Perempuan dan Sexual Harrassment - A Lifelong Journey by Lulu Khodijah

Friday, June 01, 2018

Perempuan dan Sexual Harrassment

Belakangan ini buat kalian yang ngikutin selebgram atau influencer pasti ngerti deh topik yang lagi hot. Apa itu?


Kalian tau Gitasav nggak? Plis tau ya kan saya udah beberapa kali masukin dia di postingan blog *maksa*. Singkatnya doi ini ya, influencer juga. Sekarang udah wira wiri di TV (Net.TV lebih tepatnya). Suatu hari doi nge-posting komentar dari salah satu akun instagram yang isinya nggak sopan banget. Sampe ada nyuruh jual diri dan semacamnya.

Baca: 3 Channel Youtube Wajib Tonton dan Subscribe!

Gitasav ini punya prinsip kalau komentar melecehkan nggak boleh didiamkan. Karena semakin didiamkan, akan semakin menjadi. Dia membuka lah akun itu. Sebut aja namanya T. Usut punya usut si T ini adalah akun palsu dan menggunakan VPN yang nggak bisa dilacak. Tambah lagi kan alasan buat nggak mendiamkan. Karena si T ini bukan orang "biasa" yang asal komen aja. Tapi emang akun itu sengaja dibuat untuk melakukan hal-hal nggak terpuji. Terbukti dari IP Address-nya yang nggak terlacak.

Kemudian empunya foto profil asli sebut aja H dia nggak terima endebrei dan masalah pun membesar. Ditambah lagi salah satu influencer ikut mem-blow up isu ini. Tambahlah itu panas. Menurut Gitasav si influencer D yang ikut-ikutan ini nggak berhak buat ikut campur karena, lagi. Ini masalahnya Gitasav. Dan si influencer D cuma melihat dari sisi H.

Dan sekarang saya ngga tau kelanjutannya gimana karena udah dari kemarin uninstall instagram. Hahaha ini topik lain lagi ya.
Yang ngikutin Gitasav dari dulu mungkin tau bahwa dia udah lama banget ngangkat issue per-komen-an di dunia maya. Dimana sayangnya, banyak banget komentar "nggak penting", nggak nyambung sama konten yang menjurus body shaming, dan komentar nggak senonoh.

***

Dulu yang namanya melecehkan (seringnya) dilakukan secara langsung. Entah dari cat-calling. Itu tuh "suit suit" khas abang nggak jelas. Sampe paling parah berani pegang bagian tubuh. Sekarang sexual harrassment nggak hanya terjadi di dunia nyata. Di dunia maya yang notabene nggak bertatapan langsung pun....terjadi.

"Ya itu kan resiko punya followers banyak!"
Sayangnya, nggak juga. Ada tuh temen saya yang followers-nya cuma ribuan dapet komentar senada kayak Gitasav. Padahal dia juga nggak pernah posting "mengundang". Pun dia berhijab. Gimana, hayo?

Saya nggak bisa bayangin aja dapet komentar kayak gitu. Lha dapet komentar normal dari cowok nggak dikenal aja gimana, gitu. Apalagi komentar yang melecehkan. I feel so sad. Apa sih susahnya untuk menghargai perempuan? Toh setiap individu dilahirkan oleh seorang ibu, yang PASTI perempuan kan. Apa iya tega memberikan perkataan yang buruk gitu ke ibu sendiri? Mustahil.

"Ya makanya nggak usah pake media sosial!"
Haduh apalagi ini maksudnya. Di jaman kayak gini kegunaan media sosial banyak banget. Masa iya disuruh menutup diri dari teknologi? Coy, sosial media ini bisa dipake buat berdakwah, buat mencari penghasilan, menebar kebaikan, dan masih buanyak lagi yang lainnya.

Baca: Benefit of Being Famous

"Nggak usah deh pasang foto di media sosial".
Excuse ini juga sering digunakan sama beberapa pihak. Padahal ada lho, akun yang khusus buat nyari perempuan bercadar untuk dijadikan bahan fantasi. Sedih? Iya. Marah? Iya. Sebegitu susahnya jadi perempuan ini. Apapun komentar (buruk)-nya, perempuan-nya yang disalahkan. Jarang banget laki-laki nggak sopan yang disalahkan. WHY?

***

Dear, laki-laki yang ada diluar sana. Hormatilah perempuan, siapapun itu. Sebagaimana kamu menghormati ibumu. Jika kamu ingin menasihati kami atas apa yang terlihat di media sosial, gunakanlah direct message. Atau sejenisnya yang bersifat personal. Bukan lewat komentar yang dibaca banyak orang.

Berusahalah untuk merangkai kata nggak hanya menggombal, tapi belajarlah mencari diksi yang sopan dan nggak melecehkan perempuan. 

Jika ada perempuan yang memasang foto dirinya di media sosial, pastilah sudah dipertimbangkan matang-matang. Dan menggoda lelaki itu bukan tujuannya. Bisa saja memang tuntutan peran dia yang mengharuskan untuk memperlihatkan wajah.

***

Dear, perempuan. Jagalah kehormatanmu. Pertimbangkan secara matang sebelum mengunggah ini itu di media sosial. Jaga pula pandanganmu. 

Sejujurnya saya juga pernah lihat komentar teman perempuan di salah satu akun influencer lelaki yang lumayan good looking. Iya sih kalian pasti kagum dengan dia. Tapi bisalah tulis komentar yang appropriate. Bukan komentar vulgar yang bikin nggak nyaman.

Untuk menghindari adanya sexual harrassment dibutuhkan peran antara laki-laki maupun perempuan. Cukup saling menghormati dan menghargai. Yuk, dimulai dari diri sendiri.

13 comments:

  1. Notice it. Sayangnya yang di blog udah di hapus. Anyway, selain sexual harassment yang seperti itu, buat saya pribadi lebih ga suka ke arah yang halal-halalan.

    Hm taulah sekarang kan ada tren hijrah yang harus halal. Nah bercandanya masalah gitu. I know they're just kidding, but I don't see it funny at all.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haduh :( banyak ya tipe2 nggodain nggak jelas. Semoga pada tobat deh

      Delete
  2. Terlepas dari persoalan Gitasav (kurang paham juga duduk persoalnnya, cuma sekilas tau dr twitter kemarin), masyarakat kita memang masih ga paham bentuk sexual harrassment. Bahkan catcalling pun dipikir wajar aja. Padahal persoalan tubuh adalah hak dari masing-masing ia si pemilik tubuh. Mau dia telanjang juga apa urusan lo kan, kasarnya gitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eitss, sesuai norma dan aturan yang berlaku juga :)

      Delete
  3. Iya bener mending DM ya mb..drpd komen2 yg g jelas.

    ReplyDelete
  4. Ah, untung aku blom pernah dpt komen SPT itu di medsos..tp pasti sebel banget y.. semoga nggak ngalamin ah

    ReplyDelete
  5. Thanks for sharing tulisan ini Mba... Makes me wondering klo dunia maya itu kdg superficial bgt yaa

    ReplyDelete
  6. Aduh, aku nggak tau siapa itu Gitasav dan masalah yang lagi rame apa. Maaf kudet. Hehe

    Tapi, aku lagi berusaha banget memang ga posting foto. Baik itu saya, suami, anak, ortu, dll. Cukup untuk koleksi pribadi. Kalaupun untuk kepentingan portofolio anak, aku simpan di Gdrive.

    Alasan: pernah ditegur teman terkait penyakit 'Ain (bisa disearch ya). Beberapa foto terutama anak lgsg aku hapus. Sebenarnya gatel pengen share kayak yg lain. Tapi aku termasuk orang yg ga kuat nyinyiran. Haha

    Dan, akhirnya aku pilih mengurangi foto pribadi di sosmed. Karena pemikiran dan fantasi orang tidak bisa kita kendalikan.

    It's a choice and everything has a consequence.

    ReplyDelete
  7. Kurasa yang bikin kasus gitasav jadi rame bukan harassment-nya, tapi sikapnya yang seperti kurang terkendali. Aku pun ketika jadi korban harassment akan menjadi sangat emosional. Tapi bukan pembenaran bagi Gitasav untuk berkata kasar pada si H yang juga korban "dipermalukan di publik". Apalagi Gitasav bersikap seolah-olah the world revolves around her; masalah dia harus menjadi fokusnya, followers dia yang banyak adalah penyebabnya. Nggak baik itu :')

    Namun aku setuju dengan sikap perempuan yang berani speak up masalah harassment ini. Soalnya...masyarakat sini emang nggak peka sama sexual harassment dan cenderung ngeremehin catcalling.

    Udah gitu masih ditambah kecenderungan untuk menyalahkan korban. Mulai dari menyalahkan perilaku, menyalahkan pakaian, bahkan muka cakep pun bisa jadi salah... Oh, please. Nobody wants to be harassed. Ketika perempuan merasa nyaman dan cantik dengan apa yang ia pakai, apa yang ia lakukan, lalu diposting, berilah pujian, bukan gombalan atau kata-kata vulgar. That's not compliment, that's harassment.

    To every male out there, masa iya kalian nggak bisa punya kontrol diri? Jangan percaya dengan analogi "Kucing juga mau kalau disodorin ikan". Kalian itu insan, bukan binatang :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang udah gedhek banget kali ya baca komenan kayak gitu. Si T ini kan juga akun palsu alhasil tambah kzl lagi kan siapa yang mau disalahin dan bertanggung jawab? Dan akhirnya jadi rumit.

      Buat aku pribadi ya harapannya kita semua bisa saling menghargai aja satu sama lain. Terlepas apa gendernya. Setuju, kita ini insan. Jangan mau disamain dgn binatang :)

      Delete
  8. aku paling sedih kalo misal ada perempuan yg jdi pelaku kekerasan atau pelecehan seksual tapi justru orang orang yg tau masalahnya bukannya memberi dukungan buat dia ataupun sekedar dengerin cerita dia malah menyalahkan dia kayak point point tadi. dan parahnya itu dia juga perempuan. seriously, padahal namanya pelecehan itu nggak kenal kamu oake baju apa, atau waktunya kapan. dan buat yg cewek ikut nge judge dia, segitu nya kah gak punya empati

    ReplyDelete
  9. Aku kok paling benci kalo ada para kaum cowok bilang "suit...suit..." gitu. Jaman sekarang perempuan juga harus lebih hati-hati ya mbak dalam dunia nyata ataupun dunia nyata.

    ReplyDelete

Hai! Terima kasih sudah membaca. Silahkan berkomentar dengan bahasa yang santun ya :)