National Library of Korea
Perpustakaan nasionalnya Korea. Bisa dibilang setara Perpusnas. Isi dari perpustakaannya repositori arsip nasional Korea. Maka dari itu, beda dari perpustakaan lain yang bisa asal masuk aja, disini pengunjung harus mendaftarkan diri.
Apakah perlu reservasi online? Nggak. Pas dateng, samperin aja meja resepsionis di sebelah kiri. Kalau udah punya ARC bisa daftar keanggotaan. Kalau ga punya? Bisa minta kartu akses sebagai tamu. Pengunjung dibatasi usia 16 tahun keatas.
![]() |
| Laptop Zone |
Ada 5 lantai yang bisa dieksplor. Tempat duduknya terbilang banyak dibanding perpustakaan distrik *yaiyalah. Toiletnya nyaman berbidet ((penting)). Ada foodcourt. Lalu yang unik ada bilik telepon!
Bentuknya mirip dengan yang di London itu. Yaah walaupun belum pernah kesana. Hihi.
Perpustakaannya lumayan riding the wave, aku menemukan satu rak yang isinya rekomendasi buku yang dibaca member BTS.
Kalaupun belum minat baca buku, bisa menikmati museumnya tanpa harus registrasi. Tentang sejarah percetakan di Korea, mulai dari mesin tik, komputer jadul, tipe kertas, dll. Ada juga bagian immersive collection yang memadukan literasi dengan teknologi. Bisa laah buat museum date tipis-tipis~
Waktu operasional
Setiap hari 09.00 - 18.00
Libur setiap Senin minggu ke-2 dan ke-4 tiap bulan, Seollal dan Chuseok
Cheongun Literature Library (청운문학도서관)
Lanjut ke perpustakaan tematik. Katanya viral di tiktok. Lokasinya nggak jauh dari Gyeongbukgung Palace. Jadi kalau cuma punya waktu sebentar di Seoul masih bisa banget berkunjung kesini. Menurutku bakal estetik ketika ada tumpukan salju. Coba nanti musim dingin dateng lagi.
Yang menantang disini tuh medannya. Agak naik turun shay. Maklum sebelahnya memang ada trail Inwangsan untuk hiking alias 등산. Tapi perjalanan menuju perpustakaannya sungguh estetik. Penuh dengan rimbunnya daun, berasa bukan di kota.
Bangunannya ada 2 lantai. Yang pertama lantai 1 disinilah favorit pengunjung.
Kayak bukan ke perpustakaan, lebih ke rumah tradisional Korea alias hanok. Nyaman banget lho duduk disini. Udah ada wifi dan ((colokan)) pula. Kenapa desain dia tradisional? Karena fokusnya ke puisi, esai, literatur klasik. Ceritanya biar bisa dapet inspirasi dari alam gitu~ Ceilah.
Kalau mau pinjem buku baru deh turun ke basemen yang isinya koleksi lebih banyak. Termasuk kalau butuh fasilitas seperti toilet atau minum, bisa turun. Langganan berbagai macam koran dan majalah, mantap dah!
Waktu operasional
Selasa - Jumat 09.00 - 21.00
Sabtu - Minggu 09.00 - 19.00
Libur setiap Senin
Seoul Metropolitan Library
Perpustakaan selanjutnya yang gampang aksesnya karena satu area sama City Hall alias Balai Kota Seoul. Bangunannya ikonik dengan struktur yang dipertahankan dari tahun 1926. Kenyamanannya ya tentuu saja nyaman. Terutama toiletnya sih aku baru tau ini ada bidetnya. LOL. Penting kalau misal lagi ada di sekitaran sini dan butuh toilet berbidet, numpang aja.
Sejujurnya belum pernah stay lama disini. Cuma baca 1 picture book bocil aja habis itu udah. Kata temenku sih ada bagian koleksi negara lain, hasil dari donasi.
Kalau mau sekalian ambil foto bisa banget melipir ke sebelahnya: Seoul Gallery (서울갤러리) tepatnya di lantai B1 dan B2.
Waktu operasional
Selasa - Jumat 09.00 - 21.00
Sabtu - Minggu 09.00 - 18.00
Libur setiap Senin
Bangbae Forest Environment Library
Ada kemiripan dengan Cheongun Library dimana sebelahnya persis tuh ada trail tipis-tipis. Ada gazebonya pula. Bisa melipir sejenak keluar kalau bosan didalam ruangan.
Kenapa namanya environment library? Karena bangunannya tuh dominan bahan dan warna kayu. Bagian tengahnya tuh open jadi pengunjung bisa ngerasain angin sepoi-sepoi. Nggak berhadapan juga dengan tembok. Enakeun deh~
Salah satu perpustakaan yang jam bukanya lama. Sampe jam 10 malem mantep ga tuh.
Waktu operasional
Senin - Kamis 09.00 - 22.00
Sabtu - Minggu 09.00 - 18.00
Libur setiap Jumat
Starfield Library
Ada beberapa perdebatan apakah ini bisa dibilang perpustakaan? Atau tempat foto-foto? Aku pun dateng kesini cuma mampir foto habis itu...yaudah :)) saking ramenya. Rasanya tuh mau baca disitu nggak bisa konsentrasi saking isinya orang banyak. Harap maklum karena secara tujuan dibangunnya memang untuk culture plaza dibanding perpustakaan konvensional dengan ke-hening-annya.
Buku yang dipajang betulan buku ya, bukan mock up. Boleh dibaca ditempat asal dikembalikan. Menurutku pribadi masih bisa banget dikategorikan perpustakaan. Karena 1) tersedia kursi dan meja untuk baca, 2) ada aktivitas literasi berjalan. Seperti waktu aku berkunjung tepat ada bedah buku salah satu chef jebolan Culinary War.
Enaknya disini nyatu dengan mal dan subway! Jadi nggak repot carinya. Oh ya, di area COEX ada juga musholanya. Paket komplit kan~
Buka setiap hari 10.30 - 22.00
National Assembly Library
Perpustakaan yang dikunjungi karena dapet fasilitas field trip dari kampus. Letaknya di gedung National Assembly di Yeouido. Ini tuh fungsinya semacam DPR di Indonesia.
Menurutku ini salah satu perpustakaan yang koleksinya keren sih. Ada beragam langganan jurnal. Koleksi buku dibagi tiap geografi wilayah. Misalnya Asia Tenggara, Timur Tengah, dll. Bahkan aku menemukan koleksi Indonesia dan Palestina disini. Keren euy.
Lalu untuk fasilitasnya juga setingkat lah sama National Library of Korea. Ada bilik khusus dengerin musik, nonton video, akses digital. Ruangannya modern dan terang-benderang. Terlihat mewah.
Untuk bisa masuk harus registrasi dulu di website National Assembly. Dan ada minimal umur, yaitu 16 tahun keatas.
Waktu operasional
Senin - Jumat 09.00 - 21.00
Sabtu - Minggu 09.00 - 17.00
Libur setiap Sabtu minggu kedua dan keempat
Songpa Book Museum
Yang ini bukan perpustakaan sih, tapi lebih ke museum. Cumaaa...disediakan juga buku dan area bacanya. Buka di tahun 2019, museum ini tuh museum pertama Korea yang didedikasikan untuk semua berbau buku. Isi pamerannya tentang sejarah literasi di Korea, mulai dari zaman dahulu kala sampai zaman modern. Kemudian ada rak buku untuk tren tiap masa.
Terdiri dari 3 lantai, dimana:
1. Basemen
Memajang artefak arsip peninggalan dari masa ke masa. Menarik sih bagaimana perubahan literasi di Korea terjadi. Terutama di awal menggunakan aksara hanja-chinese, lalu berubah menjadi hangeul sejak masa Raja Sejong. Banyak loh kata dari bahasa Korea sebenarnya serapan dari bahasa China.
2. Lantai 1
Disini are baca yang kubilang, menghubungkan antara basemen dengan lantai 2. Temboknya dipenuhi dengan rak buku, lalu tengah ada undakan untuk area baca. Waktu aku kesini banyak orang tua dan anak menghabiskan waktu bersama untuk menikmati buku.
3. Lantai 2
Menurutku disini paling seru. Vibes museum modernnya berasa! Tema-nya pameran terkait buku anak-anak. Nggak heran desainnya warna warni mencolok. Seperti halnya museum di Korea, ada bagian interaktif yang bisa dicobain. Disini berupa sudut untuk foto dengan latar belakang yang kita bisa pilih. Hehe, cute abiez!
Waktu operasional
Selasa - Minggu 10.00 - 18.00
Libur setiap Senin, Seollal dan Chuseok
***
Secara umum, aturan perpustakaan di Seoul tuh nggak boleh berisik. Detailnya pasti ada di setiap perpustakaan, cuma biasanya dalam bahasa Korea. Sediakan waktu sejenak untuk translate-nya. Jangan sampai salah kayak aku, pernah duduk di area bocil :)) untung nyadar sendiri tanpa harus diingetin.
Boleh bawa minum, kopi gitu pun boleh di area tertentu. Makanan yang nggak boleh. Ada perpustakaan yang harus naruh barang di loker, ada yang enggak. Biasanya yang enggak ini perpustakaan distrik. Fasilitas umumnya wifi gratis, toilet, dan dispenser minum. Kadang disediakan teh!
Semua perpustakaan yang aku tulis disini gratis tis tis untuk didatengin. Pinjem buku atau menggunakan fasilitasnya pun gratis asal ada kartu keanggotaan. Bisa request buku untuk kalau yang dicari nggak ada.
Jadi kayak gini nih negara maju. Perpustakaannya bukan lagi di tiap kota/kabupaten, tapi di tiap distrik. Malah di distrik dibagi lagi, ada perpustakaan khusus anak-anak, perpustakaan orang tua, dan perpustakaan umum. Sangat aksesibel dan mengakomodir segala usia. Jam buka pun ramah untuk semua kalangan.
Pemerintahnya sadar bahwa literasi itu penting untuk kemajuan sebuah negara. Sebagai negara demokrasi sih sepertinya sudah layak, dimana 70% anak muda (25-34 tahun) lulusan kuliah atau 56% (25-64) usia produktifnya lulusan kuliah. Artinya gap pendidikannya, tingkat intelektualitasnya bisa dipertanggungjawabkan. Bobot suara 1 orang dan yang lain nggak jauh.
Beda dengan Indonesia yang sarjananya masih 13-19%. Nggak imbang dong suara orang berpendidikan tinggi disamakan bobotnya dengan yang nggak berpendidikan? Ah sudahlah nggak mau bahas lebih jauh :))
Perpustakaan disini tuh juga nggak masalah banget lho dateng duduk tidur. Apa yaa, jadi semacam safe space buat warga. Pas musim panas, jadi tempat berlindung dari terik matahari. Di musim dingin, bisa untuk tempat menghangatkan tubuh. Tua, muda, laki-laki, perempuan, lokal, foreigner, nggak dibedakan!
***
Diantara perpustakaan ini, mana yang paling bikin penasaran dan pengen dikunjungi?

































Post a Comment
Halo! Terimakasih sudah membaca. Setiap komentar masuk akan dimoderasi. Untuk komentar dengan anonim tidak akan saya balas, ya. Yuk biasakan menjadi diri sendiri di dunia maya!