Perpustakaan
Ih...ga nyangka...bisa juga bikin series ini. Mau tulis keliling perpustakaan di Korea kok setelah dicek masih di Seoul aja. Gapapa gapapa. Tandanya harus maen keliling Korea. Yuklah dicek mana aja yang udah didatengin!

National Library of Korea



Perpustakaan nasionalnya Korea. Bisa dibilang setara Perpusnas. Isi dari perpustakaannya repositori arsip nasional Korea. Maka dari itu, beda dari perpustakaan lain yang bisa asal masuk aja, disini pengunjung harus mendaftarkan diri.

Apakah perlu reservasi online? Nggak. Pas dateng, samperin aja meja resepsionis di sebelah kiri. Kalau udah punya ARC bisa daftar keanggotaan. Kalau ga punya? Bisa minta kartu akses sebagai tamu. Pengunjung dibatasi usia 16 tahun keatas. 

Laptop Zone


Ada 5 lantai yang bisa dieksplor. Tempat duduknya terbilang banyak dibanding perpustakaan distrik *yaiyalah. Toiletnya nyaman berbidet ((penting)). Ada foodcourt. Lalu yang unik ada bilik telepon!


Bentuknya mirip dengan yang di London itu. Yaah walaupun belum pernah kesana. Hihi.

Perpustakaannya lumayan riding the wave, aku menemukan satu rak yang isinya rekomendasi buku yang dibaca member BTS.


Kalaupun belum minat baca buku, bisa menikmati museumnya tanpa harus registrasi. Tentang sejarah percetakan di Korea, mulai dari mesin tik, komputer jadul, tipe kertas, dll. Ada juga bagian immersive collection yang memadukan literasi dengan teknologi. Bisa laah buat museum date tipis-tipis~



Waktu operasional
Setiap hari 09.00 - 18.00
Libur setiap Senin minggu ke-2 dan ke-4 tiap bulan, Seollal dan Chuseok

Cheongun Literature Library (청운문학도서관)



Lanjut ke perpustakaan tematik. Katanya viral di tiktok. Lokasinya nggak jauh dari Gyeongbukgung Palace. Jadi kalau cuma punya waktu sebentar di Seoul masih bisa banget berkunjung kesini. Menurutku bakal estetik ketika ada tumpukan salju. Coba nanti musim dingin dateng lagi.


Yang menantang disini tuh medannya. Agak naik turun shay. Maklum sebelahnya memang ada trail Inwangsan untuk hiking alias 등산. Tapi perjalanan menuju perpustakaannya sungguh estetik. Penuh dengan rimbunnya daun, berasa bukan di kota. 

Bangunannya ada 2 lantai. Yang pertama lantai 1 disinilah favorit pengunjung. 



Kayak bukan ke perpustakaan, lebih ke rumah tradisional Korea alias hanok. Nyaman banget lho duduk disini. Udah ada wifi dan ((colokan)) pula. Kenapa desain dia tradisional? Karena fokusnya ke puisi, esai, literatur klasik. Ceritanya biar bisa dapet inspirasi dari alam gitu~ Ceilah.

Kalau mau pinjem buku baru deh turun ke basemen yang isinya koleksi lebih banyak. Termasuk kalau butuh fasilitas seperti toilet atau minum, bisa turun. Langganan berbagai macam koran dan majalah, mantap dah!


Waktu operasional
Selasa - Jumat 09.00 - 21.00
Sabtu - Minggu 09.00 - 19.00
Libur setiap Senin

Seoul Metropolitan Library


Perpustakaan selanjutnya yang gampang aksesnya karena satu area sama City Hall alias Balai Kota Seoul. Bangunannya ikonik dengan struktur yang dipertahankan dari tahun 1926. Kenyamanannya ya tentuu saja nyaman. Terutama toiletnya sih aku baru tau ini ada bidetnya. LOL. Penting kalau misal lagi ada di sekitaran sini dan butuh toilet berbidet, numpang aja.

Sejujurnya belum pernah stay lama disini. Cuma baca 1 picture book bocil aja habis itu udah. Kata temenku sih ada bagian koleksi negara lain, hasil dari donasi. 

Kalau mau sekalian ambil foto bisa banget melipir ke sebelahnya: Seoul Gallery (서울갤러리) tepatnya di lantai B1 dan B2. 

Waktu operasional
Selasa - Jumat 09.00 - 21.00
Sabtu - Minggu 09.00 - 18.00
Libur setiap Senin

Bangbae Forest Environment Library



Ada kemiripan dengan Cheongun Library dimana sebelahnya persis tuh ada trail tipis-tipis. Ada gazebonya pula. Bisa melipir sejenak keluar kalau bosan didalam ruangan. 



Kenapa namanya environment library? Karena bangunannya tuh dominan bahan dan warna kayu. Bagian tengahnya tuh open jadi pengunjung bisa ngerasain angin sepoi-sepoi. Nggak berhadapan juga dengan tembok. Enakeun deh~

Salah satu perpustakaan yang jam bukanya lama. Sampe jam 10 malem mantep ga tuh.


Waktu operasional
Senin - Kamis 09.00 - 22.00
Sabtu - Minggu 09.00 - 18.00
Libur setiap Jumat

Starfield Library



Ada beberapa perdebatan apakah ini bisa dibilang perpustakaan? Atau tempat foto-foto? Aku pun dateng kesini cuma mampir foto habis itu...yaudah :)) saking ramenya. Rasanya tuh mau baca disitu nggak bisa konsentrasi saking isinya orang banyak. Harap maklum karena secara tujuan dibangunnya memang untuk culture plaza dibanding perpustakaan konvensional dengan ke-hening-annya.

Buku yang dipajang betulan buku ya, bukan mock up. Boleh dibaca ditempat asal dikembalikan. Menurutku pribadi masih bisa banget dikategorikan perpustakaan. Karena 1) tersedia kursi dan meja untuk baca, 2) ada aktivitas literasi berjalan. Seperti waktu aku berkunjung tepat ada bedah buku salah satu chef jebolan Culinary War.



Enaknya disini nyatu dengan mal dan subway! Jadi nggak repot carinya. Oh ya, di area COEX ada juga musholanya. Paket komplit kan~

Buka setiap hari 10.30 - 22.00

National Assembly Library



Perpustakaan yang dikunjungi karena dapet fasilitas field trip dari kampus. Letaknya di gedung National Assembly di Yeouido. Ini tuh fungsinya semacam DPR di Indonesia.

Menurutku ini salah satu perpustakaan yang koleksinya keren sih. Ada beragam langganan jurnal. Koleksi buku dibagi tiap geografi wilayah. Misalnya Asia Tenggara, Timur Tengah, dll. Bahkan aku menemukan koleksi Indonesia dan Palestina disini. Keren euy.







Lalu untuk fasilitasnya juga setingkat lah sama National Library of Korea. Ada bilik khusus dengerin musik, nonton video, akses digital. Ruangannya modern dan terang-benderang. Terlihat mewah.

Untuk bisa masuk harus registrasi dulu di website National Assembly. Dan ada minimal umur, yaitu 16 tahun keatas. 

Waktu operasional
Senin - Jumat 09.00 - 21.00
Sabtu - Minggu 09.00 - 17.00
Libur setiap Sabtu minggu kedua dan keempat

Songpa Book Museum



Yang ini bukan perpustakaan sih, tapi lebih ke museum. Cumaaa...disediakan juga buku dan area bacanya. Buka di tahun 2019, museum ini tuh museum pertama Korea yang didedikasikan untuk semua berbau buku. Isi pamerannya tentang sejarah literasi di Korea, mulai dari zaman dahulu kala sampai zaman modern. Kemudian ada rak buku untuk tren tiap masa.

Terdiri dari 3 lantai, dimana:

1. Basemen


Memajang artefak arsip peninggalan dari masa ke masa. Menarik sih bagaimana perubahan literasi di Korea terjadi. Terutama di awal menggunakan aksara hanja-chinese, lalu berubah menjadi hangeul sejak masa Raja Sejong. Banyak loh kata dari bahasa Korea sebenarnya serapan dari bahasa China.

2. Lantai 1
Disini are baca yang kubilang, menghubungkan antara basemen dengan lantai 2. Temboknya dipenuhi dengan rak buku, lalu tengah ada undakan untuk area baca. Waktu aku kesini banyak orang tua dan anak menghabiskan waktu bersama untuk menikmati buku.

3. Lantai 2


Menurutku disini paling seru. Vibes museum modernnya berasa! Tema-nya pameran terkait buku anak-anak. Nggak heran desainnya warna warni mencolok. Seperti halnya museum di Korea, ada bagian interaktif yang bisa dicobain. Disini berupa sudut untuk foto dengan latar belakang yang kita bisa pilih. Hehe, cute abiez!


Waktu operasional
Selasa - Minggu 10.00 - 18.00
Libur setiap Senin, Seollal dan Chuseok

***

Secara umum, aturan perpustakaan di Seoul tuh nggak boleh berisik. Detailnya pasti ada di setiap perpustakaan, cuma biasanya dalam bahasa Korea. Sediakan waktu sejenak untuk translate-nya. Jangan sampai salah kayak aku, pernah duduk di area bocil :)) untung nyadar sendiri tanpa harus diingetin.

Boleh bawa minum, kopi gitu pun boleh di area tertentu. Makanan yang nggak boleh. Ada perpustakaan yang harus naruh barang di loker, ada yang enggak. Biasanya yang enggak ini perpustakaan distrik. Fasilitas umumnya wifi gratis, toilet, dan dispenser minum. Kadang disediakan teh! 

Semua perpustakaan yang aku tulis disini gratis tis tis untuk didatengin. Pinjem buku atau menggunakan fasilitasnya pun gratis asal ada kartu keanggotaan. Bisa request buku untuk kalau yang dicari nggak ada.

Jadi kayak gini nih negara maju. Perpustakaannya bukan lagi di tiap kota/kabupaten, tapi di tiap distrik. Malah di distrik dibagi lagi, ada perpustakaan khusus anak-anak, perpustakaan orang tua, dan perpustakaan umum. Sangat aksesibel dan mengakomodir segala usia. Jam buka pun ramah untuk semua kalangan.

Pemerintahnya sadar bahwa literasi itu penting untuk kemajuan sebuah negara. Sebagai negara demokrasi sih sepertinya sudah layak, dimana 70% anak muda (25-34 tahun) lulusan kuliah atau 56% (25-64) usia produktifnya lulusan kuliah. Artinya gap pendidikannya, tingkat intelektualitasnya bisa dipertanggungjawabkan. Bobot suara 1 orang dan yang lain nggak jauh.

Beda dengan Indonesia yang sarjananya masih 13-19%. Nggak imbang dong suara orang berpendidikan tinggi disamakan bobotnya dengan yang nggak berpendidikan? Ah sudahlah nggak mau bahas lebih jauh :))

Perpustakaan disini tuh juga nggak masalah banget lho dateng duduk tidur. Apa yaa, jadi semacam safe space buat warga. Pas musim panas, jadi tempat berlindung dari terik matahari. Di musim dingin, bisa untuk tempat menghangatkan tubuh. Tua, muda, laki-laki, perempuan, lokal, foreigner, nggak dibedakan!

***

Diantara perpustakaan ini, mana yang paling bikin penasaran dan pengen dikunjungi?
Salah satu tujuan tinggal di luar negeri yaitu mempelajari tata kelola negara yang mempengaruhi hajat hidup warganya. Apalagi jika kesempatan itu datang di negara maju. Sebagai warga negara berkembang tentu pertanyaan yang muncul di benak, "Apa sih yang membuat negara ini dikategorikan maju?" - selain dari sisi ekonomi. 


Sebagai manusia yang hobinya membaca, keberadaan perpustakaan dan habit membaca menarik untuk ditelisik. Sebelumnya aku udah pernah menuliskan bagaimana serunya Seoul Outdoor Library. 


Di postingan kali ini akan lebih spesifik bicara bagaimana sistem perpustakaan di Korea, khususnya di Seoul tempatku tinggal saat ini.

Struktur Administratif


Mirip dengan di Indonesia, perpustakaan disini berjenjang. Mulai tingkat nasional, provinsi (disebut dengan -do. Contoh: Gyeonggi-do), kota (disebut dengan -si. Contoh: Paju-si. Untuk Seoul karena metropolitan namanya menjadi Seoul Teukbyol-si). 


Dibawahnya masih ada lagi tingkat distrik disebut - gu. Contoh: Gangnam-gu, Seodamun-gu. Menariknya, di tingkat distrik ini pun terdiri dari beberapa perpustakaan kecil. Contohnya Gangdong Library ini.


Keberadaan perpustakaan benar-benar dekat dan nggak asing dengan masyarakat. Jangan heran ditengah kawasan pemukiman atau apartemen, akan ada 1 perpustakaan. Se-banyak dan se-aksesibel itu!

Meski ibaratnya ini perpus ((kecamatan)), nggak main-main lho fasilitasnya. Ada aktivitas rutin baik untuk anak, dewasa maupun lansia. Tersedia book sterilizer, bisa pinjam tab bahkan laptop ditempat. 


Paling gong sih buka sampai malam dan weekend :)) gak ada tuh drama cuma bisa ke perpustakaan di hari dan jam kerja aja. No no.

Malahan kebanyakan perpustakaan tutup di Senin. Kenapa hayo? Karena libur pegawainya di Senin. Ini peraturan cukup umum sih di Korea, beberapa kafe dan restoran menerapkan hal ini. Alasannya karena di weekend udah cukup melayani, jadi Senin-nya digunakan untuk "napas" dan berbenah.

Infrastruktur Cerdas dan Canggih


Selain di bangunan perpustakaannya, sarana pendukung lainnya nggak kalah banyak. Familiar dengan rak baca di KRL? Nah di Seoul udah next level. Tersedia rak canggih dimana warga bisa meminjam ataupun mengembalikan buku. Meski belum semua, di beberapa stasiun subway sudah ada. Di perpustakaan kampus sih udah ada juga ya. Kalau belum kebayang, yang aku tau tuh di Indonesia ada di Perpusnas dan Perpustakaan Jakarta (TIM). 


Sejujurnya aku belum pernah coba fasilitas pinjam meminjam buku baik di perpustakaan maupun bentuk mobile-nya. Kenapa? 


Karena mayoritas koleksi disini ber-aksara hangeul. Menangis dengan sertifikat TOPIK seadanya ini. LOL. Selain itu karena aku udah nyaman dengan Libby sih, bisa dibilang akses buku berbahasa Inggrisku sangat mudah~ Alhamdulillah~


Ngomongin tentang Libby, ya betul. Kartu perpustakaan di Korea juga tersedia di Libby! 


Baru tahu setelah hampir setahun tinggal disini :)) hanya sajaa...daftarnya perlu menggunakan ARC alias kartu identifikasi resmi sini. Harus memasukkan id number (mirip NIK) yang terkoneksi ke nomor telepon. Lumayan lah, disini koleksinya ada berbagai macam bahasa. Lebih ramah foreigner.


Bukan Sekadar Tempat Baca


Kalian termasuk bagian dari manusia yang kzl nggak ketika ada orang dateng ke perpustakaan buat foto-foto aja? Buatku, enggak. Dengan mereka hadir ke perpustakaan aja setidaknya menumbuhkan rasa penasaran akan literasi.

Seoul menurutku sangat paham akan hal tersebut. Terbukti dengan adanya perpustakan tematik. Dimana desainnya biasa kita sebut dengan Instagram-able. Aku yakin pasti nama Starfield Library nggak asing di telinga warga. Ya, salah satu tujuan wajib juga yang sering masuk ke daftar itinerary tour and travel.


Selain itu ada juga Songpa Book Museum dengan sejarahnya tentang buku. Jeongdok Library dengan cherry blossom-nya. Cheongun Literary Library dengan hanok-nya. Apapun dilakukan demi menarik pengunjung ke perpustakaan! Bravo~

No Register Register Club


Iya, untuk duduk dan baca buku disini nggak perlu daftar! Kecuali yang pernah kucoba di National Library of Korea dimana harus bikin kartu tamu dulu. Sisanya beneran nyelonong masuk aja ga masalah. Ga harus nitip tas. Isi buku tamu. Nunjukin KTP. Sangat mudah bagi kaum malu-malu kucing dan males nanya macam aku :))

***

Apalagi ya? Nanti deh kalau inget ditambahin. Alhamdulillah akhirnya kesampaian juga nulis tentang fasilitas publik disini. Postingan selanjutnya bakalan kasih detail perpustakaan mana aja yang udah aku cobain! Ada yang penasaran? *plis jawab ada~
Melanjutkan postingan sebelumnya, kali ini ada 2 perpustakaan lagi yang udah kukunjungi. Pertama Perpustakaan Kota Surabaya dan kedua Perpustakaan Kota Semarang. Yang disebut kedua ini tidak lain dan tidak bukan adalah kota kelahiranku.


Dengan kesadaran penuh aku bisa bilang Perpustakaan Kota Surabaya lebih baik daripada Kota Semarang. Kenapa? Ntar kujelasin selengkapnya dibawah.

3. Perpustakaan Kota Surabaya 


Pertama-tama, salut dengan letaknya yang strategis. Pas banget sekomplek sama Alun-alun kotanya. Akses mudah buanget.


Alamat: 
Jl. Gubernur Suryo No.15, Embong Kaliasin, Kec. Genteng, Surabaya, Jawa Timur 60271
Cara berkunjung:
Ke meja resepsionis. Tulis data diri. Titipkan barang di loker. Masuk deh!
Akses:
1. Bisa naik Suroboyo bus tujuan Pemuda. Turun di Alun
Jam berkunjung:
BUKA SETIAP HARI! Ih mantep ya. Dari 08.00-19.00 WIB
Yang bisa pinjem buku:
As always, yang KTP Surabaya aja
Koleksi buku:
Sejujurnya aku ngga sempet mengamati banyak disini. Yang ketangkap mataku sih koleksinya...agak jadul. Atau aku aja yang belum nemu dimana rak buku-buku terbaru. 

Seingetku waktu kesana juga masih ada perbaikan. Belum sepenuhnya sempurna *ahzek.




Dari sekilas kunjunganku sih ini lumayan kelihatan luas. Kayaknya kebantu sama langit-langitnya yang tinggi. Ga bau. Terang benderang, dengan kombinasi warna putih dan biru. Ada zona sendiri buat baca anak. Cuma yang terbuka gitu bukan dalam bentuk ruangan sendiri.


Lumayanlah ya untuk ukuran perpustakaan ibu kota provinsi.

4. Perpustakaan Kota Semarang



Sayang sekali perpustakaan kotaku malah....kureng. Dibanding ketiga lainnya :)) ngape si yaAllah gusti. Agak malu juga ini sebagai warganya.

Alamat:
Jl. Prof. Soedarto No.116, Sumurboto, Kec. Banyumanik, Kota Semarang, Jawa Tengah 50269
Cara berkunjung:
Dateng ke perpustakaan. Isi buku tamu elektronik di komputer yang tersedia.
Akses:
BRT atau feeder turun di Kantor Kecamatan Banyumanik. Ini satu komplek sama kecamatan.
Jam berkunjung:
Cuma buka weekday :))
Senin - Kamis 08.00 - 16.00
Jum'at 08.30 - 11.30
Yang bisa pinjem buku:
KTP Semarang aja. Bikin kartu anggota di meja resepsionis. Ntar bakal difoto dan langsung jadi kartunya. Bisa pinjem 2 buku selama 10 hari (seingetku).


Koleksi buku:
Lumayan update untuk koleksi bahasa Indonesia terutama novelnya. Untuk yang berbahasa Inggris gak liat.


Seingetku ini pertama kali aku dateng ke perpustakaan Kota Semarang. Sebelumnya cuma pernah ke perpustakaan Provinsi Jawa Tengah yang ada di Jl. Sriwijaya. Seingetku itupun ga membekas karena apa yaa, ga menarik aja dulu tuh. Kayak vibes perpustakaan jadul yang membosankanlah. Udah gitu jauh dari rumah. Petugas pun ga bisa dibilang ramah.

Nah perpustakaan Kota Semarang aku kirain yang dideket Tugu Muda itu. Ternyataa bukan. Mulai dari letaknya aja ini tuh menjorok masuk kedalam. Bagian depannya yang keliatan adalah Kantor Kecamatan Banyumanik. Sampe pas masuk tuh ragu-ragu, ini bener bukan ya perpustakaan? Ternyata bener.

Bagian luarnya pun kayak gedung ga kepake T_T suram T_T ada pajangan khas Semarang kayak patung dan lukisan gitu. Tapi nggak tertata dengan rapi. Pas masuk ke bagian rak buku....Allahu Akbar. Ingatanku langsung kembali di jaman SD yang mana aku sekolah di madrasah. Jadul buuaaanget. 



Raknya kayu model jadul. Pencahayaan remang-remang menuju gelap. Asli, merinding ini sih kalo sendirian. Gak nyaman sama buatku T_T monangeslah.


Untungnya deket rumah sih. Seenggaknya ada nilai plus. Oh ya deket juga sama kampus Undip. Kalo tau perpustakaannya sedeket ini sih, aku....pilih ke perpustakaan Widya Puraya kampus *LAH GIMANA SIK. Ya intinya sih masih banyak yang perlu diperbaiki. Bisa dimulai dari sarana prasarana dan pencahayaannya dulu biar gak merinding disko.

Ya begitulah ges ya 2 perpustakaan yang pernah kukunjungi. Semoga nanti ada kesempatannya buat ke perpustakaan di kota lain. Mungkin di luar Jawa? Pernah baca dari twitter kalau perpustakaan Kab Gowa bagus. 

Ada rekomendasi nggak nih, perpustakaan mana yang wajib dikunjungi?
Sebagai orang yang ngakunya si paling literasi, setiap berkunjung ke kota/kabupaten gue berusaha datengi perpustakaannya. Lebih tepatnya sih perpustakaan milik pemerintah. Baik itu pemerintah provinsi maupun pemerintah kota/kabupaten. 

Yang bakal gue bandingkan disini yaitu: Perpustakaan Kota Bogor, Perpustakaan Kota Semarang, Perpustakaan Kota Surabaya dan Perpustakaan Provinsi DKI Jakarta. Awalnya gue pengen bikin postingan terpisah. Tapi dipikir lagi kayaknya nggak bakal mendalam deh ulasan gue. Ntar malah kurang informatif, lagi. Jadilah gue bikin satu postingan ini.

Berikut adalah urutan perpustakaan paling bagus yang pernah gue kunjungi (doakan semoga gue bisa berkunjung ke semua perpustakaan di Indonesia!).

1. Perpustakaan Jakarta


Anak literasi pengguna sosmed pasti tau deh seberapa kerennya Perpustakaan Jakarta. Gue contek sedikit ya dari wikipedia. Perpustakaan ini dibangun sejak tahun 2013-an. Baru booming kembali setelah direvitalisasi dan akhirnya diresmikan pada tahun 2022. Nggak main-main, arsiteknya adalah Andra Matin. Salah satu arsitek tersohor di Indonesia pada saat itu.


Alamat: 
Taman Ismail Marzuki (TIM), Kelurahan Cikini, Kecamatan Menteng, Kota Administrasi Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta.

Cara berkunjung:
Dateng aja ke perpustakaannya. Bikin keanggotaan online di https://perpustakaan.jakarta.go.id/. Nah nanti tiap berkunjung buka webnya untuk dapetin scan barcode. Tunjukin barcode ke petugas. Begitu masuk, akan diminta naruh barang di loker dan dikasih tote bag bening. Ga boleh bawa makan dan minum ya. Habis itu udah deh masuk, pilih buku yang mau dibaca.

Akses (dikutip dari wikipedia):
1. Transjakarta Rute 5M [Kampung Melayu-Tanah Abang via Cikini] Turun di stop bus Simpang RP Soeroso arah Tanah Abang lalu berjalan kaki ke arah timur sejauh 400 M atau Taman Ismail Marzuki arah Kampung Melayu
2. Mikrotrans (Jak Lingko) 10A [Gondangdia-Cikini via Salemba Raya] Turun di Stop Mikrotrans Taman Ismail Marzuki 
3. KRL Commuter Line jalur Bogor [Jakarta Kota-Bogor/Depok/Nambo PP] Turun di stasiun Gondangdia, lalu berjalan ke arah selatan Stasiun Gondangdia dan menaiki Mikrotrans (Jak Lingko) 10A [Gondangdia-Cikini via Salemba Raya] naik dari Stop Mikrotrans Stasiun Gondangdia Selatan

Bagi warga luar Jeketi pake KRL turun di Stasiun Cikini lalu melanjutkan jalan pun masih terjangkau. Aksesnya bisa dibilang oke lah ya!

Jam berkunjung:
Asli ini mah dabes banget! Perpus Jakarta BUKA SETIAP HARI gengsss. Di Indonesia masih jarang perpustakaan pemerintah yang buka tiap hari. Di hari Senin-Kamis mulai pukul 09.00-17.00. Dan ini gong banget sih di akhir pekan justru jam bukanya lebih panjang. Dari 09.00-20.00. Inilah yang beneran dinamakan perpustakaan publik. Ngerti kebutuhan masyarakat ke perpustakaan justru banyaknya di hari libur kayak gue yang kerjanya di weekday. Luv banget gak sih? Luv lah!

Yang bisa pinjem buku:
Warga KTP Jakarta atau yang punya surat domisili Jakarta. Ini cukup umum ya. Keempat perpustakaan yang gue datengi menerapkan peraturan yang sama. Bagi para perantau ini bisa dengan baca ditempat.

Koleksi buku:
Nah ini gong banget. Koleksinya muantap djiwaaa! Majalah, buku anak-anak, fiksi, non fiksi, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, ada T_T menanges. Ensiklopedia mmuahal yang tebal itu ada. Buku yang lagi hits di jagat literasi, kebanyakan ada T_T  Beginilah ya ketika APBD dikelola dengan baik. 



Lupakan stigma perpustakaan yang remang-remang dan bau kaos kaki itu. Disini terang benderang. Sampai rak bukunya aja ada pencahayaan. Estetik asli. Pantesan waktu pembukaan kembali itu viral. Ga perlu lepas sepatu juga kecuali area anak seinget gue.

Emang sebagus itu gengs. Wajib dikunjungi kalau lagi maen ke Jeketi dah.
(maap fotonya ga estetik, sungkan foto-foto pas lagi rame banget LOL)

Poin plus lainnya:
1. Sering mengadakan acara literasi
2. Ada vending machine (ini ga tau cuma event apa ada terus)


3. Ada kafetaria diluar dengan buuuanyak pilihan
4. Sekomplek sama TIM jadi yaa ga bosen

Perpustakaan Jakarta juara di hatikyuuu <3 

2. Perpustakaan Kota Bogor



Ini perpustakaan paling deket sama domisili gue sekarang. Dan masih terjangkau untuk dikunjungi dibanding Perpustakaan Kabupaten Bogor, yang gue liat review di Google-nya...ah sudahlah. Kunjungan pertama gue disini masih baruuu banget diresmikan. Namanya tuh Perpustakaan dan Galeri Kota Bogor. Yup, ada Galeri yang isinya sejarah Kota Bogor dan beberapa trivia. Waktu awal dibuka Galeri ini isinya lebih ke lukisan dan penjelasan berupa tulisan.

Terakhir gue kesini udah ada diorama bernama Bumi Parawira. Gue belum sempet buat menikmatinya karena ternyata harus ambil antrian gengs dan pas kesana ngantri beberapa jam. Malas :)) maybe next time pas diniatin.

Alamat:
Jl. Kapten Muslihat No. 21, Pabaton, Bogor Tengah, Kota Bogor 16121

Cara berkunjung:
Dateng ke perpusnya. Isi buku tamu elektronik di komputer yang tersedia. Minta tote bag dan kunci loker. Ini semua di lantai 1. Setelah itu naik ke lantai 2 bisa lewat lift atau tangga di bagian belakang. Perpustakaan, galeri dan musholanya di lantai 2.

Akses:
1. Bisa pake KRL turun stasiun Bogor. Lalu jalan 10 menitan sampe. 
2. Ada juga angkot 07 rute Warung Jambu. Patokannya dari Kebun Raya Bogor kearah Gereja Katedral Bogor. Nah sebrangnya persis tu perpustakaan. 
3. Naik Trans Pakuan rute K2 Terminal Bubulak

Yang pernah gue coba cuma nomor 1. Sisanya belum. Tapi harusnya bisa sih karena gue sering liat angkot dan busnya wara-wiri. Yang paling sering sih angkot. Namanya juga kota seribu angkot.

Jam berkunjung:
Selasa-Minggu mulai 08.00-15.00 WIB. Tiap weekend pasti penuh! :))

Yang bisa pinjem buku:
Sama kek perpus Jakarta. Cuma KTP Bogor (kota atau kabupaten bisa!). Selain itu cuma bisa baca ditempat.

Koleksi buku:
Biasa aja. Nggak se-kekinian perpus Jakarta. Tapi nggak yang 10 tahun lalu juga. Koleksi Harry Potter lengkap. Gue tau ini karena terpajang di area baca depan. Waktu kesana gue baca Bumi Manusia sih. Majalah ada. Koran pun ada.



Pengalaman gue pertama kesini masih kurang enak karena bau kaos kaki. HAHAHA. Mana belum ada rak sepatu di depan area bacanya, padahal harus lepas sepatu. Kunjungan kedua udah ada sih. Udah lumayan tertata. Kunjungan ketiga, Galerinya udah berubah jadi Bumi Parawira itu. Sepertinya makin lengkap dengan adanya Auditorium dll. 

Senengnya adalah banyak anak sekolahan masih pake seragam kesini waktu weekdays. Mungkin karena deket dengan sekolah ya disekitarnya. Akses pun gampang tinggal ngangkot murmer. Seneng aja liatnya bocil bocil rajin ke perpustakaan. Perkara baca atau enggak urusan belakangan. Yang penting nyaman dulu di perpustakaan.

***

Ternyata baru 2 perpustakaan aja udah panjang. 2 perpustakaan lagi lanjut ke postingan berbeda ya!