Semarangan
Ada nggak sih destinasi perbukuan di Semarang? Jawabannya: ada. Tapi yang aku rekomendasikan bukan perpustakaan milik pemerintah. Sepertinya yang ini belum digarap dengan baik.

Microlibrary Warak Kayu Semarang

Perkenalkan: Microlibrary Warak Kayu. Perpustakaan mini milik swasta yang dikelola oleh Harvey Center. Didirikan oleh perusahaan yang bergerak di bidang furnitur (katanya). Selain itu, Microlibrary Warak Kayu ini mengklaim sebagai perpustakaan dengan desain unik dan eco-friendly pertama di Semarang.

Apa sih artinya Warak? Aku kira namanya Warak Ngendog ternyata bukan :P Sebagai warga Semarang, aku taunya Warak Ngendhog itu hewan mitologi yang umumnya dimunculkan saat Dugderan. Sebuah perayaan festival di Semarang untuk menyambut awal Ramadan. 

Dari luar desainnya memang unik, sih. Semacam rumah pohon gitu? Yang nggak napak langsung ke tanah. Material bangunannya juga didominasi oleh kayu. Itu juga salah satu alasan kenapa pengunjung wajib memakai kaos kaki ketika disini. Untuk menjaga kualitas kayunya agar tetap baik.

Akses ke Microlibrary ini gampang banget. Waktu kesini akupun naik bus. Dari arah Banyumanik, turun di halte sekitar RS Kariadi (aku lupa pasnya dimana). Atau di lapangan Garnisun Kalisari. Nyebrang dan jalan dikit, sampe deh. Perpus ini deretan pasar bunga tapi paling ujung, ke arah RS Kariadi.

Microlibrary Warak Kayu buka di hari Senin-Sabtu. Untuk detail jamnya bisa cek di instagram @microlibrary_warakkayu. Lumayan sering kok update info. 

Secara area ini ada area bawah dan atas. Area bawah ada tempat duduk dan ayunan. Aku sempet notice karena waktu kesini temenku udah nungguin. 

Nah untuk bisa baca koleksi bukunya, pengunjung bisa naik keatas. Jangan lupa lepas sepatu dan masukkan ke rak yang disediakan. 

Rak Sepatu Microlibrary Warak Kayu

Sesampainya diatas agak bingung harus gimana. Lol. Di beberapa sudut ada informasi mengenai bangunannya. Kemudian rak-rak buku, dan hammock (bener ga sih nyebutnya gitu) untuk area baca.


Pertama, kami disambut dengan pustawakan. Dia bakal ngarahin untuk registrasi dulu. Gratis, ya. Diminta nama lengkap, alamat, email dan nomor HP. Setelahnya bakal dapat email bahwa sudah teregistrasi kayak gini.

Kedua, nikmati koleksinya! Kami langsung keliling cek cek isi rak bukunya apa aja. Aku kesini ditahun 2022, udah lumayan lama ya. Pada saat itu menurutku koleksinya masih dikit dan kurang bervariasi. Ada beberapa tumpukan buku juga didalam kardus yang belum disusun.




Untuk area bacanya bisa ngemper di lantai kayunya, di hammock jaring(?), maupun meja kursi yang tersedia. Tapi meja kursinya terbatas banget. Kami sih pilih untuk ngemper aja. Sekalian foto-fotolah :))

Microlibrary Warak Kayu belum membolehkan pinjam dibawa pulang ya. Cuma boleh baca ditempat aja. Experience baca disini sih........berisik. Bukan dari sesama pengunjung atau pustakawannya. Justru suasana didalem tuh hening. Tapi berisiknya berasal dari jalan raya. Lalu lalang kendaraan. Trus dibagian belakang kan perkampungan tuh, pas kami kesana juga berisik ada mesin pemotong atau apalah itu.


Buatku yang butuh hening buat mencerna buku, ini sih kurang nyaman ya. Bisa jadi buat pengunjung lain ga masalah. Setiap orang punya preferensi suasana baca masing-masing kan....

Untuk masuk kesini gratis tis tis. Jadi kalau bosen baca buku dirumah, bisalah sebagai alternatif. Mungkin kalau butuh suasana hening, bawa sendiri headset dengan teknologi noise canceling. 

Gimana, tertarik untuk berkunjung?
Puluhan tahun tinggal di Semarang baru tau ada pusat buku bekas selain di stadion. Maklum gaes baru punya uang sendiri sekarang. Baru bisa bebas beli-beli apa aja *curcol.

Book Boss: Surga Buku Bekas Impor di Semarang

Keberadaan book boss ini padahal udah cukup lama. 2000...belasan kalo gak salah inget? Lokasinya mudah dijangkau asal dengan kendaraan pribadi :P untuk kendaraan umum seperti BRT bisa berhenti di halte stasiun poncol. Lanjut becak atau ojek online.

Dari luar penampakannya nggak kayak toko buku. Malah mirip sama pabrik rokok yang ada di Kota Lama. Biru gonjreng, bahkan tulisan book boss nya aja gak ada :)) Berhubung ga kepikiran ngefoto bagian depan ini aku attach dari postingan instagramnya aja ya.


Yang harus diingat ketika mau kesini harap pantau instagramnya dulu apakah buka. Pengalaman aku udah sampe lokasi ternyata tutup. Hiks. Mana lokasinya panas lagi kan. HAHA. 

Book Boss Semarang
Jl. Dorang No.7, Dadapsari, Kec. Semarang Utara, Kota Semarang, Jawa Tengah 50173

Di kunjungan kedua aku mengubah strategi dengan cek instagram dulu. Begitu pasti buka, cuss. Asli ini tuh bikin trust issue tempatnya buat yang pertama kali. Bener nggak sih ini tempatnya? Parkiran sepi. Lingkungan sekitar sepi. Gak ada orang yang ditanya.

Pede aja deh, masuk kedalam. Masih sepi nggak ada suara kehidupan. Aku memutuskan naik keatas dannn...jreng. Benarlah ada penampakan buku-bukunya. Haah...akhirnya menghela nafas lega. Meski baru sampe langsung dibilang, "hari ini kami buka sampe jam 1 siang aja ya" bhaique. Yang penting udah kecoret dulu wish list nya.

Buku-buku di Book Boss ini mayoritas berisi buku berbahasa Inggris. Menurut stafnya, diimpor rutin dari UK. Ada buku berbahasa Indonesia nggak? Ada. Buku anak terbitan mereka sendiri. Yap, Book Boss ini punya percetakan buku anak juga. Cuma tepatnya dimana aku kurang tau sih.

Suasana didalam ruangannya remang-remang. Agak lembap, di beberapa titik keliatan bekas bocor gitu. Pokoknya definisi vintage, berdebu, panas dan kurang perawatan deh :"




Selain buku anak ada apalagi?
Majalah berbahasa Inggris, novel dewasa, dan buku psikologi (yang terakhir ini lumayan banyak). Harga yang dibanderol mulai Rp 17.000 - Rp 130.000. Bisa dilihat di label harga dibedakan dengan warnanya.



Bisa beli online nggak?
Bisa. Book Boss rutin buku-buku yang dijual di laman instagramnya. Pembeli bisa juga nanya dulu/pesen buku apa untuk dicarikan. Masih tradisional banget ya :p 

Didalam ruangan ada tulisan kalau mau ambil gambar/foto izin staf dulu. Aku kira bakal ada persyaratan tertentu gitu kan. "Boleh mbak, asal beli produk" - ooooh udah deg-degan dulu kudu ngapa-ngapain. Gak enak juga ya kalo dateng foto-foto doang ngga beli apa-apa. 


Ini dia hasil jajanku! Semuanya buku anak. Lebih ke alasan biar gampang dimasukin jok aja sih :)) Segini habis Rp120.000. Buku Winnie The Pooh ini hard cover. Aku liat keduanya kondisi cukup baik. Dalam artian gak ada bekas coretan, tumpahan atau kotoran lain. Berdebu dan kekuningan aja. Wajarlah untuk buku bekas. Menurutmu, ini mahal atau murah?


Kabar gembira untuk kita semua. Nggak deng. Aku aja ini. Akhirnya pulang! 5 Agustus 2020! Catat! Tidak direncanakan. Tidak keluar uang. Tidak khawatir bercampur (?) dengan orang nggak dikenal. Pokoknya serba dadakan. Kok, bisa?

Seminggu sebelom Idul Adha yuyur udah merencanakan pulang. Lebih tepatnya dijemput. Memaksakan diri banget melihat kondisi yang nggak segera membaik. Aku khawatir aja kalau kedepannya justru semakin susah buat bepergian. Aku yang terlalu parno.

Kemudian kabar datang: ada tetangga reaktif rapid test Covid-19. Hiyakkk dess! Melunturkan rencanaku. Bisa aja pulang kan orangnya isolasi di rumah dinas wali kota. Namun!! Bukan lulu namanya kalau tidak parno. Yha sudah Idul Adha berdua aja sama penjaga kos. Mantul.

Baca: Kamu Butuh Test Covid-19? Halodoc Aja!

Awal bulan Agustus mendapat kabar akan diadakan swab test bagi seluruh pegawai. Wow Alhamdulillah banget. Fyi swab dilaksanakan di Semarang. Karena memang tujuan awal swab test ini untuk mencoba laboratorium ber-PCR. Lab kantor Semarang direncanakan untuk menambah kapasitas uji swab pemerintah. Khususnya wilayah Semarang.

Aku excited dong huhu apakah aku harus pulang? Mungkin ini yang namanya semesta berkonspirasi. Rabu (05/08) sampai Jumat (07/08) memang jadwalku wfh. Artinya ngga perlu hadir ke kantor untuk presensi. Cukup melalui aplikasi dan ngisi kerjaan by sistem aja. Aaakkkhhh ini baru work from home sesungguhnya!

Gimana rasanya swab test?

Ini mau diceritakan di postingan tersendiri kok ya nggak ada kesan mendalam. Biarpun udah liat video pengambilan kayaknya sakit. Diceritakan rekan kerja yang duluan: hawanya pengen lepas masker aja. Ada yang sampe keluar darah (???) kan menciutkan nyali ya. Temen-temen tuh lebih cemas di "sakitnya" saat swab dibanding menunggu hasil test-nya sendiri. Kocyaak emang.

Swab test yang aku lakukan ini menggunakan reagen apa gatau maap aku memang tidak niat mencari tahu.

Biasa aje kan ekspresinya? Ya emang

Jadi prosesnya seperti ini: kami diminta mengisi form assessment. Standar kalo ngga salah sesuai edaran Kemenkes. Isinya ada keluhan batuk/flu/demam nggak? Suhu badan berapa? Pernah kontak dengan pasien Covid-19? Melakukan perjalanan ke negara terjangkit? - Btw pertanyaan terakhir menurutku udah kurang relevan deh. Sebagian besar wilayah Jateng keliatannya zona merah. 

Selain form, kami juga diminta mengumpulkan fotokopi KTP. Fungsinya jika (nauzubillah jangan sampe) ada yang positif bisa ditrack. Petugas yang melakukan berasal dari Labkesda Jawa Tengah.

Setelah lengkap kami diberi tools untuk test. Terdiri dari 2 isinya: cotton bud versi lebih panjang dan botol untuk wadah sampel. Cotton bud ini ukurannya kira-kira 2 ruas jari. Apakah intimidating? Enggak. Biasa aja ya selayaknya cotton bud hanya ukurannya agak lebih gede.

Mengantrilah kami. Aku dapet nomor antrian 5. Deg-degan? Sedikit, sih. Lebih ke liat petugas ber-APD lengkap tuh selalu mindblowing. Huft.

Saat giliranku, proses pengambilan sampel tergolong singkat. 5 menit lah. Aku diminta duduk di kursi yang disediakan. Kepala menengadah hampir 90 derajat. Ambil nafas dulu sebanyak-banyaknya. Saat cotton bud dimasukkan ke hidung harus tahan nafas, ya! Agak PR untukku yang nafas pendek. 

Aku merasa sensasinya mirip ngupil dengan kedalaman lebih aja WKWK. Nggak yang dimasukkan banget kayak bayangkanku. Yes I always create worst scenario. Disodok santai begicu. Maap tidak menemukan bahasa yang cucok.

"KITA TUH HAPPY AJA KOK!"

Udah deh, kelar. Berhubung hidung masih nyambung ke mata jadilah agak berair dikit. Dikira nangis padahal ya kagakkkk. Emang memicu aja untuk keluar air mata.

Hasilnya di akhir pekan udah keluar. Alhamdulillah semua pegawai di kantor negatif. Nggak sia-sia kan menahan diri untuk #DirumahAja? Trust me, kesehatan semakin hari semakin mahal harganya.

Baca: #StayAtHome during Covid-19 Pandemic

Setelah swab, kami makan siang. It was also (if I am not mistaken) pertama kalinya aku makan diluar sejak pandemi. Apakah tempat makannya menerapkan protokol kesehatan? Auk amat. Modal masker apa bisa dikatakan seperti itu? I don't think so.

Dan waktu yang ditunggu pun datang: PULANG. Aku nggak ngabarin orang rumah sama sekali. Truth to be told I was scared if my plan failed. Kan sedih. Ya akhirnya dadakan aja ala-ala surprise. Hahaha.

Am I happy?

Yes. To breath in a city I grow up definitely creates certain happiness. Di kepala udah merancang berbagai rencana jahat berkeliling kota. Sayang nggak didukung oleh semesta. Hujan + lagi-lagi lebih pilih kesehatan. Yang dilakukan akhirnya jalan kaki dan bersepeda. Jalan kaki setelah sekian lama!

Meriah menyambut Hari Kemerdekaan

Tembok ijo itu SMA aku
Tempat praktikum pada masanya

Atau justru baru pertama kali ya diniatin beneran jalan kaki tanpa ada embel-embel: jalan kaki ke sekolah, jalan kaki pulang kantor. Senanggg! Wilayah pinggiran dimana aku tinggal ternyata banyak perubahan. Toko dan tempat makan baru bermunculan. Paling amazed sih dengan adanya traffic light di perkampungan.

Hmm, should I say perkampungan? Jadi ada perempatan jalan yang selaluuuu padat. Ngeri banget disitu gak ada yang mau ngalah. Ruwet, kan? Dimana kah itu? Perempatan jalan Kanfer-Tusam-Meranti. Deket masjid Al-Muhajirin (kalo ga lupa namanya lol). Aku yang "WAAHHHH" akhirnya nggak ruwet lagi. Jalanan pun mulussss. Hebat memang pembangunan di Kota Semarang.

Bersyukur kerinduan pada kota ini sedikit terobati. I feel like I could breath more :"))

Bonus aku yang cantik karena pake masker



Besar di Semarang ternyata nggak lantas membuat saya bangga menjadi warganya. Justru krisis identitas pernah menghampiri. "Emang aku pantes disebut orang Semarang?".


Pertanyaan itu muncul karena sering teman dari luar Semarang nanya banyak. Tentang kota ini. Dan berakhir dengan saya menjawab dengan, "Nggak tau ik..". Karena saya emang ngga tau dan ngga pernah cari tau. Huhu.

Puncaknya, saat masa kuliah sampai ada adik tingkat yang mengira saya orang luar Jawa. Masih mending dikira bukan orang Semarang ya. Nah ini, BUKAN ORANG JAWA. "Mba orang Semarang? Beneran?" - padahal cetakan muka udah Jawa banget. Logatnya medhok nggak terkira. Disitu saya merasa gagal menjadi warga Semarang.

Baca: Balada Orang Semarang yang Nggak Kenal Kotanya

Pada akhirnya keputusan kuliah di kota ini justru menumbuhkan kecintaan saya pada Semarang. Saat berada di luar kota misalnya, sering tanpa sadar saya membandingkan apa yang ada dengan yang di Semarang.

"Ah, itu di Semarang juga ada kali"
"Di Semarang lebih lengkap deh kayaknya"
"Enakan makanan yang di Semarang deh"
Dan masih banyak lagi celetukan lainnya. Emang, apa aja sih sebenernya yang bikin Semarang selalu dirindukan?

Medhok Jawanya yang khas

"Mosok to?"
"He'e ik"
"Orak og"
Hayo, siapa yang sering denger slang kayak gitu? Saya kira ini khas Semarangan lho. Di kota lain nggak ada. Hahaha. Bahasa Jawa yang digunakan di Semarang itu masih tergolong halus. Ya bisa dibilang pertengahan antara Surabayan yang agak keras dan Jogja yang alus banget. Oh ho, tentu saja itu analisis asal-asalan dari saya.

Baca: A Trip to Jogja: Roadshow ke LPM Himmah UII

Jujur aja, saya tergolong orang yang ngirit ngomong bahasa Jawa. Faktor kebiasaan komunikasi di rumah menggunakan bahasa Indonesia, ditambah ketidak fasihan ngomong bahasa Jawa menjadi penyebabnya. Nah anehnya begitu ketemu orang asli Semarang, keinginan untuk ngomong pake bahasa Jawa menggebu-gebu. Pun saat dilakukan ya rasanya asyik gitu. Bedalah ngomong sama sesama orang Jawa yang bukan Semarang.

Gampang kemana aja


twitter.com/transsemarang
Ngomongin tentang transportasi publik, duh! Favorit saya adalah: bus. Apalagi setelah ada BRT/Trans Semarang. Keliling Semarang naik BRT dari ujung ke ujung bukan hal mustahil. Dengan tarif cuma Rp 3.500 bisa kemana aja di Kota Semarang. Transit untuk berganti bus misalnya, nggak dipungut biaya lagi. Udah gitu sekarang bayarnya bisa pake e-money atau model Go-Pay. Mantul!

Baca: You, I and Bus

Kekurangannya? Armada ke Banyumanik sering penuh. Terutama saat jam anak sekolah + orang kantor pulang. Bisa harus nunggu 2-3 kali bus lewat dulu untuk bisa naik. Pak Wali, tolong dengarkan saya! Hahaha.

Perbaikan dari tahun ke tahun

Salah satu perbaikan paling bikin kagum: Kawasan Gombel. Kayak mimpi bisa jadi serapi itu. Tiap lewat kawasan ini nggak bisa nggak kagum. Mengingatkan saya akan jalanan di pusat kota Banjarmasin dengan desain yang sama. Bukan mau berlebihan. Tapi sebagai korban ganasnya kawasan Gombel (terutama Gombel Lama) ya perbaikan jalan ini beneran kerasa manfaatnya.

Selain pernah ngalamin kecelakaan di lokasi itu, ngeliat orang celaka juga pernah. Intinya: ngeri euy! Makanya hamdalah banget bersyukur sekarang udah aman (teteplah safety first), bagus, dan nyaman untuk dilewati.

Ada lagi? Banyak. Taman kota diperbaiki. Dari yang terdekat Taman Tirto Agung. Sekarang jadi jujugan warga di Semarang atas buat piknik tipis-tipis. Taman KB yang berubah jadi Taman Indonesia Kaya. Kawasan Tugu Muda yang super bersih dan ADA TAP WATERNYA! Haha sebangga itu!

Sepanjang waktu perbaikan terus dilakukan. Saya yang awalnya merasa "bodo amat" akhirnya ngeh juga. Wah, ternyata kota ini berbenah. Dan yang terbaru: Bridge Fountain. Kejutan apa ya, yang bakal diberikan oleh kota ini?



Tulisan ini disertakan dalam #BlogChallengeGandjelRel Parade 4th Gandjel Rel Pekan 1
Tema BPN 30 Day Blog Challenge kali ini cukup buat jidat berkerut. Tempat makan favorit? Aku tuh bukan anak mukbang, tapi anak umi abi alias makan-makan. Prinsip makanan yang boleh dan bisa aku makan gampang banget: pertama halal, kedua nggak pedes. Itu aja. Dan seringnya aku mengutamakan kenyang dibandingkan rasa -_- ya gimana kan makan setelah lapar. If you really do that, dijamin deh makan apa aja jadi enak.


Jadi tempat-tempat ini adalah tempat makan yang menurutku enak dan murah meriah. Untuk ukuran anak mahasiswa. Yang belum berpenghasilan tetap gitu loh. Check it out!

Mie Nges Nges 
Jl. Sirajudin No.5B, Tembalang, Semarang City, Central Java 50275
Jam buka: 11 pagi - 9 malam

MY FAV ALL THE TIME. Kalo bingung mau makan apa dan hari sebelumnya nggak makan mie, dapat dipastikan aku berada disini. Awalnya mie nges nges ini dibuka di Banyumanik (deket perempatan perumahan Duta Bukit Mas). Kemudian buka cabang di Tembalang. Tapi entah kenapa justru yang di Banyumanik udah tutup. Sekarang tinggal di Tembalang aja.

Sesuai namanya, disini menu utamanya adalah mie. Berhubung abi kenal sama owner-nya, aku dapet bocoran mie-nya mereka bikin sendiri alias handmade (apa homemade?). Enak banget mie-nya nggak terlalu kenyal, dan tipis kecil mirip kwetiaw. 

Nama "nges-nges" nya dimaksudkan untuk rasa pedes. Iya, mie nges nges itu pedes. "Loh, katanya nggak bisa makan pedes?" level standar pedesnya disini biasa aja kayak nyicip cabe aja. Nggak yang pedes sampe bikin perut mules. 

Dulu awal buka range harga mulai Rp 8.000 udah dapet mie nges yang ukuran single semangkok. Sekarang paling murah mulai dari Rp 10.000. Dengan harga segitu bisa dapet semangkok mie nges + pangsit. Pangsitnya juga khas bikinan mereka! Renyah banget ku sukaa!

Mi nges nges katsu (instagram.com/miengesnges)
Sekarang menu mereka udah bervariasi. Ada mie nges junior buat yang nggak suka pedes, ramen nges-nges, sapi lada hitam, sampe rice bowl. Aku biasa pesen mie nges yang standar . Tapi kalo lagi laper banget pesen yang jumbo. Porsi standarnya buatku cukup mengenyangkan. Cuma kalo buat kalian kayaknya enggak sih. Maklum kapasitas perut ketchil, shay! Paling enak si sapi lada hitamnya. Aku beli kalo ditraktir atau dibayarin ortu aja lol #Irit.

Mie lada hitam (instagram.com/miengesnges)
Disini nggak ada fasilitas Wi-Fi ya, jadi fokus aja makan dan ngobrol ama temen-temen kalian. Waktu nunggu pesanan datengnya nggak lama, berkisar 10-15 menit aja. Untuk take away dikenakan biaya tambahan Rp 1.500 buat packagingnya. Lebih hemat sih bawa tempat makan sendiri. Less waste juga kan.

Mie Ayam Mega 306 Banyumanik
Jl. Karangrejo II A No.16, Srondol Wetan, Banyumanik
Jam buka: 10 pagi - 8 malem
Go-Food ☑

Setelah mie nges nges, ini favoritku berikutnya. Kedua karena harganya lebih mahal dari mie nges-nges. Tapi lokasinya deket buaaangeeet sama rumah jadi favorit deh. Hehe. Bentuk mie-nya mirip dengan mie nges. Tipis tipis.

Mie ayam komplit...kayana (instagram.com/miemega.306)
Kata instagramnya sih dia juga home made. Pilihannya juga banyak. Paling murah mie ayam seharga Rp 16.500. Ada mie ayam jamur, mie ayam pangsit, mie ayam komplit, mie ayam goreng level. Favorit saya mie ayam jamur. Kalo laper banget, pilih mie ayam komplit deh. Dijamin puas dan kenyang.

Nggak cuma mie ayam, disini sedia es teler dan cemilan kayak rogut, risoles. Saya belum pernah nyicip jadi ngga bisa ngasih tau ya.

Mie Ayam Mbak Yanti
Jl. Durian Raya No.70A, Srondol Wetan, Banyumanik
Jam buka: 09.30 pagi - 10 malem

Kata temen saya ini mie ayam paling enak sejagad....Semarang. Haha. Mie ayam mbak Yanti. Ada di Tembalang (depan Indoprinting Banjarsari) dan di jalan Durian (exit tol Sukun). Bentuk mie-nya seperti pada umumnya: tebel dan kenyal. 

Apakah beneran enak? Yhaaa...enak. Yang bikin enak nih kaldu ayamnya. Dia entah kenapa rasanya kok kaya Mie Sedaap kari ayam. Hoho. Rempahnya kerasa nendang banget dibanding mie ayam lain. Porsinya kecil menurut saya tapi ya tetep mengenyangkan....

Harganya agak lebih tinggi dibanding yang lain. Mulai dari Rp 16.000 seinget saya. Paling enak katanya mie ayam ceker. Saya belum pernah nyoba. Males cuci tangan ribet hahaha.

Chockles
Go-Food ☑

Ini bukan tempat makan siih. Isinya minuman sesuai namanya: coklat! Diantara banyak stan pinggir jalan yang jual cokelat, chockles juaranyaa! Bisa ditemui di Ngesrep (sebelah Raja Ink, kanan jalan dari arah Undip), di Timoho (kiri jalan, depan Indomaret), dan Tirto Agung (kiri jalan dari arah Undip). Seinget saya tiga itu sih.

Yummyyy (instagram.com/chockles_es_cokelat)

Range harga mulai dari Rp 8.000 apa ya? Favorit saya lupa apa namanya hahaha pokoknya dia yang ada butiran kenari. Rasanya nampol!

WKWK Food and Drink
Jalan Urip Sumoharjo, Pelutan, Kec. Pemalang, Kabupaten Pemalang

Dari Semarang, langsung terbang ke Pemalang ya. Hahaha. I can't think of any but this. Saking seringnya kesini waktu KKN. Di Semarang belum ada. Adanya di Pemalang, Pekalongan, Kudus, Tegal, Purwokerto, Kendal. Lokasi yang di Pemalang pas banget deket alun-alun. Jadi ya enak buat nongkrong. Ini tuh kayak tempat nongki hitz gitu deh di Pemalang.

Kami (tim KKN) pernah kesini pake sendal dan kaos aja berasa alien gitu diliatin orang banyak. Yang lainnya udah cantik, dandan dulu, pake baju bagus. LOL. Harganya terjangkau, pilihan makanannya banyak, cemilan juga. Dan porsinya nggak pelit. 2x makan rice bowl. Pertama ngga habis. Kedua udah langsung nawarin, "Siapa yang mau tambahan?" hahaha. Duh laff banget si makan bareng cowok-cowok tuh. Nggak ada jaimnya. Selalu siap menerima pasokan makanan.

Eh, fokus fokus. Wajib coba roti bakar es krimnya, yang coklat dan green tea. Huhu terus jadi pengen gimana nih???

***

Baiklaah itu dia 5 review singkat darikuu. Ada yang udah pernah nyoba?

#BPN30DAYCHALLENGE2018
DAY 1 / DAY 2 / DAY 3 / DAY 4 / DAY 5 / DAY 6