Baju sarimbit a.k.a baju kembaran. Biasanya lebih umum ke pasangan atau couple. Buat yang belum punya pasangan, mau sarimbitan sama siapa? Sungguh jawabannya sangat mudah. Yaitu ke keluarga :)) bisa dengan bapak ibu, kakak adek, persepupuan. 


Perkara baju kembaran ini sangat familiar di keluargaku. Bukan, bukan semua anggota keluargaku suka pake baju kembaran. Melainkan aku, adikku, dan ibuku. Jadi keluargaku ini didominasi dengan para lelaki. Perempuannya hanya kami bertiga. Biar kelihatan kompak, ya sudahlah kami pakai baju kembaran.

Dari kapan pake baju kembaran?
Sepanjang ingatanku sih dari jaman TK. Yaampun, udah lama banget ya. Apa jangan-jangan dari bayi udah dibeliin baju kembaran sama ibun? Yep. Jarak usiaku dengan adik perempuan hanya 3 tahun. Lebih cute kali ya umur deketan gitu pake baju kembar biar dikira kembar.

Cuma momen lebaran aja?
Enggak :)) ada kalanya aku dan ibun belanja di pasar/mal. Kemudian nemu diskonan. Pertama beli pasti ibun duluan (maklum yang punya duit :P) kemudian nawarin aku. Setelahnya pasti cari 1 baju lagi buat si adik biar gak iri. HAHA. Sungguh ribet hidup ini. 

Kapan terakhir pake baju kembaran?
Lebaran tahun kemaren. Astogee baru-baru ini banget kan. Sejujurnya sebagai manusia yang udah kebuka matanya akan isu lingkungan tuh nggak merasa butuh buat beli baju baru. Toh baju lama tuh masih pada oke buat dipakai. Tapi ya gimana ya ibun suka banget beli barang langsung borongan. Aku mah cuma nerima aja. Ujungnya kepake sih :P

Tapiii...
Ada tuh orang yang menganggap baju kembaran norak. Apalagi kembarannya sama orang gak dikenal ya LOL. Eh ini pernah kejadian banget sama aku waktu di tempat wisata ada orang pake dengan motif persis dengan bajuku. Untungnya aku chill ya anaknya, ketawain aja. Ya gimana orang bukan beli barang limited edition :P

Baju kembaran yang buanyak member kayak se-geng atau sekampung rentan dikatain "anak panti". Sigh, entah kata ini darimana ya. Didengernya nggak enak banget dan merendahkan anak panti. Tulunglah kurang-kurangin begini ya gaes ya.

Solusi bagi yang pengen pake baju kembaran tapi nggak pengen kembar banget adalah dikombinasikan. Hah, gimana tuh maksudnya?

Iya, nggak kudu persis plek. Misal dapet bahan yang warna dan teksturnya sama, jahitlah dengan pola yang berbeda. Atau sudah berbentuk baju jadi, bolehlah modelnya sama tapi bisa dibedakan warna kayak foto cover blog ini diatas :)) banyak cara lah yaw untuk tetap berasa "kembar" tanpa harus plek ketiplek macem pinang dibelah dua.

Kenapa sih suka pake baju kembaran?
YHAAA merasa spesial aja HAHA. Semacam ada kebanggaan tersendiri ketika pake baju kembaran. Dipake ditempat umum, bisa sebagai penanda biar gak ilang :P LOL. Lebih berasa korsanya. Fun, ketika barang yang ada sebenernya cuma 1 tapi kudu banget nyari 3 demi kembaran. Banyak lah alasannya.

Mau sampe kapan pake baju kembaran?
Selama yang aku bisa HAHAHA jadi kepikiran deh Lebaran tahun ini bakal kembaran juga gak ya?
Sorry, thank you, please.
Versi Indonesia: maaf, terima kasih, tolong.
Sudah banyak psikolog, praktisi tumbuh kembang anak, dsb menggaungkan 3 kata ini. Sering disebut pula dengan 3 magic words. Begitu juga dengan aku. Aku merasa cukup mudah untuk mengutarakan ketiga kata ini ketika memang dibutuhkan.


Contohnya, mengucapkan terima kasih ketika mendapatkan bantuan dari orang lain. Mengucapkan maaf jika melakukan kesalahan pada orang lain. Dan meminta tolong ketika tidak bisa mengerjakan sesuatu sendiri dan butuh bantuan orang lain. Meskipun pada kenyataannya yang ketiga ini agak sulit untuk diucapkan karena merasa nggak enakan merepotkan orang lain. Yes, wong Jowo trait.

Untuk kata "maaf" justru aku merasa terlalu sering mengucapkannya. Sampai menemukan buku bahwa kebanyakan minta maaf tuh bisa membuat kita dianggap "gampangan" atau pushover istilah gaulnya. Dan karena itu aku mulai berusaha menempatkan kapan waktu yang tepat untuk meminta maaf.

Ngomongin minta maaf juga, belakangan aku observasi orang di sekitarku ketika minta maaf. Ada satu kejadian dimana aku janjian dengan orang pada jam 08.00 sebut saja begitu. Sudah disepakati, namun pada kenyataannya ybs (yang bersangkutan) muncul 08.30. Apakah orang tersebut minta maaf? Ya. Redaksionalnya kurang lebih seperti ini tapi nggak plek ya.

"Duh maaf ya aku telat lagi. Padahal aku udah berangkat pagi loh dari rumah, tapi anakku nempel terus sama aku."

Me, being someone who tried her best to on time, just offered a smile. And shut my mouth. But deep in my heart, it was rage all along. Yes, she said sorry clearly enough. But why is it that I don't feel enough? Aku tidak merasa mendapatkan permintaan maaf yang "beneran".

Kok gitu, ya? Of course I tried to analyze it. Ini bakal subjektif banget sih, but at least I find the answer. Dan masuk akal dalam logika berpikirku.

1. Tidak tulus dari hati terdalam

Sincerity. As it said. Kita bisa menilai mana orang yang tulus dan mana yang engga. Dalam kasus ini, ketika ybs meminta maaf, dia tidak menatap mataku atau berfokus sepenuhnya ke aku. Hanya dengan masuk ruangan, meletakkan tas sambil bergumam minta maaf. Well, I don't feel the sincerity here :')

2. Tidak ada penyesalan

Nada penyesalan dan tidak tuh beda ya. Di nada penyesalan tone-nya sedikit turun, ada rasa khawatir, mimik muka pun mendukung dan menampakkan penyesalan. Again, disini tidak kutemukan. Seakan terlambat itu hal biasa dan aku harus memakluminya.

3. Tidak ada perubahan perilaku

Di poin ini bisa dilihat setelah beberapa kali berinteraksi ya. Bukan hanya sekali bertemu lalu udah. Jika ternyata pada pertemuan-pertemuan selanjutnya dia tetap terlambat. Well...apalah arti maafmu itu. Tandanya kata "maaf" yang terlempar hanya basa basi atau formalitas belaka.

4. Tidak merasa bersalah

Bisa dilihat dengan kalimat maafnya. Apakah dia menyalahkan sesuatu yang lain? Misalnya terlambat karena jalanan macet? Karena anaknya nangis? Berjuta alasan bisa dilontarkan ketika kita minta maaf. Jika memang merasa bersalah, ybs nggak akan mencari objek lain untuk disalahkan. Big no. Karena itu artinya dia merasa dirinya nggak salah, yang salah adalah orang lain dalam hal ini anaknya atau benda (jalanan, mereka bisa apa sih?).

Well, I think you got the idea. Aku menyarankan ketika meminta maaf, hindari keempat hal diatas ya. Dan bila perlu, tambahkan 1 hal lagi. Tanyakan kepada orang yang kamu mintakan maaf itu, "Aku bisa melakukan apa untuk memperbaiki kesalahanku?". If it was in my case, ya aku jawab: kedepannya jangan terlambat lagi ya. Atau bisa mengirim kabar lho sebelumnya kalau sekiranya bakal terlambat.

Simpel ya, tapi mungkin nggak banyak orang yang kepikiran. Ini mah karena aku over thinker aja jadi bisa bikin 1 postingan? :)) I hope you got my point!
Siapa yang nggak kenal bawang goreng??? Panganan satu ini sudah banyak dikenal orang Indonesia yah. Yang dimaksud bawang goreng disini adalah bawang merah, bukan bawang putih. Kadang di Jawa lebih dikenal dengan brambang goreng. 


Brambang goreng ini ((versatile)) banget. Dijadikan snack alias dimakan langsung bisa. Dijadikan taburan diatas makanan lain pun bisa meningkatkan cita rasanya. Meski keliatannya gampang bikinnya, tinggal iris tipis bawang merah dan digoreng, nggak semudah itu lho. Kalau nggak pas malah bisa 1) kebanyakan minyak terserap di bawangnya, 2) gampang letoy alias renyahnya bentar doang.

Tapi disini aku ngga akan bahas resep bawang goreng yang enak yah. Haha. Maklum, berkunjung ke dapur aja bisa dihitung pake jari :)) 

Disini ada beberapa makanan yang aku cobain dan lebih enak ketika dikasih taburan bawang goreng. Apa aja tuh?

1. Nasi Goreng

Makanan penyelamat anak kos. Penjualnya banyak beredar di pinggir jalan. Harganya murah meriah. Porsi gede. Paling penting: buka di jam kritis alias sampe dini hari pun ada. Nasi goreng yang masih panas kadang teksturnya agak lembek. Meskipun ini tergantung juga ya dari awal nasi bahan bakunya. Apakah dia pera atau engga.

Nah biar nambah variasi tekstur itu, coba tambahin bawang goreng deh. Nikmat! Jangan lupa kerupuknya. Kurang afdhol deh nasi goreng tanpa kerupuk :P

2. Kwetiauw

Sebelas dua belas sama nasi goreng, biasanya mamang nasi goreng tuh sedia kwetiauw juga. Ada kwetiauw goreng dan kwetiauw kuah. Mana kesukaanmu?

Aku sih tergantung mood dan cuaca. Kalau sedang hujan deras dan butuh yang panas, pasti pilih kwetiauw kuah. Dan topping seafood. Duh, ngebayanginnya aja udah bikin ngiler... Menurutku kwetiauw yang paling pas ditambahin bawang goreng tuh ya kwetiauw goreng.

Kenapa? Soalnya rasa kriuknya tetep bisa dipertahankan. Beda dengan ketika ditaburin ke kwetiauw kuah, bawang gorengnya basah dan letoy deh. Kurang sedaap...

3. Soto

Indonesia kaya dengan beragam jenis soto. Soto Kudus dengan daging kerbaunya, Soto Betawi dengan kuah santannya, Soto Surabaya, daan lain-lain. Daerah kelahiranku, Semarang pun punya soto. Soto menjadi menu sarapan favoritku saat tinggal di Solo. Alasannya simpel sih: penjual soto bertebaran di pagi hari. Bahkan seberang kantor pun ada :)) sebagai manusia cari gampangnya aja ya makan soto. Makan setiap hari pun nggak ada bosannya.

Tapiii...entah kenapa aku merasa soto di Solo dan Semarang nih agak kureng. Bisa dilihat dari penampakan kuahnya yang bening dan isiannya nggak neko-neko. Biar lebih "berwarna" bisa banget nih ditaburin bawang goreng. Emang sih nanti bawang gorengnya jadi letoy kena air. At least dapet aroma gurihnya bawang goreng deh. Level up soto banget deh!

4. Sate padang

Nah yang terakhir ini aku baru cobain sekali doang. Penasaran kayak gimana sih sate padang itu? Ternyata yang digunakan bukan bumbu kacang seperti pada umumnya. Melainkan bumbu kental kuning yang lebih banyak rempahnya. Jujur, buatku ini terlalu "berat" sih di lidah :)) untung ketika beli disajikan bawang goreng diatasnya. Semacam ada penyelamat rasa biar lebih bisa diterima di lidah.

Itu dia 4 makanan yang cocok dinikmati dengan bawang goreng versiku. Apa versimu?
Angkringan. Tempat makan ter-hits di daerah Jawa. Terutama Jawa Tengah dan Yogyakarta. Angkringan biasanya berbentuk gerobak kayu atau lapak beratapkan terpal. Makanan khasnya yaitu nasi kucing atau sego kucing. Emang ada daging kucingnya? No no.


Dinamakan nasi kucing karena porsinya yang dikit kayak makanan kucing. Kucing kampung ya puhlease jangan samain makanan kucing dengan whiskas apalagi royal canin. Karena porsinya ini, harganya pun murah meriah. Di daerah Solo, 3000 udah dapet. Murce kan? 

Sebelum memasuki momen kerja, aku ngga pernah sama sekali nyobain angkringan. Pertama, karena keluargaku ngga biasa makan diluar. Iyapun belinya sebangsa bakso, pempek, martabak. Kedua, angkringan umumnya buka dari sore sampai dini hari. Sebagai anak rumahan jelas ngga ada kesempatan buat keluar jam segitu. Lah jam 5 sore belom sampe rumah aja udah ditelponin.

Ini adalah pengalaman pertamaku ke angkringan. Ceritanya...
Udah resmi nih jadi anak kos. Selain kebebasan yang didapat, kemandirian dituntut. Ngga ada lagi loooh yang menyediakan makan malem. Nek ora obah yo ora wareg. Makanan tidak jatuh begitu saja dari langit.

Terpetik lah ide untuk ngajakin makan anak kantor keluar. Apa dia yang ngajak ya? Lupa. Pas ditanya mau kemana? Jawaban khas perempuan: terserah :))

Yaudaahlah kami motoran aja tuh berdua. Baru pertama kali di Solo. Ngga tau arah. Asal nemu ajalah. Nggak lama kemudian setelah melewati rel kereta, nemu tuh angkringan di kiri jalan. Akhirnya melipir.

Aku ngga inget pesen makan atau gorengan doang? Yang jelas masih inget dibayarin, dengan alasan udah mau nemenin makan. Haiyaah. Anak kos mah seneng aja dibayarin :P

Disitu baru tau ooh ini namanya angkringan. Emang isinya ga banyak. Nasi kucing, gorengan, sate-satean, dan wedang. Kami pesen teh anget aja. Kalo ngga salah berdua cuma habis Rp 15.000. Astagaaa murah banget ya shay. Bandingin sama disini Rp 15.000 mah sekali makan buat 1 orang :")) huhu kangen Solo.

Itu untuk angkringan yang beneran. Hah, emang ada yang boongan? Lebih ke konsepnya angkringan harga bukan sih :)) Di Solo banyak juga nih angkringan "naik kelas". Bentuknya tentu bukan gerobak bertutup terpal. Melainkan bangunan permanen macam kafe. Harganya jelas lebih tinggi. Contoh yang udah pernah aku kunjungi: Angkringan Omah Londo. 


Bagi manusia yang agak concern sama kebersihan makanan sih ini cocok ya. Rapi, bersih. Kekurangannya tusukan (side dish) yang tersedia nggak hangat. Bisa sih diangetin lagi. Tapi rasanya beda yak. Dari segi vibes sih enak dan nyaman banget. Ada indoor dan outdoornya. Lah jadi pengen kesana lagi.

Kembali ke masa saat ini.
Di Bogor ada angkringan? Ngga tau. Semacam pedagang kaki lima sih banyak ya. Untuk yang spesialisasi angkringan I dunno. Dan aku nggak pernah mencari sih. Justru disini adanya adalah kafe dengan konsep angkringan. Tertarik? Engga. Hahaha. Ada judgment rasanya bakal beda dengan otentik di Jawa (Tengah). 

Ya syudah lah ya. Icip-icip makanan boleh. Perkara balik ke tempat atau enggak itu belakangan. Yang penting ada experience-nya. Dan beneran nggak terlupakan, toh?