Friday, October 12, 2018

A Trip to: Candi Gedong Songo

Perkuliahan usai. Skripsi selesai. Wisuda didepan mata. Aktivitas saya mendadak surut. Dari yang tadinya mengejar-ngejar kelas hingga menjadi asisten praktikum, kini kebanyakan duduk manis dirumah. Sebagian teman sudah bekerja. Sebagian lagi mulai rajin memasukkan lamaran kerja di beberapa tempat. Saya? Masih menikmati dulu aja. Hihi. 


Baca: #MenujuSKM: I'm (Un)officially SKM

Nggak bisa dibilang menganggur juga. Saya masih ada tugas mengajar dan job menulis. Alhamdulillah. Cuma rasanya penat juga dirumah terus. Kepikiran pengin liburan. Tapi kemana? Lebih tepatnya, sama siapa? Hahaha. Beginilah ya umur kepala dua justru semakin diwanti-wanti jangan pergi sendiri.

Baiklah, kali ini saya perginya berdua! Yeay! Bersama seorang teman (yang janjinya mau ke Umbul Sidomukti) eh kesampeannya ke Gedong Songo. Yauwis, #AkuRapopo.


Sedikit tentang Candi Gedong Songo, tempat ini merupakan cagar budaya yang berisi komplek bangunan candi. Komplek? Iya. Songo dalam bahasa Jawa artinya sembilan. Maka Candi Gedong Songo maknanya ada candi berjumlah sembilan disitu. Candi ini peninggalan Hindu. Nggak heran bentuk dari candinya mirip dengan di Prambanan. Bentuknya cenderung menjulang ke atas, nggak melebar seperti Candi Borobudur peninggalan Buddha.

Candi Gedong Songo letaknya di lereng Gunung Ungaran. Di Semarang dikenal dengan daerah Bandungan. Katanya sih disebut “Bandungan” karena sejuknya mirip kota Bandung. Jadilah “Bandungan” artinya kayak Bandung. Hehe. Daerah Bandungan ini sejenis lah dengan Lembang-nya Bandung atau Guci-nya Tegal.

Baca: A Trip To: Wisata Apung Kampoeng Rawa 

Jarak dari Semarang sekiar 40 km. Tapi dari tempat saya kurang lebih 28 km. Alhamdulillah ada hikmahnya juga kan rumah di pinggir Semarang? :p 

Jalanan menuju Gedong Songo cukup curam. Harus berhati-hati banget. Ini kali kedua saya ke Gedong Songo. Pertama acara sama rombongan sirkus anak-anak nah yang kedua sekarang. Harusnya ketiga kali kalo aja waktu SoV (Slash on Vacation) nggak turun sebelum sampe. 

Baca: Slash on Vacation: Bandungan (btw ini postingan jadul banget hahahaha)

Oh ya, saya baru tau kalo Taman Bunga Celosia yang hits itu deket banget sama Candi Gedong Songo. Kami nggak mampir sih, lewat aja. Candi Gedong Songo buka pukul 06.30 (nyontek Google dulu sebelum pergi :p). Kami sampai kira-kira 09.45 disana dan apa yang terjadi? Tukang parkirnya belum ada. Jadilah saat pulang ditanyai, “Mbak, nomer (parkir)nya mana?” dijawab nggak punya. Lha wong masnya aja belum ada.

Saya perhatiin Candi Gedong Songo makin bagus dan rapih. Keliatan banget terawat. Di bagian luar ada toilet (tentuu berbayar), lahan parkir luas. Untuk motor dan mobil (atau bus) terpisah. Tiket masuk Candi Gedong Songo dibanderol Rp 8.000 untuk wisatawan lokal dan Rp 75.000 untuk wisatawan mancanegara.

Masuk ke komplek akan disambut oleh deretan warung serta joki (?) kuda bagi yang mau menyewa. Biaya sewa kuda mulai dari Rp 30.000 – Rp 120.000 tergantung jarak mau sampai candi berapa. Buat yang nggak mau capek-capek hiking, biaya segitu worth it kok.

Nah, walaupun namanya Candi Gedong Songo sepanjang yang ditemui hanya 5 Gedong. Kalo nggak salah sih ya saya pernah baca jika ada orang yang bisa lihat kesembilan candi tandanya dia beriman(?) atau sakti mandraguna. Orang terpilih gitu. Bener atau enggaknya yaaa nggak tau. Namanya juga peninggalan sejarah. Pasti ada aja mitosnya :D

Urut-urutan candinya (kalo ngga salah ya pliz kalo salah boleh banget dikoreksi. Maklum bukan travel blogger nich). Candi pertama yang terdekat dari pintu masuk adalah candi 3. Kemudian jalan menanjak nggak terlalu curam tapi cukup jauh itu ketemu candi 1.



Yang baru ini sebelum candi 1 udah dibangun spot untuk selfie. Isinya properti untuk instagram-able kayak tempat duduk aestetik, hiasan rumah pohon, dan semacamnya. Untuk bisa masuk harus bayar lagi Rp 5.000. Yha, niatnya mau masuk tapi......nggak jadi. Sayang aja Cuma buat foto-foto doang hahaha #SobatIrit.


Dari candi 1 menuju candi 2 jalanannnya cukup curam. Tapi udah lebih baik jalanannya soalnya kayak paving gitu bukan lagi susunan batu-batu tajam setajam silet. Bagian paling dilematis adalah dari candi 2 menuju candi 4 dan 5. Kok gitu?

Nah si candi 4 dan 5 ini letaknya di seberang candi 2. Nyeberangnya bukan kayak nyeberang jalan raya ya. Ada sumber air panas yang memisahkan mereka. Untuk bisa ke candi 4 dan 5 kami harus turun dulu baru naik lagi. Udah kayak roller coaster deh pokoknya. Rekor saya dulu ke Gedong Songo Cuma sampe candi 1, balik kanan pulang.

Sekarang nekad aja mendaki ke semua candinya. Di turunan menuju candi 4 dan 5 ada sumber air panas serta kolam berendam air panas. Waktu kami kesini isinya kakek-kakek berendam sambil ngobrol. Nggak lihat yang muda sama sekali. Entah emang nggak ada atau belum ada aja. harga tiket pemandian air panasnya Rp 5.000 aja.



Waktu hiking kami tempuh sekitar 2,5 jam. Mulai jalan pukul 10.00 dan tiba lagi di titik pemberangkatan pukul 12.30. waktu ini dengan catatan kecepatan jalan lambat plus berhenti cukup sering. Untuk foto-foto dan istirahat minum. Hehehe. Sepanjang perjalanan bakal dipuaskan dengan pemandangan alam yang ijo royo-royo. Udaranya pun kerasa segar. Suhunya kemarin nggak ngecek sih berapa. Gegara Indosat nggak ada sinyal! Huft.


Minusnya wisata disini adalah: 
  • Banyak sampah!!! :( sebel banget banyak sampah jajanan dan air mineral. Harusnya ada petugas yang patroli aja kalo buang sampah sembarangan biar didenda di tempat biar kapok! 
  • Banyak ranjau alias kotoran kuda. Di beberapa titik mengumpul gitu sampai menimbulkan bau nggak sedap. 
  • Nggak ada keterangannya di candi. Cuma ada papan menunjukkan ini Candi Gedong 1, dan seterusnya. Sama sekali nggak ada info sejarah. Di awal juga kayaknya nggak ada. CMIIW. Atau mungkin ini strategi untuk sewa jasa kuda jadi sekalian ada tour guide? Idk tho. 
  • Banyak coretan :( malah di candinya lho juga ada coretannya. Sebel banget akutu sama orang-orang vandalisme kayak gini. Nggak ada menghargainya sama sekali. 
  • Banyak orang pacaran. Ini tuuu juga. Bukan masalah karena saya jomblo ya. Tapi tu pacarannya di pintu candi gitu bisa bayangin nggak? Merusak pemandangan. 
Untuk perjalanan naik nya ada penjual makanan dan minuman. Nah turunnya ini nggak ada sama sekali. Jadi tipsnya adalah: 
  • Bawa minum sendiri! Selain menghemat juga mengurangi kemungkinan buang sampah sembarangan. 
  • Pake sepatu yang nyaman. Jangan pake high heels. 
  • Bawa tongkat penuntun (kalo emang dirasa perlu). Tak lupa pake topi atau apapun yang bisa melindungi dari sengatan matahari. 

To sum up, piknik kami ini itungannya hiking dan hunting foto. Tapi seneng sih berasa dapet kekuatan lagi untuk beraktivitas #EAAA.

7 comments:

  1. Aku terakhir ke sana Januari 2015, Mbak. Bareng keluarga besar ber 13. Bawa bekal, tikar, tremos jangan lupa dan hepi banget rasanya. Padahal cuma lihat view yang ijo2 itu lho.

    Nenek dari ibuku, pertengahan 2018 lalu ke sini dan aku dipameri foto2 cantik view CGS ini, ngileeerr pengen ke sini lagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alam selalu memberikan kebahagiaan tersendiri ya mbak.

      Delete
  2. Aku juga belum sampai ke semua candi di sana..mudah2an kapan2 bisa.. Oya kabarnya kmrn ada kebakaran di Gedong Songo...sblh mana tuh ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyakah? Wah malah baru tau dari mbak..

      Delete
  3. Wah sekarang banyak perubahan ya.. Hehehe.. kapan ya terakhir kesana lupa :D
    btw kalau dateng kesana pas cerah cerahnya pemandanganya Masya Allah ya mbak :D

    ReplyDelete
  4. untungnya ber2 ya, kalau next trip masih sendirian masih mau ditemenin ga? haha

    sampah bertebarang, bukan berarti ga ada tong sampah kan disana? atau memang kultur pengunjung yang suka buang samph sembarangan?

    ReplyDelete
  5. Ya Allah kangen deh ke Gedung Songo, terakhir kapan ya 2012 kayaknya wkkwkw mau ke sana nggak sempat-sempat, padahal sering lewat dijalur sana.

    ReplyDelete

Hai! Terima kasih sudah membaca. Silahkan berkomentar dengan bahasa yang santun ya :)

COPYRIGHT © 2018 · A LIFELONG JOURNEY BY LULUKHODIJAH | THEME BY RUMAH ES