Hola! Wow sudah melewati triwulan pertama tahun 2021! Udah berhasil baca berapa buku nih? Aku 16 buku. Hampir setengah dari target tahun ini yaitu 40 buku.

Buku yang Selesai Dibaca di Maret 2021 + Book Mail

Bulan Maret aku kembali semangat membaca buku! Apalagi udah beli e-reader *Astagfirullah riya*. Buku apa sajakah itu?

1. Tentang Tubuhmu - dr. Gia Pratama


Sesuai judulnya, buku ini berisi tentang tubuh manusia. Ada otak, jantung, lambung, hati, empedu, dan masih banyak lagi. Buku setebal 184 ini lumayan "berat" dibaca. Kenapa? Karena menjelaskan anatomi tubuh. Dan banyak penggunaan istilah latin.

Baca: Review Perikardia: Perjalanan Indah untuk Dikenang, Ribet untuk Diulang

Yang aku suka dari buku ini adalah ada pesan terselip untuk mencintai diri sendiri. Dirimu itu luar biasa. Bukan biasa-biasa saja. Dan ya, semakin kagum dengan kebesaran Allah yang begitu sempurna menciptakan tubuh serta sistem kerjanya.

2. Ayah dan Sirkus Pohon - Andrea Hirata


Berisi serpihan (?) cerita dari buku Ayah. Atau naskah aslinya ya? Aku lupa. Ada cerita tentang gimana ayahnya Zorro menjadi gila karena terpisah dengan anaknya.

Lalu ada Sobirin yang dianggap ga bisa ngapa-ngapain. Takdir membawanya jadi badut sirkus. Nggak dinyana, disitulah dia menemukan kebahagiaan. Sayang, bahagia itu ternyata juga nggak lama. Masih tentang cerita orang-orang sederhana. Hidup apa adanya. Tidak menuntut harta benda.

3. The Wisdom of Sundays - Oprah Winfrey


Buku yang isinya diambil dari talk show Oprah Winfrey berjudul Super Soul Sunday. Dibagi menjadi 10 Bab: Awakening, Intention, Mindfulness, Spiritual GPS, Ego, Forgiveness, Broken Open, Grace and Gratitude, Fulfillment, dan Love and Connection.

Tiap babnya berisi kutipan wawancara dengan berbagai narasumber. Iya, narasumbernya banyak. Salah satu yang aku tau yaitu Arianna Huffington. Baca buku ini enaknya sambil diresapi. Dia bicara tentang spiritualitas kan. Aku pribadi sukaa! Bisa direnungkan. Tiap baca halamannya merasa "kalem" aja gitu lho.

4. Kami (Bukan) Jongos Berdasi - J.S. Khairen


Katanya ini tuh salah satu buku J.S. Khairen yang fenomenal. Rating di Goodreads pun tinggi. Lebih dari angka 4! Wow. Ini buku kedua. Yang pertama berjudul Kami (Bukan) Sarjana Kertas. Aku belum berhasil menyelesaikan buku pertama, pas dibaca rasanya aneh gitu. Akhirnya memutuskan baca ini. Tetep bisa ngikutin, kok.

Ceritanya tentang kegalauan hidup Sania and the gank setelah lulus. Aku lumayan relate dengan buku ini sih. Soalnya bahas tentang kalo udah kerja, ngapain? Mimpi yang dulu dikejar nggak? Perlu kuliah lagi? Kerja lembur terus asal gaji banyak? Udah siap nyicil beli rumah? Cari pasangan kayak gimana, sih? Yha semacam itulah~ 

5. Janji - Tere Liye


Buku terbarunya Tere Liye. Aku suka! Klik link diatas untuk baca ulasan lengkapnya ya!

6. Ayesha at Last - Uzma Jalaluddin


Baca ini dalam rangka menyelesaikan TBR di Google Playbook. Biar bisa jajan lagi gitu loh! Haha. Nggak kecewa bacanya. Cukup seru dan menghibur. Ulasan lengkap bisa klik link diatas juga ya!

***

Bulan ini masih komitmen ga beli buku fisik. Jadilah beli 1 buku aja itu Janji-nya Tere Liye. Langsung selesai dilahap dong akhir pekan kemarin. Hihi. Nggak merasa mubazir :)

Bulan ini kamu baca berapa buku? Ada yang berkesan? Boleh racunin aku di kolom komentar ya!

Review Ayesha at Last - Uzma Jalaluddin


Judul: Ayesha at Last
Penulis: Uzma Jalaluddin
Terbitan: Juni 2019
Penerbit: Penguin Random House (Baca di Google Playbook)
Jumlah Halaman: 368

Sinopsis


A modern-day Muslim Pride and Prejudice for a new generation of love.

Ayesha Shamsi has a lot going on. Her dreams of being a poet have been set aside for a teaching job so she can pay off her debts to her wealthy uncle. She lives with her boisterous Muslim family and is always being reminded that her flighty younger cousin, Hafsa, is close to rejecting her one hundredth marriage proposal. Though Ayesha is lonely, she doesn't want an arranged marriage. Then she meets Khalid, who is just as smart and handsome as he is conservative and judgmental. She is irritatingly attracted to someone who looks down on her choices and who dresses like he belongs in the seventh century.

When a surprise engagement is announced between Khalid and Hafsa, Ayesha is torn between how she feels about the straightforward Khalid and the unsettling new gossip she hears about his family. Looking into the rumors, she finds she has to deal with not only what she discovers about Khalid, but also the truth she realizes about herself.

Review


Akhirnya baca juga! Seliweran di Goodreads. Masukin list want to read. Eh kesampean ada deals di Google Playbook. Di sinopsisnya disebutin Muslim version of Pride and Prejudice. Aku belum baca karya tersebut jadi nggak bisa mengiyakan/menolak.

Tokoh utamanya ada dua, yaitu Ayesha dan Khalid. Cerita diawali dengan Ayesha yang akhirnya mendapat pekerjaan sebagai guru pengganti. Tapi dia merasa nggak cocok. Jiwanya lebih ke penyair (dan mendeklamasikan). Usai jam kerja dia dan temannya (Clara) menuju ke Bella's. Lounge dimana dia sering mendeklamasikan puisi.

Disaat yang sama adalah Khalid. Seorang muslim konservatif. Bekerja di perusahaan IT. Yang paling menonjol dari dia cara berpakaiannya. Dianggap "Arab" banget dengan gamis dan kopiahnya. Kolega sekantornya, Clara ngajak dia nongkrong di Bella's. Tujuan Clara ngajak Khalid biar dia kenal Muslim lain yang lebih fleksibel. Nggak sekaku Khalid. Clara juga ada misi untuk menjodohkan mereka berdua. Itulah pertama kalinya Khalid dan Ayesha ketemu.

Khalid ini orangnya judgemental. Dia menganggap Ayesha bukan Muslim yang sebenarnya. Karena dia nongkrong di Bella's. Khalid menganggap Bella's itu bar. Dimana ada alkohol berseliweran. Sedangkan dia nggak minum. Ayesha merasa tersinggung. Dibalaslah dengan beberapa bait puisi.

What do you see when you think of me,
A figure cloaked in mystery
With eyes downcast and hair covered
An oppressed woman yet to be discovered?

Do you see backward nations and swirling sand,
Humpbacked camels and the domineering man?
Whirling veils and terrorists
Or maybe fanatic fundamentalists?
Do you see scorn and hatred locked
Within my eyes and soul,
Or perhaps a profound ignorance of all the world as a whole?

Yet...
You fail to see
The dignified persona
Of a woman wrapped in maturity
The scarf on my head
Does not cover my brain.
I think, I speak, but still you refrain
From accepting my ideals, my type of dress,
You refuse to believe

That I am not oppressed.
So the question remains.
What do I see when I think of you?
I see another human being
Who doesn't have a clue.

Bait terakhir puisi ini ditujukan kepada Khalid. Selayaknya novel romantis, yang terjadi kemudian adalah kejadian dimana mereka berdua menghabiskan waktu hingga akhirnya jatuh cinta. Pada novel ini, menjadi panitia konferensi Muslim-lah "jalan" itu.

Namun nggak mulus begitu aja dong. Tentu ada konfliknya. Konflik disini cukup rumit. Mulai dari Khalid yang nggak tahu nama asli Ayesha. Khalid yang ada masalah keluarga di masa lalu. Disisi lain Ayesha nggak langsung menerima kenyataan bahwa dia suka sama Khalid.

***

Salah satu sisi tradisi yang menonjol di novel ini yaitu rishta. Semacam taaruf yang merupakan budaya India. Jadi keluarga pria mencari keluarga wanita mana nih yang sesuai kriteria. Bisa dilihat dari silsilah keluarga, kecantikan, kekayaan, dan kecakapannya dalam memasak. Lalu saling mengirim proposal. Apabila ada yang tertarik, perwakilan keluarga pria akan mengunjungi keluarga wanita.

Di pertemuan itu terjadilah proses saling mengenal. Ya menanyakan apa aja yang sekiranya dibutuhkan untuk bisa menemukan kecocokan. Kalau cocok berlanjut lamaran. Membawa hadiah macam seserahan gitu kali ya. Akhirnya menikah deh.

Ayesha dalam novel ini nggak terlalu menyetujui rishta. Karena dia menganggap kok mirip ke "shopping" alias pilih-pilih wanitanya tuh kayak belanja? Dan kebanyakan rishta malah mementingkan status, kedudukan, kekayaan keluarga dibanding kecocokan maupun cinta.

Berikutnya, novel ini dilengkapi beberapa puisi klasik. Sebut aja Shakespeare. Maklum ya kan ceritanya disini Ayesha memang penyair.

Ada satu hal yang agak kurang masuk ke flow ceritanya itu kejadian pada Hafsa. Sepupu Ayesha. Malah lebih mirip thriller tapi kok nanggung, agak maksa gitu. Hehe.

Overall sih enjoyable ya. Buktinya aku bisa baca sampe kelar :P sepertinya faktor pertama kali baca novel yang ditulis penulis Muslim diluar negeri sih. Jadi penasaran dan pengen ngulik novel dengan penulis luar negeri juga. Selama ini kan baca novel ngga spesifik ke nuansa Islami. Yah buat nambah pandangan seperti apa sih berislam diluar Indonesia yang mayoritas ini :)
Udah macam hubungan aja ada anniversary. Yep, bulan Maret ini setahun sudah kita hidup ((berdampingan)) dengan Covid-19. Dibandingkan dengan tahun lalu, ada perbedaan nggak? Jelas ada dong.

Covid-19 Anniversary

Pertama: mobilitas. Awal tahun ini aku udah merasakan bepergian. Satu hal yang sejak tahun lalu aku hindari. Bahkan sekadar jogging pagi pun aku kurangi *ini males aja sih*. Ketemu orang macem ketemu macan. Ga berani deket-deket. Eh tahun ini ya mau ga mau bepergian karena keadaan memaksa. Alias mutasi.

Baca: Dari Solo ke Bogor: Mutasi!

Kedua: pekerjaan. Februari 2021 aku masih mengalami hanya masuk kantor sehari diantara 5 hari kerja. Sisanya WFH alias kerja dari rumah. Sejak mutasi, kebijakan dikantor baru berbeda. Disini kebalikannya. 1 hari wfh sisanya wfo. Di hari ketiga mutasi pun aku udah diajak untuk dinas keluar kota. Wow.

Ketiga karena disini yang terdekat adalah kakakku, aku ngikut aja kemana dia pergi. Terutama di bagian jalan-jalan. LOL. Aku pernah menjadi orang yang menentang jalan-jalan saat pandemi. Bahkan sekadar memposting pun gimanaa gitu. Menurutku bahayanya postingan itu bisa memicu orang yang liat untuk berpikir, "Ah dia aja bisa jalan kesana kemari aman. Masa aku enggak" - dan akhirnya banyak orang keluar rumah tanpa urgensi penting.

Lama kelamaan rasanya hal ini nggak bisa dihindari. Kecuali: rumahmu seluas lapangan sepakbola dengan fasilitas lengkap, semua pekerjaan bisa dikerjakan dari rumah. Nggak perlu cari nafkah diluar rumah. Sementara aku tinggal dikos aja udah bosen sih yuyur. Akhirnya yaudah mau ga mau ikutan kemana pergi.

Apakah aku merasa aman? Nggak sama sekali. Aku masih memantau berita perkembangan jumlah positif Covid-19 dan belum ada penurunan signifikan. Yah begitulah.

Nggak jarang aku merasa hipokrit dulu menggaungkan dirumah aja sekarang kok justru dirumah cuma weekend dan wfh doang? :) aih hidupku. Tapi ya gimana setelah beberapa waktu memang pendapatku mulai tergoyahkan.

Babak baru di masa pandemi pun dimulai. Vaksin! Instansi kerjaku naik daun karena dia. Makanya begitu keluar izin penggunaan darurat langsung harap-harap cemas. Dapet jatah di bulan apa, ya?

Sejak bulan Februari udah dilakukan pendataan dikantor. Sayangnya karena aku mutasi jadi mundur dari nama yang didaftarkan. Saat itu di Kota Surakarta. Tahu lah ya alasannya kenapa. Vaksin covid-19 ini kan butuh 2x dosis dengan interval 14 hari (pada saat itu). Dengan jumlah terbatas, yang dapet vaksin harus mendapat dosis 1 dan 2 ditempat yang sama.

Akhirnya aku kembali didata di lokasi kerja baru. Menunggu..menunggu...menunggu... Baru pada tanggal 23 Maret 2021 siang aku mendapatkan vaksin dosis 1! Yeay. Alhamdulillah.

Kami (yup, dengan rekan sekantor yang sama belum divaksin) mendapat jadwal di Kota Bogor. Tempatnya adalah lokasi vaksinasi massal. Ada 2 kelompok yang divaksin pada saat aku datang. Pekerja pelayanan publik dan lansia. Jujur aku senang melihat antusiasme masyarakat disini. Mereka tertib dan raut mukanya terlihat sumringah sembari menunggu giliran.

Aku melihat beberapa pasangan lansia yang datang sendiri tanpa didampingi. Haru aja. Kelompok umur mereka kan yang paling rentan, ya. Bagai mendapat angin segar.

Saat vaksinasi aku salut kepada petugas dari Dinas Kesehatan Kota Bogor. Semua dilayani dengan cepat. Arahan jelas. Nggak ada kebingungan sama sekali. Dan ramah dong petugasnya. Baru merasa, "Oh jadi orang-orang ini ya yang dilatih sebagai vaksinator". Aku melihat mereka bekerja keras dan beberapa diantaranya memakai double masker :)

Jadi gimana rasanya divaksin?

Kayak udah lama banget ngga sih ga divaksin? LOL. Aku memang orang kesehatan yang patut dipertanyakan hmm. Untuk muslimah berhijab ada bilik khusus yang tertutup. Vaksinatornya pun berhijab semua.

Setelah melalui beberapa meja (registrasi dan screening), lengan kiriku disuntikkan vaksin. Kata vaksinatornya, "Rileks aja ya mbak biar gampang" - bener dong nggak kerasa apa-apa saat disuntik itu. Aku malah nggak yakin ini udah kena kulit apa belum. Hehe.

Barulah beberapa saat setelah vaksin itu terasa pegal di bagian yang disuntik. Udah gitu aja? Ternyata nggak dong. Sesampainya dikantor aku merasa pusing. Bukan karena akhir bulan, sungguhan. Pusingnya seperti orang jawa bilang nggliyeng. Alhasil sampe kos aku bebersih dan langsung tidur. Bangun magrib dan laper. Pas mager masak yaudah gofood aja #Lyfe.

Baca: Kebiasaan Baru di Tahun 2021

Senangnya hatiku mendapat vaksin yang telah lama kutunggu. Masih belum selesai memang. Menunggu 28 hari lagi untuk mendapatkan dosis kedua. Bulan puasa dongg. Wish me luck! Semoga bisa tetap sehat dan negatif Covid-19 sembari menunggu suntik dosis kedua.

Aku tetap konsisten menggunakan masker sampai pandemi benar-benar usai. Dan menguatkan hati untuk nggak keluar rumah untuk urusan remeh temeh. Gimana kabar kalian setahun pandemi ini? Adakah hal yang berubah?
Review Janji - Tere Liye

Judul: Janji (Unedited Version)
Penulis: Tere Liye 
Terbitan: Maret 2021
Penerbit: Google Playbook (Buku Elektronik)
Jumlah Halaman: 928

Sinopsis


TIDAK ADAA ~ emang misterius biar pembaca penasaran.

Review


Cerita diawali di sebuah sekolah agama. Tahun itu tahun politik. Seorang calon presiden berkunjung untuk “silaturahmi”. Dia disambut dengan baik oleh Buya (kiyai) pemilik dan juga para santri. Nggak lupa disuguhi pula teh dan kue.

Saat meminum teh, calon presiden dan stafnya keheranan. Yang mereka rasakan adalah asin. Hampir nggak bisa ditelan, tapi apa daya. Di hadapan calon presiden adalah kiyai. Banyak media yang meliput. Mau nggak mau harus menelannya dan mengatakan teh itu lezat.

Selesai acara, Buya memanggil Tiga Serangkai terbadung disekolah: Hasan, Baso dan Kahar. Sudah nggak terhitung kenakalannya. Dan Buya tahu bahwa mereka pelaku yang memasukkan garam ke teh calon presiden. Buya pun menghukum mereka. Bukan dengan cara dikeluarkan, karena dia nggak ingin menyerah seperti ayahnya. Ya, ayah Buya pernah mengeluarkan 1 murid sepanjang hidupnya.

Sebagai gantinya, Tiga Sekawan diminta untuk mencari sosok Bahar. Siapakah Bahar?

Bahar, puluhan tahun yang lalu merupakan murid dari ayah Buya. Pendiri sekolah agama tersebut. Sama dengan Tiga Serangkai, dia pun nakal. Anak yatim piatu, tidak tahu siapa orang tuanya, hanya diasuh neneknya hingga akhirnya dikirim ke sekolah agama. Kenakalannya memuncak hingga membangunkan orang sahur menggunakan meriam berbubuk mesiu. Celaka, sekolah agama itu terbakar. Seorang murid difabel ditemukan meninggal karena nggak bisa menyelamatkan diri.

Akhirnya yang diinginkan Bahar pun terpenuhi: dia dikeluarkan dari sekolah.

Namun setelah itu ayah dari Buya sering bermimpi buruk. Perasaan bersalah menghantui. Mimpi yang sering ia jadikan pertanyaan:

Ayahku bermimpi dia berada di tengah gurun pasir maha luas. Matahari terik di atas kepala, sejauh mata memandang hanya pasir. Itu seperti sebuah halte atau terminal, tempat pemberhentian sementara. Ada banyak orang di sana, yang hendak melanjutkan perjalanan, melintasi gurun pasir, pergi ke tujuan terakhir. Tempat manusia diadili seadil-adilnya.

Saat ayah berjalan lima-sepuluh langkah, mendadak sebuah kendaraan indah mendekat. Kendaraaan itu bagai melayang di udara, warnanya kuning keemasan, rodanya perak. Siapakah gerangan yang bisa menaikinya? Bahar.
“Mimpi seorang ulama, Bason, Hasan. Mimpi yang tidak kosong saja” - halaman 45
Ketiga tukang biang onar tersebut diberikan misi mencari Bahar. Dan mencari jawaban apa alasan Bahar bisa menaiki kendaraan seindah itu? Apa yang dia lakukan semasa hidupnya, padahal dia terkenal sebagai pemabuk, kasar, bahkan membangkang Buya? Apabila Tiga Serangkai berhasil menemukan jawabannya, mereka boleh memilih keluar dari sekolah. Namun sebaliknya, apabila gagal mereka harus menyelesaikan sekolah hingga lulus.

Berangkatlah mereka bertiga mencari jejak Bahar…

Ada yang pernah baca buku Tere Liye berjudul Tentang Kamu? Seorang pengacara yang mencari jejak milyader hingga ke negara lain? Nah, cerita di Janji pun seperti itu. Bedanya, perjalanan dilakukan didalam negeri. Hanya mengandalkan beberapa petunjuk samar-samar.
“Orang-orang terbaik di muka bumi, mereka selalu melakukan perjalanan. Melihat dunia luas” - halaman 55
Bagiku buku ini menarik sekali. Interaksi ketiga teman ini beberapa kali membuatku tertawa. Lucu dan polos. Di beberapa bagian lain aku sempat meneteskan air mata mendengar kisah Bahar.

Sosok Bahar digambarkan agak misterius. Kisah kehidupannya justru didapat dari orang yang berinteraksi dengan dia. Setiap orang yang ditemui oleh Tiga Serangkai untuk mencari Bahar, selalu menceritakan hal baik. Bahar meninggalkan kesan mendalam pada mereka.

Padahal hidup Bahar sendiri biasa-biasa saja. Malah terkesan prihatin. Dia tidak ramah. Jika bicara sambil mendengus. Tidak punya keluarga. Tidak punya harta. Lalu bagaimana ceritanya dia bisa berada di mimpi seorang ulama dengan menaiki kendaraan terbang, pula? Apa yang dia lakukan?

Nah disinilah gong-nya. Bahar memegang teguh janji kepada ayah Buya (pendiri sekolah agama). apa sajakah janji itu? Baca aja bukunyaa! :D
“Kita selalu bisa memilih, bersabar atau marah. Bersyukur atau ingkat. Bahkan saat situasi itu memang menyakitkan, boleh jadi tetap ada kebaikan di sana. Dan orang-orang yang memang sabar dan bersyukur, dia akan memilih mengingat hal-hal yang baik dibandingkan yang menyakitkan” - halaman 816
Secara keseluruhan, aku suka sih buku ini. Banyak pesan agama yang diselipkan oleh Tere Liye. Maklum deh ya settingnya aja anak sekolah agama. Hehe. Lalu meminjam kata anak-anak di litbase, buku ini page turner. Alias nggak sabar untuk baca halaman selanjutnya.

Iyalah, penasaran banget jejak hidup Bahar itu kayak apa! Apakah bakal ketemu atau enggak jawabannya. Setelah baca ini pun aku merenung beberapa saat. Apakah aku bisa menjalankan hidup bermakna seperti Bahar? Huhu :”)

Recommended bukunya!

Instagram