Sunday, May 03, 2026

Finally, Seoul Outdoor Library

Berbulan-bulan di Korea kok ternyata belum menemukan postingan tentang buku kecuali booktalk dengan Natasha Rizky.


Bukan nggak kemana-mana, udah ada beberapa tempat. Belum diposting aja. Serta bingung melanda bagaimana format tulisan yang cocok. Bertepatan dengan menghangatnya cuaca, kegiatan perbukuan bermunculan. Salah satu yang aku impikan dari lama yaitu: Seoul Outdoor Library!


Tahun kemarin seharusnya masih ada sebelum musim dingin. Kami udah ke daerah Cheonggyecheon stream. Sayangnya sepertinya kami berada di titik yang kurang tepat. Alhasil nggak nemu. Saat musim dingin memang gelaran ini ditutup karena...dingin banget bok! Yang ada malah masuk angin kan nggak lucu.

Apa sih Seoul Outdoor Library itu?


Ide perpustakaan luar ruangan ini muncul setelah pandemi, sekitar tahun 2022. Penyelenggaranya pemerintah Kota Seoul yang bertujuan untuk menciptakan ruang publik nyaman dengan menggabungkan alam dan budaya. Bertepatan pula dengan dihapuskannya social distancing dan sebagainya. Duuh...ternyata udah lewat ya masa kelam itu :') Alhamdulillah.


Awal inisiasi bernama "Read at Seoul Plaza". Sesuai dengan lokasinya, yaitu Seoul Plaza. Kemudian setelah pilot project-nya dianggap sukses serta banyak peminat, tahun berikutnya titik perpustakaan pun bertambah. Ada di Gwanghwamun, pinggiran sungai Cheonggyecheon, sampai Hangang Park. Bahkan di tahun 2026 ini merambah daerah Dongdaemun Design Plaza (DDP).

Semua lokasi yang disebutkan ini berdekatan, sekaligus ikonik dan strategis. Mudah dijangkau transportasi publik baik bus maupun subway. Di Gwanghwamun letak Gyeongbukgung Palace yang terkenal itu. Sungai Cheonggyecheon salah satu bentuk tata letak kota yang berhasil, karena perombakan jalanan menjadi sungai. Salah satu fungsinya bisa menurunkan suhu lingkungan sekitar. Hangang Park? Duh, ikon kota Seoul. Siapa sih yang nggak tau?

Di tahun 2024 program ini mendapat penghargaan "Green Library Award" dari the International Federation of Library Associations and Institutions (IFLA). Kegiatan ini mengubah stigma baca itu harus didalam perpustakaan, menjadi baca dimana aja.

Di grand openingnya nggak cuma disediakan buku, penyanyi dan live band turut memeriahkan kegiatan ini. Siapa aja boleh datang dan ikut serta. Tanpa registrasi, tanpa pungutan biaya. Cukup datang setiap akhir pekan (Jumat-Minggu) atau cek jadwal di instagram Seoul Outoodor Library. Kayak Minggu 03 Mei ini tutup karena hujan seharian.

Jadi, gimana pengalamannya ikut Seoul Outdoor Library?



Jujur....happy. Bahagia. Senang. Buat orang lain terdengar sederhana mungkin. Buatku? Mimpi jadi kenyataan. Aku datang di titik Seoul Plaza pada Sabtu 02 Mei 2026. Kegiatan dilaksanakan dari pukul 11.00 KST sampai 18.00 KST. 


Selama bulan Mei ini, salah satu toko buku bahasa Inggris di Korea yaitu DB Books bekerja sama dengan Penguin Random House membuka stand. Apa sih isinya? Aktivitas anak seperti mewarnai, buku anak berbahasa Inggris, dan gongnya sih ini ya. Ada Lending Library alias bisa pinjem buku bahasa Inggris terbitan Penguin Random House gratis! Inget ya, gratis! Nggak ada tuh registrasi apalah apalah.

Sebagai manusia yang masih terbata baca hangeulnya, ini membantu banget. Selama ini wisata perbukuanku sering dibuat patah hati karena tentunya buku yang tersedia lebih banyak berbahasa Korea. Nggak menyalahkan situasi sih. Akunya aja yang kurang belajar :'))


First impression: sesuai dengan apa yang diposting di sosial media!

Ramainya, fasilitasnya. Tersedia bean bag yang nyamaan banget untuk ditempati. Disediakan pula semacam kursi camping di area berbeda. Aku kurang tau setiap akhir pekan formatnya sama atau enggak. Saat aku datang, ada stand British Council, panggung live band, trampoline untuk bermain anak. Tersedia stand UMKM lokal. Intinya: MERIAH!


Kurasa semua orang tumpah ruah disini. Tau sendiri kan, di Korea tuh settingan umumnya harus tenang dan diam. Disini anak-anak bebas berlarian, berisik, dan sebagainya tanpa takut mengganggu orang. Surga~

Setiap bangkunya ada 1 meja dan 1 kotak kontainer berisi buku yang bisa dipilih. Banyak staf dan security berlalu lalang untuk menjaga keamanan, mengambil sampah, atau mengecek ketersediaan buku. Mereka sedia plastik loh untuk menutup kontainer, jaga-jaga dari hujan :)) 

Pengunjungnya multikultular banget. Nggak cuma warga lokal. Bahkan kulihat turis dengan backpack gede pun tertarik ikut baca atau sekadar goleran aja disini. Loh, emang boleh goleran? Asli, bebas mau ngapain aja! Orang nggak akan ikut campur.

Baca buku apa?


E-reader yang udah kubawa dari rumah akhirnya menganggur. Aku pinjam buku dari stand Penguin Random House berjudul Soyangri Book Kitchen. Belum selesai baca, sih. Baru sampai halaman 111 selama sekitar 2 atau 3 jam membaca. 


Buku ini tipe healing fiction dimana berkisah tentang sebuah homestay di desa yang konsepnya literasi. Lalu ada beberapa tokoh seperti idol terkenal, orang depresi, dsb yang berusaha untuk menenangkan diri disini. Nggak ada konflik yang berat atau intens. 


Novel sejenis ini banyaaak banget di Korea. Kayaknya emang pada butuh pukpuk alias kenyamanan dari buku. Sebut aja Yeonnam-Dong's Smiley Laundrymat, The Healing Season of Pottery - Yeon Somin, The Marigold Mind Laundry - Yun Jung Eun. Semua isinya cozy, warm, light reading. Cocok banget buat tipe pembaca pencari ketenangan kayak aku.

Kesimpulannya: aku suka banget sama acara kayak gini. Cuma modal naik bus aja udah dapet baca buku gratis. Harga buku: 20.000 KRW. Transport PP: 3.000 KRW. Win-win solution banget kan? Plus ngga perlu menimbun buku fisik yang nantinya kudu dipikirin lagi gimana bawa pulangnya hahaha.

Menyenangkan sekali hidup di kota yang mendukung penuh literasi :) kamu pengen cobain nggak?

Bonus: bunga-bunga cantik bermekaran~

Post a Comment

Halo! Terimakasih sudah membaca. Setiap komentar masuk akan dimoderasi. Untuk komentar dengan anonim tidak akan saya balas, ya. Yuk biasakan menjadi diri sendiri di dunia maya!