Hidup ini sungguhlah....menarik. Manusia yang nggak pernah (dibolehin) buat dateng pensi di Indonesia, ternyata rezekinya di Akaraka 2026.


"Kamu pasti pilih Yonsei karena pengen nonton Akaraka ya?"
Pertanyaan tersebut muncul dari kakakku sesama penggemar Kpop. Kujawab, yaa emang? :)) walau pada saat itu belum tau gimana cara dapet tiketnya.

Apa sih Akaraka?

Akaraka adalah festival tahunan yang diselenggarakan oleh Yonsei University. Biasanya diadakan di bulan Mei, dimana kampus ini merayakan ulang tahunnya. Selain Yonsei, mayoritas universitas di Korea juga punya festival masing-masing.

Di Indonesia semacam pensi kali ya. Dan biasanya diadakan di musim semi (spring) atau awal musim panas (summer), dimana suhu udara dan cuaca terbilang nyaman.

Setauku Akaraka ini ada pembagiannya. Pertama khusus mahasiswa undergraduate atau S1. Kedua diperuntukkan graduate student, alumni dan keluarganya. Tahun ini Akaraka untuk kami graduate student dilaksanakan pada 17 Mei 2026.

Gimana cara mendapatkan tiket Akaraka?

For your information, Akaraka ini strictly untuk keluarga besar Yonsei aja. Artinya, ga dibuka untuk publik. Untuk universitas lain kebijakannya bisa berbeda. Cara taunya dia beneran bagian dari Yonsei gimana?

Nah, beli tiketnya ini tuh online lewat https://www.yonseinmall.com. Kami harus buat akun, upload dokumen berupa profil student di Yonsei portal, student ID, dan beberapa dokumen lain yang menunjukkan keabsahan status kami. Selang beberapa hari, akun akan diverifikasi sehingga eligible untuk ikutan "war" tiket Akaraka.


Seingatku ada 3 sesi penjualan tiket. Aku dapatnya di sesi kedua. Harga tiket 39000 KRW. Kurang tau sih perbandingan dengan festival kampus lain gimana. Yang aku tau, untuk festival umum (non kampus) yang pernah kubeli hampir 100000 KRW.

Apa aja persiapan Akaraka?

Outfit! Penting banget ini. Yonsei punya Co-op Store dimana mereka menyediakan merchandise serba Yonsei. Ada atasan kayak kaos, jaket, sampai perintilan macam bando dan slayer. Seru banget pilah pilihnya saking banyaknya pilihan, LOL.

Pilihanku jatuh ke atasan tanpa lengan bertuliskan Yonsei 1885 dan slayer. Kenapa aku pilih dua itu? Karena mempertimbangkan kenyamanan. Dan harga :)) kayaknya sih bakalan beli merchandise lain untuk keeping memories.

Untuk tiket dikirim lewat kakao talk berupa QR. Di hari H, kami harus menuju ticket booth untuk menukar menjadi wristband.

Finally, Akaraka!

Pengumuman yang bilang mulai jam 2.30 pm itu, dari jam 10 udah pada ngantri untuk ngetag tempat. Jadi, alurnya tuh kami harus menukar menjadi wristband dulu di ticket booth dekat patung Elang-nya Yonsei. 


Tiket terbagi menjadi 2, seating alias duduk di tangga amphitheater. Satunya standing deket dengan stage/panggung. Kami pilih seating karena yaa nggak ambis amat. Setelahnya menuju amphiteater. Disini dilakukan pengecekan wristband dan isi tas. 

Selayaknya konser, kamera profesional dilarang digunakan. Begitu memasuki amphitheater....masyaAllah tabarakallah ya bund panasnya bukan maen. Udah mirip sama panas Semarang yang mataharinya ada 5 pas diatas ubun-ubun itu. Meski terlihat kosong akan manusia, penuh dengan barang untuk ngetag tempat. Kami termasuk kategori terlambat, alhasil dapat lumayan jauh dari stage. Yaudah gapapa, ga sampe sejuta ini.


Acara betulannya mulai mendekati jam 4 sore. Sungguh itu udah kebakar pake banget. Lemah lesu lunglai kenapa ga mulai-mulai. Sama kayak di Indonesia, banyak iklan dan sambutan dari petinggi. LOL. Kami tinggal dulu deh cari minum dan jajanan.



Boleh keluar? Boleh banget Alhamdulillah! Dengan catatan tangan kami dapet stempel khusus sebagai penanda.

Ada kejadian lucu pas ngantri beli air. Awalnya aku tuh berniat ke toilet aja. Cuma bawa handphone dong. Trus ngerasa ah udah keluar, sekalian aja deh. Biasanya minimarket sini tuh bisa bayar pakai kakaopay. Semacam gopay gitulah. Ga perlu kartu. Pas udah di meja self-pay itu....jreng! Nggak ada pilihannya dong. Dengan muka tembok minta pembeli dibelakang bayarin dulu~ pakai bahasa Inggris yang dia ngga paham~ sungguhlah ada aja kisah hidup ini.

Di festival dimana performernya banyak ini, aku udah sedikit paham kalau urutannya tuh berdasarkan senioritas. Artist atau grup yang baru debut umumnya ditaruh diawal. Semakin senior semakin akhir waktu performancenya. Sama kayak BTOB di Gangnam Festival tahun kemarin.

Gimana kelanjutan cerita performernya? Lanjut ke postingan berikutnya ya biar ga kepanjangan~
Berbulan-bulan di Korea kok ternyata belum menemukan postingan tentang buku kecuali booktalk dengan Natasha Rizky.


Bukan nggak kemana-mana, udah ada beberapa tempat. Belum diposting aja. Serta bingung melanda bagaimana format tulisan yang cocok. Bertepatan dengan menghangatnya cuaca, kegiatan perbukuan bermunculan. Salah satu yang aku impikan dari lama yaitu: Seoul Outdoor Library!


Tahun kemarin seharusnya masih ada sebelum musim dingin. Kami udah ke daerah Cheonggyecheon stream. Sayangnya sepertinya kami berada di titik yang kurang tepat. Alhasil nggak nemu. Saat musim dingin memang gelaran ini ditutup karena...dingin banget bok! Yang ada malah masuk angin kan nggak lucu.

Apa sih Seoul Outdoor Library itu?


Ide perpustakaan luar ruangan ini muncul setelah pandemi, sekitar tahun 2022. Penyelenggaranya pemerintah Kota Seoul yang bertujuan untuk menciptakan ruang publik nyaman dengan menggabungkan alam dan budaya. Bertepatan pula dengan dihapuskannya social distancing dan sebagainya. Duuh...ternyata udah lewat ya masa kelam itu :') Alhamdulillah.


Awal inisiasi bernama "Read at Seoul Plaza". Sesuai dengan lokasinya, yaitu Seoul Plaza. Kemudian setelah pilot project-nya dianggap sukses serta banyak peminat, tahun berikutnya titik perpustakaan pun bertambah. Ada di Gwanghwamun, pinggiran sungai Cheonggyecheon, sampai Hangang Park. Bahkan di tahun 2026 ini merambah daerah Dongdaemun Design Plaza (DDP).

Semua lokasi yang disebutkan ini berdekatan, sekaligus ikonik dan strategis. Mudah dijangkau transportasi publik baik bus maupun subway. Di Gwanghwamun letak Gyeongbukgung Palace yang terkenal itu. Sungai Cheonggyecheon salah satu bentuk tata letak kota yang berhasil, karena perombakan jalanan menjadi sungai. Salah satu fungsinya bisa menurunkan suhu lingkungan sekitar. Hangang Park? Duh, ikon kota Seoul. Siapa sih yang nggak tau?

Di tahun 2024 program ini mendapat penghargaan "Green Library Award" dari the International Federation of Library Associations and Institutions (IFLA). Kegiatan ini mengubah stigma baca itu harus didalam perpustakaan, menjadi baca dimana aja.

Di grand openingnya nggak cuma disediakan buku, penyanyi dan live band turut memeriahkan kegiatan ini. Siapa aja boleh datang dan ikut serta. Tanpa registrasi, tanpa pungutan biaya. Cukup datang setiap akhir pekan (Jumat-Minggu) atau cek jadwal di instagram Seoul Outoodor Library. Kayak Minggu 03 Mei ini tutup karena hujan seharian.

Jadi, gimana pengalamannya ikut Seoul Outdoor Library?



Jujur....happy. Bahagia. Senang. Buat orang lain terdengar sederhana mungkin. Buatku? Mimpi jadi kenyataan. Aku datang di titik Seoul Plaza pada Sabtu 02 Mei 2026. Kegiatan dilaksanakan dari pukul 11.00 KST sampai 18.00 KST. 


Selama bulan Mei ini, salah satu toko buku bahasa Inggris di Korea yaitu DB Books bekerja sama dengan Penguin Random House membuka stand. Apa sih isinya? Aktivitas anak seperti mewarnai, buku anak berbahasa Inggris, dan gongnya sih ini ya. Ada Lending Library alias bisa pinjem buku bahasa Inggris terbitan Penguin Random House gratis! Inget ya, gratis! Nggak ada tuh registrasi apalah apalah.

Sebagai manusia yang masih terbata baca hangeulnya, ini membantu banget. Selama ini wisata perbukuanku sering dibuat patah hati karena tentunya buku yang tersedia lebih banyak berbahasa Korea. Nggak menyalahkan situasi sih. Akunya aja yang kurang belajar :'))


First impression: sesuai dengan apa yang diposting di sosial media!

Ramainya, fasilitasnya. Tersedia bean bag yang nyamaan banget untuk ditempati. Disediakan pula semacam kursi camping di area berbeda. Aku kurang tau setiap akhir pekan formatnya sama atau enggak. Saat aku datang, ada stand British Council, panggung live band, trampoline untuk bermain anak. Tersedia stand UMKM lokal. Intinya: MERIAH!


Kurasa semua orang tumpah ruah disini. Tau sendiri kan, di Korea tuh settingan umumnya harus tenang dan diam. Disini anak-anak bebas berlarian, berisik, dan sebagainya tanpa takut mengganggu orang. Surga~

Setiap bangkunya ada 1 meja dan 1 kotak kontainer berisi buku yang bisa dipilih. Banyak staf dan security berlalu lalang untuk menjaga keamanan, mengambil sampah, atau mengecek ketersediaan buku. Mereka sedia plastik loh untuk menutup kontainer, jaga-jaga dari hujan :)) 

Pengunjungnya multikultular banget. Nggak cuma warga lokal. Bahkan kulihat turis dengan backpack gede pun tertarik ikut baca atau sekadar goleran aja disini. Loh, emang boleh goleran? Asli, bebas mau ngapain aja! Orang nggak akan ikut campur.

Baca buku apa?


E-reader yang udah kubawa dari rumah akhirnya menganggur. Aku pinjam buku dari stand Penguin Random House berjudul Soyangri Book Kitchen. Belum selesai baca, sih. Baru sampai halaman 111 selama sekitar 2 atau 3 jam membaca. 


Buku ini tipe healing fiction dimana berkisah tentang sebuah homestay di desa yang konsepnya literasi. Lalu ada beberapa tokoh seperti idol terkenal, orang depresi, dsb yang berusaha untuk menenangkan diri disini. Nggak ada konflik yang berat atau intens. 


Novel sejenis ini banyaaak banget di Korea. Kayaknya emang pada butuh pukpuk alias kenyamanan dari buku. Sebut aja Yeonnam-Dong's Smiley Laundrymat, The Healing Season of Pottery - Yeon Somin, The Marigold Mind Laundry - Yun Jung Eun. Semua isinya cozy, warm, light reading. Cocok banget buat tipe pembaca pencari ketenangan kayak aku.

Kesimpulannya: aku suka banget sama acara kayak gini. Cuma modal naik bus aja udah dapet baca buku gratis. Harga buku: 20.000 KRW. Transport PP: 3.000 KRW. Win-win solution banget kan? Plus ngga perlu menimbun buku fisik yang nantinya kudu dipikirin lagi gimana bawa pulangnya hahaha.

Menyenangkan sekali hidup di kota yang mendukung penuh literasi :) kamu pengen cobain nggak?

Bonus: bunga-bunga cantik bermekaran~

Aku ingat betul ada kolega kantor hampir setiap tahun ke Korea. Salah satu tur yang direkomendasikan yaitu DMZ. Alias merasakan aura militer perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara.


Begitu dapat beasiswa, Alhamdulillah disediakan tur ke DMZ meskipun masih agak lama. Rezeki nggak kemana, ada yang nawarin DMZ tur gratis. Ya maulah??? :)) terima kasih kak Yasmin atas ajakannya. Meskipun justru dirimu nggak bisa ikut.

Ceritanya kenapa bisa gratis, karena ada rombongan turis dari Bangladesh mau ke DMZ. Persyaratannya adalah minimal 30 orang. Nah untuk menggenapinya, kami pun diminta ikut. 

Demilitarized Zone (DMZ) Tour merupakan tur milik Korea Selatan yang bertempat di perbatasan negara. Secara teknis, kedua negara ini masih dalam keadaan perang. Karena akhir dari Perang Korea bukanlah kesepakatan damai. Melainkan hanya gencatan senjata.

Makanya di Korsel semua laki-laki dewasa diwajibkan mengabdi ke negara melalui jalur militer. Familiar lah ya bagi para Kpopers yang tersedu ketika ditinggal idolnya. Waktunya antara 1-2 tahun. Nggak ada tawar menawar bagi siapapun, yang mangkir akan dibawa ke jalur hukum.

Highlight dari tur ini adalah lorong atau tunnel yang ditemukan oleh Korsel. Tunnelnya dibangun Korut dengan tujuan menyerang Korsel. Oh ya semua ini pernyataan versi point of view-nya Korsel. 

Sejauh ini ada empat tunnel yang ditemukan.
Tunnel 3 di Paju.
Tunnel 2 di Cheorwon.
Tunnel 4 di Yanggu.
Tunnel 1 di Yeoncheon.

Tunnel 3 yang di Paju inilah tujuan utama kami. Tunnel ini paling populer di kalangan turis. Jaraknya hanya 50an kilometer dari Seoul. Perjalanan kami memakan waktu 1 jam aja. Tur setengah hari udah cukup dan nggak begitu melelahkan.

Tapii..sebelum mencapai Tunnel ini, kami diajakin dulu ke Imjingak Park. 


Disini ada memorial, jembatan "Bridge of Freedom" dan lokomotif yang katanya berasal dari masa perang dulu. Ada pula cable car kalau waktunya cukup untuk eksplor. 




Nah khasnya tur Korsel tuh entah kenapa kultur ppalli ppalli juga terasa disini. Beberapa kali ikutan baik itu tur group, road trip, conference, semua harus cefaaat! Agak jetlag dengan santuy-nya di Indonesia. Hahaha.

Selain bacain cerita sejarahnya, disini ada toko kecil menjual pernak pernik Korea Utara. Sayangnya ga boleh difoto bagian dalam. Kami tertarik dengan uang Korut yang dijual. Agak mahal sih sebenernya tapi yaudahlah kenang-kenangan. Kami bertanya-tanya darimana mereka bisa mendapatkan barang-barang ini?


Oh ya, di Imjingak ada stasiun kereta. Kayaknya sih bisa yaa kesini tanpa tur (area ini belum masuk DMZ).

Lanjut, ke tunnelnya!

Ssst, disini masuk dan keluar harus dicek identitasnya. Bisa dengan paspor atau ID korea (kalau sudah punya). Tentaranya masuk ke bus untuk mengecek satu-persatu.

Oke, tentang Tunnel 3. Ditemukan di tahun 1978 berdasarkan informasi dari pembelot Korut. Total panjang yang bisa dikunjungi 350 meter. Turis bisa disini sesuai waktu reservasi. 



Menurutku tempat ini bagus banget sarana prasarana untuk turisnya. Kami ga boleh bawa apapun termasuk handphone, jadi disediakan loker. Kemudian helm safety. 

Aku ngga tau di Indonesia ada lorong sekecil ini atau enggak. Kalau dibandingkan dengan gua Jepang di Bukittinggi, ini tuh kecil banget. Cuma bisa 2 orang papasan. Atapnya rendah, karena tinggi orang pada masa itu sekitar 150-160 cm. Pengap. Lembap. Berair. Ih pokoknya mah kalo ga suka ketidaknyamanan gausah dicoba.

Waktu turunnya sih oke nggak terlalu berat. Nah ketika balik ini udah berasa mendaki. Kami bertiga terengah-engah, istirahat beberapa saat sebelum balik lagi ke pintu masuk. Bagi yang fobia gelap dan ruangan sempit nggak rekomen deh. Se-pengap itu~ bahkan tur guidenya bilang kalau ga kuat ga usah dilanjut. Kalian ga dapet hadiah kok pas berhasil sampai :)) LOL. Di ujung tunnel cuma ada pintu dan CCTV yang memperlihatkan bagian luar. 

Terakhir, Dora Observatory. Bangunan yang menyediakan binokular untuk melihat area Korut. Lagi-lagi nggak boleh ambil gambar yah :)) kalau penasaran bisa cek di instagram banyak yang melanggar aturan. Cuma aku ga berani sih....


Apa yang terlihat dari binokular? Paling keliatan bendera Korut. Ada cerita lucu mengenai ini. Jadi di perbatasan tuh ada bendera dari dua negara. Mereka ga mau tiangnya lebih rendah dari yang lain. Jadilah pas Korsel bangun, Korut bangun lebih tinggi. Korsel meninggikan, Korut ga mau kalah. Sampai akhirnya Korsel "mengalah" biar Korut tiangnya yang lebih tinggi ajalah. Kayak, childish thing??? :))

Kalau beruntung dan cuaca cerah, katanya bisa keliatan aktivitas warga Korut. Sayangnya pas kami kesini polusinya tebel banget. Ya sudahlah gapapa pengalaman~

Fun-fact lain tentang Korut (versi Korsel tentunya):
  • Ada 3 negara yang dibenci Korut: Korsel, Jepang dan Amerika
  • Wajib militer bagi laki-laki dewasa selama 10 tahun
  • Warga Korut dilarang memakai blue jeans, karena itu dianggap simbol Amerika
  • Dilarang ada warga yang punya nama dan tanggal lahir sama seperti pemimpinnya (Kim family)
  • Listrik hanya terpusat di Pyongyang, ibu kota Korut
  • Jika ada kesempatan berkunjung kesana dan ambil foto patung pemimpinnya, ga boleh kepotong
Mana yang mau dipercaya? Entahlah~

Setauku saat ini udah banyak konten warga Korut yang berhasil melarikan diri dan mengganti identitasnya. Bisa dicek di Youtube atau baca bukunya, salah satunya In Order to Live ditulis oleh Yeonmi Park. 

***

Well, apakah layak dicoba? Kataku sih iya. Bisa sih coba dari Korut, cuma visa kesana terbatas banget. Bolehlah kalau emang se-kepo itu dengan Korut. Gimana, tertarik ikutan turnya?
Masih dalam pencarian cherry blossom, berlanjut ke lokasi yang ngga jauh dari kampus Yonsei Sinchon: Yeonhui Forest. 



Yeonhui Forest - (https://naver.me/FQVGsqsH) - 9 April 2026



Sebenarnya tujuan utama kami adalah ambil jastipan dari Indonesia. Kebetulan mbak jastipnya sedang cari cherry blossom. Berhubung deket, ya sudahlah kami dateng duluan untuk foto dan video. 

Lagi-lagi, kami ditemani oleh gerimis manja. Datang sekitar pukul 9.00 pagi, kawasan ini masih sepi. Hanya beberapa ajumma dan ajushi lalu lalang. Berbeda dengan update-an temanku ketika datang di sore hari menjelang matahari terbenam. Isinya manusia di setiap sudut.


Cherry blossom disini banyak dan masih mekar sempurna. Alhamdulillaah, rezeki! Selain itu ada tulip yang ditanam disekitarnya. Tapiii, pas aku update fotonya di medsos malah dikomentari mirip Taman Bunga Nusantara. Yaah, ga jadi pamer cherry blossom deh :))

Puas banget sih foto disini. Udah diniatin dari awal pake outfit paripurna. Ditambah fotografernya emang jago dan lumayan perfeksionis. Banyak ambil foto yang kecee!


Nggak lupa mengunjungi air terjun buatan yang juga cakeep. Agak siangan dikit, udah dipenuhi wisatawan baik lokal maupun internasional untuk foto-foto. Area ini gratis dan bisa dijangkau dengan bus hijau 7017 yah!

Konkuk University Glocal Campus (https://naver.me/5r9nUhTM) - 12 April 2026



Menjauh dari Seoul, lokasi ini sebenarnya bukan direncakan untuk cherry blossom hunting. Tujuan awalnya adalah ngikut temen ujian TOPIK. 


Berhubung aku belum butuh jadi cuma nungguin aja. Eh gataunya cherry blossom di kampus ini mekar sempurna. Poin plus: SEPI. Entah karena hari Ahad atau gimana. Beda banget sama kampusku yang bisa sepi kayak gini tuh di masa libur (winter break) aja so far.

Puas deh ambil foto dan video disini. Super estetik. Bebas kebocoran orang (LOL). Bonus angin sepoi-sepoi bikin semakin bagus ketika kelopak bunganya berguguran.




Minusnya? JAUH. Sekitar 90an kilometer kayak jarak Semarang-Solo sih. Cumaa...daerah luar Seoul tuh entah kenapa rural areanya berasa banget. Kanan kiri depan belakang kampusnya aja sawah. Pas jam pulang kehabisan bus ke Seoul, alhasil kudu ke kota terdekat dulu. Anyang, Ansan, atau Incheon. Kurang cocok bagi turis yang waktunya terbatas.

Seonyudo Park (https://naver.me/5JpUA7HT) - 2 April 2026



Hunting di siang hari udah, gimana hunting di malam hari? Tentu nggak se-jelas di saat banyak cahaya. Tapiii tetep bagus dan berkesan dengan caranya sendiri. Lampu temaram yang dipasang dekat cherry blossom bikin kesan magis.


Selain itu, disini bisa menikmati Hangang alias Sungai Han dengan tenang. Minusnya jarak antar pohon berjauhan. Untuk difoto nggak akan se-estetik di lokasi yang kusebutkan sebelumnya. Well..seenggaknya merasakan variasi berbeda aja. Hihi.

***

Sebelum cherry blossom hunting, tips dari aku:

1. Perhatikan outfit
Pilih paduan warna yang cocok. Cari inspirasinya di sosmed atau manapun. Umumnya kombinasi warna putih, biru, kuning pastel. Warna pink kurang rekomen terutama kalau dipakai di warna hijab. Akan menutupi warna cherry blossomnya.

Biar lebih elegan, pakai rok atau dress. Sekaligus menandakan bahwa musim semi udah datang. Meskipun begitu, tetap cek temperatur ya. Apakah masih perlu pakai jaket atau engga. Kalaupun perlu, pakai spring coat aja yang umumnya berwarna lebih variasi dibanding winter coat.

2. Bawa gear
Mau lebih niat lagi? Bawa seperangkat kamera mumpuni. Nilai lebih kalau sewa fotografer. Menurutku sih hal wajar apabila ada budgetnya. Toh liburan belum tentu berkali-kali. 

3. Siapin pose
Terutama yang merasa nggak fotogenik *aku. Lagi-lagi banyak banget inspirasinya di medsos. Eksplor aja yang sekiranya kita suka.

Well well, paling penting sih liat jadwal dan update kapan serta dimana cherry blossom masih mekar. Terhitung di minggu ketiga April (12-18) sudah banyak yang berubah menjadi hijau. Iya, pohon cherry blossom itu ketika bunganya sudah berguguran akan digantikan dedaunan berwarna hijau. Hilang sudah merah muda merona. Suasananya menjadi summer alias musim panas.

Bonus: foto random di jalanan sekitar Yonsei-Ewha 




Semogaaa para warga negara tropis bisa dikasih rezeki untuk merasakan spring di belahan bumi lainnya~
Selamat datang di bulan April! 


Bulan dimana jalanan Korea diisi dengan warna warni bunga. Awas, jangan menyebut dengan Sakura. Katanya warga lokal sedikit sensitif dengan penyebutan ini. Sebutlah dalam bahasa Inggris cherry blossom atau Beotkkot (벚꽃) di bahasa Korea. Ah, jadi paham sekarang ternyata awal lirik I Promise You-nya Wanna One itu dimulai dari 벚꽃.

"벚꽃이 떨어지던 날.."
Hari dimana cherry blossom turun..
Waw sangat romantis. Oke hentikan kerandoman ini.

Musim yang sejauh ini menjadi favoritku. Meski ekspektasi suhu menghangat, nyatanya masih dingin. Nggak papa. Tetep cantik!

Kegiatan hunting spot cherry blossom menjadi hal yang sangat menyenangkan. Keuntungan tinggal di daerah Sinchon adalah: BRO CHERRY BLOSSOMNYA BANYAK DAN CANTIK! 



Sungguh estetik. Bisa banget kalo ga mau effort cari ke daerah lain. Ah, bersyukurnya~

Banyak daerah di Korea menyelenggarakan festival. Kata dosenku, Korea tuh surganya festival. Ada Seoul Winter Festival di musim dingin. Ice Festival. Cherry Blossom Festival. Pokoknya tiap musim ada. Andai di Korea ada duren juga ada Festival Duren Korea dah. 

Cherry Blossom kali ini bisa dibilang lebih cepat. Prediksi akan mekar penuh (full bloom) minggu kedua April, kondisinya justru banyak sudah rontok kena hujan dan angin. Kalau ada yang mau liburan ke Korea demi cherry blossom, sering-sering cek postingan di medsos deh untuk updatenya!

Nah kali ini aku share beberapa spot yang berhasil aku kunjungi beserta tanggal datengnya.

Seoul Dream Forest (https://naver.me/xrSQIL5v) - 29 Maret 2026


Langitnya emang butek kena polusi (fine dust)

Awal musim semi banget. Cherry Blossoms (벚꽃) belum banyak mekar. Masih berupa kuncup. Yang udah muncul Forsythia (개나리) berwarna kuning. Kesimpulan: kecepetan. 


Enaknya disini wilayahnya LUAS BANGET. Ada danau ditengah dan kafe sekelilingnya. Pohon pinus juga banyak. Enak buat piknik, bawa tikar dan jajanan untuk dicemilin bersama. Saat kami dateng di akhir pekan, banyak keluarga atau pasangan menghabiskan waktu bersama.



Ada yang main bubble, baca buku, foto, ngobrol atau sekadar tiduran aja. Free entrance. Treknya agak naik turun. Satu hal yang aku perhatikan: bunganya ada beberapa baru ditanam. BARU TAUUU. Ya gapapa sih kalo negaranya mampu mah. Xixi.

Seokchon Lake (https://naver.me/FlZnzC6P) - 5 April 2026



Kalau sebelumnya kecepetan, ini udah agak telat. Cherry blossom yang ada di pohon nggak sepenuh di awal. Lokasi ini hampir selalu ada di rekomendasi video hunting cherry blossom. Jujur sampai di titik aku muak. EMANG SEBAGUS ITU? Ternyata IYA *mohon maap nih.

Bayangin aja danau lumayan gede, sekelilingnya tuh PINK SEMUA. Lalu ditengah ada Lotte World dengan bangunan ala istananya. Plis udah kaya di negeri dongeng. Itu baru di pagi/siang hari.



Pas malem? Pemerintahnya niat dengan nambahin lampion. Makin cantik! Minusnya ya banyak orang aja sih. Literally. Malah katanya yang di malem itu sampai nggak bisa jalan saking nempelnya. Ya gimana ya namanya juga tempat bagus.

Dateng pagi kayak kami? Langitnya masih abu. Hahaha. Choose your fighter ajalah. Yang pasti worth the hype disini asalkan bisa ambil foto yang bagus :) Good thing meski rame para pengunjungnya tuh sopan. Mau ambil foto ya ngantri. Ga asal serobot. Nice!

Random Road - 5 April 2026



Awalnya...mau ke Daechorim? Daecharim? Apalah itu ke arah Seoul National University. Tapi ga nemu arah benernya. Yaudah akhirnya ngasal aja ambil foto daerah Sillim. Foreignernya cuma kami. Disapa sama haraboji pake bahasa Inggris, "You like cherry blossom?" - sambil senyum. Aih, gini aja seneng :)) mungkin kami terlihat terlalu excited. LOL.

Seoul Grand Park (https://naver.me/G2Ew30d2) - 6 April 2026



Penyesalan disini adalah ngga pake outfit cantik. LOL. Tempat ini ada wahana serta kebun binatang untuk dikunjungi. Areanya? Yaa luas pake banget. Bayangin aja Taman Safari. Nah, kayak gitu. Meski namanya Seoul, letaknya udah di Gamcheon. Agak sedikit melipir.

Salah satu spot favorit yang aku kunjungi. BANYAK BANGET cherry blossom masih mekar sempurna. Sekalian silaturahmi sama hewan-hewan yang ada. Baru di jalanan menuju tempat aja udah ada forsythia dengan warna mencolok. 


Lanjut di parkiran berjajar cherry blossom kanan kiri. Untuk masuk kami memutuskan naik cable car. Bisa sekali jalan, bolak balik, atau seharian. Kami pilih sekali jalan seharga 9000 won. Ditemani gerimis manja dan angin kami menahan dingin naik cable carnya. 

Agak ngeri karena ga ada sabuk pengaman. Hanya pengait gede aja sebadan-badan. Mana jalannya tuh lambaaat. Makin ngeri. Lol. 


Lucunya disini kami ketemu sama orang Indonesia. Saling menyapa :)) asli dah musim semi ini buanyak banget orang Indonesia yang ke Korea. Ditambah lagi ada konser BTS, Seventeen dan EXO. Di tempat wisata, di subway, resto, isinya orang Indonesia :))

Disini ada cerita lucu ketemu sama haraboji fotografer. Turun dari cable car, kami beli tiket kebun binatang seharga 5000 won (ini MURAH BANGET). Cek sekitar bentar, "Wah ada jalanan penuh dengan cherry blossom!" . Harus foto dong?


Di sisi pengkolan jalan ada dua haraboji dengan tripodnya. Kami kepo sudut pandang mereka ambil foto kayak gimana. YA SKSD? Taunya ditawarin difotoin pake handphone kami. Sebagai tanda terima kasih, aku kasih jajan Indonesia. Eh, ditawain jadi modelnya. Difoto pake kamera profesional. Gemes banget dengan bahasa seadanya kami berkomunikasi satu sama lain.

Bertukar instagram, email, sampe cerita udah foto kemana aja. Hasil jepretan mereka bagusnya tuh bagus banget T_T 

Kami iseng lah tanya udah pernah ke Indonesia? Udah. Kemana? Sumba! Please aku aja belum pernah. Huft. Sedih. Then I asked, 
"What's the best country you visited?"
"Iceland"
OMG kapan yah bisa kesana. Yuk bisa yuk dengan paspor Indonesia ini :')


Intinya kami senang bisa dapet foto cherry blossom cantik. Bisa kenalan sama warlok ramah. Meski hujan badai langit kurang cerah gapapa. We really enjoyed our precious time here <3

***

Baru 4 spot kok udah panjang? Lanjut ke postingan berikutnya ya!