Sebelum kembali ke kelas untuk duduk dan mendengarkan profesor, mari menjelajah ke satu kota baru lagi. Kemana? Sokcho!


Berbekal 20000 KRW udah dapet akomodasi full PP Seoul-Sokcho + Taxi Tour senilai 30000 KRW + kaos dan totebag. Kok bisa? Iya. Di Korea tuh banyak tur subsidi pemerintah khusus untuk pendatang alias foreigner. 

Apakah ada kewajiban tertentu? Kadang iya dengan posting di media sosial untuk tur yang beneran gratis tanpa mengeluarkan apapun. Untuk trip yang masih bayar gini cuma mau difoto as a group dan diposting di medsos penyelenggara aja. Enak kan? Enak dong :P

Cons-nya sih trip kayak gini umumnya ppali-ppali alias cepet-cepet. Mengejar beberapa destinasi bukan menikmati. Yaah tinggal pilihan aja mau seperti apa. Kebetulan Sokcho ini udah masuk ke daftar list yang perlu aku kunjungi. Alhamdulillah kesempatan dan waktunya cocok.

Pagi hari jam 7 pagi kami udah standby di area Hongdae. Katanya akan ada bus yang menunggu. Udah beberapa lama kok gak ada yah? Mana tour guide-nya nunggu di drop point lain. Usut punya usut bukan bus, melainkan minivan. Pantes aja nggak ketemuu :))

Sokcho merupakan kota pesisir di Provinsi Gangwon. Kotanya cukup unik, punya pantai dan gunung secara bersamaan. Berjarak 180an kilometer dari Seoul, butuh waktu 2-3 jam dengan kendaraan pribadi. 


Saat tur kami agak kurang beruntung, macet panjang banget! Molor hampir 4 jam. Gapapa deh yang penting terlindungi dari terik matahari didalam mobil. Toh kendaraannya nyaman pula.

Sampai di Sokcho pas tengah hari dimana matahari rasanya tepat diatas kepala. Kami turun di Sokcho Express Terminal untuk di-assign taxinya. Kami terbagi jadi grup yang ke Abai Village dan ke Seoraksan. Kebetulan aku pilih ke Seoraksan.

Rute taxi tour yang kami dapatkan seperti ini:

Seoraksan National Park



Salah satu pendakian paling populer di Korea. Masuk kedalam UNESCO Biosphere Reserve tahun 1982. Daftar ini didapat karena Seoraksan punya biodiversity yang tinggi, spesies tanaman langka dan hewan terancam punah: Korean goral (sejenis antelope) serta musk deer. 


Di tahun 1994, Seoraksan termasuk dalam UNESCO World Heritage Tentative List. Daftar ini merupakan daftar resmi berisikan kandidat tempat/situs sebelum layak masuk kategori UNESCO World Heritage. 

Sebagai pengetahuan, di Indonesia daftar National Park yang masuk ke UNESCO World Heritage ada Komodo National Park, Ujung Kulon National Park, dan Lorentz National Park.


Luas Seoraksan sekitar 398 kilometer persegi. Puncak tertingginya yaitu Daecheongbong Peak (1708 mdpl). Ranking ketiga di Korea setelah Hallasan dan Jirisan. Kalau mau mendaki full course bisa makan waktu 10-14 jam. Apakah kami mendakinya?

Tentu tidak :P

Easy tourist ini sesampainya di Seoraksan langsung ke tiket cable car. LOL. 


Harap maklum. Nggak punya persiapan hiking, emang nggak diniatkan sih. Terbatas waktu pula. Shortcutnya adalah naik cable car. Tiket seharga 12000 KRW round trip per orang. Ada jam yang bisa dipilih. 

Waktu terdekat yang bisa kami dapatkan tetap harus menunggu kurang lebih 1 jam. Kami memutuskan untuk makan siang dulu di resto sebelah ticket booth. 


Kami pesan menu seafood dan bibimbap. Agak lucu yah mengingat ini gunung tapi kok hidangannya laut? Eits, kan dia punya pantai juga. Jadi nggak heran. Harga makanannya tergolong standar di range belasan ribu sudah termasuk banchan (side dish).

Selesai makan kami kembali mengantri untuk naik cable car. Jujur agak merinding shay liat ketinggian cable car ini. Bawahnya tuh bebatuan tajam gitu. 


Hamdalahnya cable car ini rasanya solid dan nggak ada guncangan berarti. Selama di cable car berdiri, nggak ada tempat duduk.



Pemandangannya...masyaAllah tabarakallah bund. Bagus buanget. Bebatuan + rimbun pohon + pesisir pantai di kejauhan. Seneng banget bisa mendaki dengan cara mudah kayak gini :P

Sampai di Gwongeumseong Peak kami liat-liat aja sekeliling. Panas ngentang-ngentang mohon maaf T_T sempet ngerasain dikit jalan disekitar area berbatu ini. Agak ngeri ya shay kalau tergelincir. 


Di puncak ini juga kedengeran Daily Sutra Recitations (Yebul / 예불) dan moktak (목탁). Doa-doa dalam agama Buddha diiringi instrumennya.

Merasa cukup disini, kami turun dan nyamperin supir taksi yang udah menunggu. Destinasi selanjutnya harusnya pasar. Tapii ketika supir tau kami bisa bahasa Korea sikit-sikit, dia bilang skip aja.

"Di Seoul ada pasar kan?"
"Ada sih..."
"Makanya, gak usah. Sebagai gantinya kalian aku ajak keliling danau aja"

Bhaiqqq. Jadilah sepanjang jalan itu kami menyusuri area Yeongnangho sambil mendengarkan penjelasan beliau. Mungkin dikira kami udah paham 100% kali ya. Beliau dengan semangat 45 menjelaskan banyak hal. Padahal jujur kami cuma paham setengahnya aja. LOL. Gapapa lah, makasih gisanim udah ditemenin.

Yeongnangho



Penjelasan yang kami tangkap adalah tentang danau terhubung dengan laut. Disini bisa menikmati jalan setapak untuk jogging atau bersepeda, lapangan golf, dan jembatan terapung. Menurut sang supir musim terbaik untuk menikmati pemandangannya pada musim semi.

"Besok musim semi balik lagi kesini bawa orang tua kalian", kata beliau sambil memberikan kartu namanya. Aih, baiklah. Semoga ada rezekinya ya paak.

Pemandangannya sebagus itu emang. Kami padahal "hanya" menikmati dari dalam taksi dengan jendela terbuka. Dari kejauhan tampak air danau tenang yang memantulkan cerah sinar matahari. Ditambah kalau menyeberangi jembatan terapungnya bakal bisa melihat pemandangan 360 derajat. Di satu sisi ada pemandangan laut, sisi lainnya Seoraksan.

Batu yang ditunjukin lupa apaan, ga terlalu paham :))

Yeonggeumjeong Sunrise Pavilion



Destinasi pantai pertama yang kami singgahi. Nama Yeong-geum (영금 / 靈琴) diambil dari instrumen tradisional Korea. Semacam kecapi dengan enam senar. Berdasarkan sejarahnya, lebih ke cerita rakyat ini..waktu ombak laut menghantam bebatuan di pinggir pantai, ada bunyi yang tercipta. Nah menurut masyarakat dahulu kala ini mirip dengan suara alat musik yang dimainkan oleh spirit. Dewa? Roh halus? Semacam itulah.

Adapun kata Jeong (정 / 亭) berarti paviliun. Sebenarnya situs ini di zaman kolonial Jepang belum berupa paviliun, melainkan pemecah ombak. Lalu dilakukan beberapa perubahan, tapi pemerintahnya pengen mempertahankan peninggalan ini. Akhirnya dibangunlah paviliun sebagai ikon barunya. 

Sesuai namanya, paviliun (atau gazebo?) paling cocok berburu matahari terbit. Yaah kami sih nggak mengalami karena datengnya bukan di pagi hari :)) meski begitu tetep menikmati bengong menatap burung-burung berterbangan sambil mendengar deburan ombak. Sesekali ada kapal yang lewat juga menambah keramaian.


Terakhir sekaligus penutup kami diantar ke Sokcho Beach.

Sokcho Beach



Ternyata pemirsaaa pantai ini cuma berjarak 5-10 menit jalan kaki dari terminal kedatangan kami! Gampang banget untuk diakses. Disini ada yang nyebur dan main air. Aku kebagian duduk santai nungguin barang. Walau nggak ditungguin pun tetap aman yah.

Pantainya rame banget nget kayak pasar. Tumplek blek semua tua muda cowok cewek. Harus hati-hati mengarahkan pandangan, maklum busananya minim bahan kan lagi di pantai~

Sebenarnya ada attraction yang bisa dilakukan, yaitu Sokcho Eye. Sebuah kincir alias ferris wheel. Tapi kami lagi bokek HAHA udah budgetnya buat makan dan cable car sebelumnya. Gapapa lah skip aja. Yang penting udah merasakan Sokcho vibes~ Azek~

***

Alhamdulillah puas. Another city unlocked. Masih banyak daerah yang belum kukunjungi. Sejong, Gyeongju, Daegu, Daejeon, ah kapan ya? YaAllah tolong kasih rezeki melimpah :"))

Jalan-jalan outdoor waktu summer gini sungguh menguras kesabaran. Walau asalku dari Semarang yang panasnya juga kerasa di ubun-ubun, tetep aja ini tuh menyengat. Siap-siap bawa payung anti UV, sunscreen, kacamata demi trip yang bebas tantrum :))
Hari terakhir di Jeju. Andweee! Cepat sekali waktu berlalu ketika liburan. Rasanya baru kemarin landing di Jeju, eh udah mau meninggalkan Jeju aja :")

Yeongmori Beach



Pagi-pagi kami meluncur ke pantai. Lumayan jauh perjalanan sekitar 1-1,5 jam. Tempat yang meskipun technically kami "fail" karena tutup, tapi buatku pribadi justru salah satu yang berkesan.


Pantai ini secara harfiah berarti Kepala Naga. Yeong = naga. Meori = kepala. Jika dilihat dari atas, katanya sih bentuknya seperti itu. Nah, kenapa aku bilang fail? Karena tutup gais! Awalnya kami mengira "Ah, belum buka aja kali ya..". Lihat papan berinfokan tutup pun masih denial. Mungkin petugasnya belum dateng?

Untuk mencapai pantai ini harus menuruni banyak tangga. Karena penasaran, kami berjalan terus dan menemukan Yongmeori Coast Climate Change Exhibition Center beserta petugas yang dengan baik hati menjelaskan banyak hal.


Kestimewaan dari pantai ini adalah adanya geological landmark yang terbentuk oleh aktivitas vulanik. Jadi, ada area bebatuan tinggi di area pantainya. Dimana, area ini boleh dikunjungi ketika ketinggian air laut dinyatakan aman.

Sebagus apa sih? Kayak gini gaiss...

Gambar milik 제주회계컨설팅(머니바이블) dari Google Review

Estetik kan? Iyaa. Sayang kami ga dapet momennya. Setiap jam 9 pagi petugas akan mengecek keamanannya. Jika dinyatakan aman, area dibuka. Kalau enggak? Ya tutup. Lalu, gimana pengunjung tau informasi tersebut? Dengan nelepon gais. In this modern world, nelepon T_T agak speechless mendengarnya. Sangat manual sekali :))

Nomor teleponnya berdasarkan AI nih: +82-64-760-6321. Ada instagram juga kurang tau aktif enggak di @6sot_official.

Apa yang membuat exhibition ini menarik? Dari penjelasannya aku bisa menangkap bahwa krisis iklim ini mempengaruhi kondisi air laut. Tau kan semakin panas suhu bumi, semakin banyak es mencair, air laut pun semakin naik? Pernah baca kalau pemanasan global ini nggak direm atau dihentikan, di tahun 2100 diprediksi akan semakin banyak tempat nggak bisa dihuni. Utamanya negara kepulauan seperti Maldives.

Ngeri nggak? Iya :( dan di exhibition ini pengunjung bisa lihat di Jeju pun juga mengalami kenaikan air laut. Makanya di Yeongmori ini semakin jarang untuk dibuka areanya karena nggak aman. Huhu, sedih banget sih jujyuuur. Sekaligus merinding, apa ini yang dinamakan kiamat perlahan? :")


Disini petugas juga ngasih tau rekomendasi destinasi wisata alam di Jeju. Sebanyak itu yang udah kami kunjungi selain Yeongmori Beach hanya Udo dan Seongsan Ilchulbong. Ah, harus remidi ke Jeju kah ini :))

Habis itu ngapain?

Eksplor aja sekeliling. Masih bisa merasakan hembusan angin. Ambil foto (tentuu!). 


Kalau masih kuat tenaga dan waktu bisa mengunjungi temple yang ada diseberangnya. Vibes religiusnya dapet banget dimana banyak patung-patung tinggi besar diselimuti kabut tebal.


Kami juga menemukan hal yang menarik disini. Ada area perkebunan bunga cukup luas. Insting perempuan yang suka foto nggak mau dong melewatkan, apalagi udah gagal mendapat foto di area pantai bawah. Pas masuk, foto-foto. Aku lihat tuh ada papan pengumuman seadanya. Langsung curiga, "Wah apakah ini berbayar?". Soalnya ada tulisan "won" dan nomor rekening.


Berbekal aplikasi penerjemah, betul dong harus bayar. Kami dengan kesadaran penuh membayar :)) lucunya tuh apa yah, si pemilik dengan penuh kepercayaan ninggalin begitu aja. Percaya kalau pengunjung bakal bayar. Percaya kalau orang jujur akan selalu ada.

Oh, apakah ini ya yang dimaksud tinggal di negara berintegritas? Nggak perlu punishment untuk menerapkan kejujuran. Cukup kesadaran diri masing-masing. Kami membayangkan apakah di Indonesia bakal bisa?

Obrolan kami terbawa tentang kantin kejujuran yang pernah ramai pada masanya. Dimana ujungnya malah bangkrut. Ah, kapan ibu pertiwi ini bisa maju? :')

Camellia Hill



Puas di pantai, kami lanjut ke destinasi outdoor lagi. Eh iya, Alhamdulillah banget walaupun matahari bersinar malu-malu, nggak ada hujan. Bisa menikmati keindahan alam ditambah udara segar Jeju. Udah khawatir bakal melewatkan tempat ini. Alhamdulillah rezekinya~

Berhubung nungguin bus lama, kami memutuskan pesan taksi aja. Masih cukup terjangkau kok! Alhamdulillah supir taksinya ramah. Sepertinya mereka udah biasa membawa wisatawan. Jadi kami mendapat sambutan, "Welcome to Jeju!".

Camellia hill merupakan kebun raya alias botanical garden alias arboretum. Eh, apa bedanya sih?



Klaimnya, ini merupakan arboretum bunga camellia terbesar se-Asia. Dengan luas 20 hektar, berisi 6000 pohon camellia dari 500 spesies berbeda. Perbandingannya dengan Kebun Raya Bogor luasnya 87 hektar. Fokusnya aja beda, kalau di Bogor kan lebih beragam tuh koleksinya. Disini emang fokus ke camellia.

Dengan biaya 12000 KRW menurutku sih ini cukup terjangkau ya. Mengingat pasti biaya pemeliharaannya nggak murah. Apalagi harus bertahan di 4 musim dengan 4 karakteristik cuaca yang berbeda.





Setiap musim ada kekhasannya sendiri. Mau dikelilingi camellia merah? Datang di musim dingin (November-Februari). Saat kami datang di musim panas ini, yang lagi merekah adalah bunga hydrangea berwarna biru! Iya, warna favoritku! Sungguh menyenangkan. 



Siapkan kaki untuk berjalan mengelilingi areanya ya! Kebetulan waktu kesini sedang ada exhibition tentang camellia. Jadi tau buuaaanyak banget spesies camellia berdasarkan asalnya, ukuran, serta waktu mekarnya. All worth it~

Gyulkot Darak Cafe



Menutup perjalanan Jeju dengan kafe super estetik dengan perpaduan vintage dan jeruk. Kafe ini restorasi dari warehouse berdinding batu yang dibangun pada 1978. Setiap sudutnya udah disiapkan se-estetik mungkin. Sampai ada informasi spot dan pengumuman untuk bergantian dengan pengunjung. Rata-rata yang datang kesini turis Chinese dan udah memakai kostum gaun-gaun syantiq~

Meskipun begitu lagi-lagi harga cake dan minuman yang ditawarkan masih terjangkau. Jadi jangan khawatir.

Tujuan kesini apa? Ya foto-foto laah :P




Ternyata jeruk yang ada disini properti. Kalau didekati udah cenderung busuk dan gak fresh. LOL. Maklum, belum musim panen juga sih. Bolehlah effort-nya untuk memuaskan hasrat foto-foto para ciwi ini.

***

Kalau mengikuti kata hati sih...maunya lebih lama eksplor Jeju. Apa daya waktu (dan budget) terbatas :P padahal udah cukup banyak spot yang dikunjungi. Kok masih banyak yang belum ya?

Usut punya usut, memang Jeju se-luas dan se-banyak itu tempat yang layak untuk dikunjungi! Memang lebih fleksibel sewa kendaraan sih dibanding harus menunggu bus tiap ganti tempat. Tapi yah balik lagi ke kemampuan masing-masing.

Aku pribadi merasa cukup puas dengan petualangan mengelilingi Jeju ini. It's worth every penny I spent. Makanannya enak, tempat wisatanya sangat siap dan terawat, bukti dari komitmennya pemerintah dalam memajukan sektor pariwisata.

Setiap habis liburan dari daerah di Korea tuh mikirnya selalu, 
"Kapan ya pemerintah serius untuk memperbaiki segala sektor termasuk pariwisata?"

Tau sendiri lah ya Indonesia tuh nggak kalah kekayaan alamnya. Malah bisa dibilang lebih lebih berkali lipat. Cuma ya....tiket untuk menuju ke tempatnya aja mahal. Apalagi yang lain-lainnya. Ah, jadi overthinking.

Terima kasih sudah berpetualang virtual. Nantikan perjalanan lainnya~
Perjalanan di Jeju masuk ke hari ketiga. Dimana prediksi hujan menjadi kenyataan. Dari pagi kami yang berniat untuk mencoba bubur abalone, susah payah menerjang hujan...sampai ditempat ternyata hari Rabu tutup!


Sesuatu yang baru bagi kami. Selama ini hanya tau Senin umumnya toko tutup. Ah, ya sudahlah. Demi mengganjal perut kami putuskan mampir ke minimarket 24 jam. Membeli ubi untuk dihangatkan, pisang, serta kimbap. Memang liburan tidak seindah feed instagram yagesya :P

Hari ketiga ini kami banyak didalam ruangan. Iyalah, siapa juga yang mau berbasah-basah ria? (walau akhirnya tetep dapet airnya). Lumayan jauh dari penginapan kami meskipun sama di area Seogwipo, tempat ini merupakan salah satu tujuan utama turis di Jeju. Apa itu? Osulloc Tea Museum dan Innisfree Jeju House. Keduanya bersebelahan.

Jalan menuju tempat estetik ini jauh dari mulus. Kami kedinginan didalam bus. Turun disambut dengan kabut tebal sampai jarak pandang super tipis. Berasa masuk ke dunia lain :))

Osulloc Tea Museum



Terbagi menjadi 3 area. Galeri pameran, tea house kafe, dan kebun teh hijau. Area yang kami eksplor yaitu bagian kebun teh. Bisa dibilang seperti kebun teh pada umumnya. Tapi kata yang lain, tinggi pohonnya lebih rendah dibanding kebun teh di Indonesia.

Kami mengantri foto, ambil video, dengan ditemani tetesan air hujan. Ya udahlah nggak papa, kepalang main jauh. Biar keliatan realita bahwa liburan nggak melulu estetik. Lol.



Berhubung kami lapar, lanjut masuk kedalam tea house kafe. Disambut dengan welcome drink berupa berbagai teh produksi Osulloc yang bisa langsung diteguk. Sebagai manusia peminum air putih, jujur buatku sih nothing special. Aku yakin opini berbeda akan dirasakan bagi penggemar teh.




Harapan untuk makan siang disini pupus, karena menu "berat"-nya seadanya. Yang kami pesan adalah minuman dan camilan khas Osulloc. Atas rekomendasi gemini, kami pesan Green Tea Ofredo, Hallabong Sunrise, Jeju Green Tea & Milk Soft-Serve Ice Cream Cup, Jeju Hallabong Green Tea Ice Cream Dessert, Green Tea Layered Cake / Cheesecake Slices dan Green Tea Roll Cake.


Dari segi harga ini tergolong biasa aja untuk tempat wisata. Masih di range normal jika dirupiahkan ada dibawah Rp100.000. Minuman yang kucoba Hallabong Sunrise ini rasanya lumayan enak. Apa ya, kayak paduannya pas. Nggak ada satu rasa yang mendominasi. Jeruknya beneran karena aku masih ngerasain paitnya hidup mungkin dari biji atau kulitnya??? Adapun cheesecakenya surprisingly bagian keju bukan yang ngeju banget sampe bikin enek. Lol, review macam apa ini.

Lalu kami lanjut belanja. Berhubung Osulloc ini di Seoul ada, kami pilih produk yang bertuliskan Jeju Only alias cuma dijual di Jeju. Lainnya mah...bisa dibeli dengan mudah. Kebetulan pas ada juga matcha kollab dengan Le Sserafim. Auto beli buat kakak akuuh.

Dari belanjaan yang seabrek itu paling aku suka Chocolate Green Tea-nya. Sampai nitip beli lagi ke temen yang main di Jeju. 

Karena keterbatasan waktu kami nggak main ke Museumnya. Agak syedih~ yaudah gapapa deh. 

Innisfree Jeju House



Pasti udah nggak asing sama brand Innisfree. Meski sekarang kayaknya agak menurun pamornya, kalah dibanding brand brand baru. Disini skincare yang dijual fokus pada bahan-bahan khas Jeju seperti volcanic ash, bunga camellia, jeruk hallabong, dan green tea alias teh hijau.

Desain dalamnya hampir full dengan warna kayu, maklum mengusung konsep eco-friendly. 



Selain belanja, mereka menyediakan berbagai aktivitas. Salah satunya DIY bikin sabun batang. Cobain enggak? Tentu tidak~ hahah. Kami cukup liat para bocil beranjak remaja yang asyik berkreasi. Sisanya? Yaa belanja~


Mungkin kalau cuaca cerah pengalaman eksplornya akan lebih baik. Disini rasanya rungsing dengan dingin dan basah LOL.


Kami sempat mengisi perut di restoran yang sepertinya cukup terkenal di kawasan ini. Kami pesan menu ikan dan yang datang ikan ditambah kimchi super banyak! 


Keliatannya 1 bonggol sawi sendiri untuk disajikan. Rasanya cocok untuk lidah Indonesia kami + menghangatkan badan ditengah badai~

Destinasi terakhir? Another indoor attraction.

Museum Teddy Bear



Sesuai namanya, museum bertemakan Teddy Bear. Disclaimer dulu disini aku agak bosan karena hmm apa ya kurang tertarik aja. Lagipula nggak punya kenangan akan teddy bear pula. Hehe.

Jadi awal mula adanya teddy bear itu saat pemerintahan presiden US Theodore "Teddy" Roosevelt ketika berburu beruang. Sampai waktunya habis dia nggak dapet hewan buruan satupun. Salah satu pengawalnya berinisiatif untuk menangkap dan memberikannya ke sang presiden agar bisa ditembak. Tapi beliau menolak. Menurutnya kurang etis untuk menembak beruang yang udah tertangkap.

Dari cerita itu muncul imej baik dari sang presiden. Lalu tercetuslah boneka teddy bear ini. Nah, di museum ini isinya lebih dari 3000 koleksi teddy bear berbagai versi. Iya, banyak banget teddy bear dari yang beneran terlihat beruang sampai lebih mirip winnie the pooh (edisi kolaborasi).




Apakah semuanya original? Katanya sih enggak ya. Klaimnya high-value, authentic diorama. Entah apa maksudnya. Bagusnya sih semua koleksi ini ada penjelasan dibaliknya. Beberapa koleksi yang outstanding:

1. Louis Vuitton Bear: kolaborasi mahal dengan brand premium
2. 125-Carat Gem Bear: koleksi yang dihias dengan emas berlian
3. Full House Teddy Bear: diambil dari karakter drama korea Full House
4. World's Smallest Bear: teddy bear paling kecil yang pernah dibuat

Tersedia pula toko dimana bisa custom teddy bear yang kita mau. Harganya lumayan sih dikantongku, makanya aku ga beli apa-apa. LOL. Udah menguras kocek di Osulloc.

Saat teman yang lain masih keliling dan aku merasa cukup lelah, aku menunggu di ruangan art yang tersedia sambil mewarnai. Yaa hitung-hitung mengasah kreatifitas yang nggak seberapa ini. LOL.


Setelahnya? Pulang. Makan. Tidur~ 

Ada sedikit drama buat makan. Jadi gabungan antara hari libur + kemaleman + hujan membuat kami kewalahan mencari makan malam. Nemu satu alamat, eh tutup. Lihat resto yang masih buka, pas masuk kata sajangnimnya udah gak nerima pelanggan. Ujungnya? Pesen makan di coupang eats. Eh, lupa nggak minta alat makan.

Tanya pihak hotel, adanya sendok es krim. Minta ganti, dikasih sendok teh. Yaudahlah kami terima daripada nggak makan dan malah sakit??? :))))

Ada aja memang lika liku liburan kali ini. Alhamdulillah nggak ada masalah berarti. Cuma...tinggal 1 hari lagi waktu kami! Tidaaak~ 

Destinasi manakah yang menjadi penutup perjalanan? Lanjuut di hari keempat a.k.a terakhir ya!