Novel Review: Laut Bercerita - A Lifelong Journey by Lulu Khodijah

Wednesday, April 11, 2018

Novel Review: Laut Bercerita

Detail:
Judul: Laut Bercerita
Penulis: Leila S. Chudori
Terbitan: Oktober 2017
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Jumlah halaman: 389


Sinopsis:
Jakarta, Maret 1998
Di sebuah senja, di sebuah rumah susun di Jakarta, mahasiswa bernama Biru Laut disergap empat lelaki tak dikenal. Bersama kawan-kawannya, Daniel Tumbuan, Sunu Dyantoro, Alex Perazon, dia dibawa ke sebuah tempat yang tak dikenal. Berbulan-bulan mereka disekap, diinterogasi, dipukul, ditendang, digantung, dan disetrum agar bersedia menjawab satu pertanyaan penting: siapakah yang berdiri di balik gerakan aktivis dan mahasiswa saat itu.

Jakarta, Juni 1998
Keluarga Arya Wibisono, seperti biasa, pada hari Minggu sore memasak bersama, menyediakan makanan kesukaan Biru Laut. Sang ayah akan meletakkan satu piring untuk dirinya, satu piring untuk sang ibu, satu piring untuk Biru Laut, dan satu piring untuk si bungsu Asmara Jati. Mereka duduk menanti dan menanti. Tapi Biru Laut tak kunjung muncul.

Jakarta, 2000
Asmara Jati, adik Biru Laut, beserta Tim Komisi Orang Hilang yang dipimpin Aswin Pradana mencoba mencari jejak mereka yang hilang serta merekam dan mempelajari testimoni mereka yang kembali. Anjani, kekasih Laut, para orangtua dan istri aktivis yang hilang menuntut kejelasan tentang anggota keluarga mereka. Sementara Biru Laut, dari dasar laut yang sunyi bercerita kepada kita, kepada dunia tentang apa yang terjadi pada dirinya dan kawan-kawannya.

Laut Bercerita, novel terbaru Leila S. Chudori, bertutur tentang kisah keluarga yang kehilangan, sekumpulan sahabat yang merasakan kekosongan di dada, sekelompok orang yang gemar menyiksa dan lancar berkhianat, sejumlah keluarga yang mencari kejelasan akan anaknya, dan tentang cinta yang tak akan luntur.

***
Orde Baru sudah lama berlalu. Tetapi kisah yang menyelimuti masa-masa itu nggak pernah terlupakan. Bagaimana rakyat dipimpin oleh seorang presiden yang nggak dipilih mereka. Menjalankan aturan tanpa bisa memberi kritik. Dan, pergerakan mahasiswa menuntut demokrasi.

Biru Laut salah satunya. Seorang mahasiswa Sastra Inggris UGM Jogja. Karena kesukaannya membaca, dia menemukan kelompok pergerakan mahasiswa yang menyebut diri mereka Witrasena dan Wirasena. Aktivitas awal yang mereka lakukan berupa diskusi. Tentang buku-buku Karl Max, Pramoedya Ananta Toer dan buku "sayap kiri" lainnya. Pada masa itu tahun 1996 buku semacam itu dilarang untuk dibaca. Apalagi disebarluaskan.

Tetapi ternyata kegiatan mereka nggak berhenti di diskusi aja. Mereka mulai melihat sekeliling dan menyadari bahwa rakyat terlalu sering menderita. Sebabnya apalagi kalau bukan kediktatoran pemerintah Orde Baru. Semua harus tunduk kepada pemerintah. Pers dibungkam. Yang bisa bertahan hanya mereka yang menulis hal baik tentang pemerintah.

Pada akhirnya Biru Laut ikut turun aksi di beberapa tempat. Berisiko memang, tapi tekadnya sudah kuat untuk menghentikan ketidakadilan yang dirasakan.

Sampai akhirnya dia - dan kelompoknya - diculik oleh orang tak dikenal. Hari demi hari dilewati dengan berbagai siksaan. Disetrum. Dipukuli. Ditelanjangi diatas balok es batu. Tanpa pernah tahu siapa orang-orang ini. Ditambah lagi, teman sekelompok yang dia kira loyal dan sering membantunya nggak lain dan nggak bukan adalah intel.

Di sisi lain, keluarga Biru Laut mulai kehilangan dia. Asmara Jati, adiknya. Dan ibu bapaknya. Mereka nggak pernah berhenti mencari. Sama seperti setiap minggunya nggak pernah lupa untuk meletakkan empat piring di meja makan. Walau mereka tahu, kemungkinan Laut untuk kembali ke rumah sangat kecil.

***

Novel ini ditulis dari dua sudut pandang. Pertama, Biru Laut. Dan Asmara Jati, adik Laut. Rentang waktu yang dialami Laut pada tahun 1996 - 1998 dimana Orde Baru masih berkuasa. Dia yang memperjuangkan demokrasi, nggak pernah tahu bagaimana akhir dari perjuangannya.

Narasi Laut menggambarkan sosok yang berjuang dalam kesendirian. Kesepian. Sampai ketika diculik yang bisa dia pikirkan hanya keluarganya dan Anjani. Hari demi hari dia lewati tanpa tau dunia luar seperti apa. Hingga akhirnya yang terngiang di benaknya hanya sebuah puisi dari Sang Penyair...

"Jangan takut gelap. Gelap adalah bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Pada setiap gelap ada terang meski hanya secercah, meski hanya di ujung lorong. Jangan sampai kita tenggelam pada kekelaman. Kelam adalah lambang kepahitan, keputus-asaan, dan rasa sia-sia. Jangan pernah membiarkan kekelaman menguasai kita, apalagi menguasai Indonesia."

Sementara itu sudut pandang Asmara Jati mengisahkan bagaimana rasanya kehilangan anggota keluarga. Tanpa tahu harus mencari kemana. Harus mengadu ke siapa. Masih ditambah menghadapi sikap denial yang dilakukan kedua orang tuanya. Sejak Laut menghilang, Mara merasakan seolah-olah orang tuanya hanya menganggap Laut sebagai anak. Sedangkan dia perlahan terlupakan.

Masih sama seperti tema yang diangkat di novel "Pulang", tentang mahasiswa dan pergerakan. Sedikit bumbu-bumbu PKI (lagi). Novel ini menyadarkan saya bahwa ada sejarah kelam yang nggak bisa dilupakan sampai saat ini. Penculikan aktivis mahasiswa, benar adanya. Karena penulisnya, Leila Chudori melakukan riset ke keluarga yang anggotanya nggak ditemukan sampai saat ini.

Hal yang menyentil lainnya yaitu tentang semangatnya mahasiswa dalam menegur pemerintahan yang salah. Dulu, mahasiswa berjuang sampai mempertaruhkan nyawanya. Tanpa bertanya untuk apa. Sedangkan sekarang? Miris. Mahasiswa yang berusaha untuk "menyentil" pemerintah, langsung dapet nyinyir. 

"Ngapain pake aksi segala?"
"Emang situ udah berbuat apa?"
"Alah nanti juga kerja digaji perusahaan"
Dan lain-lainnya. Seriously I can't stand this kind of comment and attitude. Bahkan untuk sekedar saling menghargai pun mahasiswa (masih) belum bisa. Spirit perjuangan mahasiswa jaman Orde Baru bisa jadi contoh untuk mahasiswa jaman now.

Untuk membaca novel ini cukup membutuhkan konsentrasi karena...sedikit banyak ngomong tentak politik. Belum lagi scene penyiksaan. Haduh, bikin nggak kuat bacanya dan berkali-kali kerasa mengiris hati :(

Penggambaran detail lokasi demi lokasinya menurut saya bagus banget. Pembaca seolah-olah dibawa untuk ikut langsung di masa itu. Alurnya agak membingungkan karena maju mundur. But it's okay. Sama sekali nggak membosankan.

Overall, I recommend this book to read. Dan jangan khawatir, di aplikasi iPusnas sudah bisa dipinjam. Happy reading!

8 comments:

  1. Pada setiap gelap ada terang meski hanya secercah, meski hanya di ujung lorong. Manusia yang mendapatkan hidayahlah yang mampu melihat cercahan itu, kemudian ia berpikir bagaiamana cara dari benang merah yang ia dapat dalam setiap situasi ia rajut kembali untuk melindunginya dari dingin malam nantinya.

    ReplyDelete
  2. penasaran pengen baca bukunya, nanti mau belii..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asikk, happy reading mbak. Boleh juga nanti ditulis ulasannya di blog

      Delete
  3. kayaknya bagus nih bukunya...penuh misteri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lumayan. Review goodreads nya juga tinggi 😀

      Delete
  4. Baru tahu aku mbak kalo ternyata ada novel kayak gini. Cocok banget nih novel dibaca para mahasiswa jaman now. Nice sharing.

    ReplyDelete

Hai! Terima kasih sudah membaca. Silahkan berkomentar dengan bahasa yang santun ya :)