Setelah kupikir nulis postingan ini kok tidak sparks joy, ya. Kayaknya emang membosankan deh. Apalagi untuk yang baca. Hahaha. So I put it here biar nggak lupa ajalah. Meskipun ada Goodreads tapi kan beda sensasi. 

Buku yang Selesai Dibaca di Agustus 2021 + Book Mail(s)

Berikut adalah buku yang berhasil aku selesaikan.

1. 00:00 - Ardelia Karisa
2. Asmaraloka - Amara Kim
3. Cincin Lama Belum Kembali - Achi TM
4. Cloud Above My Bed - Malashantii
5. A Thousand Questions - Saadia Faruqi
6. Mantappu Jiwa - Jerome Polin
7. Back To You - Aqessa Aninda
8. Before I Met You - Achi TM
9. Trilogi Duo Detektif: Perburuan Nagabiru, Komplotan Pencuri Hewan Piaraan, Sabotase Lokomotif B2503 - Wiwien Wintarto
10. Fit and Proper Test - Soraya Nasution
11. Over The Moon - Soraya Nasution
12. Journal of Gratitude - Sarah Amijo
13. Minoel - Ken Terate
14. Littler Women: A Modern Retelling - Laura Schaefer
15. Mencari Simetri - Annisa Ihsani
16. Ibu Tercinta - Shin Kyung Sook
17. The Feminist Minds: Two Years of Collected Essays from Magdalene - Magdalene

Jika dilihat dengan seksama, maka fiksi masih berada di urutan pertama. Genre romance tentunya. Gak bosen emang baca buku sejenis itu. Terutama yang latar belakangnya mirip dengan kondisiku saat ini: perempuan kerja kantoran. 

Trikku untuk menemukan buku sejenis yaitu dengan mencari menggunakan kata kunci penulisnya. Biasanya sih penulis itu memang ada spesialisasinya. Contoh mbak Achi TM. Dia menulis genre romance dengan tetap memasukkan unsur Islaminya. Hiburannya dapet, reminder pun dapet *win win solution.

Buku paling shocking?

Apa nih shocking? Lebih ke mindblowing dan berhasil mengaduk perasaanku. Yaitu buku Minoel. Dilihat dari cover buku yang meriah, aku nggak menyangka isinya bener-bener dark. Ini cerminan perempuan difabel yang rendah diri. Lalu mendapatkan sexual abuse dari pacarnya yang manipulatif. Kenapa dia bertahan? Ya karena saking nggak percaya dirinya, yang mencintai dia itu hanya si pacarnya yang.........Astaghfirullah kelakuannya membuatku mengurut dada.

Miris. Maksimal. Entah ada berapa banyak Minoel diluar sana yang mengalaminya. It really anger me. But I don't know what to do except rattling on my social media to empower women. Huhu. Cry.

Masih dengan topik mirip yaitu Ibu Tercinta. It took me quite a time to finish this. Entah cara penulisannya yang nggak cocok denganku, atau terjemahannya yang kurang dapet feelnya. Ini tuh tentang ibunya yang hilang. Anak-anak mencari. Selama pencarian ini, mereka sadar bahwa mereka nggak tau apa-apa tentang ibu mereka.

Apa keluhan ibu.
Apa yang menjadi kesukaannya.
Apa yang dipikirkan ibu.
Keberadaan ibu menjadi semacam take it for granted. Ketika ada ya menganggap ibu memang "seharusnya begitu" tanpa mengingat untuk sekadar berterima kasih atas segala perjuangannya. Ibu yang aku tangkap disini: being left alone. Meanwhile she has to do everything to make a living. Untuk nyekolahin anak. Untuk menjaga nama baik keluarga. 

HUHU sungguh lelah membaca sosok-sosok perempuan di buku diatas :((

Buku dengan topik jarang kubaca?

Tentu saja bukunya Magdalene. Called me conservative, but I'm afraid this will affect how I think :)) topik yang diangkat tergolong tabu di Indonesia. Childfree, LGBT, atheis, dan beberapa tentang pernikahan. Sensitif banget untukku yang dibesarkan di lingkungan mayoritas dan cenderung homogen.

Meskipun membaca buku ini, aku tetap pada pendirian dan apa yang aku yakini. 

Terakhir, buku sederhana namun heartwearming

Jatuh kepada Littler Women. Ini modern retelling dari versi klasiknya. Keluarga March hidup di zaman sekarang, ada pesawat, handphone, dll dengan tetap mempertahankan kesederhanaannya. Ada konflik-konflik kecil namun penyelesaiannya dilakukan dengan ngobrol dari hati ke hati. Di akhir bab ada resep masak atau membuat craft. Aaakk, kayak baca buku anak-anak! Ya emang buku anak sih hahaha beli di BBW. Covernya aja lucuk banget!

Littler Women: A Modern Retelling - Laura Schaefer
Beli di BBW

Book mails masih tetap buku elektronik ternyata.

1. A Thousand Questions - Saadia Faruqi (Rp 31.739)
2. Bibi Gill - Tere Liye (Rp 65.175)
3. The Joy of Missing Out - Tonya Dalton (Rp 39.674)
4. A Woman is No Man - Etaf Rum (Rp 29.665)

Wow ternyata jajan bukuku udah 3 selesai dibaca di bulan September :)) tidak menjadi tumpukan TBR *proud mama. Anyway, adakah judul buku yang sudah kamu baca dari daftar diatas?

Udah sejak lama aku pengen buat youtube channel yang isinya tentang buku. Sempet mempertimbangkan apakah ulasan buku umum atau semua buku yang aku baca. You know lah mayoritas buku yang aku baca itu novel. Alias fiksi. Kemudian terbersit di pikiranku: aku tuh pengen berkontribusi dakwah Islam lewat media sosial. Bukan yang langsung pake ayat, gitu. Somehow I'm afraid that people will judge me based on my social media posting comparing to real life me. Lol, coward.

What I Learn From Making YouTube Video

Selama ini aku hanya menggunakan media sosial untuk kesenangan pribadi. Ada sih kerjaan yang nambah uang jajan gitu.  Tapi didalam hati nurani ini masih ada "calling" untuk berdakwah. Akhirnya aku memutuskan ketika isi channel YouTube tentang buku-buku itu berupa rekomendasi buku-buku Islam.Toh sekarang udah banyak banget buku-buku Islam yang membuat kita bisa belajar secara perlahan-lahan. 

Ada kan ya orang yang nggak mau langsung masuk pembahasan "berat". Meskipun ya wajarlah bahas agama tuh berat, kan membahasnya tentang Allah. Tuhan semesta alam. Alhamdulillahnya buku-buku Islam sekarang banyak yang menggunakan bahasa lebih membumi. Dikemas dengan cara menarik dan mudah dipahami. 

Salah satunya ya ini, konten buku pertamaku di YouTube: Secrets of Divine Love. Dalam perjalanannya, aku udah merekam video untuk ulasan buku kedua. But somehow I feel like I need to take it again. I still look awkward and not organized. Ngerti nggak sih tipe yang ngomongnya tuh kebanyakan filler bukan langsung to the point? Nah that's how I evaluate myself.

Sebelumnya aku bikin video itu hanya untuk memenuhi tugas kantor. Itupun lebih banyak berperan behind the camera and doing the voice recording, so my face is not shown. I know making a video is not as simple as it seems. Kecuali emang bikinnya ga ada tujuan dan buat kepentingan pribadi aja. Untuk konsumsi publik? Need to prepare it thouroughly.

First thing first: script. Asli sih ini penting. Minimal garis besar atau listicle lah isi videonya itu mau apa. Ada guidancenya. Tanpa itu, dijamin video ga jelas juntrungnya alias menampakkan kekopongan diri.

Kedua: tahan bosen. Berlaku untuk single fighter. Means mulai dari preparation, shooting dan editing dilakukan sendiri. Edit video tuh harus berkali-kali nonton clip yang sama. Diulang. Sampe menghasilkan video sesuai keinginan.

Itu baru hal teknis. And there's bigger thing I feel while making Youtube video. Muncul suatu kesadaran di diriku. Berhubung aku mengulas buku Islam, aku mempertanyakan sejauh mana dampak buku itu di kehidupanku. Aduh berat.

Triggernya dari buku kedua tentang hijrah dari hallyu. You know right? Yep, all about Korea. Intinya buku tersebut membahas penyimpangan apa yang terjadi saat kita menasbihkan diri sebagai fanboy/fangirl. Dan posisiku disini masih menonton drama Korea (meski nggak sesering dulu). Masih denger lagunya. Masih ngikutin info selebnya. Masih suka kembali melihat MV atau potongan clip ketika butuh hiburan. Yah, kirain dikit ternyata aku nulis ini kok banyak juga masihnya?!???


I feel like betraying my own self. Menuju hipokrit (kok kejam ya aku melabeli diri sendiri huh). Cukup kaget sih dengan hadirnya kesadaran macam ini. No one judge me or tell me to do this and that but the hidayah comes to me. Hidayah tuh memang bisa dateng kapan aja dan bagaimanapun bentuknya kita nggak tahu, yah.


Am I going to stop making YouTube video? Sepertinya tidak. Justru aku harus lebih semangat lagi karena ada suntikan untuk memperbaiki diri. Belajar berkonten, belajar pula mengupgrade diri. Apakah ini rasanya glow up versi non physical? HEU.
“Waduh, jerawat lagi” - setelah menggumamkan kalimat tersebut, aku buru-buru mencari acne spot. Skincare yang aku yakini bisa mengempeskan jerawat dengan kilat. Sebagai pemilik kulit acne prone, produk tersebut sudah menjadi andalanku.

Review eBright Skin Matcha O'Cica Soothing Cream: Natural and Probiotic Skincare

Ada rasa cekit-cekit saat aku mengaplikasikannya. Nggak papa. Beauty comes with pain, isn’t it? Aku menahan rasa tingling itu. Hari kedua, ketiga, keempat….HAH, apa ini? Apa yang terjadi pemirsa? Jerawatnya nggak mengempes, tapi justru kulit di sekitar jerawat tersebut terlihat gosong. Area berwarna gelap itu tampak melebar. Seperti lebam. Duh, sedih.

Mana letaknya di dahi pula. Nggak bisa ketutupan masker. Sedih ku sedih~~ akhirnya aku memutuskan untuk berhenti menggunakan acne spot. Serum? Stop dulu deh. Aku kembali ke basic skincare: cleanser - toner - moisturizer - sunscreen. Yup, sudah beberapa minggu belakangan aku back to basic skincare.

Kali ini aku menggunakan moisturizer dengan kandungan unik: Centela Aciatica, Matcha, Aloe Vera, Lactobacillus Kefir/Milk Ferment Filtrate. Kesemua kandungan tersebut berpadu menjadi eBright Skin Matcha O'Cica Soothing Cream.

eBright Skin Matcha O'Cica Soothing Cream: Natural and Probiotic Skincare

Aku udah beberapa kali loh mengulas produk Ebright. Pertama: body care-nya. Kedua: make up (lebih tepatnya cushion). Dan terbaru, ternyata mereka mengeluarkan produk skincare! Oh tentu saja ada keunggulannya dong: they have both natural skincare and probiotic skincare.

Oh iya, selain 4 hero ingredients yang udah aku sebutin, masih ada hero lainnya nih. Apa aja? Skuy cek nih plus manfaatnya untuk kulit wajah.

  1. Matcha: Mengecilkan pori-pori, mengurangi jerawat & mengontrol minyak berlebih.
  2. Centela Asiatica: Menenangkan kulit, merangsang regenerasi sel kulit & menghilangkan jerawat.
  3. Niacinamide: Memperkuat skin barrier dan mencerahkan kulit.
  4. Aloe Vera: Mengurangi peradangan & menghidrasi kulit.
  5. Madu: Antimikroba dan anti-inflamasi.
  6. Hydrolyzed Hyaluronic Acid: Melindungi kadar air di setiap lapisan kulit & mengunci kelembapan kulit.
  7. Vitamin E: Membantu pembentukan kolagen untuk meningkatkan elastisitas kulit.
  8. Kefir: PROBIOTIK yang membantu meremajakan kulit dan melawan radikal bebas.

Ingredients-nya yang lagi hits semua nih, termasuk probiotik. Eh, udah tahu belum apa itu probiotik?

Probiotik adalah mikroorganisme hidup/bakteri baik yang memberikan manfaat kesehatan bagi tubuh. Ada penelitian yang menunjukkan bahwa beberapa probiotik memberikan bakteri sehat untuk menyeimbangkan pH kulit dan melindungi kulit dari kerusakan akibat radikal bebas.

Dengan kandungannya tersebut, eBright Skin Matcha O'Cica Soothing Cream mengklaim dapat menenangkan dan mengobati jerawat. Selain itu, bisa mengontrol produksi minyak berlebih (which causes acne, girls!) dan menjaga hidrasi sehingga pori-pori wajah terlihat mengecil.

I’m in lah kalo ada klaim lawan jerawatnya. We’ve been enemies for years! Haha.

Aku menggunakan ini selama 2 minggu terakhir sebagai tambahan moisturizer. Jadi aku pake double moisture. Hihi. Khusus untuk eBright Skin Matcha O'Cica Soothing Cream aku gunakan di bagian kulit berjerawat dan bekas jerawat.

Ingredients eBright Skin Matcha O'Cica Soothing Cream Natural and Probiotic Skincare

Ingredients: Water, Disodium EDTA, Allantoin, Polyacrylate-13, Polyisobutene, Polysorbate-20, Glycerine, Cetearyl Alcohol, Glyceryl Stearate, PEG-40 Stearate, Ceteareth-20, Cetyl Alcohol, Dimethicone, Stearic Acid, Ethylhexylglycerin, Phenoxyethanol, Centella asiatica (leaf) extract, Elaeis guineensis Oil, Honey, Camelia sinensis leaf extract, Lactobacillus/ Milk Ferment Filtrate (Kefir), Hydrolyzed Hyaluronic Acid, Niacinamide, PEG-40 Hydrogenated Castrol Oil, Aloe Barbadensis Leaf Extract, Propylene Glycol, Potassium Sorbate, Sodium Benzoate, Citric Acid, Sodium Metabisulfite, Tocopheryl Acetate, E102, C.I. 19140, FD&C Yellow 5, Acid Yellow 23, Food Yellow 4, trisodium 1-(4-sulfonatophenyl)-4-(4-sulfonatophenylazo)-5- pyrazolone-3-carboxylate), Brilliant blue FCF, Acid Blue 9, Erioglaucine, Black PN/Black C/Black VI.

eBright Skin Matcha O'Cica Soothing Cream comes in handy packages. Kemasannya mungil. Ada dua pilihan: 5 gram atau 10 gram. Tenang, keduanya udah berizin edar BPOM NA18210106340 dan tersertifikasi Halal, yah.

Tekstur eBright Skin Matcha O'Cica Soothing Cream

Secara tekstur, ini cenderung gel. Ringan ketika diaplikasikan ke wajah dan ada efek semriwing. Sepertinya sih karena kandungan aloe vera ya. Yang biasa pake aloe vera pasti setuju deh. Untuk aromanya jujurly dia tipis banget hampir-hampir ga ada. Good thing for you yang sensitive terhadap fragrance.

Performanya selama dipake gimana?

OK I tell ya. Di dahiku ada 2 bekas jerawat. Ketika aku mulai pake ini kayak mo nambah 1 jerawat. Aku buru-buru pake rutin si eBright Skin Matcha O'Cica Soothing Cream. Trus? Ga jadi membesar jerawatnya huhu ku sungguh senang.


Lalu di dagu ada jerawat. Kali ini emang udah numbuh dan cukup gede. Sama kayak sebelumnya, aku aplikasiin ini deh. Jadi semacam acne spot ga sih malahan? :)) Alhamdulillah jerawatnya kalem. Nggak menimbulkan rasa ngilu gitu.

Puas, aku tuh :))

Oh ya si eBright Skin Matcha O'Cica Soothing Cream ada kembarannya! Hihi, this is why they called the twin cream. Namanya eBright Skin Niacinamide 4% + Turmeric + Propolis Advanced Luminous Cream. 

eBright Skin Niacinamide 4% + Turmeric + Propolis Advanced Luminous Cream

Perbedaannya ada di hero ingredients. Dimana krim satu ini mengandung niacinamide 4% (waw lumayan tinggi juga ya!), turmeric, propolis, hyaluronic acid, vitamin E, vitamin C, arbutin dan kefir. Selain itu, krim kembarannya ini lebih berfokus ke anti aging.

Tekstur eBright Skin Niacinamide 4% + Turmeric + Propolis Advanced Luminous Cream

Secara tekstur nggak terlalu beda. Tapi aku belum mencoba serutin eBright Skin Matcha O'Cica Soothing Cream. Karena aku memang fokus ke jerawat. Kalau permasalahan kulitmu kusam, flek hitam, kulit kering dan mulai ada tanda-tanda penuaan, you can choose eBright Skin Niacinamide 4% + Turmeric + Propolis Advanced Luminous Cream yah.

***

Selain klaim yang udah aku sebutin tadi, twin cream ini both alcohol free, fragfrance free, paraben free, not tested on animal, no harmful ingredients, natural ingredients, and probiotic skincare. Cocok untuk remaja, dewasa muda (kek aku, ahzek), ibu hamil maupun menyusui. But of course for the two latest I strongly recommed you to consult to your doctor first! :)

The Twin Cream

Sooo, how is it? Which one catch your interest? Untuk mendapatkan keduanya kamu bisa beli di website atau marketplace kesayangan ya. #BetterWithProbiotic #NaturalSkincare #CantikYangMenenangkan
Review Goodbye, Things: Hidup Minimalis ala Orang Jepang - Fumio Sasaki

Judul: Goodbye, Things: Hidup Minimalis ala Orang Jepang
Penulis: Fumio Sasaki
Tahun Terbit: 2018
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 284

Sinopsis


Fumio Sasaki bukan ahli dalam hal minimalisme; ia hanya pria biasa yang mudah tertekan di tempat kerja, tidak percaya diri, dan terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain—sampai suatu hari, ia memutuskan untuk mengubah hidupnya dengan mengurangi barang yang ia miliki. Manfaat luar biasa langsung ia rasakan: tanpa semua “barangnya”, Sasaki akhirnya merasakan kebebasan sejati, kedamaian pikiran, dan penghargaan terhadap momen saat ini. 

Di buku ini, Sasaki secara sederhana berbagi pengalaman hidup minimalisnya, menawarkan tips khusus untuk proses hidup minimalis, dan mengungkapkan fakta bahwa menjadi minimalis tidak hanya akan mengubah kamar atau rumah Anda, tapi juga benar-benar memperkaya hidup Anda. Manfaat hidup minimalis bisa dinikmati oleh siapa pun, dan definisi Sasaki tentang kebahagiaan sejati akan membuka mata Anda terhadap apa yang bisa dihadirkan oleh hidup minimalis.

Review


Hidup minimalis sudah menjadi tren beberapa tahun belakangan. Dimulai dari meledaknya buku beberes ala Konmari hingga dibuat series. Kemudian bermunculan buku sejenis. Public figure di Indonesia pun ada yang mulai mempraktikkannya, seperti Raditya Dika.

Aku termasuk yang tertarik dengan topik ini. Beberapa followingku menerapkan konsep ini, yaitu mba Astri Puji Lestari dan Khoirun Nikmah (founder Gemar Rapi). Asupan konten yang aku dapat baru sebatas instagram, kemudian berlanjut ke kelas Eco Family beberapa bulan lalu. Konten dari buku justru belum tersentuh. Padahal aku punya bukunya tuh Konmari, nggak juga dibaca :P

Selain alasan mager baca non fiksi, aku khawatir dengan buku terjemahan kurang bisa dinikmati. Padahal belakangan aku baca beberapa buku dari luar negeri enak aja tuh bahasanya. Emang harus mengubah mindset aja sih.

Buku Goodbye, Things pertama kali aku liat di iPusnas. Tapi aku tergerak untuk baca justru di Gramedia Digital. Nggak berekspektasi apa-apa justru membuatku puas berhasil menyelesaikannya.

Apa yang dibahas di buku ini?


Ada 5 bab dalam buku ini. 
1. Mengapa Minimalisme?
2. Mengapa Kita Mengumpulkan Begitu Banyak Barang?
3. 55 Kiat Berpisah dari Barang; 15 Kiat Tambahan untuk Tahap Selanjutnya dalam Perjalanan Menuju Minimalisme
4. 12 Hal yang Berubah Sejak Saya Berpisah dari Barang-Barang Kepemilikan
5. "Merasa" Bahagia Alih-alih "Menjadi" Bahagia

Di awal buku, pembaca sudah ditunjukkan dengan foto perbedaan minimalis dan maksimalis. Perjalanan dari apartemen bertumpukan barang hingga minim barang. Ada pula potret beberapa minimalis selain penulis disertai takarir (caption) penjelasan.

Konsep minimalis sebenarnya nggak ada yang baku. Namun Fumio Sasaki mendeskripsikan bahwa minimalis tidak sama dengan punya sedikit barang. Minimalis menurutnya adalah konsep dimana kita tahu apa kebutuhan dan berusaha stick with it, nggak mau kalah dengan keinginan yang bejibun.

Biarkan hanya hal-hal yang betul-betul dibutuhkan yang tetap tinggal, dan melangkahlah maju mulai saat ini.

Baru beberapa puluh lembar aja aku udah mengiyakan. Benar. Contoh aku sendiri yang bekerja kantoran dan sesekali bertemu dengan konsumen. Agak gimana gitu kalo cuma punya kemeja 5 yang digunakan bergantian selama 5 hari kerja dan minggu berikutnya menggunakan kemeja yang sama :) 

Membuang barang nggak hanya melapangkan ruangan, tetapi dapat mengefektifkan energi dan waktu. Contoh sederhananya ketika akan bebersih, waktu yang dihabiskan seorang minimalis lebih singkat dibanding dengan mereka yang barangnya berlebih. Apalagi jika ada barang yang harus diangkat, dipindah, kemudian barang tersebut juga dibersihkan seperti patung. Dari contoh tersebut jelas seorang minimalis lebih efisien.

Rasa tidak bahagia bukan hanya akibat keturunan, trauma, atau hambatan karier. Menurut saya, rasa tidak bahagia timbul karena beban yang dibawa oleh semua barang-barang kita.

Bagaimana jika kita membutuhkan barang baru?


Menjadi minimalis bukan berarti nggak pernah beli barang baru, ya. Belilah jika memang dibutuhkan. Untuk Fumio Sasaki, ada 5 pertimbangan yang dilakukan, yaitu 1) bentuk barang minimalis dan mudah dibersihkan; 2) warna tidak terlalu mencolok; 3) bisa digunakan untuk jangka panjang; 4) strukturnya sederhana; 5) ringan dan praktiks; 6) multifungsi.

Namun sebelum membeli, ada opsi untuk 1) meminjam. Dengan cara ini mendorong manusia untuk bersosialisasi dengan orang lain. 2) menyewa. Banyak persewaan yang sekarang menawarkannya. Barulah kalau dirasa nggak ada, pilihan jatuh pada membeli.

Lagi-lagi aku mengamini poin diatas terutama meminjam. Selama ini (mungkin) kata meminjam diasosiasikan dengan hal buruk. Padahal bisa menghemat pengeluaran. Kecuali pinjam duit ya :P akupun pernah meminjam blazer, karena aku tahu benda tersebut jarang dipakai. Pun dengan persewaan, biasanya sewa baju adat/nasional untuk acara tertentu. Hanya digunakan setahun paling nggak sekali. Sisanya? Hanya menumpuk di lemari.

Satu hal yang nggak sreg sih: hanya memiliki 1 nomor rekening. Oooh tidak semudah itu, Ferguso. Aku butuh beberapa nomor untuk split budget dengan baik :D selebihnya I'm okay with this book's content.

***

Pada akhirnya, minimalis bukanlah suatu tujuan akhir. Melainkan metode. Apa yang dicapai? Kebahagiaan. Karena menurut Fumio, dengan menjadi minimalis dia merasa lebih bahagia, bersyukur, dan teratur hidupnya dibanding dia di masa lalu. Dibanding barang, dia lebih berinvestasi ke pengalaman serta hubungan dengan manusia. Nice reading. Aku malah merasa ini kok mirip buku psikologi, ya?

Saking yang dibahas ketenangan batin, detachment terhadap barang, mempersiapkan "kepergian". Good book to start a journey to be a minimalis.