Wednesday, January 09, 2019

Semarang yang Selalu Dirindukan

Besar di Semarang ternyata nggak lantas membuat saya bangga menjadi warganya. Justru krisis identitas pernah menghampiri. "Emang aku pantes disebut orang Semarang?".


Pertanyaan itu muncul karena sering teman dari luar Semarang nanya banyak. Tentang kota ini. Dan berakhir dengan saya menjawab dengan, "Nggak tau ik..". Karena saya emang ngga tau dan ngga pernah cari tau. Huhu.

Puncaknya, saat masa kuliah sampai ada adik tingkat yang mengira saya orang luar Jawa. Masih mending dikira bukan orang Semarang ya. Nah ini, BUKAN ORANG JAWA. "Mba orang Semarang? Beneran?" - padahal cetakan muka udah Jawa banget. Logatnya medhok nggak terkira. Disitu saya merasa gagal menjadi warga Semarang.

Baca: Balada Orang Semarang yang Nggak Kenal Kotanya

Pada akhirnya keputusan kuliah di kota ini justru menumbuhkan kecintaan saya pada Semarang. Saat berada di luar kota misalnya, sering tanpa sadar saya membandingkan apa yang ada dengan yang di Semarang.

"Ah, itu di Semarang juga ada kali"
"Di Semarang lebih lengkap deh kayaknya"
"Enakan makanan yang di Semarang deh"
Dan masih banyak lagi celetukan lainnya. Emang, apa aja sih sebenernya yang bikin Semarang selalu dirindukan?

Medhok Jawanya yang khas

"Mosok to?"
"He'e ik"
"Orak og"
Hayo, siapa yang sering denger slang kayak gitu? Saya kira ini khas Semarangan lho. Di kota lain nggak ada. Hahaha. Bahasa Jawa yang digunakan di Semarang itu masih tergolong halus. Ya bisa dibilang pertengahan antara Surabayan yang agak keras dan Jogja yang alus banget. Oh ho, tentu saja itu analisis asal-asalan dari saya.

Baca: A Trip to Jogja: Roadshow ke LPM Himmah UII

Jujur aja, saya tergolong orang yang ngirit ngomong bahasa Jawa. Faktor kebiasaan komunikasi di rumah menggunakan bahasa Indonesia, ditambah ketidak fasihan ngomong bahasa Jawa menjadi penyebabnya. Nah anehnya begitu ketemu orang asli Semarang, keinginan untuk ngomong pake bahasa Jawa menggebu-gebu. Pun saat dilakukan ya rasanya asyik gitu. Bedalah ngomong sama sesama orang Jawa yang bukan Semarang.

Gampang kemana aja


twitter.com/transsemarang
Ngomongin tentang transportasi publik, duh! Favorit saya adalah: bus. Apalagi setelah ada BRT/Trans Semarang. Keliling Semarang naik BRT dari ujung ke ujung bukan hal mustahil. Dengan tarif cuma Rp 3.500 bisa kemana aja di Kota Semarang. Transit untuk berganti bus misalnya, nggak dipungut biaya lagi. Udah gitu sekarang bayarnya bisa pake e-money atau model Go-Pay. Mantul!

Baca: You, I and Bus

Kekurangannya? Armada ke Banyumanik sering penuh. Terutama saat jam anak sekolah + orang kantor pulang. Bisa harus nunggu 2-3 kali bus lewat dulu untuk bisa naik. Pak Wali, tolong dengarkan saya! Hahaha.

Perbaikan dari tahun ke tahun

Salah satu perbaikan paling bikin kagum: Kawasan Gombel. Kayak mimpi bisa jadi serapi itu. Tiap lewat kawasan ini nggak bisa nggak kagum. Mengingatkan saya akan jalanan di pusat kota Banjarmasin dengan desain yang sama. Bukan mau berlebihan. Tapi sebagai korban ganasnya kawasan Gombel (terutama Gombel Lama) ya perbaikan jalan ini beneran kerasa manfaatnya.

Selain pernah ngalamin kecelakaan di lokasi itu, ngeliat orang celaka juga pernah. Intinya: ngeri euy! Makanya hamdalah banget bersyukur sekarang udah aman (teteplah safety first), bagus, dan nyaman untuk dilewati.

Ada lagi? Banyak. Taman kota diperbaiki. Dari yang terdekat Taman Tirto Agung. Sekarang jadi jujugan warga di Semarang atas buat piknik tipis-tipis. Taman KB yang berubah jadi Taman Indonesia Kaya. Kawasan Tugu Muda yang super bersih dan ADA TAP WATERNYA! Haha sebangga itu!

Sepanjang waktu perbaikan terus dilakukan. Saya yang awalnya merasa "bodo amat" akhirnya ngeh juga. Wah, ternyata kota ini berbenah. Dan yang terbaru: Bridge Fountain. Kejutan apa ya, yang bakal diberikan oleh kota ini?



Tulisan ini disertakan dalam #BlogChallengeGandjelRel Parade 4th Gandjel Rel Pekan 1

30 comments:

  1. Sy bukan orang semarang, tp sy pernah kuliah di kota ini. Sekarang setiap pulang kampung melewati kota ini, dan serasa udah nyampek rumah. Duh aku kangeeeennn semarang.

    ReplyDelete
  2. Semarang kota domisiliku 9 tahun, enaknya serba murah, gak enaknya panase pool walau udah di Ac dan kipas angin heuheu..

    ReplyDelete
  3. Mula engko yen ketemu karo aku omong-omong nganggo basa Jawa yo. Ora lali ditambahi he e owk, iyo ik. Gayeng meneh yen nganggo basa krama.

    ReplyDelete
  4. Kujuga kangen Semarang beserta orang orangnya.

    ReplyDelete
  5. Aku baru mencoba mencintai kota ini mbak. Lagi belajar. Belum begitu sih, tapi banyak kemudahan disini yangbkusuka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi, udah semakin banyak perbaikan di kota ini..

      Delete
  6. Semrang selalu dirindukan untuk balik lagi, berkunjung dan jalan-jalan.
    Apalagi aku sekarang wara-wiri beberapa kota hahaha tambah senang, aku bangga jadi warga Jawa Tengah pokoknya. Luluk aku liat namamu ada Khodijahnya, jadi pengen punya anak bernama khodijah dan hawa hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak Nyi sih rajin keliling kota. Hahah. Walah, tak amini wes mbak biar ndang dapet momongan xD

      Delete
  7. Jadi kangen Semarang nih, entah kapan bisa mudik lagi, hehe ��

    ReplyDelete
  8. Sekarang bangga dong jd orang Semarang, tiap hari kian cantik dan serius berbenah. Oya aku juga penasaran bgt sama air mancurnya, yuk kita nonton bareng mbak

    ReplyDelete
  9. Dari umur 5 tahun aku tinggal di semarang. Berkembang semakin keren, semakin bersih, semakin tertata infrastrukturnya. Tapi memang jadi lebih penuh penduduknya, sering macet, cuaca panas. Tapi gimana yah, aku juga udah klik banget tinggal di semarang. Apalagi ada running track di deket rumah, di pinggir banjir kanal. Jadi lengket deh sama Semarang

    ReplyDelete
  10. walau tak begitu jauh dengan rumah hanya 2 jam, jujur aku nggak begitu kenal Semarang. Semoga kerasan di Semarang ya Mbak hehehe

    ReplyDelete
  11. Pengennya sih pindah ke Semarang, soalnya menarik dan saya lahir dan besarnya di kota. tapi ya suami maunya tinggal di desa tempat kelahirannya. jadi ya mau gak mau ikut suami

    ReplyDelete
  12. Sebagai orang "atas" memang kadang nggak apdet sama yang di "bawah" berasa jauh kalo mau disamperin hihi

    ReplyDelete
  13. Aku dari dulu udah happy jadi bagian dari Semarang. Meskipun cuaca di kota Semarang panas, tp lingkungan kota Semarang itu adem ayem. Orang2nya masih toleran, masih menghargai kehidupan satu sama lain, & nyedulur.
    Sekarang tambah happy lagi, fasilitas publik perlahan-lahan diperbaiki & makin asik.

    ReplyDelete
  14. Hahahaha Mbak, aku ki lho nak ada event bloger suka ngerasa piye ngunu, yo bisa bahasa Indonesia, wong ngajar yo pakai bahasa campur2. Nek ada yang pakai bahasa Indonesia, kadang aku jawabe nggo bahasa Jawa. Hahaha.

    ReplyDelete
  15. Iyo ik, enak ngomong karo boso Semarangan yo, hahahaa
    Eh uwes nonton air mancur ning jembatan banjir kanal barang po durung. Aku nonton ping pindo kok mung entuk buntute, telat og

    ReplyDelete
  16. Semarang pancen ngangeni ik.. Bertahun-tahun di Semarang tapi aku gak pernah khatam ttg kota ini..dan sekarang setelah jadi orang luar Semarang malah pengen menjelajah Semarang..haha..

    ReplyDelete
  17. Waktu masih tinggal di Solo, lumayan sering ke Semarang, cuma buat makan bareng sekeluarga. Btw, kalau saya, bahasa Jawa paham sampai bahasa kawinan sekalipun, tapi nggak bisa ngomongnya.

    ReplyDelete
  18. Yang paliiing jadi ciri khas dialek Semarang tuh ada akhiran kata 'ik' ... hehehe .. 'He'eh ki, dudu ki ..'

    Semarang makin sadar wisata dan itu keren !

    ReplyDelete
  19. Pernah ke semarang dan gak tau kapan lagi kesemarang

    ReplyDelete
  20. Saya juga merasa gagal jadi orang Semarang nih, Mbak. Padahal dari lahir sampai sekarang tidak pernah keluar dari kota ini, tapi kalau ditanya-tanya tentang Semarang, jawabnya banyak nggak tahunya. Maluuu banget. Sampai pengen ngaku dari luar kota saja, biar malunya berkurang, hehe.

    Tapi bagaimanapun juga saya pasti bangga jadi orang Semarang, banyak tempat wisata bagus dan murah, kulinernya juga enak-enak. Pokoknya Semarang is the best, deh :).

    ReplyDelete
  21. nggak tahan dengan cuaca panasnya kak.

    ReplyDelete
  22. Mbak.. aku jadi pengen ke Semarang lagi :(

    ReplyDelete
  23. Kenanganku soal semarang minim, terakhir kali aku ke semarang itu 3 tahun lalu(?), sebelumnya pernah ke semarang juga, tapi udah lama banget. Aku penasaran sih sama kota ini, apalagi sebagai ibukota jawa tengah ya.
    Dulu stigmaku, orang semarang kalau ngomong alus kayak jawa tengah bagian karesidenan surakarta, eh ternyata nggak, tergolong middle lah tingkat kekesarannya (g sekeras malang atau surabaya). Soalnya waktu temen-temen semarang tahu gimana logat keras jawa timuran keluar, mereka kebanyakan melongo dan g percaya, saking parah dan rusaknya kita ngomong. hahahaa..
    Nanti diagendakan buat ke semarang deh, mau menyusuri kotanya dengan baik

    ReplyDelete
  24. woooh, aku juga orang semarang meski boso jowoku nggak medhok semarang. hahahah

    ReplyDelete

Hai! Terima kasih sudah membaca. Silahkan berkomentar dengan bahasa yang santun ya :)

COPYRIGHT © 2018 · A LIFELONG JOURNEY BY LULUKHODIJAH | THEME BY RUMAH ES