Garis akhir dari Ramadan 1447 Hijriah. Mulai dari harap cemas jatuh di tanggal berapa dan mau salat dimana. Perbedaan yang sangat nyata terasa disini. Di Indonesia mau lebaran tanggal berapapun bukan masalah besar, karena termasuk libur nasional. InsyaAllah tetep bisa salat.


Nah diluar negeri, minoritas Muslim ini? Kebanyakan berharap jatuh di akhir pekan. Agar mahasiswa ngga perlu izin absen kelas. Pekerja pun bisa lebih leluasa tanpa harus ajukan cuti. Se-signifikan itu. Aku pun mengalami dagdigdug apakah akan Lebaran di hari Jumat? Atau Sabtu?

Jumat pekan itu bertepatan dengan kegiatan pameran yang masuk ke mata kuliah wajib. AaaAakkk. Sebenarnya sabtunya pun masuk ke kegiatan ekskul. Hanya ngga masuk absen dan ngga berpengaruh ke nilai. Artinya, lebih leluasa untuk izin.

Alhamdulillah Korea Muslim Federation (KMF) memutuskan 1 Syawal jatuh di hari Sabtu. Salat dimana kita?

Ditarik mundur beberapa hari sebelumnya, KBRI Seoul sudah membuka pendaftaran salat Ied berjamaah di gedungnya. Motivasi kami salat disini adalah....untuk dapet opor ayam T_T yaiyalah gengs. Kita harus bisa menciptakan suasana Lebaran semaksimal mungkin. Kesedihan hanya denger takbiran lewat youtube harus digantikan dengan suara nyata.


Pendaftaran udah mirip war konser tiket aja. Cepet-cepetan. Bentuk tiketnya ada nama serta QR code untuk dipindai. 


Persiapan lainnya yaitu baju lebaran. LOL. Biasanya aku si SJW sustainable fashion ini kurang berminat untuk beli. Tapi entah ya, dengan justifikasi pengen merasakan vibes lebaran kurelakan saja beli baju baru khusus nitip dari Indonesia. Terniaat....

Lebaran oh Lebaran...

Pagi sekitar pukul 07.00 kami menuju KBRI menaiki bus. Harus satu kali transfer dari halte Ewha untuk ke pemberhentian terdekat di daerah Yeouido. Di bus selain kami bertiga ada mba berhijab yang juga menuju ke KBRI.


Semakin mendekati KBRI, semakin banyak menemukan muka-muka warga Indonesia. Ah, senangnya~ semua bersuka cita. Pakai wewangian. Dandan cangtip dan gantenk. Lovely. 


Kami disambut panitia yang siap membawa gawai untuk pindai tiket. Dikasih snack serta kupon makan bergizi gratis. Senangnya~


Tantangan hari itu adalah dinginnya temperatur udara. Meskipun sudah mulai mendekati musim semi, suhu masih belasan derajat dengan angin bertiup kencang. Sungguhlah ujian hidup pakai jaket tebal (disini disebut padding) dibalik mukena. Bentukannya kayak punya punuk unta.


Semakin berat untuk menahan pipis demi nggak ngulang wudu dan menghapus make up. Lololol. Hal paling pecah mendengar takbiran secara langsung. Di hati tuh langsung, nyesss... Nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan yaAllah? Pada titik itu serasa dibawa kembali ke Indonesia. Ya takbirannya, gelar sajadahnya, salam-salamannya. Alhamdulillah masih bisa merasakan kenikmatan silaturahmi ini :')

Saking khusyuknya nahan pipis sampe ga inget ceramahnya tentang apa *maaf pak khotib. Kelar salat buru-buru antri toilet. Antri makan. Gong bener antri makan udah macem antri bantuan langsung tunai. Luamaaaa bangeeeet mau nanges. Nempel betul sama depan belakang bikin inget antri sholat di deket Ka'bah.


Menu yang dibagikan berisi opor ayam, lontong, sambel goreng dan kerupuk. YaAllah yaAllah nikmat sekaliii....terima kasih KBRI Seoul udah mengadakan acara ini. 


Sungguh ku senanggg :"D rangkaian acara sebenarnya ada salam-salaman dengan pak Dubes. Hanya....kami nggak ikutan. Lebih ke malas mengantri sih.....

Akhirnya acara ditutup dengan foto bersama orang Indonesia yang aku kenal. Diantaranya:

Bersama KOICA Awardee 

Yonsei Indonesia Asocation

Jamaah Masjid Sinchon

Bonus: Kimbab Family

HEHE. Ada influencer yang aku ngeh kayak mas madhang hajja. Ternyata Zayyan Xodiac pun juga di KBRI! Cuma nggak ngeuh aja LOL.

Alhamdulillah Alhamdulillah. Senangnya bisa merayakan Lebaran meski ribuan kilometer dari rumah. Terima kasih KBRI Seoul, momen membahagiakan menjadi WNI ada juga :') bahkan teman sekelas pun mengapresiasi kok ada kedutaan yang ngadain salat sendiri? Terima kasih jugaa untuk teman-teman Indonesia di Seoul sudah meramaikan hari-hari anak perantauan ini. Such precious moments we have <3 

Next, salat Idul Adha dimana ya?


Rasanya gimana?

  
Sendu. Syahdu. Rindu. Apa yah? Segala perasaan akan kerinduan akan kampung halaman dan hiruk pikuknya menjadi satu.

Dari awal aku udah tau akan menjalani Ramadan, Idul Fitri dan Idul Adha di perantauan. Dimulai dari Ramadan, tentu nggak semeriah di Indonesia. Perkuliahan berjalan seperti biasa. Resto tetap buka dan menyediakan makan minuman. Dugderan? Pawai Ramadan? Apa ituu? Azan aja harus dari aplikasi handphone.

Hanya diri sendiri yang harus berusaha keras mencari kegiatan Ramadan. Kalau bukan, siapa lagi ya kan? Misalnya buka bersama, salat tarawih berjamaah, atau iktikaf. Alhamdulillah selama Ramadan aku mengikuti khataman One Day One Juz bersama Rumaisa Korsel. 

Bagi mahasiswa Indonesia, banyak organisasi yang mengundang untuk buka bersama. Salah dua yang kuikuti yaitu dari Yonsei Indonesia Association (YIA) dan Persatuan Pelajar Indonesia di Korea Selatan (Perpika). 


Kami berempat mahasiswa Indonesia Yonsei yang senasib sepenanggungan lewat beasiswa KOICA pun mengadakan bukber mandiri, hehe. Bukber dengan Perpika ini kayaknya harus diabadikan di satu tulisan terpisah deh. Karena spesial pake telor ada guest star para casting Clash of Champions cabang Korea!

Puasa 1447H di Korea lama waktunya mirip dengan Indonesia. Subuh sekitar jam 5 lalu buka di jam 5-6 sore. Ditambah masih musim dingin, semuanya terasa dimudahkan. Nggak ada kendala yang cukup berarti.

Lalu, pertanyaan selanjutnya. Ada nggak yang menyelenggarakan tarawih?

Ada dong! Lagi-lagi harus bersyukur memang. Diberikan kelonggaran waktu untuk salat DAN ini penting sih. Ada 2 masjid terdekat yang aksesibel. Masjid mana aja tuh?

1. Seoul Central Masjid (https://naver.me/GeURdG2x)


Masjid terbesar di Seoul (kalau nggak salah di Korea?). Menyediakan iftar dengan sistem kupon. Sayangnya aku nggak pernah dapet karena harus datang minimal 30 menit sebelum Magrib. Walaupun begitu, jamaah bisa mudah mendapatkan makanan halal di banyak resto sekitar masjid.

Salat Isya dan Tarawih dimulai pukul 20.00 setiap harinya. Disini, tanpa kultum yah. Jumlah rakaatnya 11. Sama dengan jumlah yang biasa kulakukan. 

Di 10 hari terakhir Ramadan menyelenggarakan iktikaf juga. Tapi untuk makan sahur nggak ditanggung. Lagi-lagi sayang sekali aku nggak sempat untuk iktikaf huhu :')

2. Sinchon Masjid (https://naver.me/5WOtMS3N)


Kalau nggak karena Ramadan, kayaknya aku nggak akan menemukan masjid ini. Lokasinya hanya 20 menit jalan kaki dari dorm. Aah sukanya! Sama seperti masjid Seoul, jumlah rakaat tarawih 11. Hanya bedanya disini ada doa qunut di rakaat terakhir witir.

Meskipun namanya masjid, untuk ukuran orang Indonesia tergolong sebagai mushola. Letaknya pun di basemen yang mungkin tergolong nggak biasa. Masjid ini tuh kayak yang tau tau aja. Hahaha. Beneran deh, sekali saat hujan deras aku tetep dateng ke masjid eh cuma ada 1 orang lain yang dateng. Mana itu temen sekelasku. Akhirnya balik aja deh :))

Jamaah perempuannya pun seringnya dari Indonesia. Belakangan baru aku tau, ada mazhab yang melarang perempuan ke masjid. Makanya isi shaf perempuannya ya itu lagi itu lagi :)) kami menyebut diri kami: remaja masjid Sinchon. LOL.

Untuk kegiatan buka bersamanya hanya tersedia di akhir pekan (Sabtu dan Minggu). Baru seminggu sebelum Idul Fitri, dilakukan setiap hari.


Oh ya, tarawih disini mulai 20.30. Dugaanku sih untuk mengakomodasi para pekerja dan mahasiswa yang bisa aja butuh persiapan lebih lama untuk datang ke masjid. 

***

Jujur sangat bersyukur bisa menjalani Ramadan di Korea dengan cukup baik (menurutku). Dapat temen baru. Banyak waktu pula untuk beribadah, berhubung 2 minggu awal Ramadan itu bertepatan dengan winter break (libur musim dingin).

Sekarang baru sadar buat Muslim yang akan merantau ke negara minoritas, ada baiknya mempersiapkan kemungkinan menjalani ibadah akan seperti apa. Lakukan riset kecil-kecilan, gali informasi daimana mencari makanan halal, masjid yang menyelenggarakan tarawih, hingga hal-hal lain untuk senantiasa menguatkan dengan keyakinan yang kita jalani.

Satu hal yang mempermudah: adanya teman. Rasa malas sangat mudah datang ketika kita sendiri. Beda dengan keberadaan teman yang ayok ayok untuk diajak ke jalan kebaikan. Rasanya sangat berharga :)

Nanti dilanjutin ceritanya untuk Idul Fitri di Koreaaa~
Hari terakhir di Busan, apa agendanya? Jalan dan makan. Emang dah kerjaannya itu doang, maklum namanya trip tanpa persiapan. Hanya ada 2 destinasi ((untuk diwujudkan)).

Gamchoen Culture Village



Sebuah pedesaan? Perkampungan? Dimana isinya rumah bercat warna warni. Mural. Dan banyak toko suvenir khas daerah. Setauku dia ini tenar karena ada mural BTS. Tau kan fans BTS sebesar apa?

Untuk kesini lumayan effort sejujurnya. Bus yang kami tumpangi tipe village bus. Ukurannya tuh kecil. Jumlah tempat duduknya lebih sedikit. Imbasnya apa? Cepet banget penuhnya karena kapasitas kecil. Alhasil kalau kelewat yhaa mau ga mau nunggu berikutnya. Mana intervalnya cukup lama lagi. Di naver map ga ada ETA kecuali stand by. Sungguh tidak bisa diprediksi.

Sesampainya disini, yang pertama kali kupikirkan adalah....ini mah kampung pelangi :)) liat aja deh. Semirip itu kan sama kampung pelangi Semarang?



Saranku sih kalau kesini mending pake guide. Tanpanya, asli bingung banget ini mah mau ngapain....berhubung aku bukan tipe yang kudu cobain kafe viral. Atau belanja banyak yah. Ini tuh literally perkampungan yang ditinggali warga. Ada kafe dan toko suvenir.

Kami mampir di toko suvenir semacam batik. Harganya lumayan berat yah shay dikantong. Seukuran syal itu mulai dari 70.000 won. Hampir sejutak! 



Tempat ini cocoknya untuk yang niat foto ootd atau udah ngincer spot tertentu.

Disini ada satu momen nggak terlupakan. Dan langka banget. Baru pertama kali ngalamin ini. Jadi ada solo traveler perempuan, kami tawarin fotoin. Pas aku liat gantungannya...jreng! Haetnyangi-nya Seo Eunkwang. Oh my god. Oh my god.


Aku yang biasanya pendiam ini langsung ngoceh, "I have the same doll!". Lalu kami ngobrol. Mbaknya ini dari New Zealand. Habis nonton konser Eunkwang di Busan. OH MY GOOODDD. Dan setelahnya bakal nyamperin Lee Changsub di Daegu. OH MY GOODDD.

Baca juga: Konser Seo Eunkwang

Se-happy ituu ketemu manusia dengan kesukaan yang sama. Meski kami nggak tukeran medsos apapun. It was a wonderful encounter :')) terharu. 

Bosen jalan dan ambil foto, lanjut ke destinasi terakhir.

BIFF Street


Aku tuh nggak ada riset sama sekali dengan trip ini. Cuma ngikuut aja sama itinerary yang udah dibuatin. I can say, I'm anti ribet traveler. Ketika udah ada yang ngelead, akan kuikuti tanpa banyak protes. Yang aku tau cuma kepanjangannya: Busan International Film Festival.

Loh tapi kan gak lagi ada festival filmnya? Trus ngapain dong? Akhirnya terjawab. Ini tuh semacam gang yang didedikasikan untuk memasang hal-hal seputar film. Kayak di Hollywood itu yang ada nama superstar di lantai(?) jalanan. 


Kanan kiri seperti biasa pertokoan. Daaan...kuliner! Yap. Bisa dibayangkan suasananya mirip Myeongdong atau Hongdae di malam Jumat. Streetfood bertebaran tinggal pilih. Kami pilih makan hotteok. 

Hotteok murah yang kubeli di Sinchon itu rasanya biasa aja. Kayak bakpia pathuk beda di isi. Yang ini luarnya garing kres kayak gorengan, isiannya bisa pilih madu dan kacang-kacangan. Paling enak? Yang kacang! Sampe beli dua kali dong :)) antriannya juga panjaaang. Hamdalah penjualnya satset. Nggak perlu nunggu lama meski famous.

***

Berhubung tiket kami sore, 2 jam sebelumnya kami memutuskan udah harus sampai di stasiun. Perkara makan siang? Nyobain food court.


Masih heran loh, kok bisa ya regulasi disini tuh ngatur makanan yang dijual harganya nggak tinggi? Ya harga umum pasaran aja. Beda sama di stasiun atau tempat wisata di Indonesia. Apa-apa dinaikkan dengan embel-embel: kan tempat wisata. Sigh.

Apa menu yang sekiranya "aman"? Balik lagi ke...seafood :)) dahlah halo kolesterol ini sepulang dari Busan. Tapi gapapa. Kapan lagi kan makan seafood ditempat aslinya. Perkara lain kita pikirkan belakangan aja.

Jadi, berapa budget ke Busan?
Aku coba itung ya. Ini diluar tiket pesawat Indonesia-Korea.

Tiket ITX Seoul-Busan
Tiket KTX Busan-Seoul
Total 102.400
Airbnb 60.653
Top up T-money 25.000
Jajan (makan dan suvenir) 115.312
Total pengeluaran 303.365 won. Konversi ke rupiah sekitar Rp 3.600.000.
Mahal atau murah balik lagi ke kepercayaan masing-masing yah. 

Buatku ini masuk akal aja. Kami udah berusaha press di tiket dan airbnb. Makan sempet masak. Nggak jajan banyak suvenir pun. Nggak nyobain capsule train. Ah, sempet pakai taksi juga. 

Tips liburan ke Busan (or maybe traveling in general):
1. Tentukan "genre"-nya mau apa. Wisata kuliner? Cari spot estetik? Atau cari aktivitas?
2. Kalau udah, tentukan lokasinya. Jangan lupa sekalian mapping rute agar bisa efisien waktu. Tanpa habis banyak dijalan.
3. Untuk destinasi yang perlu beli tiket, pastikan apakah bisa beli ditempat? Ada kemungkinan untuk habis? Bisa beli online jauh-jauh hari? Apakah harus diaktivasi/redeem beberapa hari sebelum digunakan?
Aku sempat baca untuk Blueline Busan itu harus aktivasi beberapa hari sebelum kedatangan.
4. Tempat sholat dan makan dimana? Kami (sebenernya aku ngga pas sholat sih...) sholat di tempat yang sekiranya agak sepi dan nggak buat lalu lalang orang.
5. Kemungkinan bakal makan seafood. Apakah ada alergi tertentu?
6. Cek suhu dan kemungkinan cuaca. Bawa baju yang sesuai. Jangan sampai liburan malah sakit!
7. Secara umum, Busan masih foreigner-friendly. Tapi nggak ada salahnya siap aplikasi papago untuk membantu terjemah.

***

Anyway, sebagai manusia yang tidak ambis destinasi sih aku merasa puas. No complain whatsover setelah liburan :)) meski kalau dibanding konten IG traveling ini nggak bisa dibilang seru sih. LOL. Well, yang penting diri sendiri menikmati. Nggak perlu dibandingkan lah ya.

Next: Jeju, I'm coming!
Lanjut hari kedua. Hari pertamanya bisa baca disini!


Kami sarapan seadanya dari minimarket terdekat. Kali ini tujuannya adalah Oryukdo Skywalk. 

Oryukdo Skywalk


Skywalk tuh apa ya? Jembatan? Jadi dia ini jembatan kaca yang dibangun diatas laut.


Karena dia letaknya tinggi, nggak heran bus yang kami tumpangi ukurannya kecil. Jalanan cukup menanjak. Apakah skywalk ini berbayar? Lagi-lagi gratis pemirsa. Berasa jalan di taman perumahan warga gitu deh cuma view-nya ya emejing. Untuk berjalan diatas jembatan kacanya, disediakan pelapis sepatu dan WAJIB dipake ya. 

Meski matahari bersinar terik, suhu masih dingin. Daan...ini nih gongnya. Anginnya kenceng banget. Sampe takut diri ini kebawa saking kencengnya. Mau nggak mau jaket musim dingin harus tetap dipake biar ga masuk angin. Bisa sih lepas tapi nggak bakal tahan sama dinginnya.


Disini nggak ada activity tertentu. Menikmati pemandangan dan foto-foto tentunya. Eh, ada sih teleskop gitu untuk mengintip mengamati pulau kecil yang ada diseberangnya. 




Haeundae Beach



Cukup lama kami di skywalk sampai bunyi perut mengingatkan untuk segera diisi. Kami pilih makan di daerah Haeundae Beach. Disitu berjajar resto seafood dan kafe cantik yang bisa dikunjungi.

Ada kejadian tak terlupakan lagi. Untuk ke Haeundae kami harus transfer bus. Nah di salah satu perhentian, ada yang mampir buat beli pisang saking lapernya. 


Eh disamperin sama halmoeni. Kayaknya kasian ngeliat orang kelaperan. Beliau kasih tteok buat kami makan :))) Memang Asian parent tuh love languagenya makanan deh.

Sampai di Haeundae kami pilih resto yang reviewnya banyak. Stafnya bisa atau setidaknya paham lah bahasa Inggris untuk komunikasi seadanya. Jujurlyyy ini pertama kali aku cobain the famous abalone. Hahah.


Harga makan disini lumayan mahal untuk kurs Indonesia. Tapii...rasanya tuh worth it. Mulai dari vibes pinggir pantai, pelayanannya. Aslik jos banget sih pelayanannya, ibaratnya kami tuh tinggal makan aja ga perlu nge-grill sendiri. Imonimnya ramah. Lucu pula bisa bikin jokes :)))

Lagi-lagi ada kejadian tidak terlupakan. Sayangnya kali ini nggak bisa dibilang memori baik. Kenapa? Handphoneku yang baru satu tahun umurnya itu jatuh :))))) kena layar :))) sampai akhirnya sekarang nggak bisa dipakai. Ada aja ya serba-serbi liburan. Ya syudahlah ya~ keteledoran diri sendiri naruh handphone sembarangan dan nggak dikasih casing.

Kenyang makan, kami lanjut ke Haeundae Sky Capsule. Ini posisinya deket dari resto sebelumnya. Kan emang sekomplek gitu isinya tempat turis. Capsule train ini yang viral dan banyak muncul di konten liburan Busan gitu loh.


Kami coba tuh untuk naik. Ada 2 pilihan, capsule train yang kotak kecil kapasitas 4 orang. Satunya Beach Train. Nggak taunya capsule train habis. Sedangkan Beach Train kudu nunggu sejam. Kami nggak sesabar itu. Akhirnya memutuskan yaudah jalan aja di sepanjang jalur relnya. 


Emang seniat itu sih pemerintahnya. Ngga dapet akses kereta bukan berarti balik kanan. Di satu sisinya dibangun jalanan untuk tetep bisa menikmati pemandangan meski tanpa kereta. Gapapa lah ga dapet konten dan pengalaman estetik *LOL. Yang penting bisa menikmati pantai Busan serta dapat momen matahari terbenam.


Jadi ((pembelajaran)) kalau emang mau menikmati fasilitas berbayar kayak gini mending booking dari jauh-jauh hari.

Hwangnyeongsan Observation Deck


Destinasi terakhir di hari kedua: observatori. Niat kami menikmati city light dari ketinggian. Dari Haeundae kami memutuskan untuk pesan taksi aja. Kenapa? Jaraknya cukup jauh. Udah gelap. Malas untuk transfer bus karena nggak ada yang langsung. Hamdalah kami berempat jadi naik taksi patungan nggak berasa mahal. Lebih cepet pun.


Disini mirip sebenarnya kayak Oryukdo. Ada tempat buat menikmati pemandangan serta teleskop(?). Cuma kan udah malem ya jadi yang kelihatan lebih ke lampu sepenjuru Busan. Bener-bener nggak ada apa-apa lagi kan udah malem. Pertokoan juga tutup.

Untuk kesini wajib banget pake sepatu yang enak buat mendaki. Cukup melelahkan soalnya :") baliknya kami dengan taksi lagi. Udah capek lol.

Hari kedua disudahi dengan masaaak! Yeay. So happy to enjoy this moment. Lanjuut, last day!
Kalau ada kota yang wajib dikunjungi di Korea, pasti Busan salah satunya. Seoul-Busan-Jeju. Minimal 3 daerah kesebut. Masing-masing punya daya tarik sendiri.


Seoul dengan segala gemerlap dan pilihan hiburan. Busan dengan pantainya. Jeju dengan alam khas kepulauan yang menenangkan.

Target kami selama tinggal disini bisa mengunjungi sebanyak mungkin tempat di penjuru Korea. Daaan, akhirnya terwujud juga pergi ke Busan. Beberapa orang bilang idealnya ke Busan saat musim panas/summer agar bisa menikmati kehangatan pantainya. 

Berhubung kami nggak punya waktu banyak, ayoklah gas aja di musim dingin. Ternyata justru menjadi pengalaman baru merasakan pantai yang nggak lengket dan panas. Sebagai gantinya, angin dan air pantainya semua DINGIN!

Let's breakdown the journey.

Untuk transportasi ada pilihan kereta dan bus. Kami memilih kereta dengan pertimbangan waktu. Dari segi harga memang lebih tinggi dibanding bus, tapi jelas efisien. Kereta ada 2 tipe: ITX dan KTX. Bedanya apa? ITX ini kereta jarak jauh versi biasa. Sedangkan KTX versi kereta cepat (kayak whoosh).

Dengan ITX, jarak tempuh Seoul-Busan sekitar 4-5 jam. Sedangkan dengan KTX hanya 2-3 jam aja. Bersyukurnya tinggal di Seoul dan deket dengan pusat kota, perjalanan menuju Seoul Station ga sampai 30 menit. Nice!

Gimana cara beli tiketnya? Bisa datang langsung ke ticket booth di stasiun. Atau online lewat situs Korail. Kami memilih beli online yang pasti-pasti aja. Berangkat menggunakan ITX, pulang menggunakan KTX. Sengaja mix selain menghemat biaya (KTX lebih mahal), juga agar bisa membandingkan apa sih bedanya.

Mirip dengan kereta di Indonesia, ada kelasnya loh. Ekonomi dan first class. Pilihan kami? Tentu ekonomi. Hehe. Kami sempat tanya warlok pun menyarankan ekonomi aja. Toh waktu tempuhnya sama. Kalo nggak salah bedanya di seat lebih lega, dapat snack juga.

Sejujurnya, kelas ekonomi pun udah nyaman banget!
Ini penampakan kereta ITX.


Yang unik dari kereta disini tuh informasi peron baru muncul 15 menit menjelang keberangkatan. Beda dengan di Indonesia yang udah pasti. Untuk perkara ketepatan waktunya, sama. Kebersihannya? Oke banget! 


Dari bangunan stasiun menurutku stasiun-stasiun di kota besar itu nggak kalah modern. Malahan dengan kekhasan bangunan masing-masing menjadi nilai tambah. Stasiun besar kayak Seoul, Busan dan Gangneung agak mirip. Bentuk lingkaran. Sisinya dipenuhi layar besar berisi iklan. Lalu ditengahnya berfungsi sebagai ruang tunggu, berisi tempat duduk.

Keunikan lainnya disini kami nggak perlu scan tiket masuk. Nggak ada pengecekan petugas. Beneran culture shock banget. Sepercaya itu loh sama kita. Tinggal kitanya aja mau jujur apa enggak. 

Hal serupa terjadi waktu kami nonton film di bioskop. Sama sekali nggak ada petugas cek tiket didepan pintu teaternya. Temenku yang iseng pernah nyeletuk, 
"Wah kita kalau ganti film di jam yang sama kayaknya nggak bakal ketahuan juga"
Tidak untuk dilakukan beneran, yha~

Lanjut,
aku nggak eksplor di kereta ada apa aja. Setauku sih nggak ada gerbong makan/resto. Tapi untuk makan dan minum boleh asalkan nggak mengganggu penumpang lain. Dan jaga kebersihan tentunya.

Sepanjang perjalanan berhubung ini musim dingin, dedaunan terlihat gersang. Kecoklatan. Kering kerontang. 


Yang aku perhatikan, kami tuh sering banget ngelewatin terowongan/tunnel. Rasanya agak penging di telinga setiap keluar masuk.

Nginep dimana?

Setelah pencarian panjang, kami memutuskan pesan di Airbnb dengan lokasi dekat stasiun Busan. Kenapa? Karena daerahnya rame. Bisa beli sesuatu gampang. Lalu dapetin transportasi umumnya juga gampang. Dekat stasiun jarak jauh, stasiun subway, serta depannya halte besar. Sebagai pelancong tanpa mobil pribadi, transportasi publik ini berasaaa banget ngebantunya.

Pembayaran bus bisa menggunakan tunai. Sedangkan subway harus menggunakan kartu transportasi. Aku pakai T-money yang bisa dipakai seluruh Korea. Jangan pakai climate card ya, itu cuma bisa di Seoul aja.

Lupa ga foto dalemnya malah foto pemandangan luar

Akomodasi kami tipe apartemen. Untuk harga disini sih standar. Cuma kalau dikurs ke rupiah ya...berasa. Check in check out nggak ribet sama sekali. Kami dikasih password unit lewat aplikasi. Tersedia handuk, sabun, dan ini paling enak. Bisa masak. Heheh. Hemat sikit laa.

Hamdalah host-nya gercep dan nggak ribet. Namanya di Korea, tetep wajib memisahkan sampah. Udah ada instruksi bagaimana kami harus pilah food waste, general waste dan lainnya. Tinggal ikutin aja aturan mainnya.

Main kemana aja?

Hamdalah lagi grup jalan-jalan ini fleksibel. Nggak ambis yang kudu kesini kesitu. Yang penting merasakan Busan Vibes aja. Apakah ini rasanya ketika sudah menginjak usia 30an? Hahaha.

Hari pertama kami sampai Busan pas jam makan siang. Dari stasiun jalan kaki ke penginapan. Nitip barang di lobby karena belum jam check in. Caw ke pasar. Lupa antara Jagalchi atau Gwangjang. Kayaknya sih Gwangjang Market untuk cari makan. Udah duduk di resto, ternyata ada ((member)) yang maunya ke resto lain. Ya syudah, kami split tim.

Setelah makan balik lagi ke penginapan untuk check in. Masukin barang, beres-beres sebentar. Caw lagi ke pantai. Tau kan kalau Busan itu terkenal dengan pantainya. 

Gwangalli Beach



Pantai pertama ini Gwangalli Beach. Lumayan jauh sekitar 1 jam. Dan busnya itu penuh BANGET. Semua orang mau ke pantai untuk lihat mentari terbenam.

Lucunya ya, ada aja orang Indonesia yang kami temui. Memang udah seterkenal itu Korea sekarang. Setiap jengkal kalo nggak ketemu orang Malaysia ya orang Indonesia :))


Di Gwangalli kami menikmati vibesnya. Jembatannya. Fireworknya. Lighting shownya. Bagus nggak? Yaa bagus karena belum pernah nemu pantai yang kaya gini di Indonesia. LOL. Dan semuanya gratis. Inget yah, gratis. Nggak ada pungli di tiap pengkolan :P

Disini ada hal lucu kuingat. Segerombol remaja cowok yang menghampiri kami.
"Can you speak English?" - kata dia. 
Of course we can. Nggak kepikiran mereka ini mau ngapain. Apa yang terjadi? Si bocil ini minta kami untuk rate tingkat kegantengan :)))) ngakak banget. Salut sih sama keberanian mereka menyapa foreigner. Karena jarang banget disapa warlok duluan. Seringnya kami yang minta tolong sesuatu.

Capek dan kedinginan di pantai, kami ngadem di kafe. Setelahnya? Pulang~ 
Simpel banget emang perjalanan day 1 ini. Yuk lanjut ke day 2!
2025 has been a year that I cherished so much. I did so many "first" here. The biggest one was packing my stuff into two suitcases and moveing to another country. It's something I wanted and expected, but not this fast. However, I tried to accept that His timing is indeed the best timing. 



The title of this post was from Hwasa's song that is booming. Because even if it's a good bye, it is a good one. No regrets, just thankfulness for whatever God gave me.

I got the prompt from instagram to reflect on how this year was. I'll share it here so that I can read it again later as memories.

Where you are now?
What this year has been like. Key moments, emotions, and themes.

Physically, I'm now staying in Seoul, South Korea. A country that has been my lifelong dream. Living my life as a master's student. Navigating how life works while being a minority.

It was a rollercoaster journey and it still is. During my stay here, I got a counseling session for my....anxiety? Basically I felt like I had impostor syndrome. I keep questioning myself if I deserve to be here. If I can adapt with everything unfamiliar. If I can survive. I had zero confidence in myself in the beginning.

I can say that because I understand my classmates come from excellent backgrounds. Some of them even already have master's degrees. International experience. Meanwhile, I was at my lowest point. And not someone excellent but someone who wanted to run away.

As my psychologist said, I have to be fair in judgment. When it comes to academics, we can see it from the grades. What do my grades said? Well, from a maximum GPA 4.3 this semester I snatched 4.1 :') just exactly what I hoped, prayed, and worked for. This result really boosted my confidence. It proves that my worries are baseless. That I can do all the hard work as long as I put my focus and faith into it.

What you’ve learned
Lessons about yourself, your relationships, your work, and your needs.


I always yap about how I am introverted and now I still am. I can hang around a group but after some time my energy will be depleted. I become quiet and my brain stops functioning. At that time, I might seem indifferent.

Being put in a new environment, I tried my best to keep up with the talking and conversation. It really is challenging, especially when a new language is required. Even so, I think I made quite an effort. And now I hear people add "smiley" after my name. While, back in Indonesia, I was always labeled quiet. I guess this depends on what kind of surrounding I am in.

Relationships? As I got further away from my family and best friends, of course, it changed a little. I am used to it, anyway. What I can do is try to be as active and connected as possible, either through personal chat or social media.

On the other hand, I gained so many new relationships. My roommate, classmates, crush, Indonesian diaspora. It is all exciting. Never in my life did I expect to get sooo many new acquaintances at this age. It broadened my mind. How the world is such a complicated one. I see sides that I never thought of before. Thus, all of this made me less judgmental of others. We never know the complete story of their life.

That resulted in me trying to be as kind as possible and not wanting to create trouble for human beings in their entirety.

Work? I don't want to talk about it here because.....so many things break my heart :') I just hope that God gives me strength to face this type of test.

Finally, about my needs. What I realized is that while my classmates are starting to buy stuff like gadgets and clothes, I tend to use my money for concerts, food, and traveling. I can say I'm the least well-dressed among them. LOL.


It doesn't bother me as I fully understand that we have different needs and priorities. For me, staying sane by buying and doing something I like is at the top of my list. Here, I bought sooo many items related to fangirling activities, and that makes me happy :)

What you’re proud of 
Small and big things. Effort matters, not only outcomes.

Being able to get good grades, trying new things alone, and showing my resilience. That's what I'm proud of. Lately, since KOICA is also opening for a new batch, some applicants reached out to me to discuss some things. In that moment, I felt like my existence itself has a meaning.

The feeling of being able to help others even with the smallest thing and effort—that, I'm proud of.

What you’re letting go of 
Habits, beliefs, fears, or expectations that no longer serve you

This will be quite deep because it's regarding my beliefs. Living as a minority, to be honest, I cannot practice all the things that I used to do easily back in Indonesia. For a few months, I felt like I sinned. That God will get angry and punish me.

And then I found enlightenment that our efforts also count. Living as a majority gave me sooo many things I took for granted. Clean prayer rooms, easy access to halal-certified food, anything. Now I have to double or even triple the effort to do that. The key is that I used to live in comfort as a Muslim. Now I have to create my own comfort. It is challenging indeed. However, God always knows our intentions.

At the end of the day, I can only pray desperately for God to always love me, bless me, and give me guidance.

What you wish for your future self 
How you hope to feel, live, and relate to yourself and others

To be honest, with the situation in my home country, it is hard to dream of a better future. Maybe I will do something bigger than now to build the life I want. What I have to remind myself is: wherever I am, whatever condition I am put in, I pray to always get strength, not to lose faith, and to find peacefulness.

A gentle message to yourself 
Support, reassurance, or a reminder you may need to read later.

Hi from your past. To be at this point in life, to have ticked off one of your biggest dreams, I'm so proud of you. You proved to yourself that you can do everything once you set your mind to it. And of course, by Allah's will. Try to be kind and gentle to yourself. Keep the positive mindset. Stop being so harsh and judgmental toward yourself. You are precious. You are loved. You are good as you are now.

Stop worrying about the future. Stop chasing things that you cannot hold. Try to enjoy the moment you are living in right now. Life is beautiful when you know how to enjoy it. Cheers to another precious time to live~