel betrayed coyyy. Dan yang bersangkutan nggak merasa karena memang tanpa gejala. Sehat wal afiat dilihat secara kasat mata. Selama pelatihan pun sempat presentasi, aktif nanya ini itu. Namun…. :’)

Sayangnya saya mendengar ini nggak dari panitia langsung. Justru berawal dari kabar burung. Ngga enak, kan? Malah menimbulkan spekulasi. Baru di hari berikutnya panitia klarifikasi. Semua harus swab. Rasanya? Hm tanyalah pada Mang Oleh. 

Saya balik hari Jumat. Tapi ngga langsung swab saat itu juga. Berdasarkan rekomendasi sih antara 3-5 hari setelah kontak terakhir. Ya udah saya pilih hari Senin. 

Yang saya rasakan selama rentang waktu menunggu adalah…

Nggak tenang! Asli ya, ketenangan hidup tuh mahal banget harganya. Pikiran saya menari kesana kemari. Mau dihentikan nggak tau gimana caranya. Saya yang tinggal di kos dengan kamar mandi umum ini mulai bertanya.

“Gimana ya kalau positif?”

“Kalau nularin yang lain?”

“Tanggapan ibu kos gimana ya? Apakah aku akan diusir?”

“Apakah masyarakat sekitar bakal menganggapku suatu hal yang harus dibasmi?”

Jujur, lebih banyak mikir dampak ke orang lain daripada ke diri sendiri. Kata “at your own risk” tuh nggak berlaku di masa pandemi ini. Semua bisa kena risikonya sekali aja lepas kendali :”) stress berat itu tuh. Alhamdulillah masih ada temen yang menguatkan. Yha meskipun belum punya pasangan #ehgimana.

Saya nggak bisa membayangkan gimana dengan temen yang udah berkeluarga. Harus isolasi mandiri dulu. Menjauh dari anak untuk sementara waktu. Benarlah di masa pandemi ini paling bener ya membatasi pergerakan dulu. Menengok dari China yang Wuhan sepenuhnya ditutup. Memang berat pada masa itu. Tapi akhirnya ekonomi pun bisa membaik, kan?

Ya tapi kamu kan enak, kerjanya bisa remote.

Iya, sih. Ternyata memang banyak privilege yang saya dapatkan. Entah situasi seperti apa yang dirasakan orang diluar sana. Kadang saya merasa individualis ajalah yang penting diri sendiri sehat. Orang yang ngga peduli protokol kesehatan saya angkat tangan. Eh ya ga bisa gitu kan. Kena juga dampaknya ke orang lain. Huhuhu I feel helpless during this time. Satu-satunya yang bisa dilakukan ya seperti kata ibu saya: minta pertolongan Allah. I’ve done my part. Let Allah do the rest. Ini masa dimana iman diuji, percaya nggak bahwa bersama kesulitan ada kemudahan? :”)

Alhamdulillah hasil saya keluar pada Rabu dan dinyatakan negatif. YaAllah rasanya beban tuh keangkat. Jadi enteng euy! Semoga saya nggak akan merasakan hal seperti ini lagi. Let’s stay alive, guys.
Disclaimer: saya nggak bepergian dan menginap karena keinginan pribadi. Tapi karena ada pelatihan dari kantor dan saya yang ditunjuk. Tulisan ini berusaha saya tulis sejujur mungkin. Karena saya prihatin dengan banyak masyarakat yang mulai merasa aman pergi kesana kemari.


Here goes the story...


Saya nggak menyangka akan ada (yang berani) mengadakan pelatihan offline (luring). Setelah selama ini semua pelatihan diadakan secara daring. Untuk pertemuan udah nggak heran, sejujurnya. Di tiap kota ada Satgas Covid-19 dengan aturannya. Intinya sih boleh mengadakan asal durasi nggak lebih dari 2 jam serta jumlah peserta maksimal 50% dari kapasitas.

Untuk pelatihan ini saya nggak tau aturan Satgas Covid-19 di Semarang kayak gimana. Iya, tempat asal saya. Syarat ikut pelatihan mengharuskan hasil swab negatif. Karena memenuhi, saya pun berangkat. Hotel ini kalo saya lihat di Google masuk dalam kategori bintang 4. Nggak perlu sebut nama, ya :))

Sebelum berangkat tentu saya mempertanyakan penerapan protokol kesehatan. Oleh panitia ditunjukkan video profil hotel tersebut. Beberapa poin yang digambarkan antaranya:

1. Semua staf menggunakan masker dan face shield

2. Desinfeksi kamar (ngga dijelasin di caption waktunya kapan)

3. Makanan dalam box diantar ke kamar

Apakah yang terjadi sesuai dengan video profilnya?


Pertama tiba, kami memang diminta mengukur suhu. Lalu menaiki lift menuju lobi. Didalam lift tersedia hand sanitizer. Lantai sudah dibagi menjadi 4 kotak beserta panah penunjuk.

Realita? Nggak semua pengunjung mematuhinya. Ketika kami bertiga didalam lift, ada pasangan + 1 anak yang memaksa masuk. Hih, kzl! Petugas pun tidak ada yang mengawasi.

Masukan: seharusnya ada petugas didalam lift layaknya di Mall Solo Square. Pihak hotel HARUS tegas dan menyiapkan ini semua jika memang benar peduli terhadap kesehatan pengunjung.

Sempat pula saya melihat petugas di lobby maskernya diturunin. Waktu saya mendekat baru dinaikin :) halo :) apakah :) masker :) hanya :) aksesoris :) nggak cuma itu lho. Cleaning service-pun juga sama. Saat udah jalan di koridor kamar (saya asumsikan udah selesai bebersih. Nggak megang alat lagi) sambil main hengpong, maskernya cuma ditaruh di dagu :) *ini gak senyum ikhlas!*

Kedua, sesampainya di kamar suasana sih nggak berasa beda dari sebelum pandemi. 




Apakah didesinfeksi setiap hari?Kata temen saya: ngimpi 🤣 bahkan sprei saja saya notice beberapa hari ngga diganti. Saya ngeh karena sprei yang terpasang ada nodanya. Dan masih bertahan hingga hari kepulangan. Entahlah desinfeksinya seperti apa. Padahal didalam kamar kami berdua, lalu setiap hari ada cleaning service yang kita gatau kan status kesehatannya kaya gimana?

Apakah ada monitoring kesehatan rutin? Harusnya pihak hotel transparan tentang ini. Kalau perlu setiap hari tuh terpasang siapa petugas yang membersihkan, berapa suhunya. Jangan beralasan ribet! Kan ini emang tanggung jawab hotel. Kita semua dituntut untuk Adaptasi Kebiasaan Baru.

Ketiga, lanjut apalagi kalau bukan makan. Kirain bakal dianter sampe kamar gitu ya sesuai video. Realitanya adalah... Buffet! Worst is setiap lapak ambil sendiri. Duh, tepok jidat dah. Dimana letak new normalnya? 

Lebih parah lagi meja makan tetep berhadapan. Yang berempat tetap berempat. Lelah hayati. Ngga niat Adaptasi Kebiasaan Baru sama sekali. Mirisnya lagi, pengunjung pas bolak balik ambil makan ada dong yang ga pake masker. Udahlah menguji kesabaran dan kewarasan banget ini 🤧

Area makan outdoor diambil dari kamar 

Yang diganti menjadi box hanya makan malem aja. Itu pun ngambil sendiri di area makan. Sama aja, siapa yang bisa jamin itu box ngga dibuka dan dipegang dulu sebelum diambil?

***

Saya tuh sedih juga loh tau banyak hotel yang terpaksa unpaid leave karyawannya. Tapi dengan kondisi kayak gini, siapa sih yang mau buat nginep di hotel atau sekadar staycation? Berisiko banget jadi klaster penularan baru, kan.

Satu hal lagi yang nggak kalah penting. Terutama untuk kamu influencer yang mulai gencar mempromosikan hotel. Ya saya paham sih kita butuh uang buat makan. Tapi coba lebih kritis dan tanyakan, apa mitigasi risiko yang udah dibuat hotel ketika ada pengunjung maupun karyawan terkonfirmasi positif Covid-19?

Apakah akan dihubungi pengunjung pada hari itu juga?

Atau malah ditutupin?

Ini ngeri banget sih. Beberapa kali diceritakan yang terjadi saat ada kasus justru ditutup-tutupin. Kapaaannnn pandemi kelar gini caranya tuh?

Saya nggak berandai-andai. Worst thing happened to me during this stay is that one of training participant confirmed positive. And now I have to self-isolation until my swab test come out. Lebih detailnya akan saya ceritakan kalau statu sudah terkonfirmasi jelas :") 

Pada akhirnya, saya nggak akan pernah merekomendasikan menginap (dimanapun) yang kamu gatau seperti apa praktik penerapan protokol kesehatannya. Apalagi yang cuma GIMMICK doang. Jangan! Nyawa sendiri taruhannya. Saya sih masih mau hidup sehat dan tenang :")
Nano-nano. Sungguh pandemi ini mengubah banyak hal dalam hidup. Setuju, gak?


Latsar yang lalu aku pernah ngobrol sama temen sekamar
Mbak Ika : "Eh nanti ada diklat lagi loh. Udah beda sesuai fungsi"
Me : "Berarti infokom sendiri, lab sendiri gitu?"
Mbak Ika : "Iya" 

Baca: Pengalaman Mengikuti Latsar CPNS 2019 (1)

And so the day had come! Surat pemanggilan dilayangkan ke kantor. Judulnya: Pemanggilan Peserta Diklat PFM. Aku dapat bagian di angkatan V! Ku perhatiin ternyata 40 peserta semuanya dari Loka POM. UPT baru terbentuk tahun 2018. Wah, surprise surprise! Pengelompokannya nggak sesuai dugaan. Ada dari lintas fungsi. Kenalan deh dari fungsi pemeriksaan, penindakan, sertifikasi dan tentunya infokom. 

Kenapa sih perlu diklat?


Ini sebagai persyaratan untuk bisa diangkat ke Jabatan Fungsional Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Pertama. Iya gaes ASN itu ada jabatan: fungsional dan struktural. Yang kedua contohnya Kepala Seksi Pengawasan XXX, Kepala Bidang XXX. 

Nah stafnya inilah memegang jabatan fungsional. Fungsinya sebagai jenjang karir. Keliatan kan tuh Ahli Pertama. Selanjutnya ada kenaikan jabatan ke Ahli Muda, Ahli Madya, dan Ahli Utama. Diiringi juga kenaikan pangkat, dan berpengaruh pada apalagi kalau bukan gaji. Begicuuu.


Diklat dilaksanakan sebulan lamanya. Minggu pertama melalui website SiPandai. Udah pernah coba juga saat e-learning untuk uji kompetensi februari lalu. Dilanjutkan webinar, lalu tatap muka. 

Apa beda ketiga hal tersebut?


E-learning artinya belajar mandiri. Setiap hari diberi waktu 24 jam untuk akses materi berupa ppt/pdf + video. Dan ada kuis. Enaknya sih bisa fleksibel mau ngerjain jam berapa. Kan namanya online, yang harusnya dibebastugaskan mau ga mau tetep ada job kantor. Aku sih ngerjainnya waktu jam kantor aja HEHE. Sambil disambi bisa kok. Buat ringkasan kalo pas rajin. Pas males yaudah dengerin aja *jangan ditiru*.

Webinar dan tatap muka ga beda sih. Ada jadwal untuk "ketemu" dengan coach (?) langsung melalui Zoom Meeting. Yaiyalah namanya juga online kaan. Menariknya coach ini beliau yang menjadi narasumber di video saat e-learning. 

Jujur aku excited dengan sesi ini. Bisa nanya langsung gitu loh sama ahlinya. Kesempatan langka! 🤣 Gak heran kami diminta belajar mandiri dulu. Biar pada waktu ini tinggal diskusi aja ngga ngulang materi ppt. Kami kan udah kerja ngerasain langsung di lapangan. Jadi ketika ada kesulitan ya tanyain aja deh! 

Kadang nih perkara peraturan perundangan aja ada multi tafsir. Ga enak banget, kan? Dengan narasumber yang berasal dari pusat bisa konfirmasi yang bener mana. It was helpful! 

Walau terkadang bosan ya maklum. Dari jam 8-14.30 natap layar. Dipotong waktu makan dan sholat sejam. Tetep aja capek, kan. 

Paling asik ketika narsumnya interaktif. Ngelempar pertanyaan, ice breaking (TERNYATA BISA LHO WALAUPUN LEWAT ZOOM!), make tools kayak kahoot atau menti. Memanfaatkan fitur breakout room buat diskusi kelompok. Yha sebenernya bisa banget kan pelatihan online ngga ngebosenin. Tinggal mau usaha lebih, nggak? 🤪 

Punya mars angkatan sendiri!


Bangga. Hahaha. Diantara kami ada seniman wow. Kupikir bikin yel yel yaudah kan ngarang lirik, nadanya ikut yang udah ada. Eh ini bikin sendiri. Apresiasi banget loh ASN instansiku super kreatif. Wakakakak 




Bagian menyenangkan lainnya: Aku dapet hadiah! Surprise karena udah pengen beli kerudung. Tapi ngga terlalu butuh. Ya kan masih banyak kerudung bagus. Cuma bosen aja. Alhamdulillah kok keturutan dapet kerudung tuh luv banget. Emang kalo mau apapun mintanya sama Allah langsung! Hehe.


Cantik banget motifnya luv. Makasih bu Asri!

Gimanee cerita tuh? Ada narsum dari PPSDM yang asik banget. Ngadain kuis di akhir materi. Pake kahoot atau apa ya lupa. Nah 5 orang dengan skor tertinggi dapet hadiah. Alhamdulillah nyangkut di top 3 hahaha. Little things that makes me happy. Disini sisi kompetitif keluar. 

Faktor kecepatan internet ngaruh juga sih. Karena semakin lama kamu pilih jawaban, score semakin menurun. Meskipun ada 2 orang jawab benar nih, si A butuh waktu 3 detik. B butuh 5 detik. Ya scorenya untuk nomor tersebut lebih tinggi A. Kompetitif, kan? 🥰 

Di akhir acara ada anugerah (?) peserta teraktif dan terkreatif. Sedih dong ngga menjadi yang teraktif huhuhu *jiwa kompetitifku ambyar* gapapa gapapa. Akhirnya selesai? NO. Masih ada tugas untuk mengumpulkan Angka Kredit. Nah, apakah itu? 

Gampangnya sih ini semacam KPI-nya karyawan swasta. Kami punya Angka Kredit dan juga SKP. Tiap tahun ada target. Kalau memenuhi ya nilai baik. Kalo kurang, dieval kenapa. Kok berturut-turut kurang terus? Bisa dapet sanksi. Pun bermacam ya. Ada teguran, pemotongan tunjangan, dll. Iya guis ASN sekarang udah meningkat drastis kinerjanya. Kami selalu berusaha dong buat kerja sebaik mungkin. 

Adanya pelatihan ini tujuannya agar kinerja maksimal. Mengkombinasikan teori dan praktik di lapangan. Alhasil pekerjaan tuntas dan masyarakat terlayani. Kalo ngomongin visi misi organisasi ya derajat kesehatan masyarakat meningkat lewat pengawasan Obat dan Makanan. Azeq, serius banget uwe. 

***

Yeay Alhamdulillah keturutan nulis pelatihan ini. Untuk merekam jejak kehidupan. Nantinya di masa depan bisa dibaca ulang udah ngapain aja selama hidup :") see ya next story!

Kabar gembira untuk kita semua. Nggak deng. Aku aja ini. Akhirnya pulang! 5 Agustus 2020! Catat! Tidak direncanakan. Tidak keluar uang. Tidak khawatir bercampur (?) dengan orang nggak dikenal. Pokoknya serba dadakan. Kok, bisa?

Seminggu sebelom Idul Adha yuyur udah merencanakan pulang. Lebih tepatnya dijemput. Memaksakan diri banget melihat kondisi yang nggak segera membaik. Aku khawatir aja kalau kedepannya justru semakin susah buat bepergian. Aku yang terlalu parno.

Kemudian kabar datang: ada tetangga reaktif rapid test Covid-19. Hiyakkk dess! Melunturkan rencanaku. Bisa aja pulang kan orangnya isolasi di rumah dinas wali kota. Namun!! Bukan lulu namanya kalau tidak parno. Yha sudah Idul Adha berdua aja sama penjaga kos. Mantul.

Baca: Kamu Butuh Test Covid-19? Halodoc Aja!

Awal bulan Agustus mendapat kabar akan diadakan swab test bagi seluruh pegawai. Wow Alhamdulillah banget. Fyi swab dilaksanakan di Semarang. Karena memang tujuan awal swab test ini untuk mencoba laboratorium ber-PCR. Lab kantor Semarang direncanakan untuk menambah kapasitas uji swab pemerintah. Khususnya wilayah Semarang.

Aku excited dong huhu apakah aku harus pulang? Mungkin ini yang namanya semesta berkonspirasi. Rabu (05/08) sampai Jumat (07/08) memang jadwalku wfh. Artinya ngga perlu hadir ke kantor untuk presensi. Cukup melalui aplikasi dan ngisi kerjaan by sistem aja. Aaakkkhhh ini baru work from home sesungguhnya!

Gimana rasanya swab test?

Ini mau diceritakan di postingan tersendiri kok ya nggak ada kesan mendalam. Biarpun udah liat video pengambilan kayaknya sakit. Diceritakan rekan kerja yang duluan: hawanya pengen lepas masker aja. Ada yang sampe keluar darah (???) kan menciutkan nyali ya. Temen-temen tuh lebih cemas di "sakitnya" saat swab dibanding menunggu hasil test-nya sendiri. Kocyaak emang.

Swab test yang aku lakukan ini menggunakan reagen apa gatau maap aku memang tidak niat mencari tahu.

Biasa aje kan ekspresinya? Ya emang

Jadi prosesnya seperti ini: kami diminta mengisi form assessment. Standar kalo ngga salah sesuai edaran Kemenkes. Isinya ada keluhan batuk/flu/demam nggak? Suhu badan berapa? Pernah kontak dengan pasien Covid-19? Melakukan perjalanan ke negara terjangkit? - Btw pertanyaan terakhir menurutku udah kurang relevan deh. Sebagian besar wilayah Jateng keliatannya zona merah. 

Selain form, kami juga diminta mengumpulkan fotokopi KTP. Fungsinya jika (nauzubillah jangan sampe) ada yang positif bisa ditrack. Petugas yang melakukan berasal dari Labkesda Jawa Tengah.

Setelah lengkap kami diberi tools untuk test. Terdiri dari 2 isinya: cotton bud versi lebih panjang dan botol untuk wadah sampel. Cotton bud ini ukurannya kira-kira 2 ruas jari. Apakah intimidating? Enggak. Biasa aja ya selayaknya cotton bud hanya ukurannya agak lebih gede.

Mengantrilah kami. Aku dapet nomor antrian 5. Deg-degan? Sedikit, sih. Lebih ke liat petugas ber-APD lengkap tuh selalu mindblowing. Huft.

Saat giliranku, proses pengambilan sampel tergolong singkat. 5 menit lah. Aku diminta duduk di kursi yang disediakan. Kepala menengadah hampir 90 derajat. Ambil nafas dulu sebanyak-banyaknya. Saat cotton bud dimasukkan ke hidung harus tahan nafas, ya! Agak PR untukku yang nafas pendek. 

Aku merasa sensasinya mirip ngupil dengan kedalaman lebih aja WKWK. Nggak yang dimasukkan banget kayak bayangkanku. Yes I always create worst scenario. Disodok santai begicu. Maap tidak menemukan bahasa yang cucok.

"KITA TUH HAPPY AJA KOK!"

Udah deh, kelar. Berhubung hidung masih nyambung ke mata jadilah agak berair dikit. Dikira nangis padahal ya kagakkkk. Emang memicu aja untuk keluar air mata.

Hasilnya di akhir pekan udah keluar. Alhamdulillah semua pegawai di kantor negatif. Nggak sia-sia kan menahan diri untuk #DirumahAja? Trust me, kesehatan semakin hari semakin mahal harganya.

Baca: #StayAtHome during Covid-19 Pandemic

Setelah swab, kami makan siang. It was also (if I am not mistaken) pertama kalinya aku makan diluar sejak pandemi. Apakah tempat makannya menerapkan protokol kesehatan? Auk amat. Modal masker apa bisa dikatakan seperti itu? I don't think so.

Dan waktu yang ditunggu pun datang: PULANG. Aku nggak ngabarin orang rumah sama sekali. Truth to be told I was scared if my plan failed. Kan sedih. Ya akhirnya dadakan aja ala-ala surprise. Hahaha.

Am I happy?

Yes. To breath in a city I grow up definitely creates certain happiness. Di kepala udah merancang berbagai rencana jahat berkeliling kota. Sayang nggak didukung oleh semesta. Hujan + lagi-lagi lebih pilih kesehatan. Yang dilakukan akhirnya jalan kaki dan bersepeda. Jalan kaki setelah sekian lama!

Meriah menyambut Hari Kemerdekaan

Tembok ijo itu SMA aku
Tempat praktikum pada masanya

Atau justru baru pertama kali ya diniatin beneran jalan kaki tanpa ada embel-embel: jalan kaki ke sekolah, jalan kaki pulang kantor. Senanggg! Wilayah pinggiran dimana aku tinggal ternyata banyak perubahan. Toko dan tempat makan baru bermunculan. Paling amazed sih dengan adanya traffic light di perkampungan.

Hmm, should I say perkampungan? Jadi ada perempatan jalan yang selaluuuu padat. Ngeri banget disitu gak ada yang mau ngalah. Ruwet, kan? Dimana kah itu? Perempatan jalan Kanfer-Tusam-Meranti. Deket masjid Al-Muhajirin (kalo ga lupa namanya lol). Aku yang "WAAHHHH" akhirnya nggak ruwet lagi. Jalanan pun mulussss. Hebat memang pembangunan di Kota Semarang.

Bersyukur kerinduan pada kota ini sedikit terobati. I feel like I could breath more :"))

Bonus aku yang cantik karena pake masker



Hayati ternyata nggak sanggup nulis pake bahasa Inggris lagi. Berasa kaku dan no chem alias no fun. Tidak seru ya gaes. Akhirnya balik aja deh pake bahasa Indonesia lagi. 

Day 17 of Ramadhan: Things to be Grateful

Baca: Day 1 of Ramadhan: #StayAtHome during Covid-19 Pandemic 

Baca: Day 2 of Ramadhan: Building a Good Habit

Jujur kalian capek ga belakangan ini? Iya banget sih akutu. Akibat kebanyakan baca berita ini itu. Gemas sekali pengen ga tau apa-apa tapi gimana sih mengerem keinginannya? Mau uninstall medsos takut ((kecepian)) karena di kos jarang ngobrol sama anak kosan. Kudu banget ngehubungin temen yang jauh disana. Begitu sulitnya bertahan hidup untuk tetap negatif penularan Covid-19 ini dan positif di pikiran. 

Demi mewaraskan otak ya marilah kita update saja kehidupan ini dengan kabar baik. Memang hidup ini kan beriringan. Bersama kesulitan ada kemudahan. Dan ya, ada beberapa hal yang patut disyukuri meski di tengah pandemi. 

Pertama banget saya bersyukur adanya pandemi ini tuh di waktu sekarang. I dunno but I feel OK it is my battle. Disaat udah bisa masuk kategori independen dan ngga ngerepotin siapapun. Financially and (berharapnya) mentally stable. Aku sama sekali nggak kebayang gimana kalo pas jaman skripsi??? Entah kapan kelarnya tu lah skripsiku aja kudu ngadain penyuluhan :’) 

Baca: #MenujuSKM: Penelitian Skripsi

Selanjutnya akan kubuat list. Biar sadar diri nikmat Allah tuh banyak! Ngeluh gapapa tapi jangan keterlalu ugha kayak hamba ga tau bersyukur aja :') 

1| Being alive 

Ini bersyukur gak? Iya dong tandanya masih dikasih waktu untuk bertobat! *harus pake tanda seru* Apalagi pas Ramadhan gini woy pintu ampunan terbuka luas. Ada lailatul qadr di 10 hari terakhir this is your chance!

2| Target Ramadhan bisa dibilang ya…..lumayan? 

Dari awal bulan Ramadhan aku udah ngeprint Ramadhan journal. Nge-track amalan apa yang dikerjakan harian. Bukan buat riya’ niatnya. Sekadar ngingetin lho misal hari kedua belum baca Al-Qur’an ih masa ga malu hari pertama aja baca. Akhirnya ya mau ga mau baca. Kesannya emang kepaksa. Betul. Buatku gapapa. Yang penting mulai dulu. Niatnya dulu. Perkara diterima amal itu urusan Allah bukan urusan manusa yha kan. 

3| Dapet suplemen tambahan dari kantor! 

Sebagai anak kos ya zuzur seneng banget. Suplemennya berupa susu kotak dan tablet efervescent. Itu tuh tablet yang kalo ditaruh di aer bunyi cesss lalu menguap (???) aku tidak ingin menyebut merk karena tidak di-endorse lol *gaya lu*

4| Kerjaan masih bisa di-handle

Well, hampir dua bulan kerja dari rumah! Percaya gak u? Yha percayalah kan this is the new normal. Butuh tulisan terpisah nih biar seru keknya. Lucu banget sih jadinya ngerjain apa-apa sendiri dan koordinasi jarak jauh. Sangat membutuhkan kesabaran demi mengkomunikasian tujuan. 

Pernah misskom? Pernah. Alhamdulillah solved tanpa baku hantam. 

5| I’m officially civil servant guys

This brings me into mixed feeling actually. Ya seneng kan perjuangan setahunan kebayar. Aku selalu inget berapa orang yang berebut posisi ini. On the other side ya aku merasa besarnya tanggung jawab dong. YaAllah duit negara ini lho dibayarnya apa tidak ngeri? Kudu hati-hati dan amanah banget. Kudu punya pegangan biar kagak nyeleweng. 

Baca: Cerita Setahun CPNS: Dari Latsar Sampai Kerjaan

Alhamdulillah suasan kantor sih kondusif ya selama ini kagak ada yang aneh-aneh. Semoga bisa seterusnya punya lingkungan kerja yang baik dalam artian bisa menunjang karir dan tetap inget akhirat.

Ngomongin soal turunnya SK ini, aku berencana kasih tau ke ibu nanti aja waktu udah di tangan. Tidak dinyana ibuku udah nanya duluan. Begitulah ketika ibumu dan temannya punya anak yang kerja di instansi sama. No secret. Ngga jadi suprise deh.

6| Lulus uji kompetensi! 

Pengumuman ini datang lebih dulu sebelum pengumuman lulus PNS sih. “Halah palingan dilulusin semua ya kan?” 

Baca: Cerita Setahun CPNS: Uji Kompetensi dan Lain-Lain

Hmm, kenyataannya enggak gaes. Dari 10 orang yang ikut ukom di kantor masih ada yang belum berkesempatan untuk lulus. Semangat ya, kakaaak! Kamu pasti bisa! *kisses and hugs* 

***

Ini berasa material banget nggak hal-hal yang perlu disyukuri? Semoga enggak ya. Aku tu berharap hingga pandemi ini kelar kita semua dikasih kesehatan. Now you know how expensive health is? Mau berapapun duit yang kamu punya nggak menjamin sehat. 

Anyway please if you can stay at home, stay. As long as possible. Kepaksa keluar? Boleh. Asal jangan keluar cuma karena mau nongkrong dan hengot syantik ya. Pake masker! Sampe rumah langsung mandi + cuci semua barang yang dibawa keluar. Don’t do anything stupid just because you feel bored. 

Tunjukkanlah empati kalian kepada sesama manusia. Apa tidak kasihan sama orang-orang yang pengen stay at home tapi kudu cari nafkah buat keluarganya? Tenaga medis yang berguguran? Please di rumah aja! Bosen dirumah ya gelundungan sampe turun berat badan. Cari kegiatan apa kek. Dah. Titik. 

Udah bersyukur belom hari ini? Karena apa?