Pernikahan
Waw perlu 6 bulan setelah postingan after graduation story yang kedua. Untuk topik ini agak berat buat saya. Ada banyak pertimbangan sebelum melangkah kesana. Mulai darimana, ya?


Mungkin dari awal alasan kenapa saya mikir banget tentang pernikahan ini. Nggak lain dan nggak bukan karena kondisi keluarga. I cannot say my family is a happy family. Banyak konflik yang terjadi. Iya, setiap keluarga punya masalahnya masing-masing.

Baca: When I (or You) Get A Chance To Be Parents

But in my case I have a family that I would never tell the world about it. And it also makes me doubt and think a lot how I want to get married, what kind of a man will be, where do I have to position myself later when we became partner. Etc, Etc.

Benar kata orang, ketika dihadapkan pada sesuatu yang buruk dan diluar dugaan, maka dengan sendirinya akan ada banyak pertimbangan yang harus dipikirkan. List of "what if" bertambah panjang. Jeleknya: kebanyakan mikir. Bagusnya: nggak gegabah dalam mengambil keputusan.

*** 

Dari situ saya belajar bahwa milih pasangan itu nggak bisa sembarangan. Butuh pertimbangan A sampai Z. meski kata kakak saya sih utamain agamanya. 

“Lah situ kan belom nikah” - ceritanya ngeyel. Dan disamber dengan “Ya kan pengalaman temen-temenku”. OK dude.

Kenapa saya memutuskan nulis ini sekarang yhaa...mungkin memang udah saatnya? Pertama sih ngeliat banyak temen yang udah punya pasangan. Entah itu pacar ataupun suami. Seakan-akan memamerkan kepada dunia "Hai, aku sudah tidak jomblo lagi. Aku sudah menyempurnakan separuh agamaku. Kamu, kapan?"  

Kapan, ya?

Ngomongin soal target nikah sih saya pernah nulis taun ini. Pertimbangannya karena saya lulus tahun 2018. Trus ngerasain kerja dulu deh gimana, selama setahun. Baru setelah menemukan ritme “I Live Alone” merasa udah pantes nikah.

Baca: Baper Pengen Nikah Muda?

Kenyataannya?? Yha tentu saja tidak semudah itu, Ferguso.

Kata pepatah makin banyak tahu makin takut untuk maju memang benar adanya. (Ehm coba siapa yang ngomong ini ya? Entahlah). Setelah ngerti dikit, dikiiit banget persiapan nikah ini. Mungkin ada beberapa hal krusial yang harus saya ingat.

1) Sekufu

Sekufu itu luas banget ya. Intinya sih yang nggak njegleg banget dengan kehidupan saya. Gap antara saya dan dia yang entah siapa itu ngga terlalu jauh. 

Buat saya, sekufu itu wajib hukumnya di: agama. Ngga bisa ditawar. Agama ini bukan hanya di KTP aja. Secara praktiknya ya harus jalanin juga. Nggak, saya nggak muluk-muluk pengen yang “keliatan” kaya Muzammil Hasballah. Lah ngaca dong kelakuan sekarang kaya gimana? Saya amat sangat sadar akan kualitas diri sendiri.

Baca: Catatan Penting dari Muzammil Hasballah untuk Penghafal Al-Qur'an

Cukup yang bisa menuntun. Bukan saya yang nuntun. Yang ada malah diblangsakin dong yha kan jangan ya. Mau dibawa kemana coba keluarga kami nantinya?

Baca: Jangan Lupakan Keluargamu

Kemudian sekufu dalam keingintahuan. It will be nice if pasangan saya nanti punya rasa keingintahuan akan ilmu yang besar. Bukan kepo tentang kehidupan orang lain. Soalnya saya suka banget diskusi random. Bisa dari kpop sampai kenapa banyak orang Korut melarikan diri ke Korsel? Kenapa rakyat +62 gampang banget ngehujat orang di internet? Dan masih banyak kenapa lainnya.

Rasanya tuh kayak setiap hari bakal ada yang bisa diobrolin. Ngga kehabisan bahan omongan meski hal remeh temeh sekalipun. Even small talks can grow us closer and stick each other hehe.  

2) Se-visi dan se-misi

Kamu nikah yang dicari apa, sih? Boleh saya jawab: ketenangan. Saya nggak merasa dengan menikah berarti kita memiliki pasangan kita. Bukankah apa yang ada di diri kita ini sekarang pinjaman? Even our body. We have NOTHING. Akan ada masanya semua ini diminta untuk dikembalikan.

Lalu ketenangan macam apa? Hm, mungkin ini subjektif ya. Saya udah merasa nggak aman dengan pandangan mata laki-laki. Saya udah merasa nggak aman ketika di-catcall dengan lawan jenis. Walaupun itu anak kecil. Sedih ngga sih anak usia SD se-adik saya itu udah bisa catcalling? Panggilan iseng minta nomer hp itu, selama bikin nggak nyaman bisa dikategorikan dalam catcalling, bukan?

Ya intinya apa ya, pengen aja oh udah tenang. Ada nih yang bakal mendampingi saya. Di saat susah maupun sedih. Ada nih yang bakal selalu nge-support kita. Ngga ngejudge. Mau mendengarkan apa isi hati kita. It’s precious, you know.

PENGENNYA SIH YA GITU. Tapi kan niat orang nikah beda-beda ya. Mungkin ini udah saatnya juga saya memikirkan: emang visi misi nikah apa? Perlu? Ya perlu lah. Organisasi kampus untuk setahun aja perlu visi misi. Apalagi nikah yang harapannya sekali aja seumur hidup. Masa ngga jelas konsepnya mau dibawa kemana?

3) We are partner

No, I didn’t ask for equality. Pada dasarnya memang porsi laki-laki dan perempuan udah berbeda. What I mean with partner is: ngga ada yang merasa “lebih”. Lebih banyak pendapatannya, lebih pintar, lebih berkuasa, lebih ini dan lebih itu lainnya. 

Ya kita itu partner. Saling melengkapi satu sama lain. Bukan menunjukkan siapa yang “lebih”. Mungkin emang ada yang dominan, bukan berarti melakukan pemaksaan. We’re going to talk heart to heart. Ngga ngotot satu sama lain. Be reasonable. Aduh kemudian saya baper LOLOLOLLLL anaknya gampang baperan. 

The best partner sih yang bisa diajak terbuka dalam hal apapun. Perasaan, perhatian, keuangan. Ada yang mengganjal ya diutarakan. Bukan didiamkan dan justru membuat bom waktu. That's a NO NO.

***

Actually there's a lot I can say about marriage. Ketakutan macam apa, keraguan yang bikin maju mundur. Perkara boleh nggak perempuan yang "meminta" untuk dinikahi. 

Semakin merasa berumur, merasa harus banget menilai kualitas lawan jenis dengan baik. Nggak bisa perkara aku suka sama kamu ayo kita nikah hmm not as easy as that, gurl.

Oh tetiba saya merasa ini ditujukan untuk suami masa depan. Halo, kamu dimana?
Selama ini saya berpikiran. Kenapa ya artikel atau buku tentang bagaimana cara menjadi istri sholehah/idaman/disayang suami dan sejenisnya itu banyak muncul? Sedangkan tentang bagaimana menjadi suami yang baik itu jarang? Entah memang benar adanya atau saya yang ngga pernah nyari.


Toh pernikahan itu antara 2 insan. Keduanya punya tanggung jawab sama besar dalam mempertahankan biduk rumah tangga. Hazeqq. Kalian setuju nggak, gaes? Plis jawab iya.

Nah, di buku Awe-Inspiring Us ini mbak Dewi Nur Aisyah menuliskan semua tentang pernikahan untuk PRIA dan WANITA. Yess, untuk keduanya! I'm so excited!


Buku ini merupakan lanjutan dari Awe-Inspiring Me. Seri sebelumnya berfokus pada pengembangan diri. Seri kedua ini lebih ke pembicaraan seputar pernikahan. 


Ada 5 topik yang menjadi pokok pembahasan:
1) Masa penantian
2) Jodohmu adalah dia
3) Membangun rumah tangga: sebuah jalan menuju surga
4) Another miracles
5) PhD mom and dad: sebuah catatan perjalanan

Penasaran sama isinya? Yuk baca lebih lanjut!

Masa Penantian

Sejatinya, hidup ini adalah tentang menunggu. Yang baru lulus kuliah, menunggu panggilan kerja. Yang jomblo, nunggu dipinang. Yang udah menikah, nunggu punya anak. Betul apa betul? Kalo dipikir memang kegiatan kita ini penuh dengan daftar tunggu.

Saat udah sadar bahwa hidup adalah perihal menunggu, apa yang harus kita lakukan?

Attitude kita saat menunggu, apakah diiringi ragu atau gerutu. Atau tetap bersabar meyakini rezeki dari-Nya tidak akan tertukar atau salah waktu. 

Biasanya yang sedang banyak waktu luang itu masa setelah lulus kuliah *mengangguk mengiyakan*. Di masa ini kita dihadapkan ke tiga hal: kerja? Lanjut sekolah? Atau menikah?

Disini mba Dewi pertama memilih membicarakan tentang bekerja dan lanjut sekolah terlebih dahulu. Kenapa? Karena sangat penting untuk seorang Muslim memaksimalkan waktu yang ada dengan berprestasi. Kedua hal ini bisa dilakukan seorang diri.

Sedangkan menikah membutuhkan partner. Pencariannya pun nggak mudah, kan? Maka di masa penantian ini mba Dewi mewanti-wanti untuk menggunakan waktu dengan bijak.

Jadikanlah waktu luang sebagai musuh terbesar!

Dalam masa penantian ini, kalian bisa melakukan hal-hal dibawah:
1) Menuntut ilmu. Karena apa? Dijanjikan oleh Allah akan dinaikkan derajatnya, sebagaimana tertuang di Al-Qur'an surah Al-Mujadilah ayat 11.
2) Memaksimalkan potensi. Ikut beragam les/kursus yang bermanfaat. Kamu bercita-cita melanjutkan studi di luar negeri? Ikutlah kursus TOEFL/IELTS. Kamu suka crafting? Ikutlah kelas-kelas yang ada.
3) Menjadi bermanfaat dan mengukir prestasi. Bisa menantang diri lewat kompetisi, maupun volunteering.
4) Berkarya dan berdaya. Nah, liat di lingkungan sekitar. Kira-kira, apa sih yang dibutuhkan masyarakat? Beri ide-ide kecil yang bermanfaat.

Jodohmu Adalah Dia

Siapa nih yang udah mulai gencar mengirim CV untuk ta'aruf? *bukan saya, LOL* Ta'aruf dilakukan untuk meminimalisir kontak dengan lawan jenis. Maka sebaiknya dilakukan bersama mediator. Bisa keluarga dekat, guru ngaji, murabbi (pementor), atau teman dekat yang udah menikah. Dan pastinya terpercaya yah. Ngga bochooor.

Isi CV ta'aruf itu apa aja sih? Nih mba Dewi ngasih bocorannya. Profil umum berupa nama, tempat tanggal lahir, alamat, tempat bekerja, suku, golongan darah. Gambaran fisik, seperti tinggi badan, berat badan, warna kulit, tipe rambut, warna mata, riwayat penyakit, dsb. Latar belakang pendidikan. Gambaran karakter diri termasuk moto hidup, hobi, sifat positif dan negatif, hal yang disuka dan ngga disuka.

Lanjut dengan pengalaman kerja, daftar prestasi/penghargaan, gambaran keluarga (ayah, ibu, adik, kakak), persiapan pernikahan (finansial, visi misi, ilmu tentang pernikahan). Barulah masuk ke kriteria calon yang diinginkan. Boleh kriteria fisik yang seganteng Kang Daniel *eh gimana* pendidikan, pekerjaan, suku, apa aja yang dipengenin. Harapan seperti sumber dana nikah darimana, konsep pernikahan seperti apa, domisili ke depan, karier, target jangka pendek, tulis selengkap-lengkapnyaa!

Nah, jangan lupa masukin juga foto terbaru. Biar si lawan jenis ada gambaran tentang kamu. Yah walaupun sekarang bisa juga diliat lewat medsos sih ya. Hehe.

Perlu dicatat, nyari pasangan itu jangan kayak supermarket yang semua ada. Karena hakikatnya, pernikahan bukanlah saat kita mencari pasangan yang sempurna. Tapi saat kita mencari teman hingga ke surga. Inget gaes, ke surga loh. Nggak cuma sampe grow old together aja!

Makanya, biar ta'aruf ngga melenceng jalur. Ingat-ingat juga untuk: 1) Meluruskan niat, 2) Bersikap jujur, 3) Jangan meminang yang udah terpinang, 4) Libatkan orang tua, 5) Jangan lama-lama!, dan 6) Jaga jarak sampai halal. Lamaran tuh belom halal loh yaaa. Setelah akad terucap baru sah menjadi suami istri.

Membangun Rumah Tangga: Sebuah Jalan Menuju Surga

Masuk ke bab ketiga, mba Dewi memberikan sedikit gambaran akan pernikahan. Puhlease gaes jangan dibayangin nikah itu lurus-lurus aja. Hepi terus. Dunia milik berdua, aihh. Ada kalanya ombak datang menerpa. Konflik berdatangan. Lalu, apa yang harus dilakukan?

Fokus pada masalah, BUKAN pada orangnya. Mendengarkan satu sama lain, dan berlapang dada. Dan jangan sembarang mengucap Talak.

Rumah tangga mulia adalah mereka yang terus saling mengingatkan dalam takwa, marah atau perdebatan kecil diselesaikan sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunah yang mulia.

Daaan dua bab terakhir menceritakan pengalaman seputar kehamilan, persalinan, serta kehidupan sebagai orang tua sekaligus mahasiswa. Kok nggak diulas juga sih? Lhoo nanti kalian nggak kepo gaes sama isi bukunya. Hahaha.


Sebagai sesama lulusan FKM saya ngerasa malu...dan bangga. Kok gitu? Iya bangga karena mba Dewi ini lulusan FKM yang berhasil go internesyenel. Banyak memberi manfaat. Menginspirasi banyak orang. Sayang sekaleee waktu beliau ke Semarang ngga bisa ketemu. Pas banget lagi diluar kota. Semoga Allah kasih waktu untuk ketemu. Amiin.

Trus malunya kenapa? Iya malu karena saya merasa seperti butiran jas-jus. Udah ngapain aja ya, selama ini? Apakah ada yang merasakan manfaat dari diriku? Hiks.

Fokus, fokus! Buku ini dilengkapi juga dengan beberapa mitos seputar perawatan bayi. Berhubung mba Dewi basic-nya emang peneliti, data yang dipaparkan ya dari jurnal penelitian juga! Tapi jangan khawatir gaes, mudah untuk dipahami kok.

Satu hal yang paling saya inget dan mengena nih, ada pertanyaan, "Bagaimana kalo suami nggak mengijnkan untuk lanjut sekolah, apalagi diluar negeri?"

Jawabannya sungguh mudah. Ya dari sebelum nikah seharusnya udah mencantumkan ini di CV. Kalo si lawan jenis ngga menyanggupi, silahkan mundur teratur. Simpel, kan?

Dari situ saya berkesimpulan, sebelum kirim CV nih pastikan deh itu isinya selengkap dan sejelas mungkin. Jangan ada yang ditutup-tutupin. Sah-sah aja kok mengajukan syarat tertentu. Kecuali kalo kamu emang anaknya nrimo-nrimo wae, ya monggo. Kalo anaknya berpendirian teguh? Yaa lakukan tips ini biar kedepannya ngga menimbulkan konflik.


***

Well, para jomblowan jomblowati saya sangat menganjurkan baca buku ini. Biar tercerahkan nikah itu apa tujuannya? Esensinya. Jangan sampe kalian (dan semoga saya juga) nikah hanya karena tuntutan lingkungan, umur, maupun orang tua.

Kamu nanya kapan saya nikah? Bentar belum ketemu yang mirip Ha Sung Woon dan sholeh nih. Kalo ada yaa bolehlah kabarin ya. Ngga harus sama kok kebangsaannya (iyain aja udah).

Sebagai penutup, ini saya kasih kutipan di akhir buku mba Dewi.

At times Allah tests us, it is not to reveal our weaknesses, but for us to discover our strengths.

Terparah 2017! Hampir dua minggu lebih gak nulis. I don't have any excuse for this. Dua minggu terakhir ini kesibukannya dengan UAS, ngejar taget puasa, nyelesaikan tugas (baca: laporan akhir praktikum), dan ngurusin magang. Yuhuuu! Satu tahun lagi menuju gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat. Time does flies. Setiap semester pasti ada highlight tersendiri hahaha.

Menikah saat Kuliah, Yay or Nay?



"Bu, gimana rasanya kuliah di peminatan?"
Saya bertanya pada ibu LJ (lintas jalur) di hari-hari awal perkuliahan. Saat itu tahun 2014 dimana saya masih berstatus mahasiswa baru. Beliau menjawab perkuliahannya cukup enak, sedangkan mahasiswa yang sekelas sama beliau dianggapnya lucu. Kok bisa? Ya lucu karena banyak mahasiswi yang curhat galau ke beliau tentang pernikahan. Saya ketawa kecil sambil menimpali, "Emang umur-umur segitu udah cocok ya bu bahas nikah..".