book
Masih membahas perbukuan, mari berlanjut ke toko buku di Seoul. Ada buuanyak banget toko buku independen. Pastinya estetik dan instagram-able. Menurutku pribadi salah satu daya tarik Korea khususnya Seoul tuh banyak barang lucu dan estetik. Secara prinsip minimalisme nggak sejalan memang. Ngapain beli barang cuma untuk visual tanpa fungsionalitas yang jelas? Di sisi lain, indera penglihatan beneran dimanjakan.

Oke, balik ke topik. Toko buku. Sejauh ini aku belum banyak eksplor toko buku. Alasannya 1) Kebanyakan jual buku bertuliskan hangeul. Dah tau kan kendalanya dimana? Takut gak kebaca 2) Punya banyak TBR. LOL. Alhasil maksud kedatangan ke toko buku lebih ke menambah pengalaman visual dibanding berbelanja.

Di Korea, ada jaringan toko buku gede semacam Gramedia. Namanya Kyobo. Bisa ditemui di banyak cabang, ada online-nya juga. Kalau mau cari buku yang bisa dibilang lengkap dan terbaru stoknya, ya di Kyobo. Tapi kalau merasa "intimidated" dengan toko buku gede, toko buku independen bisa jadi alternatifnya.

Kyobo Gwanghwamun



Cabang Kyobo terbesar di Korea, dalam artian koleksi bukunya. Kalau secara ukuran luas bangunan dan gedung, masih lebih besar Kyobo cabang Gangnam.

Luasnya 9000 meter persegi. Punya 2.3 juta buku (OMG kebayang nggak sih seberapa banyak?). Banyak bagian yang bisa kita ulik. Buku anak-anak, best-seller, buku berbahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Ada kedai kopi.



Mereka tuh sangat memfasilitasi orang baca buku, nggak cuma beli buku. Disediakan area baca anak, area baca dewasa. Khusus yang dewasa ini selalu penuh dan suasananya nyaman dengan pencahayaan temaram serta balutan warna kayu yang menghadirkan kesan intimate dan hangat. 

Oh ya, sebagai mahasiswa Yonsei dapat diskon 10% yang bisa dimanfaatkan. Lumayaannn...


Jam buka:
Setiap hari 09:30 – 22:00 KST

Akses: 
Gwanghwamun Station (Line 5), Exits 4 atau 5 (langsung nyambung ke bangunannya!)

Itaewon Bookstore



Dari toko buku besar, lanjut ke toko buku kecil. Saking kecilnya kalau dua orang papasan di koridor mau nggak mau bersenggolan. Hehe. Kok kayak gang senggol jadinya?

Katanya toko buku ini tuh berdiri sejak 1973. Awalnya pemilik pertama hobi ngumpulin buku dan majalah dari base militer US. Iya, daerah Itaewon-Yongsan itu kan dulunya base militer US. Bahkan di Yongsan sampai sekarang masih ada bangunan khasnya dengan bata merah. Nah sekarang usaha ini dilanjutkan sama anak perempuannya. Pas liat beliau di meja kasir, penampilannya vintage gitu.



Disini angin surgawi buat yang nggak bisa bahasa Korea. Bukunya bahasa Inggris semua! Kebanyakan bekas, walau ada juga yang masih baru. Ada juga beberapa buku aku temukan berbahasa Jerman dan Prancis. Meski bekas, menurutku harganya bukan di range murah sih. Yaah pinter-pinter berburu aja :D

Jam buka:
Setiap hari 11:00 – 20:00

Akses:
Noksapyeong Station (Line 6), Exit 2

Chaekbognyang



Kalau yang ini definisi hidden gem se-hidden hiddennya. Letaknya bukan di pinggir jalan, melainkan perumahan. Bahkan dari depan nggak keliatan tanda toko bukunya. Kami harus cek reviewnya biar nggak salah ketuk. Untuk buka pintu diminta pelan-pelan karena....pemiliknya adalah kocheng! Haha, nggak deng. Lebih tepatnya ada kocheng yang dipelihara disitu.

Nama Chaekbognyang ini udah menjelaskan sebenarnya. Chaek (buku), Bo (studio), and Nyang (suara kucing dalam bahasa Korea. Mirip "meow" gitu deeh). Bagi penggemar kocheng bakal suka banget. Semua yang dijual serba kocheng. Koran, majalah, buku, kartu pos, pin, daan sebagainya. 




Waktu kami kesini ada sepasang suami istri dan anak, si anaknya sibuk mengelus-elus kocheng kaya ngga mau pulang. LOL. Kochengnya emang lucu dan gemoy sih. 

Jam buka:
Kamis-Minggu 13:00 – 19:00

Akses:
Subway Line 4 to Hansung University Station

Alladin Bookstore 




Toko buku satu ini bisa dibilang versi secondhand dari Kyobo. Meskipun namanya toko buku bekas, jangan salah. Buku yang ditawarkan dalam kondisi bagus bagus banget! Interiornya bersih, terang benderang, nggak kumuh. Malah kayak di perpustakaan.


Harga yang ditawarin juga beneran murah, ada setengah sampai sepertiga dari harga baru. Sampai saat ini ada 21 cabang di Seoul. Dan cabang Jongno yang pernah aku kunjungi ini adalah yang terbesar untuk koleksi berbahasa Inggrisnya. Cabang lain yaitu Sinchon terdekat dari kampusku, tempat dimana aku beli e-reader keduaku :))


Denger-denger sih di Alladin bisa terima buku bekas juga kalau kita mau jual. Kebenarannya entahlah, belum pernah coba sih..

Masih banyak toko buku atau kafe buku yang belum sempat kusambangi. Apakah list ini akan bertambah? Entahlah, lihat nanti :P

Ada yang pengen dikunjungi nggak nih dari list diatas?
Bukan karena rusak, bukan karena hal buruk terjadi. Tapi...memang kejadiannya begitu cepat. Masuk toko bersama teman, lihat harga diskon, temanku ambil barang dan suruh bayar ke kasir. Masa ga dibayar udah sejauh itu? :))


Tinggal di negara maju ini banyak sekali pengalaman ataupun barang yang nggak bisa dengan mudahnya aku dapat di Indonesia. Contohnya, e-reader. Buat yang masih belum familiar dengan e-reader bisa baca di postinganku ini.


Merk e-reader yang cukup familiar di komunitas pembaca yaitu Kindle, Kobo, Onyx, dan 2 pendatang baru karena viral: Xteink dan Bigme. Sampai sekarang baru Bigme yang punya toko online resmi. Artinya apa? E-reader di Indonesia masuk tanpa jalur resmi. Nggak ada garansi. 

Sejak pembelian e-reader pertamaku, terhitung 3 orang di sekitar terpengaruh untuk beli. Seneng? Iya lah. Bukan karena konsumtifnya, justru ketika tahu trik penggunaan e-reader malah bisa menghemat sampai puluhan juta rupiah. Tahu sendiri kan harga buku di Indonesia tuh MAHAL. Ditambah dengan melemahnya nilai tukar rupiah. Duh, semua barang melambung.

Balik lagi ke topik awal. E-reader. Setelah punya satu justru pengen punya seri lainnya. Di postingan tahun 2024 aku bilang pengen cobain beli e-reader berwarna dan stylus. Alhamdulillah terwujud di tahun ini :')


Di Korea, ada beberapa merk selain yang udah kusebutkan. Moaan pantone, Crema, Sam (punya toko buku Kyobo), Innospace, Meebook. Entah berapa merk lagi yang belum aku ketahui. Rencanaku dari awal memang akan beli e-reader disini, minimal 1 untuk pengalaman baca berbeda.

Pertimbangan beli e-reader berwarna

Onyx, Kobo, Crema, Sam dan Moaan punya e-reader berwarna. Sempat mempertimbangkan Onyx karena pilihannya banyak. Tapi masa Onyx lagi, sih? Skip.

Kobo? Dia cuma bisa di ekosistem kobo rakuten. Sebagai yang udah paham banyak pinjem dari Libby akhirnya skip. Walau menemukan info gimana cara menghubungkan overdrive ke kobo. Crema? Entah kenapa di beberapa ulasan yang kubaca nggak terlalu memuaskan. Sam? Korea punya. Takut nggak bisa customize ke bahasa lain.

Berhubung bukan barang primer dan nggak buru-buru, aku menghabiskan banyak waktu buat cek aplikasi jual beli barang bekas. Lihat dan membandingkan. Eh, kok ada nih satu merk yang baru pernah kudengar: Moaan Pantone. Usut punya usut, dia ini pabrikan Xiaomi. Wah, familiar dong sebagai mantan pengguna smartphone, powerbank, smartwatch Xiaomi. Meski murah tapi nggak murahan.

Eits, tunggu dulu. Jangan langsung beli. Lempar dulu di medsos dan bertanya ke komunitas pembaca. Banyak juga yang belum familiar dengan merk ini. Lagi pula budget untuk belinya belum ada. Simpan dulu informasinya.

Menjemput e-reader baru

Minggu ini kami iseng berkunjung ke Aladin Bookstore. Ini adalah salah satu jaringan toko buku bekas yang cukup punya nama di Seoul (atau Korea? Entahlah). Pertama kali aku masuk ke tokonya di cabang Aladin Jongno. Sangat rapi dan tertata untuk ukuran toko buku bekas. Malah nggak ada kesan "bekas" saking rapinya. Apalagi disini buku baru nggak terbungkus plastik seperti di Indonesia, jadi sama aja dengan buku bekas.


Layaknya toko buku, mereka jual perintilan bookish. Seperti bookmark, booksleve, alat-alat pendukung membaca kayak lampu baca, dll. Termasuk e-reader. Kami berkunjung ke cabang terdekat dari kampus, yaitu Aladin Sinchon. Sama seperti cabang Jongno, lokasinya di basemen. Eeits, jangan salah. Walaupun basemen disini nggak suram sama sekali.

Apa yang kami cari? Nggak ada. Awalnya begitu.

Sampai di rak ereader....loh....kok....ada Moaan Pantone 6 seharga 189000 KRW! Murah! Tunggu dulu, memang kalau dirupiahin masih jutaan. Kenapa aku bisa bilang murah? Karena aku sempat cek bekasnya di 160000 KRW. Beda 30ribuan won! Ini dapet baru. 

Harga ini harga diskon memang. Lalu sebagai konsumen ((cerdas)) aku kroscek membandingkan harga. Rata-rata masih diatas 200000 KRW. Bahkan di online store-nya Aladin nggak semurah itu. Teman alias partnerku ini yang tau aku kaum mendang mending langsung nodong ke kasir buat di keep. Ya nggak enak dong kalau nggak aku bayar? Dengan berat hati kuserahkan kartu untuk menyelesaikan pembayaran. 

Momennya tepat banget sih dengan turunnya gaji ke-13. Yaudah anggap aja self reward *AKHH ALESAN. Sejujurnya dirupiahkan pun tetap lebih murah dari Onyx Boox-ku itu. Ini berwarna di range 2jutaan sedangkan Onyx di 3jutaan. Dan ingat itu aku belinya 5 tahun lalu. Artinya nilai 3 juta di masa itu dan masa sekarang udah berbeda.

Panjang bener cerita dibalik pembelian ereader. LOL.

Baiklah, setelah hands on beberapa hari. 

Gimana first impressionnya?

1. Hardware


Secara ukuran mirip dengan Onyx-ku, 6 inch. Nggak kerasa perbedaannya. Paling di bezelnya aja. Kalau Onyx bagian belakangnya rata, Moaan agak melengkung. Permukaannya sama-sama licin. Amannya pakai casing atau griptok biar nggak selip dan terjatuh.

2. Layar
Nah, ini paling beda. Namanya juga berwarna kan. PUAS BANGET akhirnya bisa baca komik atau picture book dengan paripurna. Kedalaman warnanya tergantung dengan pengaturan. Kalau mau semakin jelas, brightness dan kontrasnya semakin tinggi. 

Apakah ghosting? Awalnya iya. Lalu aku ubah pengaturan rate-nya. Nggak ada masalah sama sekali. Smooth~ like butter~ 

Cumaa...karena berwarna jadi pengalaman bacanya tuh masih agak mirip kayak liat layar handphone. Ketika settingan terlalu terang, akan cepat lelah di mata untuk baca di tempat gelap.

3. Menu
Berhubung ini pakai Android, ya sudah selayaknya aku pakai Onyx aja. Udah coba beberapa aplikasi. Kindle, Libby, Google Play Book, Gramedia Digital aman. iPusnas? Bye bye. 


Nggak kompatibel! :)) bagiku sih bukan hal yang mengagetkan ya. Toh aku juga jaraaang banget pakenya. Malah lupa kapan terakhir baca buku di iPusnas.

Sisanya? Baterai oke. Koneksi bisa wifi dan bluetooth. Bisa denger audiobook pakai headset kabel (di Onyx aku coba ngga bisa). Apalagi ya? Sejauh ini belum menemukan minusnya.

Pertanyaan temanku, "E-reader lama dikemanain?"
Yaa...tetep dipake aja??? Aku sempat bertanya-tanya kok bisa ada orang punya lebih dari 1 ereader. Ternyata malah akulah orang itu. Untuk sekadar baca aja punya satu cukup sih. Ini kan ceritanya aku menuruti hawa nafsu duniawi saja.

Demikianlah cerita panjang kali lebar menjemput barang impianku. Gimana, tertarik juga untuk cobain e-reader berwarna?
Salah satu tujuan tinggal di luar negeri yaitu mempelajari tata kelola negara yang mempengaruhi hajat hidup warganya. Apalagi jika kesempatan itu datang di negara maju. Sebagai warga negara berkembang tentu pertanyaan yang muncul di benak, "Apa sih yang membuat negara ini dikategorikan maju?" - selain dari sisi ekonomi. 


Sebagai manusia yang hobinya membaca, keberadaan perpustakaan dan habit membaca menarik untuk ditelisik. Sebelumnya aku udah pernah menuliskan bagaimana serunya Seoul Outdoor Library. 


Di postingan kali ini akan lebih spesifik bicara bagaimana sistem perpustakaan di Korea, khususnya di Seoul tempatku tinggal saat ini.

Struktur Administratif


Mirip dengan di Indonesia, perpustakaan disini berjenjang. Mulai tingkat nasional, provinsi (disebut dengan -do. Contoh: Gyeonggi-do), kota (disebut dengan -si. Contoh: Paju-si. Untuk Seoul karena metropolitan namanya menjadi Seoul Teukbyol-si). 


Dibawahnya masih ada lagi tingkat distrik disebut - gu. Contoh: Gangnam-gu, Seodamun-gu. Menariknya, di tingkat distrik ini pun terdiri dari beberapa perpustakaan kecil. Contohnya Gangdong Library ini.


Keberadaan perpustakaan benar-benar dekat dan nggak asing dengan masyarakat. Jangan heran ditengah kawasan pemukiman atau apartemen, akan ada 1 perpustakaan. Se-banyak dan se-aksesibel itu!

Meski ibaratnya ini perpus ((kecamatan)), nggak main-main lho fasilitasnya. Ada aktivitas rutin baik untuk anak, dewasa maupun lansia. Tersedia book sterilizer, bisa pinjam tab bahkan laptop ditempat. 


Paling gong sih buka sampai malam dan weekend :)) gak ada tuh drama cuma bisa ke perpustakaan di hari dan jam kerja aja. No no.

Malahan kebanyakan perpustakaan tutup di Senin. Kenapa hayo? Karena libur pegawainya di Senin. Ini peraturan cukup umum sih di Korea, beberapa kafe dan restoran menerapkan hal ini. Alasannya karena di weekend udah cukup melayani, jadi Senin-nya digunakan untuk "napas" dan berbenah.

Infrastruktur Cerdas dan Canggih


Selain di bangunan perpustakaannya, sarana pendukung lainnya nggak kalah banyak. Familiar dengan rak baca di KRL? Nah di Seoul udah next level. Tersedia rak canggih dimana warga bisa meminjam ataupun mengembalikan buku. Meski belum semua, di beberapa stasiun subway sudah ada. Di perpustakaan kampus sih udah ada juga ya. Kalau belum kebayang, yang aku tau tuh di Indonesia ada di Perpusnas dan Perpustakaan Jakarta (TIM). 


Sejujurnya aku belum pernah coba fasilitas pinjam meminjam buku baik di perpustakaan maupun bentuk mobile-nya. Kenapa? 


Karena mayoritas koleksi disini ber-aksara hangeul. Menangis dengan sertifikat TOPIK seadanya ini. LOL. Selain itu karena aku udah nyaman dengan Libby sih, bisa dibilang akses buku berbahasa Inggrisku sangat mudah~ Alhamdulillah~


Ngomongin tentang Libby, ya betul. Kartu perpustakaan di Korea juga tersedia di Libby! 


Baru tahu setelah hampir setahun tinggal disini :)) hanya sajaa...daftarnya perlu menggunakan ARC alias kartu identifikasi resmi sini. Harus memasukkan id number (mirip NIK) yang terkoneksi ke nomor telepon. Lumayan lah, disini koleksinya ada berbagai macam bahasa. Lebih ramah foreigner.


Bukan Sekadar Tempat Baca


Kalian termasuk bagian dari manusia yang kzl nggak ketika ada orang dateng ke perpustakaan buat foto-foto aja? Buatku, enggak. Dengan mereka hadir ke perpustakaan aja setidaknya menumbuhkan rasa penasaran akan literasi.

Seoul menurutku sangat paham akan hal tersebut. Terbukti dengan adanya perpustakan tematik. Dimana desainnya biasa kita sebut dengan Instagram-able. Aku yakin pasti nama Starfield Library nggak asing di telinga warga. Ya, salah satu tujuan wajib juga yang sering masuk ke daftar itinerary tour and travel.


Selain itu ada juga Songpa Book Museum dengan sejarahnya tentang buku. Jeongdok Library dengan cherry blossom-nya. Cheongun Literary Library dengan hanok-nya. Apapun dilakukan demi menarik pengunjung ke perpustakaan! Bravo~

No Register Register Club


Iya, untuk duduk dan baca buku disini nggak perlu daftar! Kecuali yang pernah kucoba di National Library of Korea dimana harus bikin kartu tamu dulu. Sisanya beneran nyelonong masuk aja ga masalah. Ga harus nitip tas. Isi buku tamu. Nunjukin KTP. Sangat mudah bagi kaum malu-malu kucing dan males nanya macam aku :))

***

Apalagi ya? Nanti deh kalau inget ditambahin. Alhamdulillah akhirnya kesampaian juga nulis tentang fasilitas publik disini. Postingan selanjutnya bakalan kasih detail perpustakaan mana aja yang udah aku cobain! Ada yang penasaran? *plis jawab ada~
Sebuah acara yang diluar perkiraan? Ikutan bedah buku Indonesia di Korea? Kapan lagi coba?

Foto milik Rumaisa

Ceritanya, kami tuh kepo sama Masjid Al-Falah. Masjid Indonesia yang letaknya daerah Singil. Nah pas kesana, kami dimasukkan di grup chat. Isi pembicaraannya bermacam sih. Salah satunya menyebarkan informasi tentang Booktalk ini.

Diselenggarakan oleh Rumaisa (Rumah Muslimah Indonesia di Korea Selatan). Niat awalnya bisa diduga: Kapan lagi kan ketemu seleb Indonesia di Korea? Hehe. Maap agak kurang lurus emang. Acara berbayar pun tetap dijabanin. Toh dengan biaya yang dikeluarkan sepadan dengan yang didapat: buku, cemilan Indonesia (langka!), dan tentunya komunitas yang masyaAllah tabarakallah.

Acara yang dijadwalkan pukul 10.00 KST agak molor. Apa karena kebiasaan Indonesia? Ada untungnya sih soalnya kami pun datengnya molor perkara nunggu bus *ngeles. Padahal mah bisa berangkat lebih awal kalo udah tau kudu transfer bus.

Siapakah Natasha Rizky?


Beliau adalah aktris yang dulunya aku tau dari perannya di CCC alias Cinta Cenat-Cenut. Masih ada yang inget nggak sih? Itu tuh yang karakter utamanya boyband SM*SH. Doi jadi pemeran utama perempuan dan diperebutkan Morgan dan Rafael. LOL. Se-membekas itu berhubung dulu aku sm*shblast :))

Beberapa tahun ini perubahan beliau cukup signifikan. Berhijab syar'i. Membangun rumah tangga. Dan menjadi penulis. Hingga saat ini, udah ada 3 karya beliau yang diterbitkan.

Apakah aku udah baca? BELUM :) kalo boleh jujur sih nggak begitu tertarik dengan tulisan "seleb" atau "influencer" atau siapapun yang menurutku nggak berlatar belakang penulis. Sombong juga pemikiran ini dipikir-pikir. Padahal mah siapa aja bisa nulis.

Lanjut ke booktalknya..


Diawali dengan tilawah Al-Qur'an dan sambutan ketua Rumaisa. Lalu masuk ke acara inti dipandu oleh Kak Aci. Lucu dah, Kak Acha (panggilan akrab Natasha) dan kak Aci sepanggung.

Lagi-lagi aku sempat kepikiran, beliau kan artis. Bakal jaim nggak yah? Bakal krik krik dan ada gap dengan audiens nggak yah? Ih ternyata enggak loh. Vibes acaranya tuh kayak ngobrol ama mpok-mpok betawi gitu. Asik. Seru. Dan tetep berfaedah. 


Ada 3 topik pembahasan yang bisa aku tangkap. Pertama dan utama diambil dari bukunya berjudul "Ternyata Tanpamu", disini banyak banget membicarakan mengenai kehilangan. Kejadian kehilangan ini terasa "besar" karena nggak ada persiapannya.

Dan, sebenarnya kenapa sih manusia bisa merasakan kehilangan? Nggak lain karena rasa memiliki dan kemelekatan. Beberapa kali aku membaca topik seputar ini, dan ya. Manusia itu udah diperingatkan berkali-kali bahwa bahkan tubuhnya aja bukan milik dia. Tetep aja gedeg dengan rasa kepemilikan.

Kedua, kenapa kak Acha menulis?

Menurut dia, sebenarnya menulis itu salah satu sarana untuk meluapkan keresahan. Tentunya ada cara lain seperti memasak, traveling, setiap orang beda kebutuhannya. Buat kak Acha, menulislah pilihannya. 

Ada orang berpendapat bahwa menulis itu beban. Iya kah? Tipsnya agar nggak jadi beban: buatlah sebagai kebutuhan. Tantangan saat menulis tuh 2: susah memulai dan susah mengakhiri. Hayo, kamu yang mana?

Bicara tentang menulis sebagai karya, mungkin ada diantara kita yang berkarya tetapi nggak diterbitkan. Selama ini stigma yang beredar adalah berkarya itu sama dengan penerbitan. Padahal enggak juga. Aku mengamini ini sih. Menurutku dengan aku rutin menulis di blog ini udah termasuk karyaku.

Selanjutnya, kenapa kak Acha pilih puisi?

Ini nih agak filosofis. Dengan puisi dibanding karya tulisan lain, penulis bisa mengecoh pembaca tentang apa makna puisi. Seperti yang kita tahu, puisi tuh nggak punya tafsiran baku. Setiap orang bebas untuk menafsirkan puisi sesuai dengan pemikirannya. Alhasil, penulis lebih leluasa dalam berkarya.

Namanya juga bedah buku. Pembicaraan banyak mengenai karya yang ditelurkan kak Acha. Acara makin seru ketika MC melempar kuis this or that yang harus dijawab.

Aku nggak inget semua detailnya. Satu yang kuinget: Menulis untuk berkarya atau berdakwah? Dengan mantap kak Acha jawab jujur berkarya. Aktualisasi diri. Untuk mencapai ke berdakwah tuh rasanya berat di tanggung jawab. Apalagi kak Acha mengaku beliau pun masih sama-sama belajar. 

Dan bicara tentang belajar, beliau mengingatkan untuk apa-apa yang udah kita pelajari, jangan lupa untuk diamalkan. Meski berdarah-darah. Jika dihubungkan kembali dengan kehilangan dan permasalahan dibaliknya, sebenarnya yang bikin manusia jatuh tuh bukan di keduanya. Melainkan karena kurang ilmunya.

Tsaahhh...mantep banget nggak tu. Aku sempet amaze juga di bagian kak Acha menyebutkan beberapa penulis. Kenapa begitu? Tandanya dia juga seorang pembaca. Hehe. Jarang kan publik figur di Indonesia yang kasih rekomendasi buku? Beberapa yang beliau sebut ada Joko Pinurbo, Fahruddin Faiz, dan ini paling gong: Ocean Vuong.

Yang terakhir tuh kayak, wah baca Ocean Vuong? Udah tersegmentasi banget pangsa pasarnya itu *YTTA. 

Daan...diakhiri dengan kejutan: semua peserta dapet tanda tangan dan foto bareng! Aaaakk~ syenang sekali. Kami udah kaya dateng ke acara fansign idol. LOL. 


Di kesempatan ini aku minta kak Acha rekomen satu buku. Beliau jawab Ocean Vuong. Kalo ga salah inget yang Time Is a Mother. Masuk dulu ke tumpukan TBR-ku.

***

Senanggg sekali bisa dateng ke event seru kayak gini. Bonus bisa masuk di area sholat utama di Seoul Central Masjid. Biasanya cuma di bagian perempuan aja yang keliatannya kaya mushola itu :')) Alhamdulillah. 

Bisa kubilang pembawaan diri, publik speaking kak Acha nih oke. Bisa bawa penonton "hanyut" untuk mendengarkan dia. Jokesnya dapet. Tektokannya santai, gitu. Beliau sempat membawakan satu puisi berjudul "Ibu" yang sukses membuat sesenggukan mayoritas peserta.


In the end, kamsahamnida Rumaisa dan Kak Acha. Juga roommate-ku yang udah ngajakin :P
Review I Am Not Jessica Chen - Bahasa Indonesia

Judul: I Am Not Jessica Chen
Penulis: Ann Liang
Bahasa: Bahasa Inggris
Jumlah Halaman: 384 halaman
ISBN: 9781335523129

Blurb

After getting rejected by every single Ivy League she applied to and falling short of all her Asian immigrant parents’ expectations, seventeen-year-old Jenna Chen makes a wish to become her smarter, infinitely more successful Harvard-bound cousin, Jessica Chen—only for her wish to come true. Literally.

Now trapped inside Jessica’s body, with access to Jessica’s most private journals and secrets, Jenna soon discovers that being the top student at the elite, highly competitive Havenwood Private Academy isn’t quite what she imagined. Worse, as everyone—including her own parents—start having trouble remembering who Jenna Chen is, or if she ever even existed, Jenna must decide if playing the role of the perfect daughter and student is worth losing her true self forever.

Review

So, buku ini adalah salah satu yang lama kutunggu. Aku sudah baca 4 karya sebelumnya: If You Could See The Sun, I Hope This Doesn't Find You, This Time It's Real, dan A Song to Drawn Rivers. Rating yang kuberikan bervariasi sih, mulai dari 3 sampai 5. Terbaik itu If You Could See The Sun.

Di buku ini tokoh utamanya adalah Jenna Chen. Jessica Chen merupakan sepupunya. Sesama imigran, keturunan China, dengan nasib berbeda. Jessica hidup ((bergelimang harta)). Dari mata Jenna, semua yang dia inginkan udah dimiliki oleh Jessica.

Sampai gongnya ketika menunggu pengumuman kelolosan Harvard, Jessica keterima dan Jenna enggak. Layaknya Asian parent yang suka membanding-bandingkan anaknya, orang tua Jessica pun begitu.

Di mata orang tuanya yang ekonomi lebih rendah daripada keluarga Jessica, pendidikan adalah segalanya. Dengan mendapatkan tempat di Ivy League, bagi orang tuanya maka itu menjadi gerbang menuju masa depan yang terjamin.

Do you think the world is a fair place? If you're too weak, you'll be eliminated.

Saking putus asanya, ketika ada bintang jatuh pun dia berharap dengan sepenuh hati: I wish I was Jessica Chen. And then? Dunia mengabulkannya. Keesokannya dia bangun dalam tubuh Jessica. Hanya saja jiwanya masih Jenna Chen.

Cerita tentang imigran Asia dan keambisiusannya..

Apakah ketika Jenna sudah menjadi Jessica, dia bahagia?
Perhatian warga sekolah diperoleh. Guru-guru selalu menyanjungnya. Sayangnya, hanya wujud fisiknya yang Jessica. Pemikiran dan kemampuannya masih Jenna Chen. Dia pun melakukan "kesalahan" dengan nggak memperoleh nilai sempurna di suatu ujian.

Nilai yang menurut Jenna cukup. Tapi bagi seorang Jessica udah dibawah standar. Akhirnya Jenna mengerti kalau strugglenya manusia sempurna adalah mempertahankannya. Standar buatnya udah tinggi. Sekelilingnya akan selalu beranggapan dia selalu memenuhinya. Ternyata melelahkan, seakan harus lari. Lari. Dan lari mengejar kesempurnaan.

A model student causes no trouble. A model student makes no noise. A model student gives everything they have and asks for nothing. They simply keep their head down and study and get the best scores on behalf of the school, and then they graduate as valedictorian, with their perfect winning streak, and they head to the best universities in the world to train even harder to become a model citizen, so they can continue to be good. They’re so good that nobody bothers to notice when something’s wrong. They’re so good they’re an afterthought. They’re so good they might as well not exist, except to be used as evidence that success is possible, that the system is perfectly sound, that anyone who struggles can only blame themselves.

Berat banget ya jadi imigran Asia di negara Barat tuh. Harus selalu membuktikan diri dan berusaha keras untuk unggul. Sekalinya buat kesalahan, yang dibawa-bawa adalah rasnya.

Di sisi lain Jenna berwujud Jessica ini mencari-cari dimana sebenernya jiwa Jessica. Di kehidupan nyata pun, Jenna seolah-olah hilang. Orang udah nggak mengingatnya, sampai orang tuanya sendiri.

Akhirnya, Jenna sadar.

Let it go back to the way it was. I don’t want to be Jessica Chen anymore; I wish I could be Jenna Chen again. I’m Jenna Chen. I’m Jenna. Please, I miss it. I miss everything. I miss my life, because even when I felt like I had nothing, I had everything. I just didn’t know it at the time. You never do, until it’s in hindsight.

Kata orang Jawa sih: sawang sinawang

Pasti ada titik dimana kita iri sama kehidupan orang lain. Kok keliatannya dia gampang ya dapetin ini itu? Kok dia sering banget keluar negeri? Ini dan itu lainnya. Pencapaian orang lain selalu lebih banyak dari kita.

Terlalu sering lihat keluar sampai lupa mensyukuri apa yang udah dikasih ke kita.

***

Well, berhubung topiknya tentang prestasi sekolah, nilai, dan pertemanan, buku ini lebih relate dibaca sama remaja sih menurutku. Buat dewasa, konfliknya itu kayak, "Alah gitu doang?". But to be fair maybe back than I also did the same. Just different level ambisiusnya aja :"))

Lalu alurnya agak lambat. Terlalu bertele-tele di bagian Jenna berkonflik dengan diri sendiri. Untungnya ada bumbu romance dikit. Jadi hidup Jenna nggak berkutat di akademik mulu. 

Gimana, tertarik buat baca?
Selamat datang Februari. Cepet banget nggak sih udah berubah bulan lagi? 

Sama seperti tahun sebelumnya, hobiku yang masih berjalan adalah membaca. Sebenernya tuh udah ngga ambis mau baca banyak. Mau coba slow reader. Tapi ya gitu, nggak bisa. Bosen dikit baca. Stress dikit baca. Rasanya aneh kalo ga baca.

Berikut adalah buku-buku yang selesai aku baca di bulan Januari 2025.

1. The Healing Season of Pottery - Yeon Somin

The Healing Season of Pottery - Yeon Somin

“Firing pottery is like lighting a fire in your heart. There might be something inside that you’re trying your best to ignore, but it’s only by turning your gaze toward it that you can see it clearly.”

Sesuai namanya, buku ini ada hawa-hawa healing dan menenangkan. Kisah orang-orang yang dipertemukan di kelas gerabah dan punya cerita masing-masing. Beberapa filosofi hidup digambarkan seperti proses pembuatan gerabah. Pelan-pelan. Sabar. Ditempa sama panas. Sampai akhirnya jadi gerabah yang cantik

2. Aquicorn Cove - Kay O'Neill

Cerita anak fantasi yang mengajarkan buat menjaga laut. Aku baru sadar ternyata ini ada unsur lagibete-nya. Duh. Padahal secara cerita dan ilustrasi tuh bagus. Smooth dan warnanya pop-up nggak lebay. Unsur lagibete-nya subtle banget. Huft. 

3. Demon Slayer: Kimetsu Academy, Vol. 3 - Natsuki Hokami

Versi bocil dan nggak seriusnya Demon Slayer. Ini cerita tiap volume bahkan tiap chapter berdiri sendiri. Bisa pilih mau dibaca mana duluan. Kocak. Nggak menegangkan kayak versi aslinya yang punya musuh itu.

4. Goodnight Tokyo - Atsuhiro Yoshida

Goodnight Tokyo - Atsuhiro Yoshida

Kok aku udah lupa ya ini tentang apa? Haha. Berdasarkan ingatanku ini mirip kayak Jakarta Sebelum Pagi-nya Ziggy. Bedanya ini di Tokyo. Waktu settingnya antara malam-dini hari. Seingetku ini juga lumayan filosofis membicarakan kehidupan.

5. Girls That Invest: Your Guide to Financial Independence through Shares and Stocks - Simran Kaur​

Girls That Invest: Your Guide to Financial Independence through Shares and Stocks - Simran Kaur​

Salah satu non fiksi yang kubaca bulan ini. Covernya mencolok banget sih pinkeu gitu. Isinya beneran buat pemula investing. Kebanyakan menjelaskan tentang investing saham. Cara pilih saham. Gimana biar nggak panik dan FOMO. Penjelasannya enak banget, dikaitin sama hal-hal yang bikin perempuan umumnya paham. Kayak, belanja, skincare, istilahnya dipermudah.

Di akhir tiap chapternya ada to do list yang bisa dikerjakan. Kalau mau dapet efek maksimalnya sih ya dikerjain. Oh ya hook openingnya tuh feminis sangat.

"Money media speak to men about growing their wealth and portray it as a masculine trait. Articles directed at men talk about investing strategies or encourage debates about the latest cryptocurrency, while articles directed at women tell us about a new hack to save $10 a week on groceries."

6. The Great Storm Whale - Benji Davies

Buku anak yang menceritakan ketangguhan pelaut? Seru aja dibaca walau buat dewasa. Hehe.

7. The Trunk - Kim Ryeo-ryeong

Ditengah bacaan healing dari Korea, selalu ada yang lain dari yang lain. Di buku ini bercerita tentang karakter Noh Inji. Kerja sebagai field wife. Semacam istri kontrak dari perusahaan yang menyediakan jasa nikah kontrak.

Suatu hari mantan suami kontraknya minta untuk "nikah lagi". Nah disinilah konflik-konflik yang terjadi. Mereka lebih mengenal. Tapi tetep aja ada hal-hal yang "yaudah mending nggak tau aja". Cuma menurutku ada 1 hal yang menggantung sampe akhir nggak ada jawabannya. Padahal seakan-akan dibuat itu masalah besar buat Inji.

Udah rilis versi dramanya di Netflix. Cuma kok males aja nonton berjam-jam. Ternyata secakep Gong Yoo pemeran utamanya pun nggak membuatku goyah. Hahaha.

8. I'm Sorry You Got Mad - Kyle Lukoff

Suka banget banget sama buku ini. Gimana seorang anak berusaha untuk minta maaf tanpa defensif. Minta maaf yaudah akui aja kesalahannya. Disini dikulik sebenernya apa sih yang membuat dia marah? Ternyata dia pengen sesuatu tapi nggak bisa mengutarakannya. Lebih cocok kayaknya dibaca orang dewasa :P

9. Tad - Benji Davies

Sesuai judulnya, buku anak ini menceritakan proses kehidupan katak. Perjuangannya nunggu ekornya ilang (sebagai tanda kalau dewasa). Ilustrasinya baguusss. Yang jijikan sama katak sih jangan baca ya. Haha. Cocok buat bocil yang belajar daur hidup hewan.

10. Water Moon - Samantha Sotto Yambao


11. The Lantern of Lost Memories - Sanaka Hiiragi

The Lantern of Lost Memories - Sanaka Hiiragi

Menarik banget ini settingnya after life atau dunia setelah kematian. Para tokoh mampir dulu ke suatu toko. Ternyata toko ini tempat mencetak foto selama mereka hidup. Kemudian diminta untuk menyusun 1 foto 1 tahun. Nantinya akan dijadikan lampion untuk diterbangkan.

Serunya di setiap tokoh ada 1 foto blur. Mereka bisa balik lagi ke hari itu tapi cuma sebagai observer dan ambil foto ulang biar lebih bagus. Disini masing-masing punya cerita mereka tuh orang yang kayak gimana sih waktu hidup? Mengharukan dan membuatku lebih menghargai proses perjalanan hidup individu.

12. Yeonnam-Dong's Smiley Laundromat - Kim Jiyun


13. Club Microbe - Elise Gravel

Buku anak berbau sains. Bagus buanget aku yang udah gede aja suka. Ceritanya tentang mikroba. Jenis-jenis mikroba. Mikroba tuh baik atau buruk sih? Gimana cara mencegah biar nggak bikin kita sakit?



Ilustrasinya tuh gemes gitu loh padahal yang diomongin itu bakteri, virus??? Akkk luv.

14. Dragons Love Tacos - Adam Rubin

Random banget baca ini. Sesuai judulnya, naga suka sama tacos??? Trus mereka ga bisa makan tacos yang pedes. Absurd bukan, padahal bisa ngeluarin api segede itu ternyata sama pedes aja ga kuat. Cocoknya buat bocil yang suka all about dinosaurus (auto keinget Daehan Minguk Manse).

15. Inky the Octopus - Erin Guendelsberger

Nyeritain gimana octopus didalam aquarium berusaha kabur. Ternyata diambil dari kisah nyata? Lebih ke kasihan kenapa mereka hidup di aquarium? Kenapa ga di alam aslinya? :(

16. I Am Not Jessica Chen - Ann Liang

Mau nulis reviewnya nanti kalau ingat. Haha. Intinya Jenna Chen sepupuan dengan Jessica Chen. Tapi pencapaian Jessica bikin iri Jenna. Sampai ketika ada meteor turun dan make a wish dia berharap menjadi Jessica.

Terkabul? Iya. Gak taunya jadi seorang Jessica nggak semudah yang dibayangkan. Defini urip sawang sinawang :P

***

Lumayan bervariasi ya bacaan di Januari ini. Ada yang pengen kamu baca?
Review Water Moon - Bahasa Indonesia

Judul: Water Moon
Penulis: Samantha Sotto Yambao
Bahasa: Bahasa Inggris
Jumlah Halaman: 372 halaman
ISBN: 9780593725009

Blurb

A woman inherits a pawnshop where you can sell your regrets, and then embarks on a magical journey when a charming young physicist wanders into the shop, in this dreamlike and enchanting fantasy novel.

On a backstreet in Tokyo lies a pawnshop, but not everyone can find it. Most will see a cozy ramen restaurant. And only the chosen ones—those who are lost—will find a place to pawn their life choices and deepest regrets.

Hana Ishikawa wakes on her first morning as the pawnshop’s new owner to find it ransacked, the shop’s most precious acquisition stolen, and her father missing. And then into the shop stumbles a charming stranger, quite unlike its other customers, for he offers help instead of seeking it.

Together, they must journey through a mystical world to find Hana’s father and the stolen choice—by way of rain puddles, rides on paper cranes, the bridge between midnight and morning, and a night market in the clouds.

But as they get closer to the truth, Hana must reveal a secret of her own—and risk making a choice that she will never be able to take back.

Review

Sejujurnya saya jarang baca fantasi. Baru belakangan berusaha untuk melebarkan range bacaan. Buku ini saya kira dari penulis Jepang. Melihat nama tokoh dan settingnya disana. Ternyata bukan, penulisnya sepertinya orang Filipina. Tapi entahlah.

Baiklah lanjut ke cerita bukunya. Ada 2 tokoh utama disini. Hana dan Keishin. Dimulai dari Hana. Anak semata wayang yang hanya tinggal bersama ayahnya. Dia merupakan pewaris toko gadai. Toko ini letaknya di salah satu tempat ramen terkenal di Tokyo. 

Apa yang digadaikan disini? Choice. Pilihan hidup. Pengunjung atau klien bisa menggadaikan pilihan hidup yang nggak mereka sukai untuk ditukar dengan teh premium. Hanya orang tertentu saja yang ditakdirkan untuk masuk ke toko gadai ini. Kenapa? Ya, karena toko ini letaknya di dunia paralel. Kalau kebingungan dengan konsep ini, mirip drama The King. Ada dua dunia berbeda yang sama-sama "hidup" walau nggak bersinggungan.

Suatu hari, Hana kebangun dengan kondisi toko gadai berantakan seperti dirampok. Ayahnya nggak ada ditempat. Di waktu yang sama, Keishin yang berasal dari dunia nyata (versi pembaca) masuk ke toko. Di pandangan pertama ini Keishin langsung menunjukkan ketertarikannya ke Hana. Melihat Hana yang terluka karena membereskan toko, Keishin berinisiatif untuk membantunya.

Perjalanan mencari...

Setelah dipaksa Kei untuk cerita, Hana bilang bahwa ayahnya hilang membawa pilihan yang tergadai. Tapi dia curiga bukan diculik. Melainkan sengaja hilang. Hal ini digambarkan dari terstrukturnya rumah yang berantakan dan ada clue yang ditinggal, yaitu kacamata mendiang ibu Hana.

Akhirnya Hana memutuskan mencari ayahnya. Ditemani Keishin. Sambil dikejar Shikuiin. Semacam makhluk pengepul pilihan yang udah tergadai di toko milik Hana.

Perjalanan inilah yang membawa mereka ke petualangan. Menguak rahasia. Mengharuskan memilih.

Tentang takdir dan pilihan

Hana dan Keishin berasal dari dua dunia berbeda. Di dunia Hana, semua udah ditakdirkan dan tergambar di tato yang tertoreh di badannya. Bagaimana akan menjalani hidup sampai nama jodohnya. Tugas Hana di dunia itu hanya mengikuti takdir yang udah digoreskan.

Di sisi lain, Kei sebagai manusia dari "dunia nyata" sebaliknya. Nggak pernah tahu jalan hidup dan takdir yang digariskan. Mereka saling iri. Hana iri dengan kebabasan Kei memilih. Kei iri dengan kepastian hidup yang diperoleh Hana. Manusia nggak pernah puas, bukan?

Freedom. Knowing your future would have stripped you of every choice, every chance you could have turned left instead of right. You would lose the ability to dream and hope, to wish for an outcome other than what is written.

Bisa dibilang buku ini tuh lumayan berat. Gabungan fantasi, science fiction, romance, dan menurut saya banyak dialog yang filosofis banget. Cocok buat manusia yang suka merenungkan kehidupan ini (saya maksudnya).

Do not be so quick to fall in love with things in this world, Kei. You will find that many things here are not as they seem.

Unanswered questions were like boxes you never opened, their contents vanishing and reappearing, stretching and contracting, being nothing and everything all at once.

Banyak hal-hal nyeleneh yang di kehidupan kita nggak masuk akal. Contohnya, saat kunjungan mereka ke museum. Pembayarannya pakai waktu. Atau saat mereka harus bepergian, tapi alat transportasinya menggunakan lagu didalam pikiran. Sehingga ketika konsentrasinya pecah mengingat lagu itu, alat transportasinya pun ikut terguncang.

Meskipun berat, yang menguntungkan adalah tiap chapternya pendek. Alhasil nggak berasa aja setiap membalikkan lembaran berikutnya sampai habis. 


Cocok banget dibaca waktu punya banyak waktu dan mau berkontemplasi tentang hidup. Kalau cari bacaan ringan sih, mending skip.
Review Yeonnam-Dong's Smiley Laundromat - Bahasa Indonesia

Judul: 연남동 빙굴빙굴 빨래방
Judul Terjemahan: Yeonnam-Dong's Smiley Laundromat
Penulis: Kim Jiyun
Penerjemah: Shanna Tan
Bahasa: Bahasa Inggris
Jumlah Halaman: 304 halaman
ISBN: 9781639368044

Blurb

For readers who loved Welcome to the Hyunam-Dong Book Shop, this heartwarming Korean bestseller tells the story of a  mysterious diary left in a laundromat brings together residents from all walks of life.

Yeonnam-Dong's Smiley Laundromat is a place where the extraordinary stories of ordinary residents unfold. Situated at the heart of rapidly gentrifying district of Seoul, it's a haven of peace and reflection for many locals. 

And when a notebook is left behind there, it becomes a place that brings people together. One by one, customers start jotting down candid diary entries, opening their hearts and inviting acts of kindness from neighbours who were once just faces in the crowd. 

But there is a darker story behind the notebook, and before long the laundromat's regulars are teaming up to solve the mystery and put the world to rights. 

Instantly capturing the hearts of readers around the world, this is a novel about the preciousness of human relationships and the power of solidarity in a world that is increasingly cold, fast-paced, and virtual.


Review

Buku ini belum diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Saya baca dalam versi bahasa Inggris. Seperti blurb-nya, vibes yang diberikan buku ini mirip dengan Welcome to the Hyunam-Dong Book Shop. Ingin bawa perasaan damai dan healing dengan kehangatan yang diberikan.

Btw judul bahasa Koreanya lucu ternyata. 
연남동 = Yeonnam-Dong (nama area)
빙굴빙굴 = Bing geul bing geul ga ada arti harfiahnya. Dialihbahasakan ke Smiley
빨래방 = Laundromat atau tempat laundry, cuci baju koin

Terbagi menjadi 5 bagian, menceritakan 5 tokoh berbeda yang saling berhubungan. Ada Mira, ibu rumah tangga dengan permasalahan keuangan. Yeorum dan Hajoon. Satunya bercita-cita menjadi penulis skrip dan satunya penyanyi yang membangun karir dari busking. Lalu ada Jaeyool yang ditinggal bunuh diri adiknya. Kemudian ada Jang Daegu. Anak dari Old Jang.

Siapa itu Old Jang? Disini dia menjadi sosok paling bijak. Pensiunan apoteker yang tinggal berdua dengan anjingnya dirumah tapak.

Jadi, Yeonnam-dong ini merupakan sebuah area kekinian di Seoul. Diantara kafe yang menjamur, ada tempat laundry 24 jam. Dari luar, terlihat seperti kafe dengan pencahayaan dan dekorasinya. Ditambah ada rak buku pula.

Yang menjadi kuncian cerita disini adalah tergeletaknya buku harian tanpa disengaja. Buku harian ini kemudian digunakan untuk para pengunjungnya berkomunikasi. Ada yang curcol tentang kehidupannya yang berat. Ada pula yang menjawab dan memberikan wejangan.

My heart is full of doubts. What am I even doing? Is this the right path for me? Can I really get where I want to be? I feel so lost.

Menurut saya hal yang pengen diangkat dari buku ini yaitu pentingnya membangun komunitas, berkomunikasi, beramah tamah ke orang lain.

Karakter di buku ini diawal hanya tahu sebatas tulisan di buku harian. Di bagian-bagian akhir, mereka jadi bertemu dan saling tolong menolong ketika membantu Jaeyool menjebak scammer yang menyebabkan adiknya bunuh diri. Sejujurnya bagian ini menurut saya agak "meh". Kenapa tiba-tiba ada genre action?

If you feel like you owe him something, then keep that kindness in your heart and repay it. That’s how life works. We help one another out. Do you want to be the snail that goes everywhere alone with its house on its back?

Bagian pertama dan terakhir paling mengena buat saya. Yang pertama karena "pengorbanan" Mira menjadi seorang ibu. Harus mengencangkan pinggang untuk biaya hidup. Di sisi lain mau membantu nambah penghasilan, biaya day care anak satu-satunya yaitu Nahee mahal. Meski diawal belum ketemu ujungnya, perjalanan ke tempat laundry malam-malam menjadi salah satu bentuk healingnya yang sederhana.

Di bagian akhir menceritakan anak satu-satunya Old Jang yang seorang dokter. Kalau Mira butuh uang untuk biaya hidup, dia untuk gaya hidup anak dan istrinya yang tinggal di US. Gimana akhirnya dia ambil pekerjaan yang melanggar aturan, jadi kurir, sampai kecelakaan dan malah bikin dia terpaksa unpaid leave.

Menurut saya, buku ini ringan dan mudah dipahami. Malah beberapa bagian ketebak buat saya. Kalau dibandingkan dengan Welcome to the Hyunam-Dong Book Shop, saya lebih pilih Hyunam-Dong. Mungkin jenis buku ini lagi ngetren di Korea karena pace hidupnya yang cepat. Penulis seakan pengen ngingetin: semua ada waktunya. Hiduplah sesuai kemampuan. Nggak perlu membandingkan dengan orang lain. Dan, jangan lupa untuk selalu berbuat baik ke sesama.

Rekomendasi buku sejenis
The Healing Season of Pottery - Yeon Somin
The Marigold Mind Laundry - Yun Jung Eun
Tempat perbukuan di Depok nambah lagi. Yeay! Kali ini sebuah kafe 3 in 1. Kok bisa? Yap, selain kafe disini tersedia buku yang bisa dibaca dan dijual. Bener kan 3 in 1? Kafe, perpustakaan sekaligus toko buku.


Alamat: Jalan Boulevard Grand Depok City, Kalimulya, Depok
Lokasinya berada di kompleks perumahan Grand Depok City. Letaknya agak ditengah. Pas seberang SMP Budi Cendikia Islamic School. Tempatnya semacam komplek ruko dan pusat hiburan. Jadi ada 2 gedung, gedung depan dan belakang. Di gedung depan ini terdapat rumah makan Sederhana. Nah disebelahnya ada tangga berwarna hijau untuk naik. Belok kiri, sampai deh didepan kafenya.

Setauku nggak ada angkutan umum untuk kesini. Stasiun terdekat bisa Depok Lama. Lanjut pakai ojek online sekitar 10-15 menit perjalanan kalau lancar.


Sedangkan di gedung belakang ada beberapa food court, kolam renang serta playground. Bisa banget kan sembari nunggu anak renang, orang tuanya ngadem di kafe. Hihi.

Bagian dalamnya cukup luas. Dekat pintu masuk langsung disambut kasir. Bagian tengah meja kursi dan lemari buku. Paling ujung ada workspace dengan stop kontak yang cukup. Di bagian kiri ada area bacaan anak.



Paduan putih, unsur kayu dan pencahayaan kuning gini bikin ruangannya kelihatan lega dan nggak sumpek. Sedikit mengingatkanku dengan interior Perpustakaan Jakarta.

Baca: Perpustakaan Jakarta

Koleksi bukunya bisa dibilang terbatas, ya. Tapi bukan buku yang mainstream! Masa ada koleksi DK Publishing yang terkenal tebel dan full color itu. Mantap sih. Kemudian ada pula display buku klasik berwarna emas gini. Sungkan buat megang.

Nggak tahu ini buku dijual atau bukan

Yang ini untuk dibaca ya



Buku-buku ini jelas dijual

Menunya sendiri lebih pas buat ngafe cantik. Minuman kopi dan non kopi seperti teh ataupun latte (latter itu kopi bukan sih?). Harganya menurutku lumayan tinggi yah. Misal menu yang kubeli ini matcha latte Rp 40.000. Belum termasuk pajak dan harga service.


Untung rasanya enak jadi ga perlu komplain. Haha. Saranku datang kesini di pagi atau sore ke malam aja sekalian. Kalau siang tuh rasanya panas, kayaknya sih penyebabnya dari bahan atapnya. Entah sotoy atau enggak. WiFi yaah lumayan stabil. Nah kalau beruntung dan cuaca cerah bisa lihat pemandangan Gunung Salak di kejauhan. Asli, cantik.

Waktu berkunjung disini banyak orang tua yang bawa anaknya. Hepi sih area bacanya proper dan disediakan mainan pula. Malahan pas aku kesini ada yang lagi syuting video read aloud. Gemesh!

Kelengkapan lain kayak toilet dan mushola ada. Bersih pula. Musik ada diputar dengan jenis ballad dan volume relatif rendah. Luv. Nyaman buat baca buku. Tertarik berkunjung kesini?
Memasuki putaran ketiga arisan, ditodong judul buku favorit. Gampang? Enggak. Bukan karena jarang baca buku. Justru sebagai self proclaimed bookworm ini tuh bingung mau pilih yang mana. Buatku, setiap buku ada kesannya masing-masing *ciyeh.

Buku Favorit Sejauh Ini

Tapi kan udah diminta favorit ya. Coba deh aku pilih beberapa diantara yang pernah kubaca. Dari kriterianya dulu ya. Buatku, favorit itu:
1) Tak lekang oleh waktu. Aciye kek lagu Kerispatih aja nih.
2) Banyak manfaat yang didapat. Hiburan pun masuk manfaat ya. Hehe.
3) Mudah diakses. Maksudnya bukan buku langka dan sulit buat didapet. Ini bukunya masih beredar luas dan bisa didapatkan di e-commerce maupun toko buku.

Daan bukunya adalah:

1) Revive Your Heart - Nouman Ali Khan

Revive Your Heart

Yang belum kenal Ustad Nouman Ali Khan, beliau ini aktif berdakwah lewat platform Bayyinah TV. Ceramahnya termasuk yang suka aku dengerin. Karena cara pembawaannya tuh luwes. Nggak menyiratkan jarak antara orang awam dan ulama. Trus ayat dan penafsiran Al-Qur'an yang dibawakan sangat mudah dipahami. Isu yang diangkat pun kekinian dan lekat dengan kehidupan sehari-hari.

Di bukunya ini terbagi jadi 5 bab. 
- Connecting to Allah Through Du'a
- Creating a Cohesive Muslim Community
- Our Financial Dealings
- Some Contemporary Issue
- Focusing on The Akhirah

Kayaknya aku pernah bahas ini dikit deh di postingan buku yang udah kubaca. Gapapa lah ya. Isi buku ini ringan dan mengena. Mulai dari jaga hubungan dengan Allah, dengan sesama Muslim, isu saat ini dan bagaimana sebagai Muslim harus fokus ke Akhirat. Bahasanya tuh halus tapi pas gitu loh dengan kondisi saat ini.

Misalnya gimana kita nggak gampang suuzon ke sesama manusia apalagi Muslim yang notabene masih saudara kita. Kemudian ada pengingat untuk selalu tau darimana harta kita berasal. Perhatikan, karena didalamnya ada barokah. Dll. 

Saat ini belum ada versi terjemahan ke Bahasa Indonesia sih, tapi bisa laah untuk dipahami dengan bantuan google translate. Hehe. Oya saking sukanya aku ngadain giveaway berhadiah buku ini looh~

2) Serial Anak Mamak (Anak Nusantara) - Tere Liye

Kali ini fiksi. Jujurly memang Tere Liye ini salah satu penulis yang bukunya auto buy sih. Haha. Seseru itu loh. Yang ini bercerita tentang anak Mamak: Eli, Pukat, Burlian dan Amelia. Mereka dikisahkan tinggal di pelosok Sumatra sana. Jauh dari kota, hidup dengan kearifan alam dari hutan.

Banyaaak banget pelajaran yang dipetik disini. Contohnya waktu aku baca ulang serinya Burlian (sekarang berjudul Si Anak Spesial). Ada beberapa yang aku tandain.

"Pak Bin bilang sekolah bukan hanya tempat belajar menulis dan membaca. Sekolah juga tempat belajar banyak hal. Dengan sekolah akan banyak kesempatan yang datang."

"Jangan pernah membenci Mamak kau, Burlian... jangan pernah. Karena jika kau tahu sedikit, saja apa yang telah ia lakukan demi Kau, Amelia, Kak Pukat dan Kak Eli, maka yang kau tahu itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta, serta rasa sayangnya kepada kalian."

Yang 2 sebelumnya tentang pendidikan dan kasih sayang, yang ini ada diselipin tentang kepemimpinan. Dan beneran rilet dengan kondisiku saat ini didunia kerja.

"Boleh jadi pula kau punya pendapat lain. Itu sah-sah saja. Tapi yakinlah, membicarakan orang lain, menggunjingkan orang lain, itu sungguh tidak elok padahal kau memilih untuk tidak terlibat dalam prosesnya. Dan yang. lebih jahat lagi, ketika seorang pemimpin telah terpilih, kau justru lebih asyik memperoloknya dibandingkan membantunya bekerja."

Wajib baca deh serial anak Mamak ini. Harusnya ada di perpustakaan seluruh sekolah :') sebagus itu :")
Sejauh ini buku favorit (yang bisa aku rekomendasikan juga) sih ini ya. Ngga tau seiring berjalannya waktu apakah akan ada buku favorit lainnya. Yang jelas, so many book to read so little time we have so many distractions come. LOL.