Finally! Here we go to the most sought travel destination after Seoul and Busan! Jeju-do! Alhamdulillah masih dikasih kesempatan eksplor ditengah summer break kilat ini. 


Thanks to Indonesian girls yang sudah merencanakan dengan matang. Selama 4 hari 3 malam bener-bener mendalami kehidupan sebagai turis di Jeju.


Sekalian kronologis biar bisa dicontek itinerary bisa kali ya?

So, mari mulai dengan hari pertama a.k.a Day 1.

Dimulai dari Seoul kami keluar dorm jam 4 pagi! Dimana subuh itu 3.30. Penerbangan yang kami ambil masih masuk akal paginya. Bukan dini hari. Cuma biar aman aja kami lebih suka spare waktu. Bandara yang kami tuju bukan Incheon, melainkan Gimpo. 


Kami pesan taksi dari hari sebelumnya. Daan, tada! Sudah muncul saat kami keluar dorm. Perks of living in Korea: semua on time. Bahkan si sopir terkejut dan komen, wah kalian ternyata pagi juga datengnya. Perjalanan ke Gimpo Airport lebih cepat dibanding Incheon. Kurang lebih 30 menit ditemani playlist old korean songs dari supir.

Sampai di airport, kami self check in. Take konten. Menunggu boarding. 


Kami bawa paspor tapi ternyata nggak perlu. Karena udah punya kartu identitas disini. Semua berjalan lancar tanpa kendala. Airportnya bersih, jelas. Se-pagi itu banyak juga yang terbang ke Jeju. Maklum, musim liburan.

Selama 45 menit - 1 jam di udara, akhirnya sampai juga di Jeju. Hello Jeju~


Hari pertama ini kami langsung menuju U Island. Atau lebih dikenal dengan Udo. Jaraknya cukup jauh karena berada di sisi timur. Sedangkan bandara terletak di sisi utara. Kami pilih naik bus. Drama nomor 1 dimulai. Jadi di Jeju ini interval bus-nya nggak sesingkat Seoul. Ketinggalan 1 bus, bisa menunggu 30 menit sampai 1 jam kemudian. Sempat bingung dan gonta ganti jalur antrian. Antara bus nomor 300an atau 100an gitu.


Akhirnya kami memilih salah satu kalau nggak salah bus nomor 111. Dan, ya. Berhasil untuk menuju Seongsan Port. Pelabuhan dimana kami harus menaiki ferry menuju Udo. Metode pembayaran menggunakan T-money. Penting untuk top-up. Aku mengisi saldo sekitar 25 atau 28 ribu KRW untuk trip ini. Biayanya 3000 atau 4000 KRW sekali jalan ke Seongsan Port. Untuk kami yang membawa koper bisa diletakkan di bagasi sisi kanan bus.

Sepanjang jalan, pemandangan hijau dan hewan seperti kuda terpampang nyata. Culture shock: supir bus disini lebih fast furious daripada Seoul punya. Aku yang dapet tempat duduk di paling belakang sungguh diuji ketahanan agar tidak muntah :)) setiap guncangannya tuh aduhaaai berasa sekali~

Sekitar 1,5 jam menahan mual, akhirnya sampai juga di Seongsan Port. Halte paling ujung dari rute ini. Dengan menggeret koper grudak gruduk kami membeli tiket. 

Sempat bingung gimana caranya, ternyata:
1. Isi form. Ada 2 form yang harus diisi, form 1 untuk kepergian. Form 2 untuk balik. Sama sih isinya. Kayaknya cuma untuk memastikan aja semua balik. Isiannya nama, nomor ID atau paspor, nomor handphone dan jenis kelamin
2. Bayar di loket per orang 10.500 - 11.000 KRW.
3. Tetap pegang tiket untuk menyeberang

Muncul pertanyaan selanjutnya, mau ditaruh dimana koper kami?

Di sebelah tourist information tersedia loker. Tapi ukurannya kecil, nggak muat untuk koper kabin ini. Akhirnya disarankan menuju ke CU untuk dititip. Biayanya 4000 KRW per koper. 


Jangan harap ada receipt ya, ini sih nggak resmi. Yaudah gapapa kan ga mungkin kami bawa sampe ke Udo? :)) cuma terima cash!

Ferry pertama ke Udo sekitar 7.30 - 8.00 pagi.
Jam terakhirnya 05.00 - 06.30 sore. Tergantung musim dan ombak. Interval 30 menit sekali. Waktu tempuh 15 - 20 menit.

Perlu antimo nggak? Nggak. Aman. Ombaknya bersahabat. Penumpang bisa pilih mau outdoor (lantai 2) atau indoor (lantai 1). 



Di bagian indoornya berupa ruangan luas tanpa sekat dan tempat duduk. Konsepnya ngemper gitu. Kelebihannya ada AC jadi lebih adem. 


Waktu berangkat kami pilih outdoor. Pas balik pilih indoor. Tepar se-tepar teparnya dengan kondisi terik matahari yang menyengat.


U Island (Udo)

Sampai di Udo, kami sewa sepeda listrik. Ada beberapa pilihan harga gitu. Awalnya kami langsung dikasih yang 25000 KRW. Ga mau dong, orang ada pilihan 20000 KRW. Tipenya ada yang single, ada juga yang kayak mobil mini kapasitas 3 orang. Tipe mobil ini enak sih bisa terlindung dari panas, tapi kurang dapet vibesnya untuk kami berempat yang sudah dewasa.


Dilihat dari cara stafnya memperlakukan kami, mereka udah biasa dapet turis mancanegara. Terutama turis China buanyak banget! Usut punya usut kata temenku sih karena Jeju itu deket dari Shanghai. Oooh, masuk akal. Stafnya bisa ngomong mandarin pun.

Waktu kami nanya gimana cara pake sepeda listriknya, staf yang notabene udah uzur bisa menjelaskan dengan english patah-patah. Appreciate lho. Jangan heran juga ya kalau tenaga kerja disini kebanyakan lanjut usia. Memang Korea mengalami yang namanya aging society. 

Dengan angka harapan hidup tinggi (artinya banyak lansia masih sehat) dikombinasikan dengan rendahnya angka kelahiran, ya alhasil populasi diisi dengan lansia. Mungkin di Seoul nggak terlalu keliatan. Begitu ke luar Seoul, jarang banget ngelihat anak usia sekolah atau dewasa muda. 

Okay lanjut. Jadi kegiatan siang bolong itu adalah keliling Udo. Sampai sekarang masih nggak habis pikir, kok kuat ya mana nggak pake topi pula. LOL.






Desain rumah dengan pagar batu dan atap berwarna biru ini ada makna tersendiri. Jeju punya nickname Samdado ("Island of Three Abundances"): angin, batu, dan perempuan.

Pagar batu berfungsi sebagai windbreaker. Bebatuan ini disusun tanpa perekat ataupun semen. Sengaja dibuat seperti itu agar angin bisa masuk perlahan-lahan di sela bebatuan. Sehingga yang masuk kerumah bukan lagi angin kencang. Lebih ke sepoi-sepoi.

Untuk atap berwarna birunya, dimulai dari tahun 1970. Awalnya jerami digunakan sebagai atap. Seiring dengan modernisasi, pemerintah menggalakkan pembaruan dengan  mengganti menjadi atap yang lebih kuat dan tahan lama. Ada unsur estetik juga kan dengan perubahan ini.


Entah kenapa kami nggak nyicip peanut ice cream yang terkenal itu. Bahkan sampai udah balik lagi ke Seoul :)) gapapa lah artinya emang kudu remidi. Menyenangkan sekali bisa sepedaan cantik di pulau yang juga cantik. I keep thinking to myself, I don't know when will I get another chance to spend this kind of time. Just enjoying the nature without any other thoughts. So so grateful for this opportunity.

Puas di Udo, kami lanjut ke hotel. Sengaja pilih yang masih sekitaran Seongsan Port karena masih ada destinasi yang akan kami kunjungi.

K-drama Spot: Rumah Cho Yong Pil



Ada yang nonton drama Welcome to Samdal-ri? Banyak lokasi syutingnya di Jeju. Meski bukan di satu titik terpusat. Kayaknya emang jarang ya.



Nah untuk rumah ini paling sering muncul di konten medsos. Alamatnya di 시흥상동로68번길. Sekitar 5 bus stop dari Seongsan Port? Terjangkau. Sebenarnya rumah ini tuh ada penghuninya. Pengunjung tetep boleh foto-foto asal nggak berisik. Ada bannernya juga kok didepan tentang informasinya. So, don't worry.

Agak salah fokus, halamannya tuh wangi kenanga banget. Enak!

K-drama Spot: Gimnyeong Beach



Destinasi terakhir di hari pertama masih k-drama spot, yaitu Gimnyeong Beach. Highlight disini pantai pasir putih dengan warna hijau turqoise dan ombak minimal. Tenang banget. Di kejauhan nampak pula kincir angin. Semakin menambah estetika.

Katanya ini muncul di episode 12 Samdal-ri. Entahlah, sejujurnya aku nggak nonton dramanya. Hehe..

Karena ombaknya tergolong aman, banyak warlok terutama cowok-cowok remaja nyebur disini. Emang se-tenang itu. Behubung kami dateng saat matahari terbenam, Alhamdulillah dapet warna warni yang cantik banget!



Tanpa pernah kami tahu bahwa itulah sunset terakhir kami di Jeju! Haha. Setelahnya yang kami dapet awan gelap, kabut dan hujan deras :)) Alhamdulillah masih rezeki.

***

Begitulah hari pertama kami yang menyenangkan di Jeju. Untuk tempat makan aku sengaja nggak masukin ya. Mayoritas menunya seafood. Tapi kan preferensi dan standar halal mungkin beda. Daripada menimbulkan perdebatan~ cukup lokasi wisata aja yang aku ceritain :P

Anyway, kami harus tidur awal agar bisa bangun pagi di hari kedua. Kenapa? Mau kemana? Lanjut di postingan berikutnya~
Masih membahas perbukuan, mari berlanjut ke toko buku di Seoul. Ada buuanyak banget toko buku independen. Pastinya estetik dan instagram-able. Menurutku pribadi salah satu daya tarik Korea khususnya Seoul tuh banyak barang lucu dan estetik. Secara prinsip minimalisme nggak sejalan memang. Ngapain beli barang cuma untuk visual tanpa fungsionalitas yang jelas? Di sisi lain, indera penglihatan beneran dimanjakan.

Oke, balik ke topik. Toko buku. Sejauh ini aku belum banyak eksplor toko buku. Alasannya 1) Kebanyakan jual buku bertuliskan hangeul. Dah tau kan kendalanya dimana? Takut gak kebaca 2) Punya banyak TBR. LOL. Alhasil maksud kedatangan ke toko buku lebih ke menambah pengalaman visual dibanding berbelanja.

Di Korea, ada jaringan toko buku gede semacam Gramedia. Namanya Kyobo. Bisa ditemui di banyak cabang, ada online-nya juga. Kalau mau cari buku yang bisa dibilang lengkap dan terbaru stoknya, ya di Kyobo. Tapi kalau merasa "intimidated" dengan toko buku gede, toko buku independen bisa jadi alternatifnya.

Kyobo Gwanghwamun



Cabang Kyobo terbesar di Korea, dalam artian koleksi bukunya. Kalau secara ukuran luas bangunan dan gedung, masih lebih besar Kyobo cabang Gangnam.

Luasnya 9000 meter persegi. Punya 2.3 juta buku (OMG kebayang nggak sih seberapa banyak?). Banyak bagian yang bisa kita ulik. Buku anak-anak, best-seller, buku berbahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Ada kedai kopi.



Mereka tuh sangat memfasilitasi orang baca buku, nggak cuma beli buku. Disediakan area baca anak, area baca dewasa. Khusus yang dewasa ini selalu penuh dan suasananya nyaman dengan pencahayaan temaram serta balutan warna kayu yang menghadirkan kesan intimate dan hangat. 

Oh ya, sebagai mahasiswa Yonsei dapat diskon 10% yang bisa dimanfaatkan. Lumayaannn...


Jam buka:
Setiap hari 09:30 – 22:00 KST

Akses: 
Gwanghwamun Station (Line 5), Exits 4 atau 5 (langsung nyambung ke bangunannya!)

Itaewon Bookstore



Dari toko buku besar, lanjut ke toko buku kecil. Saking kecilnya kalau dua orang papasan di koridor mau nggak mau bersenggolan. Hehe. Kok kayak gang senggol jadinya?

Katanya toko buku ini tuh berdiri sejak 1973. Awalnya pemilik pertama hobi ngumpulin buku dan majalah dari base militer US. Iya, daerah Itaewon-Yongsan itu kan dulunya base militer US. Bahkan di Yongsan sampai sekarang masih ada bangunan khasnya dengan bata merah. Nah sekarang usaha ini dilanjutkan sama anak perempuannya. Pas liat beliau di meja kasir, penampilannya vintage gitu.



Disini angin surgawi buat yang nggak bisa bahasa Korea. Bukunya bahasa Inggris semua! Kebanyakan bekas, walau ada juga yang masih baru. Ada juga beberapa buku aku temukan berbahasa Jerman dan Prancis. Meski bekas, menurutku harganya bukan di range murah sih. Yaah pinter-pinter berburu aja :D

Jam buka:
Setiap hari 11:00 – 20:00

Akses:
Noksapyeong Station (Line 6), Exit 2

Chaekbognyang



Kalau yang ini definisi hidden gem se-hidden hiddennya. Letaknya bukan di pinggir jalan, melainkan perumahan. Bahkan dari depan nggak keliatan tanda toko bukunya. Kami harus cek reviewnya biar nggak salah ketuk. Untuk buka pintu diminta pelan-pelan karena....pemiliknya adalah kocheng! Haha, nggak deng. Lebih tepatnya ada kocheng yang dipelihara disitu.

Nama Chaekbognyang ini udah menjelaskan sebenarnya. Chaek (buku), Bo (studio), and Nyang (suara kucing dalam bahasa Korea. Mirip "meow" gitu deeh). Bagi penggemar kocheng bakal suka banget. Semua yang dijual serba kocheng. Koran, majalah, buku, kartu pos, pin, daan sebagainya. 




Waktu kami kesini ada sepasang suami istri dan anak, si anaknya sibuk mengelus-elus kocheng kaya ngga mau pulang. LOL. Kochengnya emang lucu dan gemoy sih. 

Jam buka:
Kamis-Minggu 13:00 – 19:00

Akses:
Subway Line 4 to Hansung University Station

Alladin Bookstore 




Toko buku satu ini bisa dibilang versi secondhand dari Kyobo. Meskipun namanya toko buku bekas, jangan salah. Buku yang ditawarkan dalam kondisi bagus bagus banget! Interiornya bersih, terang benderang, nggak kumuh. Malah kayak di perpustakaan.


Harga yang ditawarin juga beneran murah, ada setengah sampai sepertiga dari harga baru. Sampai saat ini ada 21 cabang di Seoul. Dan cabang Jongno yang pernah aku kunjungi ini adalah yang terbesar untuk koleksi berbahasa Inggrisnya. Cabang lain yaitu Sinchon terdekat dari kampusku, tempat dimana aku beli e-reader keduaku :))


Denger-denger sih di Alladin bisa terima buku bekas juga kalau kita mau jual. Kebenarannya entahlah, belum pernah coba sih..

Masih banyak toko buku atau kafe buku yang belum sempat kusambangi. Apakah list ini akan bertambah? Entahlah, lihat nanti :P

Ada yang pengen dikunjungi nggak nih dari list diatas?
Masih dalam rangka menghabiskan liburan musim dingin, eksplorasi kami berlanjut. Kali ini tidak menginap, hanya perjalanan sehari. Alias day trip.


Kota ini bernama Gangneung. Tulisan versi hangeulnya Gang-reung. Karena kaidah tajwid korea dibacanya Gangneung. Ya begitulah...

TMI kota ini dulunya jadi alasanku bikin paspor. Orang bilang jangan mau jujur untuk umroh. Katanya nanti dikasih paspor yang halamannya sedikit. Kebetulan saat itu aku habis liat story instagram seorang influencer tentang perjalanannya ke Gangneung. Ya sudah kucomot asal aja nama kotanya. Eh, beneran terwujud :)) Alhamdulillah.


Jarak Seoul-Gangneung sekitar 200an km. Bisa ditempuh 2jam-an menggunakan KTX. Yeay, naik kereta lagi kita. 


Kami bela-belain berangkat sebelum subuh agar puas eksplor Gangneung. Matahari terbit musim dingin agak "terlambat", sekitar pukul 06.30an. 

FYI, sama dengan Busan, destinasi utama Gangneung adalah pantai. Bedanya terletak di karakteristik. Pantai di Busan dangkal dan landai. Cocok untuk berenang. Sedangkan pantai di Gangneung lebih dalam dan curam, ombaknya lebih menantang. Lebih cocok untuk surfing, mungkin?



Destinasi kami di Gangneung hanya 3. Pertama, BTS Bus Stop. Kedua, Jumunjin Breakwater. Ketiga, Amok Beach. Apa yang menarik dari ketiganya? Yuk kita liat.

BTS Bus Stop



Hampir selalu ada di rekomendasi video user instagram yang berkunjung ke Gangneung. Kami nggak mau ketinggalan, dong. Langsung dari stasiun kesini. Ada plusnya datang pagi: belum rame. Berasa pantai pribadi gitu cuma ada kami selama sejam-an.


Ini tuh bukan halte bus beneran ya. Melainkan lokasi syuting album BTS berjudul You Never Walk Alone di tahun 2017. Masuk juga di music video "Spring Day". Plis udah pada tau kan BTS itu siapa? Ya benar. Grup jebolan Bighit yang prestasinya sampe diundang UN untuk kasih speech tentang Love Yourself.

Perspektifku dari yang biasa aja bukan fans, bus ini tuh...yaudah gitu aja. Bangunan kotak berwarna ungu, berlatar belakang pantai. Perasaan muncul setelah liat kondisinya mengelupas sana sini dan terlihat lusuh. Akan lebih baik bila dicat ulang agar keliatan lebih segar. 

Saking udah terkenalnya, di seberang bus stop ini didirikan sebuah apa ya? Kayak tiang tempat naruh handphone. Siapapun yang dateng kesini meskipun sendiri bisa mengabadikan gambarnya.

Lokasinya ada di Hyangho Beach. Dari stasiun Gangneung bisa naik bus nomor 302 atau 314. Haltenya deket stasiun aja cuma butuh keluar lalu kearah kanan. Sedangkan halte bus di dekat tujuannya masih berlokasi diluar. Pengunjung harus masuk ke komplek pantainya dengan jalan kaki.

Bayar nggak? Ya, bisa ditebak. Gratis. Herannya disini juga nggak ada yang jualan gorengan. Atau nawarin dikepang *gak gitu ya. Intinya kayak, wah sepi ya. Atau kami datengnya kepagian? Entahlah.

Oiya selain bus stop ada juga bangku berwarna ungu bertuliskan member BTS. Aku cuma foto beberapa aja karena jaraknya agak jauh wak. Effort.



Sisanya kami habiskan dengan menikmati deburan ombak Gangneung beserta pasir putihnya. Nggak nyebur? No thanks, dingin banget nggak kuaaaat.

Jumunjin Breakwater



Ngakak banget sih ini kalau inget sempet nyasar waktu cari alamatnya. Yang kami datangi malah tempat lain di seberangnya. Saranku sih mending GPS aja, Gunakan Penduduk Sekitar. Tanya dimana tempat syuting drama Goblin (tentunya pake bahasa Korea ya, dukkaebi). InsyaAllah warloknya tau~

Saking hits-nya nih di tahun 2026 para cast-nya sampe napak tilas juga. Scene yang terkenal disini waktu Gong Yoo dan Kim Go Eun ketemu pertama kali. Si Go Eun bawa bunga, pake syal merah. Nggak bawa props? Tenang!



Ini aku baru tau malah setelah balik. Di sekitar situ ada toko yang nyewain props-nya. Jadi kalau mau me-reka ulang adegan cukup pake kostum aja, propertinya bisa pinjem. 


Kalau udah puas foto-foto boleh deh mampir di resto-resto seafood seberangnya. Enak~

Amok Beach



Sesuai dengan judul, destinasi akhir kami lagi-lagi pantai. Pantai di Gangneung ini BANYAK BANGET tinggal pilih mana yang cocok. Bus yang kami tumpangi pun ibaratnya mengelilingi jalanan pinggir pantai.

Kenapa kami pilih Amok Beach? Karena disini terkenal dengan coffee street-nya. Alias banyak kedai kopi. Ada beberapa kopi yang terkenal dari Gangneung, diantaranya:
1. Black Sesame Cream Latte (흑임자 라떼)
2. Chodang Soft Tofu Coffee (초당순두부 커피 / 아이스크림)
3. Cho-dang Corn Coffee (초당옥수수 커피)
4. Ocean Sea Salt Lattes (바다 소금 라떼)
5. Traditional Hand-Drip & Single-Origin Specialty Coffee


Temanku sendiri pesan kopi jagung. Rasanya? Ya...ada rasa jagungnya. Unik. Aku nggak pesen berhubung bukan peminum kopi. Tapi menurut dia experience cobain kopi ini menarik. Mungkin cocok bagi siapapun yang tertarik dengan per-kopi-an.

And then? Balik deh kami ke Seoul. Seharian dengan 3 destinasi cukup menyenangkan tanpa merasa terlalu lelah. Walau akhirnya kami menggunakan taksi untuk ke stasiun demi mengejar waktu. Hehe. It's okayyy.


At least bisa menambah ceklis kota yang dikunjungi di Korea. 
Kira-kira ada spot yang menarik nggak nih?

PS: tulisan ini udah di-draft dari awal tahun tapi baru sempat publish. Jangan heran dengan penggunaan kalimat liburan musim dingin yah :P
Ih...ga nyangka...bisa juga bikin series ini. Mau tulis keliling perpustakaan di Korea kok setelah dicek masih di Seoul aja. Gapapa gapapa. Tandanya harus maen keliling Korea. Yuklah dicek mana aja yang udah didatengin!

National Library of Korea



Perpustakaan nasionalnya Korea. Bisa dibilang setara Perpusnas. Isi dari perpustakaannya repositori arsip nasional Korea. Maka dari itu, beda dari perpustakaan lain yang bisa asal masuk aja, disini pengunjung harus mendaftarkan diri.

Apakah perlu reservasi online? Nggak. Pas dateng, samperin aja meja resepsionis di sebelah kiri. Kalau udah punya ARC bisa daftar keanggotaan. Kalau ga punya? Bisa minta kartu akses sebagai tamu. Pengunjung dibatasi usia 16 tahun keatas. 

Laptop Zone


Ada 5 lantai yang bisa dieksplor. Tempat duduknya terbilang banyak dibanding perpustakaan distrik *yaiyalah. Toiletnya nyaman berbidet ((penting)). Ada foodcourt. Lalu yang unik ada bilik telepon!


Bentuknya mirip dengan yang di London itu. Yaah walaupun belum pernah kesana. Hihi.

Perpustakaannya lumayan riding the wave, aku menemukan satu rak yang isinya rekomendasi buku yang dibaca member BTS.


Kalaupun belum minat baca buku, bisa menikmati museumnya tanpa harus registrasi. Tentang sejarah percetakan di Korea, mulai dari mesin tik, komputer jadul, tipe kertas, dll. Ada juga bagian immersive collection yang memadukan literasi dengan teknologi. Bisa laah buat museum date tipis-tipis~



Waktu operasional
Setiap hari 09.00 - 18.00
Libur setiap Senin minggu ke-2 dan ke-4 tiap bulan, Seollal dan Chuseok

Cheongun Literature Library (청운문학도서관)



Lanjut ke perpustakaan tematik. Katanya viral di tiktok. Lokasinya nggak jauh dari Gyeongbukgung Palace. Jadi kalau cuma punya waktu sebentar di Seoul masih bisa banget berkunjung kesini. Menurutku bakal estetik ketika ada tumpukan salju. Coba nanti musim dingin dateng lagi.


Yang menantang disini tuh medannya. Agak naik turun shay. Maklum sebelahnya memang ada trail Inwangsan untuk hiking alias 등산. Tapi perjalanan menuju perpustakaannya sungguh estetik. Penuh dengan rimbunnya daun, berasa bukan di kota. 

Bangunannya ada 2 lantai. Yang pertama lantai 1 disinilah favorit pengunjung. 



Kayak bukan ke perpustakaan, lebih ke rumah tradisional Korea alias hanok. Nyaman banget lho duduk disini. Udah ada wifi dan ((colokan)) pula. Kenapa desain dia tradisional? Karena fokusnya ke puisi, esai, literatur klasik. Ceritanya biar bisa dapet inspirasi dari alam gitu~ Ceilah.

Kalau mau pinjem buku baru deh turun ke basemen yang isinya koleksi lebih banyak. Termasuk kalau butuh fasilitas seperti toilet atau minum, bisa turun. Langganan berbagai macam koran dan majalah, mantap dah!


Waktu operasional
Selasa - Jumat 09.00 - 21.00
Sabtu - Minggu 09.00 - 19.00
Libur setiap Senin

Seoul Metropolitan Library


Perpustakaan selanjutnya yang gampang aksesnya karena satu area sama City Hall alias Balai Kota Seoul. Bangunannya ikonik dengan struktur yang dipertahankan dari tahun 1926. Kenyamanannya ya tentuu saja nyaman. Terutama toiletnya sih aku baru tau ini ada bidetnya. LOL. Penting kalau misal lagi ada di sekitaran sini dan butuh toilet berbidet, numpang aja.

Sejujurnya belum pernah stay lama disini. Cuma baca 1 picture book bocil aja habis itu udah. Kata temenku sih ada bagian koleksi negara lain, hasil dari donasi. 

Kalau mau sekalian ambil foto bisa banget melipir ke sebelahnya: Seoul Gallery (서울갤러리) tepatnya di lantai B1 dan B2. 

Waktu operasional
Selasa - Jumat 09.00 - 21.00
Sabtu - Minggu 09.00 - 18.00
Libur setiap Senin

Bangbae Forest Environment Library



Ada kemiripan dengan Cheongun Library dimana sebelahnya persis tuh ada trail tipis-tipis. Ada gazebonya pula. Bisa melipir sejenak keluar kalau bosan didalam ruangan. 



Kenapa namanya environment library? Karena bangunannya tuh dominan bahan dan warna kayu. Bagian tengahnya tuh open jadi pengunjung bisa ngerasain angin sepoi-sepoi. Nggak berhadapan juga dengan tembok. Enakeun deh~

Salah satu perpustakaan yang jam bukanya lama. Sampe jam 10 malem mantep ga tuh.


Waktu operasional
Senin - Kamis 09.00 - 22.00
Sabtu - Minggu 09.00 - 18.00
Libur setiap Jumat

Starfield Library



Ada beberapa perdebatan apakah ini bisa dibilang perpustakaan? Atau tempat foto-foto? Aku pun dateng kesini cuma mampir foto habis itu...yaudah :)) saking ramenya. Rasanya tuh mau baca disitu nggak bisa konsentrasi saking isinya orang banyak. Harap maklum karena secara tujuan dibangunnya memang untuk culture plaza dibanding perpustakaan konvensional dengan ke-hening-annya.

Buku yang dipajang betulan buku ya, bukan mock up. Boleh dibaca ditempat asal dikembalikan. Menurutku pribadi masih bisa banget dikategorikan perpustakaan. Karena 1) tersedia kursi dan meja untuk baca, 2) ada aktivitas literasi berjalan. Seperti waktu aku berkunjung tepat ada bedah buku salah satu chef jebolan Culinary War.



Enaknya disini nyatu dengan mal dan subway! Jadi nggak repot carinya. Oh ya, di area COEX ada juga musholanya. Paket komplit kan~

Buka setiap hari 10.30 - 22.00

National Assembly Library



Perpustakaan yang dikunjungi karena dapet fasilitas field trip dari kampus. Letaknya di gedung National Assembly di Yeouido. Ini tuh fungsinya semacam DPR di Indonesia.

Menurutku ini salah satu perpustakaan yang koleksinya keren sih. Ada beragam langganan jurnal. Koleksi buku dibagi tiap geografi wilayah. Misalnya Asia Tenggara, Timur Tengah, dll. Bahkan aku menemukan koleksi Indonesia dan Palestina disini. Keren euy.







Lalu untuk fasilitasnya juga setingkat lah sama National Library of Korea. Ada bilik khusus dengerin musik, nonton video, akses digital. Ruangannya modern dan terang-benderang. Terlihat mewah.

Untuk bisa masuk harus registrasi dulu di website National Assembly. Dan ada minimal umur, yaitu 16 tahun keatas. 

Waktu operasional
Senin - Jumat 09.00 - 21.00
Sabtu - Minggu 09.00 - 17.00
Libur setiap Sabtu minggu kedua dan keempat

Songpa Book Museum



Yang ini bukan perpustakaan sih, tapi lebih ke museum. Cumaaa...disediakan juga buku dan area bacanya. Buka di tahun 2019, museum ini tuh museum pertama Korea yang didedikasikan untuk semua berbau buku. Isi pamerannya tentang sejarah literasi di Korea, mulai dari zaman dahulu kala sampai zaman modern. Kemudian ada rak buku untuk tren tiap masa.

Terdiri dari 3 lantai, dimana:

1. Basemen


Memajang artefak arsip peninggalan dari masa ke masa. Menarik sih bagaimana perubahan literasi di Korea terjadi. Terutama di awal menggunakan aksara hanja-chinese, lalu berubah menjadi hangeul sejak masa Raja Sejong. Banyak loh kata dari bahasa Korea sebenarnya serapan dari bahasa China.

2. Lantai 1
Disini are baca yang kubilang, menghubungkan antara basemen dengan lantai 2. Temboknya dipenuhi dengan rak buku, lalu tengah ada undakan untuk area baca. Waktu aku kesini banyak orang tua dan anak menghabiskan waktu bersama untuk menikmati buku.

3. Lantai 2


Menurutku disini paling seru. Vibes museum modernnya berasa! Tema-nya pameran terkait buku anak-anak. Nggak heran desainnya warna warni mencolok. Seperti halnya museum di Korea, ada bagian interaktif yang bisa dicobain. Disini berupa sudut untuk foto dengan latar belakang yang kita bisa pilih. Hehe, cute abiez!


Waktu operasional
Selasa - Minggu 10.00 - 18.00
Libur setiap Senin, Seollal dan Chuseok

***

Secara umum, aturan perpustakaan di Seoul tuh nggak boleh berisik. Detailnya pasti ada di setiap perpustakaan, cuma biasanya dalam bahasa Korea. Sediakan waktu sejenak untuk translate-nya. Jangan sampai salah kayak aku, pernah duduk di area bocil :)) untung nyadar sendiri tanpa harus diingetin.

Boleh bawa minum, kopi gitu pun boleh di area tertentu. Makanan yang nggak boleh. Ada perpustakaan yang harus naruh barang di loker, ada yang enggak. Biasanya yang enggak ini perpustakaan distrik. Fasilitas umumnya wifi gratis, toilet, dan dispenser minum. Kadang disediakan teh! 

Semua perpustakaan yang aku tulis disini gratis tis tis untuk didatengin. Pinjem buku atau menggunakan fasilitasnya pun gratis asal ada kartu keanggotaan. Bisa request buku untuk kalau yang dicari nggak ada.

Jadi kayak gini nih negara maju. Perpustakaannya bukan lagi di tiap kota/kabupaten, tapi di tiap distrik. Malah di distrik dibagi lagi, ada perpustakaan khusus anak-anak, perpustakaan orang tua, dan perpustakaan umum. Sangat aksesibel dan mengakomodir segala usia. Jam buka pun ramah untuk semua kalangan.

Pemerintahnya sadar bahwa literasi itu penting untuk kemajuan sebuah negara. Sebagai negara demokrasi sih sepertinya sudah layak, dimana 70% anak muda (25-34 tahun) lulusan kuliah atau 56% (25-64) usia produktifnya lulusan kuliah. Artinya gap pendidikannya, tingkat intelektualitasnya bisa dipertanggungjawabkan. Bobot suara 1 orang dan yang lain nggak jauh.

Beda dengan Indonesia yang sarjananya masih 13-19%. Nggak imbang dong suara orang berpendidikan tinggi disamakan bobotnya dengan yang nggak berpendidikan? Ah sudahlah nggak mau bahas lebih jauh :))

Perpustakaan disini tuh juga nggak masalah banget lho dateng duduk tidur. Apa yaa, jadi semacam safe space buat warga. Pas musim panas, jadi tempat berlindung dari terik matahari. Di musim dingin, bisa untuk tempat menghangatkan tubuh. Tua, muda, laki-laki, perempuan, lokal, foreigner, nggak dibedakan!

***

Diantara perpustakaan ini, mana yang paling bikin penasaran dan pengen dikunjungi?