Mengawali tahun dengan ceklis wish list tahun lalu: Perpustakaan Nasional. Nama aslinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, deng.

Pengalaman Berkunjung ke Perpusnas di Masa Pandemi

Been eyeing this place for longgg ago. Namanya pembaca buku yee pastilah mainnya ga jauh-jauh dari buku. Berhubung masih status pandemi nih, aku cari info terbaru dulu persyaratan kunjungan apa. Ternyata cukup pindai QR di aplikasi Peduli Lindungi. Pengunjungnya dibatasin 2000/hari.

Nah, bagi yang pertama kali kesini kayak aku semoga postingan ini bisa membantu ya.

Aku berangkat dari stasiun Cibinong naik KRL. Bisa transit di Manggarai, tapi aku pilih transit Stasiun Depok. Suka penuh Manggarai tuh. Dari situ pilih KRL arah Jakarta Kota. Turunnya di Gondangdia. Nggak ada yang turun Gambir soalnya. Baru deh lanjut angkutan lain. Ongkos naik KRL Rp5.000 aja. Selanjutnya berhubung kami bertiga, jadilah naik gocar. Ongkosnya Rp23.000.

Aku nggak sempet ((ngecekin)) satu persatu lantainya. Jadi Perpusnas ini ada 2 gedung. Gedung paling depan lobi dan ruang pameran. Nggak bisa dibilang museum juga ya karena koleksi yang dipajang hanya 2 ruang dan 1 area terbuka.

Ruang Pameran Perpusnas

Disini bisalah untuk pepotoan ala-ala. Heheh. Ada display informasi tentang tulisan-tulisan di masa lalu dan balok futuristik gitu isinya rangkaian tablet. Menarik buatku mendapat informasi tentang aksara disini.

Auto nyanyi Panji Diponegoro~~ ga sih


Selanjutnya masuk lebih dalam ada gedung kedua. Di gedung inilah inti dari Perpusnas yang terdiri dari 24 lantai.

Gedung Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Mantep banget emang ya. Kapan kantorku kayak begini? *ngarep dulu.

Pertama masuk, minta kunci loker dan tas kepada petugas yang ada di sisi kanan. Wajib, ya. Kalo rombongan harus 1 orang 1 loker nggak? Tergantung barang bawaan. Misal dianggap muat aja tuh seloker buat rombongan ya boleh. Barang bawaan banyak? Ya lokernya bisa masing-masing. Sesuaikan aja.

Selanjutnya naik ke lantai 2, yaitu area pendaftaran kartu anggota. Nah disini ada alternatif biar nggak nunggu lama berhubung kuotanya dibatasi 200 orang/hari. Ada 4 counter tapi waktu aku berkunjung hanya dibuka 2, yaitu counter 2 dan counter 4.

Untuk mempersingkat waktu, sebenarnya bisa daftar duluan dari website perpusnas.go.id. Akan diminta data pribadi seperti NIK, alamat, domisili. Setelah berhasil, akan didapatkan kartu anggota digital. Ada barcode-nya gitu. Ini yang aku lakukan sehari sebelum ke Perpusnas.

Nah karena aku udah melakukan pendaftaran sebelumnya, aku ambil antrian untuk foto dan cetak kartu aja. Lumayan sih ngantrinya 30 menitan ada kali, ya. Ga perlu khawatir, ruang tunggunya nyaman kok. Sofanya empuk :P

Sambil menunggu, kamu bisa cek koleksinya di komputer yang tersedia. Aku sempet cek sih koleksinya nggak terlalu update ya. Aku cari bukunya Haemin Sunim cuma ada 1 versi terjemahan. Trus Rapijali belum ada. Hahaha. Teteuup ke fiksi.

Untuk kamu yang belum melakukan pendaftaran, bisa daftar juga di komputer yang disediakan.

Kartu anggota ini wajib dibawa untuk pinjam buku, ya. Sayang aku ga minjem jadi kurang tau durasi pinjam dan caranya gimana. Hehe. Oh ya saat ambil foto ini masker harus dibuka. Hmm agak riskan ya dimasa pandemi gini, mungkinkah Perpusnas akan menemukan cara lain?

Selesai dapet karu anggota, aku langsung cobain ke lantai 24. Dimana Monas itu keliatan sejelas-jelasnya dari sini. Spot favorit nih untuk selfie. Puas selfie, bisa juga nih baca atau kerja didalamnya. Disediakan sofa yang cozy abizzzz. Macem coworking space gitu loh. Posisi Perpusnas ini strategis banget buat ngelihat kehidupan di Jakarta *ahzek.


Buku-buku koleksi ada di lantai lain. Yang sempet kami kunjungi di lantai 19. Random sih pilih bukunya karena emang nggak niat mencari buku tertentu. Maklum first visit, lebih ke mempelajari ((medan perang)) dulu.

Fasilitas lain yang krusial: mushola di lantai 6 dan kantin di lantai 4. Apa sebaliknya, ya? Hahaha. Jangan takut nyasar sih. Di tiap lift nya selalu ada keterangan lantai. Musholanya representatif dengan tempat wudhu didalam dan terpisah. Untuk makanan di kantinnya terbatas. Yang aku liat macem geprek, soto, gitu. Harganya hmm lumayan ya geprek dibanderol Rp18.000. Aku pesen soto daging Rp35.000. Dengan rasa yang yaa pas-pasan. Hahaha.

Yak demikianlah kunjungan singkat ke Perpusnas. Harus balik lagi untuk eksplor lebih. Eh, mau eksplor ke perpustakaan lain juga sih. Ada rekomendasi? :D
Alhamdulillah... Alhamdulillah. Mau ngucapin rasa syukur berapa kalipun masih belum sebanding dengan nikmat yang Allah kasih di tahun ini. 2021 bisa dibilang tahun dimana zona nyamanku diusik dengan sengaja.
 
2021 Wrap Up

Baca: Dari Solo ke Bogor: Mutasi!

Siapa yang sangka bakal pindahan ditengah pandemi? Ke suatu daerah yang benar-benar baru. Nggak kenal seorang pun. Kultur berbeda. Apakah ini jawaban atas pertanyaanku tentang nyaman yang meresahkan?


Respons atas keluar dari zona nyaman: MLYT. HAHAH. Di 3 bulan awal tuh entah berapa kali nangis dan meratapi nasib. Merasa nggak adil, terbuang, dll. Adaptasi di lingkungan baru pun nggak mudah. Di tempat kos lumayan bisa berbaur. Di tempat kerja? Duh sampai tahun berganti pun rasanya kayak meniti tali rafia :') saking hati-hatinya. I feel totally different energy here. Like, everything I did will be monitored. 

Even so, I got manyyyyyyyyyyyyyy new experience which humbles me. Ketemu semakin banyak orang, mendapat banyak ilmu, semakin sadar cuma butiran debu yang akan kembali ke tanah.

Bismillah 2022 penempatan Semarang

Momen liburan dadakan

Silaturahmi satu instansi sesama generasi muda ayeye

Dalam perjalanan yang nggak mudah itu masih ditambah berpisah dengan teman baik. Udah mulai keliatan renggangnya hubungan kami. Tapi balik lagi yang namanya hidup. Nothing lasts forever. Ada baiknya tetep berusaha menjaga hubungan, namun mengikhlaskan jika memang takdirnya harus terpisahkan *ACIYAT.

Sekarang sih udah bisa dengan mudah mengingat momen yang bikin seneng. Pas ngejalaninnya macem tekanan batin hebat. Hahaha.

Best moment(s) of 2021 aja deh biar teringat bahwa Allah nggak pernah meninggalkan aku.

1) Mendapat buddy read


Such a blessing! Ketemunya dari internet pula. Typical me, eh? Jadi berbagi bacaan dan sudut pandang. Seru! Apalagi di tahun ini bisa menuntaskan 100+ buku untuk dibaca. Sungguhhhh pencapaianku.

2) Traveling with bestie


Nggak akan terlupakan. Seseneng itu mampu buat mengatur perjalanan liburan sama temen sendiri. Lancar tanpa ada rasa mangkel di hati. Puas karena udah mengatur ekspektasi. Nggak saling memaksakan mau kemana. 

Sampe bisa bikin beberapa postingan :P dan terpenting nggak ngutang. Malah ketagihan pengen traveling lagi. Akhirnya bisa paham experience is the best teacher ceunah.

3) Ngajak jalan-jalan keluarga

Halo Kebun Raya Bogor

Akhir tahun ini emak dan adik-adik ke Depok. Emang sih bukan ke Bogor. Awalnya mau mampir kos tapi kularang. Remponkk shay. Ada kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri bisa ngebayarin cost kesana kemari. Semacam menunjukkan bahwa aku berhasil mandiri nih. Meski terperangkap dirumah 20+ alias menjadi anak rumahan.


Dari sini aku sadar bahwa momen kumpul keluarga tuh berharga banget, ya. Goal kalo dikasih kesempatan buat berkeluarga, punya bonding yang kuat dibandingkan kondisi keluargaku saat ini :')

4) Boght some gadget(s)


Alhamdulillah, lagi. Hasil dari nggak boros amat dan kenaikan penghasilan ternyata bisa berujung beli gadget pake uang kerja lembur bagai kuda. Gadget pertama yang kubeli adalah e-reader. Best buy this year tidak akan pernah kusesali. Kecuali keinginan update ke e-reader berwarna. LOL. Jelas keinginan cenah bukan kebutuhan.


Gadget kedua yang kubeli diluar perencanaan: iPhone 12! HAHA :)) niatnya emang buat ngonten sih. Doakan yaa insyaAllah mau ngonten yang bermanfaat dengan support gadget baru ini. Selalu mengingatkan diri sendiri harta akan dihisab jadi digunakan sebaik mungkin.

5) Memulai booktuber


Nah ini ada kaitannya dengan pembelian gadget. Sudah ada 3 video tentang buku yang aku unggah di kanal Youtube. Bangga bisa ngerjain semuanya sendiri meskipun ngos-ngosan juga. Membuat video youtube udah aku pikirkan masak-masak. Nggak mau menghamburkan waktu orang yang nonton dengan percuma dong. Harus tetep ada benefit bagi penonton.


***

But the biggest blessing tentunya tetep hidup dan sehat. Beberapa kali berinteraksi dengan mereka yang positif Covid-19. Dari temen kos sampai temen kerja. Kirain pergantian tahun bisa agak bernafas lega. Ternyata masih ada varian baru. Ya sudahlah, belajar legowo lagi kan.

2022 mau apa? Nanti ya di postingan selanjutnya :D intinya dari tahun 2021 ini banyak belajar untuk menjadi pribadi yang lebih nerima dengan takdir. Fokus ke pengembangan diri dan nggak perlu membandingkan dengan orang lain. Apalagi ya di era medsos apa-apa dikontenin. Wah, kalo nggak punya tameng yang baik mungkin auto merasa manusia paling gagal.

Di tahun 2022 ada beberapa perencanaan. I still think planning is better than let it flow. Nggak papa ada belokan sana sini. Yang penting tau kemana arahnya. Lagi pula dengan berencana, bisa berdoa ke Allah supaya dikabulkan. Ada bensin juga untuk berikhtiar mendapatkannya.

So, how's your 2021?
This is the highlight during my trip to Bandung. Glamping. Merupakan kepanjangan dari glamorous + camping. Artinya "berkemah" dengan mevvah *ngarang dhewe. Intinya versi upgrade dari camping, gitu.

Pengalaman Glamping di Bobocabin Ranca Upas

Disclaimer: review-nya acakadut becauseee belom pernah review penginapan macam gini.

Rencana awal kami hanya camping aja. Seperti yang aku ceritakan di postingan sebelumnya. Tujuan awal kami adalah igloo camp yang berada di komplek Ranca Upas. Udah kontak narahubung tuh melalui Whatsapp. Ternyata di tanggal yang dipilih udah penuh semua. Agak heran kok bisa. Padahal kedatangan kami itu di hari kerja alias weekday.

Igloo Camp Ranca Upas

Lalu, apakah yang harus kami lakukan? Tidur di tenda? Oh tentu saja tidak mau hahaha. Sebagai sesama pemula, nggak mau ambil resiko deh. Akhirnya si partner menemukan Bobocabin.

Buat yang baru pertama dengar apa itu Bobocabin, udah pernah denger Bobobox? Beberapa waktu lalu sempat gencar dipromosikan. Konsep hotel kapsul dengan budget minimal untuk traveler. Nah ini masih 1 grup dengan Bobobox. Bedanya dari nama udah keliatan ya. Box itu kotak. Cabin itu menurut oxford dictionary lebih ke "enlarge imagea small house or shelter, usually made of wood".

Bobocabin adalah sebuah jalan keluar yang tepat dari hiruk-pikuk dan keramaian kota. Kombinasi dari ketenangan alam yang dibalut dengan sentuhan teknologi membuat pengalaman menginap anda menjadi tidak terlupakan. Dengan menyediakan aktivitas petualangan yang menarik sekaligus mendukung pemberdayaan masyarakat lokal, Bobocabin siap menjadi bagian dari gaya hidup baru anda.

Spending time in cabin is one of hygge activity menurut Meik Wiking didalam bukunya. Pas banget aku sebelum glamping baca buku ini jadi berekspektasi :P

Bobocabin udah tersedia di beberapa tempat selain Ranca Upas, yaitu Cikole dan Kaldera (daerah Danau Toba). Kalo nggak salah untuk di Ranca Upas ini baru beroperasi Desember 2020. Belum ada setahun, tergolong baru lah ya.

Untuk pesan di Bobocabin bisa melalui 2 cara. Pertama lewat Traveloka. Kedua lewat aplikasi Bobobox. Kami pesan lewat Bobobox dan mendapat cashback Rp25.000 pembayaran melalui Shopee Pay. Lumayan buat jajan :P

Harga yang dibayarkan belum termasuk parkir dan tiket masuk Ranca Upas, ya! Selengkapnya bisa cek di website ternyata informasinya cukup memadai. 

Letak Bobocabin ini berada di komplek Ranca Upas milik Perhutani. 

Ranca Upas

Warga Bandung sekitarnya udah familiar pasti dengan Ranca Upas. Terbukti, bulan ini aja beberapa temen udah update di wilayah Rancaupas Ciwidey untuk liburan. Terkenalnya dengan penangkaran rusa. Perjalanan dari kota Bandung makan waktu 1,5-2 jam tergantung cuaca dan kemacetan.

Ada 2 tipe kabin yang ditawarkan: Standar dan Deluxe. Kami ambil Standar karena...yang murah. Hahaha. Cuma pindah tempat tidur ini kan.

Kami sampai di Bobocabin sebelum jam 1 siang. Letak Bobocabin ini persis setelah pos tiket ke-3 Ranca Upas ya. Langsung keliatan begitu bayar tiketnya, di sisi kiri. Itu ada kabin resepsionis. Kami diterima oleh mas-mas resepsionis. Keliatannya memang sengaja hire kawula muda.

Resepsionis Bobocabin Ranca Upas

Jam check-in adalah 14.00 WIB. Yaudah kami muterin Ranca Upas dulu sambil nunggu ruangan dibersihkan. Sambil memperhatikan sekeliling, masih ada pembangunan beberapa kabin di sekitarnya.


Danau Sekitar Bobocabin
Kayaknya bukan danau, deh... Kabinnya dibalik pepohonan itu

Jadi konsep Bobocabin disini mengelilingi danau? Aku nggak yakin itu ditengah apa sih. Agak kurang meyakinkan, airnya hijau dan keliatan nggak terawat. Hahaha. Tersedia 2 toilet. 1 di sisi kanan dan 1 di sisi kiri.

Toilet di sisi kanan terbagi jadi toilet laki dan perempuan. Nah di bagian perempuan ada lagi 1 untuk mandi dan 1 untuk buang air aja. Sedangkan di toilet sisi kiri ada 1 untuk mandi dan 2 buang air.

Ini toilet buat mandi. Isinya shower doang

Yang ini bisa untuk buang air (kecil maupun besar)

14.00 kami masuk ke kabin. Yeayyy! Finally. Keunggulan Bobocabin ini semua diakses melalui aplikasi. Termasuk masuk ke kabin dan toilet, disediakan QR untuk scan. Tenang, nggak semua harus punya aplikasi kok. Aku dikasih screenshot QR-nya aja dan bisa tetep buka. HOHO.

Bagaimana first impression kami terhadap Bobocabin?

HUWAAAA. Mantap. Ada untungnya ga baca review dulu belum kesini. Jadi nggak kebayang macem apa. Kabin ini 2/3 nya udah dipenuhi kasur. Untuk naruh barang bisa dibawah. Ada 1 meja nakas berisi nampan kayu, 2 cangkir, pemanas air, 2 handuk dan 2 botol minum ukuran 600 ml. Ada cermin bunder desain kekinian. Tidak lupaa gantungan baju.



Di tipe Standar yang kami pesan ini jendela yang bisa dibuka ada di sisi kasur. Selain itu nggak ada sumber ventilasi lain. Untuk orang yang takut ruang sempit, menurutku masih bisa dihandle ya. Gak kayak bobobox (walaupun belom pernah coba sih).

Best part of glamping: listrik dan wifi ada. Di aplikasi selain QR, ada menu untuk blur-unblurred jendela, gonta ganti warna lampu dan nyambungin ke bluetooth speaker yang disebut dengan bobopod.

Panel ini juga tersedia didalam kabin. Gimana, udah keliatan glamorous bin luxury belom? 

Touch screen ya ini. Bisa kontrol warna lampu, connect bluetooth, dll. Bisa pake aplikasinya juga


The colokan

Kekhawatiranku disini cuma 1: toiletnya jauh bookkk! Makluk toilet bersama. Udah pesen ke partner ntar kalo tengah malem mau pipis minta anter, ya! Wkwkwkwk.

Di toilet tersedia wastafel, sabun, sampo, tissu, tempat duduk menyatu dengan tak barang, dan hair dryer. Ukuran toilet tergolong kecil. Palingan didalem cuma bisa muat 3-5 orang. Itupun udah desak-desakan. 

Lalu, apakah semua berjalan lancar?

OHOOO tentu tidak semudah itu Maemunah. First problem: QR pintu masuk ga kebaca. Solusi: direstart sistem sama masnya. Hasil: nggak bisa. Akhirnya pake kunci manual :) byebye kemevvahan.

Second problem: jendela ga bisa di unblurred. Yahhhh penonton kecewa berat. Ngapain dong nginep di bobocabin kalo ga ngerasain teknologinya? 😑

Ga mau rugi laah minta ganti kabin. Kan kami nginep 2 malam tuh. yaudah semalem tetep nempatin kabin problematik ini. 

Kasur ngga ada masalah sih. Selimut ini kuecilll untuk ukuran berdua. Positif thinking aja mungkin emang target pasarnya pasangan honeymoon jadi bisa kruntelan. Kami? Enggalah. Tidur aja saling memunggungi wkwkwk tetep rebutan selimut sih pas tidur.

Malem 1 kami pesen makan di aplikasi bobocabin: beef bulgogi dan nasi. Nah, jangan khawatir kelaparan ya. Disini disediakan menu bervariasi. Tapiii dengan resiko harganya standar tempat wisata lah. MIHIL :P

Beef bulgogi disediakan alat grillnya. Sedangkan nasi dikirim terpisah, katanya sih dari warlok yang diberdayakan. Ngono. Tapi lucu sih nasi dateng duluan, beef nya 30 menit kemudian thank you. Disuruh ngekepin nasi dulu biar kerasa kehangatannya.

Kemudian datanglah itu beef bulgoginya sebanyak 250 gram. Udah dibumbuin. Yaa...lumayan. Nggak zonk toh udah sesuai deskripsi. Kami menikmatinya didepan kabin lain. Berhubung kabin kami nggak punya lahan untuk masak-masak.

***

Paginya kami jalan-jalan dulu ke Kawah Putih. Deket aja bisa jalan kaki ternyataa. Pas jalan keluar ini kami mampir ke resepsionis minta kamar diganti. Bilangnya oke akan diusahakan, kemungkinan baru bisa siang. Apakah kami benar mendapat gantinya?

BENERAN DIGANTI. Berhubung kabin Standarnya habis, kami diganti ke kabin Deluxe. AAAAKKK. Berkah nih. 
"Mas ini nambah charge ga?" - tanyaku si konsumen curigaan
"Enggak kak, kan ini kesalahan kami. Nanti untuk pindah kabin butuh dibantu barang bawaan juga bisa" - mungkin masnya menahan kesabaran ngadepin kami wkwkwk

Lumayan juga si kabin Deluxe ini letaknya naik lagi ke ujung. KARENA APAA??? Akhirnya aku menemukan jawabannya, guys. Kabin Deluxe ini udah ada toiletnya! Ga perlu remponk deh bolak balik toilet nan jauh disana. Pantesaaan pantesan pantesan.

Toilet Bobocabin Deluxe
Begitu pintu dibuka, voila! Toilet

Oke, apa aja perbedaan kabin Deluxe dan Standar selain toilet?

1. Ukuran. Ofkors lah Deluxe ini lebih geday. Bisa dilihat dari depan, si Standar ini cuma cukup buat naruh 2 kursi lipat. Sedangkan si Deluxe ada kursi dan meja kayunya buat grill di depan kabin nggak masalah.

Pintu masuk


2. Desain. Kasur si Deluxe posisi dipannya ini lebih tinggi daripada di kabin Standar. Konsekuensinya, ruang penyimpanan yang terletak dibawah kasur lebih lega kalo nginep di Deluxe.


3. Jendela Deluxe lebih gedeee! Di bagian atap pun ada sekotak yang terbuat dari kaca? Plastik? Bening. Buat ala-ala memandang langit bisa (yha meskipun ketutupan rimbunnya pohon, sih).



Beda banget emang si Standar dan Deluxe. Kalo punya bujet lebih mending pilih si Deluxe deh. Lebih lega. Minusnya ada bau-bau dari toilet kalo ga bersih wkwk yha gimana cuma sepetak kan palingan mau ga mau ada dampak dari toiletnya.

Toiletnya ini aestetik lho cocoklah buat upload instagram. Lantainya keramik putih. Ada WC duduk, shower air panas dan dingin. Sabun dan shampoo disediakan. Ada tirai penyekat. Cermin bulat dan hair dryer. Udah ga perlu bolak balik ke toilet nan jauh disana. Lampu toiletnya jadi 1 dengan lampu kabin. Alhasil ketika di toilet, lampu diset warna putih biar keliatan. Boleh aja warna lain tapi resiko ga keliatan jelas :))

Tambahan lainnya di Deluxe: ((colokan)) lebih banyak, tersedia pengusir nyamuk elektrik. Having deluxe cabin doesn't mean problem solved. Kok ya tetep aja ga bisa buka kunci pake QR. Tetep bawa-bawa kunci manual kemanapun thank you. Yang penting jendela bisa blur-unblurred deh!

Mode Blur Bobocabin Deluxe
Mode blur

Mode un-Blur Bobocabin Deluxe
Mode un-blur. Kayak tv kaaan?

Aku cukup perhatian sama bahan dari Bobocabin ini. Mirip particle board dan ada rembesan disana sini. Kemudian ada beberapa titik berjamur putih-putih. Bisa dimaklumi karena letaknya memang di tempat bersuhu rendah. Tapi....nggak enak aja diliat ya. Mungkin bisa mempertimbangkan bahan lain yang lebih kuat terhadap kelembapan sekitar.


Daaann...ini terparah sih makan di malem ke-2. Kami pesen suki. Di bayangan kalian, suki isinya apa aja? Minimal fish ball dan semacamnya, sayur dan jamur enoki gitu ya? Ini cuma fish ball dan kawan-kawan berapa biji doang + bumbu instan WKWKWK yaAllah langsung drop selera makanku. Ini pun suki instan yang dijual di medsos lebih proper isinya monanges sungguh.

Final verdict: glamping disini cocok untuk cari experience baru. Tapi siapkan kesabaran lebih dengan hal nggak terduga, ya :))

Tips:
1. Bawa makanan sendiri 
2. Nginep di musim kemarau. Jangan musim hujan deh serius.
3. Bawa temen banyak! Makin rame glamping makin seru
4. Bawa payung dan jas hujan

Sekian, kalo ada yang mau ditanyain silakan aja ya!
Hari ketiga kami awalii dengan beberes. Saat menunggu gocar di hari sebelumnya, mata kami menangkap objek menarik mata. Bus warna pink! Dengan desain terbuka. Ohoyy langsung aja jadwalkan di hari ketiga!

Inilah the art of traveling. Apapun bisa terjadi tanpa diduga. Bus apakah itu?

Bandung Trip Day 3: Keliling Kota dengan Bandung Tour on Bus (Bandros)

Bus warna-warni ini adalah Bandros atau Bandung Tour on The Bus. Ngga mau kecele, kami mencari informasi melalui Google. Oh God I’m so lucky to live in internet things.

Bandros digagas oleh Kang Emil saat menjabat sebagai Wali Kota Bandung. Tujuannya agar wisatawan bisa mengakses Kota Bandung dengan mudah. Awalnya, desain Bandros ini 2 tingkat kayak bus merah ikonik London itu!

Namun karena beberapa kali tersangkut kabel, akhirnya diubah desainnya menjadi bus umumnya. Hanya saja agar bisa lebih menikmati dibuat terbuka tanpa jendela.

Istilah Bandros digunakan sesuai dengan kearifan lokal. Kabarnya di Sukabumi dan Cimahi ada transportasi semacam ini yang penyebutannya menyesuaikan kekhasan daerah masing-masing. Bandros tersedia dalam beberapa warna dan tiap warna punya rute berbeda. Ada warna pink, biru, hitam, hijau, kuning, dan apalagi lupa. Hehe. Halte Bandros yang utama ada di Alun-alun Bandung. Seberang kantor walikota Bandung. Di FAQ-nya ada sih di Paskal alias dekat hotel kami menginap. Cuma waktu kami konfirmasi lewat akun resmi di instagram, hanya bisa ke alun-alun.

Bandung Tour on Bus - Biru

Oke deh. Sekitar 7.30 kami menuju alun-alun. Niatnya sekalian sarapan. Bayanganku tuh alun-alun bakal rame kapan aja seperti halnya malem minggu. Eh salah besar. Cuma ada beberapa pedagang asongan.

Lalu, sarapan apa dong?

Mata elang ini menemukan Tahu Kupat. Bener ga ya tahu kupat? Ingetnya ada kupatnya haha. Ga punya pilihan lain, ya kami pesen 2 porsi seharga Rp30.000. Harga segitu udah dapet teh anget tawar.

Sarapan Tahu Kupat

Sambil makan kami tetep ngecek, busnya udah dateng belom ya? Sekitar jam 8 lebih bus itu baru dateng. Warna apa? BIRU! Di informasi sebelumnya, rute biru itu berakhir di Cihampelas. Oke, mikirnya nanti sekalian beli oleh-oleh deh di Cihampelas. Realitanya? Baca seterusnya biar kejawab :P

Kami naik busnya setelah makan. Dikira langsung jalan. Eh harus nunggu penuh dulu. Lumayan lama tuh adalah 30-45 menit huhu wasting time :( disabar-sabarin deh, anti ngeluh traveling mah ga nikmat hahaha. Saking gabutnya kami ngitungin jumlah angkot warna merah dan biru yang lewat. Tiap menit ada. 

Harga Tiket Bandros 2021

Hampir jam 9 bus baru jalan. Untuk harga tiket Rp20.000 per orang, ya. Bayarnya langsung ditempat tanpa perlu pesen. Let’s enjoy Banduung!

Seneng banget di hati tuh ngeliat orang lain kerja eh sini pelesiran :P Bandros kami dipandu oleh seorang tour guide. Lupa ga nanya namanya, teteh-teteh lumayan berumur gitu deh.

And surprise surprise, penjelasannya menyenangkan sekali. Nggak terkesan text book dan update informasinya! Rute kami dimulai dari Alun-alun, Asia Afrika, Braga, Dago, Gasibu, Gedung Sate. Mon maap ya berdasarkan ingatan aja. 
Beberapa spot yang ditunjukkan:

1) 1 sel penjara yang dipertahankan, tempat dimana Bung Karno dihukum oleh Belanda. Kabarnya penahanan ini sampai masuk berita internasional pada masanya karena Bung Karno nggak dibekali pengacara.

Sel Bung Karno

Untuk menyelamatkan dirinya, istrinya yaitu ibu Inggit yang membawakan buku-buku hukum setiap berkunjung. Alhasil Bung Karno dapat membela dirinya. Nggak jauh dari situ juga masih ada sisa menara pandang yang….nggak keliatan sih kalo sekilas liat. Seperti bangunan nggak terawat soalnya.

2) Tugu Sister City. Jadi ada beberapa kota yang menjadi sister city dengan Bandung, salah satunya Daegu di Korea Selatan.

It’s so fun listening to her explanation. Banyak bangunan peninggalan Belanda yang cukup terawat. Termasuk restoran Perancis dan Rumah Kentang. Silakan cari tentang Rumah Kentang ini ya, mistis :P

Beberapa kali teteh tour guide menyebutkan peranan kang Emil disaat beliau menjabat sebagai wali kota. Selain pencanangan Bandros, Sister City, lalu ada Bandung 7 Fun Day. Dimana hari-hari di Bandung itu Senin-Minggu diisi kegiatan fun. Misal, hari menggunakan Bahasa Sunda dll.

Dalam hatiku saluttt. Kang Emil nggak hanya publisitas di media sosial aja yang bagus. Ternyata hasil kerjanya ada dan warganya pun merasakan dampak bagusnya. Mungkin kalo semua pemimpin di Indonesia punya kualitas minimal setara kang Emil, bisa maju yah dengan kearifan lokal masing-masing. Pertanyaannya, kapan?

Rute kami mencapai Musem Geologi. Di Museum Geologi ini, si teteh pun memberikan informasi bahwa Belanda sudah menyetujui untuk mengembalikan kembali artefak milik Indonesia yang disimpan di Universitas Leiden. Kalau aja si teteh nggak memperbarui informasinya, dia nggak akan cerita ini. Dan akupun dengar juga berita ini sehingga cukup saluttt sama tetehnya.

Bandros kami berhenti selama 15 menit di seberang museum geologi. Kesempatan ini aku manfaatin buat…..ke toilet. Hehe. Bandung dingin shay. Toilet berada di Taman Lansia.

Taman Lansia Bandung

Nah ini juga salah satu keunggulan Bandung: punya banyak taman! Ada taman lalu lintas, taman lansia, taman radio (?) dan masih banyaaak lainnya. Pemerintahnya udah paham keterbutuhan akan ruang hijau dan mau memfasilitasi. I hope other city follows too!

Tentu penjelasannya nggak cuma yang aku tulis aja ya. Ini berdasarkan ingatan aja hahaha. Aslinya cukup panjang, lha hampir 1 jam keliling itu teteh ngomong mulu :P

Perhentian akhir kami berada di titik sama dengan pemberangkatan: Alun-alun Kota Bandung. Sampai sini udah ada beberapa Bandros lain yang parkir. Sepulang keliling Bandung, kami meluncur ke Kartika Sari untuk membeli oleh-oleh.

Nggak ngeh ini deket banget sama hotel, jalan kaki aja BISA :)) hari Senin tetep rameee. Bandung hidup sekali ya pemirsa.

Pukul 11.00 kami pesen grab ke Rancaupas. YEAYYY let the glamping experience begin!