Saturday, June 13, 2026

Cobain E-reader Berwarna: Xiaomi Moaan Pantone 6

Bukan karena rusak, bukan karena hal buruk terjadi. Tapi...memang kejadiannya begitu cepat. Masuk toko bersama teman, lihat harga diskon, temanku ambil barang dan suruh bayar ke kasir. Masa ga dibayar udah sejauh itu? :))


Tinggal di negara maju ini banyak sekali pengalaman ataupun barang yang nggak bisa dengan mudahnya aku dapat di Indonesia. Contohnya, e-reader. Buat yang masih belum familiar dengan e-reader bisa baca di postinganku ini.


Merk e-reader yang cukup familiar di komunitas pembaca yaitu Kindle, Kobo, Onyx, dan 2 pendatang baru karena viral: Xteink dan Bigme. Sampai sekarang baru Bigme yang punya toko online resmi. Artinya apa? E-reader di Indonesia masuk tanpa jalur resmi. Nggak ada garansi. 

Sejak pembelian e-reader pertamaku, terhitung 3 orang di sekitar terpengaruh untuk beli. Seneng? Iya lah. Bukan karena konsumtifnya, justru ketika tahu trik penggunaan e-reader malah bisa menghemat sampai puluhan juta rupiah. Tahu sendiri kan harga buku di Indonesia tuh MAHAL. Ditambah dengan melemahnya nilai tukar rupiah. Duh, semua barang melambung.

Balik lagi ke topik awal. E-reader. Setelah punya satu justru pengen punya seri lainnya. Di postingan tahun 2024 aku bilang pengen cobain beli e-reader berwarna dan stylus. Alhamdulillah terwujud di tahun ini :')


Di Korea, ada beberapa merk selain yang udah kusebutkan. Moaan pantone, Crema, Sam (punya toko buku Kyobo), Innospace, Meebook. Entah berapa merk lagi yang belum aku ketahui. Rencanaku dari awal memang akan beli e-reader disini, minimal 1 untuk pengalaman baca berbeda.

Pertimbangan beli e-reader berwarna

Onyx, Kobo, Crema, Sam dan Moaan punya e-reader berwarna. Sempat mempertimbangkan Onyx karena pilihannya banyak. Tapi masa Onyx lagi, sih? Skip.

Kobo? Dia cuma bisa di ekosistem kobo rakuten. Sebagai yang udah paham banyak pinjem dari Libby akhirnya skip. Walau menemukan info gimana cara menghubungkan overdrive ke kobo. Crema? Entah kenapa di beberapa ulasan yang kubaca nggak terlalu memuaskan. Sam? Korea punya. Takut nggak bisa customize ke bahasa lain.

Berhubung bukan barang primer dan nggak buru-buru, aku menghabiskan banyak waktu buat cek aplikasi jual beli barang bekas. Lihat dan membandingkan. Eh, kok ada nih satu merk yang baru pernah kudengar: Moaan Pantone. Usut punya usut, dia ini pabrikan Xiaomi. Wah, familiar dong sebagai mantan pengguna smartphone, powerbank, smartwatch Xiaomi. Meski murah tapi nggak murahan.

Eits, tunggu dulu. Jangan langsung beli. Lempar dulu di medsos dan bertanya ke komunitas pembaca. Banyak juga yang belum familiar dengan merk ini. Lagi pula budget untuk belinya belum ada. Simpan dulu informasinya.

Menjemput e-reader baru

Minggu ini kami iseng berkunjung ke Aladin Bookstore. Ini adalah salah satu jaringan toko buku bekas yang cukup punya nama di Seoul (atau Korea? Entahlah). Pertama kali aku masuk ke tokonya di cabang Aladin Jongno. Sangat rapi dan tertata untuk ukuran toko buku bekas. Malah nggak ada kesan "bekas" saking rapinya. Apalagi disini buku baru nggak terbungkus plastik seperti di Indonesia, jadi sama aja dengan buku bekas.


Layaknya toko buku, mereka jual perintilan bookish. Seperti bookmark, booksleve, alat-alat pendukung membaca kayak lampu baca, dll. Termasuk e-reader. Kami berkunjung ke cabang terdekat dari kampus, yaitu Aladin Sinchon. Sama seperti cabang Jongno, lokasinya di basemen. Eeits, jangan salah. Walaupun basemen disini nggak suram sama sekali.

Apa yang kami cari? Nggak ada. Awalnya begitu.

Sampai di rak ereader....loh....kok....ada Moaan Pantone 6 seharga 189000 KRW! Murah! Tunggu dulu, memang kalau dirupiahin masih jutaan. Kenapa aku bisa bilang murah? Karena aku sempat cek bekasnya di 160000 KRW. Beda 30ribuan won! Ini dapet baru. 

Harga ini harga diskon memang. Lalu sebagai konsumen ((cerdas)) aku kroscek membandingkan harga. Rata-rata masih diatas 200000 KRW. Bahkan di online store-nya Aladin nggak semurah itu. Teman alias partnerku ini yang tau aku kaum mendang mending langsung nodong ke kasir buat di keep. Ya nggak enak dong kalau nggak aku bayar? Dengan berat hati kuserahkan kartu untuk menyelesaikan pembayaran. 

Momennya tepat banget sih dengan turunnya gaji ke-13. Yaudah anggap aja self reward *AKHH ALESAN. Sejujurnya dirupiahkan pun tetap lebih murah dari Onyx Boox-ku itu. Ini berwarna di range 2jutaan sedangkan Onyx di 3jutaan. Dan ingat itu aku belinya 5 tahun lalu. Artinya nilai 3 juta di masa itu dan masa sekarang udah berbeda.

Panjang bener cerita dibalik pembelian ereader. LOL.

Baiklah, setelah hands on beberapa hari. 

Gimana first impressionnya?

1. Hardware


Secara ukuran mirip dengan Onyx-ku, 6 inch. Nggak kerasa perbedaannya. Paling di bezelnya aja. Kalau Onyx bagian belakangnya rata, Moaan agak melengkung. Permukaannya sama-sama licin. Amannya pakai casing atau griptok biar nggak selip dan terjatuh.

2. Layar
Nah, ini paling beda. Namanya juga berwarna kan. PUAS BANGET akhirnya bisa baca komik atau picture book dengan paripurna. Kedalaman warnanya tergantung dengan pengaturan. Kalau mau semakin jelas, brightness dan kontrasnya semakin tinggi. 

Apakah ghosting? Awalnya iya. Lalu aku ubah pengaturan rate-nya. Nggak ada masalah sama sekali. Smooth~ like butter~ 

Cumaa...karena berwarna jadi pengalaman bacanya tuh masih agak mirip kayak liat layar handphone. Ketika settingan terlalu terang, akan cepat lelah di mata untuk baca di tempat gelap.

3. Menu
Berhubung ini pakai Android, ya sudah selayaknya aku pakai Onyx aja. Udah coba beberapa aplikasi. Kindle, Libby, Google Play Book, Gramedia Digital aman. iPusnas? Bye bye. 


Nggak kompatibel! :)) bagiku sih bukan hal yang mengagetkan ya. Toh aku juga jaraaang banget pakenya. Malah lupa kapan terakhir baca buku di iPusnas.

Sisanya? Baterai oke. Koneksi bisa wifi dan bluetooth. Bisa denger audiobook pakai headset kabel (di Onyx aku coba ngga bisa). Apalagi ya? Sejauh ini belum menemukan minusnya.

Pertanyaan temanku, "E-reader lama dikemanain?"
Yaa...tetep dipake aja??? Aku sempat bertanya-tanya kok bisa ada orang punya lebih dari 1 ereader. Ternyata malah akulah orang itu. Untuk sekadar baca aja punya satu cukup sih. Ini kan ceritanya aku menuruti hawa nafsu duniawi saja.

Demikianlah cerita panjang kali lebar menjemput barang impianku. Gimana, tertarik juga untuk cobain e-reader berwarna?

Post a Comment

Halo! Terimakasih sudah membaca. Setiap komentar masuk akan dimoderasi. Untuk komentar dengan anonim tidak akan saya balas, ya. Yuk biasakan menjadi diri sendiri di dunia maya!