Hola. Ini adalah sebuah ((segmen)) terbaru di blog lulukhodijah.com. Lah udah berasa youtuber aja ya. Isi postingan ini adalah ulasan singkat buku yang saya baca selama sebulan. Mumpung di awal tahun nih, harus memulai hal baik khaaan.
Baca: 2018 Year in Review + 2019 Plans
Di tahun ini saya menargetkan membaca buku sebanyak 50 judul. Banyak? Hmm relatif. Tahun sebelumnya pernah menargetkan 100. Apa yang terjadi? Nggak konsen bacanya. Tahun ini fokusnya ke mendapatkan ((hikmah)) dari buku yang dibaca.
Oh ya, saya tipe yang baca beberapa buku sekaligus. Bosen? Ganti buku. Bosen? Ganti. Gitu terus sampe rak currently reading di Goodreads menumpuk. Saya juga nggak segan buat nyetop di tengah jalan saat ngga bisa lagi menikmati bukunya. Kenapa harus memaksakan diri yha kan.
Baca: 5 Langkah Mudah agar Gemar Membaca
Untuk bulan Januari, ada 5 buku yang berhasil saya selesaikan. 4 diantaranya novel dan 1 sisanya buku motivasi. Apa sajakah itu?
Penggemar novel romantis sepertinya nggak asing dengan nama Agnes Jessica. Saya baca bukunya dari jaman SMP. Novel ini pun udah lama. Hanya dicetak ulang dengan sampul baru. Ceritanya tentang seorang gadis bernama Kiara. Dia yang udah punya kekasih tiba-tiba diminta orang tuanya untuk menikah dengan orang lain. Alasannya? Balas budi. Sebagai anak satu-satunya dia ngga bisa menolak.
Akhirnya menikahlah dia dengan Cadenza. Tapi Cadenza justru bersikap dingin dari awal pernikahan. Nah novel ini menceritakan gimana Kiara menjalani pernikahannya. Dan pertemuannya dengan Charles - kakak Cadenza - mengubah tujuan pernikahannya.
Hmm, ini ceritanya agak membosankan. Interaksi antara Kiara - Cadenza justru minim. Padahal tokoh utamanya kedua orang ini. Endingnya pun nggak menjawab pada akhirnya bagaimana perasaan mereka berdua sebagai orang yang menikah karena dijodohkan?
Rating: 3/5
Apakah kamu ngikutin serial fantasi dari Tere Liye ini? Dimulai dari Bumi, Bulan, Bintang, Matahari, Komet. Loh, Ceros dan Batozarnya masuk mana? Nah. Novel ini merupakan spin-off. Kayak selingan tapi tuh mempengaruhi jalan cerita. Makanya buku ini bukan buku ke-5, buku ke 4,5. Serius. Tulisan di bukunya kaya gitu.
Baca: Review Bumi dan Review Bulan
Ceritanya bukan petualangan Raib, Seli, dan Ali di klan lain. Justru di bumi dan menyingkap ada rahasia apa. Ceros dan Batozar adalah tokoh diluar tokoh utama yang biasa muncul. Sepertinya peran keduanya ada di Komet Minor (buku lanjutan setelah Komet).
Inti ceritanya bagus. Masih tentang persahabatan. Sedangkan dari Batozar didapatkan pelajaran tentang keluarga. Hiks. Terharu bacanya, tauuu...
Rating: 5/5
Kesalahan saya adalah baca Komet dulu sebelum Ceros dan Batozar. Bikin agak nggak nyambung. But it's okay. Masih bisa diikuti. Setelah Raib, Seli dan Ali berhasil mencegah keruntuhan klan, masalah lain timbul. Siapa lagi kalau bukan si Tanpa Mahkota.
Kali ini petunjuk pencarian Komet masih abu-abu. Apakah Komet ini sebuah klan sebagaimana bumi, bulan, matahari, bintang? Atau justru "komet" yang dikenal di bumi?
Katanya dengan menemukan komet bisa mengabulkan permintaan apa aja. Dan pengejaran si Tanpa Mahkota oleh ketiga sahabat ini membawa mereka untuk mencari Komet. Pola ceritanya mirip banget dengan seri sebelumnya (Matahari dulu atau Bintang sih lupa. LOL).
Mereka harus menyusuri 7 pulau. Barulah di pulau terakhir menemukan clue baru. Iya, clue. Ngga langsung jawaban. Ending dari novel ini masih menggantung. Lanjutannya bisa dibaca di Komet Minor. Udah tersedia versi daring di Google Playbook.
Buat saya ini jalan cerita dan plot twist-nya ketebak. Serius, coba deh baca dan hubungkan satu sama lain. Langsung ketemu jawabannya tentang pencarian si Tanpa Mahkota ini. Atau karena saya kebanyakan baca novel, ya? Hahaha
Rating: 5/5
Cerita ini mengangkat topik tentang cungpret. Apaan tuh, cungpret? Kacung kampret slash budak korporat slash pegawai. Sesuai judulnya, sekumpulan pegawai di kantor konsultan membuat taruhan. Siapa yang terakhir resign harus mentraktir makan di restoran super mewah.
Demi menghindarinya, Alranita, Calro, Karenina dan Andre berlomba untuk menjadi yang pertama resign. Mereka diam-diam rajin mengirim CV ke perusahaan lain. Ternyata, Tigran si bos tau polah anak buahnya.
Dimarahi? Enggak. Dipanggil ke ruangan? Enggak. Disindir habis-habisan? YA. Hahaha. Tigran ini tipe bos ganteng ganteng galak dan sengak.
Lucu deh baca buku ini. Buat yang berprofesi sebagai pegawai pasti bisa relate. Mau resign kok belum dapet kerja yang baru? Mau resign tapi kok begitu ngelihat bonus gede yang keluar bikin hepi? Emang dasar cungpret ada aja tingkahnya.
Rating: 5/5
Buku terakhir ini bukan novel. Melainkan sebuah buku motivasi karya mbak Dewi N Aisyah ((akrab)). Dia adalah mahasiswi lulusan Epidemiologi FKM UI yang melanjutkan studi S2 di London. S3-nya dimana lupa. London tjuy idaman sayaah! :')
Baca: 10 Akun Instagram yang Sering Dikepoin
Awe Inspiring Me maknanya menjadi seorang muslimah yang ketika dipandang orang lain menimbulkan kesan "Awe" alias "WAAAWW". Bukan sekadar kecantikannya secara fisik, melainkan kecerdasannya.
Fokus buku ini lebih ke bagaimana mengoptimalkan masa muda. Cocok dibaca mahasiswa baru. Karena mbak Dewi membeberkan bagaimana caranya aktif di 13 organisasi. Jangan menganga gitu, kata mbak Dewi bisa aja kok dilakukan.
Baca: Plus Minus Jadi Aktivis Kampus
Mbak Dewi nggak mewajibkan pembacanya mengikuti jejak dia. Cuma ya memotivasi ini loh muslimah itu harus produktif. Masa muda itu jangan disia-siakan. Buatlah planning sejelas mungkin. Jangan putus asa. Karena Allah akan selalu menjawab doa yang dipanjatkan.
Is it a good book? I can say yes. But...it's a little bit boring. Terutama buat yang udah sering baca buku sejenis ataupun ikut training motivasi. Mirip-mirip seperti itu lah. Value yang diberikan ke pembacanya yang bisa bikin saya bilang buku ini bagus.
Rating: 4/5
Dari kelima buku diatas, ada yang mau dibuatkan postingan sendiri untuk ulasan lengkap? Bisa banget colek saya :P btw kalo kepo juga buku apa aja yang saya baca cek di akun Goodreads ya. Happy reading, peeps!
Baca: 2018 Year in Review + 2019 Plans
Di tahun ini saya menargetkan membaca buku sebanyak 50 judul. Banyak? Hmm relatif. Tahun sebelumnya pernah menargetkan 100. Apa yang terjadi? Nggak konsen bacanya. Tahun ini fokusnya ke mendapatkan ((hikmah)) dari buku yang dibaca.
Oh ya, saya tipe yang baca beberapa buku sekaligus. Bosen? Ganti buku. Bosen? Ganti. Gitu terus sampe rak currently reading di Goodreads menumpuk. Saya juga nggak segan buat nyetop di tengah jalan saat ngga bisa lagi menikmati bukunya. Kenapa harus memaksakan diri yha kan.
Baca: 5 Langkah Mudah agar Gemar Membaca
Untuk bulan Januari, ada 5 buku yang berhasil saya selesaikan. 4 diantaranya novel dan 1 sisanya buku motivasi. Apa sajakah itu?
1| Agnes Jessica - Dongeng Sebelum Tidur (iPusnas)
Penggemar novel romantis sepertinya nggak asing dengan nama Agnes Jessica. Saya baca bukunya dari jaman SMP. Novel ini pun udah lama. Hanya dicetak ulang dengan sampul baru. Ceritanya tentang seorang gadis bernama Kiara. Dia yang udah punya kekasih tiba-tiba diminta orang tuanya untuk menikah dengan orang lain. Alasannya? Balas budi. Sebagai anak satu-satunya dia ngga bisa menolak.
Akhirnya menikahlah dia dengan Cadenza. Tapi Cadenza justru bersikap dingin dari awal pernikahan. Nah novel ini menceritakan gimana Kiara menjalani pernikahannya. Dan pertemuannya dengan Charles - kakak Cadenza - mengubah tujuan pernikahannya.
Hmm, ini ceritanya agak membosankan. Interaksi antara Kiara - Cadenza justru minim. Padahal tokoh utamanya kedua orang ini. Endingnya pun nggak menjawab pada akhirnya bagaimana perasaan mereka berdua sebagai orang yang menikah karena dijodohkan?
Rating: 3/5
2| Tere Liye - Ceros dan Batozar (iPusnas)
Apakah kamu ngikutin serial fantasi dari Tere Liye ini? Dimulai dari Bumi, Bulan, Bintang, Matahari, Komet. Loh, Ceros dan Batozarnya masuk mana? Nah. Novel ini merupakan spin-off. Kayak selingan tapi tuh mempengaruhi jalan cerita. Makanya buku ini bukan buku ke-5, buku ke 4,5. Serius. Tulisan di bukunya kaya gitu.
Baca: Review Bumi dan Review Bulan
Ceritanya bukan petualangan Raib, Seli, dan Ali di klan lain. Justru di bumi dan menyingkap ada rahasia apa. Ceros dan Batozar adalah tokoh diluar tokoh utama yang biasa muncul. Sepertinya peran keduanya ada di Komet Minor (buku lanjutan setelah Komet).
Inti ceritanya bagus. Masih tentang persahabatan. Sedangkan dari Batozar didapatkan pelajaran tentang keluarga. Hiks. Terharu bacanya, tauuu...
Rating: 5/5
3| Tere Liye - Komet (iPusnas)
Kesalahan saya adalah baca Komet dulu sebelum Ceros dan Batozar. Bikin agak nggak nyambung. But it's okay. Masih bisa diikuti. Setelah Raib, Seli dan Ali berhasil mencegah keruntuhan klan, masalah lain timbul. Siapa lagi kalau bukan si Tanpa Mahkota.
Kali ini petunjuk pencarian Komet masih abu-abu. Apakah Komet ini sebuah klan sebagaimana bumi, bulan, matahari, bintang? Atau justru "komet" yang dikenal di bumi?
Katanya dengan menemukan komet bisa mengabulkan permintaan apa aja. Dan pengejaran si Tanpa Mahkota oleh ketiga sahabat ini membawa mereka untuk mencari Komet. Pola ceritanya mirip banget dengan seri sebelumnya (Matahari dulu atau Bintang sih lupa. LOL).
Mereka harus menyusuri 7 pulau. Barulah di pulau terakhir menemukan clue baru. Iya, clue. Ngga langsung jawaban. Ending dari novel ini masih menggantung. Lanjutannya bisa dibaca di Komet Minor. Udah tersedia versi daring di Google Playbook.
Buat saya ini jalan cerita dan plot twist-nya ketebak. Serius, coba deh baca dan hubungkan satu sama lain. Langsung ketemu jawabannya tentang pencarian si Tanpa Mahkota ini. Atau karena saya kebanyakan baca novel, ya? Hahaha
Rating: 5/5
4| Almira Bastari - Resign! (iPusnas)
Cerita ini mengangkat topik tentang cungpret. Apaan tuh, cungpret? Kacung kampret slash budak korporat slash pegawai. Sesuai judulnya, sekumpulan pegawai di kantor konsultan membuat taruhan. Siapa yang terakhir resign harus mentraktir makan di restoran super mewah.
Demi menghindarinya, Alranita, Calro, Karenina dan Andre berlomba untuk menjadi yang pertama resign. Mereka diam-diam rajin mengirim CV ke perusahaan lain. Ternyata, Tigran si bos tau polah anak buahnya.
Dimarahi? Enggak. Dipanggil ke ruangan? Enggak. Disindir habis-habisan? YA. Hahaha. Tigran ini tipe bos ganteng ganteng galak dan sengak.
Lucu deh baca buku ini. Buat yang berprofesi sebagai pegawai pasti bisa relate. Mau resign kok belum dapet kerja yang baru? Mau resign tapi kok begitu ngelihat bonus gede yang keluar bikin hepi? Emang dasar cungpret ada aja tingkahnya.
Rating: 5/5
5| Dewi N Aisyah - Awe Inpiring Me (beli cetak)
Buku terakhir ini bukan novel. Melainkan sebuah buku motivasi karya mbak Dewi N Aisyah ((akrab)). Dia adalah mahasiswi lulusan Epidemiologi FKM UI yang melanjutkan studi S2 di London. S3-nya dimana lupa. London tjuy idaman sayaah! :')
Baca: 10 Akun Instagram yang Sering Dikepoin
Awe Inspiring Me maknanya menjadi seorang muslimah yang ketika dipandang orang lain menimbulkan kesan "Awe" alias "WAAAWW". Bukan sekadar kecantikannya secara fisik, melainkan kecerdasannya.
Fokus buku ini lebih ke bagaimana mengoptimalkan masa muda. Cocok dibaca mahasiswa baru. Karena mbak Dewi membeberkan bagaimana caranya aktif di 13 organisasi. Jangan menganga gitu, kata mbak Dewi bisa aja kok dilakukan.
Baca: Plus Minus Jadi Aktivis Kampus
Mbak Dewi nggak mewajibkan pembacanya mengikuti jejak dia. Cuma ya memotivasi ini loh muslimah itu harus produktif. Masa muda itu jangan disia-siakan. Buatlah planning sejelas mungkin. Jangan putus asa. Karena Allah akan selalu menjawab doa yang dipanjatkan.
Is it a good book? I can say yes. But...it's a little bit boring. Terutama buat yang udah sering baca buku sejenis ataupun ikut training motivasi. Mirip-mirip seperti itu lah. Value yang diberikan ke pembacanya yang bisa bikin saya bilang buku ini bagus.
Rating: 4/5
***
“Dilarang membawa makanan/minuman dari luar”
Gengs, pernah nggak nemu larangan macam itu di restoran? Apa yang ada di benak kamu saat membacanya? Langsung buruk sangka kalo tempat itu mau mengeruk untung sebanyak-banyaknya? Hoho. Sebaiknya hilangkan pikiran itu mulai sekarang.
Nay. Ternyata bukan karena itu loh gaes. Di beberapa restoran sengaja mencantumkan larangan itu justru untuk perlindungan konsumennya. Kok bisa?
Iya. Terutama tempat makan yang udah punya sertifikasi halal. Pengunjung dilarang bawa makanan/minuman dari luar karena dikhawatirkan bisa membawa kontaminasi bahan non-halal. Ya kan ngga tau toh, di dalam makanan atau minuman yang dibawa pengunjung ada cemaran bahan non-halal-nya atau enggak? Padahal untuk mendapatkan sertifikat halal dari LPPOM MUI itu ngga gampang.
Selanjutnya saya akan bahas lebih spesifik tentang kehalalan makanan ya, gaes. 3 kata ini menjadi kunci dalam kehalalan makanan.
Seorang Muslim (orang beragama Islam) diwajibkan untuk mengkonsumsi makanan yang halal dan thayib. Darimana kita bisa tau makanan itu halal? Banyak caranya. Misalnya dari dalil Al-Qur'an udah jelas diharamkan mengkonsumsi babi. Ada beberapa trik untuk membedakan daging babi dengan daging sapi.
Keliatannya mudah ya. Iya mudah karena masih berupa bahan. Tapi, saat babi itu udah diolah menjadi bentuk lain. Sosis, bacon, atau yang lainnya, apakah kita bisa membedakannya juga? Sudah barang tentu rupanya berbeda dari awal. Nggak berhenti sampe situ aja. Gelatin bisa terbuat dari babi. Atau dari alat masaknya deh, kuas makanan. Itu bulunya ada kemungkinan dari babi loh. Karena apa? Karena hewan ini ternyata diolah dari berbagai macam, gaes.
Gimana hayo, cara mengetahui itu bukan babi? Tentunya nggak gampang ya. Nanya penjual? Iya kalo penjualnya jujur. Atau kalo penjualnya tau. Kalo nggak tau, gimana tuh? Makanya LPPOM MUI memberikan sertifikat halal untuk menjamin Muslim bahwa makanan yang dimakan itu diperbolehkan menurut ketentuan syariat.
Alhamdulillah, beberapa waktu yang lalu saya dan temen bloger Gandjel Rel dapet ilmu bergizi tentang sertifikasi halal. Langsung dari ahlinya loh gaes. Ada Bu Oftiana Irayanti dan Bu Irma Fadlilah dari LPPOM MUI Jawa Tengah.
Saya termasuk orang yang agak ketat dalam pilih makanan. Bahkan sampe sekarang saya belum pernah makan mie S dari korea yang hits itu lho. Karena waktu itu memang belum ada logo halal MUI-nya. Sekarang Alhamdulillah udah ada ya. Logo halal MUI itu kayak gini.
Bukan cuma tulisan huruf hijaiyah ha dan lam trus dibawahnya tertulis HALAL. Yang terakhir itu penjual ngga bertanggung jawab yang ngga mau bersusah payah untuk melakukan sertifikasi halal.
Loh, tapi kan sama aja Halal? Ngga bisa gitu. Untuk mendapatkan sertifikat halal itu ngga gampang. Melalui proses panjang yang dibagi menjadi 3 tahapan.
Singkatnya, SEMUA proses ditelusur dari A-Z. Mulai dari vendor penyedia bahan apabila menggunakan pihak ketiga. Proses pengolahannya di dapur. Apabila perusahaan punya beberapa cabang, saat pertama kali mengajukan sertifikasi halal ya semuanya dikunjungi satu per satu.
Ada pertanyaan menarik nih yang dilemparkan Bu Irma, semisal di perusahaan H ada menu dari ayam. Agar nantinya halal untuk dimakan, ayam itu disembelih. Kalo jumlah ayam yang disembelih ratusan, bahkan ribuan, apakah satu persatu dibacakan bismillah atau secara bersamaan saja?
Jawabannya adalah: satu persatu. Hooo baru tau kan? Nggak bisa tuh langsung barengan dibacain Bismillah gitu aja. Penyembelihan pun harus dilakukan oleh Juleha. Loh, siapa lagi itu? Juleha adalah Juru Sembelih Halal. Hihihi. Lucu ya, singkatannya.
Para juru sembelih ini harus muslim dan tau cara menyembelih sesuai syariat. Termasuk didalamnya mengucap basmalah dan harus memastikan bahwa ketiga jalan kehidupan di hewan yang disembelih terputus. Ketiga jalan ini antara lain jalan pernapasan, jalan pencernaan, dan terakhir jalan pembuluh darah.
Harus pasti nih gaes. Karena kalo ngga pasti, hewan itu dianggap hidup. Nah waktu masuk ke pengolahan berikutnya, berarti dia dibunuh secara paksa dong. Jatuhnya jadi ngga halal karena bangkai. Oh, no! Jangan sampe kayak gitu deh ya.
Nah, kalo sertifikat halal basisnya diliat dari produk perusahaan, Sistem Jaminan Halal melihat dari pabrik (fasilitas produksi). Apakah pabriknya bersih? Ngga ada kontaminasi bahan non halal dari luar? Semua itu dicek dan ada nilainya. Untuk bisa dapat sertifikat halal, nilai SJH miminal B. Iya, ada nilainya mulai dari A, B, hingga C.
Perusahaan yang selama 3 kali berturut-turut mendapatkan implementasi Sistem Jaminan Halal dengan nilai A diberikan reward. Berupa Sertifikat Sistem Jaminan Halal. Perusahaan yang udah mengantongi sertifikat Sistem Jaminan Halal artinya udah terjamin kehalalannya secara keseluruhan. Bahan makanan, cara pengolahan, kondisi perusahaan, lengkap deh pokoknya.
Kalo di bidang keamanan pangan ada HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point), di Sistem Jaminan Halal ada yang namanya HAS (Halal Assurance System) 23000:1 dengan 11 kriteria.
Fyi, untuk bisa memperoleh sertifikat halal dan sertifikat sistem jaminan halal, perusahaan diwajibkan memiliki tim auditor internal. Tim ini khusus mengurusi kehalalan produk dan berkoordinasi dengan LPPOM MUI.
Karena di Indonesia sertifikasi halal masih bersifat sukarela, jadi konsumen bisa menilai perusahaan mana sih yang peduli dengan konsumen Muslim khususnya? Mau gitu loh bersusah payah untuk menjamin bahwa produknya halal. Sedangkan dari ulasan diatas kita tau bahwa mendapatkan keduanya ngga gampang.
Jangan khawatir, di Indonesia udah ada kok gaes perusahaan yang peduli. Tebak apa? HokBen! Kamu familiar dengan nama ini? Awalnya namanya Hoka-Hoka Bento. Karena banyak yang ngerasa lebih asik disebut HokBen, akhirnya di-rebranding menjadi HokBen.
Yup, meskipun menyediakan masakan Jepang, semua makanan di HokBen udah terjamin kehalalannya. Buktinya? Ini nih udah punya sertifikat halal di tahun 2008 dan sertifikat sistem jaminan halal di tahun 2017. Mantuul!
Kabar gembiranya, HokBen buka cabang baru di Semarang. prok prok prok! Letaknya ada di Majapahit. Masuk ke kawasan Semarang Timur ya, gaes. Store HokBen ini store stand alone alias berdiri sendiri ngga di dalam mall pertama di Semarang. Asyiik!
Kelebihannya yang ngga bisa didapet di mall: disini kamu bisa drive thru!. Mager turun dari kendaraan? Tenang. Kamu bisa pesen lewat sini aja. pake motor bisa, mobil bisa. Selain drive thru, fasilitas lainnya: buka 24 jam, tersedia layanan birthday party dan private room, musholla bersih, bisa delivery di 1500505 maupun ojek online.
Jadi gimana, butuh tempat nongkrong enak, terjangkau, dan pastinya halal? Yuk cuss ke hokben!
Nay. Ternyata bukan karena itu loh gaes. Di beberapa restoran sengaja mencantumkan larangan itu justru untuk perlindungan konsumennya. Kok bisa?
Iya. Terutama tempat makan yang udah punya sertifikasi halal. Pengunjung dilarang bawa makanan/minuman dari luar karena dikhawatirkan bisa membawa kontaminasi bahan non-halal. Ya kan ngga tau toh, di dalam makanan atau minuman yang dibawa pengunjung ada cemaran bahan non-halal-nya atau enggak? Padahal untuk mendapatkan sertifikat halal dari LPPOM MUI itu ngga gampang.
Hayo, udah pernah denger tentang LPPOM MUI belum?
Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-Obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) adalah lembaga dibawah naungan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang bertugas memberikan fatwa halal. Sesuai namanya, produk yang diberikan berupa pangan, obat-obatan, dan kosmetika.Selanjutnya saya akan bahas lebih spesifik tentang kehalalan makanan ya, gaes. 3 kata ini menjadi kunci dalam kehalalan makanan.
Seorang Muslim (orang beragama Islam) diwajibkan untuk mengkonsumsi makanan yang halal dan thayib. Darimana kita bisa tau makanan itu halal? Banyak caranya. Misalnya dari dalil Al-Qur'an udah jelas diharamkan mengkonsumsi babi. Ada beberapa trik untuk membedakan daging babi dengan daging sapi.
Keliatannya mudah ya. Iya mudah karena masih berupa bahan. Tapi, saat babi itu udah diolah menjadi bentuk lain. Sosis, bacon, atau yang lainnya, apakah kita bisa membedakannya juga? Sudah barang tentu rupanya berbeda dari awal. Nggak berhenti sampe situ aja. Gelatin bisa terbuat dari babi. Atau dari alat masaknya deh, kuas makanan. Itu bulunya ada kemungkinan dari babi loh. Karena apa? Karena hewan ini ternyata diolah dari berbagai macam, gaes.
Gimana hayo, cara mengetahui itu bukan babi? Tentunya nggak gampang ya. Nanya penjual? Iya kalo penjualnya jujur. Atau kalo penjualnya tau. Kalo nggak tau, gimana tuh? Makanya LPPOM MUI memberikan sertifikat halal untuk menjamin Muslim bahwa makanan yang dimakan itu diperbolehkan menurut ketentuan syariat.
***
Alhamdulillah, beberapa waktu yang lalu saya dan temen bloger Gandjel Rel dapet ilmu bergizi tentang sertifikasi halal. Langsung dari ahlinya loh gaes. Ada Bu Oftiana Irayanti dan Bu Irma Fadlilah dari LPPOM MUI Jawa Tengah.
Saya termasuk orang yang agak ketat dalam pilih makanan. Bahkan sampe sekarang saya belum pernah makan mie S dari korea yang hits itu lho. Karena waktu itu memang belum ada logo halal MUI-nya. Sekarang Alhamdulillah udah ada ya. Logo halal MUI itu kayak gini.
Bukan cuma tulisan huruf hijaiyah ha dan lam trus dibawahnya tertulis HALAL. Yang terakhir itu penjual ngga bertanggung jawab yang ngga mau bersusah payah untuk melakukan sertifikasi halal.
Loh, tapi kan sama aja Halal? Ngga bisa gitu. Untuk mendapatkan sertifikat halal itu ngga gampang. Melalui proses panjang yang dibagi menjadi 3 tahapan.
Singkatnya, SEMUA proses ditelusur dari A-Z. Mulai dari vendor penyedia bahan apabila menggunakan pihak ketiga. Proses pengolahannya di dapur. Apabila perusahaan punya beberapa cabang, saat pertama kali mengajukan sertifikasi halal ya semuanya dikunjungi satu per satu.
Ada pertanyaan menarik nih yang dilemparkan Bu Irma, semisal di perusahaan H ada menu dari ayam. Agar nantinya halal untuk dimakan, ayam itu disembelih. Kalo jumlah ayam yang disembelih ratusan, bahkan ribuan, apakah satu persatu dibacakan bismillah atau secara bersamaan saja?
Jawabannya adalah: satu persatu. Hooo baru tau kan? Nggak bisa tuh langsung barengan dibacain Bismillah gitu aja. Penyembelihan pun harus dilakukan oleh Juleha. Loh, siapa lagi itu? Juleha adalah Juru Sembelih Halal. Hihihi. Lucu ya, singkatannya.
Para juru sembelih ini harus muslim dan tau cara menyembelih sesuai syariat. Termasuk didalamnya mengucap basmalah dan harus memastikan bahwa ketiga jalan kehidupan di hewan yang disembelih terputus. Ketiga jalan ini antara lain jalan pernapasan, jalan pencernaan, dan terakhir jalan pembuluh darah.
Harus pasti nih gaes. Karena kalo ngga pasti, hewan itu dianggap hidup. Nah waktu masuk ke pengolahan berikutnya, berarti dia dibunuh secara paksa dong. Jatuhnya jadi ngga halal karena bangkai. Oh, no! Jangan sampe kayak gitu deh ya.
Selain sertifikat halal, ternyata LPPOM MUI juga menilai implementasi Sistem Jaminan Halal perusahaan. Nah, apalagi itu?
Jadi gini gaes. Sertifikat halal punya masa berlaku selama 2 tahun. Selama itu pula perusahaan tetap diawasi LPPOM MUI. Karena perusahaan punya kewajiban melakukan laporan berkala setiap 6 bulan ke LPPOM MUI. Laporan ini dlakukan untuk memastikan bahan yang dipake sama seperti saat mendaftar. Apabila ada bahan tambahan lainnya juga dipastikan kehalalannya sesuai syari’at.Nah, kalo sertifikat halal basisnya diliat dari produk perusahaan, Sistem Jaminan Halal melihat dari pabrik (fasilitas produksi). Apakah pabriknya bersih? Ngga ada kontaminasi bahan non halal dari luar? Semua itu dicek dan ada nilainya. Untuk bisa dapat sertifikat halal, nilai SJH miminal B. Iya, ada nilainya mulai dari A, B, hingga C.
Perusahaan yang selama 3 kali berturut-turut mendapatkan implementasi Sistem Jaminan Halal dengan nilai A diberikan reward. Berupa Sertifikat Sistem Jaminan Halal. Perusahaan yang udah mengantongi sertifikat Sistem Jaminan Halal artinya udah terjamin kehalalannya secara keseluruhan. Bahan makanan, cara pengolahan, kondisi perusahaan, lengkap deh pokoknya.
Kalo di bidang keamanan pangan ada HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point), di Sistem Jaminan Halal ada yang namanya HAS (Halal Assurance System) 23000:1 dengan 11 kriteria.
Fyi, untuk bisa memperoleh sertifikat halal dan sertifikat sistem jaminan halal, perusahaan diwajibkan memiliki tim auditor internal. Tim ini khusus mengurusi kehalalan produk dan berkoordinasi dengan LPPOM MUI.
Karena di Indonesia sertifikasi halal masih bersifat sukarela, jadi konsumen bisa menilai perusahaan mana sih yang peduli dengan konsumen Muslim khususnya? Mau gitu loh bersusah payah untuk menjamin bahwa produknya halal. Sedangkan dari ulasan diatas kita tau bahwa mendapatkan keduanya ngga gampang.
***
Jangan khawatir, di Indonesia udah ada kok gaes perusahaan yang peduli. Tebak apa? HokBen! Kamu familiar dengan nama ini? Awalnya namanya Hoka-Hoka Bento. Karena banyak yang ngerasa lebih asik disebut HokBen, akhirnya di-rebranding menjadi HokBen.
Yup, meskipun menyediakan masakan Jepang, semua makanan di HokBen udah terjamin kehalalannya. Buktinya? Ini nih udah punya sertifikat halal di tahun 2008 dan sertifikat sistem jaminan halal di tahun 2017. Mantuul!
Kabar gembiranya, HokBen buka cabang baru di Semarang. prok prok prok! Letaknya ada di Majapahit. Masuk ke kawasan Semarang Timur ya, gaes. Store HokBen ini store stand alone alias berdiri sendiri ngga di dalam mall pertama di Semarang. Asyiik!
![]() |
| Parkir luas gaes |
![]() |
| Suasana di lantai 1 |
Jadi gimana, butuh tempat nongkrong enak, terjangkau, dan pastinya halal? Yuk cuss ke hokben!
Beberapa waktu yang lalu saya sempet intip instagram beauty influencer. Disitu dia membahas sesuatu di luar topik beauty. Tentang hobi yang menjadi pekerjaan. Ridwan Kamil pernah bilang, "pekerjaan yang paling menyenangkan adalah hobi yang dibayar". Apakah betul?
Mbak K (sebut saja begitu) dulunya pun menganggap begitu. Dia yang bekerja sebagai pegawai pernah berpikir untuk resign. Alasannya agar bisa fokus menjadi beauty reviewer. Karena dia merasa sudah cukup menghasilkan. Ritme kerjanya pun lebih fleksibel dibanding pegawai.
Tapi kemudian muncullah Mbak D (yang juga beauty influencer). Dia awalnya juga sama, suka nge-review produk kecantikan. Kemudian diterima kerja di salah satu media kecantikan terbesar di Indonesia. Ngga taunya ternyata dia justru resign.
Menurut mbak D, bukannya nggak suka sih hobi ngereview dia itu dijadikan pekerjaan. Ternyata setelah merasakan hobinya dijadikan pekerjaan dia justru merasa “bingung”. Maksudnya disini saat dia merasa capek karena pekerjaannya, apa yang harus dia lakukan? Hobi? Lah udah tiap hari dong dilakuin hobinya yang udah merangkap pekerjaan. Dan alasan itu dia jadikan dasar akhirnya resign.
Kurang lebihnya gitu yang saya tangkep.
Gara-gara itu baca itu saya jadi mikir juga. Selama ini, saya mengiyakan pernyataan pak Ridwan Kamil. Enak kan hobi dibayar? Namanya hobi ya. Kita melakukannya dengan tanpa paksaan. Suka cita. Menimbulkan sparks of joy di dalam hati. Tapi saat dijadikan pekerjaan, apakah “sparks” yang timbul itu masih sama?
Saya bahas konteksnya ngeblog. Karena saya bloger, bukan byuti influensa. Hoho. Dari awal saya udah menanamkan ke diri bahwa ngeblog = hobi. Ngeblog = menyenangkan. Ngeblog = kebutuhan. Dan memang itu yang saya rasakan. Kemudian sempet jadi full time blogger (yha karena emang ngga ada pekerjaan lain yg dilakukan) selama kurang lebih 6 bulan. Rasanya gimana?
Baca: Why (and How) I Write A Blog?
Awalnya tuh emang seneng. Seneng karena, “Wah bisa kerja dari rumah nih”. “Wah dengan nulis aja aku bisa dapet banyak hal”. Bukan meremehkan menulisnya itu ya. Menulis butuh proses panjang. Tapi saya seneng. Saya suka. Makanya nggak merasa berat.
Seperti yang saya bilang, awalnya.
Trus mulai ada kerjasama, liputan event, dll. Rasanya apakah masih ada sparks of joy-nya? Ternyata saya jujur bilang, nggak semuanya. Hehehe. Nggak semua tulisan kerjasama atau liputan event itu bisa saya tulis dengan hati yang senang dan gembira (HALAH). Seneng sih kalo ngerti materinya dan merasa KLIK. Nah kalo materinya itu diluar bidang yang selama ini digeluti?
“Ya tanggung jawab blogger lah harus mau riset dll”
Yup. That’s the point. Ternyata saya masih merasa berat dengan tuntutan tulisan harus begini begitu. Bukan berarti nggak mau ya. Nyatanya tulisan dengan kategori kerjasama tetep saya kerjakan semaksimal mungkin kok. Hihihi.
Baca: 3 Tema yang Paling Banyak Ditulis di Blog
Hanya saja, emang perasaan gembira (yang biasanya meluap-luap) setelah menulis itu kok jadi hilang? Tergantikan perasaan “lega”. Yang nggak seberapa menyenangkan dibanding nulis apa yang saya mau.
Akhirnya saya lebih seneng menjadikan aktivitas ngeblog sebagai hobi dibandingkan profesi tetap. “Loh kan bisa mendapatkan pemasukan dari blog?” Iyaaa. Tapi nanti sama seperti kasus mbak D. Kalo hobi dijadikan pekerjaan, nanti mau lari kemana saat mulai jenuh dengan pekerjaan? Nggak ada yang menjamin kan pekerjaan yang dilakukan itu bakal menyenangkan terus? HEHE.
Nah salah satu komunitas yang nggak cuma ketemu di dunia maya tapi juga sering ngajak kopdar-an adalah Blogger Gandjel Rel. Unik ya, namanya? Gandjel Rel ini sebetulnya nama makanan. Tagline-nya sih, ngeblog ben rak (biar enggak) ngganjel. Pas banget kan, dengan nilai(halah) yang saya pegang bahwa ngeblog itu menyenangkan?
Blogger Gandjel Rel ini komunitas blogger perempuan yang ada di Semarang. Hooh, perempuan aja. Kebayang nggak tuh gimana ramenya para perempuan dikumpulkan? Hahaha. Dan anggotanya pun beragam usia maupun latar belakang profesi. Ada yang memang mendedikasikan ngeblog sebagai profesi, nggak sedikit juga yang ngeblog sebagai hobi. Apapun itu, kami nggak pernah mempermasalahkan. Toh, semua sama-sama konsisten ngeblog.
Baca: Mau Full Time atau Part Time, yang Penting Tetap Ngeblog
Nggak nyangka ternyata udah hampir 2 tahun gabung di komunitas ini. Kirain bakal jadi anak ansos yang cuma ngerti organisasi di kuliah aja. Pertama gabung kerasa awkward. Wajarlah anak introvert. Butuh penyesuaian dulu.
Lama kelamaan, waaah seru juga nih anggotanya. Nggak cuma bahas ngeblog aja. karena yang namanya perempuan ya, bahan obrolannya banyak. Sekadar info diskonan buku aja dibahaaas.
Blogger Gandjel Rel ini sekarang udah masuk usia keempat! Yeaaayyy! Anggotanya makin banyak dan makin seru. Untuk merayakan eksistensi yang keempat ini diadakanlah Blogger Gandjel Rel Challenge.
Beneran menantang, shay! Udah 2 tema saya kalang kabut mau nulis apa dan mepet akhir minggu dari jatah seminggu tiap tema. Seruuu!
Mungkin semacam pelatihan rutin yang ada materinya? Kedengarannya asyik. Bulan pertama, mengenal platform ngeblog. Bulan kedua, cara mencari ide untuk ngeblog. Bulan ketiga, menemukan ciri khas alias style ngeblog sendiri. Dan seterusnya.
Intinya sih semakin membumikan bloger baik sebagai hobi maupun profesi. Sehingga masyarakat Semarang khususnya ngerti dan paham apa itu bloger.
Sebagai penutup, hazeekk. Saya ucapin,
![]() |
| Ikutan acara byuti byuti hahaha (pic by Mba Wati) |
Tapi kemudian muncullah Mbak D (yang juga beauty influencer). Dia awalnya juga sama, suka nge-review produk kecantikan. Kemudian diterima kerja di salah satu media kecantikan terbesar di Indonesia. Ngga taunya ternyata dia justru resign.
Menurut mbak D, bukannya nggak suka sih hobi ngereview dia itu dijadikan pekerjaan. Ternyata setelah merasakan hobinya dijadikan pekerjaan dia justru merasa “bingung”. Maksudnya disini saat dia merasa capek karena pekerjaannya, apa yang harus dia lakukan? Hobi? Lah udah tiap hari dong dilakuin hobinya yang udah merangkap pekerjaan. Dan alasan itu dia jadikan dasar akhirnya resign.
Kurang lebihnya gitu yang saya tangkep.
***
Saya bahas konteksnya ngeblog. Karena saya bloger, bukan byuti influensa. Hoho. Dari awal saya udah menanamkan ke diri bahwa ngeblog = hobi. Ngeblog = menyenangkan. Ngeblog = kebutuhan. Dan memang itu yang saya rasakan. Kemudian sempet jadi full time blogger (yha karena emang ngga ada pekerjaan lain yg dilakukan) selama kurang lebih 6 bulan. Rasanya gimana?
Baca: Why (and How) I Write A Blog?
Awalnya tuh emang seneng. Seneng karena, “Wah bisa kerja dari rumah nih”. “Wah dengan nulis aja aku bisa dapet banyak hal”. Bukan meremehkan menulisnya itu ya. Menulis butuh proses panjang. Tapi saya seneng. Saya suka. Makanya nggak merasa berat.
Seperti yang saya bilang, awalnya.
Trus mulai ada kerjasama, liputan event, dll. Rasanya apakah masih ada sparks of joy-nya? Ternyata saya jujur bilang, nggak semuanya. Hehehe. Nggak semua tulisan kerjasama atau liputan event itu bisa saya tulis dengan hati yang senang dan gembira (HALAH). Seneng sih kalo ngerti materinya dan merasa KLIK. Nah kalo materinya itu diluar bidang yang selama ini digeluti?
![]() |
| Di acara ASUS Year End Gathering |
Yup. That’s the point. Ternyata saya masih merasa berat dengan tuntutan tulisan harus begini begitu. Bukan berarti nggak mau ya. Nyatanya tulisan dengan kategori kerjasama tetep saya kerjakan semaksimal mungkin kok. Hihihi.
Baca: 3 Tema yang Paling Banyak Ditulis di Blog
Hanya saja, emang perasaan gembira (yang biasanya meluap-luap) setelah menulis itu kok jadi hilang? Tergantikan perasaan “lega”. Yang nggak seberapa menyenangkan dibanding nulis apa yang saya mau.
Jadi gimana?
Pada akhirnya saya paham kenapa ada bloger yang nggak nerima lagi content placement. Ada bloger yang setia dengan niche-nya. Disamping persoalan SEO endebrei. Tegas menolak berapa pun fee yang ditawarkan saat merasa nggak cocok. Bisa jadi, karena memang lebih menyenangkan ketika menulis sesuai dengan idealisme yang dipegang. Bukankah begitu?Akhirnya saya lebih seneng menjadikan aktivitas ngeblog sebagai hobi dibandingkan profesi tetap. “Loh kan bisa mendapatkan pemasukan dari blog?” Iyaaa. Tapi nanti sama seperti kasus mbak D. Kalo hobi dijadikan pekerjaan, nanti mau lari kemana saat mulai jenuh dengan pekerjaan? Nggak ada yang menjamin kan pekerjaan yang dilakukan itu bakal menyenangkan terus? HEHE.
Ngeblog, ikut komunitas, dan Gandjel Rel
Meskipun sebagai hobi bukan profesi, saya tetep merasa perlu mengembangkan diri. Caranya? Gabung komunitas! Yes. Ketemu dengan orang-orang yang hobinya sama, rasanya menyenangkan. Ngomongin blog jadi nyambung (temen saya masih jarang paham apa itu bloger).Nah salah satu komunitas yang nggak cuma ketemu di dunia maya tapi juga sering ngajak kopdar-an adalah Blogger Gandjel Rel. Unik ya, namanya? Gandjel Rel ini sebetulnya nama makanan. Tagline-nya sih, ngeblog ben rak (biar enggak) ngganjel. Pas banget kan, dengan nilai
Blogger Gandjel Rel ini komunitas blogger perempuan yang ada di Semarang. Hooh, perempuan aja. Kebayang nggak tuh gimana ramenya para perempuan dikumpulkan? Hahaha. Dan anggotanya pun beragam usia maupun latar belakang profesi. Ada yang memang mendedikasikan ngeblog sebagai profesi, nggak sedikit juga yang ngeblog sebagai hobi. Apapun itu, kami nggak pernah mempermasalahkan. Toh, semua sama-sama konsisten ngeblog.
Baca: Mau Full Time atau Part Time, yang Penting Tetap Ngeblog
Nggak nyangka ternyata udah hampir 2 tahun gabung di komunitas ini. Kirain bakal jadi anak ansos yang cuma ngerti organisasi di kuliah aja. Pertama gabung kerasa awkward. Wajarlah anak introvert. Butuh penyesuaian dulu.
Lama kelamaan, waaah seru juga nih anggotanya. Nggak cuma bahas ngeblog aja. karena yang namanya perempuan ya, bahan obrolannya banyak. Sekadar info diskonan buku aja dibahaaas.
Blogger Gandjel Rel ini sekarang udah masuk usia keempat! Yeaaayyy! Anggotanya makin banyak dan makin seru. Untuk merayakan eksistensi yang keempat ini diadakanlah Blogger Gandjel Rel Challenge.
Beneran menantang, shay! Udah 2 tema saya kalang kabut mau nulis apa dan mepet akhir minggu dari jatah seminggu tiap tema. Seruuu!
Karena mau ulang tahun, ada harapan nggak nih buat Gandjel Rel?
Hoho, tentu saja ada, Ferguso. Semoga di tahun keempat ini, Gandjel rel bisa 1) Tetep aktif. Eaa. Aktif kopdaran. Aktif menunjukkan taringnya di kancah per-blogger-an. 2) Nambah miminnya. Hahaha. Ini semacam self toyor gitu ya. Nggak cuma nempel jadi anggota aja, bisa ikutan berpartisipasi saat ada acara. 3) Ngga bosen-bosen buat sharing. Tentang apa itu bloger. Sebenarnya ngeblog itu ngapain. Untungnya apa. Intinya hal yang benar-benar harus dipahami oleh dari bloger.Mungkin semacam pelatihan rutin yang ada materinya? Kedengarannya asyik. Bulan pertama, mengenal platform ngeblog. Bulan kedua, cara mencari ide untuk ngeblog. Bulan ketiga, menemukan ciri khas alias style ngeblog sendiri. Dan seterusnya.
Intinya sih semakin membumikan bloger baik sebagai hobi maupun profesi. Sehingga masyarakat Semarang khususnya ngerti dan paham apa itu bloger.
Sebagai penutup, hazeekk. Saya ucapin,
HAPPY 4TH ANNIVERSARY BLOGGER GANDJEL REL *tebar confetti*
Tulisan ini disertakan dalam #BlogChallengeGandjelRel Parade 4th Gandjel Rel Pekan 4
Sandang, pangan, papan. Setiap orang tua (maupun calon orang tua) biasanya udah memperhatikan ketiga hal pokok ini sedari awal. Sebelum punya anak, para calon orang tua udah berburu pakaian bayi, mainan, dan tetek bengeknya. Ngga ada yang ketinggalan lah. Bahkan udah punya "daftar barang kebutuhan bayi".
Saat udah dilahirkan, orang tua sebisa mungkin memberikan makanan yang bergizi untuk tumbuh kembang. Beli mainan edukatif untuk merangsang perkembangan otak dan motorik. Dan masih banyak lainnya. Semua hal yang bersifat material sebisa mungkin dipenuhi.
Pendidikan anak? Dipilih yang terbaik. Fasilitasnya. Kualitas gurunya. Kurikulumnya. Mengikuti open house sekolah satu per-satu dijabanin. Menabung dana pendidikan sebelum anak lahir? Siap.
Baca: When I (or You) Get A Chance to Be Parents
Mungkin orang tua bisa memastikan yah, secara fisik anak ngga kekurangan apa-apa. Tapi pernah ngga sih, ngalamin kayak gini.
Anak berbuat onar sedangkan mood orang tua lagi jelek. Kemudian muncullah kata, “Adek, kamu kok nakal banget sih. Nanti ibu ngga sayang.”
Atau ketika anak sudah mulai masuk sekolah, ada saatnya kesulitan mengikuti materi di sekolah. Kemudian, apa yang dilakukan orang tua? Membantu mengerjakan? Atau justru berkomentar, “Haduh kamu ini bisanya apa sih. Masa kayak gitu aja nggak bisa?”
Masih banyak celetukan lain yang tanpa kita sadari, bisa melukai perasaan anak. Ya, buat para orang tua bisa jadi kalimat semacam itu dianggap angin lalu. Bagaimana dengan anak? Jangan salah lho. Anak itu hampir selalu mengingat apa yang dikatakan orang tua.
Hayo, sudah sadarkah kita?
Mungkin untuk beberapa orang mengontrol apa yang keluar dari mulut emang ngga gampang. Apalagi ketika dihadapkan pada situasi ngga enak. Hawanya semua kata pengen dikeluarin. Meskipun begitu, bukan berarti ngga bisa loh. Ada beberapa cara preventif agar kita bisa mengontrol apa yang kita ucapkan ke anak.
Pertama, orang tua harus sudah selesai dengan diri sendiri
Harusnya ini dilakukan sebelum menikah sih, ya. Calon orang tua sebaiknya udah “selesai” dengan diri sendiri maupun orang tua. Kalo masih ada hal yang dirasa mengganjal dengan orang tua, coba selesaikan dulu. Jangan sampe hal itu membuat calon orang tua trauma dan berdampak ke anak nantinya.
Kedua, latihan. Ingat: practice makes perfect!
Entah kenapa ada stereotype kalo yang namanya cowok ya wajar mengumpat. Padahal, itu bukan hal yang baik kan? Maka balik lagi nih ke calon orang tua baik itu pria atau wanita biasakan deh buat ngga mengumpat.
Karena yang namanya kebiasaan, akan sulit untuk dihilangkan. Makanya mending dihindari. Nah kalo udah terlanjur kebiasaan mengumpat gimana? Latihan. Mengubah kata-kata umpatan dengan hal lain. latihan mengubah kata yang kasar dengan memperhalusnya. Banyak kok alternatif lain untuk berkomunikasi ke anak selain dengan kata kasar.
Saat udah dilahirkan, orang tua sebisa mungkin memberikan makanan yang bergizi untuk tumbuh kembang. Beli mainan edukatif untuk merangsang perkembangan otak dan motorik. Dan masih banyak lainnya. Semua hal yang bersifat material sebisa mungkin dipenuhi.
Pendidikan anak? Dipilih yang terbaik. Fasilitasnya. Kualitas gurunya. Kurikulumnya. Mengikuti open house sekolah satu per-satu dijabanin. Menabung dana pendidikan sebelum anak lahir? Siap.
Baca: When I (or You) Get A Chance to Be Parents
Mungkin orang tua bisa memastikan yah, secara fisik anak ngga kekurangan apa-apa. Tapi pernah ngga sih, ngalamin kayak gini.
Anak berbuat onar sedangkan mood orang tua lagi jelek. Kemudian muncullah kata, “Adek, kamu kok nakal banget sih. Nanti ibu ngga sayang.”
Atau ketika anak sudah mulai masuk sekolah, ada saatnya kesulitan mengikuti materi di sekolah. Kemudian, apa yang dilakukan orang tua? Membantu mengerjakan? Atau justru berkomentar, “Haduh kamu ini bisanya apa sih. Masa kayak gitu aja nggak bisa?”
Masih banyak celetukan lain yang tanpa kita sadari, bisa melukai perasaan anak. Ya, buat para orang tua bisa jadi kalimat semacam itu dianggap angin lalu. Bagaimana dengan anak? Jangan salah lho. Anak itu hampir selalu mengingat apa yang dikatakan orang tua.
“Verbal abuse is considered as abuse, too” – kekerasan secara verbal (perkataan) termasuk dalam kategori kekerasan.
Hayo, sudah sadarkah kita?
Mungkin untuk beberapa orang mengontrol apa yang keluar dari mulut emang ngga gampang. Apalagi ketika dihadapkan pada situasi ngga enak. Hawanya semua kata pengen dikeluarin. Meskipun begitu, bukan berarti ngga bisa loh. Ada beberapa cara preventif agar kita bisa mengontrol apa yang kita ucapkan ke anak.
Pertama, orang tua harus sudah selesai dengan diri sendiri
Harusnya ini dilakukan sebelum menikah sih, ya. Calon orang tua sebaiknya udah “selesai” dengan diri sendiri maupun orang tua. Kalo masih ada hal yang dirasa mengganjal dengan orang tua, coba selesaikan dulu. Jangan sampe hal itu membuat calon orang tua trauma dan berdampak ke anak nantinya.
Kedua, latihan. Ingat: practice makes perfect!
Entah kenapa ada stereotype kalo yang namanya cowok ya wajar mengumpat. Padahal, itu bukan hal yang baik kan? Maka balik lagi nih ke calon orang tua baik itu pria atau wanita biasakan deh buat ngga mengumpat.
Karena yang namanya kebiasaan, akan sulit untuk dihilangkan. Makanya mending dihindari. Nah kalo udah terlanjur kebiasaan mengumpat gimana? Latihan. Mengubah kata-kata umpatan dengan hal lain. latihan mengubah kata yang kasar dengan memperhalusnya. Banyak kok alternatif lain untuk berkomunikasi ke anak selain dengan kata kasar.
***
Hanya sekadar mengingatkan (biar kaya netijen jaman now) sebagai orang tua punya kewajiban untuk melindungi anak. Bukan hanya secara fisik tapi juga mental. Apalagi di era sekarang yang makin banyak isu isu diangkat seputar kesehatan mental. Orang tua harus bisa memastikan bahwa anaknya ngga hanya sehat secara lahir tapi juga batinnya.
Tulisan ini disertakan dalam #BlogChallengeGandjelRel Parade 4th Gandjel Rel Pekan 3
Semua berawal dari sini..
Di sebuah seminar kewirausahaan, ada kalimat yang membekas dan terus saya ingat. “Sembilan dari sepuluh pintu rezeki berasal dari perniagaan,” – sebut narasumber. Beliau seorang pengusaha yang mengawali usahanya sejak mahasiswa. Dari situ saya terpacu dan mulai mencoba peruntungan dengan melakukannya juga.Perniagaan alias wirausaha nggak harus berupa barang. Penawaran berupa jasa bisa dilakukan. Melihat kondisi perkuliahan yang padat, saya sengaja mengambil ide yang sederhana. Yaitu usaha menawarkan jasa desain power point (PPT).
Hal ini karena banyaknya tugas dari dosen yang mewajibkan untuk presentasi di depan kelas. Baik itu secara kelompok maupun individu. Pengalaman saya, dalam satu kelompok selalu ada anggota yang malas. Lebih mementingkan diri sendiri dibanding kelompok. Apalagi mendesain PPT agar nggak terlihat membosankan. Diperlukan skill tersendiri. Ditambah jam terbang yang mumpuni.
Jasa ini awalnya hanya saya tawarkan ke teman satu kampus. Setelah melihat peluang yang dihasilkan cukup besar, saya memutuskan untuk membawanya lebih serius. Membuka akun instagram agar jangkauan konsumennya lebih luas. Lagi pula usaha ini cukup mudah dijalankan. Nggak perlu bertatap muka dengan konsumen, hanya bermodalkan kuota internet dan tentunya kepercayaan satu sama lain. Pembayaran pun bisa dilakukan dengan transfer.
***
Karena di bidang jasa sudah saya geluti, saya melirik ke penawaran barang. Apa itu? Katering sehat! Ya, memanfaatkan ilmu yang didapat di kuliah juga. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Saya udah menuliskan ini dalam satu dari target selama hidup sejak tahun 2017. Tertulis jelas di planner ini.
PERTAMA, MEMPERSIAPKAN MODAL USAHA
1. Pemasok bahan makanan organik
Syarat menjadi katering kategori “sehat” sudah saya tentukan menggunakan bahan pangan organik. Artinya bila itu bahan segar berupa sayur, buah-buahan dalam penanamannya nggak pakai pupuk kimia ataupun pestisida.
Balik lagi ke konsep “sehat” disini mengurangi paparan yang bukan zat gizi bermanfaat bagi tubuh. Sebisa mungkin, apa yang dimakan ya itu yang akan memberikan efek positif bagi tubuh.
2. Peralatan memasak yang memadai
Bisa dimulai dari dapur rumah dulu sih sebenarnya. Nanti sedikit demi sedikit dilengkapi seiring berjalannya usaha.
3. Rekan bisnis yang terpercaya
Nah, ini juga penting. Untuk menjalankan bisnis ini saya memutuskan memiliki rekan bisnis. Dengan begitu ada “kepala” yang bisa diajak diskusi dan menentukan keputusan dengan rasional.
4. Pemasaran yang oke punya
Agar dikenal banyak orang, pemasaran perlu dilakukan. Gimana orang mau membeli produk saya kalau nggak kenal? Nggak kenal, maka nggak sayang. Hihi.
***
Saya udah kepikiran untuk melakukan survei kecil-kecilan ke beberapa pemasok. Masih belum berjalan sih karena untuk menuju lokasi terbilang jauh dan aksesnya nggak gampang. Maklum, memasuki wilayah pegunungan. Medannya nggak bisa disamakan dengan jalanan kota yang mulus.
Tapi ternyataaa, di era digital ini saya ngga perlu repot-repot mendaki gunung lewati lembah. Kok bisa? Akhirnya saya menemukan marketplace yang khusus menyediakan barang dalam jumlah grosir.
Ralali.com namanya
Sering belanja online? Pasti! Siapa sih sekarang yang nggak terpikat dengan kemudahan belanja online? Kalo kulakan online? Sepertinya masih belum familiar ya.Ralali.comhttp://www.ralali.com/ ini marketplace dengan konsep B2B (bussiness to bussiness). Maksudnya gini, Ralali.com memang dibuat untuk melakukan layanan jual beli demi memenuhi kebutuhan bisnis antara pemasuk dan pelaku bisnis. Umumnya untuk dijual lagi gitu. Nah maka dari itu barang yang dijual di Ralali.com pun dibanderol dengan harga grosir dan memiliki minimum pembelian.
Nggak perlu lah nanya lagi ke mimin olshop, “Min, kalo pembelian diatas 100 pcs dapet diskon kan?” Hihi. Karena harga yang diberikan ya udah harga grosir. Bukan harga jual pasaran dalam satuan (yang biasanya lebih tinggi).
Selain harga grosir, apalagi yang ditawarkan Ralali.com?
Barang yang dibutuhkan nggak tersedia dia Ralali.com? Tenang. Jangan khawatir. Dengan fitur RFQ kita bisa mengajukan permintaan ke Ralali.com untuk menyediakan barang yang diperlukan. Kita hanya perlu menulis detail produk yang dibutuhkan, jumlah, dan kapan produk akan dibutuhkan. Gampang banget.
- Jasa pembayaran elektronik
Pilihan pembayarannya ada lewat transfer bank, virtual bank, dan juga OVO. Kita bisa pilih mana yang biasa dipake.
- Pendanaan bisnis dengan fitur kredit
Mau kulakan uangnya belum ada? Tenaang. Ralali.com juga menyediakan kredit alias cicilan. Bisa dilakukan dalam jangka waktu 3, 6, atau 12 bulan. Sesuaikan aja dengan kemampuan dompet. Tapi ingat ya, ini cicilan. Bukan hutang. Pastikan untuk bisa melunasinya tepat waktu :)
- Banyak promo juga!
Kamu bisa klik “see promo” yang terpampang di halaman depan Ralali.com SELALU ada promo secara berkala loh. Salah satunya nih berhubung sebentar lagi Tahun Baru Imlek, Ralali.com menyediakan promo Hoki 88 + Diskon 8%. Setiap promo ada rentang waktunya. Makanya lebih cepat lebih baik. Jangan ragu-ragu buat ambil promonya. Ntar kalo udah kelewatan, malah nyesal :P
KEDUA, MENENTUKAN METODE BISNIS
Kedua, dengan duduk manis sambil dengerin musik, jangkauan pasar saya bisa meluas bahkan sampai ke pelosok. Tentu, selama ada akses internet. Pengiriman barang mengandalkan kurir. Pembayarannya? Makin gampang lagi. Cukup transfer dan kirim bukti transaksi aja.
Monitoring dan evaluasi pun lebih mudah dengan sistem online. Contohnya dari aspek promosi. Kalo kita sebar desain promosi di medsos, bisa kita liat engagement alias jangkauannya. Mulai dari capaian yang lihat berapa orang, likes yang diberikan. Kita bisa liat gimana tanggapan calon konsumen terhadap produk kita lewat kolom komentar. Bandingkan dengan sebar brosur, gimana caranya kita tau itu bakal dibaca? Jangan-jangan berakhir jadi bungkus gorengan?
Sebagai pemula di bisnis online, saya suka cari kutipan motivas dari para “sensei” pebisnis agar semakin bersemangat dalam menggeluti dunia ini. Salah satu kutipan yang paling saya suka berasal dari Bill Gates, “If your business is not on the internet, then your business will be out of business.” Jadi kalau kita menjalankan bisnis tanpa memanfaatkan kekuatan internet di era digital ini, kemungkinan besar kita akan kalah saing dengan pebisnis lainnya.
So, saya dengan mantap memutuskan untuk melebarkan sayap dengan melakukan bisnis secara online.
KETIGA, MEMILIH MEDIA PEMASARAN YANG AKAN DIGUNAKAN
1. Jumlah pengguna Instagram banyak
Mengutip hasil survei dari WeAreSocial dan Hootsuite, Indonesia menjadi negara ketiga dengan jumlah pengguna Instagram terbanyak didunia per-Januari 2018.
![]() |
| https://wearesocial.com |
![]() |
| https://wearesocial.com |
2. Adanya mode instagram khusus bisnis
Instagram menyediakan mode bisnis. Sehingga akan lebih memudahkan dalam memantau akun bisnis kita. Fasilitas yang disediakan cukup lengkap. Beberapa diantaranya:
- Menyediakan fitur untuk menampilkan engagement tiap posting
- Dapat mencantumkan kontak lengkap (nomor handphone, email, serta alamat lengkap)
- Memiliki fitur untuk mengetahui harga produk hanya dengan sekali tap
- Menyediakan fitur promosi di bagian Instagram Story untuk membantu meluaskan jangkauan promosi
***
Untuk menjalankan bisnis, memang diperlukan langkah-langkah agar bisa berkembang. Ini rencana bisnisku, mana rencana bisnismu?
Detail
Judul: Rentang Kisah
Penulis: Gita Savitri Devi
Terbitan: 2017
Penerbit: Gagasmedia
Jumlah halaman: viii + 208 halaman
Akan ada waktunya, dimana hidup yang tadinya lurus-lurus aja. Eh tiba-tiba muncul kejutan. Seringnya justru berupa hal-hal yang nggak kita kehendaki. Kamu pernah ngerasa begitu? Saya pernah. Apalagi setelah memasuki usia 20 tahun. Hidup rasanya makin aneh untuk dijalani.
Ternyata, saya nggak sendiri. Gitasav lewat bukunya yang berjudul "Rentang Kisah" merasakan hal yang sama. Keanehan hidup yang dia rasakan, dibagikan dalam buku ini.
Siapakah Gitasav?
Gitasav ini youtuber, influencer, tv host, blogger, banyak deh perannya. Selebgram mungkin masuk juga kali. Nah di buku ini Gitasav buka-bukaan gimana sih kehidupannya dia sebenernya. Kan orang banyak liat tuh di media sosial kayanya asik-asik aja.
Baca: 5 Blogger Favoritku, Siapa Ya?
Ada 3 rentang waktu yang diceritakan Gitasav disini. Pertama, masa remaja alias sebelum ke Jerman. Kedua, kehidupan awal mula saat di Jerman. Ketiga, kehidupan setelah bisa beradaptasi dengan keadaan di Jerman.
Gitasav di masa remaja sama seperti siswa Indonesia pada umumnya. Bingung mau kuliah dimana. Selama sekolah kerjaannya cuma maen aja. Baru kelas XII ribut pilih jurusan. Semula doi pilih ITB dan keterima tuh. Eh, nggak ada angin nggak ada hujan...disuruh untuk kuliah di Jerman sama ibunya.
Baca: 5 Blogger Favoritku, Siapa Ya?
Ada 3 rentang waktu yang diceritakan Gitasav disini. Pertama, masa remaja alias sebelum ke Jerman. Kedua, kehidupan awal mula saat di Jerman. Ketiga, kehidupan setelah bisa beradaptasi dengan keadaan di Jerman.
Gitasav di masa remaja sama seperti siswa Indonesia pada umumnya. Bingung mau kuliah dimana. Selama sekolah kerjaannya cuma maen aja. Baru kelas XII ribut pilih jurusan. Semula doi pilih ITB dan keterima tuh. Eh, nggak ada angin nggak ada hujan...disuruh untuk kuliah di Jerman sama ibunya.
"Sebenarnya bisa aja aku yakin dengan pilihan sendiri dan nggak terlalu mendengarkan keinginan ibuku. Namun, aku juga percaya kalau ridho Allah adalah ridho orangtua. Bagaimana jalan menuju masa depanku mau lancar, kalau orangtua nggak mengizinkan."
Pada akhirnya keputusan untuk kuliah di Jerman membuat Gitasav harus ambil gap year yang ngga umum (buat orang Indonesia).
"Ada perasaan kecewa yang memenuhi hati. Semua rencana dan timeline hidup yang sudah kubuat harus dirombak total. Setiap hari aku diliputi pertanyaan, Why can't I just get what I want?"
Sampai akhirnya di tahun 2010 doi berangkat ke Jerman. Disini, lagi-lagi harus dihadapkan pada hal baru. Mahasiswa baru harus menjalani pra-studi yang cukup panjang. Salah satunya harus punya sertifikat bahasa Jerman sampai level B2. Baru bisa daftar ke Studienkolleg. Persoalan bahasa ini penting karena pengantar kuliah menggunakan bahasa Jerman.
Studienkolleg itu apa? Kelas persiapan atau penyetaraan bagi calon mahasiswa yang berasal dari luar Uni Eropa. Jadi ngga langsung kuliah sesuai jurusan. Melainkan mengulang pelajaran SMA selama dua semester. Kalo gagal? Ya harus drop out.
Disitu Gitasav kenal gimana susahnya belajar yang sebenarnya.
Pacaran beda agama?
Rentang waktu setelah berhasil beradaptasi di Jerman ini menurut saya yang paling asyik dibaca. Pertemuannya dengan pria beda agama (yang sekarang udah mualaf dan jadi suami) membuat Gitasav justru belajar lebih dalam tentang Islam. Awalnya dikarenakan keinginan agar sang pacar berubah agama. Tapi kemudian dia sadar.
"Keinginan egoisku yang lalu-lalu hilang. Hatiku rasanya plong sekali. Desire is toxic for heart indeed. Bahkan aku pun belajar ikhlas jika Paulus bukan jodohku nantinya. Aku nggak berharap apa-apa dari hubungan kami berdua. Toh, aku sudah belajar kalau jodoh itu bukan urusan manusia."
The purpose to live a happy life is to always be grateful and don't forget the magic words: ikhlas, ikhlas, ikhlas.
Kekurangan buku ini subjektif ya. Penggunaan kata "aku" dibanding "gue". Rasanya lebih ngena aja pake kata "gue" karena di blog Gitasav pake itu. Mungkin udah dipikirkan matang-matang sih kenapa ganti jadi "aku". Selain itu buku ini nggak sepenuhnya cerita baru. Beberapa postingan di blog dimasukkan ke buku ini.
Bukannya nggak suka, buat saya eman aja sih. Kenapa ngga dituliskan bab baru aja? Hehe. Lagi, ini subjektif ya pendapat pribadi saya. Overall sih buku ini bagus. Saya udah baca berulang kali. Sudah meracuni teman juga untuk baca. Padahal teman ini ngakunya jarang baca loh. Berarti kan memang ada yang menarik dari buku ini.
Kamu udah baca, belum?
(baca tulisan bagian pertamanya dulu biar nyambung yaah)
Alhamdulillah wa Syukurillah lolos. Ternyata hasil seleksi ini dibagi per zona. Sedari awal udah jelas kelolosan ditentukan oleh passing grade. Barulah kalo passing grade nggak memenuhi, dipake sistem ranking. Nah saya yang Zona 4 ya saingannya di zona yang sama. Nggak secara nasional gitu loh. Mungkin ini juga salah satu faktor saya bisa lolos kali ya. Ngga tau kalo di zona lain atau justru secara nasional bakal lolos atau engga. Hehe.
Untuk yang lolos SKD menuju SKB, diambil 3x dari formasi. Untuk formasi saya dibutuhkan 5 (keseluruhan di Zona 4) maka diambil 15 orang yang boleh mengikuti SKB.
Disinilah drama berlanjut. Saya masih heran kenapa hidup saya penuh drama. Apakah karena saya suka nonton drama Korea? Kalau memang iya, apalah daya saya nggak bisa untuk nggak nonton drakor *lah gimana*.
Jika SKD lebih ke umum, di SKB udah masuk tentang instansi tujuan. Karena saya pilih BPOM ya isinya per-BPOM-an. Ada dapet kisi-kisi dari temen, cari di google, dan juga twitter. Apakah membantu? Ya dan tidak sih. Intinya banyakin belajar tentang farmasi (basic-nya BPOM kebanyakan apoteker) dan tentang visi misi BPOM itu sendiri.
Dan, soal seperti apakah yang saya kerjakan?
Berjumlah 100 dalam waktu 90 menit, prosesnya masih sama dengan SKD. Malah lebih ketat pemeriksaannya. Bros saya kena sita. Saya duduk bersebelahan dengan 2 orang temen seangkatan. Tapi kita ngga ada kerja sama loh yaa! Mereka berdua ini udah terkenal jujur. Saya? Wah jangan diragukan dong. Ujian Nasional aja ngga beli kuncinya. Hahaha. Ujiannya juga secara online dan nilai bisa langsung keluar.
Isi SKB BPOM 2018 kurang lebih kaya gini:
- Visi misi BPOM
- Perundang-undangan tentang Narkotika, Apoteker, Apotek (pengedaran obat di Indonesia kaya gimana, kalo ada pelanggaran di apotek harus berbuat apa)
- Pengaruh obat-obatan pada tubuh (misal zat X itu bisa mempengaruhi bagian tubuh apa, syaraf kah? Pembuluh darah kah?)
- Peracikan obat (ada hitung-hitungannya gitu saya tidak paham pemirsa)
- Syarat CPOB (Cara Pembuatan Obat dengan Baik)
- Sanksi hukum terkait dengan peredaran obat-obatan
- Klasifikasi obat (obat berlabel hijau, biru, obat keras, dan semacamnya)
Intinya soal kefarmasian jauh lebih banyaaak dibanding tentang BPOM itu sendiri. Soal tentang BPOM pun dasar banget yang insyaAllah bisa dikerjakan selama ngerti BPOM itu apa. Nggak yang mendalam.
Awalnya ekspektasi saya tuh bakalan ada soal tentang kesehatan masyarakat sendiri gitu. Ternyata kok kayaknya mau berasal dari jurusan apa aja, soalnya sama. Sempet liat di twitter sih agak meributkan soal ini. terutama yang dari jurusan sosial kan kurang bisa relate gitu.
Tips 2: yakin nggak yakin lolos SKD, belajar dari jauh-jauh hari. Jangka waktunya lumayan lama, hampir sebulan. Bisa dihafal dan dipelajari kok tentang obat-obatan tuh. Buktinya temen saya bisa dapet skor 330.
Rata-rata kalo yang saya liat sih skornya 250an. Perhitungan skornya untuk salah dikasih 0. Benar dikasih poin 5. Skor saya berapa? Cuma 275 aja. Hehe. Temen saya yang lain 280 dan 240.
Trus dramanya dimana?
Nah. SKB ini selain CAT ada wawancara + mengumpulkan hasil TOEFL. Ceritanya peserta dibagi beberapa kelompok. Tapi masih bisa negosiasi bisa wawancara kapan semisal ada kepentingan lain. kayak kepentok jam kerja atau gimana. Nah saya dapet hari kedua tuh. Udah kan tenang. Adem ayem. Sebelum wawancara udah ngisi form seputar pengalaman bekerja sebelumnya/organisasi. Intinya tentang kerjasama dan sosialisasi dengan orang lain.
Baca: Pengalaman Tes TOEFL di SEU Undip
Saya tersadar ternyata pengalaman dulu gabung organisasi waktu kuliah penting banget! Ngga bisa bayangin deh kalo waktu kuliah saya anti sosial kayak jaman SMA. Mau diisi apa coba itu pengalaman? :’) Apalagi untuk fresh graduate kayak saya yang belum ada pengalaman kerja sama sekali. Mau dinilai darimana? Ya dari kehidupan berorganisasi.
Baca: Plus Minus jadi Aktivis Kampus
Drama yang dialami ini ngga waktu CAT tapi saat wawancara. Untuk pembagian wawancara dibagi menjadi 2 hari. Udah diatur dari BPOM dapet hari keberapa. Saya di hari kedua. Okay siyap!
Alhamdulillah wa Syukurillah lolos. Ternyata hasil seleksi ini dibagi per zona. Sedari awal udah jelas kelolosan ditentukan oleh passing grade. Barulah kalo passing grade nggak memenuhi, dipake sistem ranking. Nah saya yang Zona 4 ya saingannya di zona yang sama. Nggak secara nasional gitu loh. Mungkin ini juga salah satu faktor saya bisa lolos kali ya. Ngga tau kalo di zona lain atau justru secara nasional bakal lolos atau engga. Hehe.
![]() |
| P1 artinya lolos passing grade. Huruf L disebelahnya menandakan LOLOS untuk ke seleksi selanjutnya |
Seleksi Kompetensi Bidang
Jika SKD lebih ke umum, di SKB udah masuk tentang instansi tujuan. Karena saya pilih BPOM ya isinya per-BPOM-an. Ada dapet kisi-kisi dari temen, cari di google, dan juga twitter. Apakah membantu? Ya dan tidak sih. Intinya banyakin belajar tentang farmasi (basic-nya BPOM kebanyakan apoteker) dan tentang visi misi BPOM itu sendiri.
Dan, soal seperti apakah yang saya kerjakan?
Berjumlah 100 dalam waktu 90 menit, prosesnya masih sama dengan SKD. Malah lebih ketat pemeriksaannya. Bros saya kena sita. Saya duduk bersebelahan dengan 2 orang temen seangkatan. Tapi kita ngga ada kerja sama loh yaa! Mereka berdua ini udah terkenal jujur. Saya? Wah jangan diragukan dong. Ujian Nasional aja ngga beli kuncinya. Hahaha. Ujiannya juga secara online dan nilai bisa langsung keluar.
Isi SKB BPOM 2018 kurang lebih kaya gini:
- Visi misi BPOM
- Perundang-undangan tentang Narkotika, Apoteker, Apotek (pengedaran obat di Indonesia kaya gimana, kalo ada pelanggaran di apotek harus berbuat apa)
- Pengaruh obat-obatan pada tubuh (misal zat X itu bisa mempengaruhi bagian tubuh apa, syaraf kah? Pembuluh darah kah?)
- Peracikan obat (ada hitung-hitungannya gitu saya tidak paham pemirsa)
- Syarat CPOB (Cara Pembuatan Obat dengan Baik)
- Sanksi hukum terkait dengan peredaran obat-obatan
- Klasifikasi obat (obat berlabel hijau, biru, obat keras, dan semacamnya)
Intinya soal kefarmasian jauh lebih banyaaak dibanding tentang BPOM itu sendiri. Soal tentang BPOM pun dasar banget yang insyaAllah bisa dikerjakan selama ngerti BPOM itu apa. Nggak yang mendalam.
Awalnya ekspektasi saya tuh bakalan ada soal tentang kesehatan masyarakat sendiri gitu. Ternyata kok kayaknya mau berasal dari jurusan apa aja, soalnya sama. Sempet liat di twitter sih agak meributkan soal ini. terutama yang dari jurusan sosial kan kurang bisa relate gitu.
Tips 2: yakin nggak yakin lolos SKD, belajar dari jauh-jauh hari. Jangka waktunya lumayan lama, hampir sebulan. Bisa dihafal dan dipelajari kok tentang obat-obatan tuh. Buktinya temen saya bisa dapet skor 330.
Rata-rata kalo yang saya liat sih skornya 250an. Perhitungan skornya untuk salah dikasih 0. Benar dikasih poin 5. Skor saya berapa? Cuma 275 aja. Hehe. Temen saya yang lain 280 dan 240.
Trus dramanya dimana?
Nah. SKB ini selain CAT ada wawancara + mengumpulkan hasil TOEFL. Ceritanya peserta dibagi beberapa kelompok. Tapi masih bisa negosiasi bisa wawancara kapan semisal ada kepentingan lain. kayak kepentok jam kerja atau gimana. Nah saya dapet hari kedua tuh. Udah kan tenang. Adem ayem. Sebelum wawancara udah ngisi form seputar pengalaman bekerja sebelumnya/organisasi. Intinya tentang kerjasama dan sosialisasi dengan orang lain.
Baca: Pengalaman Tes TOEFL di SEU Undip
Saya tersadar ternyata pengalaman dulu gabung organisasi waktu kuliah penting banget! Ngga bisa bayangin deh kalo waktu kuliah saya anti sosial kayak jaman SMA. Mau diisi apa coba itu pengalaman? :’) Apalagi untuk fresh graduate kayak saya yang belum ada pengalaman kerja sama sekali. Mau dinilai darimana? Ya dari kehidupan berorganisasi.
Baca: Plus Minus jadi Aktivis Kampus
Drama yang dialami ini ngga waktu CAT tapi saat wawancara. Untuk pembagian wawancara dibagi menjadi 2 hari. Udah diatur dari BPOM dapet hari keberapa. Saya di hari kedua. Okay siyap!
Nah, di hari pertama wawancara udah mencapai magrib tuh. Pas banget azan. Udah wudhu, pake mukena. Iseng buka hape KOK ADA TELFON? Nomer baru lagi. Saya biasa tetep angkat nomer telfon meskipun nggak bernama sih. Soalnya kan femes ya banyak fans jadi maklum aja *dikeplak.
“Ini dengan mbak Lulu peserta SKB BPOM?”
“Iya bu, bagaimana?”
“Bisa datang ke kantor untuk wawancara sekarang?”
“......”
“Rumah kamu dekat kantor kan?”
“Iya bu”
“Bisa ya?”
“Setelah saya sholat ya bu”
“Oke”
APA YANG TELAH TERJADIII? Yak. Saya wawancara dengan mendadak, gaes. Gak tau lagi gimana ekspresi muka saat itu. Ngga ada persiapan sama sekali loh shay. Sementara saya siap-siap, ibu menyetrikakan baju hitam putih. terimakasih ibu quuuh sayang<3
Sesampainya di kantor ditanya satpam, “Mbak bener wawancaranya jam segini? (sekitar jam setengah 7 malam)”
“Iya pak bener kok”
Yaudah deh diarahkan ke ruang wawancara. Sendirian. Melewati luasnya kantor Balai Besar POM seorang diri. Saya deg-degan gaes. HAHA. Sampe takut gimana kalo pewawancaranya mendengar detak jantung saya? Lol.
“Ini dengan mbak Lulu peserta SKB BPOM?”
“Iya bu, bagaimana?”
“Bisa datang ke kantor untuk wawancara sekarang?”
“......”
“Rumah kamu dekat kantor kan?”
“Iya bu”
“Bisa ya?”
“Setelah saya sholat ya bu”
“Oke”
APA YANG TELAH TERJADIII? Yak. Saya wawancara dengan mendadak, gaes. Gak tau lagi gimana ekspresi muka saat itu. Ngga ada persiapan sama sekali loh shay. Sementara saya siap-siap, ibu menyetrikakan baju hitam putih. terimakasih ibu quuuh sayang<3
Sesampainya di kantor ditanya satpam, “Mbak bener wawancaranya jam segini? (sekitar jam setengah 7 malam)”
“Iya pak bener kok”
Yaudah deh diarahkan ke ruang wawancara. Sendirian. Melewati luasnya kantor Balai Besar POM seorang diri. Saya deg-degan gaes. HAHA. Sampe takut gimana kalo pewawancaranya mendengar detak jantung saya? Lol.
Di ruang tunggu cuma tersisa 1 peserta! Dan beberapa petugas BPOM. Disitu berusaha menenangkan diri dengan merapal doa-doa. Serius deh, ngga ada persiapan banget. Bahkan perkenalan diri pun saya komat kamit di jalan menuju kantor BPOM (yang mana ngga ada 10 menit).
Isi wawancaranya apa?
Alhamdulillah sempet nanya ke temen yang udah wawancara. Jadi ada gambaran bakal ditanya apa aja. Benarlah ternyata. Wawancaranya lebih menggali ke diri sendiri. Tentang teamwork, how to deal with problems, problem solving, how ambitious you are when working (?) dan nilai yang dipegang dalam hidup itu apa sih. Pewawancaranya ada dua orang. 1 dari BPOM Pusat dan 1 dari Balai POM Semarang.
Tips 3: saat wawancara kontrol ekspresi wajah ya. Meskipun cetakan muka judes, tetep harus keliatan approach-able. Senyum tapi jangan keliatan palsu. Suara tegas dan jelas(kayaknya saya agak kumur-kumur -_-), dan percaya diri! Jangan ragu sama jawaban kalian sendiri.
Ngga ada bener dan salah kok. Pewawancara juga ngga menyalahkan jawaban kamu. Cuma nanggapin macem, “Oh gitu?”. Kalo ada pertanyaan yang kurang jelas, boleh ditanya ulang dengan sopan tentunya. Sesi wawancara saya sekitar 40 menitan. Alhamdulillah, lega. Udah berakhir seleksinya. Tinggal menyerahkan usaha aja sama yang diatas.
Setelah selesai semua tuh rangkaian seleksi yang saya lakukan cuma 2: berdoa dan rutin buka akun media sosialnya BPOM. Sungguh rasanya tuh penasaran banget. Biar ancang-ancang gitu sih kalo keterima ya Alhamdulillah, nggak ya artinya bisa coba yang lain.
Sama seperti hasil SKD yang diumumkan di hari Rabu, hasil SKB pun juga. Saya masih inget betapa gemetarnya untuk buka pengumuman. Lemes shay :")
Ngga pernah nyangka sih bakal lolos. Yang tadinya magang di BPOM eh jadi bagian dari BPOM beneran. Alhamdulillah pemberkasan pun udah selesai.
Oh iya, seleksi CPNS tiap instansi itu beda yah. Ada di instansi lain yang meliputi tes kesehatan, psikotest, dsb. Sedangkan untuk Badan POM ya yang udah saya ceritakan ini. Bisa dibilang ngga terlalu banyak sih. Alhamdulillah.
Terima kasih buat semua yang udah mendoakan yah. Doakan terus semoga bisa bawa kebermanfaatan lewat kerja disini. Amin ya Robbal Alamiin...
Isi wawancaranya apa?
Alhamdulillah sempet nanya ke temen yang udah wawancara. Jadi ada gambaran bakal ditanya apa aja. Benarlah ternyata. Wawancaranya lebih menggali ke diri sendiri. Tentang teamwork, how to deal with problems, problem solving, how ambitious you are when working (?) dan nilai yang dipegang dalam hidup itu apa sih. Pewawancaranya ada dua orang. 1 dari BPOM Pusat dan 1 dari Balai POM Semarang.
Tips 3: saat wawancara kontrol ekspresi wajah ya. Meskipun cetakan muka judes, tetep harus keliatan approach-able. Senyum tapi jangan keliatan palsu. Suara tegas dan jelas
Ngga ada bener dan salah kok. Pewawancara juga ngga menyalahkan jawaban kamu. Cuma nanggapin macem, “Oh gitu?”. Kalo ada pertanyaan yang kurang jelas, boleh ditanya ulang dengan sopan tentunya. Sesi wawancara saya sekitar 40 menitan. Alhamdulillah, lega. Udah berakhir seleksinya. Tinggal menyerahkan usaha aja sama yang diatas.
***
Sama seperti hasil SKD yang diumumkan di hari Rabu, hasil SKB pun juga. Saya masih inget betapa gemetarnya untuk buka pengumuman. Lemes shay :")
Ngga pernah nyangka sih bakal lolos. Yang tadinya magang di BPOM eh jadi bagian dari BPOM beneran. Alhamdulillah pemberkasan pun udah selesai.
Oh iya, seleksi CPNS tiap instansi itu beda yah. Ada di instansi lain yang meliputi tes kesehatan, psikotest, dsb. Sedangkan untuk Badan POM ya yang udah saya ceritakan ini. Bisa dibilang ngga terlalu banyak sih. Alhamdulillah.
Terima kasih buat semua yang udah mendoakan yah. Doakan terus semoga bisa bawa kebermanfaatan lewat kerja disini. Amin ya Robbal Alamiin...
Setelah lulus sejujurnya saya nggak ada ambisi mau daftar dimana. Masih ragu bakal diijinin orang tua atau enggak. Udah sering ditolak keinginannya maka harus hati-hati menentukan pilihan. Nah di tahun 2018 ternyata ada pembukaan Seleksi CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil). Sampai seminggu sebelum pembukaan masih nggak ada niatan untuk daftar.
Kenapa?
1. Meskipun secara teknis udah lulus, saya belum mengantongi ijazah. Saya lulus bulan Juli, tapi wisuda dapet periode November. Otomatis Cuma punya Surat Keterangan Lulus (SKL). Dimana surat itu kurang “sakti” dibandingkan ijazah.
Saya putuskan cerita ke ibu. Dan bisa ditebak sih jawaban ibu, “Selagi ada kesempatan yaudah coba aja. nggak ada salahnya kan.” Baiklah. Perkataan ibu itu bagaikan titah dalam hidup saya. LOL. Saya beranikan diri daftar SCCN BKN dan baca persyaratannya. Nggak terlalu susah sih. Hanya butuh nomor ijazah, KTP, dan beberapa persyaratan lainnya. Semua tertulis jelas di pengumumannya (lupa sebenernya apa aja hehe). Cek aja di https://sscn.bkn.go.id/
Beberapa seleksi yang dilewati yaitu:
Saat itu ada syarat untuk swafoto dengan KTP. Dan kamu tahu? Saya punya cuma surat keterangan. E-KTP nya belum jadi. Harus foto mandiri beberapa kali take. Hahaha. Yang penting keliatan muka dan data diri di surat keterangan udah cukup lah.
Di BPOM itu ada pilihan zona-nya. Zona 1 khusus BPOM Pusat (Jakarta). Zona 4 yang saya pilih meliputi Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Yha, teteup disuruh pilih zona Jawa aja sama ibu. Kemudian pilih formasi umum atau terbaik. Meskipun saya punya modal IPK cumlaude, pilihnya yang umum aja.
Karena apa? Ngikutin kata temen. HAHAHA. shallow banget emang. Ngga deng. Alasannya karena formasi umum bisa lebih banyak pilihannya. Oh tentu saja ini kata teman juga. Seorang Lulu masih kurang risetnya :')
Tips 1: saat seleksi administrasi, pastikan dokumen lengkap. Semua persyaratan dirinci LENGKAP di lampiran pengumuman SCCN BKN maupun instansi pilihan. DAN JANGAN BERANI COBA-COBA. Maksudnya gini, kalau keterangannya harus udah punya ijazah ya jangan pake SKL.
Temen saya ada yang nekat daftar Dinas Kesehatan modal SKL padahal jelas-jelas syaratnya ijazah. Ya ketebak deh nggak lolos seleksi administrasi.
Kalo emang pengen keterima ya ikutin aja instruksinya. Alasan “Siapa tau dilolosin kan di instansi X ada sodara/pacar/pakde/budhe” atau “Kan aku pernah magang disitu pasti inget namaku”. Jangan kepedean, Ferguso. Ini kan secara nasional seleksinya. OK?
Alhamdulillah, tahap 1 lolos. Selanjutnya SKD. Pengumumannya tepat sehari sebelum wisuda. Jadi bisa ditebak wisuda itu topik pembahasannya SKD. Temen seangkatan saya BANYAK BANGET yang daftar BPOM. Karena alasan itu tadi, baru pegang SKL. Dan tahun ini sepertinya BPOM memang sedang buka formasi cukup banyak. Untuk dimasukkan ke Loka (semacam kantor perwakilan di kabupaten). Loka ini baru mulai aktif di tahun 2018 setau saya.
Saya baca pengumuman baik-baik, itu tanggal 8 November pelaksanaan SKD-nya. Tapi ternyata apa pemirsa? Saya salah! Sehari sebelum SKD temen saya ngechat dong,
Kenapa?
1. Meskipun secara teknis udah lulus, saya belum mengantongi ijazah. Saya lulus bulan Juli, tapi wisuda dapet periode November. Otomatis Cuma punya Surat Keterangan Lulus (SKL). Dimana surat itu kurang “sakti” dibandingkan ijazah.
2. Saya belum punya Surat Tanda Registrasi (STR). Belum dapet hidayah buat ikut Uji Kompetensi.
Baca: Pengalaman Ikut Try Out UKOM Kesmas
Baca: Pengalaman Ikut Try Out UKOM Kesmas
Kebanyakan instansi kesehatan yang buka formasi di CPNS mensyaratkan dua itu bagi lulusan Kesehatan Masyarakat. Pudar sudah kan keinginan jadi CPNS. Selain itu juga masih pikir-pikir. ASN (Aparatur Sipil Negara-nama barunya PNS) kan ibaratnya kerja seumur hidup ya sama negara, udah siapkah?
Sampai kemudian ada yang kasih tau saya,
Sampai kemudian ada yang kasih tau saya,
“Mbak, ayo daftar BPOM”
“Hah, emang bisa?”
“Iya cuma pake SKL aja. Udah ngurus SKL kan?”
“Udah sih...” (menggantung karena masih nggak yakin)
Baca: 19 Hari Magang di BPOM
“Hah, emang bisa?”
“Iya cuma pake SKL aja. Udah ngurus SKL kan?”
“Udah sih...” (menggantung karena masih nggak yakin)
Baca: 19 Hari Magang di BPOM
Saya putuskan cerita ke ibu. Dan bisa ditebak sih jawaban ibu, “Selagi ada kesempatan yaudah coba aja. nggak ada salahnya kan.” Baiklah. Perkataan ibu itu bagaikan titah dalam hidup saya. LOL. Saya beranikan diri daftar SCCN BKN dan baca persyaratannya. Nggak terlalu susah sih. Hanya butuh nomor ijazah, KTP, dan beberapa persyaratan lainnya. Semua tertulis jelas di pengumumannya (lupa sebenernya apa aja hehe). Cek aja di https://sscn.bkn.go.id/
Beberapa seleksi yang dilewati yaitu:
Seleksi administrasi
Di BPOM itu ada pilihan zona-nya. Zona 1 khusus BPOM Pusat (Jakarta). Zona 4 yang saya pilih meliputi Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Yha, teteup disuruh pilih zona Jawa aja sama ibu. Kemudian pilih formasi umum atau terbaik. Meskipun saya punya modal IPK cumlaude, pilihnya yang umum aja.
Karena apa? Ngikutin kata temen. HAHAHA. shallow banget emang. Ngga deng. Alasannya karena formasi umum bisa lebih banyak pilihannya. Oh tentu saja ini kata teman juga. Seorang Lulu masih kurang risetnya :')
Tips 1: saat seleksi administrasi, pastikan dokumen lengkap. Semua persyaratan dirinci LENGKAP di lampiran pengumuman SCCN BKN maupun instansi pilihan. DAN JANGAN BERANI COBA-COBA. Maksudnya gini, kalau keterangannya harus udah punya ijazah ya jangan pake SKL.
Temen saya ada yang nekat daftar Dinas Kesehatan modal SKL padahal jelas-jelas syaratnya ijazah. Ya ketebak deh nggak lolos seleksi administrasi.
Kalo emang pengen keterima ya ikutin aja instruksinya. Alasan “Siapa tau dilolosin kan di instansi X ada sodara/pacar/pakde/budhe” atau “Kan aku pernah magang disitu pasti inget namaku”. Jangan kepedean, Ferguso. Ini kan secara nasional seleksinya. OK?
Seleksi Kompetensi Dasar
Saya baca pengumuman baik-baik, itu tanggal 8 November pelaksanaan SKD-nya. Tapi ternyata apa pemirsa? Saya salah! Sehari sebelum SKD temen saya ngechat dong,
“Udah siapin surat pernyataan dll-nya belum?”
“Belum”
“Daebak. Mau kapan?”
“Besok aja deket tanggal tes”
YHA PADAHAL UDAH KEESOKAN HARINYA TULUNG. Auto panik. Berkas saya masih ngga lengkap. Ngga mungkin minta ke kampus. Ternyata si temen saya ini punya cadangannya. Saya pake punya dia. Berkas itu adalah surat akreditasi fakultas. Masih inget banget. Huhuhu. Makasih ya Inten, sungguh jasamu tidak akan terlupakan kawan!
Drama banget emang. Lokasi ujian yang tadinya tertulis di Kantor BKN berubah menjadi GOR. Alhamdulillah ngga terlalu jauh dari rumah.
Sesampainya disana, udah banyak peserta berpakaian hitam putih. Segera saya cari gerombolan teman saya. Ngga mau sendirikarena udah terlalu lama sendiri. SKD dibagi dalam beberapa sesi. Saya dapet sesi 2. Tertulis mulai pukul 10.00 tapi dateng 2 jam sebelumnya. Rajin? Iya demi tidak ketinggalan info dong.
Agak molor sih ujiannya but it’s okay. Berusaha memaklumi. Dengan jumlah peserta ribuan gitu, pasti nggak mudah untuk mengkoordinir. Disitu kami harus membawa kartu peserta dan KTP untuk bisa masuk. Alat tulis, jam, dan apapun selain kedua itu ditinggal di tas. Sebelum masuk pun masih diperiksa oleh petugas. Literally diperiksa diraba seluruh tubuh gitu, gaes.
Saya sih santai aja karena emang ngga bawa aneh-aneh. Masuk di ruangan GOR: WAAAWWWWW besar syekali. Jarak antar peserta deket banget. Rapet. Hahaha.
Ada 3 unsur SKD.
Pertama, Tes Karakteristik Pribadi
Ini berisi tentang nilai-nilai yang dijunjung tinggi ASN. Nggak ada jawaban salah. Hanya skor mulai 1-5. Asli, soalnya tricky. Jika kedua tes sebelumnya bisa dipelajari, yang ini enggak. Beneran harus pilih jawaban yang paling mendekati nilai kayak kejujuran, kerjasama, pelayanan publik, kayak gitu. Bacaan soalnya panjang, jawabannya mirip-mirip. Harus dibaca dengan seksama.
Kedua, Tes Intelegensi Umum
Semacam Tes Potensi Akademik. Ada tentang deret, lawan kata-persamaan kata, yaa yang pernah ikut SBMPTN pasti tau ini ada.
Ketiga, Tes Wawasan Kebangsaan
Terakhir ini tentang Indonesia. Falsafah negara gitu. Belajar pancasila, Undang-Undang Dasar 1945. Pasal-pasal.
Apakah saya belajar?
Iya. Belajarnya dari buku kumpulan soal-soal CPNS gitu. Sengaja dibeliin sama ibu, saya nggak minta. Ternyata ya cukup ampuh sih. Padahal baru ngerjain sekitar 3 paket soal. Itupun sistem SKS dalam 3 hari ngerjain.
Tahun ini passing grade TKP, TIU, dan TWK berturut-turut 143, 80 dan 75. Nilai totalnya juga ada passing grade berapa gitu lupa. Setelah selesai mengerjakan, nilainya langsung keluar dan ada layar diluar ruangan menayangkan hasilnya secara langsung. Matik gak tuh. Nilai TIU dan TKD saya sama: 105. Nilai TWK-nya? 144. Total nilai 354.
Nilai TWK itu beneran ngagetin sih. Mepet banget cuy, saya ingat sempet ganti jawaban di akhir-akhir ngerjain. Ngga ngerti deh apakah jawaban itu yang bikin mepet atau gimana.
Pengumuman SKD ke SKB cukup lama. BPOM termasuk instansi yang akhir-akhir ngumuminnya. Pokoknya saat yang lain udah pengumuman, BPOM tuh belum. Ramelah itu di twitter dan instagram. setiap ada postingan baru bisa dipastikan isinya peserta seleksi nanyain, “Kapan pengumuman, mimin?” Ingin memberikan pukpuk kepada mimin.
Dan, meskipun lolos passing grade apakah saya bisa mengikuti SKB? Baca lanjutannya disini!
“Belum”
“Daebak. Mau kapan?”
“Besok aja deket tanggal tes”
YHA PADAHAL UDAH KEESOKAN HARINYA TULUNG. Auto panik. Berkas saya masih ngga lengkap. Ngga mungkin minta ke kampus. Ternyata si temen saya ini punya cadangannya. Saya pake punya dia. Berkas itu adalah surat akreditasi fakultas. Masih inget banget. Huhuhu. Makasih ya Inten, sungguh jasamu tidak akan terlupakan kawan!
Drama banget emang. Lokasi ujian yang tadinya tertulis di Kantor BKN berubah menjadi GOR. Alhamdulillah ngga terlalu jauh dari rumah.
Sesampainya disana, udah banyak peserta berpakaian hitam putih. Segera saya cari gerombolan teman saya. Ngga mau sendiri
Agak molor sih ujiannya but it’s okay. Berusaha memaklumi. Dengan jumlah peserta ribuan gitu, pasti nggak mudah untuk mengkoordinir. Disitu kami harus membawa kartu peserta dan KTP untuk bisa masuk. Alat tulis, jam, dan apapun selain kedua itu ditinggal di tas. Sebelum masuk pun masih diperiksa oleh petugas. Literally diperiksa diraba seluruh tubuh gitu, gaes.
Saya sih santai aja karena emang ngga bawa aneh-aneh. Masuk di ruangan GOR: WAAAWWWWW besar syekali. Jarak antar peserta deket banget. Rapet. Hahaha.
Apa aja sih isi SKD ini?
Ujian dilakukan selama 90 menit dengan jumlah soal 100. Di hadapan peserta udah tersedia laptop. Tinggal duduk manis dan mengerjakan saja. Cukup memasukkan NIK dan password sesi. Waktu akan berjalan dengan sendirinya. Setiap peserta waktunya sesuai saat dia mengeklik “mulai”.Ada 3 unsur SKD.
Pertama, Tes Karakteristik Pribadi
Ini berisi tentang nilai-nilai yang dijunjung tinggi ASN. Nggak ada jawaban salah. Hanya skor mulai 1-5. Asli, soalnya tricky. Jika kedua tes sebelumnya bisa dipelajari, yang ini enggak. Beneran harus pilih jawaban yang paling mendekati nilai kayak kejujuran, kerjasama, pelayanan publik, kayak gitu. Bacaan soalnya panjang, jawabannya mirip-mirip. Harus dibaca dengan seksama.
Kedua, Tes Intelegensi Umum
Semacam Tes Potensi Akademik. Ada tentang deret, lawan kata-persamaan kata, yaa yang pernah ikut SBMPTN pasti tau ini ada.
Ketiga, Tes Wawasan Kebangsaan
Terakhir ini tentang Indonesia. Falsafah negara gitu. Belajar pancasila, Undang-Undang Dasar 1945. Pasal-pasal.
Apakah saya belajar?
Iya. Belajarnya dari buku kumpulan soal-soal CPNS gitu. Sengaja dibeliin sama ibu, saya nggak minta. Ternyata ya cukup ampuh sih. Padahal baru ngerjain sekitar 3 paket soal. Itupun sistem SKS dalam 3 hari ngerjain.
![]() |
| Beli di toko buku. Harganya Rp 150.000 |
Tahun ini passing grade TKP, TIU, dan TWK berturut-turut 143, 80 dan 75. Nilai totalnya juga ada passing grade berapa gitu lupa. Setelah selesai mengerjakan, nilainya langsung keluar dan ada layar diluar ruangan menayangkan hasilnya secara langsung. Matik gak tuh. Nilai TIU dan TKD saya sama: 105. Nilai TWK-nya? 144. Total nilai 354.
Nilai TWK itu beneran ngagetin sih. Mepet banget cuy, saya ingat sempet ganti jawaban di akhir-akhir ngerjain. Ngga ngerti deh apakah jawaban itu yang bikin mepet atau gimana.
Pengumuman SKD ke SKB cukup lama. BPOM termasuk instansi yang akhir-akhir ngumuminnya. Pokoknya saat yang lain udah pengumuman, BPOM tuh belum. Ramelah itu di twitter dan instagram. setiap ada postingan baru bisa dipastikan isinya peserta seleksi nanyain, “Kapan pengumuman, mimin?” Ingin memberikan pukpuk kepada mimin.
Dan, meskipun lolos passing grade apakah saya bisa mengikuti SKB? Baca lanjutannya disini!
"Cha, ikutan 10 years challenge deh"
"Hah, apaan?"
"Itu, yang lagi viral di IG"
"Kudu ngapain gitu?"
"Buset, ini anak kagak ada updatenya sama sekali," batin Lina. Seperti biasa, dia mengecek laman instagramnya. Ternyata ada tantangan yang sedang viral. Sebagai anak FOMO alias Fear Of Missing Out, Lina nggak mau ketinggalan.
"Kamu posting foto 10 tahun lalu ama sekarang. Trus dibandingin gitu loh Ca. Let's see how hard puberty hit us," jelas Lina.
"Kasih contoh dulu deh"
*gambar terkirim*
Lina mengirim gambar yang udah dia buat sebelumnya. Satu foto diri saat berusia 10 tahun - tepat 10 tahun yang lalu - memakai baju tidur bermotif polkadot. Disebelahnya ada foto yang baru saja diambil sehari sebelumnya.
"Nggak ada bedanya gitu," respon Caca. "Nih, udah aku posting juga," lanjutnya.
"Nah, gitu dong. Udah gaul kan sekarang?" goda Lina.
*Deg!*
Keduanya terdiam. Foto di hadapan mereka membuat miris. Di satu sisi terlihat foto pantai yang bersih. Keterangan tertulis 10 tahun yang lalu. Airnya berwarna biru, pasir putih bersih. Sedangkan di sisi lainnya, masih di lokasi yang sama. Hanya saja...
Caca menyahut, "Iya. Perubahannya drastis banget. Jadi ngga keliatan bentuk pantainya. Bikin mikir banget deh foto ini. Apa mungkin kita salah satu tersangka yang bikin kayak gini ya, Lin?".
"Hah, apaan?"
"Itu, yang lagi viral di IG"
"Kudu ngapain gitu?"
"Buset, ini anak kagak ada updatenya sama sekali," batin Lina. Seperti biasa, dia mengecek laman instagramnya. Ternyata ada tantangan yang sedang viral. Sebagai anak FOMO alias Fear Of Missing Out, Lina nggak mau ketinggalan.
"Kamu posting foto 10 tahun lalu ama sekarang. Trus dibandingin gitu loh Ca. Let's see how hard puberty hit us," jelas Lina.
"Kasih contoh dulu deh"
*gambar terkirim*
Lina mengirim gambar yang udah dia buat sebelumnya. Satu foto diri saat berusia 10 tahun - tepat 10 tahun yang lalu - memakai baju tidur bermotif polkadot. Disebelahnya ada foto yang baru saja diambil sehari sebelumnya.
"Nggak ada bedanya gitu," respon Caca. "Nih, udah aku posting juga," lanjutnya.
"Nah, gitu dong. Udah gaul kan sekarang?" goda Lina.
***
Keesokan harinya di siang hari. Lina dan Caca duduk manis di kantin kampus. Mereka sedang menunggu pesanan makan siang.Kelas statistik selalu sukses membuat perut keroncongan. Paduan angka dan dosen yang wajahnya menakutkan nggak hanya menguras otak. Tapi juga energi tubuh.
Sembari menunggu, Lina mulai membuka gawainya. Ia mengeklik tagar #10yearchallenge yang kemarin dia ikuti.
*scroll...scroll..*
Jarinya terhenti. Matanya tertuju pada satu gambar yang ada. Berbeda dengan foto bertagar #10yearchallenge lainnya, foto ini agak berbeda. Dan sedikit mengusik batinnya. Segera ia menunjukkannya ke Caca.
"Ca, lihat deh," katanya sambil menyorongkan layar gawai ke hadapan Caca. Caca yang sedang melamun, memfokuskan pandangannya ke layar
*Deg!*
Keduanya terdiam. Foto di hadapan mereka membuat miris. Di satu sisi terlihat foto pantai yang bersih. Keterangan tertulis 10 tahun yang lalu. Airnya berwarna biru, pasir putih bersih. Sedangkan di sisi lainnya, masih di lokasi yang sama. Hanya saja...
"Ya ampun. Banyak banget sampahnya!" seru Caca.
Jarinya menyentuh layar hingga foto terlihat membesar. Plastik, sepatu, sedotan, duh apalagi itu? Butiran pasir putih tertutup oleh banyaknya sampah yang bertebaran.
"Sedih banget ngga sih?" celetuk Lina.
Caca menyahut, "Iya. Perubahannya drastis banget. Jadi ngga keliatan bentuk pantainya. Bikin mikir banget deh foto ini. Apa mungkin kita salah satu tersangka yang bikin kayak gini ya, Lin?".
***
Malam itu, Lina nggak bisa tidur. Masih terpikir olehnya foto yang dia lihat. "Aku nggak bisa diem aja," pikirnya. Masih memandang gawai yang menampilkan gambar tadi siang. Dia melanjutkan dengan membaca komentar yang ada. Kebanyakan mengutuk. Nggak sedikit yang menyesalkan. Tentu saja, foto yang ditampilkan bukan hal yang baik.
Satu komentar menarik perhatiannya.
"Jangan cuma mengutuk. Coba mulai dari diri sendiri. Sudahkah kita membuang sampah pada tempatnya? Memilah mana yang organik dan anorganik? Sudahkah kita mengurangi konsumsi plastik? Sudahkah ada usaha yang kita lakukan biar hal kayak gini nggak berulang?"
"Hmm, benar juga. Selama ini aku udah ngapain ya?"
Lina mencoba mengeklik akun yang menuliskan komentar itu. Ternyata feed-nya bertopik sama. Tentang ajakan untuk melindungi lingkungan dari sampah. Menurutnya, sampah di bumi - terutama plastik - sudah masuk ke batas nggak wajar. Sebenarnya bukan salah plastiknya juga. Plastik dibuat untuk memudahkan hidup manusia. Tapi manusianya kurang bijak dalam menggunakan plastik.
"Sedotan?"
Sampah sedotan plastik sekali pakai menjadi satu dari 10 jenis sampah yang paling sering ditemukan di pantai dan lautan dunia. Menurut data asumsi tim Divers Clean Action, pemakaian sedotan sekali pakai hanya di Indonesia saja diperkirakan mencapai 93.244.847 setiap harinya. Kalau di dunia 1 milyar saja menggunakan sedotan plastik sekali pakai, berapa banyak sampah plastik yang dihasilkan dalam sehari?
Lina teringat saat makan siang kemarin. Dia membeli es teh dan penjualnya menyediakan sedotan plastik. Memang paling enak minum es teh siang-siang, huh. Ingatannya kembali melayang ke salah satu restoran siap saji. Mereka sudah nggak menyediakan sedotan plastik. Dan pada saat itu yang dia lakukan apa? Sebal.
Tanpa tahu alasan restoran tersebut nggak menyediakan sedotan lagi. Ternyata justru tindakan mereka tepat. Nggak hanya menghasilkan profit, mereka juga menunjukkan pedulinya terhadap bumi.
"Hmm..aku beli sedotan stainless aja deh biar bisa dipake berkali-kali. Kan, dimulai dari diri sendiri," gumam Lina. Layar didepannya berganti menjadi tampilan marketplace.
"Sedotan?"
Sampah sedotan plastik sekali pakai menjadi satu dari 10 jenis sampah yang paling sering ditemukan di pantai dan lautan dunia. Menurut data asumsi tim Divers Clean Action, pemakaian sedotan sekali pakai hanya di Indonesia saja diperkirakan mencapai 93.244.847 setiap harinya. Kalau di dunia 1 milyar saja menggunakan sedotan plastik sekali pakai, berapa banyak sampah plastik yang dihasilkan dalam sehari?
Lina teringat saat makan siang kemarin. Dia membeli es teh dan penjualnya menyediakan sedotan plastik. Memang paling enak minum es teh siang-siang, huh. Ingatannya kembali melayang ke salah satu restoran siap saji. Mereka sudah nggak menyediakan sedotan plastik. Dan pada saat itu yang dia lakukan apa? Sebal.
Tanpa tahu alasan restoran tersebut nggak menyediakan sedotan lagi. Ternyata justru tindakan mereka tepat. Nggak hanya menghasilkan profit, mereka juga menunjukkan pedulinya terhadap bumi.
"Hmm..aku beli sedotan stainless aja deh biar bisa dipake berkali-kali. Kan, dimulai dari diri sendiri," gumam Lina. Layar didepannya berganti menjadi tampilan marketplace.
***
"Lin, es teh nggak?"
"Iya, jangan pake sedotan!"
Lina mengeluarkan sedotannya dari dalam tas. Terbuat dari bahan stainless berwarna keemasan.
"Ngapain pake begituan?" komentar Caca.
"Yee ini kan usaha buat ngurangin sampah plastik. Liat tuh sedotan plastik kayak gitu ngga mungkin dipake ulang kan? Nyampah banget. Ngga inget apa sama foto pantai yang kemarin kita liat?"
"Iyee sih. Tapi ngaruh apa?"
"Seenggaknya mulai dari diri sendiri cuy. Apa perlu kita bikin #10yearchallenge nih? Biar keliatan bakal ada bedanya ngga usaha kita nih?"
"Siapa takut?"
"Iya, jangan pake sedotan!"
Lina mengeluarkan sedotannya dari dalam tas. Terbuat dari bahan stainless berwarna keemasan.
"Ngapain pake begituan?" komentar Caca.
"Yee ini kan usaha buat ngurangin sampah plastik. Liat tuh sedotan plastik kayak gitu ngga mungkin dipake ulang kan? Nyampah banget. Ngga inget apa sama foto pantai yang kemarin kita liat?"
"Iyee sih. Tapi ngaruh apa?"
"Seenggaknya mulai dari diri sendiri cuy. Apa perlu kita bikin #10yearchallenge nih? Biar keliatan bakal ada bedanya ngga usaha kita nih?"
"Siapa takut?"
Tulisan ini disertakan dalam #BlogChallengeGandjelRel Parade 4th Gandjel Rel Pekan 2
Subscribe to:
Posts (Atom)




























