Bogor
Healing pertama di tahun ini. Agak dadakan mengingat hanya seminggu dari tanggal libur. Ceritanya, diajakan Sansan buat camping karena nggak ada rencana pulang atau kemana. Berhubung masih ada uang sisa THR, cuslah gaskeun. Ini juga pertama kalinya camping di kota sendiri (kabupaten sih).
Sekitar 2 km dari D'rajih ada Curug Putri Pelangi. Dari review google sih biasa aja. Airnya agak berlumpur. But it's okay. Daripada nggak ada kegiatan kami tetep kesana naik motor. Sekitar jam 9 pagi. Ternyata udah ramee!
Yup, Bogor dikenal dengan wilayah pegunungan. Ada beberapa gunung disini, yang aku tahu diantaranya Gunung Salak dan Gunung Gede Pangrango. Meski begitu aku belum pernah eksplor lebih banyak wisata di Jawa Barat. Alasannya? Pengalaman ke curug kena pungli dan testimoni banyak orang lainnya.
Baca: Trekking di Leuwi Hejo
Kami pilih camping di wilayah Tajurhalang, Cijeruk. Gak ada alasan lain selain dipilihin aja sama si Sansan. Pernah sih sekali denger influencer yang camping disini, tapi beda tempat: Boja Farm. Cuma ngga tertarik karena sepertinya akses susah.
Ternyata di wilayah Tajurhalang banyak camping ground. Tinggal pilih yang cocok dengan budget kebutuhan.
D'rajih Nature Camp berada di ketinggian 890 mdpl. Perjalanan dari Cibinong dengan motor idealnya 1,5 jam. Realitanya tergantung jalur dan jam keberangkatan yang dipilih. Bisa naik angkutan umum? Sepertinya nggak. Untuk naik ke daerah Tajurhalangnya tuh kami nggak lihat angkot. Yang ada hanya sampai di kota.
Saat berangkat kami pilih jalur motor di maps. Dan, diarahkan kemana? Jalan alternatif. Yang seharusnya lewat Sukasari lalu Batutulis harus beralih ke jalan tikus literally masuk gang. Efek dari perbaikan jalan juga yang sebelumnya longsor. Kami diarahkan naik jembatan gantung yang lewatnya harus antri. Sungguh memacu adrenalin :)) aku sarankan download offline map dulu antisipasi nggak ada sinyal.
Ketika udah masuk daerah camping ground, sinyal mulai ilang-ilangan. Alhasil kami mengandalkan plang yang terpasang di beberapa titik. Sempat beberapa kali berhenti dan putar balik karena salah arah. But it's okay. Nggak sampe tersesat di hutan. Harus hati-hati semakin mendekati tujuan, jalanannya: jelek, berbatu, bukan aspal, kecil, berkelok, dan ada tanjakan yang curam banget. Alhamdulillahnya kami nggak kesana pas hujan. Jadi kering dan nggak licin.
Untuk booking kami online, yang pesan Sansan jadi aku terima jadi. Ada beberapa tipe yang ditawarkan oleh D'rajih Nature Camp. Sesuai dengan kapasitas dan jenis tenda. Dari tenda biasa, glamping, sampai campervan juga ada. Enaknya tuh disini udah sepaket dengan alat masak dan alat makan. Beda dengan dulu waktu aku camping di Waduk Sermo Kulonprogo. Untuk dapet printilannya harus nambah biaya lagi.
Meski booking di hari libur keagamaan ternyata kami dapet harga nomal. Bukan peak season. Kami pesan tipe Eklipta Medium Tent Camp's seharga Rp 600.000/malam.
Fasilitas yang kami dapet:
Kasur
Matras Spoon 3
Voucher Breakfast 4
Folding Chair 3
Folding Table 1
Cooking Set
Grill Pan
Kompor Portable
Hicook Gas 2
Stop Kontak
Lampu Tenda
Selimut + Bantal
Alat Makan
Galon Le-Minerale 15L
Fasilitas lain yang bisa digunakan:
- Toilet bersama (suka banget karena lumayan bersih dan terawat. Nggak gelap atau bau. Udah keramik dan ada pilihan wc duduk)
- Sumber listrik di belakang masing-masing tenda
- Mushola umum
- Kafe (nggak buka 24 jam sih)
- Keran di tiap tenda buat cuci bahan makanan/alat makan dan masak
Ukuran tendanya memang cukup gede buat berdua. Ditambah barang bawaan cukup sih 4 orang tapi bakal sesak. Kayaknya 3 orang maksimal. Itu menurutku si paling cari nyaman, sih.
And then, how was the experience?
Awalnya rada parno karena sebelumnya ada gempa cukup gede yang berpusat di Gunung Salak. Hamdalah selama camping nggak ada masalah. Ular? Lihat sekali aja ular hijau nyeberang jalan. Nggak masuk tenda. Kodok sempet deketin tenda. Ada kocheng. Suara yang keras banget tuh jangkrik....kayaknya. Nggak bisa deteksi itu suara apa. Hahaha. Lumayan kenceng apalagi pas tidur malem itu kayak dengerin alarm hp bunyi pas di telinga.
Pemandangannya buagus pol. City light plus deretan gunung (kayaknya sih Gede Pangrango). Cuma ada sedikit kabel yang mengurangi estetik pas foto. Penglihatan pake mata langsung sih jujur jauh lebih cakep dibanding kamera handphone.
Hari pertama kami sibuk aja di tenda masak memasak sambil ngobrol ngalor ngidul. Kusarankan sih bawa tikar 1 lagi biar nyaman nggak kena tanah. Oiya bawa lampu juga sih kalau bisa. Lampu yang dikasih kebetulan agak redup dan nggak tahan lama. Alhasil kami harus pakenya sambil ngecas.
Gas yang dikasih sempet bermasalah. Untungnya waktu kami komplain, petugas sigap buat ganti baru. Untuk koneksi internet jujurly busuq. Ilang tenggelam. Lebih sering tenggelamnya. Aku pakai Indosat dan XL sama aja. Dapet sih wifi. Tapi sama aja ilang-ilangan juga. Yaah, mungkin memang disuruh buat fokus healing aja.
Meskipun banyak yang ngecamp, surprisingly nggak berisik. Nggak ada tuh yang gitaran nyanyi-nyanyi semaleman. Kami pun bisa tidur nyenyak.
Apakah dingin? Tergolong enggak ya. Dibanding dengan waktu di Rancaupas aku bolak balik balurin minyak kayu putih. Ini pake jaket aja udah cukup. Bahkan aku nggak perlu pakai kaos kaki untuk kakiku yang sensitif dingin.
Hari kedua, trekking tipis-tipis.
Eh sebelumnya kami sarapan dulu dong dengan voucher. Dikemas pake thinwall dan dianter ke tenda. Isinya nasi goreng sosis + telor ceplok 1. Aku nggak makan nasi gorengnya sih, cuma ambil telornya aja. Kata si Sansan agak hambar rasanya. Kelar sarapan, gasss!
Jalan menuju curugnya lumayan curam. Cocoklah buat leg day. Harus berhati-hati karena tangganya mulai rusak. Masih ada monyet juga jadi jaga barang bawaan bener-bener. Biayanya Rp 20.000/orang dewasa. Anak-anak dapet setengah harga. Nggak kena biaya parkir.
Curugnya tergolong kecil dan kolam (?) di sekitar jatuhnya air itu se-dada orang dewasa. Nggak deras sih. Trus ada 2 kolam, 1 buat dewasa 1 buat anak-anak. Karena ukurannya yang kecil ya berasa kemruyuk banget. LOL.
Disini kami lumayan lama buat ngeliatin orang aja. Nggak ada niatan nyebur saking malesnya buat bawa baju basah. Fasilitas yang ada cuma toilet. Penjual jajanan belum ada, entah terlalu pagi atau gimana.
Pulang dari curug kami balik ke tenda buat....makan. Lumayan bikin laper perjalanannya. Sekalian nyicipin jajanan di kafe. Kami beli gorengan isinya mendoan dan tahu. Enak! Dapet saos dan sambel kecap pula.
Pas azan zuhur kami turun kembali ke Cibinong. Kali ini lewat BNR. Nggak mau lagi lewat jembatan shirotol mustaqim itu. Resikonya kena macet. Asli Bogor di weekend tuh macetnya nggak ketolong.
Sooo in the end kami cukup puas dengan camping dadakan ini. Akhirnya ada juga pengalaman ngecamp di Bogor :P paling keselnya sama perokok. Apalagi ini di outdoor ya. Di pikiran mereka tuh outdoor sama dengan bebas merokok. Sigh. Mana asepnya ngebul banget ngalahin kompor kayu jadul. Ada nggak sih camping ground bebas asap rokok? Penasaran, deh.
Sunday, September 01, 2024
Keliling Perpustakaan di Indonesia: Perpustakaan Jakarta dan Perpustakaan Bogor
Sebagai orang yang ngakunya si paling literasi, setiap berkunjung ke kota/kabupaten gue berusaha datengi perpustakaannya. Lebih tepatnya sih perpustakaan milik pemerintah. Baik itu pemerintah provinsi maupun pemerintah kota/kabupaten.
Yang bakal gue bandingkan disini yaitu: Perpustakaan Kota Bogor, Perpustakaan Kota Semarang, Perpustakaan Kota Surabaya dan Perpustakaan Provinsi DKI Jakarta. Awalnya gue pengen bikin postingan terpisah. Tapi dipikir lagi kayaknya nggak bakal mendalam deh ulasan gue. Ntar malah kurang informatif, lagi. Jadilah gue bikin satu postingan ini.
Berikut adalah urutan perpustakaan paling bagus yang pernah gue kunjungi (doakan semoga gue bisa berkunjung ke semua perpustakaan di Indonesia!).
1. Perpustakaan Jakarta
Anak literasi pengguna sosmed pasti tau deh seberapa kerennya Perpustakaan Jakarta. Gue contek sedikit ya dari wikipedia. Perpustakaan ini dibangun sejak tahun 2013-an. Baru booming kembali setelah direvitalisasi dan akhirnya diresmikan pada tahun 2022. Nggak main-main, arsiteknya adalah Andra Matin. Salah satu arsitek tersohor di Indonesia pada saat itu.
Alamat:
Taman Ismail Marzuki (TIM), Kelurahan Cikini, Kecamatan Menteng, Kota Administrasi Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta.
Cara berkunjung:
Dateng aja ke perpustakaannya. Bikin keanggotaan online di https://perpustakaan.jakarta.go.id/. Nah nanti tiap berkunjung buka webnya untuk dapetin scan barcode. Tunjukin barcode ke petugas. Begitu masuk, akan diminta naruh barang di loker dan dikasih tote bag bening. Ga boleh bawa makan dan minum ya. Habis itu udah deh masuk, pilih buku yang mau dibaca.
Akses (dikutip dari wikipedia):
1. Transjakarta Rute 5M [Kampung Melayu-Tanah Abang via Cikini] Turun di stop bus Simpang RP Soeroso arah Tanah Abang lalu berjalan kaki ke arah timur sejauh 400 M atau Taman Ismail Marzuki arah Kampung Melayu
2. Mikrotrans (Jak Lingko) 10A [Gondangdia-Cikini via Salemba Raya] Turun di Stop Mikrotrans Taman Ismail Marzuki
3. KRL Commuter Line jalur Bogor [Jakarta Kota-Bogor/Depok/Nambo PP] Turun di stasiun Gondangdia, lalu berjalan ke arah selatan Stasiun Gondangdia dan menaiki Mikrotrans (Jak Lingko) 10A [Gondangdia-Cikini via Salemba Raya] naik dari Stop Mikrotrans Stasiun Gondangdia Selatan
Bagi warga luar Jeketi pake KRL turun di Stasiun Cikini lalu melanjutkan jalan pun masih terjangkau. Aksesnya bisa dibilang oke lah ya!
Jam berkunjung:
Asli ini mah dabes banget! Perpus Jakarta BUKA SETIAP HARI gengsss. Di Indonesia masih jarang perpustakaan pemerintah yang buka tiap hari. Di hari Senin-Kamis mulai pukul 09.00-17.00. Dan ini gong banget sih di akhir pekan justru jam bukanya lebih panjang. Dari 09.00-20.00. Inilah yang beneran dinamakan perpustakaan publik. Ngerti kebutuhan masyarakat ke perpustakaan justru banyaknya di hari libur kayak gue yang kerjanya di weekday. Luv banget gak sih? Luv lah!
Yang bisa pinjem buku:
Warga KTP Jakarta atau yang punya surat domisili Jakarta. Ini cukup umum ya. Keempat perpustakaan yang gue datengi menerapkan peraturan yang sama. Bagi para perantau ini bisa dengan baca ditempat.
Koleksi buku:
Nah ini gong banget. Koleksinya muantap djiwaaa! Majalah, buku anak-anak, fiksi, non fiksi, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, ada T_T menanges. Ensiklopedia mmuahal yang tebal itu ada. Buku yang lagi hits di jagat literasi, kebanyakan ada T_T Beginilah ya ketika APBD dikelola dengan baik.
Lupakan stigma perpustakaan yang remang-remang dan bau kaos kaki itu. Disini terang benderang. Sampai rak bukunya aja ada pencahayaan. Estetik asli. Pantesan waktu pembukaan kembali itu viral. Ga perlu lepas sepatu juga kecuali area anak seinget gue.
Emang sebagus itu gengs. Wajib dikunjungi kalau lagi maen ke Jeketi dah.
(maap fotonya ga estetik, sungkan foto-foto pas lagi rame banget LOL)
Poin plus lainnya:
1. Sering mengadakan acara literasi
2. Ada vending machine (ini ga tau cuma event apa ada terus)
3. Ada kafetaria diluar dengan buuuanyak pilihan
4. Sekomplek sama TIM jadi yaa ga bosen
Perpustakaan Jakarta juara di hatikyuuu <3
2. Perpustakaan Kota Bogor
Ini perpustakaan paling deket sama domisili gue sekarang. Dan masih terjangkau untuk dikunjungi dibanding Perpustakaan Kabupaten Bogor, yang gue liat review di Google-nya...ah sudahlah. Kunjungan pertama gue disini masih baruuu banget diresmikan. Namanya tuh Perpustakaan dan Galeri Kota Bogor. Yup, ada Galeri yang isinya sejarah Kota Bogor dan beberapa trivia. Waktu awal dibuka Galeri ini isinya lebih ke lukisan dan penjelasan berupa tulisan.
Terakhir gue kesini udah ada diorama bernama Bumi Parawira. Gue belum sempet buat menikmatinya karena ternyata harus ambil antrian gengs dan pas kesana ngantri beberapa jam. Malas :)) maybe next time pas diniatin.
Alamat:
Jl. Kapten Muslihat No. 21, Pabaton, Bogor Tengah, Kota Bogor 16121
Cara berkunjung:
Dateng ke perpusnya. Isi buku tamu elektronik di komputer yang tersedia. Minta tote bag dan kunci loker. Ini semua di lantai 1. Setelah itu naik ke lantai 2 bisa lewat lift atau tangga di bagian belakang. Perpustakaan, galeri dan musholanya di lantai 2.
Akses:
1. Bisa pake KRL turun stasiun Bogor. Lalu jalan 10 menitan sampe.
2. Ada juga angkot 07 rute Warung Jambu. Patokannya dari Kebun Raya Bogor kearah Gereja Katedral Bogor. Nah sebrangnya persis tu perpustakaan.
3. Naik Trans Pakuan rute K2 Terminal Bubulak
Yang pernah gue coba cuma nomor 1. Sisanya belum. Tapi harusnya bisa sih karena gue sering liat angkot dan busnya wara-wiri. Yang paling sering sih angkot. Namanya juga kota seribu angkot.
Jam berkunjung:
Selasa-Minggu mulai 08.00-15.00 WIB. Tiap weekend pasti penuh! :))
Yang bisa pinjem buku:
Sama kek perpus Jakarta. Cuma KTP Bogor (kota atau kabupaten bisa!). Selain itu cuma bisa baca ditempat.
Koleksi buku:
Biasa aja. Nggak se-kekinian perpus Jakarta. Tapi nggak yang 10 tahun lalu juga. Koleksi Harry Potter lengkap. Gue tau ini karena terpajang di area baca depan. Waktu kesana gue baca Bumi Manusia sih. Majalah ada. Koran pun ada.
Pengalaman gue pertama kesini masih kurang enak karena bau kaos kaki. HAHAHA. Mana belum ada rak sepatu di depan area bacanya, padahal harus lepas sepatu. Kunjungan kedua udah ada sih. Udah lumayan tertata. Kunjungan ketiga, Galerinya udah berubah jadi Bumi Parawira itu. Sepertinya makin lengkap dengan adanya Auditorium dll.
Senengnya adalah banyak anak sekolahan masih pake seragam kesini waktu weekdays. Mungkin karena deket dengan sekolah ya disekitarnya. Akses pun gampang tinggal ngangkot murmer. Seneng aja liatnya bocil bocil rajin ke perpustakaan. Perkara baca atau enggak urusan belakangan. Yang penting nyaman dulu di perpustakaan.
***
Ternyata baru 2 perpustakaan aja udah panjang. 2 perpustakaan lagi lanjut ke postingan berbeda ya!
Ada banyak cara untuk menikmati suatu kota. Salah satunya adalah berjalan kaki menyusuri jalanannya. Tren walking tour ini sudah mulai menyebar di beberapa kota. Sebut aja Jakarta, Semarang, Surakarta, Jogja, daaan Bogor. Yep, di Bogor juga ada. Tepatnya Kota Bogor. Walking tournya dinamakan Bogor Historical Walk. Diinisiasi oleh pecinta sejarah. Benar-benar komunitas yang berdiri sendiri.
![]() |
| Foto milik Bogor Historical Walk |
Alhamdulillah aku berkesempatan untuk ikutan nih. Kegiatannya memang dilakukan di akhir pekan (Sabtu/Minggu) karena tour guide-nya punya pekerjaan lain di hari biasa. Sistem pendaftarannya dengan mengirim Whatsapp di rute yang dibuka pada minggu tersebut. Biasanya diumumkan hari Selasa jam 10.00 WIB di instagram story/feednya. Inipun cepet-cepetan gitu. Untuk pembayaran tip pay as you wish. Alias bayar sesuai keinginan dan kemampuan. Nggak ada patokan harga khusus.
Lucky me aku ikutan dari jalur diajak temen. Hehe. Begitulah ya enaknya punya temen sefrekuensi :P rute yang dipilih adalah Jejak Naga di Suryakencana. Suryakencana bisa dibilang kawasan pecinan-nya Kota Bogor. Mirip Semawis di Kota Semarang.
Titik kumpulnya adalah gerbang Suryakencana dan ditentukan dress code berwarna merah. Niat banget nih sampe minjem kaos merah ke anak kos.
Dari kos ke titik kumpul makan waktu 30-45 menit tergantung moda transportasi dan kondisi jalan. Pada umumnya Jalan Raya Bogor rame terus. Kecuali melintasnya di jam 3 dini hari :P
Pagi itu ada 2 kloter yang akan mengikuti tur. Kloter pertama dipandu Kang Habibie. Kloter kedua dipandu Teh Echie. Plus bonus anak perempuannya yang ikut serta di kloter kami, kloter kedua. Yep, mereka ini keluarga pecinta sejarah. Seru, ya?
Fyi disclaimer dulu dalam postingan ini aku nulis seingetnya yah. Kalo ada yang kurang/koreksi bisa banget ntar ditulis di kolom komentar. Oke lanjut.
Baru pertama aja udah disodorkan pertanyaan,
"Tebak ada berapa kebudayaan di Lawang Suryakencana?"
Ih ga sempet ngefoto jadi aku ambil dari google yah. Ini adalah Lawang Suryakencana.
![]() |
| Gambar milik Pemkot Bogor |
Ada
- Bahasa Bunda: Lawang
- Bahasa Belanda: Buitenzorg
- Warna merah mencerminkan budaya Tionghoa
- Bentuk atap khas Sunda
- Plus ada kujang (senjata khas) diatasnya
![]() |
| Klenteng Hok Tek Bio Bogor |
Jujur ini pertama kalinya masuk kedalam Klenteng. Kami diterima dengan pengelola serta dijelaskan apa aja bagian Klenteng. Katanya, Klenteng itu bukan rumah ibadah aja. Siapapun boleh masuk. Balik lagi sih ke kepercayaan masing-masing.
![]() |
| Mural di dinding Klenteng |
Cukup amazed dengan detail bangunannya. Maklum first timer. Padahal mah di Semarang ada Kelenteng Gedung Batu tapi belum pernah main juga :P
Dari depan udah ada sepasang patung singa. Ada dewa pintu terukir di pintu masuk. Dan lukisan para pencari kitab suci. Itu lhooo yang jadi serial Sun Go Kong. Nah memang diambil dari kepercayaan masyarakat Tionghoa.
Didalamnya ada tempat berdoa dan patung dewa-dewa. Yang menarik dimataku ada kertas merah bertuliskan nama-nama. Dan itu buaaanyak. Ada yang kecil ditaruh di gelas lilin. Ada yang digantung. Tahu nggak itu apa?
Oh ternyata nama para donatur Klenteng ini. Semakin besar donasinya semakin besar nama yang terpampang. Begicuuu. Ada juga gong gede yang dibunyikan disaat-saat tertentu aja. Misal: Tahun Baru Imlek.
Hal menarik lainnya dari Klenteng ini adalah keberadaan pohon mangga besar yang konon usianya ratusan tahun. Tapi anehnya buahnya kecilll banget dan emang ga bisa gede katanyaa. Letak pohon ini ada dibagian belakang, cuma dari depan pun keliatan saking gedenya.
Lanjuut jalan lagi. Kali ini menyusuri jalan Suryakencana yang rameee pol. Ada pasar juga disitu. Tujuan kami adalah Tabib Ismail. Eits, siapa yang butuh berobat nih? Tenaang. Disini kami mencicipi jamu aja kok. Toko jamu dan rempah ini udah turun temurun hingga generasi ketiga. Pemiliknya asli Pakistan.
Ini juga pertama kalinya aku dengan sukarela nyoba jamu. HAHAHA. Kerjanya aja di instansi pengawas Obat Tradisional, nyatanya nggak begitu demen jamu. Jamunya mirip wedang uwuh gitu kalo di Jawa. Campuran dari berbagai rempah dan akar-akaran. Pait? Iya. Tapi lebih pait kehidupan sih *HALAH. Yang pasti masih bisa diterima lidah. Habis itu dikasih permen pun buat penawar.
Kami kembali menyusuri jalanan. Kali ini ada sebuah bangunan bersejarah. Sayangnya nggak tau siapa pemiliknya sekarang. Keliatan terawat sih, cuma kayak kosong. Kepo bangettt andaikan bisa masuk yah. Ini katanya dulu bangunan pejabat desa gitu deh.
Inget lagu, "Aku seorang kapitan. Mempunyai pedang panjang?" apakah kamu mengira kapitan itu = kapiten? Dengan berat hati kujawab: you've been wrong all this time.
Berdasarkan KBBI, kapitan adalah 1) gelar (sebutan) kepala daerah pada zaman pemerintahan raja, setingkat dengan camat di daerah Nusa Tenggara Timur dan Maluku; 2) kepala golongan penduduk Cina (pada zaman pemerintahan Belanda); 3 kepala dalam balatentara. Nah ini pemilik rumahnya lebih masuk ke definisi nomer 2.
Kami disitu cuma liat aja. Literally. Geser sedikit kekanan, ditunjukkan bekas hotel yang udah gak ada rasa hotelnya :( udah mangkrak banget. Sama sekali nggak terawat. Malah ketutupan tumpukan sampah. Huhu. Sad. Entah berapa kali aku berpikir, "Sayang banget pemerintah nggak merevitalisasi bangunan sejarah kayak gini. Menggandeng komunitas seperti Bogor Historical Walk." Sementara peminat walking tour gini tuh buaaanyak loh. Bisa jadi pemasukan daerah sekaligus menjaga sejarah :') nggak kebayang anak cucu dimasa depan nggak tau sejarah bangsanya sendiri. Krisis identitas.
Next bukan bangunan tetapi jalan. Ada satu lorong disini yang dijadikan tempat foto ala-ala. Walikota Bogor yang mencanangkannya. Katanya sih ini tuh mirip yang di Penang sana konsepnya. Cumaa ya aku mah belum pernah ke Penang jadi ngga bisa memverifikasi keabsahannya. LOL.
Lorong ini yaah memang aestetik dengan daun palsu dan warna mentereng. Ada pintu dan jendela (palsu) warna-warni. Banyak juga yang antri foto dititik ini. Seperti halnya tempat hits, pasti ada pedagang asongan dan pengemis disitu. Hehe. Minus lagi baunya agak pesing. Dear pengunjung lororng(?) jaga kebersihan yuk demi kenyamanan bersama.
Masih kuat jalaan? Masih. Kalo ngga kuat ditinggal soalnya. Haha.
Oke, titik selanjutnya adalah institusi pendidikan. Loh, ngapain? Nah yang kami kunjungi ini IBI Kesatuan. Dulunya bernama Sekolah Kesatuan. Dititik ini udah berubah jadi kampus/universitas. Dulunya merupakan TK, SD dan SMP. Sekarang untuk pendidikan dasarnya pindah lokasi ke tempat lain. Btw catnya ungu kayak almamaterku dulu alias kampus FKM Undip.
Sekolah Kesatuan jadi salah satu sekolah awal-awal yang berdiri di Bogor. Yang punya warga keturunan Tionghoa kaya raya. Memang baik hati, dermawan dan peduli dengan sesama. Salut sih sampai sekarang masih bertahan.
Udah capek baca tulisan ini? Udah? Mau lanjut atau berhenti? Haha. Sama sih kami juga saat ngikuti walking tour ini lumayan capek. 10.000 langkah ada deh kayaknya. Padahal ini belum naik turun masuk perkampungan :"))
Sepertinya Teh Echie paham peserta menglelah. Terbukti dari pada berhenti beli es jeruk, cireng, apalagi ya? Lupa. Mana ada yang ketinggalan gara-gara antrinya panjang. Yaudah deh kami berhenti sejenak di warung gelato. Yeay!
Ini warungnya bernuansa vintage alias jadul. Concern utama di gelato ini: halal gak ya? Mereka sih tulis klaim halal meskipun bukan sertifikasi halal MUI. Ya bismilah aja deh. Harganya lumayan terjangkau, paling murah belasan ribu. Ada rasa manis, buah, kopi, pilih aja sesuai selera. Oh ya mereka juga sediakan kopi :)) ga tau nyambungnya dimana gelato sama kopi.
Rasa gelatonya mirip sama es krim jaman dulu. Aku nyebutnya es tung-tung. Tau ga sih? Itu tuh yang dibuat tradisional dengan menggoyang-goyangkan bahan es krim disekitar garam. Nah rasanya tuh asin! Makanya kami menduga cara pembuatannya kayak gitu. Ga bisa dikonfirmasi sih terlalu malas nanya. Hehe.
"Jajan doang nih?"
Engga dong. Kami naik ke lantai 2. Ternyata bentuk bangunannya jadul. Alasnya masih pake tegel. Tau ga sih? Googling dah kalo gatau.
Ada tumpukan buku berbahasa belanda yang dibiarkan ngejogrok gitu aja. Sampe kami naik kebagian rooftopnya. Ini agak awkward deh. Didalem tuh ada jemuran baju penghuninya gitu :(( tujuannya apa masuk-masuk?
Ya karena bangunan ini juga salah satu yang masih dipertahankan keasliannya. Trus nih, di sebelah kanan bangunan ini ada tanah lapang. Luaaaaas banget! Dan dibelakang tanah ini berdiri bangunan tersembunyi. Jeng jeng, bangunan apakah itu?
Seingetku ini pemiliknya masih sama dengan pemilik Sekolah Kesatuan. Sayangnya kami cuma bisa liat dari kejauhan. Padahal penasaran banget itu tuh bangunan apa dan apa isinya....banyak penonton kecewa nih.
***
Dari Suryakencana kami beranjak menuju Klenteng Phan Ko Bio. Klenteng lagi? Iyaa kaan menyusuri jejak naga. Kali ini arahnya ke perkampungan. Letaknya di Pulo Geulis. Dari peta yang ditunjukkan Teh Echie, dinamakan Pulo karena ini letaknya seperti pulau yang dikelilingi Sungai Ciliwung. Jalanannya aja ga maen-maen loh. Mendaki gunung lewati lembah dijalan sempit. Paling muat 2 motor papasan aja.
Eh, sebelum ke Klenteng kami mengunjungi seseorang spesial dirumahnya. Beliau adalah perajin "rumah". Lagi-lagi aku lupa namanya mon maap. Rumah yang dimaksud ini adalah miniatur rumah yang terbuat dari bambu. Di kepercayaan Tionghoa, harta benda yang dimiliki bisa dibawa di alam selanjutnya. Dengan cara dikremasi dengan jasad mereka. Berhubung rumah kan gabisa dibawa dan dibakar gitu aja ya, jadi dibikinlah miniaturnya. Eh, maket ga sih namanya? Ya itulah dapet kan gambarannya?
Aku ga sempet ngefoto saking fokusnya sama cerita si bapak. Ga enak juga sih karena itu tuh bikinnya dirumah yang menurutku agak privasi. Meskipun bapaknya ngebolehin ambil gambar, sih...
Jangan dikira harganya murah ya maket ini. Mulai jutaan sampe puluhan juta bisa. Kok mahal? Yha bikinnya susah cuy. Misal punya rumah tingkat tiga, ya maketnya dibikin tingkat tiga. Semirip mungkin dengan kondisi asli rumah yang dipunyai.
Dari cerita si bapak, sekarang makin sulit menemukan perajin rumah ini. Bisa dimaklumi sebab orang meninggal kan nggak bisa diprediksi yah. Alhasil pemasukannya nggak rutin ada. Kurang menjanjikan untuk menghidupi sehari-hari.
Setelah mendengarkan cerita si bapak, kami ke Klenteng Phan Ko Bio. Kabarnya Klenteng ini merupakan yang tertua di Bogor. Apa yang menarik dari Klenteng Phan Ko Bio? Ditempat ini ada warna Islam yang berdampingan. Di bagian belakang ada petilasan Prabu Siliwangi. Aku nggak terlalu paham yuyur intinya ini tuh menunjukkan betapa multikulturalnya Indonesia. Dan penggambaran harmonisnya hubungan antar manusia meskipun kepercayaan berbeda.
Bahkan katanya nih beberapa kali dijadikan bahan study banding tentang toleransi beragama. Salut yah. Berharap sih semoga dengan Bhinneka Tunggal Ika kita beneran menerapkan dengan baik. Nggak ada gesekan SARA hari ini dan selamanya.
Bentar, mulai capek dan bosen nulisnya HAHA. Masih ada beberapa titik lagi yang kami kunjungi. Banyak ya? Iya yuyur ni kayak ngejar titik satu ke lainnya. Direkomendasikan badan dalam kondisi fit deh ngikutin rute Suryakencana.
Titik berikutnya adalah...
- Pulasara. Ini bangunan yang akan mengkremasi jenazah. Cuma liat depannya doang sih ga sampe masuk jadi kurang berkesan. Semacam fyi aja :"D
![]() |
| Foto milik Bogor Historical Walk |
- Toko roti Tan Ek Tjoan. Masih ada sampe sekarang tapi bangunannya udah agak nggak terawat (lagi).
Setelahnya udah ngga fokus ke titik mana lagi :") yha gimana yha posisi siang panas + laper + naik turun rutenya. Mungkin ini sebagai masukan sih siapa tau akang tetehnya baca ini hihi. Titik kunjungan ngga perlu banyak-banyak yang penting intens(?) dan mendalam aja.
Jadinya tetep berasa fun tanpa memberatkan. Perhentian terakhir sekaligus titik berpisahnya adalah Bank Mandiri. Bank ini juga bangunan bersejarah. Ada prasasti pengesahannya.
![]() |
| Foto milik Bogor Historical Walk |
Sooo that's it. Buatku ini pengalaman yang bener-bener menyenangkan!! Nggak akan didapat kalau jalan sendiri. Sadar diri pula aku tuh jarang baca buku sejarah. Kecuali fiksi sejarah :P Rute Bogor Historical Walk ini ada beberapa lhooo. Bahkan ada yang dimalam hari. Mantap gak tuh??? Kepo sih tapi nanti dulu deh nunggu ada temennya aku mah wkwkwk.
Perjalanam hari itu semakin lengkap karena ditraktir makan daging ama sugar daddy temen baruwww. Bhaique kita tutup dengan bacaan hamdalah.
Kamu pernah ikutan walking tour juga? Share donggg keseruannya. Siapa tau aku berminat xixi :3
Siapapun yang bilang media sosial menghubungkan manusia, benarlah adanya. Aku nggak pernah nyangka bakal dapet partner traveling disini! Yha kalo boleh jujur sih banyak alumni SMP, SMA maupun kuliah hijrah ke Jabodetabek. But pardon me yang kurang pandai jaga silaturahmi dan basa basi. Semua itu hanya berakhir di nonton instagram story (oops no pun intended).
Sampai akhirnya melihat temen dari SMP update di Bogor. AYO KITA MAEEEN! Padahal dianya mah penempatan Tangsel. LOL. Itulah keistimewaan Jabodetabek. Berasa deket meski lintas provinsi ya kan.
Yang kepikiran pertama di otak tentu saja Curug. Bogor kan identik dengan dataran tinggi. Ngga bisa dong melewatkan curug. Problematikanya adalah letak Curug yang bagus (dan instagramable) itu jauh. Ada kali perjalanan 2 jam. Dan cuma bisa naik motor maklum rakyat jelata ya.
Yaudah cari yang deket sekitaran Sentul, maybe? Ketemu tuh yang namanya Leuwi Hejo. Diliat sih ya masih manusiawi lah. Perjalanan 1-1,5 jam motoran. Gapapa, let's try it!
Eh bentar meluruskan dikit ya. Seperti halnya Semarang, Bogor itu dibagi menjadi Kota dan Kabupaten. Kota: yang walikotanya Pak Bima Arya. Lokasi dimana Kebun Raya Bogor berada. Kabupaten: lokasi dimana curug, Puncak, dan Taman Safari berada.
Lanjut.
Sesungguhnya aku ga apal banget arahnya LOL. Yang kuingat hanyalah kearah Pasar Citeureup tuh ada belok kiri udah lanjut kesitu. Pake maps pun nyampe kok sesuai titik (dikata ojek online). Kupikir karena masuk Babakan Madang tuh deket tapi ternyata luas ya HAHAHA perjalanannya sekitar 1 jam dari lokasiku (SMPN 1 Citeureup).
Perjalanannya naik turun layaknya mendaki gunung lewati lembah. Sepanjang jalan kenangan ini pemandangannya bagus buanget. Anak kota yang lama gak liat rerimbunan + langit cerah pasti suka banget :') dalam hatiku WAAHHH WAAHHH.... oh ya semakin mendekat ke Leuwi Hejo nih sinyal Indosat hilang. Sinyal XL masih mendingan, minimal bisa buat baca maps biar ga nyasar cenah.
Titik akhir pada maps nggak langsung menunjuk ke Curugnya. Melainkan pos penjagaan (?) pertama. Dari situ kami diarahkan ke parkiran motor yang mirip-mirip rumah warga. Agak bingung sih ini akses masuknya darimana. Nggak keliatan ada palang gede gitu lho yang menggambarkan lokasi. Malahan masuknya tuh lewat pemukiman warga.
Tapi harusnya tuh ada, cuma kami aja nggak ngerti (dan nggak nyari tau) dimanakah titik masuk lainnya itu. Begitulah. Diawal kami udah ditarik retribusi parkir. Rp 10.000 kalo ga salah. Oemji kok pelupa yah huft. Eh pas pulang tetep ditarik lagi dengan embel-embel "seikhlasnya". Aku sempat baca salah satu bloger pernah nulis, jangan kaget berwisata di Jawa Barat. Banyak pungutan liar yang nominalnya buat orang Jawa Tengah tuh gede. Eh kok kejadian beneran :)) untuk tiket masuknya (lagi-lagi seingetku) Rp 25.000.
Jadi si Leuwi Hejo ini lumayan panjang alirannya. Ada 1 curug gede dan beberapa macem sungai kecil. Sepertinya tempat ini udah lumayan primadona. Terbukti pas kesana tuh di curugnya kayak cendol. Udah ogah banget nyebur di curug gedenya padahal pengen merasakan kesegaran *hazeq. Selain itu rutenya juga bisa dipilih sesuai kemampuan.
Mau cukup dibawah sambil menikmati pemandangan? Bisa. Mau naik lagi semakin tinggi? Bisa. Asalkan kuat nanjaknya. Lumayan curam dan sempit. Misal papasan dengan orang dari arah sebaliknya, harus hati-hati banget make sure nggak kesenggol dan jatuh. Pun semakin naik keatas, tangganya tuh baru berupa tanah yang dibentuk undakan. Nggak dilapisi batu maupun semen.
Tapi tenang aja, di pintu masuk ada kok yang jual tongkat hiking itu buat pegangan. Akhirnya setelah ngecek kanan kiri atas bawah, dapet deh kami spot untuk menepi. Ya literally menepi karena di spot ini masih kosong. Agak sedikit merasa aman buat buka masker HEHE. Jalurnya macem motong pematang kebon gitu sih. Bukan jalur yang udah dibuat untuk jalan manusia. Paham kan? Plis paham.
Ternyata meskipun judulnya curug ya dia tetep....panas :)) kami hanya bertahan sampai jam 11. Antisipasi juga sih biar nggak pulang pas hujan. Rempong, shay. Kami cuma duduk, ngobrol, makan bekal buah dari rumah, dia nyebur aku nyemplung kaki doang :P HAHA. Lumayan puas buatkuuu. Dan semakin siang tuh semakin rame. Banyak banget yang dateng rombongan.
![]() |
| Lupa kefoto pas udah mau habis |
Leuwi Hejo bisalah untuk alternatif mau cebur-ceburan tapi tetep ga jauh dari pusat kota.
![]() |
| Someone is happy! |
PS: ternyata ga banyak foto-foto malah adanya video~
Tempat ini menjadi penutup dari one day trip di Kota Bogor. Sebuah kafe buku hasil kepoin akun twitter Literary Base. Sebuah utas rekomendasi tempat asyik buat baca buku.
Kesan pertama: kok kecil yha? Emang didepan pintu masuk itu hanya ada beberapa bangku. Nah ternyata disamping masih ada bangku dengan dinding berhiaskan mural.
Ini saya ambil dari dalam ya. Jadi emang ada ruangan indoor dan outdoor. Saat itu kami pilih indoor karena mau ngadem. Hahaha. Maklum shay motoran kan mayan panas dan gerah. Protokol kesehatan yang diterapkan hanya ada wastafel. Untuk pengukuran temperatur tubuh nggak ada.
Baca:
Bogor One Day Trip: Kedai Kita
Kabar baiknya, lokasi ngga jauh dari Kedai Kita maupun Kebun Raya Bogor. Nggak keliatan mencolok sih tapi cukup strategis. Lokasinya ada di jejeran ruko gitu. Cukup unik karena ada 2 tempat ternyata. Baru ngeh saat kepoin instagramnya. Kok yang saya datengin kecil, sedangkan yang di instagram keliatan luas? Jadi posisi dia itu ada di ujung kanan dan ujung kiri. Yang ujung kiri lebih luas dan besar.
Nah, meskipun ada Coffee di namanya, dia menyediakan menu non-kopi juga. Seperti yang saya pesan ini: Earl Grey.
Untuk artisan tea semua disuguhkan dalam keadaan panas. Beda dengan coffee yang bisa pilih panas maupun dingin (iced). Pesanan saya dateng bersama 2 cookies. Harganya Rp25.000 sudah termasuk pajak (sepertinya). Saya cek struk ngga ada tambahan pajak soalnya. Rasanya? Cucok deh paduan cookies dan artisan tea-nya.
Lalu ada buku apa sajakah disini? BANYAK.
Menyenangkan ternyata liat buku-buku ini. Genre-nya lumayan beragam lho. Bahkan ada buku 23 episentrum dari Teh Adenita yang saya suka postingannya di instagram itu. Ada juga buku kedokteran yang segede gaban.
"Kayaknya yang punya mahasiswa kedokteran, deh!" - kata temen saya.
Waktu saya posting di instagram ternyata ada yang ngeh. Memang ini punya dokter @seriousya (di instagram). Doi sering bagiin tips MP-Asi gitu katanya. Follower saya ini yang ngasih tau ini emang ibu 1 anak. Hahaha. Seneng sih ternyata ada yang notice tempat yang aku kira "hanya" pembaca buku tau.
Suasana disini lumayan enaaak. Faktor lokasi dengan pepohonan ringan bisa jadi mendukung. Paling saya suka: playlist-nya. Cocok banget buat temen baca buku. Nggak berisik tapi nggak slow banget. Pas ditengah. Oh ya, selama disini saya cuma buka masker waktu makan dan minum. Selebihnya (mostly I think) masker tetep on. Termasuk saat baca buku.
Kurang lebih 3 jam disini menghabiskan satu novel: Orang-orang Proyek karya Ahmad Tohari. Saya duduk di sofa yang sayangnya keliatan kotor dan kurang terawat. Masukin nih buat pengelolanya (iya kalo baca hahaha). Saya menyempatkan sholat juga disini. Alhamdulillah ada musholanya. Meskipun sepertinya nggak ditujukan untuk pengunjung. Lebih ke karyawan. Tapi tetep lumayan dong daripada menunda sholat.
Toiletnya bersih, vibes-nya nature banget. Alas yang digunakan bukan keramik tapi batu-batu gitu. Lalu ada tanaman hijau dengan wadah botol bekas. Cukup menarik perhatian saya sih. Hehe.
Puas banget menghabiskan waktu disini. Kalo aja ini kafe deket sama kosan mungkin saya udah jadi pelanggan tetap dengan menghabiskan akhir pekan disini. Buku-bukunya itu lhoo menggoda banget!
Destinasi selanjutnya setelah Kebun Raya Bogor adalah Kedai Kita. Tempat makan ini direkomendasikan temen saya di hari pertama kepindahan. Maklum ya doi emang tukang wisata kuliner. Bermanfaat ternyata punya temen hobi makan. Spesialisasinya katanya sih pizza yang dibakar di tungku. Ngga baca detailnya sih kayak gimana. Yang kami perhatiin, jauh nggak ya dari Kebun Raya Bogor?
Ternyata enggak! Paling cuma 10 menitan itupun karena kami pelan-pelan sambil baca peta. Tempatnya agak nyempil bukan di jalan utama. Tapi emang berjejeran itu tempat makan. Berseberangan dengan tempat jual pie apel.
Tempatnya lebih kecil daripada ekspektasi kami. Ada 2 lantai yang bisa dipilih. Baik dilantai 1 maupun 2 tersedia pilihan duduk di kursi atau lesehan. Kami pilih lantai 2 dengan pertimbangan sekalian liat pemandangan. Di kursi aja karena males lepas sepatu.
Untuk pizza-nya nothing special sih. Hal ini juga diamini temen dan kakak iparku. Memang dari segi bentuk lebih tipis kulitnya dibanding pizza terkenal itu. Lalu di pinggirannya keliatan smokey gitu. Tapi nggak ada cita rasa yang bikin ngeh apa bedanya.
Ternyata enggak! Paling cuma 10 menitan itupun karena kami pelan-pelan sambil baca peta. Tempatnya agak nyempil bukan di jalan utama. Tapi emang berjejeran itu tempat makan. Berseberangan dengan tempat jual pie apel.
Tempatnya lebih kecil daripada ekspektasi kami. Ada 2 lantai yang bisa dipilih. Baik dilantai 1 maupun 2 tersedia pilihan duduk di kursi atau lesehan. Kami pilih lantai 2 dengan pertimbangan sekalian liat pemandangan. Di kursi aja karena males lepas sepatu.
Berdasarkan pengamatan saya, pengunjung tempat ini lumayan bervariasi. Ada remaja, anak muda macem saya, geng ibu-ibu arisan yang cukup berumur pun ada. Bisa saya simpulkan menu makanannya cocok untuk segala umur.
Bisa jadi faktor lokasinya juga sih. Tempatnya adem. Nggak berisik. Entah kenapa menurut saya daerahnya punya vibes Dago-nya Bandung. Enakeun gitu.
Sesuai dengan saran temen saya, kami pesen pizza. Belakangan saya dikasih rekomendasi kakak ipar kalau hot plate-nya enak. Sekilas liat pengunjung lain keliatan menggoda sih. Sayang nggak pesen takut kekenyangan. Tidak baik, bukan?
![]() |
| BBQ Smoked Beef |
Untuk pizza-nya nothing special sih. Hal ini juga diamini temen dan kakak iparku. Memang dari segi bentuk lebih tipis kulitnya dibanding pizza terkenal itu. Lalu di pinggirannya keliatan smokey gitu. Tapi nggak ada cita rasa yang bikin ngeh apa bedanya.
Enak? Ya selayaknya pizza. Harga lumayan terjangkau. Kisaran Rp50.000-Rp80.000 tergantung topping. Terbagi jadi 6 slices dan kenyang sih dimakan berdua.
Pisang Bakar Cokelat
Sambil nunggu pizza-nya jadi kami pesan pisang bakar. Udah laper banget habis keliling Kebun Raya tuh. Ini namanya pisang bakar cokelat apa ya, lupa. Dari tampilannya aja sungguh mengagetkan hati ini. Toppingnya tumpah banget. Kirain bakal meresap ke pisangnya. Ternyata pisang dibakar aja. Trus kayak dituang topping ini.
Itungannya kebanyakan sih ini malah mubazir nyisa banyak itu topping cokelatnya. Padahal kami berdua sweeth tooth lho. Tetep aja nggak kuat ngabisin topping sebanyak itu.
Untuk minumnya lupa pesen apa hahaha. Soalnya awal saya pesen es kelapa muda kok habis. Akhirnya cuma ngikut temen. Sepertinya lemonade deh. Lumayan seger diminum siang-siang habis sepedaan ya kannn....
Baca: Bogor One Day Trip: Kebun Raya Bogor
Overall sih lumayan ya. Nggak yang waw banget. Sesuai dengan banderol harganya. Banyak pilihannya pun. Pas aja kami nggak pesen banyak. Mau balik lagi ah buat cobain hot plate-nya. Yuk!
Itungannya kebanyakan sih ini malah mubazir nyisa banyak itu topping cokelatnya. Padahal kami berdua sweeth tooth lho. Tetep aja nggak kuat ngabisin topping sebanyak itu.
Untuk minumnya lupa pesen apa hahaha. Soalnya awal saya pesen es kelapa muda kok habis. Akhirnya cuma ngikut temen. Sepertinya lemonade deh. Lumayan seger diminum siang-siang habis sepedaan ya kannn....
Baca: Bogor One Day Trip: Kebun Raya Bogor
Overall sih lumayan ya. Nggak yang waw banget. Sesuai dengan banderol harganya. Banyak pilihannya pun. Pas aja kami nggak pesen banyak. Mau balik lagi ah buat cobain hot plate-nya. Yuk!
Akhirnya! 1,5 bulan menetap di (Kabupaten) Bogor. Kesampean jalan-jalan agak lama. Sebelumnya keluar cuma ke Cibinong City Mal! Haha. Maklum deh anak baru cari tempat "aman" dulu. Yang nggak bikin culture shock gituu.
Membuat daftar tempat yang akan dikunjungi ketika berada di suatu daerah itu menyenangkan. Aku jadi bersemangat menanti hari libur untuk ((menjelajah))! Siapa yang sama kayak aku, cung?
Baca: Berkunjung ke Rumah Atsiri Indonesia: Selalu Nagih!
Kali ini kami (yep aku dan teman kos) udah berencana untuk ke Kota Bogor. Udah tau belum Bogor tuh ada Kota dan Kabupaten? Baru tau? Sama, aku juga kok. Hahaha. Kabupaten Bogor tuh luas, yang sering masuk berita karena macet di Puncak saat musim libur. Tapi kali ini kami malah ke Kota. Ada satu tempat yang udah masuk daftar: Kebun Raya Bogor.
Kali ini kami (yep aku dan teman kos) udah berencana untuk ke Kota Bogor. Udah tau belum Bogor tuh ada Kota dan Kabupaten? Baru tau? Sama, aku juga kok. Hahaha. Kabupaten Bogor tuh luas, yang sering masuk berita karena macet di Puncak saat musim libur. Tapi kali ini kami malah ke Kota. Ada satu tempat yang udah masuk daftar: Kebun Raya Bogor.
![]() |
| Peta Kebun Raya Bogor |
Aku memang suka dengan wisata alam. Lebih menenangkan, beneran refreshing. Apalagi di masa pandemi yang gak kelar-kelar ini. Tempat terbuka dan sirkulasi udara baik disarankan dibanding mal/tempat lain yang tertutup. Meskipun ya nggak berarti bebas penularan Covid-19 sih. Kan tetep aja namanya tempat wisata tuh isinya manusia dari beragam asal.
Baca: A Trip To: Kebun Raya Banua Banjarbaru
Baca: A Trip To: Kebun Raya Banua Banjarbaru
Sehari sebelum jalan aku udah beli tiket Kebun Raya Bogor secara online. Lewat apa? Aplikasi Traveloka andalanku dong.
Bagi yang belum pernah pake aplikasi kni, caranya gampang banget kok. Ga perlu ngeprint. Cukup tunjukkan tiket dalam bentuk pdf di smartphone. Disitu ada QR code untuk discan. Kasih liat ke petugas. Kelar deh.
Harga tiket masuk Kebun Raya Bogor sebesar Rp15.000. Biar puas kelilingnya aku ambil bundling sewa sepeda sebesar Rp25.000/jam. Total biaya untuk 1 orang adalah Rp40.000. Karena aku berdua ditambah parkir motor Rp5.000, total biaya Rp80.000. Masih lumayan terjangkau. Selain sewa sepeda, Kebun Raya Bogor menawarkan sewa mobil wisata juga. Lebih lengkapnya bisa intip instagram/website mereka ya. Cukup lengkap kok informasinya.
Apakah Kebun Raya Bogor buka di tanggal merah? Iya, buka. Malahan jam bukanya maju menjadi 07.00 WIB. Hari biasa pukul 08.00 WIB.
Apakah berkunjung ke Kebun Raya Bogor wajib menunjukkan hasil rapid test? Enggak. Cukup tunjukkan tiket aja bisa masuk kok. Katanya emang sempat ada aturan ini. Sekarang ditiadakan.
Perjalanan Citeureup-Kebun Raya Bogor sekitar 45 menit. Jalan Raya Jakarta-Bogor lumayan padet ya shay. Mana pada ga sabaran sering klakson pula. Kami masuk Kebun Raya Bogor melalui pintu 1. Rame? Banget! Kayaknya emang pada demen yak kesini. Aku sih demen juga kalo di Semarang ada Kebun Raya. My kind of place gitu. Oh ya di gerbang juga banyak yang nawarin tikar plastik sebagai alas duduk. Piknik ala-ala, gitu.
Kami langsung ambil sepeda. Ada 2 jenis yang bisa disewa. Biasa dan sepeda gunung. Biasa tuh warna merah. Kata kakakku itu sumbangan telkomsel. Banyak di Jabodetabek. Ada keranjang didepan. Sepeda gunung ya yang lebih gahar (?) wkw. Untuk sepeda gunung lebih mahal Rp5.000 yak.
![]() |
| Nyepeda, yuk! |
Cus lah kami keliling Kebun Raya. Literally keliling. Ngga terlalu ngamatin tanamannya HAHA. Parah banget sik. Liat plang aja engga. Cuma liat sekilas peta diawal. Lalu sisanya ngikutin arah jalan aja. Sebenernya pengen eksplor lebih detail. Tapi berhubung ini berdua kan ya dan aku pembonceng dari Citeureup ya kompromi aja apa maunya. Yang penting sama-sama hepi dan menikmati.
![]() |
| Sayang, airnya butek |
Jujur sih selama disini seneng banget huhu. Hawanya adem, menenangkan, suara burung dan hewan lainnya bersahutan. Banyak keluarga, rombongan buibu, remaja tanggung, sampe pasangan bergandengan tangan. Yang terakhir itu emang bikin iri *jomlo detected*
Kami fokus sepedaan aja. Kirain jalanan bakal rata. Eh ternyata ada banyak tanjakan. Lumayan capeeek. Yang nggak seneng sih mungkin karena orang ngerasa ini tempat terbuka ya. Ada banyak yang ngga pake masker. Diturunin sedagu. Atau dicantolin gitu aja pake strap. Nah kesalahannya pake strap ini sih. Udahlah buat fasyun aja ga usah ngadi-ngadi dicantolin. Sama aja kan itu kotor juga apa gunanyaa masker dong *gemes*
Puas nggak kesini? Enggak! Hahaha. Kurang lama dan eksplor. Kami cuma keliling aja. Masih ada Museum Zoologi, Laboratorium, Gedung Herbarium, dll yang belum kami liat. Maunya sih kesini lagi kalo ada kesempatan. Ayok, siapa mau ikut?
Subscribe to:
Posts (Atom)




















%20Sederhana.jpeg)
























