Wednesday, February 13, 2019

Awe-Inspiring Us: Sebuah Perjalanan Mengukir Cinta, Merenda Asa, Menggapai Pernikahan Mulia

Selama ini saya berpikiran. Kenapa ya artikel atau buku tentang bagaimana cara menjadi istri sholehah/idaman/disayang suami dan sejenisnya itu banyak muncul? Sedangkan tentang bagaimana menjadi suami yang baik itu jarang? Entah memang benar adanya atau saya yang ngga pernah nyari.


Toh pernikahan itu antara 2 insan. Keduanya punya tanggung jawab sama besar dalam mempertahankan biduk rumah tangga. Hazeqq. Kalian setuju nggak, gaes? Plis jawab iya.

Nah, di buku Awe-Inspiring Us ini mbak Dewi Nur Aisyah menuliskan semua tentang pernikahan untuk PRIA dan WANITA. Yess, untuk keduanya! I'm so excited!


Buku ini merupakan lanjutan dari Awe-Inspiring Me. Seri sebelumnya berfokus pada pengembangan diri. Seri kedua ini lebih ke pembicaraan seputar pernikahan. 


Ada 5 topik yang menjadi pokok pembahasan:
1) Masa penantian
2) Jodohmu adalah dia
3) Membangun rumah tangga: sebuah jalan menuju surga
4) Another miracles
5) PhD mom and dad: sebuah catatan perjalanan

Penasaran sama isinya? Yuk baca lebih lanjut!

Masa Penantian

Sejatinya, hidup ini adalah tentang menunggu. Yang baru lulus kuliah, menunggu panggilan kerja. Yang jomblo, nunggu dipinang. Yang udah menikah, nunggu punya anak. Betul apa betul? Kalo dipikir memang kegiatan kita ini penuh dengan daftar tunggu.

Saat udah sadar bahwa hidup adalah perihal menunggu, apa yang harus kita lakukan?

Attitude kita saat menunggu, apakah diiringi ragu atau gerutu. Atau tetap bersabar meyakini rezeki dari-Nya tidak akan tertukar atau salah waktu. 

Biasanya yang sedang banyak waktu luang itu masa setelah lulus kuliah *mengangguk mengiyakan*. Di masa ini kita dihadapkan ke tiga hal: kerja? Lanjut sekolah? Atau menikah?

Disini mba Dewi pertama memilih membicarakan tentang bekerja dan lanjut sekolah terlebih dahulu. Kenapa? Karena sangat penting untuk seorang Muslim memaksimalkan waktu yang ada dengan berprestasi. Kedua hal ini bisa dilakukan seorang diri.

Sedangkan menikah membutuhkan partner. Pencariannya pun nggak mudah, kan? Maka di masa penantian ini mba Dewi mewanti-wanti untuk menggunakan waktu dengan bijak.

Jadikanlah waktu luang sebagai musuh terbesar!

Dalam masa penantian ini, kalian bisa melakukan hal-hal dibawah:
1) Menuntut ilmu. Karena apa? Dijanjikan oleh Allah akan dinaikkan derajatnya, sebagaimana tertuang di Al-Qur'an surah Al-Mujadilah ayat 11.
2) Memaksimalkan potensi. Ikut beragam les/kursus yang bermanfaat. Kamu bercita-cita melanjutkan studi di luar negeri? Ikutlah kursus TOEFL/IELTS. Kamu suka crafting? Ikutlah kelas-kelas yang ada.
3) Menjadi bermanfaat dan mengukir prestasi. Bisa menantang diri lewat kompetisi, maupun volunteering.
4) Berkarya dan berdaya. Nah, liat di lingkungan sekitar. Kira-kira, apa sih yang dibutuhkan masyarakat? Beri ide-ide kecil yang bermanfaat.

Jodohmu Adalah Dia

Siapa nih yang udah mulai gencar mengirim CV untuk ta'aruf? *bukan saya, LOL* Ta'aruf dilakukan untuk meminimalisir kontak dengan lawan jenis. Maka sebaiknya dilakukan bersama mediator. Bisa keluarga dekat, guru ngaji, murabbi (pementor), atau teman dekat yang udah menikah. Dan pastinya terpercaya yah. Ngga bochooor.

Isi CV ta'aruf itu apa aja sih? Nih mba Dewi ngasih bocorannya. Profil umum berupa nama, tempat tanggal lahir, alamat, tempat bekerja, suku, golongan darah. Gambaran fisik, seperti tinggi badan, berat badan, warna kulit, tipe rambut, warna mata, riwayat penyakit, dsb. Latar belakang pendidikan. Gambaran karakter diri termasuk moto hidup, hobi, sifat positif dan negatif, hal yang disuka dan ngga disuka.

Lanjut dengan pengalaman kerja, daftar prestasi/penghargaan, gambaran keluarga (ayah, ibu, adik, kakak), persiapan pernikahan (finansial, visi misi, ilmu tentang pernikahan). Barulah masuk ke kriteria calon yang diinginkan. Boleh kriteria fisik yang seganteng Kang Daniel *eh gimana* pendidikan, pekerjaan, suku, apa aja yang dipengenin. Harapan seperti sumber dana nikah darimana, konsep pernikahan seperti apa, domisili ke depan, karier, target jangka pendek, tulis selengkap-lengkapnyaa!

Nah, jangan lupa masukin juga foto terbaru. Biar si lawan jenis ada gambaran tentang kamu. Yah walaupun sekarang bisa juga diliat lewat medsos sih ya. Hehe.

Perlu dicatat, nyari pasangan itu jangan kayak supermarket yang semua ada. Karena hakikatnya, pernikahan bukanlah saat kita mencari pasangan yang sempurna. Tapi saat kita mencari teman hingga ke surga. Inget gaes, ke surga loh. Nggak cuma sampe grow old together aja!

Makanya, biar ta'aruf ngga melenceng jalur. Ingat-ingat juga untuk: 1) Meluruskan niat, 2) Bersikap jujur, 3) Jangan meminang yang udah terpinang, 4) Libatkan orang tua, 5) Jangan lama-lama!, dan 6) Jaga jarak sampai halal. Lamaran tuh belom halal loh yaaa. Setelah akad terucap baru sah menjadi suami istri.

Membangun Rumah Tangga: Sebuah Jalan Menuju Surga

Masuk ke bab ketiga, mba Dewi memberikan sedikit gambaran akan pernikahan. Puhlease gaes jangan dibayangin nikah itu lurus-lurus aja. Hepi terus. Dunia milik berdua, aihh. Ada kalanya ombak datang menerpa. Konflik berdatangan. Lalu, apa yang harus dilakukan?

Fokus pada masalah, BUKAN pada orangnya. Mendengarkan satu sama lain, dan berlapang dada. Dan jangan sembarang mengucap Talak.

Rumah tangga mulia adalah mereka yang terus saling mengingatkan dalam takwa, marah atau perdebatan kecil diselesaikan sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunah yang mulia.

Daaan dua bab terakhir menceritakan pengalaman seputar kehamilan, persalinan, serta kehidupan sebagai orang tua sekaligus mahasiswa. Kok nggak diulas juga sih? Lhoo nanti kalian nggak kepo gaes sama isi bukunya. Hahaha.


Sebagai sesama lulusan FKM saya ngerasa malu...dan bangga. Kok gitu? Iya bangga karena mba Dewi ini lulusan FKM yang berhasil go internesyenel. Banyak memberi manfaat. Menginspirasi banyak orang. Sayang sekaleee waktu beliau ke Semarang ngga bisa ketemu. Pas banget lagi diluar kota. Semoga Allah kasih waktu untuk ketemu. Amiin.

Trus malunya kenapa? Iya malu karena saya merasa seperti butiran jas-jus. Udah ngapain aja ya, selama ini? Apakah ada yang merasakan manfaat dari diriku? Hiks.

Fokus, fokus! Buku ini dilengkapi juga dengan beberapa mitos seputar perawatan bayi. Berhubung mba Dewi basic-nya emang peneliti, data yang dipaparkan ya dari jurnal penelitian juga! Tapi jangan khawatir gaes, mudah untuk dipahami kok.

Satu hal yang paling saya inget dan mengena nih, ada pertanyaan, "Bagaimana kalo suami nggak mengijnkan untuk lanjut sekolah, apalagi diluar negeri?"

Jawabannya sungguh mudah. Ya dari sebelum nikah seharusnya udah mencantumkan ini di CV. Kalo si lawan jenis ngga menyanggupi, silahkan mundur teratur. Simpel, kan?

Dari situ saya berkesimpulan, sebelum kirim CV nih pastikan deh itu isinya selengkap dan sejelas mungkin. Jangan ada yang ditutup-tutupin. Sah-sah aja kok mengajukan syarat tertentu. Kecuali kalo kamu emang anaknya nrimo-nrimo wae, ya monggo. Kalo anaknya berpendirian teguh? Yaa lakukan tips ini biar kedepannya ngga menimbulkan konflik.


***

Well, para jomblowan jomblowati saya sangat menganjurkan baca buku ini. Biar tercerahkan nikah itu apa tujuannya? Esensinya. Jangan sampe kalian (dan semoga saya juga) nikah hanya karena tuntutan lingkungan, umur, maupun orang tua.

Kamu nanya kapan saya nikah? Bentar belum ketemu yang mirip Ha Sung Woon dan sholeh nih. Kalo ada yaa bolehlah kabarin ya. Ngga harus sama kok kebangsaannya (iyain aja udah).

Sebagai penutup, ini saya kasih kutipan di akhir buku mba Dewi.

At times Allah tests us, it is not to reveal our weaknesses, but for us to discover our strengths.

2 comments:

  1. Masuk dah ke keranjang bacaanku! xD

    ReplyDelete
  2. Setuju banget, sebelum nikah itu kita bebas nanya apa aja, termasuk hal hal sensitif dan prinsip. Kalau nggak cocok mundur, kalau cocok lanjut. Jangan sampai baru dibicarakan sudah menikah, karena kalau kita merasa nggak cocok tentu perpisahan bukan hal yg mudah untuk diputuskan.

    ReplyDelete

Halo! Terimakasih sudah membaca. Setiap komentar masuk akan dimoderasi yah.

COPYRIGHT © 2019 · A LIFELONG JOURNEY BY LULUKHODIJAH | THEME BY RUMAH ES