Wednesday, October 30, 2019

Hotel Ndalem Sidoarum dan Lokasi Wisata Sekitarnya

Salah satu hotel di Jogja yang bisa kamu pilih dan direkomendasikan adalah Hotel Ndalem Sidoarum. Seperti namanya, hotel ini terletak di daerah Sidoarum. Pastinya ada alasan mengapa hotel ini cukup direkomendasikan dan nggak akan membuat kamu menyesal sesaat setelah masuk ke kamar atau hotelnya.

Sumber: https://www.tiket.com/hotel/indonesia/oyo-1591-ndalem-sidoarum-209001569204906345
Adapun alasan-alasan mengapa hotel ini cukup direkomendasikan antara lain karena lokasinya yang cukup mudah terjangkau, harga yang cukup murah, fasilitas yang cukup lengkap, dan lain sebagainya.

Buat kamu yang akan datang ke Jogja entah untuk berliburan atau perjalanan bisnis, bisa memilih hotel ini supaya kamu merasakan diri bagaimana kenyamanan menginap di hotel ini. Namun demikian, solusi plus plus akan didapatkan jika kamu datang ke Jogja untuk berliburan.

Rute menuju ke hotel ini bisa membuatmu mampir ke beberapa tempat menarik di Jogja. Karena hal ini, kamu nggak perlu mengkhususkan perjalanan ke wisata. Karena bisa sekalian perjalanan wisata sambil menuju ke hotel.

Rekomendasi Rute Wisata yang Searah

Sebelum membahas apa saja wisata yang direkomendasikan ketika menuju ke hotel ini, pertama-tama pastikan dulu apakah kamu datang ke Jogja dengan pesawat, kereta api, bus, atau transportasi apa. Jika kamu menggunakan pesawat, akan menjadi perjalanan cukup jauh untuk bisa datang ke hotel ini.

Kamu akan melakukan perjalanan sejauh 18 kilometer dari Bandar Udara Adi Sucipto. Sedangkan kamu yang turun ke Jogja di New Yogyakarta International Airport akan menempuh jarak sejauh 40 kilometer untuk sampai ke hotel ini.

Kamu yang memilih kereta memang bisa memilih untuk turun di Stasiun Lempuyangan atau Stasiun Tugu. Namun karena tujuanmu kali ini adalah hotel yang berada di Sidoarum disarankan untuk turun di Stasiun Tugu saja, keduanya hanya berjarak 6 kilometer. Untuk kamu yang datang ke Jogja menggunakan bus umum, bisa turun di Terminal Giwangan yang jaraknya 15 an kilometer dari Sidoarum.

Oke, itulah pilihan transportasi ke Jogja yang bisa dipilih. Tak menutup kemungkinan untuk datang dengan transportasi pribadi, malahan kamu bisa langsung datang ke hotel ini sendiri. Baik dengan transportasi umum atau transportasi pribadi, saat perjalanan menuju ke Hotel Ndalem Sidoarum akan menemukan berbagai wisata yang direkomendasikan. Berikut akan disebutkan satu per satu wisata yang bisa kamu pilih.

Malioboro 
Malioboro terletak sangat dekat dengan Stasiun Tugu, jika dari Stasiun Tugu kamu bisa ke Malioboro dengan jalan kaki, ojek, atau taksi. Kamu pasti sudah sering mendengar wisata ikonik Jogja ini bukan?

Disana kamu bisa berjalan-jalan sambil menikmati suasana jalan Jogja atau berbelanja oleh-oleh khas Jogja.

Keraton Jogja 
Jangan hanya ke Malioboro saja, kamu bisa mampir juga ke Keraton Jogja jika berada di sekitaran Malioboro. Dari Malioboro ke Keraton Jogja kamu akan melewati titik nol kilometer Jogja. Di kawasan ini kamu bisa duduk-duduk di pinggir jalan di tempat duduk yang sudah disediakan, ada juga toilet bawah tanah yang mewah yang masih baru.

Kembali lagi ke Keraton Jogja, kamu bisa menyaksikan langsung megahnya bangunan kesultanan Jogja yang tradisional. Di sekitar Keraton Jogja kamu bisa menikmati jalan-jalan di Alun-Alun, berbelanja batik, hingga mencoba kuliner gudeg di sekitar sana.


Kepik Sawah Warung
Dari titik nol kilometer Jogja, kamu akan melaju ke barat untuk ke hotel Ndalem Sidoarum. Nah, di tengah perjalanan kamu bisa mampir ke Rumah Makan Kepik Sawah Warung yang berada di Jalan Godean Kilometer 9, Sidoagung, Godean.

Dapatkan makan siang atau makan malam di Kepik Sawah Warung, karena disana menyediakan berbagai kuliner khas yang pastinya lezat dengan harga terjangkau.

Soto Ayam Slamet 
Baik di siang hari maupun di malam hari, pasti rasanya akan nikmat jika menyantap soto. Apalagi jika soto yang disantap adalah soto di rumah makan Soto Ayam Pak Slamet. Pasti kamu akan langsung suka dengan sajiannya dan bumbu yang pas.

Wisata Oleh-Oleh Ambar Ketawang 
Dapatkan berbagai jenis buah tangan asli Jogja dan sekitarnya di pusat oleh-oleh yang satu ini. Wisata Oleh-Oleh Ambar Ketawang terletak di Jalan Godean kilometer 6, Gamping yang mana searah dengan hotel.

Hotel Ndalem Sidoarum

Setelah membahas rute wisata yang bisa kamu kunjungi saat perjalanan menuju hotel, mulailah kita bahas apa saja yang harus diketahui tentang hotel Ndalem Sidoarum. Hotel yang terletak di Sidoarum ini tepatnya berada di Jalan Merpati, Nglarang Lor, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman. Dari kota Jogja, kamu akan menyeberangi ring road untuk sampai ke hotel ini.

Sesaat setelah sampai di hotel ini kamu akan menebak suasana menginap yang akan kamu rasakan. Pasalnya, jika dilihat dari depan dan sekitarnya, area di hotel ini sangatlah tenang dan jauh dari keramaian.

Namun demikian, apakah ketenangan dari hotel ini hanya tampak secara visual saja? Enggak, lho! Dari orang-orang yang sudah menginap di hotel ini merasakan bahwa suasananya memang tenang, damai, dan tentram.

Hotel Ndalem Sidoarum menawarkan berbagai pilihan kamar, yaitu Deluxe Double dan Suite Triple Room. Adanya dua pilihan kamar ini akan memudahkan kamu yang datang sendiri maupun bersama keluarga. Semua kamar sudah memiliki AC dan kamar mandi pribadi. Soal fasilitas, di Hotel Ndalem Sidoarum kamu akan mendapatkan WiFi, kolam renang, dan tempat bersantai di luar. Itulah beberapa informasi yang harus kamu ketahui tentang hotel ini. Tertarik?
0

Tuesday, October 01, 2019

A Fun Short Escape with Traveloka Xperience

"Libur tlah tiba. Libur tlah tiba. Hatiku gembira!" 


Hayo, siapa yang auto nyanyi? Ketahuan deh umurnya :P

Ngomong-ngomong soal liburan nih, seberapa sering kamu liburan? Tiap akhir pekan? Sebulan sekali? Atau nunggu cuti panjang aja?

Aku pribadi nih juaraaaaang banget liburan. Definisi liburanku tuh pergi ke tempat wisata yang emang dipengenin dari jauh-jauh hari. Selama ini main sih nongkrong iya, tapi tetep ngga masuk ke golongan liburan. Liburan di benakku bener-bener lepas dari kerjaan. “Kabur” ke suatu tempat dan bertujuan untuk healing plus refreshing.

Berhubung aku belum dapet jatah cuti tahunan, yang bisa aku lakuin selama ini hanya short escape. 

What is short escape? : the act of getting away or escaping. : a short vacation. : a place where people go for a short vacation.

Ea ea ea. Ngga masuk ke kategori liburan. Cuma dapet refreshing-nya aja. Healing-nya belom. Gapapa. Mencicil dulu. Lebih baik daripada nggak sama sekali.

Nah caranya gimana?

Aku biasa cari tempat wisata terdekat sama tempat tinggalku. Entah ini keberuntungan atau bukan ya. Jaman kuliah dulu tuh aku jarang berkunjung ke tempat wisata. Ngertinya mengejar IPK dan gelar cumlaude (AH MASA SIH?).

Boong deng gaes. Yang bener adalah ngga punya duit. Abis buat beli skincare :( *pukpuk diri sendiri*

Alhasil aku punya daftar tempat wisata yang wajib dikunjungi. For the first time. You know that every first time get you excited right? Akhirnya di awal dapet kerjaan ini sering banget browsing tempat buat short escape. Bisanya Sabtu Minggu alias akhir pekan. 

Padahal waktu-waktu ini aku benci banget. Kenapa? 1. Pasti rame. Kan orang-orang liburnya juga di akhir pekan. 2. Tiketnya lebih mahaaal beb kuh! Perhitungan banget emang. Kan mayan yha selisihnya buat beli soto deket kantor. Hiya hiya hiya.

***

Pilihan untuk short escape-ku kali ini taman bermain yang baru aja buka di Kabupaten Semarang. Namanya Saloka Theme Park. Udah beberapa kali ngajak temen kesini gagal mulu.

Sejujurnya aku anak go show banget. Yang hayuk hauk aja. Masalahnya adalah aku belom berani menjadi solo traveler. Masih ada kekhawatiran dan takut awkward. Kalo sekedar makan sendiri sih masih berani. Jalan sendiri? Bentar, masih pikir-pikir dulu.

Keinginanku untuk berkunjung ke taman bermain ini kuat banget. Hilih. Aku juga ngga tau kenapa. Seakan ada yang mendorong buat KAMU HARUS KESANA. Later on, baru aku menyadari alasannya apa. Aku emang udah menulis di wish list tahun 2019 untuk berkunjung ke taman bermain. Bisa jadi ada dorongan dari bawah sadar untuk segera mewujudkan.

Nyari partner jalan aja susah banget. Hiks. Aku udah sampe muka batu aja lempar ajakan ke grup kerja. Iya, bayangin dong grup kerja. Hangout sama orang kantor yang baru dikenal beberapa bulan aja dijabanin. Demi apa? Melepaskan stress.

Dari ngajakin sejak di Solo sampe dipindah ke Semarang, barulah ada respon. Cuma seorang aja yang mengiyakan. Alasannya? Yha karena apalagi kalau bukan karena dia gabut. Akibat ngga pulang kampung.

Berhubung kami anti wacana wacana club, hanya chat beberapa kali, doi udah ngirimin screenshot bukti pembelian tiketnya. Beli dimana? Traveloka. Loh, traveloka bukannya jual tiket kereta api, pesawat dan transportasi lainnya?

Itu juga iya. Nah yang ini fitur baru namanya Traveloka Xperience!



Traveloka Xperience adalah sebuah platform yang disediakan Traveloka khusus menyediakan produk dan layanan hiburan serta gaya hidup.

Dengan fitur ini pengguna Traveloka bisa pilih-pilih keseruan yang mau dilakukan. We all agree that millennials are experince-seekers. Kata bang Yus di bukunya, millennials lebih pilih konsumsi pengalaman (experience) dariapada barang (goods). Aku pun mengamini hal ini.

Rasanya tiap minggu lebih pilih mau jalan kemana, ngapain dan sama siapa daripada shopping. Do you agree, too?

Nah Traveloka Xperience menyediakan banyaaakkk banget aktivitas seru buat dilakukan. Nih aku sebutin ya: tiket bioskop, tiket atraksi, city tour, taman bermain, karaoke, sampe tiket event/festival/konser musik. 


Kalo kamu pengguna setia Traveloka pasti tau, Traveloka emang dulu menyediakan tiket di taman bermain gitu. Bedanya apa dengan Traveloka Xperience yang dimunculkan sekarang? It's their rebranding! Yup. Pengguna dimudahkan dengan pengkategorian ini. Ngerti banget ya Traveloka dengan kebutuhan kita-kita milenial yang haus akan pengalaman.

Apa kelebihan menggunakan Traveloka Xperience?

1. Banyak pilihan
Apa yang kamu cari? Ada 12 kategori yang bisa dipilih di Traveloka Xperience. Mulai dari atraksi, tiket bioskop, event, hiburan, spa dan kecantikan, olahraga, taman bermain, transportasi lokal, tur, pelengkap travel, makanan dan minuman, kursus dan workshop.

Semisal kamu lagi perjalanan dinas di suatu kota nih. Ada waktu buat jalan-jalan tapi ngga ngerti dimana cari infonya. Pilih aja city tour di Traveloka Xperience. Kamu bakal disuguhkan pilihan untuk mengikuti tur keliling kota yang dipilih. Bebas mati gaya, kan?

2. Bebas pilih cara pembayaran

Traveloka Xperience menyediakan lebih dari 40 metode pembayaran. Bayar pake transfer? Bisyaa. Kartu kredit? Bisyaa. Paylater? Bisyaa juga. Choose your fighter!

3. Pesan cepat dan praktis di mana pun kapan pun
Suka banget akutu sama fitur ini. Buat beli tiket ngga perlu jauh-jauh. Cukup dengan menginstall aplikasi Traveloka, selama ada koneksi internet bisa banget pesen dimana aja kamu berada.

4. Bebas cemas
Traveloka Xperience punya customer service-nya yang 24 jam siap membantu kamu kapanpun.

Gimana dengan pengalamanku jajal Traveloka Xperience?


Memuaskan banget! Pertama: praktis pasti. Aku pesen dari kantor saat jam istirahat saking ngga mau kehabisan tiketnya. Hihi. Menghemat waktu dan biaya banget dibandingkan harus beli langsung di tempat wisatanya.

Kedua: pembayarannya mudah. Nah, ini nih. Aku suka dengan pilihan metode pembayaran yang beragam. Aku bisa pilih mau transfer pake rekening mana yang ada isinya. Konfirmasinya pun cepet lho. Masuk ke notifikasi SMS dan e-mail.

Harga tiket Saloka Theme Park di akhir pekan (Sabtu-Minggu) dibanderol Rp 150.000. Di Traveloka Xperience berapa? Cuma Rp 143.787 selisihnya bisa buat jajan disana. Hihi.



Di tempat wisatanya, aku ngga perlu ngeprint tiket. Cukup tunjukkan e-ticket dan langsung dapet tanda masuk. Lupa gaes dicap atau pake gelang. Maafkan faktor U ini ya. Artinya ini paperless. Bagus kan mengurangi sampah. Buat apa sih tiket ini? Ujung-ujungnya dibuang kan. Paling buat update instagram biar ngga keliatan jomblo ye kan.

Tapi kalo jomblo mau update apa? Masa kejombloan dipamerin? *digeruduk massa*

Daripada emosyi nyebut-nyebut jomblo mendingan kepoin keseruan short escape aku aja ya.



Gimana, yakin nih kamu ga mau ikut ngerasain #XperienceSeru kayak aku? Cuss ke Traveloka Xperience!
17

Monday, September 23, 2019

Review Rejoice 3 in 1 Shampoo: Perfect Cool Hijab Perfection

Calling all hijabers! Apa sih, masalah rambut yang sering kalian hadapi? 


Sedikit cerita dari aku yang juga hijabers yah. Aku udah berhijab dari kecil. Dibiasakan sama ibu. Jaman sekolah aku nggak merasa ada masalah dengan rambut meskipun berhijab. Pernahnya satu dua ketularan kutu dari adek. Maklum deh, punya adek laki yang sering main sama anak komplek. Ada satu yang kutuan, yang lain ikutan.

Lalu beranjak ke masa kuliah. Mungkin kalian juga ngalamin ya. Yang namanya kuliah tuh beda dengan sekolah. Jadwal kuliah bisa kayak tahu bulat: dadakan. Tertulis jam 09.00 eh taunya dosen yang tercinta majuin menjadi jam 07.00. Padahal posisi baru aja selesai mandi, keramas pula! Mau nggak mau harus ikutan dadakan ngeringin rambut pake hair dryer. Itupun nggak sepenuhnya kering!

Alhasil apa yang terjadi? Rambut setengah basah, dihijabin. Ketutup rapet. Sampe beberapa jam kedepan. Kering sih, di rentang waktu itu. Tapi ada efek samping lainnya. Rambut ketombean karena kepala lembap plus rontok disana-sini. Sedih? Iya banget. Huhuhu.

Makanya ngga cuma kulit aja nih yang aku rawat dengan rangkaian skincare. Baru di masa kerja (iya, aku tau telat banget!) aku mulai peduli dengan perawatan rambut. Kirain aku masalah hanya berhenti di ketombean dan rambut rontok. Eh, nambah dong rambut gampang lepek.

Dugaanku sih karena lama ketutup hijab. Berangkat kerja dari jam 07.00 sampai pulang jam 16.00 waw hampir 9 jam. Belum lagi kalo pas dapet jatah keluar, matahari panas-panasnya. Ada dua kemungkinan hasilnya saat lepas hijab dirumah: rambut kayak singa atau lepek selepek lepeknya. Seringnya sih yang kedua.

Jadilah perpaduan antara ketombean, rambut rontok, dan lepek menjadi satu. Lengkap kan tuh masalah rambutnya? *nangis di pojokan*

Permasalahan ini membawaku pada pencarian shampoo. Pertama aku fokus cari shampoo khusus anti ketombe aja. Memang ketombe berkurang, tapi rasanya rambut makin kering. Alhasil ganti cari lagi. Shampoo anti ketombe + hairfall treatment. Ada nih, ketemu. Tapi kok ya tetep nggak ngefek.

“Pake conditioner deh, coba!” – saran seorang temen. “Oh iya, coba ah!” – aku membeli conditioner dari line shampoo yang sama. Ada perubahan, nggak? Tidak, saudara-saudara. Baiklah. Aku pun berubah haluan.

Seingetku, beberapa kali nonton TV ada iklan tentang shampoo hijab alias shampoo yang diperuntukan khusus hijabers. Awalnya skeptis sih, emang apa bedanya coba dengan shampoo pada umumnya? Daripada penasaran dan bertanya-tanya, yaudah aku cobain. Pilihanku jatuh ke Rejoice Hijab Perfection Series: 3 in 1 Perfect Cool.


Rejoice? Familiar pasti ya. Ini bukan merk baru kok. Hanya variannya aja khusus hijabers. Dulu aku sempet nyobain Rejoice. Sayang, lupa apa variannya. Soalnya masih remaja asal pake shampoo aja hihihi.

Untuk varian Hijab Perfection Series ini, ada 2 shampoo yaitu 3 in 1 Perfect Cool Shampoo dan 3 in 1 Perfect Perfume Shampoo. Nggak lupa, ada 1 conditionernya juga, 3 in 1 Perfect Conditioning. Berhubung aku lagi taraf nyoba-nyoba nih, aku pilih yang 3 in 1 Perfect Cool Shampoo deh.
*** 

Klaim utama produk ini bikin kepala dan rambut segar, lembut, plus anti ketombe. Untuk varian Rejoice 3 in 1 Perfect Cool bakal memberikan kesegaran di kepala, kesejukan dari Subuh hingga Isya, daaan yang terpenting ada sensasi sejuk dingin seketika alias habis keramas. Seru gak tuh?

Ingredientsnya apa aja nih? Let’s check!



Water, Sodium Laureth Sulfate, Sodium Lauryl Sulfate, Dimethicone, Glycol Distearate, Cocamidopropyl Betaine, Menthol, Sodium Citrate, Cocamide MEA, Sodium Xylenesulfonate, Fragrance, Sodium Benzoate, Zinc Phyrithione, Sodium Chloride, Benzyl Alcohol, Guar Hydroxypropyltrimonium Chloride, Citric Acid, Methylchloroisothiazolinone, Methylisothiazolinone

Cara pemakaian


Kocok sebelum digunakan. Basahi rambut. Pijatkan pada kulit kepala hingga berbuih, lalu bilas hingga bersih.

***


Rejoice 3 in 1 Perfect Cool tersedia dalam 3 kemasan. Ada 170 ml, 340 ml, dan paling gede 600 ml. yang aku punya ini kemasan 170 ml seharga Rp 23.900. Terjangkau banget kan? Iya. Seingetku sih emang produk Rejoice ini harganya masih terjangkau di kantong kita-kita rakyat.

Dapetinnya pun gampang kok. Secara offline bisa di pasar tradisional atau supermarket. Di drugstore pun tersedia. Mau yang online juga ada di e-commerce. Beberapa e-commerce yg bisa kalian kunjungin diantaranya nih: Lazada: https://bit.ly/2lQWrku, Blibli: https://bit.ly/2kjLiYP, Shopee: https://bit.ly/2mkLsjr, Tokopedia: https://bit.ly/2lWIm56.

Ngga perlu bingung cari dimana, pilih aja mau beli online atau offlineSooo easy peasy!

*** 

Pertama kali make, aku nggak baca dengan teliti label produknya! Jangan ditiru ya. Ternyata untuk dipake harus dikocok dulu. Aku asal make aja. Hehehe. Akhirnya di pemakaian berikutnya aku ikutin dong sesuai instruksi.


Shampoonya berwarna putih kental. Wanginya tuh beneran khas banget. Dari kasturi. Menenangkan. Jadi waktu diaplikasikan ke kepala ada sensasi relaxing-nya. Seneng deh. Terutama saat shampoan sehabis kerja. Waah, berasa segerrr!


Sampe rambutnya kering tuh masih ada sisa-sisa keharuman yang menempel. Ciaah. Berhubung aku baru make ini sekitar semingguan, belum bisa mastiin sih apakah ketombe berkurang? Apakah rambut rontok berkurang?

TAPIIII...ini tapinya. Untuk anti lepeknya aku udah ngerasain. Biasanya aku keramas 2 hari sekali. Bukan apa apa, lebih dari itu rasanya rambut lepek, kusut, berminyak. Ga nyaman banget lah. Kalo udah kaya gitu dipakein kerudung, yang terjadi adalah garuk-garuk kepala mulu. Kan bete ya, ntar dikira aku kutuan hiks tidaaak.

Nah kemaren sempet sekitar 4 hari ngga keramas karena sakit. Ngehindarin mengguyur kepala gitu. Ajaibnya rambut tuh tetep lembut, ngga lepek, ngga berminyak. Yha aku sheyeeeng sekali donggg. Padahal aku cuma make shampoo nya aja. Mungkin bisa ditambah conditionernya biar makin kerasa hasilnya kali ya. Hihihi.

Aku bakal pake Rejoice 3 in 1 Perfect Cool lebih lama lagi biar bisa membuktikan klaimnya. Toh dia juga diformulasikan khusus untuk berhijab. I think it deserves more point. Hihihi. Oiya nilai lebihnya lagi nih: Rejoice 3 in 1 Perfect Cool udah tersertifikasi halal MUI! Ngga ragu makenya. Soal izin edar pun udah terdaftar di Badan POM. Kayak makanan aja ya malahan, halal dan thayib. Hehe.

Kamu berhijab dan punya masalah rambut yang sama kayak aku? Coba dulu deh Rejoice 3 in 1 Perfect Cool. Berhijab bukan alasan buat nggak ngerawat rambut ;) #KesempurnaanBerhijab #RejoiceHijabPerfection #SesejukHijrahmu #Hijab #Hijabers


17

Sunday, September 15, 2019

Office Worker vs Freelancer, Which One is Better? (2)

Tulisan ini merupakan bagian kedua. Baca dulu yang pertama, ya!


Fourth: YOUR APPEARANCE MATTER


Yhaa ini sebenernya ngga beda jauh dengan fasyun. Penampilan disini lebih ke muka sih. Kerja freelance kan bebas ya mau make up ato engga. Mau masih ada kotoran di mata, ingusan juga gapapa banget :)) lagi kuncinya tergantung ke pribadi masing-masing.

Baca: Percantik Penampilan Sehari-hari Menggunakan Make Up Wardah

Mau resikan ato engga?

Nah kerja kantoran ya teteup sis. Dituntut buat enak dipandang. Hmm enak dipandang ini relatif ya. Sepenglihatan saya, definisi "enak dipandang" untuk laki itu lebih gampang daripada perempuan. Laki tuh sedikit banget yang merhatiin muka sampe pake concealer etc. Cuci muka aja udah bagus. Paling rambut ditata sedikit.

Nah perempuan? Ngga pake gincu aja mukanya langsung tidak dikenali :(

Baca: 4 Skincare Hack for Beginner

Fifth: GOSIP! MAKIN DIGOSOK MAKIN SIP


Sarapan lauknya gosip ~
Kerja ngemilnya gosip ~
Chat group bumbunya gosip ~
Makan siang gosipin siapa lagi ya?

Aseli saya ngga mengada-ngada gaes. Kata ((seseorang)) ada dua hal yang bisa mempersatukan umat manusia. Salah satunya ya gosip. Ketika kamu berada di circle yang suka nggosipin orang lain, percayalah. Di saat kamu ngga bersama circle tersebut maka kamu yang digosipkan.

Dan saya bukti nyata pernah digosipin :)) dighibahin :)) sampe dichat orang untuk mengkonfirmasi itu gimana coba baru kerja setengah taon loh??? *elus dada*

Padahal udah jelas ya ghibah itu dilarang. Gegara terlalu membudaya di masyarakat kita ya pft begitulah.

Sebagai freelancer emang kaga ada gosip? Yha ada. Dibandingkan dengan kerja kantoran masih bisa ditolerir sih. Menurut saya, ya. Karena freelance kan ngga setiap hari ketemu orang yang sama. Sesama freelance ngga terlalu terikat. Paling terikatnya sama klien. Atau agency. Selama kerjaan beres dan nggak neko-neko, InsyaAllah ngga bakal digosipin yang gimana-gimana.

Bener gak, kalean para freelancer diluar sana?

Sixth: CONFLICT AT WORK


Siapa bilang freelancer ngga bisa kena konflik? Bisa banget! Saya pernah menyaksikan. Eh, apa menyimak ya? Kerusuhan di grup. Agak lucu sih soalnya debat lewat messaging app itu gimana yha :( Ciyus ku ga ikut-ikutan kok gaes. Hanya berdoa dalam hati semoga ngga sampe ngalamin. Cukup menjaga hubungan profesionalisme aja.

Gimana dengan kerja kantoran?

Nah ini nih. Sebagai self proclaimed jomblo. Yang masih berumur di awal 20an. Ribet shay. Ada rekan kerja lawan jenis kena ceng cengan (APA ITU CENGCENGAN?). Di cie-cie gitu lho gaes. Mending kalo ngga baper. Nah gimana kalo salah satunya baperan?

Baca: Life at Twenty Something

Susah gaes. Hidup akan menjadi ribet. Rasanya pengen cepet-cepet nikah tapi ya ngapain juga alasannya se-sepele itu? Ngga menjamin juga sih ya dengan menikah bakalan terhindar dari conflict at work. Ada berapa pasangan yang selingkuh dengan rekan kerjanya sendiri? Eaaaa pftttt.

Sebenernya sih, gampang aja menghindari konflik. Katanya nih ya katanya. Kerja itu ngga usah pake perasaan, pake hati banget. Gunakan saja otak dan skill kalean semaksimal mungkin. Jangan dimasukin ke hati. Apalagi perkara cengcengan. Anggap saja angin lalu.

Karena ketika muncul baper a.k.a bawa perasaan, yaa wassalam. Ngeri lho cuy dibaperin tuh. Misal diri sendiri nih yang baper, masih ngerti gimana cara mengatasinya. Nah kalo orang lain? Masa iya sih ngelarang-larang baper? Emang kita siapa? Emaknya bukan, bapaknya apalagi :(

Hati-hati kalo orang yang baper ini mulai halu. Apa yang kita lakuin bisa diputarbalikkan faktanya. Sad. So sad :'))

Tips dari saya sih paling simpel jaga hubungan sebatas profesionalisme aja. Diajak keluar ya hayuk asal ngga berduaan. Yang ketiga setan ingat pesan bapak ibu. Kemudian, ini sederhana tapi entah kenapa menurut saya efektif juga. Jangan mau diajak foto berduaan aja sama lawan jenis HEHEHE. Kita ngga tau foto ini bisa jadi boomerang di masa depan. Ngga ada orang yang selamanya baik. Sama seperti ngga ada orang yang selamanya jahat.

Semua itu tergantung pada apa sodara-sodara? Tentu saja situesyen.

Buat yang belom nikah nih. As a reminder for myself, too. Saat nggak ada niatan untuk ke hubungan serius, mendingan ga usah flirting sana sini. Mau flirting? Dengan orang luar kantor sajaa *LAH GIMANA*

Ya intinya hati-hati menjaga hati. Jangan sampai dipermainkan perasaan yang nggak menentu. Nggak enak rasanya. Ini serius. Dobel serius. Berlaku buat laki maupun perempuan. Tebar pesona boleh, kalo emang udah ada target serius. Kalo ngga ada? Mendingan jangan. Demi kemaslahatan umat pekerja kantoran.

***

Nggak nyangka kok tulisan ngalor ngidul gini bisa panjang banget. Yha semoga ada faedahnya deh. Bukan bermaksud membandingkan ya gaes. Hanya mencoba ((menelaah)) sisi-sisi antara pekerja tetap dan pekerja lepas.

Mana yang lebih baik? Balik lagi ke value masing-masing.

Saya sih masih berpegang dengan mendingan jadi office worker. Lebih tenang aja gitu dengan yang pasti-pasti. Jenjang karir lebih jelas, pendapatan dan rutinitas juga. Bukan berarti ngga ada tantangan ya. Setiap pekerjaan PASTI ada tantangannya sendiri. Mungkin ini salah satu hal yang bikin kerja itu seru.

Work makes you feel alive. Ya, gak? So you do you and let others do theirs. Semoga apapun pilihan kita sih bisa membawa kebahagiaan. Baik dunia dan akhirat. Azeq kaya orang bener aja.

Kamu tim mana nih, office worker or freelancer? Alasannya?
0

Wednesday, September 11, 2019

Office Worker vs Freelancer, Which One is Better? (1)

Kata buku "Millennials Kill Everything"-nya Yuswohady dkk, generasi milenial adalah orang yang paling nggak loyal di dunia kerja. They love challenge, and if something feels not right they wouldn't hesitate to leave it. Hal ini pun jadi ancaman untuk HRD perusahaan. Gimana caranya bikin milenial bisa loyal?


Me as millennials (oh well did I? I think I am on Z Generation lol let's stop here) pun berpikir. Meski udah kemungkinan besar bakal settled di pekerjaan satu ini, hati kecil saya masih bertanya-tanya. Eaa. Apakah ini udah jalan yang bener? Apakah aku udah rela bakal menghabiskan sebagian besar waktu dengan bekerja di lini ini? Berbagai pertanyaan mengerubungi kepala. Dan belum menemukan jawabannya.

Baca: Lyfe Update(s) on August

Daripada berpikir kejauhan mending nulis yang lain aja. Sedikit perbandingan gimana sih rasanya menjadi pekerja kantoran, dibandingkan menjadi freelancer alias pekerja lepas?

Saya pribadi merasa beruntung pernah ngerasain kerja freelance sebelum dapet kerja tetap. Jeda antara lulus sidang dan wisuda yang cukup jauh membuat saya mengisi waktu dengan freelance. Dengan apa? Mudahnya sih "social media influencer" atau "buzzer" atau "endorser" you name it lah.

Inti pekerjaannya adalah mempromosikan "sesuatu" lewat platform media sosial yang saya miliki. Sesuatu ini nggak hanya produk, bisa event, jasa, hingga suatu program dari instansi tertentu yang butuh di blow up ke banyak orang.

Gimana bisa ngedapetinnya?

Susah-susah gampang sih. Pertama tentu saja harus punya sosial media dengan jumlah pengikut tertentu. Kemudian paling mudah bergabung ke beberapa grup/komunitas yang emang fokus ke job untuk influencer. Nyari dimana? Google sist, sekarang apa sih yang ngga nemu di Google yekan. Paling gampang lagi ketika emang udah punya networking ke orang-orang yang sering menghubungkan antara influencer dan klien. Biasanya disebut PIC (Person in Charge). Atau KOL (Key of Leader).

Pengalaman saya jika untuk pekerjaan pertama yang kamu kerjain itu bagus, besar kemungkinannya kamu bakal ditawarin dengan pekerjaan-pekerjaan selanjutnya. Nah gambaran singkat definisi kerja "freelance" kayak gini ya yang pernah saya alami.

Kemudian, saya tetiba aja udah punya pekerjaan tetap. Abdi negara pula. Yang ngikutin blog ini tau ya. Kadar keseriusan saya ngikuti ujian CPNS itu yaahh dibawah rata-rata lah. Tapi ya itu. Namanya rezeki kan ngga ada yang tau. Yang kurang serius kayak saya justru terpilih. Bisa jadi ini jalannya untuk saya dipaksa mulai serius dalam mengerjakan sesuatu.

Baca: Pengalaman Mengikut Tes CPNS bagian 1 dan bagian 2

Terhitung dari Maret berarti udah 6 bulan kerja. Cannot say completely juga. Karena ada masa magang, pelatihan dasar (yang itu off work sama sekali). Bersihnya mungkin sekitar 4 bulan kerja.

Baca: Pengalaman Mengikuti Latsar CPNS bagian 1, bagian 2 dan bagian 3

Apa yang dirasakan bedanya jadi office worker dibanding freelancer?

First thing first: SALARY


Yak. Sengaja menyebut ini pertama kali. Nggak bisa dipungkiri penghasilan/gaji menjadi hal pertama yang terbersit ketika denger kata kerja. Berapa sih, gajinya? Diatas/dibawah UMR? Cukupkah buat kebutuhan bulanan?

Baca: Tips Mengatur Gaji Biar Kantong Nggak Jebol!

Menjadi pekerja kantoran, jelas gaji udah dijamin. Di tanggal 1 tiap bulannya PASTI ada yang masuk ke rekening sesuai dengan pangkat golongan masing-masing. Nanti belum ditambah tunjangan, uang makan dll. Enak, ya? Di segi ini bisa bilang: Iya. Karena semuanya serba pasti. Siapa sih yang nggak suka kepastian? *EA*

Beda dengan freelancer. Gajinya bergantung pada seberapa keras dia mencari kerja tersebut. Semakin giat ya semakin banyak kerja. Artinya semakin banyak uang masuk.

TAPI...nah tapi nih. Sepanjang pengalaman saya, kerja freelancer kayak gini tuh dibayarnya di belakang. Saya ngerjain dulu sesuai brief klien, barulah setelah cocok dibayar. Ini untuk kerja individu. Gimana kalo kelompok? Ya harus nunggu dulu sampe bener semua.

Biasanya sih saya yha karena masih piyik dan ngga se-serius para influencer di luar sana ya. Pendapatan ada di kisaran ratusan ribu. Buat beli skincare lah cukup. Paling rame pernah sampe kisaran jutaan.

Itu pun nunggunya HARUS sabar. Kayaknya bakal nulis ini lain kali hahaha. Intinya sih bekerja menjadi freelancer ya harus tahan banting dengan ke-tidak pasti-an kapan dibayar. Jarang ada klien yang langsung menetapkan tanggal 1 Oktober bayaran ya. No. Biasanya: maksimal 3 minggu ya. Atau maksimal pertengahan Oktober ya. Ngga ngetok tanggal.

Which mean menjadi freelancer ya harus pintar-pintar mengatur keuangan. Biar bisa bertahan hidup :)

Second: WORK TIME


Jujur: saya masih berusaha menyesuaikan ritme kerja saat ini. Masuk kantor pukul 07.30. Bubaran pukul 16.00. Khusus hari Jum'at pukul 15.30. Overwork? Tentu saja ada. Bisa pulang malam. Atau justru akhir pekan. Bulan kemarin akhir pekan saya penuh dengan jadwal kerja. Hahaha.

Tapi ya emang mayoritas di jam kantor aja sih. Enak ga? Tergantung. Kalo kamu orang yang suka fleksibilitas pasti bosen. Bosen, banget. Ngga bisa tidur siang *ini curcol apa begimana dahhh*

Enaknya ya ketika tenggo. Lepas sudah itu pekerjaan. Bisa rebahan. Karena rebahan adalah kenikmatan. Setuju?

Bagaimana dengan freelancer?

BEBASSS BEB MAU KERJA JAM BERAPA AJA. Untuk beberapa orang ini menyenangkan. Bisa juga menjadi boomerang kalo lebih pilih rebahan daripada ngerjain deadline. Lagi-lagi rebahan disebut.

Iya, ada enaknya. Misal lagi mood kerja tengah malem ya hayuk. Bangun tidur masih muka bantal eh kok pengen kerja, ya tinggal buka aja alat tempur yang dibutuhkan. Sejam udah bosen? Rebahan dulu... Sefleksibel itu. Sesuka hati mau gimana.

Dulu sih saya untuk job kayak review produk misalnya. Fotonya di siang/pagi yang pencahayaan bagus. Kemudian nulisnya menjelang tengah malem. Di saat orang-orang tidur. Sepi. Cuma kedengeran suara angin. Disitu lah ide mengalir bebas. Asyik? Bangetlaaa.

Third: YOUR FASHION YOUR RULE


Sebuah pengakuan lagi. Sejak kerja kantoran saya merasa kekurangan baju HUHUHU. Sound stupid maybe. Kenyataannya tuh entah ya mungkin karena baru pertama ini ato gimana. Nggak rela aja pake baju itu lagi itu lagi. Idih padahal ngga ada yang merhatiin LOL ada deng. Beneran ada banget. Soalnya ada rekan kerja saya yang dikomentarin, "Kamu tuh punya baju berapa sih kok kaya baru terus?"

Kan saya menatap gamang lemari baju LOL. Padahal ya isi lemari baju tuh udah bertambah banget. Bayangin deh lemari di kosan penuh. Pada saat bersamaan, lemari di rumah pun penuh. Duh.

Jadi self-conscius banget lah dengan pakaian. Ngga bisa banget make baju sesukanya. Ada seragam untuk hari Senin dan Rabu (walopun belum dapet yyy). Selasa batik. Kamis jum'at bebas. Nah masalahnya adalaaah....saya tuh kadang "ditaruh" di ruang pelayanan. Sedangkan saat melayani konsumen ya harus tampil rapi dong. Makanya ngga bisa terlalu bebas berpakaian. Harus sesuai dengan norma yang berlaku *halah apasi baku amat*. Yha intinya ngga bisa sesuka hati.

Kalo freelancer? Yhaaa bebasss bos. Mau pake piyama tidur monggo. Mau seragaman necis ya boleh. Ngga ada yang peduli. Palingan waktu dateng ke event aja mikirinnya yekan. Eh ya kalo setiap hari ikut event harus nyetok baju banyak juga sih LOL.

Sebenernya balik lagi ya ke diri sendiri. Cuma ya saat kerja kantoran nggak bisa se-bodo amat itu ketika berpakaian. Ada berpasang mata yang ngeliat. Dan juga mulut yang siap ngomentari. Mending mending dikomentarin. Ngomongnya di depan. Nah kalo jadi bahan omongan di belakang? Wassalaaam...

(berlanjut ke bagian 2!)
2
COPYRIGHT © 2019 · A LIFELONG JOURNEY BY LULUKHODIJAH | THEME BY RUMAH ES