Monday, February 18, 2019

After Graduation Story: Kerja Dimana?

Yes gengs melanjutkan obrolan setelah lulus kuliah. Topik kedua adalah: Kerja *setel Work-nya Rihanna*. Banyak yang nanya, "Mau kerja dimana?" I honestly cannot answer the question properly, yet. Aku belum tau mau kerja dimana. Pernah nggak sih merasa apa yang kamu kerjakan saat ini cukup dan kamu belum merasa mau untuk "berpindah"? Or maybe I'm just being me at my comfort zone.


Mon maap ini biar keliatan qerja bagai quda gituh ceritanya
Baca bagian pertamanya: After Graduation Story: Study, Again?

Awalnya aku pengen di rumah aja. Melihat gimana temen-temen yang lain ibunya dirumah, masakin makanan, ini dan itu kayaknya enak. Tapi semakin bertambah umur pemikiran kayak gitu dihempas entah kemana. I'm faced with reality. Kita hidup butuh biaya. Iya, biaya. Nggak cuma uang. Tapi bisa dibilang uang merupakan variabel cukup penting untuk bertahan hidup. Setuju, nggak?

Dan guru jaman SMA-ku dulu pun selalu menekankan. Apapun yang kamu tuju, sebisa mungkin tetep kerja. Dalam kata lain punya penghasilan tetap. Sekarang aku setuju dengan pernyataan itu.

***

Intro tiga paragraf yang ditulis berbulan-bulan lalu. Dan sekarang insyaAllah akan segera menemukan jawaban atas pertanyaan kerja dimana.


Masalah kerja ini tuh gampang-gampang susah, ya. Gampang sebenarnya karena lapangan pekerjaan begitu banyaknya. Kesempatan untuk bekerja sendiri (mau itu wirausaha ataupun pekerja lepas a.k.a freelance) maupun jadi cungpret. Eh maksudnya jadi pegawai kantoran slash karyawan slash pengabdi gajian.

Tapi ya nyatanya ada kan orang yang harus ngirim berpuluh CV dan lamaran kerja dulu, baru bisa settle down ke satu pekerjaan? Ya ada. 

Sebenarnya, definisi "bekerja" itu apa, sih?

Sebelum melangkah lebih jauh *halah*, buatku penting mendefinisikan makna "bekerja" itu sendiri. Biar diri ini nggak terjebak dengan definisi yang dibuat oleh society. Misalkan lingkungan masyarakat kita cenderung menilai bekerja itu sama dengan kantoran. Bekerja itu sama dengan nerima gaji tiap bulannya. Bekerja itu sama dengan rutinitas nine to five.

Sekarang, tanyakan diri sendiri. Apakah kamu juga mau mengikuti definisi yang udah dibuat oleh orang-orang itu? Atau kamu punya definisi "bekerja" sendiri?

Boleh loh punya definisi "bekerja" adalah mengerjakan apa yang kamu suka dan kamu tau kamu bakal bertumbuh disitu. Mungkin secara materi nggak langsung terlihat menghasilkan. Tapi kamu percaya nggak sekadar materi aja yang bisa dihasilkan disitu.

Definisi "bekerja" lainnya: punya kendali penuh akan waktu. Mau bekerja jam berapa saja, bebas. Kamu nggak mau terikat harus masuk kerja jam segini dan pulang jam segini.

Enaknya ketika kamu udah punya pegangan kayak gini, kamu nggak akan bingung. Kamu nggak akan terombang-ambing dengan keinginan orang tua harus kayak gini. Atau kamu harus daftar kerja tertentu hanya karena nggak kuat akan peer pressure. Di tempat itu gajinya tinggi jadi kamu daftar situ biar harga diri naik.

Sigh. Beratnya orang dewasa. Hahaha

Antara idealisme dan realistis

Nah. Ini. Ada temen yang galau harus gimana ketika dihadapkan oleh dua pilihan. Kerja sesuai passion dan ilmu yang didapat saat kuliah tapi orang tua menganggap nggak worth it atau kerja dengan persetujuan orang tua tapi nggak sesuai passion?

Real story loh yaa ini. Dan banyak terjadi, terutama sama perempuan. Kenapa perempuan? Ya karena nyatanya masih banyak orang tua di Indonesia yang begitu me....apa ya? Terlalu posesif dengan anak perempuan.

"Anak perempuan nggak boleh kerja jauh-jauh"
"Anak perempuan kerjanya di kantor aja jangan di luar melulu"

Sedangkan sama anak laki-laki kadang agak lebih longgar. Perks of being a guy. 

Back to topic, saat dihadapkan dengan hal macam itu, harus apa?

First thing first, ngomong baek-baek sih ya. Kata Pak Rhenald Kasali di buku 30 Paspor, orang tua memang sering kali jadi tantangan utama. Ya, kan? Kata aku sih iya hahaha *tertawa getir*. 

Di dunia kerja nanti, kamu bakal ketemu dengan banyak orang. Kamu butuh memenangkan hati orang. Kamu butuh komunikasi tepat agar goal kerja tercapai. Dan ini orang tua? Yang udah bersama kamu dari lahir? Tinggal seatap? Masih belum bisa memenangkan hatinya? Artinya usaha kamu kurang keras. Ilmu manajemenmu kurang. Yang harus dilakukan? Kata kupon undian di jajanan ciki: coba lagi.


by overheardjkt on IG
Jangan bosen-bosen buat berusaha meluluhkan hati orang tua. Mungkin karena ketidaktahuannya, orang tua punya pendapat berbeda. Carilah hal yang bisa menjembatani perbedaan itu agar ketemu titik terangnya. Caranya gimana? Yha kamu sendirilah yang tau. Kan itu orang tuamu. Kamu yang ngerti sendiri sifatnya kayak gimana.

Kalo emang ngga bisa dibantah, aku kudu ottoke?

Satu-satunya jalan keluar adalah....menerima dan membesarkan hati. Hehe. Namanya aja hidup. Nggak selamanya sesuai dengan apa yang kita pengenin ya, kan? Masih ada banyakkk cara untuk menikmatinya.

Bisa aja kamu kerja di tempat itu sembari menambah ilmu. Sambil mengaktifkan LinkedIn atau portal pencarian job lain. Bisa juga lirik temen kantor siapa tau cocok buat dijadiin teman hidup.

....tsah.

***

Intinya sihhh...buat temen-temen yang lagi nyari kerja: SEMANGAT! Yakin aja rejeki ngga tertukar. Kalo emang bukan rejekimu, mau dikejar sekeras apapun ngga bakal kepegang. Sebaliknya, kalo emang rejeki, tanpa dikejar pun bisa mampir. 

Coba perluas lagi konsep "bekerja". Di era yang makin kenceng kemajuan teknologi dan digitalisasinya ini, banyak peluang asal bisa jeli menangkap. Perluas jaringan. Informasi. Pengetahuan. Coba follow jouska *hae minjou!* biar ngerti kerjaan itu banyaaaaak jenisnya!

Dan yang pasti as a Moslem I would like to remind you this:

Awali dengan niat karenya-Nya. Bekerjalan untuk-Nya. Iringi dengan Doa. Sabar dan takwa dalam perjalanannya, maka engkau akan memahami kasih sayang-Nya yang senantiasa menemani masa. Bekerjalan dengan iman, lalu biarkan keajaiban datang dari arah yang tidak disangka-sangka.

Oh hoo kata-kata bijak ini diambil dari buku Awe-Inspiring Us. Aku belum bisa mengukir kata se-motivasi itu lol.

Baca: Resensi Awe-Inspiring Us

Semangat yaa!

Dari aku yang pernah jualan, nulis di blog, ngebuzzer, asisten praktikum, enumerator, sampe ngajar bocah cilik. 
1

Friday, February 15, 2019

Susahnya Jadi Orang Tua

Niat awal pengen ngobrol ringan aja ternyata tetep berujung ke pembahasan (orang) dewasa. Tentang jadi orang tua. Awalnya saya dan seorang teman cuma pengen ketemu sekadar bertukar kabar. Eh, sama main gitu lah. Udah lama ngga ketemu. Lebih dari seminggu. Lama kan? Iyain aja.


Kami ini dua orang yang klop karena suka ke tontonan berbau Korea. Ya dramanya, film, reality/variety show, sampe k-pop. Lengkaplah.

Seperti siang itu. Sambil makan siang saya buka obrolan. Temanya reality show "The Return of Superman". 

Baca: Tahun Baru, Member Baru The Return of Superman

"Eh, aku baru pertama kali liat Na Eun nangis.
Park Na Eun ini anggota baru TROS. Anak perempuan blasteran Korea (ayah) - Swiss (Ibu). Sekali pandang kalian pasti langsung seneng deh. Wajahnya secantik itu. Iya, cantik loh. Bukan imut. Ditambah dengan efek sparkling yang ditambah tiap kali scene dia, plus komentator yang memuji-muji dia. Penonton semakin terbentuk opini, "Park Na Eun adalah gadis cilik yang cantik".


Di satu scene dia nangis karena....backpack kesayangannya ketinggalan di subway. Backpack ini tuh udah kayak nyawanya dia. Hampir di setiap scene Na Eun dia bawa backpack. Saat diluar maupun didalam rumah.

Nangis kan tuh dia. Ayahnya nelfon emaknya. Hanya dengan beberapa kata aja, si Na Eun udah kembali tenang. Kami bahas emaknya deh, namanya Anna. Doi punya akun instagram dan pernah ngadain Instagram Q&A. Temen saya ini terkesan dengan caranya mendidik Na Eun. Full of love dan apa yah, kalo dari kacamata orang awam kaya kami yang belum punya anak ini berasa luar biasa. Hahaha.

Baca: After Graduation Story: Study, Again?

***

Obrolan berlanjut ke keluarga 5 Siblings alias SeolSuDae. Seola, Sua, Daebak. Ceritanya Seola dan Sua (kembar) dateng ke psikolog. Bapaknya pengen tau perkembangan kepribadian dari si kembar ini kaya gimana. Menurut bapaknya, meskipun kembar mereka nih beda.

Seola jiwa kepemimpinannya tinggi. Sedangkan Sua keliatan sulit buat adaptasi pada suasana baru. Istilahnya Sua nih jago kandang aja. Cerewet dan berani cuma saat ada Seola disisinya. Dari gambaran itu, bapaknya si kembar khawatir dengan Sua dibanding Seola. Dia mengira Sua lebih membutuhkan bantuan psikolog.


Baca: When I (or You) Get A Chance to Be Parents

Ternyata, yang terjadi adalah....Seola juga butuh!

Malah Seola kalo ngga dibawa ke psikolog bisa jadi terabaikan "perasaannya". Kok bisa? Iya. Di depan psikolog, Seola cerita bahwa dia sering menahan marah. Sering diajarkan mengalah karena dia lebih tua, meminta maaf dulu karena dia harus lebih pengertian dibanding adiknya.

Saat psikolognya nanya, kenapa kamu mau melakukan itu semua?

Jawabannya: karena aku pengen dibilang anak baik. Good girl. Dan "doktrin" dari orang tuanya, anak baik itu harus mengalah. Ngga boleh marah. Dll. Intinya harus menahan diri.

***

Temen saya bilang, ada 2 kategori pujian buat anak. Pujian dengan alasan logis dan pujian semu. Pujian dengan alasan logis misalnya, "Kamu hebat karena kamu nggak menangis keras-keras dan mengganggu orang lain". Pujian semu itu ya tiba-tiba dan tanpa alasan yang bisa dimengerti anak, dipuji aja.

Nah katanya siiih bahayanya pujian semu nanti si anak ini seakan terobsesi melakukan hal buat dapet pujian. Mungkin jatohnya kaya si Seola ini. Dia pengen dibilang anak baik, maka dia pahamnya ngga boleh marah.

Padahal marah ya boleh kan. Bayangin aja kalo anak dari kecil udah dilarang mengekspresikan perasaan tertentu? Kasian waktu besar. Dia ngga kenal perasaan ngga nyaman yang bisa berupa sedih, marah, kecewa, dsb.

Trus kami berdua mikir-mikir, susah amat ya jadi orang tua? Muji salah. Ngga dipuji nanti anak merasa ngga dihargain. Hahahaha.

Kami menarik kesimpulan, jadi orang tua tuh ya harus mau belajar cara mendidik anak. Bisa baca buku, blog, nonton reality show pun bisa juga. Sesekali TROS mengundang psikolog juga. Bisa dicontek tips yang dikasih.

Namanya belajar, ngga ada batasan umur kok. Jangan mikir, "Ah jodohnya belum dateng. Nanti aja." no. Justru karena belom dateng itu, banyakin dulu belajar. Kasian lho, punya anak tapi ternyata anaknya nggak merasa bahagia. Ngga mau kan yah, pasti.

Semangat yaah yang berniat jadi orang tua. Dan yang udah jadi orang tua.
2

Wednesday, February 13, 2019

Awe-Inspiring Us: Sebuah Perjalanan Mengukir Cinta, Merenda Asa, Menggapai Pernikahan Mulia

Selama ini saya berpikiran. Kenapa ya artikel atau buku tentang bagaimana cara menjadi istri sholehah/idaman/disayang suami dan sejenisnya itu banyak muncul? Sedangkan tentang bagaimana menjadi suami yang baik itu jarang? Entah memang benar adanya atau saya yang ngga pernah nyari.


Toh pernikahan itu antara 2 insan. Keduanya punya tanggung jawab sama besar dalam mempertahankan biduk rumah tangga. Hazeqq. Kalian setuju nggak, gaes? Plis jawab iya.

Nah, di buku Awe-Inspiring Us ini mbak Dewi Nur Aisyah menuliskan semua tentang pernikahan untuk PRIA dan WANITA. Yess, untuk keduanya! I'm so excited!


Buku ini merupakan lanjutan dari Awe-Inspiring Me. Seri sebelumnya berfokus pada pengembangan diri. Seri kedua ini lebih ke pembicaraan seputar pernikahan. 


Ada 5 topik yang menjadi pokok pembahasan:
1) Masa penantian
2) Jodohmu adalah dia
3) Membangun rumah tangga: sebuah jalan menuju surga
4) Another miracles
5) PhD mom and dad: sebuah catatan perjalanan

Penasaran sama isinya? Yuk baca lebih lanjut!

Masa Penantian

Sejatinya, hidup ini adalah tentang menunggu. Yang baru lulus kuliah, menunggu panggilan kerja. Yang jomblo, nunggu dipinang. Yang udah menikah, nunggu punya anak. Betul apa betul? Kalo dipikir memang kegiatan kita ini penuh dengan daftar tunggu.

Saat udah sadar bahwa hidup adalah perihal menunggu, apa yang harus kita lakukan?

Attitude kita saat menunggu, apakah diiringi ragu atau gerutu. Atau tetap bersabar meyakini rezeki dari-Nya tidak akan tertukar atau salah waktu. 

Biasanya yang sedang banyak waktu luang itu masa setelah lulus kuliah *mengangguk mengiyakan*. Di masa ini kita dihadapkan ke tiga hal: kerja? Lanjut sekolah? Atau menikah?

Disini mba Dewi pertama memilih membicarakan tentang bekerja dan lanjut sekolah terlebih dahulu. Kenapa? Karena sangat penting untuk seorang Muslim memaksimalkan waktu yang ada dengan berprestasi. Kedua hal ini bisa dilakukan seorang diri.

Sedangkan menikah membutuhkan partner. Pencariannya pun nggak mudah, kan? Maka di masa penantian ini mba Dewi mewanti-wanti untuk menggunakan waktu dengan bijak.

Jadikanlah waktu luang sebagai musuh terbesar!

Dalam masa penantian ini, kalian bisa melakukan hal-hal dibawah:
1) Menuntut ilmu. Karena apa? Dijanjikan oleh Allah akan dinaikkan derajatnya, sebagaimana tertuang di Al-Qur'an surah Al-Mujadilah ayat 11.
2) Memaksimalkan potensi. Ikut beragam les/kursus yang bermanfaat. Kamu bercita-cita melanjutkan studi di luar negeri? Ikutlah kursus TOEFL/IELTS. Kamu suka crafting? Ikutlah kelas-kelas yang ada.
3) Menjadi bermanfaat dan mengukir prestasi. Bisa menantang diri lewat kompetisi, maupun volunteering.
4) Berkarya dan berdaya. Nah, liat di lingkungan sekitar. Kira-kira, apa sih yang dibutuhkan masyarakat? Beri ide-ide kecil yang bermanfaat.

Jodohmu Adalah Dia

Siapa nih yang udah mulai gencar mengirim CV untuk ta'aruf? *bukan saya, LOL* Ta'aruf dilakukan untuk meminimalisir kontak dengan lawan jenis. Maka sebaiknya dilakukan bersama mediator. Bisa keluarga dekat, guru ngaji, murabbi (pementor), atau teman dekat yang udah menikah. Dan pastinya terpercaya yah. Ngga bochooor.

Isi CV ta'aruf itu apa aja sih? Nih mba Dewi ngasih bocorannya. Profil umum berupa nama, tempat tanggal lahir, alamat, tempat bekerja, suku, golongan darah. Gambaran fisik, seperti tinggi badan, berat badan, warna kulit, tipe rambut, warna mata, riwayat penyakit, dsb. Latar belakang pendidikan. Gambaran karakter diri termasuk moto hidup, hobi, sifat positif dan negatif, hal yang disuka dan ngga disuka.

Lanjut dengan pengalaman kerja, daftar prestasi/penghargaan, gambaran keluarga (ayah, ibu, adik, kakak), persiapan pernikahan (finansial, visi misi, ilmu tentang pernikahan). Barulah masuk ke kriteria calon yang diinginkan. Boleh kriteria fisik yang seganteng Kang Daniel *eh gimana* pendidikan, pekerjaan, suku, apa aja yang dipengenin. Harapan seperti sumber dana nikah darimana, konsep pernikahan seperti apa, domisili ke depan, karier, target jangka pendek, tulis selengkap-lengkapnyaa!

Nah, jangan lupa masukin juga foto terbaru. Biar si lawan jenis ada gambaran tentang kamu. Yah walaupun sekarang bisa juga diliat lewat medsos sih ya. Hehe.

Perlu dicatat, nyari pasangan itu jangan kayak supermarket yang semua ada. Karena hakikatnya, pernikahan bukanlah saat kita mencari pasangan yang sempurna. Tapi saat kita mencari teman hingga ke surga. Inget gaes, ke surga loh. Nggak cuma sampe grow old together aja!

Makanya, biar ta'aruf ngga melenceng jalur. Ingat-ingat juga untuk: 1) Meluruskan niat, 2) Bersikap jujur, 3) Jangan meminang yang udah terpinang, 4) Libatkan orang tua, 5) Jangan lama-lama!, dan 6) Jaga jarak sampai halal. Lamaran tuh belom halal loh yaaa. Setelah akad terucap baru sah menjadi suami istri.

Membangun Rumah Tangga: Sebuah Jalan Menuju Surga

Masuk ke bab ketiga, mba Dewi memberikan sedikit gambaran akan pernikahan. Puhlease gaes jangan dibayangin nikah itu lurus-lurus aja. Hepi terus. Dunia milik berdua, aihh. Ada kalanya ombak datang menerpa. Konflik berdatangan. Lalu, apa yang harus dilakukan?

Fokus pada masalah, BUKAN pada orangnya. Mendengarkan satu sama lain, dan berlapang dada. Dan jangan sembarang mengucap Talak.

Rumah tangga mulia adalah mereka yang terus saling mengingatkan dalam takwa, marah atau perdebatan kecil diselesaikan sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunah yang mulia.

Daaan dua bab terakhir menceritakan pengalaman seputar kehamilan, persalinan, serta kehidupan sebagai orang tua sekaligus mahasiswa. Kok nggak diulas juga sih? Lhoo nanti kalian nggak kepo gaes sama isi bukunya. Hahaha.


Sebagai sesama lulusan FKM saya ngerasa malu...dan bangga. Kok gitu? Iya bangga karena mba Dewi ini lulusan FKM yang berhasil go internesyenel. Banyak memberi manfaat. Menginspirasi banyak orang. Sayang sekaleee waktu beliau ke Semarang ngga bisa ketemu. Pas banget lagi diluar kota. Semoga Allah kasih waktu untuk ketemu. Amiin.

Trus malunya kenapa? Iya malu karena saya merasa seperti butiran jas-jus. Udah ngapain aja ya, selama ini? Apakah ada yang merasakan manfaat dari diriku? Hiks.

Fokus, fokus! Buku ini dilengkapi juga dengan beberapa mitos seputar perawatan bayi. Berhubung mba Dewi basic-nya emang peneliti, data yang dipaparkan ya dari jurnal penelitian juga! Tapi jangan khawatir gaes, mudah untuk dipahami kok.

Satu hal yang paling saya inget dan mengena nih, ada pertanyaan, "Bagaimana kalo suami nggak mengijnkan untuk lanjut sekolah, apalagi diluar negeri?"

Jawabannya sungguh mudah. Ya dari sebelum nikah seharusnya udah mencantumkan ini di CV. Kalo si lawan jenis ngga menyanggupi, silahkan mundur teratur. Simpel, kan?

Dari situ saya berkesimpulan, sebelum kirim CV nih pastikan deh itu isinya selengkap dan sejelas mungkin. Jangan ada yang ditutup-tutupin. Sah-sah aja kok mengajukan syarat tertentu. Kecuali kalo kamu emang anaknya nrimo-nrimo wae, ya monggo. Kalo anaknya berpendirian teguh? Yaa lakukan tips ini biar kedepannya ngga menimbulkan konflik.


***

Well, para jomblowan jomblowati saya sangat menganjurkan baca buku ini. Biar tercerahkan nikah itu apa tujuannya? Esensinya. Jangan sampe kalian (dan semoga saya juga) nikah hanya karena tuntutan lingkungan, umur, maupun orang tua.

Kamu nanya kapan saya nikah? Bentar belum ketemu yang mirip Ha Sung Woon dan sholeh nih. Kalo ada yaa bolehlah kabarin ya. Ngga harus sama kok kebangsaannya (iyain aja udah).

Sebagai penutup, ini saya kasih kutipan di akhir buku mba Dewi.

At times Allah tests us, it is not to reveal our weaknesses, but for us to discover our strengths.
2

Tuesday, February 05, 2019

Review SKY Castle Korean Drama

Mari kita awali Februari dengan review drakor! Udah berapa purnama ngga nulis review nih. Drama Korea ini aku nominasikan ke Top 3 Korean Drama tahun 2019. Bagus banget ngga boong! Di negara asalnya aja dia mendapatkan rating dua digit. Sampe 23,8% loh. Rekor buat drama yang ditayangin di saluran kabel. Udah berhasil ngalahin Goblin. So proud! 


Emang, ceritanya tentang apa sih? Aku bakal ngereview sekomplit mungkin dan akan spoiler. Jadi yang ngga mau kena bocoran, skip ae postingan ini okay.

Cerita dimulai dari kisah keluarga elite a.k.a kelas kakap. Hestek horangkayah gitu. Mereka tinggal di perumahan elite bernama SKY Castle. Mereka ini keluarga berada. Harta, tahta, wanita? Punya! Profesi yang ditunjukkan disini dokter dan profesor di perguruan tinggi.

Alkisah keluarga Profesor Park Soo Chang lagi seneng banget. Karena anak satu-satunya, Park Young Jae berhasil lolos di fakultas kedokteran Seoul National University (SNU). Sama kayak di Indonesia, masuk kedokteran dan perguruan prestise itu amat sangat bergengsi. Seakan kalo udah masuk ke jurusan dan universitas itu masa depan mereka bakal terjamin.

Lucunya, yang seneng keluarga Park Young Jae yang ngadain ((syukuran)) malah Han Suh Jin. Tetangganya. Sebenernya sih ngga murni syukuran. Lebih ke Han Suh Jin, Noh Seung Hye, dan Jin Jin Hee - para tetangga deket -  kepo gimana bisa masuk ke fak. kedokteran SNU.

Ini tuh di Indonesia semacam SNMPTN kali ya. Karena special admission tanpa harus ikut Suneung (SBMPTN-nya di Korea). Kalo kamu tau, Suneung di Korea itu penting buangeeett nget nget. Dimana kalo ada penerbangan pada hari itu ditunda dulu sampe Suneungnya selesai. Semua harus hening intinya.

Pola pertetanggaan di SKY Castle ini pretentious. Penuh dengan kepura-puraan. Di depan keliatan baik, saling memuji satu sama lain, di belakang saling menggunjing. Niat Han Suh Jin dkk buat ngepoin ibunya Park Young Jae ngga berhasil. Tapi mereka tetep kekeuh buat mendekati ibunya Park Young Jae.

*** 

Karena udah berhasil menghantarkan anaknya masuk SNU, ibunya Park Young Jae diberi hadiah wisata kapal pesiar oleh suaminya. Young Jae juga memutuskan untuk traveling keliling Eropa.

Disinilah mulai muncul konfliknya. Ibunya Young Jae pulang lebih cepet dari yang diperkirakan. Tetangganya heran kan tuh, kenapa emang? Dan keesokan harinya ibunya Young Jae ditemukan bunuh diri, di pinggir danau, saat bersalju, menggunakan senapan angin yang biasa dipake untuk suaminya berburu (my heart broken cuyyy nonton scene ini masyaAllah huhuhu).

Selang beberapa waktu kemudian, datanglah penggantinya keluarga Park Soo Chang. Mereka menempati rumah bekas dia. Keluarga Profesor Hwang dan Lee Sue Lim.

Akhirnya keempat keluarga ini ditambah satu coach yang jadi pemeran utamanya. Iya, emak-emak cuy pemerannya. Drama ini menggambarkan perbedaan cara mendidik anak antar keluarga. Ambisi orang tua yang pengen anaknya jadi "terbaik". 

Lebih detailnya tentang keluarga ini aku jabarin.

Keluarga Kang Joon Sang dan Han Suh Jin 


Pasangan dokter dan anak dari bankir. Profesor Kang ini keturunan dokter. Ibunya punya ambisi buat bikin third generation doctor. Kek anak turunannya wajib dokter gitu. Mereka punya anak dua. Kang Ye Suh dan Kang Ye Bin. Anak pertamanya, Ye Suh ini yang jadi korban ke-ambisius-an dari neneknya. Dari kelas 4 SD kerjaannya belajar, belajar, dan belajar. Semua demi masuk fak. kedokteran SNU. Anaknya egois, ngga punya temen, yang ada di otaknya ya belajar. Anak kesayangan Han Suh Jin karena dianggap menurut.


Beda dengan Yeh Bin, adiknya. Yeh Bin justru biasa-biasa aja. Malah cenderung ngga pinter. Karena itu Suh Jin jarang menganggap Yeh Bin ada. Kasian, ya?

Han Suh Jin ini ternyata bohong tentang dia anak bankir. Bahkan dia bohong tentang namanya. Nama aslinya Kwak Mi Hyang, anak dari penjual jeroan daging di pasar. Karena kebohongannya inilah, mertuanya menuntut dia harus berhasil memasukkan Ye Suh ke fak. kedokteran SNU.

Keluarga Woo Yang Wo dan Jin Jin


Ini keluarga paling gemasss lucu banget pokoknya. Profesor Woo ini sidekick-nya Profesor Kang Joon Sang. Jin Jin-nya sidekick Han Suh Jin. Sebenarnya si Jin Jin ini baik, cuma dia nggak punya arah aja hidupnya hahaha. Sukanya ngikutin orang lain. Omongannya blak-blakan.

Anaknya satu, Woo Soo Han. Seumuran dan temenan sama Yeh Bin. Sama juga, dia tipe yang susah buat belajar. 

Keluarga Profesor Cha Min Hyuk dan Noh Seung Hye 



Keluarga ini punya anak tiga, Cha Se Ri, Cha Suh Joon dan Cha Ki Joon (dua terakhir ini kembar). Profesor Cha bangga banget sama Se Ri yang berhasil masuk Harvard. Padahal....itu semua bohong. Se Ri terpaksa bohong demi membahagiakan ayahnya. Karena kalo dia ngga bisa masuk Harvard ngga dianggap anak.

Sedangkan Suh Joon dan Ki Joon didoktrin tentang piramid. Mereka harus bisa mencapai puncak piramid demi mendapatkan power. Profesor Cha satu-satunya orang tua yang mampu buat ngajarin anak-anaknya. Bahkan punya study room sendiri.

Tapi Seung Hye, ibunya merasa kasian sama anak-anaknya. Terlihat tersiksa. 

Keluarga Profesor Hwang Chi Young dan Lee Sue Lim 


Keluarga yang paling adem. Punya anak satu namanya Hwang Woo Joo. Peraih peringkat dua di sekolah tanpa ikut les tambahan apapun. Woo Joo ini anak profesor Hwang dari istri sebelumnya. Jadi statusnya dia adalah anak tiri Lee Sue Lim.

Sue Lim sendiri penulis. Dari sini kisah dibalik konflik SKY Castle terjadi. Kenapa? Karena Lee Sue Lim penasaran apa yang terjadi dengan penghuni rumah sebelumnya (keluarga Park Soo Chang). Setelah tahu latar belakangnya, dia berusaha untuk menuliskannya ke dalam novel. 

Coach Kim Joon Young 


Center dari segala keruwetan di SKY Castle. Siapakah dia? Nah di Korea, sekolah aja tuh nggak cukup buat seorang siswa. Dibutuhkan private lesson / private academy untuk bisa bersaing ke universitas bergengsi. Coach Kim ini top class coordi (coordinator). Semua anak bimbingannya dijamin masuk fak. kedokteran SNU.

Termasuk Park Young Jae tadi hasil didikan dari Coach Kim. Tapi ternyata dia punya cara-cara yang bikin uuh merinding bener dah. Segala cara dihalalkan untuk bisa membuat anak didiknya masuk fak. kedokteran SNU. Dan biaya untuk menggunakan jasanya ini mihil bingit. Sampe ke angka ribuan dolar / jutaan won.

*** 

Duh panjang amat hahaha. Ceritanya berlanjut dengan Ye Suh berhasil dipilih Coach Kim untuk dikasih private lesson. Kok dipilih? Iya. Coach Kim memilih mana anak yang mau diambil buat digembleng habis-habisan.

Termasuk juga orang tuanya setuju dengan semua persyaratan yang diajukan. Wagelaseeh. Pernah nggak kepikiran kalo belajar itu butuh suhu ruangan berapa derajat celcius? Lampunya seberapa terang? Kayak gitu diatur sama Coach Kim.

Ibu dari anak didiknya pun diwajibkan jadi ibu rumah tangga. Ngga boleh kerja. Harus fokus ngurusin kebutuhan anaknya, dan nggak boleh buat si anak stress.

Perseteruan di SKY Castle terjadi akibat Lee Sue Lim yang mengenali bahwa Han Suh Jin itu Kwak Mi Hyang. Disamping itu dia khawatir dengan Ye Suh yang dididik Coach Kim. Sue Lim khawatir keluarga Han Suh Jin bakal berakhir menyedihkan kayak keluarga Park Soo Chang.

Menurutnya, Coach Kim punya andil dalam rusaknya keluarga Park Soo Chang. Di sepanjang perjalanan cerita drama ini, penonton ditunjukkan gimana Coach Kim menggembleng Ye Suh. Persaingan ketat antara Ye Suh dan Hye Na. Daaan masih banyak lagi. Ruwet? Banget.

Kalo kamu bukan penyuka drama yang banyak konflik dan ribet pasti ngga suka. Karena di tiap episode adaaa aja konfliknya.

Dan paling legend dong OST-nya. "We all lie... Tell you the truth". Penonton setia SKY Castle paham setiap lagu ini dimainkan akan terjadi tragedi. Hiks.

*** 

Dari drama ini nunjukin kompetitifnya sistem pendidikan di Korea. Kata kritikus sih, semacam black comedy. Kemudian penonton juga ditunjukkan ini loh, ngga ada keluarga yang sempurna. Keempatnya punya masalah masing-masing. Cara penyelesaiannya pun berbeda-beda.


Pada akhirnya keluarga yang mau berkomunikasi dengan baik, memperjuangkan satu sama lain, dan bekerja sama bisa memperbaiki sedikit demi sedikit. Masalah yang ada saat dihadapi bersama justru dapat mempererat hubungan anggota keluarga.

Laafff this drama! Kamu udah nonton, belum?
4

Thursday, January 31, 2019

Monthly Reads - January

Hola. Ini adalah sebuah ((segmen)) terbaru di blog lulukhodijah.com. Lah udah berasa youtuber aja ya. Isi postingan ini adalah ulasan singkat buku yang saya baca selama sebulan. Mumpung di awal tahun nih, harus memulai hal baik khaaan.


Baca: 2018 Year in Review + 2019 Plans

Di tahun ini saya menargetkan membaca buku sebanyak 50 judul. Banyak? Hmm relatif. Tahun sebelumnya pernah menargetkan 100. Apa yang terjadi? Nggak konsen bacanya. Tahun ini fokusnya ke mendapatkan ((hikmah)) dari buku yang dibaca.

Oh ya, saya tipe yang baca beberapa buku sekaligus. Bosen? Ganti buku. Bosen? Ganti. Gitu terus sampe rak currently reading di Goodreads menumpuk. Saya juga nggak segan buat nyetop di tengah jalan saat ngga bisa lagi menikmati bukunya. Kenapa harus memaksakan diri yha kan.

Baca: 5 Langkah Mudah agar Gemar Membaca

Untuk bulan Januari, ada 5 buku yang berhasil saya selesaikan. 4 diantaranya novel dan 1 sisanya buku motivasi. Apa sajakah itu?

1| Agnes Jessica - Dongeng Sebelum Tidur (iPusnas)



Penggemar novel romantis sepertinya nggak asing dengan nama Agnes Jessica. Saya baca bukunya dari jaman SMP. Novel ini pun udah lama. Hanya dicetak ulang dengan sampul baru. Ceritanya tentang seorang gadis bernama Kiara. Dia yang udah punya kekasih tiba-tiba diminta orang tuanya untuk menikah dengan orang lain. Alasannya? Balas budi. Sebagai anak satu-satunya dia ngga bisa menolak.

Akhirnya menikahlah dia dengan Cadenza. Tapi Cadenza justru bersikap dingin dari awal pernikahan. Nah novel ini menceritakan gimana Kiara menjalani pernikahannya. Dan pertemuannya dengan Charles - kakak Cadenza - mengubah tujuan pernikahannya.

Hmm, ini ceritanya agak membosankan. Interaksi antara Kiara - Cadenza justru minim. Padahal tokoh utamanya kedua orang ini. Endingnya pun nggak menjawab pada akhirnya bagaimana perasaan mereka berdua sebagai orang yang menikah karena dijodohkan?

Rating: 3/5

2| Tere Liye - Ceros dan Batozar (iPusnas)



Apakah kamu ngikutin serial fantasi dari Tere Liye ini? Dimulai dari Bumi, Bulan, Bintang, Matahari, Komet. Loh, Ceros dan Batozarnya masuk mana? Nah. Novel ini merupakan spin-off. Kayak selingan tapi tuh mempengaruhi jalan cerita. Makanya buku ini bukan buku ke-5, buku ke 4,5. Serius. Tulisan di bukunya kaya gitu.

Baca: Review Bumi dan Review Bulan

Ceritanya bukan petualangan Raib, Seli, dan Ali di klan lain. Justru di bumi dan menyingkap ada rahasia apa. Ceros dan Batozar adalah tokoh diluar tokoh utama yang biasa muncul. Sepertinya peran keduanya ada di Komet Minor (buku lanjutan setelah Komet).

Inti ceritanya bagus. Masih tentang persahabatan. Sedangkan dari Batozar didapatkan pelajaran tentang keluarga. Hiks. Terharu bacanya, tauuu...

Rating: 5/5

3| Tere Liye - Komet (iPusnas)



Kesalahan saya adalah baca Komet dulu sebelum Ceros dan Batozar. Bikin agak nggak nyambung. But it's okay. Masih bisa diikuti. Setelah Raib, Seli dan Ali berhasil mencegah keruntuhan klan, masalah lain timbul. Siapa lagi kalau bukan si Tanpa Mahkota.

Kali ini petunjuk pencarian Komet masih abu-abu. Apakah Komet ini sebuah klan sebagaimana bumi, bulan, matahari, bintang? Atau justru "komet" yang dikenal di bumi?

Katanya dengan menemukan komet bisa mengabulkan permintaan apa aja. Dan pengejaran si Tanpa Mahkota oleh ketiga sahabat ini membawa mereka untuk mencari Komet. Pola ceritanya mirip banget dengan seri sebelumnya (Matahari dulu atau Bintang sih lupa. LOL).

Mereka harus menyusuri 7 pulau. Barulah di pulau terakhir menemukan clue baru. Iya, clue. Ngga langsung jawaban. Ending dari novel ini masih menggantung. Lanjutannya bisa dibaca di Komet Minor. Udah tersedia versi daring di Google Playbook.

Buat saya ini jalan cerita dan plot twist-nya ketebak. Serius, coba deh baca dan hubungkan satu sama lain. Langsung ketemu jawabannya tentang pencarian si Tanpa Mahkota ini. Atau karena saya kebanyakan baca novel, ya? Hahaha

Rating: 5/5

4| Almira Bastari - Resign! (iPusnas)



Cerita ini mengangkat topik tentang cungpret. Apaan tuh, cungpret? Kacung kampret slash budak korporat slash pegawai. Sesuai judulnya, sekumpulan pegawai di kantor konsultan membuat taruhan. Siapa yang terakhir resign harus mentraktir makan di restoran super mewah.

Demi menghindarinya, Alranita, Calro, Karenina dan Andre berlomba untuk menjadi yang pertama resign. Mereka diam-diam rajin mengirim CV ke perusahaan lain. Ternyata, Tigran si bos tau polah anak buahnya.

Dimarahi? Enggak. Dipanggil ke ruangan? Enggak. Disindir habis-habisan? YA. Hahaha. Tigran ini tipe bos ganteng ganteng galak dan sengak.

Lucu deh baca buku ini. Buat yang berprofesi sebagai pegawai pasti bisa relate. Mau resign kok belum dapet kerja yang baru? Mau resign tapi kok begitu ngelihat bonus gede yang keluar bikin hepi? Emang dasar cungpret ada aja tingkahnya.

Rating: 5/5

5| Dewi N Aisyah - Awe Inpiring Me (beli cetak)



Buku terakhir ini bukan novel. Melainkan sebuah buku motivasi karya mbak Dewi N Aisyah ((akrab)). Dia adalah mahasiswi lulusan Epidemiologi FKM UI yang melanjutkan studi S2 di London. S3-nya dimana lupa. London tjuy idaman sayaah! :')

Baca: 10 Akun Instagram yang Sering Dikepoin

Awe Inspiring Me maknanya menjadi seorang muslimah yang ketika dipandang orang lain menimbulkan kesan "Awe" alias "WAAAWW". Bukan sekadar kecantikannya secara fisik, melainkan kecerdasannya.

Fokus buku ini lebih ke bagaimana mengoptimalkan masa muda. Cocok dibaca mahasiswa baru. Karena mbak Dewi membeberkan bagaimana caranya aktif di 13 organisasi. Jangan menganga gitu, kata mbak Dewi bisa aja kok dilakukan.

Baca: Plus Minus Jadi Aktivis Kampus

Mbak Dewi nggak mewajibkan pembacanya mengikuti jejak dia. Cuma ya memotivasi ini loh muslimah itu harus produktif. Masa muda itu jangan disia-siakan. Buatlah planning sejelas mungkin. Jangan putus asa. Karena Allah akan selalu menjawab doa yang dipanjatkan.

Is it a good book? I can say yes. But...it's a little bit boring. Terutama buat yang udah sering baca buku sejenis ataupun ikut training motivasi. Mirip-mirip seperti itu lah. Value yang diberikan ke pembacanya yang bisa bikin saya bilang buku ini bagus.

Rating: 4/5

***

Dari kelima buku diatas, ada yang mau dibuatkan postingan sendiri untuk ulasan lengkap? Bisa banget colek saya :P btw kalo kepo juga buku apa aja yang saya baca cek di akun Goodreads ya. Happy reading, peeps!
10
COPYRIGHT © 2019 · A LIFELONG JOURNEY BY LULUKHODIJAH | THEME BY RUMAH ES