keluarga
My parents? Here we go.
Udah gitu aja? No.
Suatu ketika bupati Demak membuka beasiswa untuk guru. Ini wujud realisasi janji kampanyenya. Tanpa basa-basi Umi daftar dong. Prinsip hidup Umi tuh coba aja mengetuk banyak pintu. Selagi ada kesempatan, seperti kata seller zaman jigeum: GRAB IT FAST! Kagak overthinking mikirin bakal keterima gak, saingannya berapa dll.
Daan keterimalah Umi kuliah lagi. Kesibukannya menjadi nggak terbendung. Senin-Ahad selalu penuh. Dapet energi darimana???
Saya melihat sosok Umi sebagai manusia yang energinya ngga ada habisnya. Salah satu contoh manusia yang paham how to live to the fullest. Meskipun harus diakui rumah saya mendekati kapal pecah bentuknya.
Baru aja bulan ini Umi berhasil wisuda dan mendapat gelar Magister Pendidikan di usianya yang 51 tahun. Makin berat lah tuh beban saya sebagai anak lol. Kan kata dosen saya anak itu pendidikannya minimal diatas orang tuanya. Alhasil saya kudu S3 dong? *brb menyiapkan otak*
Dengan track record sesibuk itu saya bukannya langsung menerima dan memahami Umi. Ada masanya saya pengen udahlah Umi tuh dirumah aja. Masak yang enak. Bosen beli. Tapi pada akhirnya saya paham memang ada kondisi yang nggak memungkinkan untuk itu. Kompromi menjadi satu-satunya jalan.
Berusaha memberi support baik moral maupun material. Saya bisa ambil apa yang bagus dari Umi dan membuang hal buruknya. I think my mom will surely be my role model. Karena toh kami sama-sama memilih berkarier, saya berkeinginan untuk se-produktif beliau.
Yes, I am proud of her. I love her for everything she did. I love her hard-working attittude. Asal jangan lupa liburan ya, Mi. ((ps: I never say this to her because our love language isn’t word of affirmation. It is more an act))
Alhamdulillah sampai hari ini orang tua masih diberi umur. Orang tua saya berasal dari daerah berbeda, tapi searah. Sefrekuensi. Geng ngapak di pantura. Menikah saat masih kuliah di kampus (sekarang) Unnes. Saya (dan kakak adik) memanggilnya dengan Abi dan Umi.
Pertemuan keduanya jauh dari kata romantis. Menurut penuturan Umi, Abi yang mengajukan untuk menikahi Umi. Umi ngakunya ngga tau juga kenal darimana. Abi lulusan matematika, sedangkan Umi bahasa Inggris. Ketemunya dimana? Nggak tahu. Gabung satu komunitas juga enggak. Hmm, jangan-jangan ada yang disembunyikan Umi dari saya? *lho malah menuduh*
Watak Abi cenderung keras kepala. Ngga mau kalah. Susah dengerin orang. Kasih kesempatan orang ngomong aja JARANG lol. Ngga percayaan kalo dikasih tau kecuali kejadian sama dirinya sendiri. Tipikal kolot dan konservatif. Sayangnya kok belakangan merasa ini menurun ke saya :)) tapi ya saya berusaha biar nggak sekolot dan konservatif beliau. Ngeri ah nanti ga punya temen.
Paragraf selanjutnya akan saya ((dedikasikan)) buat Umi saja. Karena saya merasa kontribusi beliau sangat terasa baik lahir maupun batin.
Umi lahir dari keluarga PNS. Di tempatnya turun temurun anak biasanya disekolahkan di pesantren. Keluarga kakek nenek saya tuh NU garis keras. Nah pada masanya Umi memilih jalan berbeda: kuliah. Atas restu nenek saya, akhirnya dipilih jurusan Pendidikan Bahasa Inggris agar bisa jadi guru.
Waktu menikah boleh dibilang hidup Umi lebih banyak berjuang dibanding leha-leha. Ya merawat 6bijik anak dengan jarak terdekat 2 tahun, mengajar, bebersih rumah. Semua dikerjain sendiri.
Entah berapa lama hidup Umi diisi dengan cycle seperti itu sampai akhirnya di umur 40 tahun Umi menemukan keasyikan baru: nulis. Bisa jadi karena di usia ini anak-anaknya udah lumayan gede. Minimal bisa ngurus diri sendiri. So she picked up new activity. Berawal dari komunitas guru yang menggerakkan literasi, akhirnya lahir “anak”-nya.
Baca: Mom's Very First Book
Sebagai anak yha saya bangga dong. Di usia hampir setengah abad masih melakukan banyak hal. Semangat tetap berkobar. Sekarang udah ngga tau berapa buku yang terbit, baik solo maupun antologi. Sedangkan saya belom punya sama sekali.
Watak Abi cenderung keras kepala. Ngga mau kalah. Susah dengerin orang. Kasih kesempatan orang ngomong aja JARANG lol. Ngga percayaan kalo dikasih tau kecuali kejadian sama dirinya sendiri. Tipikal kolot dan konservatif. Sayangnya kok belakangan merasa ini menurun ke saya :)) tapi ya saya berusaha biar nggak sekolot dan konservatif beliau. Ngeri ah nanti ga punya temen.
Paragraf selanjutnya akan saya ((dedikasikan)) buat Umi saja. Karena saya merasa kontribusi beliau sangat terasa baik lahir maupun batin.
***
Umi lahir dari keluarga PNS. Di tempatnya turun temurun anak biasanya disekolahkan di pesantren. Keluarga kakek nenek saya tuh NU garis keras. Nah pada masanya Umi memilih jalan berbeda: kuliah. Atas restu nenek saya, akhirnya dipilih jurusan Pendidikan Bahasa Inggris agar bisa jadi guru.
Waktu menikah boleh dibilang hidup Umi lebih banyak berjuang dibanding leha-leha. Ya merawat 6
Entah berapa lama hidup Umi diisi dengan cycle seperti itu sampai akhirnya di umur 40 tahun Umi menemukan keasyikan baru: nulis. Bisa jadi karena di usia ini anak-anaknya udah lumayan gede. Minimal bisa ngurus diri sendiri. So she picked up new activity. Berawal dari komunitas guru yang menggerakkan literasi, akhirnya lahir “anak”-nya.
Baca: Mom's Very First Book
Sebagai anak yha saya bangga dong. Di usia hampir setengah abad masih melakukan banyak hal. Semangat tetap berkobar. Sekarang udah ngga tau berapa buku yang terbit, baik solo maupun antologi. Sedangkan saya belom punya sama sekali.
Udah gitu aja? No.
Suatu ketika bupati Demak membuka beasiswa untuk guru. Ini wujud realisasi janji kampanyenya. Tanpa basa-basi Umi daftar dong. Prinsip hidup Umi tuh coba aja mengetuk banyak pintu. Selagi ada kesempatan, seperti kata seller zaman jigeum: GRAB IT FAST! Kagak overthinking mikirin bakal keterima gak, saingannya berapa dll.
Daan keterimalah Umi kuliah lagi. Kesibukannya menjadi nggak terbendung. Senin-Ahad selalu penuh. Dapet energi darimana???
Saya melihat sosok Umi sebagai manusia yang energinya ngga ada habisnya. Salah satu contoh manusia yang paham how to live to the fullest. Meskipun harus diakui rumah saya mendekati kapal pecah bentuknya.
Baru aja bulan ini Umi berhasil wisuda dan mendapat gelar Magister Pendidikan di usianya yang 51 tahun. Makin berat lah tuh beban saya sebagai anak lol. Kan kata dosen saya anak itu pendidikannya minimal diatas orang tuanya. Alhasil saya kudu S3 dong? *brb menyiapkan otak*
***
Dengan track record sesibuk itu saya bukannya langsung menerima dan memahami Umi. Ada masanya saya pengen udahlah Umi tuh dirumah aja. Masak yang enak. Bosen beli. Tapi pada akhirnya saya paham memang ada kondisi yang nggak memungkinkan untuk itu. Kompromi menjadi satu-satunya jalan.
Berusaha memberi support baik moral maupun material. Saya bisa ambil apa yang bagus dari Umi dan membuang hal buruknya. I think my mom will surely be my role model. Karena toh kami sama-sama memilih berkarier, saya berkeinginan untuk se-produktif beliau.
Yes, I am proud of her. I love her for everything she did. I love her hard-working attittude. Asal jangan lupa liburan ya, Mi. ((ps: I never say this to her because our love language isn’t word of affirmation. It is more an act))
Memory/kenangan/ingatan menjadi salah satu nikmat yang jarang kita sadari. Yah, memang banyak sih sebenarnya things that we take it for granted. Pernah nggak, membayangkan apa jadinya bila ingatan kita tidak berfungsi? Pasti frustasi. Sederhananya aja deh, kesel kan saat kita lupa naruh barang? Atau lupa password sosmed? Gimana kalau seluruh ingatan tersebut dicabut? Yakin deh saya sendiri pasti sedih. Dan linglung.
Kenangan juga yang membuat kita bertahan hidup. Kenangan akan masa kecil penuh kasih sayang. Kenangan menghabiskan liburan bersama teman. Kenangan akan momen tertentu yang nggak bisa terulang kembali, dan masih banyak lagi.
Memang, nggak semua kenangan yang kita miliki itu menyenangkan. Hidup selalu seimbang bukan? Dengan menghadirkan kenangan indah dan buruk.
Untuk beberapa orang, kenangan buruk justru membuat dia jalan di tempat. Skenario terburuk bahkan bisa membuat kemunduran alias terpuruk. Hidupnya saat ini selalu dihantui kenangan buruk. Ingin lari pun rasanya nggak mampu.
Begitupun saya. I also have both good and bad memories stored in my brain. Sometimes when I had hard times, the bad ones pop up. Am I terrified? Yes. I did think why do I have such memories?
Tapi mau gimana lagi ya kan. Saya pikir yang bisa saya lakukan adalah menerima. They are part of me, too. I cannot correct anything.
Saat saya bisa menerima, kadang saya memikirkan dan menguraikan kenapa suatu kejadian bisa menjadi kenangan buruk? By doing that I hope I can have control my own emotions toward bad memories.
Ngomong-ngomong soal kenangan, what’s your best memory? For me it was the time I spent with my mom. As you know, my mom is a working mom. Waktu yang beliau punya terbagi untuk banyak hal. Kerjaan, masak, ngurusin adek saya yang jumlahnya 3 biji itu.
So when my mom do something for me, I remember it vividly. Bentar, siapa yang naruh bawang disini? Hahaha.
Saya ingat ketika kami liburan bersama di akhir tahun.
Saya ingat ketika dengan bangga umi memeluk dan mencium saya karena pengumuman diterima CPNS.
Memang, nggak semua kenangan yang kita miliki itu menyenangkan. Hidup selalu seimbang bukan? Dengan menghadirkan kenangan indah dan buruk.
Untuk beberapa orang, kenangan buruk justru membuat dia jalan di tempat. Skenario terburuk bahkan bisa membuat kemunduran alias terpuruk. Hidupnya saat ini selalu dihantui kenangan buruk. Ingin lari pun rasanya nggak mampu.
Begitupun saya. I also have both good and bad memories stored in my brain. Sometimes when I had hard times, the bad ones pop up. Am I terrified? Yes. I did think why do I have such memories?
Tapi mau gimana lagi ya kan. Saya pikir yang bisa saya lakukan adalah menerima. They are part of me, too. I cannot correct anything.
Saat saya bisa menerima, kadang saya memikirkan dan menguraikan kenapa suatu kejadian bisa menjadi kenangan buruk? By doing that I hope I can have control my own emotions toward bad memories.
***
Ngomong-ngomong soal kenangan, what’s your best memory? For me it was the time I spent with my mom. As you know, my mom is a working mom. Waktu yang beliau punya terbagi untuk banyak hal. Kerjaan, masak, ngurusin adek saya yang jumlahnya 3 biji itu.
So when my mom do something for me, I remember it vividly. Bentar, siapa yang naruh bawang disini? Hahaha.
Saya ingat ketika kami liburan bersama di akhir tahun.
Saya ingat ketika dengan bangga umi memeluk dan mencium saya karena pengumuman diterima CPNS.
Baca: Pengalaman Mengikuti Tes CPNS
Saya masih ingat ketika umi mengambil cuti saat saya bilang sakit. Saat itu juga beliau naik bus untuk ke kos. Malam-malam. Bahkan sampai kos pun tengah malam. I was 23 years old and my mom still loves me a lot.
The one and only person remained in my memories is sure my mom. She did anything for me. For us. I know she’s not perfect. There’s memories of she scolded me. When we decided not to talk each other. But then, I knew my mom is precious.
Duh ini ngomongin kenangan apa ngomongin emak gueee? Hahaha. Berhubung temanya a memory, that’s it. My favorite memories are all linked into my mom.
Saya masih ingat ketika umi mengambil cuti saat saya bilang sakit. Saat itu juga beliau naik bus untuk ke kos. Malam-malam. Bahkan sampai kos pun tengah malam. I was 23 years old and my mom still loves me a lot.
The one and only person remained in my memories is sure my mom. She did anything for me. For us. I know she’s not perfect. There’s memories of she scolded me. When we decided not to talk each other. But then, I knew my mom is precious.
Duh ini ngomongin kenangan apa ngomongin emak gueee? Hahaha. Berhubung temanya a memory, that’s it. My favorite memories are all linked into my mom.
Would you tell me yours?
"Emang kamu mau naik BRT? " (Bus Rapid Trans)
"Mau, gapapa"
"Yaudah kamu naik bus sana aku mobil aja"
Kemudian adik saya melengos. Yup, itu percakapan antara saya dan adik. Libur lebaran kemarin kami berniat turun gunung. Ke mall gitu maksudnya.
Berhubung saya belum bisa nyetir sendiri, alternatifnya ya dua. Naik bus atau pesan mobil online (sengaja ga sebut merk. Nyahaha)
Saya langsung pilih mobil lah. Sedangkan si adek nanya kenapa ngga naik bus. Alasan utama saya? Kenyamanan. Oh that's how human changed. That human is me. Saya sempet jadi pengguna bus banget. Malahan hepi saat naik bus. Sekarang entah dimana rasa hepi itu. Yang kepikiran justru akan panas, nunggunya lama, belum tentu dapet tempat duduk pun.
Baca: You, I and Bus
Panas, saat nunggu di shelter. Apalagi Semarang bagian bawah ya. Udah ngga usah dipertanyakan suhunya. Nunggu lama. True story. BRT di Semarang itu jamnya masih ga jelas menurut saya. Koridor lain udah dateng berkali-kali, koridor jurusan saya lamaaaaa banget datengnya. Semacam ngga balance. And I kind of hate that. Udah gitu belum tentu dapet tempat duduk! Malah koridor tujuan saya ini hampir selalu rame. Sampe umpel-umpelan gitu huhu ngga nyaman sama sekali.
Pada akhirnya ya pilihan jatuh ke mobil. Tinggal duduk dan bayar. Konsekuensinya jelas biaya yang dikeluarkan lebih mahal. Tapi itu udah konsekuensi kan. Sebanding dengan kenyamanan yang didapat.
And I got to this point. Lately I've awalys chose comfort over costs. Cerita diatas salah satunya. Lalu perihal belanja. Selama ada di online dan ngga perlu ukuran baku, saya pilih online.
Baca: 5 Review Singkat Situs Belanja Favorit
Ada soal makanan. Berhubung sekarang udag jadi anak kos kan. Tiap minggu ada aja delivery makanan. Bahkan dua hari ini berturut-turut. Keluar kosan rasanya udah mager. Ya harus siap-siap ganti baju. Kepanasan (lagi) dan antrinya. Diitung-itung tetep aja sebanding dengan charge ongkos kirim. Lagi-lagi yang dicari apa? Ya kenyamanan. Wajar ngga, sih?
Apa gara-gara sekarang udah merasa mampu mendapatkan kenyamanan itu ya, jadi lebih sering pilih yang nyaman? I think about this over and over again. Kebiasaan overthinker. Pas saya bahas perihal ini ke temen kantor, ya ternyata ngga cuma saya. Dia juga merasakan hal yang sama. Kalo bisa yang nyaman, ngapain susah susah?
But but.. That's not always the case. Especially in a relationship. Rasa nyaman aja ngga cukup untuk membawa ke jenjang yang lebih serius. Means jadi pasangan hidup. Ngerti kan ya maksudnya. Uhuk.
Baca: Menikah Saat Kuliah, Yay or Nay?
Iya sih nyaman, tapi bisa nggak memenuhi kebutuhan hidup berdua?
Iya sih nyaman, tapi mau ngga kerja keras untuk mempertahankan rumah tangga?
Ahzek.
Ternyata ujung-ujungnya ke pasangan juga. Maklumin. This topic has been going around me nowadays. Terutama masa Lebaran ini. Makanya bikin kepikiran.
Eh, kalo kamu kapan sih (dan dalam situasi apa) lebih pilih kenyamanan dibanding uang? Let me know!
"Mau, gapapa"
"Yaudah kamu naik bus sana aku mobil aja"
Kemudian adik saya melengos. Yup, itu percakapan antara saya dan adik. Libur lebaran kemarin kami berniat turun gunung. Ke mall gitu maksudnya.
Berhubung saya belum bisa nyetir sendiri, alternatifnya ya dua. Naik bus atau pesan mobil online (sengaja ga sebut merk. Nyahaha)
Saya langsung pilih mobil lah. Sedangkan si adek nanya kenapa ngga naik bus. Alasan utama saya? Kenyamanan. Oh that's how human changed. That human is me. Saya sempet jadi pengguna bus banget. Malahan hepi saat naik bus. Sekarang entah dimana rasa hepi itu. Yang kepikiran justru akan panas, nunggunya lama, belum tentu dapet tempat duduk pun.
Baca: You, I and Bus
Panas, saat nunggu di shelter. Apalagi Semarang bagian bawah ya. Udah ngga usah dipertanyakan suhunya. Nunggu lama. True story. BRT di Semarang itu jamnya masih ga jelas menurut saya. Koridor lain udah dateng berkali-kali, koridor jurusan saya lamaaaaa banget datengnya. Semacam ngga balance. And I kind of hate that. Udah gitu belum tentu dapet tempat duduk! Malah koridor tujuan saya ini hampir selalu rame. Sampe umpel-umpelan gitu huhu ngga nyaman sama sekali.
Pada akhirnya ya pilihan jatuh ke mobil. Tinggal duduk dan bayar. Konsekuensinya jelas biaya yang dikeluarkan lebih mahal. Tapi itu udah konsekuensi kan. Sebanding dengan kenyamanan yang didapat.
And I got to this point. Lately I've awalys chose comfort over costs. Cerita diatas salah satunya. Lalu perihal belanja. Selama ada di online dan ngga perlu ukuran baku, saya pilih online.
Baca: 5 Review Singkat Situs Belanja Favorit
Ada soal makanan. Berhubung sekarang udag jadi anak kos kan. Tiap minggu ada aja delivery makanan. Bahkan dua hari ini berturut-turut. Keluar kosan rasanya udah mager. Ya harus siap-siap ganti baju. Kepanasan (lagi) dan antrinya. Diitung-itung tetep aja sebanding dengan charge ongkos kirim. Lagi-lagi yang dicari apa? Ya kenyamanan. Wajar ngga, sih?
Apa gara-gara sekarang udah merasa mampu mendapatkan kenyamanan itu ya, jadi lebih sering pilih yang nyaman? I think about this over and over again. Kebiasaan overthinker. Pas saya bahas perihal ini ke temen kantor, ya ternyata ngga cuma saya. Dia juga merasakan hal yang sama. Kalo bisa yang nyaman, ngapain susah susah?
But but.. That's not always the case. Especially in a relationship. Rasa nyaman aja ngga cukup untuk membawa ke jenjang yang lebih serius. Means jadi pasangan hidup. Ngerti kan ya maksudnya. Uhuk.
Baca: Menikah Saat Kuliah, Yay or Nay?
Iya sih nyaman, tapi bisa nggak memenuhi kebutuhan hidup berdua?
Iya sih nyaman, tapi mau ngga kerja keras untuk mempertahankan rumah tangga?
Ahzek.
Ternyata ujung-ujungnya ke pasangan juga. Maklumin. This topic has been going around me nowadays. Terutama masa Lebaran ini. Makanya bikin kepikiran.
Eh, kalo kamu kapan sih (dan dalam situasi apa) lebih pilih kenyamanan dibanding uang? Let me know!
Adalah udah ngga se-excited dulu. Well, udah beberapa tahun belakangan ini sih. Dulu waktu kecil rasanya ngga sabar nunggu Lebaran. Bisa ketemu simbah (kakek-nenek) dan sepupu. Semenjak kepergian simbah akhirnya cuma ada bude dan om di daftar list wajib kunjungan. Bukannya ngga suka ya. Feel-nya tuh beda.
Simbah suka ngajakin masak. Nonton TV ditemenin ampe kelar. Menjelang sore udah woro-woro buat mandi. Ditanyain mau makan apa. Jajan apa. Mau beli baju baru apa engga. Kalo udah bosen banget, duduk bareng di ruang tamu. Buka album lama, cerita-cerita. Kadang ada cerita yang baru denger. Nyeritain aib ibu, om, pakde, siapa aja yang mukanya ada di album. Duuh...kangen.
Pada akhirnya sekarang Lebaran ya udah, seremonial aja. Semakin nambah umur pun justru semakin sedih ditinggal Ramadhan. Bulan penuh berkah. Berakhir dengan penyesalan kok ngerasa kurang maksimal beribadahnya. Kemudian cycle itu pun berulang. Pfft.
Anyway, meskipun begitu tetep ada sisi senengnya. Bisa kumpul keluarga. Ngerasa cantik lol padahal ngga make up juga. Bersih aja gitu cyiiin intinya.
Baca: 5 Make Up Favorit di Tahun 2018
Bedanya apalagi? Banyaaak! Let's break it down.
Lebaran taun ini somehow ngerasa lucu. Kok bisa? Iya lucu banget. Gegaranya di fase umur segini, perjalanan hidup dengan teman seangkatan ngga lagi sama. Jaman sekolah kan sama yah semuanya. Eh di umur segini tuh macem-macem kondisinya.
Ada yang ngga sengaja ketemu waktu tarawih. Masih berusaha menyelesaikan studi. Lainnya kebanyakan liat di instagram hahaha. Ada yang update mudik pertama bareng suami. Oke siyap jomblo cannot relate. Ada yang update ngga bisa puasa karena baru aja melahirkan. Setiap hari posting perkembangan anaknya di instagram story. Boleeeh lah boleeeh...
Ada juga yang expecting anak kedua. Waw ku ternganga dong. Bukan perasaan "keduluan". Lebih ke kagum waw kok bisa yah udah berani mengemban tanggung jawab seberat itu. Tips nya apa? Sedangkan saya kerja aja udah berasa jungkir balik. Hahaha.
Perbedaan-perbedaan itu bikin senyum-senyum sendiri. "Oh ternyata jalan hidup orang itu beda ya". Tinggal kitanya gimana nanggepin. Iri? Dengki? Selaw aja? Yang terakhir mah saya. Iri dengki hempassss shay.
Kedua, ini pertama kalinya nyebut "mudik" ke Semarang. Biasanya kan mudik itu dari Semarang ke mana gitu. Eh ini ngikutin arus mudik orang-orang dong. Ngerasain tiket bus dinaikin hampir 2x lipat. Ngeliat di jalan yaAllaaah orang-orang ya. Ngegandeng anak banyak, bawaan bejibun, wajahnya tetep hepi buat pulang kampung.
Baca: Semarang yang Selalu Dirindukan
Sempet ngedumel idih kenapa tiketnya dinaikin sih kan nggak terduga. Maklum shay pemudik amatiran. Trus menyesal udah ngedumel. Lah itu yang mudik naik pesawat tiketnya melambung tinggi apa kabar? Kemudian bersyukur mudiknya masih amat sangat terjangkau. Dari segi jarak, waktu, dan biaya. Semua ngga memberatkan. Malah ada yang ngga mudik kan itu hayo gimana rasanya coba? Ya saya sih udah pernah lol
Baca: Main di Banjarmasin
Last, udah terima THR. Heu terharu banget ini sih hahaha. Ngga ngarep eh Alhamdulillah dapet. Langsung lah saya amanin ke tabungan dan dana darurat dulu sebelum dibelanjakan.
Sisanya buat apa? Alhamdulillah banget pernah baca tulisan tentang pembagian THR. Ngga sia-sia kaan diterapkan saat ini. Sisanya dikeluarkan buat sedekah, zakat, kasih THR adek-adek dan keponakan, kasih THR ke orang tua, dan belanja pribadi.
Priceless banget lho ngeliat ekspresi orang tua ketika dikasih hadiah dari kita tuh. Padahal kedua orang tua saya masih kerja. Means masih bisa menghidupi diri sendiri (dan juga adik-adik yang masih sekolah). Tapi nerima hadiah seuprit dari saya aja udah seneng banget. Kan terharu akutuu...
Baca: 4 Cara Sederhana Membahagiakan Orang Tua
Pengennya sih tetep mengukir senyum di wajah kedua orang tua ya. Semoga aja sanggup nyenengin orang tua.
Doanya di Lebaran ini tetep sama. Agar ibadah selama Ramadhan diterima. Diberikan pengampunan dan pemaafan. Dikasih kesempatan buat taubat. Dan berharap masih diberikan umur untuk jumpa Ramadhan tahun berikutnya.
Teruntuk teman-teman online saya, mohon maaf lahir batin yah. Selama ini siapa tau ada salah saat berinteraksi melalui media sosial. Entah itu disengaja atau enggak. Jangan ada dendam diantara kita~ Hihi. Selamat berlebaran!
Simbah suka ngajakin masak. Nonton TV ditemenin ampe kelar. Menjelang sore udah woro-woro buat mandi. Ditanyain mau makan apa. Jajan apa. Mau beli baju baru apa engga. Kalo udah bosen banget, duduk bareng di ruang tamu. Buka album lama, cerita-cerita. Kadang ada cerita yang baru denger. Nyeritain aib ibu, om, pakde, siapa aja yang mukanya ada di album. Duuh...kangen.
Pada akhirnya sekarang Lebaran ya udah, seremonial aja. Semakin nambah umur pun justru semakin sedih ditinggal Ramadhan. Bulan penuh berkah. Berakhir dengan penyesalan kok ngerasa kurang maksimal beribadahnya. Kemudian cycle itu pun berulang. Pfft.
Anyway, meskipun begitu tetep ada sisi senengnya. Bisa kumpul keluarga. Ngerasa cantik lol padahal ngga make up juga. Bersih aja gitu cyiiin intinya.
Baca: 5 Make Up Favorit di Tahun 2018
Bedanya apalagi? Banyaaak! Let's break it down.
Lebaran taun ini somehow ngerasa lucu. Kok bisa? Iya lucu banget. Gegaranya di fase umur segini, perjalanan hidup dengan teman seangkatan ngga lagi sama. Jaman sekolah kan sama yah semuanya. Eh di umur segini tuh macem-macem kondisinya.
Ada yang ngga sengaja ketemu waktu tarawih. Masih berusaha menyelesaikan studi. Lainnya kebanyakan liat di instagram hahaha. Ada yang update mudik pertama bareng suami. Oke siyap jomblo cannot relate. Ada yang update ngga bisa puasa karena baru aja melahirkan. Setiap hari posting perkembangan anaknya di instagram story. Boleeeh lah boleeeh...
Ada juga yang expecting anak kedua. Waw ku ternganga dong. Bukan perasaan "keduluan". Lebih ke kagum waw kok bisa yah udah berani mengemban tanggung jawab seberat itu. Tips nya apa? Sedangkan saya kerja aja udah berasa jungkir balik. Hahaha.
Perbedaan-perbedaan itu bikin senyum-senyum sendiri. "Oh ternyata jalan hidup orang itu beda ya". Tinggal kitanya gimana nanggepin. Iri? Dengki? Selaw aja? Yang terakhir mah saya. Iri dengki hempassss shay.
Kedua, ini pertama kalinya nyebut "mudik" ke Semarang. Biasanya kan mudik itu dari Semarang ke mana gitu. Eh ini ngikutin arus mudik orang-orang dong. Ngerasain tiket bus dinaikin hampir 2x lipat. Ngeliat di jalan yaAllaaah orang-orang ya. Ngegandeng anak banyak, bawaan bejibun, wajahnya tetep hepi buat pulang kampung.
Baca: Semarang yang Selalu Dirindukan
Sempet ngedumel idih kenapa tiketnya dinaikin sih kan nggak terduga. Maklum shay pemudik amatiran. Trus menyesal udah ngedumel. Lah itu yang mudik naik pesawat tiketnya melambung tinggi apa kabar? Kemudian bersyukur mudiknya masih amat sangat terjangkau. Dari segi jarak, waktu, dan biaya. Semua ngga memberatkan. Malah ada yang ngga mudik kan itu hayo gimana rasanya coba? Ya saya sih udah pernah lol
Baca: Main di Banjarmasin
Last, udah terima THR. Heu terharu banget ini sih hahaha. Ngga ngarep eh Alhamdulillah dapet. Langsung lah saya amanin ke tabungan dan dana darurat dulu sebelum dibelanjakan.
Sisanya buat apa? Alhamdulillah banget pernah baca tulisan tentang pembagian THR. Ngga sia-sia kaan diterapkan saat ini. Sisanya dikeluarkan buat sedekah, zakat, kasih THR adek-adek dan keponakan, kasih THR ke orang tua, dan belanja pribadi.
Priceless banget lho ngeliat ekspresi orang tua ketika dikasih hadiah dari kita tuh. Padahal kedua orang tua saya masih kerja. Means masih bisa menghidupi diri sendiri (dan juga adik-adik yang masih sekolah). Tapi nerima hadiah seuprit dari saya aja udah seneng banget. Kan terharu akutuu...
Baca: 4 Cara Sederhana Membahagiakan Orang Tua
Pengennya sih tetep mengukir senyum di wajah kedua orang tua ya. Semoga aja sanggup nyenengin orang tua.
Doanya di Lebaran ini tetep sama. Agar ibadah selama Ramadhan diterima. Diberikan pengampunan dan pemaafan. Dikasih kesempatan buat taubat. Dan berharap masih diberikan umur untuk jumpa Ramadhan tahun berikutnya.
Teruntuk teman-teman online saya, mohon maaf lahir batin yah. Selama ini siapa tau ada salah saat berinteraksi melalui media sosial. Entah itu disengaja atau enggak. Jangan ada dendam diantara kita~ Hihi. Selamat berlebaran!
Sandang, pangan, papan. Setiap orang tua (maupun calon orang tua) biasanya udah memperhatikan ketiga hal pokok ini sedari awal. Sebelum punya anak, para calon orang tua udah berburu pakaian bayi, mainan, dan tetek bengeknya. Ngga ada yang ketinggalan lah. Bahkan udah punya "daftar barang kebutuhan bayi".
Saat udah dilahirkan, orang tua sebisa mungkin memberikan makanan yang bergizi untuk tumbuh kembang. Beli mainan edukatif untuk merangsang perkembangan otak dan motorik. Dan masih banyak lainnya. Semua hal yang bersifat material sebisa mungkin dipenuhi.
Pendidikan anak? Dipilih yang terbaik. Fasilitasnya. Kualitas gurunya. Kurikulumnya. Mengikuti open house sekolah satu per-satu dijabanin. Menabung dana pendidikan sebelum anak lahir? Siap.
Baca: When I (or You) Get A Chance to Be Parents
Mungkin orang tua bisa memastikan yah, secara fisik anak ngga kekurangan apa-apa. Tapi pernah ngga sih, ngalamin kayak gini.
Anak berbuat onar sedangkan mood orang tua lagi jelek. Kemudian muncullah kata, “Adek, kamu kok nakal banget sih. Nanti ibu ngga sayang.”
Atau ketika anak sudah mulai masuk sekolah, ada saatnya kesulitan mengikuti materi di sekolah. Kemudian, apa yang dilakukan orang tua? Membantu mengerjakan? Atau justru berkomentar, “Haduh kamu ini bisanya apa sih. Masa kayak gitu aja nggak bisa?”
Masih banyak celetukan lain yang tanpa kita sadari, bisa melukai perasaan anak. Ya, buat para orang tua bisa jadi kalimat semacam itu dianggap angin lalu. Bagaimana dengan anak? Jangan salah lho. Anak itu hampir selalu mengingat apa yang dikatakan orang tua.
Hayo, sudah sadarkah kita?
Mungkin untuk beberapa orang mengontrol apa yang keluar dari mulut emang ngga gampang. Apalagi ketika dihadapkan pada situasi ngga enak. Hawanya semua kata pengen dikeluarin. Meskipun begitu, bukan berarti ngga bisa loh. Ada beberapa cara preventif agar kita bisa mengontrol apa yang kita ucapkan ke anak.
Pertama, orang tua harus sudah selesai dengan diri sendiri
Harusnya ini dilakukan sebelum menikah sih, ya. Calon orang tua sebaiknya udah “selesai” dengan diri sendiri maupun orang tua. Kalo masih ada hal yang dirasa mengganjal dengan orang tua, coba selesaikan dulu. Jangan sampe hal itu membuat calon orang tua trauma dan berdampak ke anak nantinya.
Kedua, latihan. Ingat: practice makes perfect!
Entah kenapa ada stereotype kalo yang namanya cowok ya wajar mengumpat. Padahal, itu bukan hal yang baik kan? Maka balik lagi nih ke calon orang tua baik itu pria atau wanita biasakan deh buat ngga mengumpat.
Karena yang namanya kebiasaan, akan sulit untuk dihilangkan. Makanya mending dihindari. Nah kalo udah terlanjur kebiasaan mengumpat gimana? Latihan. Mengubah kata-kata umpatan dengan hal lain. latihan mengubah kata yang kasar dengan memperhalusnya. Banyak kok alternatif lain untuk berkomunikasi ke anak selain dengan kata kasar.
Saat udah dilahirkan, orang tua sebisa mungkin memberikan makanan yang bergizi untuk tumbuh kembang. Beli mainan edukatif untuk merangsang perkembangan otak dan motorik. Dan masih banyak lainnya. Semua hal yang bersifat material sebisa mungkin dipenuhi.
Pendidikan anak? Dipilih yang terbaik. Fasilitasnya. Kualitas gurunya. Kurikulumnya. Mengikuti open house sekolah satu per-satu dijabanin. Menabung dana pendidikan sebelum anak lahir? Siap.
Baca: When I (or You) Get A Chance to Be Parents
Mungkin orang tua bisa memastikan yah, secara fisik anak ngga kekurangan apa-apa. Tapi pernah ngga sih, ngalamin kayak gini.
Anak berbuat onar sedangkan mood orang tua lagi jelek. Kemudian muncullah kata, “Adek, kamu kok nakal banget sih. Nanti ibu ngga sayang.”
Atau ketika anak sudah mulai masuk sekolah, ada saatnya kesulitan mengikuti materi di sekolah. Kemudian, apa yang dilakukan orang tua? Membantu mengerjakan? Atau justru berkomentar, “Haduh kamu ini bisanya apa sih. Masa kayak gitu aja nggak bisa?”
Masih banyak celetukan lain yang tanpa kita sadari, bisa melukai perasaan anak. Ya, buat para orang tua bisa jadi kalimat semacam itu dianggap angin lalu. Bagaimana dengan anak? Jangan salah lho. Anak itu hampir selalu mengingat apa yang dikatakan orang tua.
“Verbal abuse is considered as abuse, too” – kekerasan secara verbal (perkataan) termasuk dalam kategori kekerasan.
Hayo, sudah sadarkah kita?
Mungkin untuk beberapa orang mengontrol apa yang keluar dari mulut emang ngga gampang. Apalagi ketika dihadapkan pada situasi ngga enak. Hawanya semua kata pengen dikeluarin. Meskipun begitu, bukan berarti ngga bisa loh. Ada beberapa cara preventif agar kita bisa mengontrol apa yang kita ucapkan ke anak.
Pertama, orang tua harus sudah selesai dengan diri sendiri
Harusnya ini dilakukan sebelum menikah sih, ya. Calon orang tua sebaiknya udah “selesai” dengan diri sendiri maupun orang tua. Kalo masih ada hal yang dirasa mengganjal dengan orang tua, coba selesaikan dulu. Jangan sampe hal itu membuat calon orang tua trauma dan berdampak ke anak nantinya.
Kedua, latihan. Ingat: practice makes perfect!
Entah kenapa ada stereotype kalo yang namanya cowok ya wajar mengumpat. Padahal, itu bukan hal yang baik kan? Maka balik lagi nih ke calon orang tua baik itu pria atau wanita biasakan deh buat ngga mengumpat.
Karena yang namanya kebiasaan, akan sulit untuk dihilangkan. Makanya mending dihindari. Nah kalo udah terlanjur kebiasaan mengumpat gimana? Latihan. Mengubah kata-kata umpatan dengan hal lain. latihan mengubah kata yang kasar dengan memperhalusnya. Banyak kok alternatif lain untuk berkomunikasi ke anak selain dengan kata kasar.
***
Hanya sekadar mengingatkan (biar kaya netijen jaman now) sebagai orang tua punya kewajiban untuk melindungi anak. Bukan hanya secara fisik tapi juga mental. Apalagi di era sekarang yang makin banyak isu isu diangkat seputar kesehatan mental. Orang tua harus bisa memastikan bahwa anaknya ngga hanya sehat secara lahir tapi juga batinnya.
Tulisan ini disertakan dalam #BlogChallengeGandjelRel Parade 4th Gandjel Rel Pekan 3
Wednesday, September 27, 2017
Ketika Penghafal Al-Qur'an Lahir dari Seorang Wanita Karir: Mom's Very First Book!
Review buku kembali lagi tepat di jadwal yang bener: Rabu! Yeayyy. Ada banyak hutang review buku entah kapan mau ditulis. Berikanlah aku hidayah yaAllah.
"Banyak. Nanti kaget sama jawabanku."
"Yaa berapa kan dijawab dulu.."
"Enam bersaudara."
"HAHH??!?" *zoom in zoom out*
4 Cara Sederhana Membahagiakan Orang Tua
Siang tadi seperti biasa saya dan sahabat dekat saya Aya (doi temen dari jaman maba banget sampe sekarang sekelas terus. The one I relied on and my loyal reader LOL yang terakhir nggak tau :P) makan siang di kantin. Sedang enak-enaknya menelan mie ayam, saya yang duduk di depan Aya mengernyit melihat perubahan raut muka dia. Horor-horor gimana gitu.
Beberapa kali teman saya menceletuk, "Enak ya jadi anak rumahan..". Enak di benak mereka nggak harus repot laundry, masak, sampe rumah langsung ada makanan dan bisa ngerjain tugas dengan bebas. Padahal yang sebenarnya sih, enggak.
![]() |
| Source |
Nggak salah memang, ketika ada hadist yang mengatakan bahwa Rasulullah menyuruh untuk berbakti kepada ibunda sampai-sampai disebutkan tiga kali baru setelah itu ayah. This is a real story that happened few days ago. Ceritanya, kakak pertama saya alhamdulillah sudah lulus dan tinggal wisuda. Just like other people, he's looking for job. I don't know how many application he submitted but I believe it's more than 1 hehe. And now I know how hard it is to face the real world. Singkatnya, si kakak ini dapet panggilan wawancara di perusahaan X sebut saja begitu yang berlokasi di Jakarta.
Dari Semarang tempat saya tinggal pastilah butuh transportasi ke Jakarta. Maybe it's typical boy, they don't prepare ahead. Si kakak ini belum beli tiket ke Jakarta. Saat itu posisi udah malem, hujan (cukup) deras, dingin menusuk tulang, cari-cari tiket. Karena sibuk mempersiapkan berkas, kakak saya melupakan sejenak perihal tiket. Saya, yang sedang asyik-asyiknya menonton Page Turner diajak oleh ibu saya keluar.
"Nok, ayo cari tiket."
Sebagai anak yang nggak mau dicap durhaka (EHE) saya pun menuruti ibu saya. Begitu melangkahkan kaki keluar dari rumah, BRRRrrr dingin! Sasaran pertama adalah minimarket sebut saja Indomaret WKWK sebut merek gapapalah buat nyari tiket. Pokoknya dari Semarang ke semua stasiun di Jakarta yang bisa berangkat sepagi mungkin lah. Nihil. Ke Alfamart 1, ga ada. Ke Alfamart 2, ga ada. Ke Indomaret 2, ga ada juga. Hebatnya, ibu saya semangat banget nyari tiket. Malah sampe nanya "Kalo tiket pesawat ada ga mas?"
Just fyi, as average Indonesian people, buying ticket for a fligh is quite pricey for us. Meskipun begitu, ibu saya mau-mau saja membelinya. Stop to this. Buat saya ini adalah sebuah pelajaran, how much a mom loves her child. I almost tear up thinking about what have I done for my mom.
Yea by writing this I hope I can always remember my mom when I get old someday. And I will surely try just as hard as my mom done for her child. I love you, mom.
Kemarin entah kemarinnya itu kapan, saya sempet nulis draft posting blog dengan judul "Satu doa yang terkabul". Tapi kemudian saya berpikir..ah saya kan "meminta" nya ada 2. Tunggu aja deh siapa tau doa kedua itu terkabul. Ingat kan apa yang saya minta dalam doa saya akhir-akhir ini? Yup. Lulus dan lolos.
Pengumuman Ujian Nasional sendiri tanggal 20 Mei lalu. Alhamdulillahnya, karena salah satu teman saya sudah tahu dari orangtuanya, jadi diberi tahu kalau...SMAN 4 Semarang lulus 100%. Alhamdulillah. Praise Allah. Sudah? Sampai situ? Belum cukup. NEM masih menjadi misteri. Hari berikutnya, di jarkom lah itu sama Anggi si server jarkom. Anak-anak kelas dikasih tau bisa ke sekolah buat liat NEM nya. Sistem liatnya gimana? Jadi serasa hasil try out gitu ditempel dengan terpampang jelas di papan pengumuman. Gak deng, di tembok depan kelas lebih tepatnya. Dan...bagaimana NEM saya? Jeng-jeng-jeng... Dengan rata-rata UN murni 7,6 saya dinyatakan lulus. Bersyukur nggak? Sejauh ini bersyukur pake banget kali ya hehehe. Jujur aja saya memang berdoanya minta nlai rata-rata 7 keatas. Karena saya realistis, memang sih terkadang punya keinginan lebih tinggi tapi ya...sekali lagi, realistis itu penting. Rincian nilai UN saya sendiri seperti ini:
| Mapel | Nilai |
|---|---|
| Bahasa Indonesia | 9,0 |
| Matematika | 8.0 |
| Fisika | 7,75 |
| Kimia | 6,5 |
| Biologi | 6,75 |
| Bahasa Inggris | 7,6 |
Gimana? Kalo menurut pendapat saya yang paling mengecewakan itu kimia sama bahasa inggris. Saya berharap nilai bahasa inggris saya itu setidaknya 9,0 lah ya eh ternyata sangat jauh dari dugaan. Mungkin memang sudah jalannya *yaiyalah* dan kimia juga. Bener-bener wah tapi kimia segitu. Waktu ngerjain ujian kimia, saya sudah berpikir "dapet nilai berapa nih? 3? 4?" saking sulitnya. Beruntungnya saya dapet nilai segitu hehehe.
Seminggu kemudian, Ujian Nasional pun mulai terlupakan. Gak terlupakan juga deng. Semua mata, hati dan pikiran difokuskan ke SNMPTN. SNMPTN saya sama sekali tidak memberi tahu teman-teman "dekat" saya tentang jurusan yang saya ambil. Jurusan yang saya ambil: FKM Undip, Sastra Inggris Undip, dan FKM Unnes. Sempat terbersit keinginan masuk Sastra Indonesia tapi nggak cukup nyali buat disana. Dalam SNMPTN ini pun saya juga berdoa kepada Allah dengan jelas agar Allah meloloskan saya ke FKM Undip.
Berita tentang SNMPTN pun ramai di berbagai media. Tentang pengumumannya di undur lah, dimajuin lah, dan sebagainya. Lalu pada tanggal 27 Mei 2014 Kemendikbud bilang akan diumumkan jam 12.00 WIB. Saya bener-bener stay tune di twitter karena dari situ lah akun yang saya follow benar-benar membantu. 15 menit sebelum pukul 12.00, salah satu akun mengetweet kalau website mirror its sudah bisa dibuka. Penasaran, saya klik linknya. Dan benar saja. Disitu sudah diminta memasukkan nomor SNMPTN dan tanggal lahir. Saya mulai gemetaran, dagdigdug gak karuan deh rasanya. Kebelet pipis, mules, ah that mixed feeling I'll never forget :') saya mulai mengetikkan perlahan. Dan kemudian yang muncul di layar saya adalah...
ALLAHU AKBAR! Ya Allah saya bener-bener sempet ngefreeze di tempat. Ini? Beneran?!?!?!?! Jadi gini rasanya yaAllah :') saya langsung teriak-teriak manggil ummi. Ya maklum deh saking senengnya. "Mi aku lolos mi aku lolos!!!!" Kemudian ummi datang menghampiri tanpa kacamata. Dimana tanpa kacamata itu beliau gak bisa lihat dengan jelas. Terus ummi nanya: "Mana? Mana tulisannya?" saya tunjukkan. Seketika itu juga ummi memeluk saya dengan erat. YaAllah rasa bahagia yang tidak terkira itu benar-benar nggak akan pernah saya lupakan. Ummi langsung bilang "cepet kamu sujud syukur" hahaha dan saya pun sujud syukur. Alhamdulillah.. Maha Besar Allah betapa Allah sayang sama hamba-Nya, memang benar apa yang saya dapat di pengajian. "Aku seperti yang di prasangka kan hamba-Ku". Saya selalu mencoba berprasangka baik dan hasilnya memang Allah seperti yang saya sangkakan.
Segitu dulu aja deh bahagia kali ini, yay saya calon mahasiswa! Doakan semoga seterusnya lancar, amin! Ciayo! :)
Subscribe to:
Posts (Atom)



