Hari kedua di Jeju dimulai setelah subuh. 



Semua udah di-briefing untuk bangun sebelum matahari terbit. Ada satu yang kami kejar, yaitu momen matahari terbit. Tempatnya pun spesial, sebuah tempat yang masuk dalam daftar UNESCO World Natural Heritage Site.

Seongsan Ilchulbong



Tempat ini merupakan fenomena alam terbentuknya kerucut (tuff cone) setinggi 182 meter yang disebabkan oleh letusan hidrovulkanik ribuan tahun lalu. Dilihat dari ketinggian bentuknya seperti mangkuk cekung. Apakah pengunjung bisa lihat? Enggak. Hanya bisa keliatan kalau liat pakai drone misalnya.


Titik ini menjadi bagian paling timur, dan terkenal untuk berburu keindahan matahari terbit. Maka dari itu tempat ini udah dibuka 1 jam sebelum matahari terbit. Waktu kami kesana agak bingung area mana yang gratis dan mana yang berbayar. Alhasil kami bayar aja deh cari aman, per orang 5000 KRW.


Yang kami lakukan apa? Yaa..bengong memandang matahari terbit. Rasanya tenang, meski banyak pengunjung. Kami sama-sama tau untuk menjaga kesyahduan momen ini *eak.

Area ini terbilang luas. Pengunjung bisa mendaki sampai puncak, kalau mau. Kami? Cukup dibawah saja. Hehe. Lalu ada penampilan haenyeo atau penyelam wanita Jeju di jam 2 siang. Kalau mau liat bisa datang pada waktu tersebut.







Puas menghabiskan waktu di sisi timur Jeju, kami beranjak berganti hotel ke daerah Seogwipo. Tapi sebelumnya, nggak afdhol dong nggak cari tahu lebih lanjut tentang haenyeo. Jadilah kami menyambangi Jeju Haenyeo Museum.

Jeju Haenyeo Museum



Museum yang didedikasikan untuk Haenyeo. Apa sih, atau siapa sih haenyeo itu? Mereka ini para penyelam perempuan ikon Jeju. Para pencari nafkah yang menyelam tanpa peralatan modern seperti tabung oksigen. Masih tradisional! Haenyeo sendiri juga sudah terdaftar dalam Warisan Budaya Takbenda UNESCO.

At this moment, I think Indonesian government should learn how to preserve our culture and history. Agar nggak ada lagi momen berantem dengan negara lain karena tuduhan klaim budaya. But, looking at our situation right now, do they have that kind of spirit? When all their focus is to enrich themselves? Ah, entahlah.

Balik lagi ke haenyeo. Peran haenyo disini sangat besar. Aku merasa jiwa feminim dan girl power begitu kuat. Mereka mencari nafkah untuk keluarganya, berserikat, bahkan sampai mendonasikan sebagian penghasilannya untuk membangun sekolah di wilayah masing-masing. Haenyeo juga menggambarkan perlawanan pada masa penjajahan Jepang. Mereka yang terdampak karena pajak penjajah, bersatu untuk melawan. Sungguh perjuangan :')



Didalam museum ada tiga ruang pameran utama, berkisah tentang replika rumah haenyeo, pakaian tradisional, alat makan, sampai bagaimana pakaian penyelamnya ini berevolusi dari masa ke masa. Sebagian besar koleksi disini donasi dari para haenyeo. Jadi keautentikannya bisa dijamin. 

Saking detailnya museum ini dipikirkan, di belakang bangunan ini langsung menghadap pemandangan laut Hado-ri dan rumah-rumah haenyeo. Setelah melihat koleksi, naik ke lantai observasi sambil membayangkan bagaimana kehidupan haenyeo.


Di masa kini, kondisi haenyeo bisa dibilang cukup mengkhawatirkan. Diperkirakan jumlahnya tinggal 3000an aja, dan laju regenerasinya sangat lambat. Generasi muda jarang mau "berkarir" menjadi haenyeo, sebab selain kurang stabil, membutuhkan fisik yang kuat (harus menyelam berjam-jam per hari).

Selain itu, krisis iklim juga menjadi tantangan. Dengan peningkatan suhu air laut, terumbu karang memutih. Lantas populasi rumput laut berkurang. Dampaknya? Tentu hasil buruan laut seperti abalon, kerang dan bulu babi jauh berkurang.

Di sisi lain, pemerintah terus berusaha untuk melestarikan. Ada jaminan sosial dan kesehatan, sekolah haenyeo, dan integrasi dengan pariwisata. Salah satunya melalui pertunjukan di Seongsan Ilchulbong tadi.

To be honest, di satu sisi aku merasa kok mereka jadi kayak "tontonan" ya? Macam sirkus yang harus perform. Di sisi lain, itu cara mereka bertahan hidup. Well, I hope they can live and preserve this culture for long long time.

Kalau kamu tertarik tentang haenyeo, ada beberapa drama korea yang memasukkan kisah haenyeo didalamnya. Seperti Our Blues, Welcome to Samdal-ri, dan yang terbaru drama IU When Life Gives You Tangerines.

Jeongbang Waterfall



Destinasi ketiga di hari ini yaitu sebuah air terjun. Aksesnya mudah dan terjangkau dengan jalan kaki dari hotel. Walau setelahnya capek banget bookkk dengan tangga yang curam di air terjun ini. 

Eh di jalan disapa sama warga lokal yang mau hiking. Dipuji karena bisa bahasa Korea. Hihi. Pujian yang sangat umum untuk foreigner :P




Apa istimewanya Jeongbang Waterfall? Dengan biaya 2000 KRW pengunjung bisa menikmati air terjun pemegang predikat satu-satunya air terjung di Asia yang langsung jatuh dari surga ke laut. Harus hati-hati untuk kesini, isinya batuan tajam dan terjal. Herannya masih penuh dengan manusia :)) I think we're curious mind dan pengen lihat seberapa kerennya air terjun ini.


Oh ya, perlu pakai windbreaker juga agar terhindari dari enter wind alias masuk angin.

Seogwipo Maeil Olle Market



Lelah berkelana, kami menikmati malam di Seogwipo Maeil Olle Market. Bentuk pasar di Korea tuh ternyata mirip-mirip bangunannya. Kalau udah pernah liat Mangwon atau Namdaemun, ya kurang lebih seperti inilah.

Isinya tenan makanan berbagai macam. Ada 3 hal yang mendominasi, 1) toko oleh-oleh 2) babi hitam 3) seafood. Kami sempat jajan jeruk kering yang dibalut yogurt, enak! Asem seger gitu. Recommended deh kalau ke Jeju.


Adapun makanan lain ya standar sih~ kata temenku yang pesan babi, memang lebih enak karena lemaknya kerasa banget. Kami hanya "OOHHH...." sambil melihat dia menikmati kudapannya. LOL.

Saat belanja-belanja gini, kami mengamati loh. Toko jual oleh-oleh baik di Udo, Seongsan Ilchulbong, maupun Seogwipo ini harganya terstandar. Contoh, harga parfum di range 10.000 - 12.000 KRW. Harga topi jeruk 10.000 KRW. Piyama jeruk 18.000-20.000 KRW. Bahkan di hotel yang kami kira bakal mahal, harganya cuma beda 1000 KRW aja.

Salut sama regulasi harganya. Mau belanja dimana pun nggak akan merasa rugi. Di sisi konsumen nyaman, sisi penjual tinggal berpasrah dengan rezeki. Hehe. Rata-rata penjualnya ramah di Seogwipo. Bahkan di satu toko, mereka effort pakai alat penerjemah untuk ngasih tau informasi. Pas tau kami dari Indonesia, eh lagu tabole bole itu disetel dong. Haha. Terniat :))

Keramahan seperti ini yang bikin semangat menggerakkan perekonomian Korea (alias belanja :P). Hari kedua ditutup dengan berpayung menuju hotel. Berlindung dari hujan rintik-rintik~

Stay tune untuk hari ketiga!
Finally! Here we go to the most sought travel destination after Seoul and Busan! Jeju-do! Alhamdulillah masih dikasih kesempatan eksplor ditengah summer break kilat ini. 


Thanks to Indonesian girls yang sudah merencanakan dengan matang. Selama 4 hari 3 malam bener-bener mendalami kehidupan sebagai turis di Jeju.


Sekalian kronologis biar bisa dicontek itinerary bisa kali ya?

So, mari mulai dengan hari pertama a.k.a Day 1.

Dimulai dari Seoul kami keluar dorm jam 4 pagi! Dimana subuh itu 3.30. Penerbangan yang kami ambil masih masuk akal paginya. Bukan dini hari. Cuma biar aman aja kami lebih suka spare waktu. Bandara yang kami tuju bukan Incheon, melainkan Gimpo. 


Kami pesan taksi dari hari sebelumnya. Daan, tada! Sudah muncul saat kami keluar dorm. Perks of living in Korea: semua on time. Bahkan si sopir terkejut dan komen, wah kalian ternyata pagi juga datengnya. Perjalanan ke Gimpo Airport lebih cepat dibanding Incheon. Kurang lebih 30 menit ditemani playlist old korean songs dari supir.

Sampai di airport, kami self check in. Take konten. Menunggu boarding. 


Kami bawa paspor tapi ternyata nggak perlu. Karena udah punya kartu identitas disini. Semua berjalan lancar tanpa kendala. Airportnya bersih, jelas. Se-pagi itu banyak juga yang terbang ke Jeju. Maklum, musim liburan.

Selama 45 menit - 1 jam di udara, akhirnya sampai juga di Jeju. Hello Jeju~


Hari pertama ini kami langsung menuju U Island. Atau lebih dikenal dengan Udo. Jaraknya cukup jauh karena berada di sisi timur. Sedangkan bandara terletak di sisi utara. Kami pilih naik bus. Drama nomor 1 dimulai. Jadi di Jeju ini interval bus-nya nggak sesingkat Seoul. Ketinggalan 1 bus, bisa menunggu 30 menit sampai 1 jam kemudian. Sempat bingung dan gonta ganti jalur antrian. Antara bus nomor 300an atau 100an gitu.


Akhirnya kami memilih salah satu kalau nggak salah bus nomor 111. Dan, ya. Berhasil untuk menuju Seongsan Port. Pelabuhan dimana kami harus menaiki ferry menuju Udo. Metode pembayaran menggunakan T-money. Penting untuk top-up. Aku mengisi saldo sekitar 25 atau 28 ribu KRW untuk trip ini. Biayanya 3000 atau 4000 KRW sekali jalan ke Seongsan Port. Untuk kami yang membawa koper bisa diletakkan di bagasi sisi kanan bus.

Sepanjang jalan, pemandangan hijau dan hewan seperti kuda terpampang nyata. Culture shock: supir bus disini lebih fast furious daripada Seoul punya. Aku yang dapet tempat duduk di paling belakang sungguh diuji ketahanan agar tidak muntah :)) setiap guncangannya tuh aduhaaai berasa sekali~

Sekitar 1,5 jam menahan mual, akhirnya sampai juga di Seongsan Port. Halte paling ujung dari rute ini. Dengan menggeret koper grudak gruduk kami membeli tiket. 

Sempat bingung gimana caranya, ternyata:
1. Isi form. Ada 2 form yang harus diisi, form 1 untuk kepergian. Form 2 untuk balik. Sama sih isinya. Kayaknya cuma untuk memastikan aja semua balik. Isiannya nama, nomor ID atau paspor, nomor handphone dan jenis kelamin
2. Bayar di loket per orang 10.500 - 11.000 KRW.
3. Tetap pegang tiket untuk menyeberang

Muncul pertanyaan selanjutnya, mau ditaruh dimana koper kami?

Di sebelah tourist information tersedia loker. Tapi ukurannya kecil, nggak muat untuk koper kabin ini. Akhirnya disarankan menuju ke CU untuk dititip. Biayanya 4000 KRW per koper. 


Jangan harap ada receipt ya, ini sih nggak resmi. Yaudah gapapa kan ga mungkin kami bawa sampe ke Udo? :)) cuma terima cash!

Ferry pertama ke Udo sekitar 7.30 - 8.00 pagi.
Jam terakhirnya 05.00 - 06.30 sore. Tergantung musim dan ombak. Interval 30 menit sekali. Waktu tempuh 15 - 20 menit.

Perlu antimo nggak? Nggak. Aman. Ombaknya bersahabat. Penumpang bisa pilih mau outdoor (lantai 2) atau indoor (lantai 1). 



Di bagian indoornya berupa ruangan luas tanpa sekat dan tempat duduk. Konsepnya ngemper gitu. Kelebihannya ada AC jadi lebih adem. 


Waktu berangkat kami pilih outdoor. Pas balik pilih indoor. Tepar se-tepar teparnya dengan kondisi terik matahari yang menyengat.


U Island (Udo)

Sampai di Udo, kami sewa sepeda listrik. Ada beberapa pilihan harga gitu. Awalnya kami langsung dikasih yang 25000 KRW. Ga mau dong, orang ada pilihan 20000 KRW. Tipenya ada yang single, ada juga yang kayak mobil mini kapasitas 3 orang. Tipe mobil ini enak sih bisa terlindung dari panas, tapi kurang dapet vibesnya untuk kami berempat yang sudah dewasa.


Dilihat dari cara stafnya memperlakukan kami, mereka udah biasa dapet turis mancanegara. Terutama turis China buanyak banget! Usut punya usut kata temenku sih karena Jeju itu deket dari Shanghai. Oooh, masuk akal. Stafnya bisa ngomong mandarin pun.

Waktu kami nanya gimana cara pake sepeda listriknya, staf yang notabene udah uzur bisa menjelaskan dengan english patah-patah. Appreciate lho. Jangan heran juga ya kalau tenaga kerja disini kebanyakan lanjut usia. Memang Korea mengalami yang namanya aging society. 

Dengan angka harapan hidup tinggi (artinya banyak lansia masih sehat) dikombinasikan dengan rendahnya angka kelahiran, ya alhasil populasi diisi dengan lansia. Mungkin di Seoul nggak terlalu keliatan. Begitu ke luar Seoul, jarang banget ngelihat anak usia sekolah atau dewasa muda. 

Okay lanjut. Jadi kegiatan siang bolong itu adalah keliling Udo. Sampai sekarang masih nggak habis pikir, kok kuat ya mana nggak pake topi pula. LOL.






Desain rumah dengan pagar batu dan atap berwarna biru ini ada makna tersendiri. Jeju punya nickname Samdado ("Island of Three Abundances"): angin, batu, dan perempuan.

Pagar batu berfungsi sebagai windbreaker. Bebatuan ini disusun tanpa perekat ataupun semen. Sengaja dibuat seperti itu agar angin bisa masuk perlahan-lahan di sela bebatuan. Sehingga yang masuk kerumah bukan lagi angin kencang. Lebih ke sepoi-sepoi.

Untuk atap berwarna birunya, dimulai dari tahun 1970. Awalnya jerami digunakan sebagai atap. Seiring dengan modernisasi, pemerintah menggalakkan pembaruan dengan  mengganti menjadi atap yang lebih kuat dan tahan lama. Ada unsur estetik juga kan dengan perubahan ini.


Entah kenapa kami nggak nyicip peanut ice cream yang terkenal itu. Bahkan sampai udah balik lagi ke Seoul :)) gapapa lah artinya emang kudu remidi. Menyenangkan sekali bisa sepedaan cantik di pulau yang juga cantik. I keep thinking to myself, I don't know when will I get another chance to spend this kind of time. Just enjoying the nature without any other thoughts. So so grateful for this opportunity.

Puas di Udo, kami lanjut ke hotel. Sengaja pilih yang masih sekitaran Seongsan Port karena masih ada destinasi yang akan kami kunjungi.

K-drama Spot: Rumah Cho Yong Pil



Ada yang nonton drama Welcome to Samdal-ri? Banyak lokasi syutingnya di Jeju. Meski bukan di satu titik terpusat. Kayaknya emang jarang ya.



Nah untuk rumah ini paling sering muncul di konten medsos. Alamatnya di 시흥상동로68번길. Sekitar 5 bus stop dari Seongsan Port? Terjangkau. Sebenarnya rumah ini tuh ada penghuninya. Pengunjung tetep boleh foto-foto asal nggak berisik. Ada bannernya juga kok didepan tentang informasinya. So, don't worry.

Agak salah fokus, halamannya tuh wangi kenanga banget. Enak!

K-drama Spot: Gimnyeong Beach



Destinasi terakhir di hari pertama masih k-drama spot, yaitu Gimnyeong Beach. Highlight disini pantai pasir putih dengan warna hijau turqoise dan ombak minimal. Tenang banget. Di kejauhan nampak pula kincir angin. Semakin menambah estetika.

Katanya ini muncul di episode 12 Samdal-ri. Entahlah, sejujurnya aku nggak nonton dramanya. Hehe..

Karena ombaknya tergolong aman, banyak warlok terutama cowok-cowok remaja nyebur disini. Emang se-tenang itu. Behubung kami dateng saat matahari terbenam, Alhamdulillah dapet warna warni yang cantik banget!



Tanpa pernah kami tahu bahwa itulah sunset terakhir kami di Jeju! Haha. Setelahnya yang kami dapet awan gelap, kabut dan hujan deras :)) Alhamdulillah masih rezeki.

***

Begitulah hari pertama kami yang menyenangkan di Jeju. Untuk tempat makan aku sengaja nggak masukin ya. Mayoritas menunya seafood. Tapi kan preferensi dan standar halal mungkin beda. Daripada menimbulkan perdebatan~ cukup lokasi wisata aja yang aku ceritain :P

Anyway, kami harus tidur awal agar bisa bangun pagi di hari kedua. Kenapa? Mau kemana? Lanjut di postingan berikutnya~
Masih membahas perbukuan, mari berlanjut ke toko buku di Seoul. Ada buuanyak banget toko buku independen. Pastinya estetik dan instagram-able. Menurutku pribadi salah satu daya tarik Korea khususnya Seoul tuh banyak barang lucu dan estetik. Secara prinsip minimalisme nggak sejalan memang. Ngapain beli barang cuma untuk visual tanpa fungsionalitas yang jelas? Di sisi lain, indera penglihatan beneran dimanjakan.

Oke, balik ke topik. Toko buku. Sejauh ini aku belum banyak eksplor toko buku. Alasannya 1) Kebanyakan jual buku bertuliskan hangeul. Dah tau kan kendalanya dimana? Takut gak kebaca 2) Punya banyak TBR. LOL. Alhasil maksud kedatangan ke toko buku lebih ke menambah pengalaman visual dibanding berbelanja.

Di Korea, ada jaringan toko buku gede semacam Gramedia. Namanya Kyobo. Bisa ditemui di banyak cabang, ada online-nya juga. Kalau mau cari buku yang bisa dibilang lengkap dan terbaru stoknya, ya di Kyobo. Tapi kalau merasa "intimidated" dengan toko buku gede, toko buku independen bisa jadi alternatifnya.

Kyobo Gwanghwamun



Cabang Kyobo terbesar di Korea, dalam artian koleksi bukunya. Kalau secara ukuran luas bangunan dan gedung, masih lebih besar Kyobo cabang Gangnam.

Luasnya 9000 meter persegi. Punya 2.3 juta buku (OMG kebayang nggak sih seberapa banyak?). Banyak bagian yang bisa kita ulik. Buku anak-anak, best-seller, buku berbahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Ada kedai kopi.



Mereka tuh sangat memfasilitasi orang baca buku, nggak cuma beli buku. Disediakan area baca anak, area baca dewasa. Khusus yang dewasa ini selalu penuh dan suasananya nyaman dengan pencahayaan temaram serta balutan warna kayu yang menghadirkan kesan intimate dan hangat. 

Oh ya, sebagai mahasiswa Yonsei dapat diskon 10% yang bisa dimanfaatkan. Lumayaannn...


Jam buka:
Setiap hari 09:30 – 22:00 KST

Akses: 
Gwanghwamun Station (Line 5), Exits 4 atau 5 (langsung nyambung ke bangunannya!)

Itaewon Bookstore



Dari toko buku besar, lanjut ke toko buku kecil. Saking kecilnya kalau dua orang papasan di koridor mau nggak mau bersenggolan. Hehe. Kok kayak gang senggol jadinya?

Katanya toko buku ini tuh berdiri sejak 1973. Awalnya pemilik pertama hobi ngumpulin buku dan majalah dari base militer US. Iya, daerah Itaewon-Yongsan itu kan dulunya base militer US. Bahkan di Yongsan sampai sekarang masih ada bangunan khasnya dengan bata merah. Nah sekarang usaha ini dilanjutkan sama anak perempuannya. Pas liat beliau di meja kasir, penampilannya vintage gitu.



Disini angin surgawi buat yang nggak bisa bahasa Korea. Bukunya bahasa Inggris semua! Kebanyakan bekas, walau ada juga yang masih baru. Ada juga beberapa buku aku temukan berbahasa Jerman dan Prancis. Meski bekas, menurutku harganya bukan di range murah sih. Yaah pinter-pinter berburu aja :D

Jam buka:
Setiap hari 11:00 – 20:00

Akses:
Noksapyeong Station (Line 6), Exit 2

Chaekbognyang



Kalau yang ini definisi hidden gem se-hidden hiddennya. Letaknya bukan di pinggir jalan, melainkan perumahan. Bahkan dari depan nggak keliatan tanda toko bukunya. Kami harus cek reviewnya biar nggak salah ketuk. Untuk buka pintu diminta pelan-pelan karena....pemiliknya adalah kocheng! Haha, nggak deng. Lebih tepatnya ada kocheng yang dipelihara disitu.

Nama Chaekbognyang ini udah menjelaskan sebenarnya. Chaek (buku), Bo (studio), and Nyang (suara kucing dalam bahasa Korea. Mirip "meow" gitu deeh). Bagi penggemar kocheng bakal suka banget. Semua yang dijual serba kocheng. Koran, majalah, buku, kartu pos, pin, daan sebagainya. 




Waktu kami kesini ada sepasang suami istri dan anak, si anaknya sibuk mengelus-elus kocheng kaya ngga mau pulang. LOL. Kochengnya emang lucu dan gemoy sih. 

Jam buka:
Kamis-Minggu 13:00 – 19:00

Akses:
Subway Line 4 to Hansung University Station

Alladin Bookstore 




Toko buku satu ini bisa dibilang versi secondhand dari Kyobo. Meskipun namanya toko buku bekas, jangan salah. Buku yang ditawarkan dalam kondisi bagus bagus banget! Interiornya bersih, terang benderang, nggak kumuh. Malah kayak di perpustakaan.


Harga yang ditawarin juga beneran murah, ada setengah sampai sepertiga dari harga baru. Sampai saat ini ada 21 cabang di Seoul. Dan cabang Jongno yang pernah aku kunjungi ini adalah yang terbesar untuk koleksi berbahasa Inggrisnya. Cabang lain yaitu Sinchon terdekat dari kampusku, tempat dimana aku beli e-reader keduaku :))


Denger-denger sih di Alladin bisa terima buku bekas juga kalau kita mau jual. Kebenarannya entahlah, belum pernah coba sih..

Masih banyak toko buku atau kafe buku yang belum sempat kusambangi. Apakah list ini akan bertambah? Entahlah, lihat nanti :P

Ada yang pengen dikunjungi nggak nih dari list diatas?