Microlibrary Warak Kayu belum membolehkan pinjam dibawa pulang ya. Cuma boleh baca ditempat aja. Experience baca disini sih........berisik. Bukan dari sesama pengunjung atau pustakawannya. Justru suasana didalem tuh hening. Tapi berisiknya berasal dari jalan raya. Lalu lalang kendaraan. Trus dibagian belakang kan perkampungan tuh, pas kami kesana juga berisik ada mesin pemotong atau apalah itu.
Kabar gembira untuk kita semua. Nggak deng. Aku aja ini. Akhirnya pulang! 5 Agustus 2020! Catat! Tidak direncanakan. Tidak keluar uang. Tidak khawatir bercampur (?) dengan orang nggak dikenal. Pokoknya serba dadakan. Kok, bisa?
Seminggu sebelom Idul Adha yuyur udah merencanakan pulang. Lebih tepatnya dijemput. Memaksakan diri banget melihat kondisi yang nggak segera membaik. Aku khawatir aja kalau kedepannya justru semakin susah buat bepergian. Aku yang terlalu parno.
Kemudian kabar datang: ada tetangga reaktif rapid test Covid-19. Hiyakkk dess! Melunturkan rencanaku. Bisa aja pulang kan orangnya isolasi di rumah dinas wali kota. Namun!! Bukan lulu namanya kalau tidak parno. Yha sudah Idul Adha berdua aja sama penjaga kos. Mantul.
Baca: Kamu Butuh Test Covid-19? Halodoc Aja!
Awal bulan Agustus mendapat kabar akan diadakan swab test bagi seluruh pegawai. Wow Alhamdulillah banget. Fyi swab dilaksanakan di Semarang. Karena memang tujuan awal swab test ini untuk mencoba laboratorium ber-PCR. Lab kantor Semarang direncanakan untuk menambah kapasitas uji swab pemerintah. Khususnya wilayah Semarang.
Aku excited dong huhu apakah aku harus pulang? Mungkin ini yang namanya semesta berkonspirasi. Rabu (05/08) sampai Jumat (07/08) memang jadwalku wfh. Artinya ngga perlu hadir ke kantor untuk presensi. Cukup melalui aplikasi dan ngisi kerjaan by sistem aja. Aaakkkhhh ini baru work from home sesungguhnya!
Gimana rasanya swab test?
Ini mau diceritakan di postingan tersendiri kok ya nggak ada kesan mendalam. Biarpun udah liat video pengambilan kayaknya sakit. Diceritakan rekan kerja yang duluan: hawanya pengen lepas masker aja. Ada yang sampe keluar darah (???) kan menciutkan nyali ya. Temen-temen tuh lebih cemas di "sakitnya" saat swab dibanding menunggu hasil test-nya sendiri. Kocyaak emang.
Swab test yang aku lakukan ini menggunakan reagen apa gatau maap aku memang tidak niat mencari tahu.
![]() |
| Biasa aje kan ekspresinya? Ya emang |
Jadi prosesnya seperti ini: kami diminta mengisi form assessment. Standar kalo ngga salah sesuai edaran Kemenkes. Isinya ada keluhan batuk/flu/demam nggak? Suhu badan berapa? Pernah kontak dengan pasien Covid-19? Melakukan perjalanan ke negara terjangkit? - Btw pertanyaan terakhir menurutku udah kurang relevan deh. Sebagian besar wilayah Jateng keliatannya zona merah.
Selain form, kami juga diminta mengumpulkan fotokopi KTP. Fungsinya jika (nauzubillah jangan sampe) ada yang positif bisa ditrack. Petugas yang melakukan berasal dari Labkesda Jawa Tengah.
Setelah lengkap kami diberi tools untuk test. Terdiri dari 2 isinya: cotton bud versi lebih panjang dan botol untuk wadah sampel. Cotton bud ini ukurannya kira-kira 2 ruas jari. Apakah intimidating? Enggak. Biasa aja ya selayaknya cotton bud hanya ukurannya agak lebih gede.
Mengantrilah kami. Aku dapet nomor antrian 5. Deg-degan? Sedikit, sih. Lebih ke liat petugas ber-APD lengkap tuh selalu mindblowing. Huft.
Saat giliranku, proses pengambilan sampel tergolong singkat. 5 menit lah. Aku diminta duduk di kursi yang disediakan. Kepala menengadah hampir 90 derajat. Ambil nafas dulu sebanyak-banyaknya. Saat cotton bud dimasukkan ke hidung harus tahan nafas, ya! Agak PR untukku yang nafas pendek.
Aku merasa sensasinya mirip ngupil dengan kedalaman lebih aja WKWK. Nggak yang dimasukkan banget kayak bayangkanku. Yes I always create worst scenario. Disodok santai begicu. Maap tidak menemukan bahasa yang cucok.
![]() |
| "KITA TUH HAPPY AJA KOK!" |
Udah deh, kelar. Berhubung hidung masih nyambung ke mata jadilah agak berair dikit. Dikira nangis padahal ya kagakkkk. Emang memicu aja untuk keluar air mata.
Hasilnya di akhir pekan udah keluar. Alhamdulillah semua pegawai di kantor negatif. Nggak sia-sia kan menahan diri untuk #DirumahAja? Trust me, kesehatan semakin hari semakin mahal harganya.
Baca: #StayAtHome during Covid-19 Pandemic
Setelah swab, kami makan siang. It was also (if I am not mistaken) pertama kalinya aku makan diluar sejak pandemi. Apakah tempat makannya menerapkan protokol kesehatan? Auk amat. Modal masker apa bisa dikatakan seperti itu? I don't think so.
Dan waktu yang ditunggu pun datang: PULANG. Aku nggak ngabarin orang rumah sama sekali. Truth to be told I was scared if my plan failed. Kan sedih. Ya akhirnya dadakan aja ala-ala surprise. Hahaha.
Am I happy?
Yes. To breath in a city I grow up definitely creates certain happiness. Di kepala udah merancang berbagai rencana jahat berkeliling kota. Sayang nggak didukung oleh semesta. Hujan + lagi-lagi lebih pilih kesehatan. Yang dilakukan akhirnya jalan kaki dan bersepeda. Jalan kaki setelah sekian lama!
![]() |
| Meriah menyambut Hari Kemerdekaan |
![]() |
| Tembok ijo itu SMA aku |
![]() |
| Tempat praktikum pada masanya |
Atau justru baru pertama kali ya diniatin beneran jalan kaki tanpa ada embel-embel: jalan kaki ke sekolah, jalan kaki pulang kantor. Senanggg! Wilayah pinggiran dimana aku tinggal ternyata banyak perubahan. Toko dan tempat makan baru bermunculan. Paling amazed sih dengan adanya traffic light di perkampungan.
Hmm, should I say perkampungan? Jadi ada perempatan jalan yang selaluuuu padat. Ngeri banget disitu gak ada yang mau ngalah. Ruwet, kan? Dimana kah itu? Perempatan jalan Kanfer-Tusam-Meranti. Deket masjid Al-Muhajirin (kalo ga lupa namanya lol). Aku yang "WAAHHHH" akhirnya nggak ruwet lagi. Jalanan pun mulussss. Hebat memang pembangunan di Kota Semarang.
Bersyukur kerinduan pada kota ini sedikit terobati. I feel like I could breath more :"))
![]() |
| Bonus aku yang cantik |
Pertanyaan itu muncul karena sering teman dari luar Semarang nanya banyak. Tentang kota ini. Dan berakhir dengan saya menjawab dengan, "Nggak tau ik..". Karena saya emang ngga tau dan ngga pernah cari tau. Huhu.
Puncaknya, saat masa kuliah sampai ada adik tingkat yang mengira saya orang luar Jawa. Masih mending dikira bukan orang Semarang ya. Nah ini, BUKAN ORANG JAWA. "Mba orang Semarang? Beneran?" - padahal cetakan muka udah Jawa banget. Logatnya medhok nggak terkira. Disitu saya merasa gagal menjadi warga Semarang.
Baca: Balada Orang Semarang yang Nggak Kenal Kotanya
Pada akhirnya keputusan kuliah di kota ini justru menumbuhkan kecintaan saya pada Semarang. Saat berada di luar kota misalnya, sering tanpa sadar saya membandingkan apa yang ada dengan yang di Semarang.
"Ah, itu di Semarang juga ada kali"
"Di Semarang lebih lengkap deh kayaknya"
"Enakan makanan yang di Semarang deh"
Dan masih banyak lagi celetukan lainnya. Emang, apa aja sih sebenernya yang bikin Semarang selalu dirindukan?
Medhok Jawanya yang khas
"Mosok to?"
"He'e ik"
"Orak og"
Hayo, siapa yang sering denger slang kayak gitu? Saya kira ini khas Semarangan lho. Di kota lain nggak ada. Hahaha. Bahasa Jawa yang digunakan di Semarang itu masih tergolong halus. Ya bisa dibilang pertengahan antara Surabayan yang agak keras dan Jogja yang alus banget. Oh ho, tentu saja itu analisis asal-asalan dari saya.
Baca: A Trip to Jogja: Roadshow ke LPM Himmah UII
Jujur aja, saya tergolong orang yang ngirit ngomong bahasa Jawa. Faktor kebiasaan komunikasi di rumah menggunakan bahasa Indonesia, ditambah ketidak fasihan ngomong bahasa Jawa menjadi penyebabnya. Nah anehnya begitu ketemu orang asli Semarang, keinginan untuk ngomong pake bahasa Jawa menggebu-gebu. Pun saat dilakukan ya rasanya asyik gitu. Bedalah ngomong sama sesama orang Jawa yang bukan Semarang.
Gampang kemana aja
![]() |
| twitter.com/transsemarang |
Baca: You, I and Bus
Kekurangannya? Armada ke Banyumanik sering penuh. Terutama saat jam anak sekolah + orang kantor pulang. Bisa harus nunggu 2-3 kali bus lewat dulu untuk bisa naik. Pak Wali, tolong dengarkan saya! Hahaha.
Perbaikan dari tahun ke tahun
Salah satu perbaikan paling bikin kagum: Kawasan Gombel. Kayak mimpi bisa jadi serapi itu. Tiap lewat kawasan ini nggak bisa nggak kagum. Mengingatkan saya akan jalanan di pusat kota Banjarmasin dengan desain yang sama. Bukan mau berlebihan. Tapi sebagai korban ganasnya kawasan Gombel (terutama Gombel Lama) ya perbaikan jalan ini beneran kerasa manfaatnya.
Selain pernah ngalamin kecelakaan di lokasi itu, ngeliat orang celaka juga pernah. Intinya: ngeri euy! Makanya hamdalah banget bersyukur sekarang udah aman (teteplah safety first), bagus, dan nyaman untuk dilewati.
Ada lagi? Banyak. Taman kota diperbaiki. Dari yang terdekat Taman Tirto Agung. Sekarang jadi jujugan warga di Semarang atas buat piknik tipis-tipis. Taman KB yang berubah jadi Taman Indonesia Kaya. Kawasan Tugu Muda yang super bersih dan ADA TAP WATERNYA! Haha sebangga itu!
Sepanjang waktu perbaikan terus dilakukan. Saya yang awalnya merasa "bodo amat" akhirnya ngeh juga. Wah, ternyata kota ini berbenah. Dan yang terbaru: Bridge Fountain. Kejutan apa ya, yang bakal diberikan oleh kota ini?
Jadi tempat-tempat ini adalah tempat makan yang menurutku enak dan murah meriah. Untuk ukuran anak mahasiswa. Yang belum berpenghasilan tetap gitu loh. Check it out!
![]() |
| Mi nges nges katsu (instagram.com/miengesnges) |
![]() |
| Mie lada hitam (instagram.com/miengesnges) |
![]() |
| Mie ayam komplit...kayana (instagram.com/miemega.306) |
Nggak cuma mie ayam, disini sedia es teler dan cemilan kayak rogut, risoles. Saya belum pernah nyicip jadi ngga bisa ngasih tau ya.
Apakah beneran enak? Yhaaa...enak. Yang bikin enak nih kaldu ayamnya. Dia entah kenapa rasanya kok kaya Mie Sedaap kari ayam. Hoho. Rempahnya kerasa nendang banget dibanding mie ayam lain. Porsinya kecil menurut saya tapi ya tetep mengenyangkan....
Harganya agak lebih tinggi dibanding yang lain. Mulai dari Rp 16.000 seinget saya. Paling enak katanya mie ayam ceker. Saya belum pernah nyoba. Males cuci tangan ribet hahaha.
![]() |
| Yummyyy (instagram.com/chockles_es_cokelat) |
Range harga mulai dari Rp 8.000 apa ya? Favorit saya lupa apa namanya hahaha pokoknya dia yang ada butiran kenari. Rasanya nampol!
Kami (tim KKN) pernah kesini pake sendal dan kaos aja berasa alien gitu diliatin orang banyak. Yang lainnya udah cantik, dandan dulu, pake baju bagus. LOL. Harganya terjangkau, pilihan makanannya banyak, cemilan juga. Dan porsinya nggak pelit. 2x makan rice bowl. Pertama ngga habis. Kedua udah langsung nawarin, "Siapa yang mau tambahan?" hahaha. Duh laff banget si makan bareng cowok-cowok tuh. Nggak ada jaimnya. Selalu siap menerima pasokan makanan.
Eh, fokus fokus. Wajib coba roti bakar es krimnya, yang coklat dan green tea. Huhu terus jadi pengen gimana nih???
Baiklaah itu dia 5 review singkat darikuu. Ada yang udah pernah nyoba?

























