Bandung
Weekend getaway yang nggak getaway amat. Tujuan utamanya kondangan (lagi dan lagi). Berhubung udah di Bandung yha kenapa tidak sekalian jalan-jalan?
Nah, seharian di Bandung kemana aja ya?
Setelah makan, self service ya merapikan meja dan buang sampah di bagian yang udah disediakan.
Nah, seharian di Bandung kemana aja ya?
Bandung Zoological Garden
Menuruti ke-BMan mba Sansan. Destinasi pertama kami adalah kebun binatang. Bonbin ini sempat viral karena pengelolaannya yang kurang baik. Banyak hewan terlantar. Kasian :( ada yang bilang kalau mau lihat binatang itu, etisnya langsung di habitatnya. Bukan di kebun binatang, apalagi binatangnya disuruh atraksi.
Idealnya begitu sih ya. But not everyone can afford going into forest. Sambil berusaha menabung menuju hal itu dan berharap pengelola kebun binatang merawat koleksinya dengan baik.
Harga tiketnya Rp 45.000. Kebetulan waktu itu bulan PMI, ditambah donasi Rp 5.000. Total Rp 50.000 untuk 1 orang. Tiket masuknya berupa gelang (wristband) yang bisa dipake.
Sebagai orang yang udah pernah ke Taman Safari Bogor, ini mah biasa aja ya. HAHA. Meski pengelolanya sama. Waktu dateng kesana masih ada beberapa spot yang dibangun. Pasir dan batu-batu buat ngebangun gitu berceceran.
Lebih tepat dibandingkan sama kebun binatang Semarang (Mangkang). Nah kebun binatang Bandung jauh lebih baik :P sama-sama panas, namanya juga ruang terbuka ya. Beberapa yang sempet kufoto. Tapi lupa ini teh hewan apa :))))
![]() |
| Si Raja Hutan |
![]() |
| Kerasa panasnya ga sih? |
Kalau bosan dan capek jalan, bisa banget nonton atraksi yang tersedia. Gratis. Lumayan menghibur. Aktivitas lainnya, bisa kasih makan hewan. Apa ini yah lupa namanya. Tapi bayar lagi sih. Tracknya lumayan ngga banyak naik turun. Buat anak-anak masih cincailah.
Kehidupan Tidak Pernah Berakhir
Lucu ga sih namanya? So puitis. Ini adalah tempat makan vegan. Yap, semua terbuat dari bahan nabati a.k.a tumbuhan. Dari awal masuk udah berasa aura vegannya. Mirip museum gitu loh. Di kanan kiri dinding terpasang apa manfaat vegan, testimoni, sampai ada pemutaran videonya. Kayak di brainwash bahwa hidup menjadi vegan adalah yang terbaik.
Ini pertama kali aku nyobain tempat makan vegan. Sistemnya kayak warteg aja. Menu prasmanan di-display. Pembeli bisa pilih apa yang dimau. Nasi, lauk, sayur dan minum. Kemudian bayar di kasir. Untuk ukuran vegan sih katanya ini lumayan terjangkau harganya. Yaa seharga 1x makan di mal gitu deh. Total makan berdua habis Rp 102.000.
Untuk rasanya? Menurut lidahku ini bumbunya kuat banget. Apa untuk menyamarkan rasa vegannya ya? Atau aku aja yang ngga terbiasa makan dengan rempah yang kuat? Entahlah. Cocok sih cocok aja, cuma kalau untuk dateng lagi? Hmm berhubung di Bandung banyak yang lebih menggiurkan, kayaknya cari yang lain. Hehe.
Sisanya lanjut kemana?
- Cuanki Serayu. Layaknya turis :))
- Ngadem di taman (LUPA NAMANYA) pokoknya yang deket gasibu itu
- Nonton Petualangan Sherina di hotel
Yak begitulah perjalanan getaway santuy kami. Semua transportasi pakai online saking gataunya transum umum di Bandung itu apa? :)) Kecuali PP Jkt-Bandung. Masih pake Argo Parahyangan, belum ada whoosh waktu itu. Maybe next time mencoba whoosh?
This is the highlight during my trip to Bandung. Glamping. Merupakan kepanjangan dari glamorous + camping. Artinya "berkemah" dengan mevvah *ngarang dhewe. Intinya versi upgrade dari camping, gitu.
Disclaimer: review-nya acakadut becauseee belom pernah review penginapan macam gini.
Rencana awal kami hanya camping aja. Seperti yang aku ceritakan di postingan sebelumnya. Tujuan awal kami adalah igloo camp yang berada di komplek Ranca Upas. Udah kontak narahubung tuh melalui Whatsapp. Ternyata di tanggal yang dipilih udah penuh semua. Agak heran kok bisa. Padahal kedatangan kami itu di hari kerja alias weekday.
Lalu, apakah yang harus kami lakukan? Tidur di tenda? Oh tentu saja tidak mau hahaha. Sebagai sesama pemula, nggak mau ambil resiko deh. Akhirnya si partner menemukan Bobocabin.
Buat yang baru pertama dengar apa itu Bobocabin, udah pernah denger Bobobox? Beberapa waktu lalu sempat gencar dipromosikan. Konsep hotel kapsul dengan budget minimal untuk traveler. Nah ini masih 1 grup dengan Bobobox. Bedanya dari nama udah keliatan ya. Box itu kotak. Cabin itu menurut oxford dictionary lebih ke "enlarge imagea small house or shelter, usually made of wood".
Bobocabin adalah sebuah jalan keluar yang tepat dari hiruk-pikuk dan keramaian kota. Kombinasi dari ketenangan alam yang dibalut dengan sentuhan teknologi membuat pengalaman menginap anda menjadi tidak terlupakan. Dengan menyediakan aktivitas petualangan yang menarik sekaligus mendukung pemberdayaan masyarakat lokal, Bobocabin siap menjadi bagian dari gaya hidup baru anda.
Spending time in cabin is one of hygge activity menurut Meik Wiking didalam bukunya. Pas banget aku sebelum glamping baca buku ini jadi berekspektasi :P
Bobocabin udah tersedia di beberapa tempat selain Ranca Upas, yaitu Cikole dan Kaldera (daerah Danau Toba). Kalo nggak salah untuk di Ranca Upas ini baru beroperasi Desember 2020. Belum ada setahun, tergolong baru lah ya.
Untuk pesan di Bobocabin bisa melalui 2 cara. Pertama lewat Traveloka. Kedua lewat aplikasi Bobobox. Kami pesan lewat Bobobox dan mendapat cashback Rp25.000 pembayaran melalui Shopee Pay. Lumayan buat jajan :P
Harga yang dibayarkan belum termasuk parkir dan tiket masuk Ranca Upas, ya! Selengkapnya bisa cek di website ternyata informasinya cukup memadai.
Letak Bobocabin ini berada di komplek Ranca Upas milik Perhutani.
Warga Bandung sekitarnya udah familiar pasti dengan Ranca Upas. Terbukti, bulan ini aja beberapa temen udah update di wilayah Rancaupas Ciwidey untuk liburan. Terkenalnya dengan penangkaran rusa. Perjalanan dari kota Bandung makan waktu 1,5-2 jam tergantung cuaca dan kemacetan.
Ada 2 tipe kabin yang ditawarkan: Standar dan Deluxe. Kami ambil Standar karena...yang murah. Hahaha. Cuma pindah tempat tidur ini kan.
Kami sampai di Bobocabin sebelum jam 1 siang. Letak Bobocabin ini persis setelah pos tiket ke-3 Ranca Upas ya. Langsung keliatan begitu bayar tiketnya, di sisi kiri. Itu ada kabin resepsionis. Kami diterima oleh mas-mas resepsionis. Keliatannya memang sengaja hire kawula muda.
Jam check-in adalah 14.00 WIB. Yaudah kami muterin Ranca Upas dulu sambil nunggu ruangan dibersihkan. Sambil memperhatikan sekeliling, masih ada pembangunan beberapa kabin di sekitarnya.
| Kayaknya bukan danau, deh... Kabinnya dibalik pepohonan itu |
Jadi konsep Bobocabin disini mengelilingi danau? Aku nggak yakin itu ditengah apa sih. Agak kurang meyakinkan, airnya hijau dan keliatan nggak terawat. Hahaha. Tersedia 2 toilet. 1 di sisi kanan dan 1 di sisi kiri.
Toilet di sisi kanan terbagi jadi toilet laki dan perempuan. Nah di bagian perempuan ada lagi 1 untuk mandi dan 1 untuk buang air aja. Sedangkan di toilet sisi kiri ada 1 untuk mandi dan 2 buang air.
| Ini toilet buat mandi. Isinya shower doang |
| Yang ini bisa untuk buang air (kecil maupun besar) |
14.00 kami masuk ke kabin. Yeayyy! Finally. Keunggulan Bobocabin ini semua diakses melalui aplikasi. Termasuk masuk ke kabin dan toilet, disediakan QR untuk scan. Tenang, nggak semua harus punya aplikasi kok. Aku dikasih screenshot QR-nya aja dan bisa tetep buka. HOHO.
Bagaimana first impression kami terhadap Bobocabin?
HUWAAAA. Mantap. Ada untungnya ga baca review dulu belum kesini. Jadi nggak kebayang macem apa. Kabin ini 2/3 nya udah dipenuhi kasur. Untuk naruh barang bisa dibawah. Ada 1 meja nakas berisi nampan kayu, 2 cangkir, pemanas air, 2 handuk dan 2 botol minum ukuran 600 ml. Ada cermin bunder desain kekinian. Tidak lupaa gantungan baju.
Di tipe Standar yang kami pesan ini jendela yang bisa dibuka ada di sisi kasur. Selain itu nggak ada sumber ventilasi lain. Untuk orang yang takut ruang sempit, menurutku masih bisa dihandle ya. Gak kayak bobobox (walaupun belom pernah coba sih).
Best part of glamping: listrik dan wifi ada. Di aplikasi selain QR, ada menu untuk blur-unblurred jendela, gonta ganti warna lampu dan nyambungin ke bluetooth speaker yang disebut dengan bobopod.
Panel ini juga tersedia didalam kabin. Gimana, udah keliatan glamorous bin luxury belom?
| Touch screen ya ini. Bisa kontrol warna lampu, connect bluetooth, dll. Bisa pake aplikasinya juga |
| The colokan |
Kekhawatiranku disini cuma 1: toiletnya jauh bookkk! Makluk toilet bersama. Udah pesen ke partner ntar kalo tengah malem mau pipis minta anter, ya! Wkwkwkwk.
Di toilet tersedia wastafel, sabun, sampo, tissu, tempat duduk menyatu dengan tak barang, dan hair dryer. Ukuran toilet tergolong kecil. Palingan didalem cuma bisa muat 3-5 orang. Itupun udah desak-desakan.
Lalu, apakah semua berjalan lancar?
OHOOO tentu tidak semudah itu Maemunah. First problem: QR pintu masuk ga kebaca. Solusi: direstart sistem sama masnya. Hasil: nggak bisa. Akhirnya pake kunci manual :) byebye kemevvahan.
Second problem: jendela ga bisa di unblurred. Yahhhh penonton kecewa berat. Ngapain dong nginep di bobocabin kalo ga ngerasain teknologinya? 😑
Ga mau rugi laah minta ganti kabin. Kan kami nginep 2 malam tuh. yaudah semalem tetep nempatin kabin problematik ini.
Kasur ngga ada masalah sih. Selimut ini kuecilll untuk ukuran berdua. Positif thinking aja mungkin emang target pasarnya pasangan honeymoon jadi bisa kruntelan. Kami? Enggalah. Tidur aja saling memunggungi wkwkwk tetep rebutan selimut sih pas tidur.
Malem 1 kami pesen makan di aplikasi bobocabin: beef bulgogi dan nasi. Nah, jangan khawatir kelaparan ya. Disini disediakan menu bervariasi. Tapiii dengan resiko harganya standar tempat wisata lah. MIHIL :P
Beef bulgogi disediakan alat grillnya. Sedangkan nasi dikirim terpisah, katanya sih dari warlok yang diberdayakan. Ngono. Tapi lucu sih nasi dateng duluan, beef nya 30 menit kemudian thank you. Disuruh ngekepin nasi dulu biar kerasa kehangatannya.
Kemudian datanglah itu beef bulgoginya sebanyak 250 gram. Udah dibumbuin. Yaa...lumayan. Nggak zonk toh udah sesuai deskripsi. Kami menikmatinya didepan kabin lain. Berhubung kabin kami nggak punya lahan untuk masak-masak.
***
Paginya kami jalan-jalan dulu ke Kawah Putih. Deket aja bisa jalan kaki ternyataa. Pas jalan keluar ini kami mampir ke resepsionis minta kamar diganti. Bilangnya oke akan diusahakan, kemungkinan baru bisa siang. Apakah kami benar mendapat gantinya?
BENERAN DIGANTI. Berhubung kabin Standarnya habis, kami diganti ke kabin Deluxe. AAAAKKK. Berkah nih.
"Mas ini nambah charge ga?" - tanyaku si konsumen curigaan
"Enggak kak, kan ini kesalahan kami. Nanti untuk pindah kabin butuh dibantu barang bawaan juga bisa" - mungkin masnya menahan kesabaran ngadepin kami wkwkwk
Lumayan juga si kabin Deluxe ini letaknya naik lagi ke ujung. KARENA APAA??? Akhirnya aku menemukan jawabannya, guys. Kabin Deluxe ini udah ada toiletnya! Ga perlu remponk deh bolak balik toilet nan jauh disana. Pantesaaan pantesan pantesan.
| Begitu pintu dibuka, voila! Toilet |
Oke, apa aja perbedaan kabin Deluxe dan Standar selain toilet?
1. Ukuran. Ofkors lah Deluxe ini lebih geday. Bisa dilihat dari depan, si Standar ini cuma cukup buat naruh 2 kursi lipat. Sedangkan si Deluxe ada kursi dan meja kayunya buat grill di depan kabin nggak masalah.
| Pintu masuk |
2. Desain. Kasur si Deluxe posisi dipannya ini lebih tinggi daripada di kabin Standar. Konsekuensinya, ruang penyimpanan yang terletak dibawah kasur lebih lega kalo nginep di Deluxe.
3. Jendela Deluxe lebih gedeee! Di bagian atap pun ada sekotak yang terbuat dari kaca? Plastik? Bening. Buat ala-ala memandang langit bisa (yha meskipun ketutupan rimbunnya pohon, sih).
Beda banget emang si Standar dan Deluxe. Kalo punya bujet lebih mending pilih si Deluxe deh. Lebih lega. Minusnya ada bau-bau dari toilet kalo ga bersih wkwk yha gimana cuma sepetak kan palingan mau ga mau ada dampak dari toiletnya.
Toiletnya ini aestetik lho cocoklah buat upload instagram. Lantainya keramik putih. Ada WC duduk, shower air panas dan dingin. Sabun dan shampoo disediakan. Ada tirai penyekat. Cermin bulat dan hair dryer. Udah ga perlu bolak balik ke toilet nan jauh disana. Lampu toiletnya jadi 1 dengan lampu kabin. Alhasil ketika di toilet, lampu diset warna putih biar keliatan. Boleh aja warna lain tapi resiko ga keliatan jelas :))
Tambahan lainnya di Deluxe: ((colokan)) lebih banyak, tersedia pengusir nyamuk elektrik. Having deluxe cabin doesn't mean problem solved. Kok ya tetep aja ga bisa buka kunci pake QR. Tetep bawa-bawa kunci manual kemanapun thank you. Yang penting jendela bisa blur-unblurred deh!
| Mode blur |
| Mode un-blur. Kayak tv kaaan? |
Aku cukup perhatian sama bahan dari Bobocabin ini. Mirip particle board dan ada rembesan disana sini. Kemudian ada beberapa titik berjamur putih-putih. Bisa dimaklumi karena letaknya memang di tempat bersuhu rendah. Tapi....nggak enak aja diliat ya. Mungkin bisa mempertimbangkan bahan lain yang lebih kuat terhadap kelembapan sekitar.
Daaann...ini terparah sih makan di malem ke-2. Kami pesen suki. Di bayangan kalian, suki isinya apa aja? Minimal fish ball dan semacamnya, sayur dan jamur enoki gitu ya? Ini cuma fish ball dan kawan-kawan berapa biji doang + bumbu instan WKWKWK yaAllah langsung drop selera makanku. Ini pun suki instan yang dijual di medsos lebih proper isinya monanges sungguh.
Final verdict: glamping disini cocok untuk cari experience baru. Tapi siapkan kesabaran lebih dengan hal nggak terduga, ya :))
Tips:
1. Bawa makanan sendiri
2. Nginep di musim kemarau. Jangan musim hujan deh serius.
3. Bawa temen banyak! Makin rame glamping makin seru
4. Bawa payung dan jas hujan
Sekian, kalo ada yang mau ditanyain silakan aja ya!
Hari ketiga kami awalii dengan beberes. Saat menunggu gocar di hari sebelumnya, mata kami menangkap objek menarik mata. Bus warna pink! Dengan desain terbuka. Ohoyy langsung aja jadwalkan di hari ketiga!
Inilah the art of traveling. Apapun bisa terjadi tanpa diduga. Bus apakah itu?
Sambil makan kami tetep ngecek, busnya udah dateng belom ya? Sekitar jam 8 lebih bus itu baru dateng. Warna apa? BIRU! Di informasi sebelumnya, rute biru itu berakhir di Cihampelas. Oke, mikirnya nanti sekalian beli oleh-oleh deh di Cihampelas. Realitanya? Baca seterusnya biar kejawab :P
Kami naik busnya setelah makan. Dikira langsung jalan. Eh harus nunggu penuh dulu. Lumayan lama tuh adalah 30-45 menit huhu wasting time :( disabar-sabarin deh, anti ngeluh traveling mah ga nikmat hahaha. Saking gabutnya kami ngitungin jumlah angkot warna merah dan biru yang lewat. Tiap menit ada.
Untuk menyelamatkan dirinya, istrinya yaitu ibu Inggit yang membawakan buku-buku hukum setiap berkunjung. Alhasil Bung Karno dapat membela dirinya. Nggak jauh dari situ juga masih ada sisa menara pandang yang….nggak keliatan sih kalo sekilas liat. Seperti bangunan nggak terawat soalnya.
2) Tugu Sister City. Jadi ada beberapa kota yang menjadi sister city dengan Bandung, salah satunya Daegu di Korea Selatan.
It’s so fun listening to her explanation. Banyak bangunan peninggalan Belanda yang cukup terawat. Termasuk restoran Perancis dan Rumah Kentang. Silakan cari tentang Rumah Kentang ini ya, mistis :P
Beberapa kali teteh tour guide menyebutkan peranan kang Emil disaat beliau menjabat sebagai wali kota. Selain pencanangan Bandros, Sister City, lalu ada Bandung 7 Fun Day. Dimana hari-hari di Bandung itu Senin-Minggu diisi kegiatan fun. Misal, hari menggunakan Bahasa Sunda dll.
Dalam hatiku saluttt. Kang Emil nggak hanya publisitas di media sosial aja yang bagus. Ternyata hasil kerjanya ada dan warganya pun merasakan dampak bagusnya. Mungkin kalo semua pemimpin di Indonesia punya kualitas minimal setara kang Emil, bisa maju yah dengan kearifan lokal masing-masing. Pertanyaannya, kapan?
Rute kami mencapai Musem Geologi. Di Museum Geologi ini, si teteh pun memberikan informasi bahwa Belanda sudah menyetujui untuk mengembalikan kembali artefak milik Indonesia yang disimpan di Universitas Leiden. Kalau aja si teteh nggak memperbarui informasinya, dia nggak akan cerita ini. Dan akupun dengar juga berita ini sehingga cukup saluttt sama tetehnya.
Bandros kami berhenti selama 15 menit di seberang museum geologi. Kesempatan ini aku manfaatin buat…..ke toilet. Hehe. Bandung dingin shay. Toilet berada di Taman Lansia.
Inilah the art of traveling. Apapun bisa terjadi tanpa diduga. Bus apakah itu?
Bus warna-warni ini adalah Bandros atau Bandung Tour on The Bus. Ngga mau kecele, kami mencari informasi melalui Google. Oh God I’m so lucky to live in internet things.
Bandros digagas oleh Kang Emil saat menjabat sebagai Wali Kota Bandung. Tujuannya agar wisatawan bisa mengakses Kota Bandung dengan mudah. Awalnya, desain Bandros ini 2 tingkat kayak bus merah ikonik London itu!
Namun karena beberapa kali tersangkut kabel, akhirnya diubah desainnya menjadi bus umumnya. Hanya saja agar bisa lebih menikmati dibuat terbuka tanpa jendela.
Istilah Bandros digunakan sesuai dengan kearifan lokal. Kabarnya di Sukabumi dan Cimahi ada transportasi semacam ini yang penyebutannya menyesuaikan kekhasan daerah masing-masing. Bandros tersedia dalam beberapa warna dan tiap warna punya rute berbeda. Ada warna pink, biru, hitam, hijau, kuning, dan apalagi lupa. Hehe. Halte Bandros yang utama ada di Alun-alun Bandung. Seberang kantor walikota Bandung. Di FAQ-nya ada sih di Paskal alias dekat hotel kami menginap. Cuma waktu kami konfirmasi lewat akun resmi di instagram, hanya bisa ke alun-alun.
Bandros digagas oleh Kang Emil saat menjabat sebagai Wali Kota Bandung. Tujuannya agar wisatawan bisa mengakses Kota Bandung dengan mudah. Awalnya, desain Bandros ini 2 tingkat kayak bus merah ikonik London itu!
Namun karena beberapa kali tersangkut kabel, akhirnya diubah desainnya menjadi bus umumnya. Hanya saja agar bisa lebih menikmati dibuat terbuka tanpa jendela.
Istilah Bandros digunakan sesuai dengan kearifan lokal. Kabarnya di Sukabumi dan Cimahi ada transportasi semacam ini yang penyebutannya menyesuaikan kekhasan daerah masing-masing. Bandros tersedia dalam beberapa warna dan tiap warna punya rute berbeda. Ada warna pink, biru, hitam, hijau, kuning, dan apalagi lupa. Hehe. Halte Bandros yang utama ada di Alun-alun Bandung. Seberang kantor walikota Bandung. Di FAQ-nya ada sih di Paskal alias dekat hotel kami menginap. Cuma waktu kami konfirmasi lewat akun resmi di instagram, hanya bisa ke alun-alun.
Oke deh. Sekitar 7.30 kami menuju alun-alun. Niatnya sekalian sarapan. Bayanganku tuh alun-alun bakal rame kapan aja seperti halnya malem minggu. Eh salah besar. Cuma ada beberapa pedagang asongan.
Lalu, sarapan apa dong?
Lalu, sarapan apa dong?
Mata elang ini menemukan Tahu Kupat. Bener ga ya tahu kupat? Ingetnya ada kupatnya haha. Ga punya pilihan lain, ya kami pesen 2 porsi seharga Rp30.000. Harga segitu udah dapet teh anget tawar.
Sambil makan kami tetep ngecek, busnya udah dateng belom ya? Sekitar jam 8 lebih bus itu baru dateng. Warna apa? BIRU! Di informasi sebelumnya, rute biru itu berakhir di Cihampelas. Oke, mikirnya nanti sekalian beli oleh-oleh deh di Cihampelas. Realitanya? Baca seterusnya biar kejawab :P
Kami naik busnya setelah makan. Dikira langsung jalan. Eh harus nunggu penuh dulu. Lumayan lama tuh adalah 30-45 menit huhu wasting time :( disabar-sabarin deh, anti ngeluh traveling mah ga nikmat hahaha. Saking gabutnya kami ngitungin jumlah angkot warna merah dan biru yang lewat. Tiap menit ada.
Hampir jam 9 bus baru jalan. Untuk harga tiket Rp20.000 per orang, ya. Bayarnya langsung ditempat tanpa perlu pesen. Let’s enjoy Banduung!
Seneng banget di hati tuh ngeliat orang lain kerja eh sini pelesiran :P Bandros kami dipandu oleh seorang tour guide. Lupa ga nanya namanya, teteh-teteh lumayan berumur gitu deh.
And surprise surprise, penjelasannya menyenangkan sekali. Nggak terkesan text book dan update informasinya! Rute kami dimulai dari Alun-alun, Asia Afrika, Braga, Dago, Gasibu, Gedung Sate. Mon maap ya berdasarkan ingatan aja.
Seneng banget di hati tuh ngeliat orang lain kerja eh sini pelesiran :P Bandros kami dipandu oleh seorang tour guide. Lupa ga nanya namanya, teteh-teteh lumayan berumur gitu deh.
And surprise surprise, penjelasannya menyenangkan sekali. Nggak terkesan text book dan update informasinya! Rute kami dimulai dari Alun-alun, Asia Afrika, Braga, Dago, Gasibu, Gedung Sate. Mon maap ya berdasarkan ingatan aja.
Beberapa spot yang ditunjukkan:
1) 1 sel penjara yang dipertahankan, tempat dimana Bung Karno dihukum oleh Belanda. Kabarnya penahanan ini sampai masuk berita internasional pada masanya karena Bung Karno nggak dibekali pengacara.
1) 1 sel penjara yang dipertahankan, tempat dimana Bung Karno dihukum oleh Belanda. Kabarnya penahanan ini sampai masuk berita internasional pada masanya karena Bung Karno nggak dibekali pengacara.
Untuk menyelamatkan dirinya, istrinya yaitu ibu Inggit yang membawakan buku-buku hukum setiap berkunjung. Alhasil Bung Karno dapat membela dirinya. Nggak jauh dari situ juga masih ada sisa menara pandang yang….nggak keliatan sih kalo sekilas liat. Seperti bangunan nggak terawat soalnya.
2) Tugu Sister City. Jadi ada beberapa kota yang menjadi sister city dengan Bandung, salah satunya Daegu di Korea Selatan.
It’s so fun listening to her explanation. Banyak bangunan peninggalan Belanda yang cukup terawat. Termasuk restoran Perancis dan Rumah Kentang. Silakan cari tentang Rumah Kentang ini ya, mistis :P
Beberapa kali teteh tour guide menyebutkan peranan kang Emil disaat beliau menjabat sebagai wali kota. Selain pencanangan Bandros, Sister City, lalu ada Bandung 7 Fun Day. Dimana hari-hari di Bandung itu Senin-Minggu diisi kegiatan fun. Misal, hari menggunakan Bahasa Sunda dll.
Dalam hatiku saluttt. Kang Emil nggak hanya publisitas di media sosial aja yang bagus. Ternyata hasil kerjanya ada dan warganya pun merasakan dampak bagusnya. Mungkin kalo semua pemimpin di Indonesia punya kualitas minimal setara kang Emil, bisa maju yah dengan kearifan lokal masing-masing. Pertanyaannya, kapan?
Rute kami mencapai Musem Geologi. Di Museum Geologi ini, si teteh pun memberikan informasi bahwa Belanda sudah menyetujui untuk mengembalikan kembali artefak milik Indonesia yang disimpan di Universitas Leiden. Kalau aja si teteh nggak memperbarui informasinya, dia nggak akan cerita ini. Dan akupun dengar juga berita ini sehingga cukup saluttt sama tetehnya.
Bandros kami berhenti selama 15 menit di seberang museum geologi. Kesempatan ini aku manfaatin buat…..ke toilet. Hehe. Bandung dingin shay. Toilet berada di Taman Lansia.
Nah ini juga salah satu keunggulan Bandung: punya banyak taman! Ada taman lalu lintas, taman lansia, taman radio (?) dan masih banyaaak lainnya. Pemerintahnya udah paham keterbutuhan akan ruang hijau dan mau memfasilitasi. I hope other city follows too!
Tentu penjelasannya nggak cuma yang aku tulis aja ya. Ini berdasarkan ingatan aja hahaha. Aslinya cukup panjang, lha hampir 1 jam keliling itu teteh ngomong mulu :P
Perhentian akhir kami berada di titik sama dengan pemberangkatan: Alun-alun Kota Bandung. Sampai sini udah ada beberapa Bandros lain yang parkir. Sepulang keliling Bandung, kami meluncur ke Kartika Sari untuk membeli oleh-oleh.
Nggak ngeh ini deket banget sama hotel, jalan kaki aja BISA :)) hari Senin tetep rameee. Bandung hidup sekali ya pemirsa.
Pukul 11.00 kami pesen grab ke Rancaupas. YEAYYY let the glamping experience begin!
Tentu penjelasannya nggak cuma yang aku tulis aja ya. Ini berdasarkan ingatan aja hahaha. Aslinya cukup panjang, lha hampir 1 jam keliling itu teteh ngomong mulu :P
Perhentian akhir kami berada di titik sama dengan pemberangkatan: Alun-alun Kota Bandung. Sampai sini udah ada beberapa Bandros lain yang parkir. Sepulang keliling Bandung, kami meluncur ke Kartika Sari untuk membeli oleh-oleh.
Nggak ngeh ini deket banget sama hotel, jalan kaki aja BISA :)) hari Senin tetep rameee. Bandung hidup sekali ya pemirsa.
Pukul 11.00 kami pesen grab ke Rancaupas. YEAYYY let the glamping experience begin!
Baca: Bandung Trip Day 1: Mutiara Hotel and Convention Bandung
Real life kolam renangnya lebih kecil dari di gambar. Jadi pasti udah kebayang numpleknya sama pengunjung lain. Yaudahlah. Jalan di lorong hotel aja. Yang mana kebodohan kembali terjadi. Aku ga bawa kuncinya sekalian keluar! Wkwk. Iya kuncinya cuma 1 doang gengss.
Alhasil aku mau masuk ketok-ketok dulu. Padahal si partner lagi tidur. Bhaique.
Sekitar pukul 7.30 kami udah siap-siap sarapan. Tujuannya sekitaran hotel aja sih. Sekalian cari minimarket buat beli sandal. Iya aku ga bawa sandal. Mikirnya beli aja sih gampang. Eh salah dong beli jam segitu menghampiri 2 minimarket ga ada yang buka. Yaudah.
“Bu, ini kuahnya ya?”
“Bukan neng kalo disini bubur ayam ga pake kuah”
JIAKKKHH ketahuan turis deh :))
Anyway Minggu pagi di Bandung tetep aja rame. Sekitaran hotel (yang mana hotel juga) terlihat parkiran penuh. Beberapa malah mengular sampai pinggir jalan. Aku bertanya-tanya, yang bikin Bandung ini menarik warga Jakarta tuh apa ya? Kamu bisa jawab?
Sepulang sarapan kami bebersih. Tujuannya adalah: Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda. Yeay! My favorite place in the city is always the one with high trees around. Syahdu bun rasanya.
Nggak mau kecolongan seperti di Kiara Artha Park, aku cek dulu akun instagramnya. Syukurlah aktif. Ada petunjuk sebelum kesana reservasi dulu. Mengisi google form berisi nama dan email serta jumlah pengunjung. Aku mengisi 2. Beberapa saat kemudian di email masuk QR code untuk ditunjukkan nanti.
Tiket masuk Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda sebesar Rp12.000 per orang (turis dalam negeri). Turis luar negeri 2x lipat. Bisa bayar menggunakan QRIS.
Cuss pesenlah gocar dari hotel. Kena charge Rp31.000 aja. Masih terjangkau daripada harus nyari angkot.
Obrolan dengan Driver
Aku bukan tipe yang gampang nyapa orang. Makanya ketika aku ngobrol sama driver, artinya drivernya emang nyambung diajak ngobrol. HEHE. Seperti yang satu ini.
Biasalah namanya turis ya, dibahas dari mana mau kemana. Si bapak cerita udah pesen kamar hotel di Pangandaran. Deluxe. Semalem Rp1.500.000 dapet diskon jadi Rp750.000 alias harga pandemi. Udah curiga nih kayaknya si bapak pekerjaan utamanya bukan driver.
Yha bener dong si bapak sales rokok :)) pantesan ceunah. Selain itu dia juga ternak kelinci hias untuk diekspor. Ratenya? Pake USD! Hahah. Ijo ga tuh. Mana diceritain pula per kelinci dijual $250 dengan modal $50 aja. Oke bhaique cuan banyak ini ya.
Yang aku kaget ternyata si bapak ini Muslim. Kirain dari namanya bukan hehe. Karena apa pemirsa???
Si bapak curhat tuh mau pensiun dini. Menurut dia jadi sales tuh berattt banget. Targetnya jadi ga masuk akal. Lebih-lebih, di dunia rokok tuh pengguna cenderung loyal. Nggak ada merk yang dia cari ya bakal dicari sampe ketemu. Mungkin menurutnya hal itu bikin promosi jadi nggak relevan lagi.
Sampe di satu titik kami membahas, “Gimana kalo rokok itu dibeli sama anak-anak yang emang mampunya beli rokok murah?”
Disitulah kebuka si bapak ini salah satu alasan pengen pensiun juga karena itu. Takut rezekinya ga barokah. Sementara keluarga (anak, istri, orang tua, adik) kena cipratan uang gaji hasil sales rokok. Wow deep. Berat juga ya pertentangan batinnya. Maka dari itu akhirnya dia menceburkan diri di bisnis kelinci hias.
Dikasih tips merawat kelinci hias pula. Pengalamanku yang lalu-lalu punya kelinci mati mulu :) ga ngerti apa yang salah huft.
Sesi ngobrol harus diakhiri seiring dengan tibanya kami di Tahura. Wah, ramai juga ya! Ada pasangan, keluarga, goweser, hingga rombongan ibu-ibu reunian. Yang disebut terakhir ini paling rame!
Tahura ini jalurnya udah cukup rapi dan nyaman untuk jalan kaki. Nggak mau jalan kaki? Ada persewaan sepeda. Kami berniat untuk sewa, entah kenapa ga ketemu lokasinya dimana. LOL. Ada juga sejenis mobil dengan konsep terbuka. Duh lupa nggak sempet foto. Yang ada di golf itu lho gais, di Kebun Raya Bogor juga ada macem itu. Lagi-lagi kami nggak naik itu. Mumpung masih muda kan menikmati jalan kaki hahaha.
Baca: Bogor One Day Trip: Kebun Raya Bogor
Jujyuuur aku tuh iri sama warga kota yang punya kebun raya atau hutan raya kayak gini. Kapan ya, Semarang ada? Atau udah ada, akunya aja yang ga tau?
Di Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda ada apa aja?
Baca: Bogor One Day Trip: Kebun Raya Bogor
Jujyuuur aku tuh iri sama warga kota yang punya kebun raya atau hutan raya kayak gini. Kapan ya, Semarang ada? Atau udah ada, akunya aja yang ga tau?
Di Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda ada apa aja?
Ada 3 spot yang cukup menarik perhatian kami.
Pertama: Gua Jepang
Kedua: Gua Belanda
Ketiga: Holland Spot
Spot pertama dan kedua ini udah ada sejak jaman penjajahan dulu. Dinamakan begitu sesuai dengan siapa yang membangun. Gua Jepang ya yang bikin Jepang. Gua Belanda yang bikin Belanda. Yang aku inget, Gua Jepang ini diperuntukkan sebagai gudang mesiu pada zamannya.
Pertama: Gua Jepang
Kedua: Gua Belanda
Ketiga: Holland Spot
Spot pertama dan kedua ini udah ada sejak jaman penjajahan dulu. Dinamakan begitu sesuai dengan siapa yang membangun. Gua Jepang ya yang bikin Jepang. Gua Belanda yang bikin Belanda. Yang aku inget, Gua Jepang ini diperuntukkan sebagai gudang mesiu pada zamannya.
Kedua gua ini terasa lembap dan….gelap. Heheh. Ya namanya juga goa kan. Di pintu goa ada persewaan senter seharga Rp5.000. kami sewa? Enggak. Hahaha. Ini traveler pelit deh ga mau ngeluarin uang kalo ga buat makan. Dipikir lagi kok pelit banget ya, sedang di masa pandemi gini wisatawan ga sebanyak dulu. Duh, pelajaran deh buat aku.
Kami sempat masuk gua-nya tapi ga jauh dari pintu masuk. Jujur aku takut hahaha meskipun ramai. Hawanya gak enakeun gitu loh. Parno juga kalo runtuh gimana? Hadeh dasar si overthinking. Kami cuma liat-liat dikit aja ga sampe dalem. Dilihat dari blue print yang ditempel didepan sih lumayan luas, masih terbagi beberapa ruang. Termasuk gua manusiawi juga nggak harus nunduk-nunduk masuknya.
Jalan ribuan langkah tentuu membuat lapar. Mata kami tertarik pada tulisan bitterbalen. Si partner ga mau makan manis saat itu. Cocok deh biterballen sebagai cemilan asin.
Kami sempat masuk gua-nya tapi ga jauh dari pintu masuk. Jujur aku takut hahaha meskipun ramai. Hawanya gak enakeun gitu loh. Parno juga kalo runtuh gimana? Hadeh dasar si overthinking. Kami cuma liat-liat dikit aja ga sampe dalem. Dilihat dari blue print yang ditempel didepan sih lumayan luas, masih terbagi beberapa ruang. Termasuk gua manusiawi juga nggak harus nunduk-nunduk masuknya.
Jalan ribuan langkah tentuu membuat lapar. Mata kami tertarik pada tulisan bitterbalen. Si partner ga mau makan manis saat itu. Cocok deh biterballen sebagai cemilan asin.
Disini nih asiknya. Holland Spot menyediakan tempat bengong duduk memandangi hutan. Ditemani suara pertunjukan angklung. Disini juga ibu-ibu reunian itu rame. Mereka request lagu dan joget bareng. Duhhh bener-bener deh itu buibu ngga ada capeknya, ya :))
Pegawai Holland Spot super ramah. Saat kami mulai selfie, salah satu mba (teteh deng ya di Bandung) menawarkan diri untuk mengambil gambar. “Dicek dulu kak fotonya bagus ga?” - yak very considerate.
Kirain udah gitu aja. Ternyataa masih ada lagi donggg. Ada mas-mas (atau Aa?) yang membawakan 2 mainan. Sengaja banget nih biar kami nggak megang handphone terus.
Pegawai Holland Spot super ramah. Saat kami mulai selfie, salah satu mba (teteh deng ya di Bandung) menawarkan diri untuk mengambil gambar. “Dicek dulu kak fotonya bagus ga?” - yak very considerate.
Kirain udah gitu aja. Ternyataa masih ada lagi donggg. Ada mas-mas (atau Aa?) yang membawakan 2 mainan. Sengaja banget nih biar kami nggak megang handphone terus.
Mainan pertama konsepnya tetris. Mainan kedua ada bola-bola, tali dan kotak. Kami ditantang untuk memisahkan ketiganya. Si partner nyobain dan…menyerah :)) aku hampir sejam memainkan tetris ini. Hasilnya? Tetep aja ga bisa kembali seperti semula.
Jiwa kompetitifku ga mau kalah. Aku nanya deh apakah bisa beli mainannya? Bisa! Aku menebusnya seharga Rp80.000. tahu gak sih sampe kembali di Bogor aku belum bisa menyusunnya dengan benar. LOL! Mau cari tutorial di youtube kok ga tau harus pake keyword apa. Sigh sigh sigh. Menarik banget sih ini. Aku sukaaa!
| Ngerti gak si? |
Kudos to pegawai Holland Spot yang super ramah dan mau ngajak pengunjung untuk kembali ke mainan tradisional. Ada engklek segala (ngerti ga sih? Aku gatau nyebutnya apa di Jawa Barat tuh). kami menghabiskan waktu cukup lama di Holland Spot hingga memutuskan untuk udahan.
Then, where are we going next?
Pengennya kafe buku. Ada beberapa yang udah ku eye-ing, misalnya Kineruku dan Indische Cafe. Sayang, ngeliat di google kok udah tutup permanen. Cari lagi: Nimna. Keliatannya bagus. Tapi kami laper butuh makan berat. Diputuskanlah ke cuanki legend se-Bandung. Apa tebak? Yap, cuanki serayu.
Mainstream ya, kami? Maklum turis. Hehe. Belom pernah nyoba pun. Gak ada salahnya kan.
Drama kepulangan dimulai. Kami nggak memperkirakan akan sulit dapet gocar di kawasan Dago Atas. Berkali-kali nyoba app gojek maupun grab ga dapet. Pake hapeku, gantian hp si partner tetep gak nyaut. Time is ticking! And we’re starving!
Jalan terakhir adalah: by foot. Hahaha. Nggak tau seberapa jauh akan jalan, kami turun jalan kaki hingga jalan raya. “Emang nggak ada angkot?” - sempet liat angkot hijau tua tapi selalu penuh dan nggak menawarkan buat mengangkut kami :)) gitu terus sampai kami mampir dulu di Indomaret beli sandal. Mahal bok Rp51.000 (curhat). Terpaksa karena butuh wkwkwk yasudahlah.
Pas duduk didepan indomaret ada angkot mendekat, langsungg gaskeun. Penumpangnya cuma kami berdua :> sembari pegang handphone ngecek google map ini bener apa enggak. Plis lah kami ga tau nama jalannya tuh apaa yaAllah yang penting di maps keliatan mendekat aja ke arah cuanki serayu itu.
Baru jalan sebentar, si abangnya bilang mau ganti ban dulu. Yaudah kami tunggulaah masa enggak? Daripada ketinggalan angkot lagi. Kami beneran buta rute angkot dan dia ini….sepertinya muter-muter wkwkwk. Berhubung udah sampe di “bawah” kami putuskan aja berhenti di seberang The 101 Bandung. Pas di traffic light macem orang gajebo gitu lah.
Dari situ kami pesen gocar. Dapet, yeay! Happy lah otw mengisi perut keroncongan.
Then, where are we going next?
Pengennya kafe buku. Ada beberapa yang udah ku eye-ing, misalnya Kineruku dan Indische Cafe. Sayang, ngeliat di google kok udah tutup permanen. Cari lagi: Nimna. Keliatannya bagus. Tapi kami laper butuh makan berat. Diputuskanlah ke cuanki legend se-Bandung. Apa tebak? Yap, cuanki serayu.
Mainstream ya, kami? Maklum turis. Hehe. Belom pernah nyoba pun. Gak ada salahnya kan.
Drama kepulangan dimulai. Kami nggak memperkirakan akan sulit dapet gocar di kawasan Dago Atas. Berkali-kali nyoba app gojek maupun grab ga dapet. Pake hapeku, gantian hp si partner tetep gak nyaut. Time is ticking! And we’re starving!
Jalan terakhir adalah: by foot. Hahaha. Nggak tau seberapa jauh akan jalan, kami turun jalan kaki hingga jalan raya. “Emang nggak ada angkot?” - sempet liat angkot hijau tua tapi selalu penuh dan nggak menawarkan buat mengangkut kami :)) gitu terus sampai kami mampir dulu di Indomaret beli sandal. Mahal bok Rp51.000 (curhat). Terpaksa karena butuh wkwkwk yasudahlah.
Pas duduk didepan indomaret ada angkot mendekat, langsungg gaskeun. Penumpangnya cuma kami berdua :> sembari pegang handphone ngecek google map ini bener apa enggak. Plis lah kami ga tau nama jalannya tuh apaa yaAllah yang penting di maps keliatan mendekat aja ke arah cuanki serayu itu.
Baru jalan sebentar, si abangnya bilang mau ganti ban dulu. Yaudah kami tunggulaah masa enggak? Daripada ketinggalan angkot lagi. Kami beneran buta rute angkot dan dia ini….sepertinya muter-muter wkwkwk. Berhubung udah sampe di “bawah” kami putuskan aja berhenti di seberang The 101 Bandung. Pas di traffic light macem orang gajebo gitu lah.
Dari situ kami pesen gocar. Dapet, yeay! Happy lah otw mengisi perut keroncongan.
Entah ilham darimana si partner nulis ini. Kayaknya gegara dancing fountainnya. Keliatannya sih termasuk baru dibangun. Akupun pernah ngelihat status temen asal Bandung yang kesini.
Jam 5 kami berangkat ditemani hujan rintik-rintik. Konsepnya taman, ditengah ada danau (?) buatan sedalam 4 meter. Nah di danaunya tuh seharusnya ada air mancur warna-warni. Berdasarkan info yang kudapat dari Google, baru diresmikan awal tahun 2020. Selain dancing fountain, tersedia beberapa bangku dengan patung pahlawan, jogging park, kampung Korea dan mini train. Dua hal terakhir disebut ini nggak aku temukan.
Manusia hanya bisa berencana, hasil akhir Allah yang menentukan. Ternyata jam 5 udah tutup pemirsa. Lesson learned: harus cek akun media sosial dulu biar ga kecolongan. Kirain udah ga boleh masuk, tapi oleh satpamnya disilakan aja. Dengan konsekuensi ya ga ada apa-apanya. Emang sih :)) hanya keliatan gunung yang mengitari. Itupun samar-samar aja, masih hujan shay.
Kami ngapain disitu? Foto-foto aja hahah. Cahaya kuning dan kursinya lumayan kok bisa bikin cantik foto. Apalagi kalau dikasih filter. Beuh tambah cantik *anak instagram cenah*
Jam 5 kami berangkat ditemani hujan rintik-rintik. Konsepnya taman, ditengah ada danau (?) buatan sedalam 4 meter. Nah di danaunya tuh seharusnya ada air mancur warna-warni. Berdasarkan info yang kudapat dari Google, baru diresmikan awal tahun 2020. Selain dancing fountain, tersedia beberapa bangku dengan patung pahlawan, jogging park, kampung Korea dan mini train. Dua hal terakhir disebut ini nggak aku temukan.
Manusia hanya bisa berencana, hasil akhir Allah yang menentukan. Ternyata jam 5 udah tutup pemirsa. Lesson learned: harus cek akun media sosial dulu biar ga kecolongan. Kirain udah ga boleh masuk, tapi oleh satpamnya disilakan aja. Dengan konsekuensi ya ga ada apa-apanya. Emang sih :)) hanya keliatan gunung yang mengitari. Itupun samar-samar aja, masih hujan shay.
Kami ngapain disitu? Foto-foto aja hahah. Cahaya kuning dan kursinya lumayan kok bisa bikin cantik foto. Apalagi kalau dikasih filter. Beuh tambah cantik *anak instagram cenah*
| Gimana gengs cakep gaaa? |
Kecewa sih iya. Nggak lama. Toh ini masih hari pertama kan. Udah nol aja ekspektasi. Musim hujan pula travelingnya. Mau gimana lagi, coba? :P
Sempet ngintip di sekeliling, ada foodcourt. Ada food chain gede macem solaria pun. Lalu ada persewaan sepeda dan skuter. Lagi-lagi udah tutup jadi kami ga bisa nyobain. Puas disitu kami beranjak ke alun-alun kota bandung.
Sholat dulu biar lega disini. Ini pertama kalinya aku ke masjid raya bandung. Aku perhatikan bangunannya kelihatan berumur, ya. Mungkin kalo di Semarang mirip sama Masjid Baiturrahman yang ada di simpang lima. Masjid ini ikonik dengan tamannya yang luas itu.
Lagi-lagi karena pandemi, nggak boleh kesitu. Alias ditutup. Dipalang pake tali tambang pas di pintu keluar masjidnya. Baiklah. Udah malem juga sih gelap. Nggak tau kalo sebelum pandemi apakah ramai?
Perpaduan antara rasa lapar dan hujan rintik-rintik membuat kami lapar. Kami mencari makan di Teras Kuliner Aqua Cikapundung Barat. Area ini mirip dengan Mangkunegaran di Surakarta. Sepanjang jalan bertebaran penjaja street food. Mulai dari tradisional, nusantara, asian, hingga western.
Sempet ngintip di sekeliling, ada foodcourt. Ada food chain gede macem solaria pun. Lalu ada persewaan sepeda dan skuter. Lagi-lagi udah tutup jadi kami ga bisa nyobain. Puas disitu kami beranjak ke alun-alun kota bandung.
Alun-Alun Kota Bandung
Sholat dulu biar lega disini. Ini pertama kalinya aku ke masjid raya bandung. Aku perhatikan bangunannya kelihatan berumur, ya. Mungkin kalo di Semarang mirip sama Masjid Baiturrahman yang ada di simpang lima. Masjid ini ikonik dengan tamannya yang luas itu.
Lagi-lagi karena pandemi, nggak boleh kesitu. Alias ditutup. Dipalang pake tali tambang pas di pintu keluar masjidnya. Baiklah. Udah malem juga sih gelap. Nggak tau kalo sebelum pandemi apakah ramai?
Perpaduan antara rasa lapar dan hujan rintik-rintik membuat kami lapar. Kami mencari makan di Teras Kuliner Aqua Cikapundung Barat. Area ini mirip dengan Mangkunegaran di Surakarta. Sepanjang jalan bertebaran penjaja street food. Mulai dari tradisional, nusantara, asian, hingga western.
Pilihan pertama jatuh pada lunpia basah. Sebagai warga Semarang, lunpia basah ini beda banget ya sama lunpia Semarang. Jika lunpia Semarang bentuknya mirip sosis solo alias digulung, lunpa basah ini terbuka. Jadi di sebuah wadah plastik dialasi kulit lunpia. Baru diisi dengan touge, ayam dan mie semacam kwetiaw. Yang aku inget gitu sih. Dan dia cita rasanya manis. Atau karena aku ga pesen yang pedes, ya?
Aku pernah liat instagram story salah satu temen yang ngga cocok sama lunpia basah. I wonder why and I anticipated it. Turn out bisa-bisa aja aku konsumsi. Maybe I’m just not that picky unless the food is spicy. As long as it is edible, I can eat just fine.
Di area ini banyak muda mudi kongkow. Keluarga juga. Ah, I miss my family but I can’t hope we’re being like that :)) enjoy aja being with my travel partner. Sebuah kebodohan terjadi. Kami pesan lunpia basah itu 1 untuk berdua. Alhasil sumpit yang dikasih sepasang aja dong. Eh malah 1 nya aku jatuhin. Pas di sendal pula. Haduhaduhadu emang ini sensor motorik tangan agak payah.
Aku pernah liat instagram story salah satu temen yang ngga cocok sama lunpia basah. I wonder why and I anticipated it. Turn out bisa-bisa aja aku konsumsi. Maybe I’m just not that picky unless the food is spicy. As long as it is edible, I can eat just fine.
Di area ini banyak muda mudi kongkow. Keluarga juga. Ah, I miss my family but I can’t hope we’re being like that :)) enjoy aja being with my travel partner. Sebuah kebodohan terjadi. Kami pesan lunpia basah itu 1 untuk berdua. Alhasil sumpit yang dikasih sepasang aja dong. Eh malah 1 nya aku jatuhin. Pas di sendal pula. Haduhaduhadu emang ini sensor motorik tangan agak payah.
Next target adalah sate gurita. Menariknya lebih ke penjajanya itu memainkan api luar biasa wkwkwk. Rasanya? Biasa aja sih malah cenderung gosong. Overcooked nih keknya. Yasudah tak apa. Berhubung hujan semakin deras, kami memutuskan untuk pulang setelah membungkus kacang rebus dan sekoteng.
Kalo Jawa Tengah punya wedang ronde, bandung punya sekoteng (atau daerah barat?). Yang khas bandung tuh bandrek bukan sih? Sekoteng ini kuahnya campuran jahe dan susu kental manis. Isiannya kolang-kaling, mutiara, serpihan semprong serta kacang tanah digoreng. rasanya tetep enak kok. Cuma ada yang kurang aja sebagai penggemar ronde isi kacang itu. Kurang nampol! Hahaha. Kan yang dicariin rondenya.
Petualangan hari itu berakhir dengan ngegofood, ngobrol sampai hampir tengah malam dan tidooor!
Petualangan hari itu berakhir dengan ngegofood, ngobrol sampai hampir tengah malam dan tidooor!
Subscribe to:
Posts (Atom)












