Bulan Mei banyak liburnya ya! Seneng dong tandanya bisa baca buku lebih banyak. Apakah betul seperti itu? Mari menghitung bersama buku apa yang selesai dibaca.

Buku yang Selesai Dibaca di Mei 2021 + Book Mails

1. Pelik - Ary Nilandari


Rekomendasi netijen litbase. Direkomendasikan karena seru dan enak dibaca. Aku setuju. Cerita struggle-nya penderita prosopagnosia ketika jatuh cinta. Disaat yang sama sahabatnya jatuh cinta dengan perempuan yang sama. Kisah cinta segitiga anak sekolah. Gemes banget!

Oh ya prosopagnosia ini beneran ada lho di dunia nyata. Salah satunya pemeran Moon Sang Tae (kakaknya Kim Soo Hyun di drakor It's Okay to Not Be Okay). 

2. Di Simpang Jalan - Titi Sanaria


Entah kenapa aku merasa udah pernah baca ini :)) Rhe "terjebak" dalam pernikahan yang nggak pernah dia inginkan. Pasangannya adalah Dody. Anak baik yang selalu menuruti ibunya. Konfliknya adalah Dody masih cling into his past. Rhe yang mulai jatuh cinta pada Dody nggak bisa menerimanya. Rumah tangga mereka pun diujung tanduk.

Key message (halah) novel ini: komunikasi itu penting. Terbukalah sama pasangan. Kalo enggak, ya gimana caranya menjalani rumah tanggga? Apalagi dengan orang baru yang belum pernah bersinggungan sama sekali sebelumnya.

3. A untuk Amanda - Annisa Ihsani 


Another litbase recommendation. Sepertinya ini udah difilmkan ya? Aku nggak nyangka sih emang sebagus itu. Sebuah penggambaran depresi yang nggak kayak depresi. Lha penderitanya aja bingung apa yang terjadi sama dia. Sampe si Amanda ini konsultasi pun tetep masih ada rasa denial. Cukup menjelaskan bagaimana depresi bisa menyerang semua orang. Meskipun dimata orang lain, Amanda ini sempurna. Jadi tahu tentang Impostor Syndrome. Nicely written.

4. Cinta Untuk Perempuan yang Tidak Sempurna - Najelaa Shihab


Kumpulan tulisan Mbak Ela *yak mulai sok ikrib* tentang perempuan. Kebanyakan yaa...menyentuh hati :"))

5. Drama - Juna Bei


Ini rekomendasi litbase juga. HAHAHA. Ini vibesnya drakor banget. Masih seputar cinta masa remaja yang gemesss. Gak sukanya disini si author jelek-jelekin Lee Jong Suk! *mutung* LOL

6. 7 Kebiasaan Orang yang Nyebelin Banget - Henry Manampiring


Familiar dengan judulnya? Yap, Om Piring terinspirasi dari 7 Kebiasaan Orang yang Sangat Efektif. Pembahasannya ringan banget. Tentang orang nyebelin yang ada di a) bangku kuliah b) tempat kerja c) jalanan d) tempat umum dan dimana lagi lupa.

Bukunya seperti menyuarakan isi hati netijen. Suka sama idenya. Sederhana tapi jarang ada yang bahas dalam bentuk buku. 

7. Hidup Satu Kali Lagi - Farah Qoonita


Lanjutan dari: Seni Tinggal di Bumi. Kembali menyoroti berbagai isu dari sisi agama. Ngingetin lagi tujuan hidup didunia apa. Lebih berwarna isinya karena diselipkan fiksi. 

Terakhir, banyak tulisan tentang Palestina. Pas dengan berita belakangan ini Palestina kembali diserang :( cocok dibaca waktu iman lagi rendah. Mompa semangat banget ini. 

8. Mara: Diktator, Eksim, dan Cinta yang Nayal-nayal - Wiwien Wintarto


Akhirnya baca series Gemblongers ini. Inget pernah denger kabar launchinfnya. Baru sekarang nemu di iPusnas. Lengkap pula 4 bukunya. Langsung marathon deh. Suka sangat! Huhuhu mainly because its setting located in Semarang. My hometown. My homebase. Where I left my heart at. Heleh. 

Yang ini tentang Mara. Freelancer EO. Cantik. Banyak cowok nempel. Tapi sebenernya siapa yang dia taksir? Diluar dugaan :)) 

Btw aku ngga ngerti nayal-nayal apaan sik? 

9. Alin: Montir, Berondong, dan Teori Kualat - Sophie Maya


Karma does exist. Berlaku untuk Alin. Prinsip hidup ga mau pacaran sama berondong. Musuhan sama sahabatnya yang lebih milih berondong dari dia. Eh ujung-ujungnya pas ada berondong suka, dia klepek-klepek juga. Kocak. 

Berondong: umurnya lebih muda ya gaes. Lazim banget di Semarang. Gatau ditempat lain nyebutnya apa :)) 

10. Diajeng: Camilan, Gembolan, dan Cinta yang Belingsatan - Netty Virgiantini


Beda dari dua series sebelumnya yang perekonomiannya lumayan, kali ini kisah Diajeng struggle banget. Kelling Semarang demi nitipin jualan snack-nya. Kuliah di Universitas Terbuka karena harus ngutamain kerja. 

Eh masih kena musibah bertubi pula. Lewat Diajeng, pembaca diajak keliling Semarang nemenin dia supply snack ke warung-warung. Nostaljik banget bahkan ada Toko Rahmat disebut. Anak Undip pasti tau :P

11. Ninuk: Angkringan, Jangkrik, dan Cinta yang Bergentayangan - Retni S.B.


Seri terakhir yang aku baca. Perjuangannya mirip dengan Diajeng. Bedanya, Nunik jualan di angkringan. Percakapan didalamnya lebih kasar. Tapi justru disitu poin plusnya: Semarang tenanan iki :)) 

Jujur aku senenggg banget baca Gemblongers series ini. Mengobatk rinduku pada Semarang. Eakk. Tiap lokasi atau nama jalan disebut, sambil mengingat-ingat dimana ya itu. Duh jadi kangen tahu gimbal deh *eh gimana. 

***

Buku yang dibeli jujur banyak. Pas banget waktu Gramedia mengadakan sale gede-gedean. Akupun kalap. Mengingat sekarang udah pindah ke Bogor muncul AHA! Pasti ongkirnya lebih murah kan meskipun beli banyak LOL. Hasil dari menahan diri waktu BBW ya beginilah.

1. A World Without Islam - Graham E. Fuller (Rp 31.889)

2. Apa Yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian - Desi Anwar (Rp 59.500)

3. 00:00 - Ardelia Karissa (Rp 15.000)

4. Dari Timur 3 - Alfian Dippahatang (Rp 15.000)

5. Tentang Desir - Gladhys Elliona (Rp 18.000)

6. Di Kala Pagi - Reni Nuryanti (Rp 16.500)

7. All is Fair in Love and Game - Adhita Purwitasari (Rp 6.500)
 
8. Citylite: Di Simpang Jalan Dody & Rhe - Titi Sanaria (Rp 6.480)

9. Larutan Senja - Ratih Kumala (Rp 5.800)

10. Remedi - Discaria Paladinteri Montera de Manics (Rp 8.000)

WOWOWOW panjang ternyata list-nya. Yok semangat yok melahap semuanya :))
Hola. Long time no see! Sempet mager nih buat nulis postingan rutin. Tapi harus dilawan kan mager tuh. Jadilah ini dia daftar buku yang selesai kubaca di bulan April 2021 beserta buku baru yang aku beli.

Buku yang Selesai Dibaca di April 2021 + Book Mails

1. Cinta Dalam Ikhlas - Bayu Adhitya


Dibeli lamaaa banget jaman diskon gede-gedean di Google Playbook. Cerita fiksi tentang seorang anak laki-laki usia SMA yang mengejar cintanya. Agak dramatis sih gimana perasaan cinta bisa mengubah anak band ke anak Rohis. But again, this is novel jadi yaa bebaslah. 

Bagian favoritku saat si laki-laki ini taaruf. Praktikal banget, sepertinya bisa dicontek template-nya. LOL.

2. Cintaku Antara Jakarta dan Kuala Lumpur - Tere Liye


Iseng beli, katanya termasuk buku yang ditulis diawal karir Tere Liye. Dan emang sih cara penulisannya agak berantakan dan banyak pengulangan sehingga muncul kesan membosankan. Tentang sahabat jadi cinta *lah macam lagu yak*. Aku baca cepat karena males hahaha.

3. Hit Refresh - Satya Nadella


Hit Refresh - Satya Nadella

Nggak nyangka lho bisa baca buku ini. Banyak bercerita tentang teknologi. Yaiyalah secara dia kan CEO Microsoft setelah Bill Gates. Pengalamannya menjadi pemimpin raksasa teknologi (otomatis banyak personel) dan gimana dia memimipin, keren sih. Lalu penjelasannya tentang gimana teknologi akan memberikan dampak positif untuk kehidupan. Keliatan orangnya positif banget. Recommended.

4. Other Words for Home - Jasmine Warga


Other Words for Home - Jasmine Warga

Sedih :( cerita anak dan ibunya yang terpaksa migrasi ke Amerika karena negaranya nggak stabil: Suriah. Sedangkan kakak laki-lakinya terlibat dalam pemberontakan melawan militer. Ayahnya yang hanya pedagang biasa memutuskan untuk bertahan sekaligus nemenin kakaknya.

Disini seolah merasakan gimana menjadi imigran. Yang pindah bukan karena kemauannya tapi terpaksa. Kondisi yang nggak memungkinkan. Gimana dia merasa "berbeda" dengan warga yang udah duluan tinggal di Amerika. Rasa berbeda yang nggak nyaman. 

Buku ini sepertinya menyasar usia remaja. Kalimat yang digunakan pendek dan tingkat kesulitan rendah. Malah paragrafnya mirip puisi gitu bukan selayaknya novel. Makanya bisa cepet tamat.

5. Faces & Places: 35 Tokoh & 50 Tempat yang Menginspirasiku - Desi Anwar


Faces & Places: 35 Tokoh & 50 Tempat yang Menginspirasiku - Desi Anwar


Sungguh iri dengan pengalaman mbak Desi Anwar *ikrib*. Iya, bisa keliling banyak tempat. Ketemu tokoh penting termasuk Dalai Lama. Lumayan mengobati kerinduan untuk traveling. Heheh.

6. Rinjani - Nabilla N. Haris


Romance ala remaja yang hmm biasa aja sih. Kurang greget.

7. Heartwarming Chocolate - Prisca Primasari


Aaakkk ini! Feels-nya kena! Tentang perempuan yang addict dengan cokelat suatu kedai. Lalu kedainya tutup. Karena itu dia bertemu dengan laki-laki yang juga menggemari cokelat tersebut. Akhirnya mereka berdua dateng langsung ke owner-nya meminta penjelasan kenapa tutup.

Cerita berlanjut dengan mereka berdua dikasih misi untuk bikin cokelat semirip mungkin dengan punya kedai. Seru jadi ngerti jenis-jenis cokelat. Dikasih resep cokelat pula. Sambil ngiler baca ini. Hahaha. 

***

Untuk buku yang aku beli di bulan April ternyata berupa buku elektronik. Iya, aku jadi rajin ngintip Deals di Google Playbook. Nyaman banget baca di aplikasi tersebut dibandingkan iPusnas atau iJakarta. Karena formatnya kebanyakan epub, pilihan font bisa disesuaikan. Sedangkan di aplikasi iPusnas harus zoom in zoom out. Agak kurang nyaman.

Nah, apa sajakah buku yang aku beli?

1. The Alchemy of Happiness - Abu Hamid Al-Ghazali (Rp 3.986)

2. The Body - Bill Bryson (Rp 33.205)

3. Home Fire - Kamila Shamsie (Rp 33.205)

4. When Breath Becomes Air - Paul Kalanithi (Rp 45.116)

5. Other Words for Home - Jasmine Warga (Rp 71.800)

6. The Book of Joy - Dalai Lama XIV (Rp 33.205)

7. Hidup Satu Kali Lagi - Farah Qoonita 

8. Nyala Semesta - Farah Qoonita (bundling sama diatas jadi Rp 128.000)

Buku diatas dibeli karena 1) diskon 2) rating di Goodreads lumayan. Kecuali buku Teh Qoonit beli karena murni penasaran. Fix aku ngefans. Ketiga bukunya aku punya semua :))

Dari daftar diatas, baru selesai 2 aja. Lainnya on going. Yep, aku pembaca beberapa buku dalam waktu bersamaan. Adakah buku yang udah dibaca dari yang kusebut diatas? Boleh banget lho berbagi ulasannya di komen! :D
Tempat ini menjadi penutup dari one day trip di Kota Bogor. Sebuah kafe buku hasil kepoin akun twitter Literary Base. Sebuah utas rekomendasi tempat asyik buat baca buku.

Baca: 
Bogor One Day Trip: Kedai Kita

Kabar baiknya, lokasi ngga jauh dari Kedai Kita maupun Kebun Raya Bogor. Nggak keliatan mencolok sih tapi cukup strategis. Lokasinya ada di jejeran ruko gitu. Cukup unik karena ada 2 tempat ternyata. Baru ngeh saat kepoin instagramnya. Kok yang saya datengin kecil, sedangkan yang di instagram keliatan luas? Jadi posisi dia itu ada di ujung kanan dan ujung kiri. Yang ujung kiri lebih luas dan besar.

Bogor One Day Trip: Maraca Books and Coffee

Kesan pertama: kok kecil yha? Emang didepan pintu masuk itu hanya ada beberapa bangku. Nah ternyata disamping masih ada bangku dengan dinding berhiaskan mural.

Mural Maraca Books and Coffee Bogor

Ini saya ambil dari dalam ya. Jadi emang ada ruangan indoor dan outdoor. Saat itu kami pilih indoor karena mau ngadem. Hahaha. Maklum shay motoran kan mayan panas dan gerah. Protokol kesehatan yang diterapkan hanya ada wastafel. Untuk pengukuran temperatur tubuh nggak ada.

Nah, meskipun ada Coffee di namanya, dia menyediakan menu non-kopi juga. Seperti yang saya pesan ini: Earl Grey.

Earl Grey Maraca Books and Coffee

Untuk artisan tea semua disuguhkan dalam keadaan panas. Beda dengan coffee yang bisa pilih panas maupun dingin (iced). Pesanan saya dateng bersama 2 cookies. Harganya Rp25.000 sudah termasuk pajak (sepertinya). Saya cek struk ngga ada tambahan pajak soalnya. Rasanya? Cucok deh paduan cookies dan artisan tea-nya.

Lalu ada buku apa sajakah disini? BANYAK.


Menyenangkan ternyata liat buku-buku ini. Genre-nya lumayan beragam lho. Bahkan ada buku 23 episentrum dari Teh Adenita yang saya suka postingannya di instagram itu. Ada juga buku kedokteran yang segede gaban.


"Kayaknya yang punya mahasiswa kedokteran, deh!" - kata temen saya.

Waktu saya posting di instagram ternyata ada yang ngeh. Memang ini punya dokter @seriousya (di instagram). Doi sering bagiin tips MP-Asi gitu katanya. Follower saya ini yang ngasih tau ini emang ibu 1 anak. Hahaha. Seneng sih ternyata ada yang notice tempat yang aku kira "hanya" pembaca buku tau.


Suasana disini lumayan enaaak. Faktor lokasi dengan pepohonan ringan bisa jadi mendukung. Paling saya suka: playlist-nya. Cocok banget buat temen baca buku. Nggak berisik tapi nggak slow banget. Pas ditengah. Oh ya, selama disini saya cuma buka masker waktu makan dan minum. Selebihnya (mostly I think) masker tetep on. Termasuk saat baca buku.

Kurang lebih 3 jam disini menghabiskan satu novel: Orang-orang Proyek karya Ahmad Tohari. Saya duduk di sofa yang sayangnya keliatan kotor dan kurang terawat. Masukin nih buat pengelolanya (iya kalo baca hahaha). Saya menyempatkan sholat juga disini. Alhamdulillah ada musholanya. Meskipun sepertinya nggak ditujukan untuk pengunjung. Lebih ke karyawan. Tapi tetep lumayan dong daripada menunda sholat.

Toiletnya bersih, vibes-nya nature banget. Alas yang digunakan bukan keramik tapi batu-batu gitu. Lalu ada tanaman hijau dengan wadah botol bekas. Cukup menarik perhatian saya sih. Hehe. 

Puas banget menghabiskan waktu disini. Kalo aja ini kafe deket sama kosan mungkin saya udah jadi pelanggan tetap dengan menghabiskan akhir pekan disini. Buku-bukunya itu lhoo menggoda banget!

Destinasi selanjutnya setelah Kebun Raya Bogor adalah Kedai Kita. Tempat makan ini direkomendasikan temen saya di hari pertama kepindahan. Maklum ya doi emang tukang wisata kuliner. Bermanfaat ternyata punya temen hobi makan. Spesialisasinya katanya sih pizza yang dibakar di tungku. Ngga baca detailnya sih kayak gimana. Yang kami perhatiin, jauh nggak ya dari Kebun Raya Bogor?

Ternyata enggak! Paling cuma 10 menitan itupun karena kami pelan-pelan sambil baca peta. Tempatnya agak nyempil bukan di jalan utama. Tapi emang berjejeran itu tempat makan. Berseberangan dengan tempat jual pie apel.


Tempatnya lebih kecil daripada ekspektasi kami. Ada 2 lantai yang bisa dipilih. Baik dilantai 1 maupun 2 tersedia pilihan duduk di kursi atau lesehan. Kami pilih lantai 2 dengan pertimbangan sekalian liat pemandangan. Di kursi aja karena males lepas sepatu.

Berdasarkan pengamatan saya, pengunjung tempat ini lumayan bervariasi. Ada remaja, anak muda macem saya, geng ibu-ibu arisan yang cukup berumur pun ada. Bisa saya simpulkan menu makanannya cocok untuk segala umur. 

Bisa jadi faktor lokasinya juga sih. Tempatnya adem. Nggak berisik. Entah kenapa menurut saya daerahnya punya vibes Dago-nya Bandung. Enakeun gitu.

Sesuai dengan saran temen saya, kami pesen pizza. Belakangan saya dikasih rekomendasi kakak ipar kalau hot plate-nya enak. Sekilas liat pengunjung lain keliatan menggoda sih. Sayang nggak pesen takut kekenyangan. Tidak baik, bukan?

BBQ Smoked Beef Kedai Kita Bogor
BBQ Smoked Beef 

Untuk pizza-nya nothing special sih. Hal ini juga diamini temen dan kakak iparku. Memang dari segi bentuk lebih tipis kulitnya dibanding pizza terkenal itu. Lalu di pinggirannya keliatan smokey gitu. Tapi nggak ada cita rasa yang bikin ngeh apa bedanya.

Enak? Ya selayaknya pizza. Harga lumayan terjangkau. Kisaran Rp50.000-Rp80.000 tergantung topping. Terbagi jadi 6 slices dan kenyang sih dimakan berdua. 

Pisang Bakar Cokelat

Sambil nunggu pizza-nya jadi kami pesan pisang bakar. Udah laper banget habis keliling Kebun Raya tuh. Ini namanya pisang bakar cokelat apa ya, lupa. Dari tampilannya aja sungguh mengagetkan hati ini. Toppingnya tumpah banget. Kirain bakal meresap ke pisangnya. Ternyata pisang dibakar aja. Trus kayak dituang topping ini.

Itungannya kebanyakan sih ini malah mubazir nyisa banyak itu topping cokelatnya. Padahal kami berdua sweeth tooth lho. Tetep aja nggak kuat ngabisin topping sebanyak itu.

Untuk minumnya lupa pesen apa hahaha. Soalnya awal saya pesen es kelapa muda kok habis. Akhirnya cuma ngikut temen. Sepertinya lemonade deh. Lumayan seger diminum siang-siang habis sepedaan ya kannn....

Baca: Bogor One Day Trip: Kebun Raya Bogor

Overall sih lumayan ya. Nggak yang waw banget. Sesuai dengan banderol harganya. Banyak pilihannya pun. Pas aja kami nggak pesen banyak. Mau balik lagi ah buat cobain hot plate-nya. Yuk!

Instagram