Ih...ga nyangka...bisa juga bikin series ini. Mau tulis keliling perpustakaan di Korea kok setelah dicek masih di Seoul aja. Gapapa gapapa. Tandanya harus maen keliling Korea. Yuklah dicek mana aja yang udah didatengin!
National Library of Korea
Perpustakaan nasionalnya Korea. Bisa dibilang setara Perpusnas. Isi dari perpustakaannya repositori arsip nasional Korea. Maka dari itu, beda dari perpustakaan lain yang bisa asal masuk aja, disini pengunjung harus mendaftarkan diri.
Apakah perlu reservasi online? Nggak. Pas dateng, samperin aja meja resepsionis di sebelah kiri. Kalau udah punya ARC bisa daftar keanggotaan. Kalau ga punya? Bisa minta kartu akses sebagai tamu. Pengunjung dibatasi usia 16 tahun keatas.
![]() |
| Laptop Zone |
Ada 5 lantai yang bisa dieksplor. Tempat duduknya terbilang banyak dibanding perpustakaan distrik *yaiyalah. Toiletnya nyaman berbidet ((penting)). Ada foodcourt. Lalu yang unik ada bilik telepon!
Bentuknya mirip dengan yang di London itu. Yaah walaupun belum pernah kesana. Hihi.
Perpustakaannya lumayan riding the wave, aku menemukan satu rak yang isinya rekomendasi buku yang dibaca member BTS.
Kalaupun belum minat baca buku, bisa menikmati museumnya tanpa harus registrasi. Tentang sejarah percetakan di Korea, mulai dari mesin tik, komputer jadul, tipe kertas, dll. Ada juga bagian immersive collection yang memadukan literasi dengan teknologi. Bisa laah buat museum date tipis-tipis~
Waktu operasional
Setiap hari 09.00 - 18.00
Libur setiap Senin minggu ke-2 dan ke-4 tiap bulan, Seollal dan Chuseok
Cheongun Literature Library (청운문학도서관)
Lanjut ke perpustakaan tematik. Katanya viral di tiktok. Lokasinya nggak jauh dari Gyeongbukgung Palace. Jadi kalau cuma punya waktu sebentar di Seoul masih bisa banget berkunjung kesini. Menurutku bakal estetik ketika ada tumpukan salju. Coba nanti musim dingin dateng lagi.
Yang menantang disini tuh medannya. Agak naik turun shay. Maklum sebelahnya memang ada trail Inwangsan untuk hiking alias 등산. Tapi perjalanan menuju perpustakaannya sungguh estetik. Penuh dengan rimbunnya daun, berasa bukan di kota.
Bangunannya ada 2 lantai. Yang pertama lantai 1 disinilah favorit pengunjung.
Kayak bukan ke perpustakaan, lebih ke rumah tradisional Korea alias hanok. Nyaman banget lho duduk disini. Udah ada wifi dan ((colokan)) pula. Kenapa desain dia tradisional? Karena fokusnya ke puisi, esai, literatur klasik. Ceritanya biar bisa dapet inspirasi dari alam gitu~ Ceilah.
Kalau mau pinjem buku baru deh turun ke basemen yang isinya koleksi lebih banyak. Termasuk kalau butuh fasilitas seperti toilet atau minum, bisa turun. Langganan berbagai macam koran dan majalah, mantap dah!
Waktu operasional
Selasa - Jumat 09.00 - 21.00
Sabtu - Minggu 09.00 - 19.00
Libur setiap Senin
Seoul Metropolitan Library
Perpustakaan selanjutnya yang gampang aksesnya karena satu area sama City Hall alias Balai Kota Seoul. Bangunannya ikonik dengan struktur yang dipertahankan dari tahun 1926. Kenyamanannya ya tentuu saja nyaman. Terutama toiletnya sih aku baru tau ini ada bidetnya. LOL. Penting kalau misal lagi ada di sekitaran sini dan butuh toilet berbidet, numpang aja.
Sejujurnya belum pernah stay lama disini. Cuma baca 1 picture book bocil aja habis itu udah. Kata temenku sih ada bagian koleksi negara lain, hasil dari donasi.
Kalau mau sekalian ambil foto bisa banget melipir ke sebelahnya: Seoul Gallery (서울갤러리) tepatnya di lantai B1 dan B2.
Waktu operasional
Selasa - Jumat 09.00 - 21.00
Sabtu - Minggu 09.00 - 18.00
Libur setiap Senin
Bangbae Forest Environment Library
Ada kemiripan dengan Cheongun Library dimana sebelahnya persis tuh ada trail tipis-tipis. Ada gazebonya pula. Bisa melipir sejenak keluar kalau bosan didalam ruangan.
Kenapa namanya environment library? Karena bangunannya tuh dominan bahan dan warna kayu. Bagian tengahnya tuh open jadi pengunjung bisa ngerasain angin sepoi-sepoi. Nggak berhadapan juga dengan tembok. Enakeun deh~
Salah satu perpustakaan yang jam bukanya lama. Sampe jam 10 malem mantep ga tuh.
Waktu operasional
Senin - Kamis 09.00 - 22.00
Sabtu - Minggu 09.00 - 18.00
Libur setiap Jumat
Starfield Library
Ada beberapa perdebatan apakah ini bisa dibilang perpustakaan? Atau tempat foto-foto? Aku pun dateng kesini cuma mampir foto habis itu...yaudah :)) saking ramenya. Rasanya tuh mau baca disitu nggak bisa konsentrasi saking isinya orang banyak. Harap maklum karena secara tujuan dibangunnya memang untuk culture plaza dibanding perpustakaan konvensional dengan ke-hening-annya.
Buku yang dipajang betulan buku ya, bukan mock up. Boleh dibaca ditempat asal dikembalikan. Menurutku pribadi masih bisa banget dikategorikan perpustakaan. Karena 1) tersedia kursi dan meja untuk baca, 2) ada aktivitas literasi berjalan. Seperti waktu aku berkunjung tepat ada bedah buku salah satu chef jebolan Culinary War.
Enaknya disini nyatu dengan mal dan subway! Jadi nggak repot carinya. Oh ya, di area COEX ada juga musholanya. Paket komplit kan~
Buka setiap hari 10.30 - 22.00
National Assembly Library
Perpustakaan yang dikunjungi karena dapet fasilitas field trip dari kampus. Letaknya di gedung National Assembly di Yeouido. Ini tuh fungsinya semacam DPR di Indonesia.
Menurutku ini salah satu perpustakaan yang koleksinya keren sih. Ada beragam langganan jurnal. Koleksi buku dibagi tiap geografi wilayah. Misalnya Asia Tenggara, Timur Tengah, dll. Bahkan aku menemukan koleksi Indonesia dan Palestina disini. Keren euy.
Lalu untuk fasilitasnya juga setingkat lah sama National Library of Korea. Ada bilik khusus dengerin musik, nonton video, akses digital. Ruangannya modern dan terang-benderang. Terlihat mewah.
Untuk bisa masuk harus registrasi dulu di website National Assembly. Dan ada minimal umur, yaitu 16 tahun keatas.
Waktu operasional
Senin - Jumat 09.00 - 21.00
Sabtu - Minggu 09.00 - 17.00
Libur setiap Sabtu minggu kedua dan keempat
Songpa Book Museum
Yang ini bukan perpustakaan sih, tapi lebih ke museum. Cumaaa...disediakan juga buku dan area bacanya. Buka di tahun 2019, museum ini tuh museum pertama Korea yang didedikasikan untuk semua berbau buku. Isi pamerannya tentang sejarah literasi di Korea, mulai dari zaman dahulu kala sampai zaman modern. Kemudian ada rak buku untuk tren tiap masa.
Terdiri dari 3 lantai, dimana:
1. Basemen
Memajang artefak arsip peninggalan dari masa ke masa. Menarik sih bagaimana perubahan literasi di Korea terjadi. Terutama di awal menggunakan aksara hanja-chinese, lalu berubah menjadi hangeul sejak masa Raja Sejong. Banyak loh kata dari bahasa Korea sebenarnya serapan dari bahasa China.
2. Lantai 1
Disini are baca yang kubilang, menghubungkan antara basemen dengan lantai 2. Temboknya dipenuhi dengan rak buku, lalu tengah ada undakan untuk area baca. Waktu aku kesini banyak orang tua dan anak menghabiskan waktu bersama untuk menikmati buku.
3. Lantai 2
Menurutku disini paling seru. Vibes museum modernnya berasa! Tema-nya pameran terkait buku anak-anak. Nggak heran desainnya warna warni mencolok. Seperti halnya museum di Korea, ada bagian interaktif yang bisa dicobain. Disini berupa sudut untuk foto dengan latar belakang yang kita bisa pilih. Hehe, cute abiez!
Waktu operasional
Selasa - Minggu 10.00 - 18.00
Libur setiap Senin, Seollal dan Chuseok
***
Secara umum, aturan perpustakaan di Seoul tuh nggak boleh berisik. Detailnya pasti ada di setiap perpustakaan, cuma biasanya dalam bahasa Korea. Sediakan waktu sejenak untuk translate-nya. Jangan sampai salah kayak aku, pernah duduk di area bocil :)) untung nyadar sendiri tanpa harus diingetin.
Boleh bawa minum, kopi gitu pun boleh di area tertentu. Makanan yang nggak boleh. Ada perpustakaan yang harus naruh barang di loker, ada yang enggak. Biasanya yang enggak ini perpustakaan distrik. Fasilitas umumnya wifi gratis, toilet, dan dispenser minum. Kadang disediakan teh!
Semua perpustakaan yang aku tulis disini gratis tis tis untuk didatengin. Pinjem buku atau menggunakan fasilitasnya pun gratis asal ada kartu keanggotaan. Bisa request buku untuk kalau yang dicari nggak ada.
Jadi kayak gini nih negara maju. Perpustakaannya bukan lagi di tiap kota/kabupaten, tapi di tiap distrik. Malah di distrik dibagi lagi, ada perpustakaan khusus anak-anak, perpustakaan orang tua, dan perpustakaan umum. Sangat aksesibel dan mengakomodir segala usia. Jam buka pun ramah untuk semua kalangan.
Pemerintahnya sadar bahwa literasi itu penting untuk kemajuan sebuah negara. Sebagai negara demokrasi sih sepertinya sudah layak, dimana 70% anak muda (25-34 tahun) lulusan kuliah atau 56% (25-64) usia produktifnya lulusan kuliah. Artinya gap pendidikannya, tingkat intelektualitasnya bisa dipertanggungjawabkan. Bobot suara 1 orang dan yang lain nggak jauh.
Beda dengan Indonesia yang sarjananya masih 13-19%. Nggak imbang dong suara orang berpendidikan tinggi disamakan bobotnya dengan yang nggak berpendidikan? Ah sudahlah nggak mau bahas lebih jauh :))
Perpustakaan disini tuh juga nggak masalah banget lho dateng duduk tidur. Apa yaa, jadi semacam safe space buat warga. Pas musim panas, jadi tempat berlindung dari terik matahari. Di musim dingin, bisa untuk tempat menghangatkan tubuh. Tua, muda, laki-laki, perempuan, lokal, foreigner, nggak dibedakan!
***
Diantara perpustakaan ini, mana yang paling bikin penasaran dan pengen dikunjungi?
Bukan karena rusak, bukan karena hal buruk terjadi. Tapi...memang kejadiannya begitu cepat. Masuk toko bersama teman, lihat harga diskon, temanku ambil barang dan suruh bayar ke kasir. Masa ga dibayar udah sejauh itu? :))
Tinggal di negara maju ini banyak sekali pengalaman ataupun barang yang nggak bisa dengan mudahnya aku dapat di Indonesia. Contohnya, e-reader. Buat yang masih belum familiar dengan e-reader bisa baca di postinganku ini.
Merk e-reader yang cukup familiar di komunitas pembaca yaitu Kindle, Kobo, Onyx, dan 2 pendatang baru karena viral: Xteink dan Bigme. Sampai sekarang baru Bigme yang punya toko online resmi. Artinya apa? E-reader di Indonesia masuk tanpa jalur resmi. Nggak ada garansi.
Sejak pembelian e-reader pertamaku, terhitung 3 orang di sekitar terpengaruh untuk beli. Seneng? Iya lah. Bukan karena konsumtifnya, justru ketika tahu trik penggunaan e-reader malah bisa menghemat sampai puluhan juta rupiah. Tahu sendiri kan harga buku di Indonesia tuh MAHAL. Ditambah dengan melemahnya nilai tukar rupiah. Duh, semua barang melambung.
Balik lagi ke topik awal. E-reader. Setelah punya satu justru pengen punya seri lainnya. Di postingan tahun 2024 aku bilang pengen cobain beli e-reader berwarna dan stylus. Alhamdulillah terwujud di tahun ini :')
Di Korea, ada beberapa merk selain yang udah kusebutkan. Moaan pantone, Crema, Sam (punya toko buku Kyobo), Innospace, Meebook. Entah berapa merk lagi yang belum aku ketahui. Rencanaku dari awal memang akan beli e-reader disini, minimal 1 untuk pengalaman baca berbeda.
Pertimbangan beli e-reader berwarna
Onyx, Kobo, Crema, Sam dan Moaan punya e-reader berwarna. Sempat mempertimbangkan Onyx karena pilihannya banyak. Tapi masa Onyx lagi, sih? Skip.
Kobo? Dia cuma bisa di ekosistem kobo rakuten. Sebagai yang udah paham banyak pinjem dari Libby akhirnya skip. Walau menemukan info gimana cara menghubungkan overdrive ke kobo. Crema? Entah kenapa di beberapa ulasan yang kubaca nggak terlalu memuaskan. Sam? Korea punya. Takut nggak bisa customize ke bahasa lain.
Berhubung bukan barang primer dan nggak buru-buru, aku menghabiskan banyak waktu buat cek aplikasi jual beli barang bekas. Lihat dan membandingkan. Eh, kok ada nih satu merk yang baru pernah kudengar: Moaan Pantone. Usut punya usut, dia ini pabrikan Xiaomi. Wah, familiar dong sebagai mantan pengguna smartphone, powerbank, smartwatch Xiaomi. Meski murah tapi nggak murahan.
Eits, tunggu dulu. Jangan langsung beli. Lempar dulu di medsos dan bertanya ke komunitas pembaca. Banyak juga yang belum familiar dengan merk ini. Lagi pula budget untuk belinya belum ada. Simpan dulu informasinya.
Menjemput e-reader baru
Minggu ini kami iseng berkunjung ke Aladin Bookstore. Ini adalah salah satu jaringan toko buku bekas yang cukup punya nama di Seoul (atau Korea? Entahlah). Pertama kali aku masuk ke tokonya di cabang Aladin Jongno. Sangat rapi dan tertata untuk ukuran toko buku bekas. Malah nggak ada kesan "bekas" saking rapinya. Apalagi disini buku baru nggak terbungkus plastik seperti di Indonesia, jadi sama aja dengan buku bekas.
Layaknya toko buku, mereka jual perintilan bookish. Seperti bookmark, booksleve, alat-alat pendukung membaca kayak lampu baca, dll. Termasuk e-reader. Kami berkunjung ke cabang terdekat dari kampus, yaitu Aladin Sinchon. Sama seperti cabang Jongno, lokasinya di basemen. Eeits, jangan salah. Walaupun basemen disini nggak suram sama sekali.
Apa yang kami cari? Nggak ada. Awalnya begitu.
Sampai di rak ereader....loh....kok....ada Moaan Pantone 6 seharga 189000 KRW! Murah! Tunggu dulu, memang kalau dirupiahin masih jutaan. Kenapa aku bisa bilang murah? Karena aku sempat cek bekasnya di 160000 KRW. Beda 30ribuan won! Ini dapet baru.
Harga ini harga diskon memang. Lalu sebagai konsumen ((cerdas)) aku kroscek membandingkan harga. Rata-rata masih diatas 200000 KRW. Bahkan di online store-nya Aladin nggak semurah itu. Teman alias partnerku ini yang tau aku kaum mendang mending langsung nodong ke kasir buat di keep. Ya nggak enak dong kalau nggak aku bayar? Dengan berat hati kuserahkan kartu untuk menyelesaikan pembayaran.
Momennya tepat banget sih dengan turunnya gaji ke-13. Yaudah anggap aja self reward *AKHH ALESAN. Sejujurnya dirupiahkan pun tetap lebih murah dari Onyx Boox-ku itu. Ini berwarna di range 2jutaan sedangkan Onyx di 3jutaan. Dan ingat itu aku belinya 5 tahun lalu. Artinya nilai 3 juta di masa itu dan masa sekarang udah berbeda.
Panjang bener cerita dibalik pembelian ereader. LOL.
Baiklah, setelah hands on beberapa hari.
Gimana first impressionnya?
1. Hardware
Secara ukuran mirip dengan Onyx-ku, 6 inch. Nggak kerasa perbedaannya. Paling di bezelnya aja. Kalau Onyx bagian belakangnya rata, Moaan agak melengkung. Permukaannya sama-sama licin. Amannya pakai casing atau griptok biar nggak selip dan terjatuh.
2. Layar
Nah, ini paling beda. Namanya juga berwarna kan. PUAS BANGET akhirnya bisa baca komik atau picture book dengan paripurna. Kedalaman warnanya tergantung dengan pengaturan. Kalau mau semakin jelas, brightness dan kontrasnya semakin tinggi.
Apakah ghosting? Awalnya iya. Lalu aku ubah pengaturan rate-nya. Nggak ada masalah sama sekali. Smooth~ like butter~
Cumaa...karena berwarna jadi pengalaman bacanya tuh masih agak mirip kayak liat layar handphone. Ketika settingan terlalu terang, akan cepat lelah di mata untuk baca di tempat gelap.
3. Menu
Berhubung ini pakai Android, ya sudah selayaknya aku pakai Onyx aja. Udah coba beberapa aplikasi. Kindle, Libby, Google Play Book, Gramedia Digital aman. iPusnas? Bye bye.
Nggak kompatibel! :)) bagiku sih bukan hal yang mengagetkan ya. Toh aku juga jaraaang banget pakenya. Malah lupa kapan terakhir baca buku di iPusnas.
Sisanya? Baterai oke. Koneksi bisa wifi dan bluetooth. Bisa denger audiobook pakai headset kabel (di Onyx aku coba ngga bisa). Apalagi ya? Sejauh ini belum menemukan minusnya.
Pertanyaan temanku, "E-reader lama dikemanain?"
Yaa...tetep dipake aja??? Aku sempat bertanya-tanya kok bisa ada orang punya lebih dari 1 ereader. Ternyata malah akulah orang itu. Untuk sekadar baca aja punya satu cukup sih. Ini kan ceritanya aku menuruti hawa nafsu duniawi saja.
Demikianlah cerita panjang kali lebar menjemput barang impianku. Gimana, tertarik juga untuk cobain e-reader berwarna?
Salah satu tujuan tinggal di luar negeri yaitu mempelajari tata kelola negara yang mempengaruhi hajat hidup warganya. Apalagi jika kesempatan itu datang di negara maju. Sebagai warga negara berkembang tentu pertanyaan yang muncul di benak, "Apa sih yang membuat negara ini dikategorikan maju?" - selain dari sisi ekonomi.
Sebagai manusia yang hobinya membaca, keberadaan perpustakaan dan habit membaca menarik untuk ditelisik. Sebelumnya aku udah pernah menuliskan bagaimana serunya Seoul Outdoor Library.
Baca: Seoul Outdoor Library
Di postingan kali ini akan lebih spesifik bicara bagaimana sistem perpustakaan di Korea, khususnya di Seoul tempatku tinggal saat ini.
Struktur Administratif
Mirip dengan di Indonesia, perpustakaan disini berjenjang. Mulai tingkat nasional, provinsi (disebut dengan -do. Contoh: Gyeonggi-do), kota (disebut dengan -si. Contoh: Paju-si. Untuk Seoul karena metropolitan namanya menjadi Seoul Teukbyol-si).
Dibawahnya masih ada lagi tingkat distrik disebut - gu. Contoh: Gangnam-gu, Seodamun-gu. Menariknya, di tingkat distrik ini pun terdiri dari beberapa perpustakaan kecil. Contohnya Gangdong Library ini.
Keberadaan perpustakaan benar-benar dekat dan nggak asing dengan masyarakat. Jangan heran ditengah kawasan pemukiman atau apartemen, akan ada 1 perpustakaan. Se-banyak dan se-aksesibel itu!
Meski ibaratnya ini perpus ((kecamatan)), nggak main-main lho fasilitasnya. Ada aktivitas rutin baik untuk anak, dewasa maupun lansia. Tersedia book sterilizer, bisa pinjam tab bahkan laptop ditempat.
Paling gong sih buka sampai malam dan weekend :)) gak ada tuh drama cuma bisa ke perpustakaan di hari dan jam kerja aja. No no.
Malahan kebanyakan perpustakaan tutup di Senin. Kenapa hayo? Karena libur pegawainya di Senin. Ini peraturan cukup umum sih di Korea, beberapa kafe dan restoran menerapkan hal ini. Alasannya karena di weekend udah cukup melayani, jadi Senin-nya digunakan untuk "napas" dan berbenah.
Infrastruktur Cerdas dan Canggih
Selain di bangunan perpustakaannya, sarana pendukung lainnya nggak kalah banyak. Familiar dengan rak baca di KRL? Nah di Seoul udah next level. Tersedia rak canggih dimana warga bisa meminjam ataupun mengembalikan buku. Meski belum semua, di beberapa stasiun subway sudah ada. Di perpustakaan kampus sih udah ada juga ya. Kalau belum kebayang, yang aku tau tuh di Indonesia ada di Perpusnas dan Perpustakaan Jakarta (TIM).
Baca: Perpustakaan Jakarta
Sejujurnya aku belum pernah coba fasilitas pinjam meminjam buku baik di perpustakaan maupun bentuk mobile-nya. Kenapa?
Karena mayoritas koleksi disini ber-aksara hangeul. Menangis dengan sertifikat TOPIK seadanya ini. LOL. Selain itu karena aku udah nyaman dengan Libby sih, bisa dibilang akses buku berbahasa Inggrisku sangat mudah~ Alhamdulillah~
Baca: Pengalaman Ujian TOPIK I
Ngomongin tentang Libby, ya betul. Kartu perpustakaan di Korea juga tersedia di Libby!
Baru tahu setelah hampir setahun tinggal disini :)) hanya sajaa...daftarnya perlu menggunakan ARC alias kartu identifikasi resmi sini. Harus memasukkan id number (mirip NIK) yang terkoneksi ke nomor telepon. Lumayan lah, disini koleksinya ada berbagai macam bahasa. Lebih ramah foreigner.
Bukan Sekadar Tempat Baca
Kalian termasuk bagian dari manusia yang kzl nggak ketika ada orang dateng ke perpustakaan buat foto-foto aja? Buatku, enggak. Dengan mereka hadir ke perpustakaan aja setidaknya menumbuhkan rasa penasaran akan literasi.
Seoul menurutku sangat paham akan hal tersebut. Terbukti dengan adanya perpustakan tematik. Dimana desainnya biasa kita sebut dengan Instagram-able. Aku yakin pasti nama Starfield Library nggak asing di telinga warga. Ya, salah satu tujuan wajib juga yang sering masuk ke daftar itinerary tour and travel.
Selain itu ada juga Songpa Book Museum dengan sejarahnya tentang buku. Jeongdok Library dengan cherry blossom-nya. Cheongun Literary Library dengan hanok-nya. Apapun dilakukan demi menarik pengunjung ke perpustakaan! Bravo~
No Register Register Club
Iya, untuk duduk dan baca buku disini nggak perlu daftar! Kecuali yang pernah kucoba di National Library of Korea dimana harus bikin kartu tamu dulu. Sisanya beneran nyelonong masuk aja ga masalah. Ga harus nitip tas. Isi buku tamu. Nunjukin KTP. Sangat mudah bagi kaum malu-malu kucing dan males nanya macam aku :))
***
Apalagi ya? Nanti deh kalau inget ditambahin. Alhamdulillah akhirnya kesampaian juga nulis tentang fasilitas publik disini. Postingan selanjutnya bakalan kasih detail perpustakaan mana aja yang udah aku cobain! Ada yang penasaran? *plis jawab ada~
Mari kita melanjutkan cerita keseruan Akaraka.
Orang Indonesia mah baca ini Aldi (akulah orang Indonesianya). Rookie grup jebolan Boys II Planet. Aura pendatang barunya betulan menguar. Dan...mereka lipsing. Lagu yang dinyanyikan adalah Formula, Freak Alarm dan OMG! Yang terakhir disebut ini judul lagu dari comeback mereka.
Ke-khas-an festival kampus ini kalo ada yang pernah nonton drakor, punya tim cheering. Gambarannya persis kayak drama "Cheer Up". Apalagi drama tersebut memang syuting di Yonsei, seingatku ada tim kreatif Yonsei pula dibaliknya. Lagu cheering dan kostum yang dipakai, ril digunakan tim cheering Yonsei.
Seingatku ada 3 sesi cheering. Angkatan aktif dan senior di sesi siang/sore. Lalu angkatan aktif di malam hari. Buatku lagu yang paling kena dan gampang diingat tuh Yonsei, I Love You (연세여 사랑한다). Baru aku tau di momen ini ada banyak lagu cheering lain. Diantaranya Who Dares to Contest (달하라이자 누구냐 / Eagle Roar) dan Akaraka (아카라카). Budaya fanchant-nya para Kpoper terasa kuat di setiap cheeringnya.
Referensi bisa cek video ini:
Kalau ini versi kami sing along Yonsei, I Love You bareng Kim Nam Gil.
Udah ngetik sepanjang ini belum juga masuk ke review performancenya. LOL. Oke masuk ke bagian artist-nya. Diawali dengan ASTRO MJ yang menyanyikan trot. Eh bentar, harap maklum kalau nanti aku banyak yang ngga tau lagunya ya. Jujur dari daftar performance ini yang aku beneran dengerin lagunya cuma Hwasa. Balik ke MJ, dia cuma perform satu lagu aja.
And theeen....
Part 1
Alpha Drive One (ALD1)Boynextdoor
Next, boy group agak senior dikit. Group besutan Zico. Setauku sih termasuk lumayan populer yah di Indonesia. Setlist yang dinyanyiin One and Only, But Sometimes, Earth, Wind & Fire, Nice Guy dan 오늘만 I LOVE YOU" (Just Today I Love You). Aku cuma bisa sing along yang terakhir itu pun bagian Reff aja. LOL :)) disini aura idol udah lebih kuat dan stabil.
QWER
Next, band perempuan. Agak susah nih dibacanya Qyu-Double U-I Ar. Bukan langsung QWER. Satu-satunya hal yang kutau dari band ini adalah campur tangan Soyeon (i-dle) dibelakangnya. Lagu yang dibawakan diantaranya Discord, Ceremony, My Name is Malguem (내 이름 맑음), BAD HABIT dan T.B.H (고민중독).
Menurutku penampilan mereka bagus dan enerjik. Meski kategorinya bukan idol yang ngedance gitu, visual mereka tetep striking alias cantik banget woy. Cowok-cowok di barisan belakangku berkali-kali komen, "Aaah cantik banget" LOL.
Part 2
SeeYa
Awalnya kukira ini band baru. Lalu aku inget dia sempat dateng di youtubenya DnE. Mana ikrib lagi. Asumsiku seumuran. Beneran dong, mereka ini debut tahun 2006 kalo nggak salah. Malah digadang sebagai versi perempuannya SG Wannabe.
Aku tuh nggak ngeh kalau membernya yaitu Nam Gyu Ri adalah aktris pemeran utama di drama 49 Days. Pantesan familiar! Disini mereka nyanyi Love's Greeting, His Voice, Stay, dan Yonsei I Love You. Ada juga Never Ending Story (satu-satunya lagu yang kukenal). Kirain ini lagunya IU, ternyata versi IU pun remake. Originalnya yang nyanyi grup band rock.
Branding female versionnya SG Wannabe menurutku nggak berlebihan. Vokalnya oemji satisfying semua! Favoritku bagian Kim Yeon Ji. Itu beneran stabil dan sangat sopan di telinga. Untuk visual sih udah pasti Nam Gyu Ri. Akhirnya aku paham gimana versi "small face" yang dibanggakan warga Korea itu. Wajah Nam Gyu Ri cukup mendefinisikannya :))
Satu hal yang kubingungkan adalah, mereka ini kan termasuk senior. Kenapa ditaruh di line up awal-awal? Entahlah~
Woody
Pertama kali denger nama ini~ suaranya oke. Musik dan pembawaannya mirip lagu Sam Kim, Roy Kim, yang ballad gitu deh. Cocok buat soundtrack drama (atau mungkin udah pernah?)
Hwasa
Ini dia yang ditunggu-tunggu. Gong dari segala gong. Mana performnya pas saat matahari terbenam lagi. Feelnya dapet banget.
Masuk stage dengan lagu Chili-nya dari Street Women Fighter. Lalu ada "ment" alias obrolan dikit. Dia bilang ga bisa kasih "ment" panjang karena terbatas waktunya. Bener sih.. Lanjut lagu terbarunya: So Cute. Meskipun saat nyanyi dia tuuh auranya seksi bukan cute :))
Dilanjut dengan Maria. AKKHHH suka banget sama lagu ini. Sangat cocok dengan vokal, imej dan pembawaan Hwasa sebagai performer. Ditutup dengan hits tahun kemarin: Good Goodbye. Tentu dilakukan setelah melepas sepatu.
Highlight-nya? Di lagu Good Goodbye ini kan terkenal dengan part kehadiran cowoknya. Siapakah cowok beruntung yang hadir itu? Yak, Kim Nam Gil! Hahaha. Ga ekspek sama sekali. Mana cocok lagi penampilan mereka berdua ni. Aaah, bagian paling favorit deh di Akaraka!
Kim Nam Gil
Setelah Good Goodbye, 2 lagu dinyanyikan. Running to You dan Hug Me. Yang mana...aku nggak tau semuanya. EHE. Alhasil mendengarkan aja. Selama ini aku cuma tau beliau nyanyi di fan meeting legend dia yang 5 jam itu. Ternyata emang suaranya bagus!
Part lucunya sih sebenernya setelah Hwasa perform itu banyak audiens yang udahan alias cabut dari lokasi. Nggak enak banget deh kayak????
Mungkin untuk "menghibur" Kim Nam Gil biar ga sakit hati banget, audiens yang tersisa berkali-kali meneriakkan "Kim Nam Gil! Kim Nam Gil!" sampai dia salting sendiri :)) Gmz banget!
Sebelum masuk ke part 3 ada cheering lagi. Iklan sponsor. Dan perform lagu musical The Mission: K. Tema musikal ini perjalanan Avison, Allen dan Underwood untuk mendirikan Yonsei dan Severance Hospital. Performnya bagus sebenarnya, cuma....penonton nih udah ga sabaran kan nunggu artist-nya. Mana udah malem pula. Alhasil denger keluhan dari belakang kanan kiri belakang. LOL.
Part 3
....alias penutupan alias paling meriah! Gimana nggak meriah coba, semua bintang gen 2 muncul! Mulai dari F.T. Island, Super Junior-LSS, KARA, dan RAIN!
Bagian F.T. Island aku nggak terlalu ngikutin. Cuma tau kalau Lee Hongki pernah main drama sama Park Shin Hye. Grupnya ini kan band ya, ampuun sangat effort buat teriak-teriak sampai titik suaranya serak. Dua jempol untuk totalitasnya.
Super Junior? Ah jangan ditanya.
Penguasaan panggungnya dapet banget! Kentara udah senior. Interaksi sama audiens oke. Nyanyi dan dance stabil. Dibuka dengan Sorry Sorry pula apa nggak terpanggil untuk ikutan ngedance? Lagu selanjutnya termasuk jarang ada live-nya, kayak Rokuko. Pas posting ini di medsos temen-temen gen 2 terpanggil.
Kata Suju, mereka berasa konser karena para penonton ini pakai biru. Senada dengan fandom mereka. Sa ae dah~ energi dari Shindong dan Leeteuk paling berasa sih. Kalau Siwon...ah sudahlah gausah dibahas yah.
Hampir menuju akhir, KARA!
Grup pemanggil gen 2 lainnya. Lupin, Pretty Girl, Honey, Mister, STEP. Literally para audiens ini sing along di SEMUA lagunya. SEMUA TAU LAGUNYAA. Beda yah sama aku yang cuma tau Mister :P
Emang sebagus dan se-nostalgic itu sih. Energinya nggak main-main. Teriakan paling dahsyat tentu diarahkan ke Hur Youngji. Apa ya, label human vitamin beneran nempel di dia saking senyum mulu. Keliatan hepinya nular!
Terakhir, RAIN sebagai penutup.
Walau udah ajussi dan punya anak, begitu naik ke stage....OMG. Aura pria mapan tampan dan mempesona sangat kuat gaes. Rainism, La Song, Gang. Tidak lupa lagu barunya untuk comeback: Feel It.
Disini mungkin karena udah titik penghabisan. Semua audience jor-joran suara maupun dance. Cocok banget deh sebagai pemungkas. Meski aku nggak nonton bagian encore dan penutupannya karena cabut duluan, nggak menyesal sama sekali.
This is kind of university romance that I missed during undergraduate. Or during high school? Sangat bersyukur bisa juga ngerasain vibes youth and free T_T I think I will never ever forget this moment. Dan, aku punya banyak fancam. Sayangnya ketika upload di Youtube auto kena ban. Ya sudahlah ya disimpen sendiri untuk kenangan~
***
Anyway, buat yang pengen nonton perform di Youtube banyak! Malah ada 4K-nya juga. Ah ya, ada beberapa tips untuk nonton festival semacam ini.
1. Dateng awal
Buat tag tempat. Habis itu bisa keluar lagi untuk cari makan atau ngaso dulu~ Yang penting dapet posisi strategis. Ingat, posisi menentukan prestasi. LOL.
2. Siapin alat tempur
Topi, alas duduk atau kursi lipat, sunscreen, cemilan, kipas. Bawa semua yang menurutmu bisa bikin nyaman!
3. Enjoy the moment
Disuruh berdiri ya berdiri. Nyanyi ya nyanyi. Gerak ya hayuk. Ikutin aja instruksinya. You're going to have fun!
Thank you Yonsei! Thank you Akaraka! Kapan kita bisa ketemu lagi ya? :))
Hidup ini sungguhlah....menarik. Manusia yang nggak pernah (dibolehin) buat dateng pensi di Indonesia, ternyata rezekinya di Akaraka 2026.
"Kamu pasti pilih Yonsei karena pengen nonton Akaraka ya?"
Pertanyaan tersebut muncul dari kakakku sesama penggemar Kpop. Kujawab, yaa emang? :)) walau pada saat itu belum tau gimana cara dapet tiketnya.
Apa sih Akaraka?
Akaraka adalah festival tahunan yang diselenggarakan oleh Yonsei University. Biasanya diadakan di bulan Mei, dimana kampus ini merayakan ulang tahunnya. Selain Yonsei, mayoritas universitas di Korea juga punya festival masing-masing.
Di Indonesia semacam pensi kali ya. Dan biasanya diadakan di musim semi (spring) atau awal musim panas (summer), dimana suhu udara dan cuaca terbilang nyaman.
Setauku Akaraka ini ada pembagiannya. Pertama khusus mahasiswa undergraduate atau S1. Kedua diperuntukkan graduate student, alumni dan keluarganya. Tahun ini Akaraka untuk kami graduate student dilaksanakan pada 17 Mei 2026.
Gimana cara mendapatkan tiket Akaraka?
For your information, Akaraka ini strictly untuk keluarga besar Yonsei aja. Artinya, ga dibuka untuk publik. Untuk universitas lain kebijakannya bisa berbeda. Cara taunya dia beneran bagian dari Yonsei gimana?
Nah, beli tiketnya ini tuh online lewat https://www.yonseinmall.com. Kami harus buat akun, upload dokumen berupa profil student di Yonsei portal, student ID, dan beberapa dokumen lain yang menunjukkan keabsahan status kami. Selang beberapa hari, akun akan diverifikasi sehingga eligible untuk ikutan "war" tiket Akaraka.
Seingatku ada 3 sesi penjualan tiket. Aku dapatnya di sesi kedua. Harga tiket 39000 KRW. Kurang tau sih perbandingan dengan festival kampus lain gimana. Yang aku tau, untuk festival umum (non kampus) yang pernah kubeli hampir 100000 KRW.
Apa aja persiapan Akaraka?
Outfit! Penting banget ini. Yonsei punya Co-op Store dimana mereka menyediakan merchandise serba Yonsei. Ada atasan kayak kaos, jaket, sampai perintilan macam bando dan slayer. Seru banget pilah pilihnya saking banyaknya pilihan, LOL.
Pilihanku jatuh ke atasan tanpa lengan bertuliskan Yonsei 1885 dan slayer. Kenapa aku pilih dua itu? Karena mempertimbangkan kenyamanan. Dan harga :)) kayaknya sih bakalan beli merchandise lain untuk keeping memories.
Untuk tiket dikirim lewat kakao talk berupa QR. Di hari H, kami harus menuju ticket booth untuk menukar menjadi wristband.
Finally, Akaraka!
Pengumuman yang bilang mulai jam 2.30 pm itu, dari jam 10 udah pada ngantri untuk ngetag tempat. Jadi, alurnya tuh kami harus menukar menjadi wristband dulu di ticket booth dekat patung Elang-nya Yonsei.
Tiket terbagi menjadi 2, seating alias duduk di tangga amphitheater. Satunya standing deket dengan stage/panggung. Kami pilih seating karena yaa nggak ambis amat. Setelahnya menuju amphiteater. Disini dilakukan pengecekan wristband dan isi tas.
Selayaknya konser, kamera profesional dilarang digunakan. Begitu memasuki amphitheater....masyaAllah tabarakallah ya bund panasnya bukan maen. Udah mirip sama panas Semarang yang mataharinya ada 5 pas diatas ubun-ubun itu. Meski terlihat kosong akan manusia, penuh dengan barang untuk ngetag tempat. Kami termasuk kategori terlambat, alhasil dapat lumayan jauh dari stage. Yaudah gapapa, ga sampe sejuta ini.
Acara betulannya mulai mendekati jam 4 sore. Sungguh itu udah kebakar pake banget. Lemah lesu lunglai kenapa ga mulai-mulai. Sama kayak di Indonesia, banyak iklan dan sambutan dari petinggi. LOL. Kami tinggal dulu deh cari minum dan jajanan.
Boleh keluar? Boleh banget Alhamdulillah! Dengan catatan tangan kami dapet stempel khusus sebagai penanda.
Ada kejadian lucu pas ngantri beli air. Awalnya aku tuh berniat ke toilet aja. Cuma bawa handphone dong. Trus ngerasa ah udah keluar, sekalian aja deh. Biasanya minimarket sini tuh bisa bayar pakai kakaopay. Semacam gopay gitulah. Ga perlu kartu. Pas udah di meja self-pay itu....jreng! Nggak ada pilihannya dong. Dengan muka tembok minta pembeli dibelakang bayarin dulu~ pakai bahasa Inggris yang dia ngga paham~ sungguhlah ada aja kisah hidup ini.
Di festival dimana performernya banyak ini, aku udah sedikit paham kalau urutannya tuh berdasarkan senioritas. Artist atau grup yang baru debut umumnya ditaruh diawal. Semakin senior semakin akhir waktu performancenya. Sama kayak BTOB di Gangnam Festival tahun kemarin.
Gimana kelanjutan cerita performernya? Lanjut ke postingan berikutnya ya biar ga kepanjangan~
Subscribe to:
Posts (Atom)




















































