Sebuah acara yang diluar perkiraan? Ikutan bedah buku Indonesia di Korea? Kapan lagi coba?
![]() |
| Foto milik Rumaisa |
Ceritanya, kami tuh kepo sama Masjid Al-Falah. Masjid Indonesia yang letaknya daerah Singil. Nah pas kesana, kami dimasukkan di grup chat. Isi pembicaraannya bermacam sih. Salah satunya menyebarkan informasi tentang Booktalk ini.
Diselenggarakan oleh Rumaisa (Rumah Muslimah Indonesia di Korea Selatan). Niat awalnya bisa diduga: Kapan lagi kan ketemu seleb Indonesia di Korea? Hehe. Maap agak kurang lurus emang. Acara berbayar pun tetap dijabanin. Toh dengan biaya yang dikeluarkan sepadan dengan yang didapat: buku, cemilan Indonesia (langka!), dan tentunya komunitas yang masyaAllah tabarakallah.
Acara yang dijadwalkan pukul 10.00 KST agak molor. Apa karena kebiasaan Indonesia? Ada untungnya sih soalnya kami pun datengnya molor perkara nunggu bus *ngeles. Padahal mah bisa berangkat lebih awal kalo udah tau kudu transfer bus.
Siapakah Natasha Rizky?
Beliau adalah aktris yang dulunya aku tau dari perannya di CCC alias Cinta Cenat-Cenut. Masih ada yang inget nggak sih? Itu tuh yang karakter utamanya boyband SM*SH. Doi jadi pemeran utama perempuan dan diperebutkan Morgan dan Rafael. LOL. Se-membekas itu berhubung dulu aku sm*shblast :))
Beberapa tahun ini perubahan beliau cukup signifikan. Berhijab syar'i. Membangun rumah tangga. Dan menjadi penulis. Hingga saat ini, udah ada 3 karya beliau yang diterbitkan.
Apakah aku udah baca? BELUM :) kalo boleh jujur sih nggak begitu tertarik dengan tulisan "seleb" atau "influencer" atau siapapun yang menurutku nggak berlatar belakang penulis. Sombong juga pemikiran ini dipikir-pikir. Padahal mah siapa aja bisa nulis.
Lanjut ke booktalknya..
Diawali dengan tilawah Al-Qur'an dan sambutan ketua Rumaisa. Lalu masuk ke acara inti dipandu oleh Kak Aci. Lucu dah, Kak Acha (panggilan akrab Natasha) dan kak Aci sepanggung.
Lagi-lagi aku sempat kepikiran, beliau kan artis. Bakal jaim nggak yah? Bakal krik krik dan ada gap dengan audiens nggak yah? Ih ternyata enggak loh. Vibes acaranya tuh kayak ngobrol ama mpok-mpok betawi gitu. Asik. Seru. Dan tetep berfaedah.
Ada 3 topik pembahasan yang bisa aku tangkap. Pertama dan utama diambil dari bukunya berjudul "Ternyata Tanpamu", disini banyak banget membicarakan mengenai kehilangan. Kejadian kehilangan ini terasa "besar" karena nggak ada persiapannya.
Dan, sebenarnya kenapa sih manusia bisa merasakan kehilangan? Nggak lain karena rasa memiliki dan kemelekatan. Beberapa kali aku membaca topik seputar ini, dan ya. Manusia itu udah diperingatkan berkali-kali bahwa bahkan tubuhnya aja bukan milik dia. Tetep aja gedeg dengan rasa kepemilikan.
Kedua, kenapa kak Acha menulis?
Menurut dia, sebenarnya menulis itu salah satu sarana untuk meluapkan keresahan. Tentunya ada cara lain seperti memasak, traveling, setiap orang beda kebutuhannya. Buat kak Acha, menulislah pilihannya.
Ada orang berpendapat bahwa menulis itu beban. Iya kah? Tipsnya agar nggak jadi beban: buatlah sebagai kebutuhan. Tantangan saat menulis tuh 2: susah memulai dan susah mengakhiri. Hayo, kamu yang mana?
Bicara tentang menulis sebagai karya, mungkin ada diantara kita yang berkarya tetapi nggak diterbitkan. Selama ini stigma yang beredar adalah berkarya itu sama dengan penerbitan. Padahal enggak juga. Aku mengamini ini sih. Menurutku dengan aku rutin menulis di blog ini udah termasuk karyaku.
Selanjutnya, kenapa kak Acha pilih puisi?
Ini nih agak filosofis. Dengan puisi dibanding karya tulisan lain, penulis bisa mengecoh pembaca tentang apa makna puisi. Seperti yang kita tahu, puisi tuh nggak punya tafsiran baku. Setiap orang bebas untuk menafsirkan puisi sesuai dengan pemikirannya. Alhasil, penulis lebih leluasa dalam berkarya.
Namanya juga bedah buku. Pembicaraan banyak mengenai karya yang ditelurkan kak Acha. Acara makin seru ketika MC melempar kuis this or that yang harus dijawab.
Aku nggak inget semua detailnya. Satu yang kuinget: Menulis untuk berkarya atau berdakwah? Dengan mantap kak Acha jawab jujur berkarya. Aktualisasi diri. Untuk mencapai ke berdakwah tuh rasanya berat di tanggung jawab. Apalagi kak Acha mengaku beliau pun masih sama-sama belajar.
Dan bicara tentang belajar, beliau mengingatkan untuk apa-apa yang udah kita pelajari, jangan lupa untuk diamalkan. Meski berdarah-darah. Jika dihubungkan kembali dengan kehilangan dan permasalahan dibaliknya, sebenarnya yang bikin manusia jatuh tuh bukan di keduanya. Melainkan karena kurang ilmunya.
Tsaahhh...mantep banget nggak tu. Aku sempet amaze juga di bagian kak Acha menyebutkan beberapa penulis. Kenapa begitu? Tandanya dia juga seorang pembaca. Hehe. Jarang kan publik figur di Indonesia yang kasih rekomendasi buku? Beberapa yang beliau sebut ada Joko Pinurbo, Fahruddin Faiz, dan ini paling gong: Ocean Vuong.
Yang terakhir tuh kayak, wah baca Ocean Vuong? Udah tersegmentasi banget pangsa pasarnya itu *YTTA.
Daan...diakhiri dengan kejutan: semua peserta dapet tanda tangan dan foto bareng! Aaaakk~ syenang sekali. Kami udah kaya dateng ke acara fansign idol. LOL.
Di kesempatan ini aku minta kak Acha rekomen satu buku. Beliau jawab Ocean Vuong. Kalo ga salah inget yang Time Is a Mother. Masuk dulu ke tumpukan TBR-ku.
***
Senanggg sekali bisa dateng ke event seru kayak gini. Bonus bisa masuk di area sholat utama di Seoul Central Masjid. Biasanya cuma di bagian perempuan aja yang keliatannya kaya mushola itu :')) Alhamdulillah.
Bisa kubilang pembawaan diri, publik speaking kak Acha nih oke. Bisa bawa penonton "hanyut" untuk mendengarkan dia. Jokesnya dapet. Tektokannya santai, gitu. Beliau sempat membawakan satu puisi berjudul "Ibu" yang sukses membuat sesenggukan mayoritas peserta.
In the end, kamsahamnida Rumaisa dan Kak Acha. Juga roommate-ku yang udah ngajakin :P
Nami Island / 남이섬 (Nami-Seom) merupakan salah satu pulau yang terkenal karena hallyu wave. Drama Winter Sonata yang dibintangi Choi Ji Woo berlatar belakang di pulau ini. Ada yang udah nonton? Aku sih belum :P
Mayoritas travel agen Indonesia yang buka trip ke Korea memasukkan Nami Island dalam itinerary-nya. Dan, waktu terbaik dan terpopuler mengunjungi Nami Island saat musim gugur/autumn/fall.
Kenapa? Karena disinilah jajaran pohon ginkgo dengan daun berwarna kuning. Pohon lainnya punya daun berwarna oranye-merah. Cocok banget untuk dijadikan latar belakang foto yang menunjukkan "lagi diluar negeri". Iya, nggak bakal ada suasana kayak gini di Indonesia.
Ditambah suhu autumn pada umumnya lebih bersahabat dibanding summer atau winter. Walau kenyataannya nggak bisa diprediksi. Seperti saat kami berkunjung, dimana suhunya hampir 0 derajat celcius.
Perjalanan dari Seoul menuju Nami Island
Ditengah suhu autumn yang drop ke 2 derajat celcius, kami berangkat dari Seoul. Perjalanan dimulai dari naik bus menuju stasiun kereta. Kali ini bukan subway, melainkan kereta jarak jauh. Berhubung Nami Island berlokasi di luar Seoul, tepatnya kota Chuncheon, Provinsi Gangwon.
Untuk ke stasiun memakan waktu 1 jam. Setelahnya, kami melanjutkan perjalanan menuju stasiun Gapyeong. Bagi manusia yang tinggal di Seoul, kerasa banget perbedaannya terutama di bangunan. Kalau Seoul isinya gedung tinggi, disini relatif jarang. Pemandangan diluar mirip seperti naik kereta trans Jawa. Perkebunan, green house, warna hijau mendominasi.
Sesampainya di Gapyeong, kami lanjut naik bus di halte seberang stasiun. Cuma 1 bus menuju terminal Nami Island, yaitu nomor 10-4. Semua petunjuk navigasi ini bisa didapatkan dengan mudah berbekal Naver Maps. Nggak perlu khawatir nyasar.
Bus kebanyakan berisi turis, seperti kami inilah. Banyak hijabi yang kurasa dari Malaysia, mendengar dari logatnya.
Tak lama, kami sampai di terminal penyeberangan. Total dari Seoul sampai sebelum menyeberang memakan waktu 2 jam.
Berpetualang di Nami Island
Disini petualangan seru kami dimulai. Untuk menyeberang ke Nami Island ada 2 pilihan. Pertama yang umum menggunakan kapal. Waktunya 8-10 menit. Kedua, menggunakan zip line (kita lebih sering nyebutnya flying fox). Waktu tempuh hanya 1-2 menit.
Tapii...harganya beda jauh. Naik kapal 18.000 won. Sedangkan zip line 55.000 won. Kami berempat memutuskan menyeberang dengan moda berbeda.
Aku dan kak G pilih zip line. Mba R dan A pilih kapal. Pikirku, "Kapan lagi punya kesempatan untuk cobain zip line di Korea?". Zip line pun ada 2 pilihan: Family dan Adventure. Sepertinya yang tipe kedua lebih menantang derajat kemiringannya.
Jadilah kami menuju tower keberangkatan zip line. Sebelum meluncur, kak G berbaik hati menyewa VR kamera. Ternyata tuh nggak boleh ngerekam pakai device pribadi. Ngga mau nanggung resiko kali ya kalau jatuh.
Untuk sewa ada tambahan lagi sekitar 20.000 won. Thanks kak G udah mau nyewa. Aku numpang nongol aja. Haha. Oiya, sewa VR hanya bisa untuk tipe Family.
Jujur, pas naik ke tower tuh mulai deg-degan. Sampai dipasang sabuk pengaman dan kaki diminta menjulur ke depan. Btw, kami ngga dikasih life jacket. Padahal aku ga bisa renang :)) pas pertama meluncur rasanyaa....aduhai jantung kaya mau copot.
5 detik setelahnya? SERU BANGET! Bisa lihat hijaunya air sungai Bukhan dipadukan biru langit dan warna warni dedaunan. Aduhaiii, rasanya cepet banget waktu zip line itu berlalu :))
Buat kenangan aku upload videonya di Youtube :))) ini adalah POV waktu udah selesai. Dalam hati, "AAKKK mau lagi pleaseee!"
Sampai di Nami Island, aktivitas kami cuma foto :P Isinya apa sih pulau ini? Museum, pertokoan, activity, sampai vila untuk menginap pun ada. Kami muterin aja cari spot foto yang bagus.
Berhubung ini musim gugur, asli dah isinya manusia di setiap sudut. Warga lokal dan turis berbaur. Banyak banget yang datang rombongan macam tur gitu. LOL. Tips-nya kalau mau dapet foto proper tanpa ada photobomb manusia ya coba penyeberangan paling pagi. Kami yang udah merasa pagi dari Seoul ternyata kalah sama yang lain.
Bisa kubilang, Nami Island ini contoh dari tempat wisata yang SANGAT SIAP. Semua kebutuhan turis ada. Brosur dalam berbagai bahasa, termasuk Melayu ada! Umumnya cuma 2 bahasa: Korea dan Inggris. Paling Gong lagi tersedia dong resto HALAL CERTIFIED. Ngga cuma self-claim. Plus, tersedia mushola dan tempat wudhu.
Sejauh ini, mushola di Nami Island terbaik versiku. Udah kayak masjid standarnya. Kayaknya sih udah tau banyak wisatawan Muslim terutama dari Malaysia. Beneran deh, salut banget. Yang bikin aku salut selanjutnya, harga makanan yang dijual tuh nggak beda jauh dari Seoul.
Masih di kisaran belasan ribu won. Padahal ini tempat wisata. Pulau. Kalau di Indonesia udah kebayang bakal naik harganya 2-3 kali lipat. Hebat deh. TOP banget pengelolaan wisatanya. Pemerintah kalo mau belajar buat mengembangkan wisata sih fix coba berguru ke Nami Island.
Dilihat dari brosurnya, banyak aktivitas yang bisa dicoba. Banana boat, clay art, dll. Kami aja yang nggak mau eksplor lebih jauh. So, nikmatin foto-foto ini aja ya :P
Tidak lupa berfoto dengan patung legend pasangan Winter Sonata~
Worth the hype nggak si Nami Island?
Yes~ Apalagi kalau bawa fotografer yang mumpuni. Pake OOTD cantik. Dijamin foto instagram dapet banyak like :P
Mau ngunjungin lagi?
Boleh, penasaran waktu winter bakal kayak apa.
AAKKKKKK. Diawali dengan teriak. Di era member BTOB lebih banyak aktivitas ketengan alias sendiri dibanding grup, Alhamdulillah dapet kesempatan untuk nonton konser solonya Lee Changsub. My first bias (walau kemudian banyak melengnya) di BTOB.
Si Melody piyik ini pede banget ga ikutan war tiketnya. "Ah nanti juga dapet..." - emang sih dapet. Tapi sisa-sisa dan mojok pol.
Awalnya pengen banget beli VIP yang ada sound check. Lalu pas dicek, lah nggak kekejar ini habis kuliah. Iya konsernya di hari Jumat dan setiap Jumat aku ada kelas sore. Huft, baiklah. Akhirnya memutuskan beli yang regular aja. Gapapa, gapapa...
OTW konser
Ini nih kesalahannya. Di website interpark udah dijelaskan detail naik apa, turun dimana. Pertama bus dulu untuk ke Gyongbokgung Station. Lanjut naik subway turun di Dongguk University Station. Nah, setiap station itu kan ada beberapa pintu keluar alias exit. Aku malah ngikutin naver map buat ke pintu 6. Padahal harusnya pintu 5.
Ditemani temaram lampu, angin dan udara musim gugur yang cukup menggigit, aku berusaha mencari arah sambil terus kontakan dengan kak Yasmin. LOL.
Sampai di tempat...
Venuenya adalah Jangchung Arena yang merupakan stadion indoor. Kata google kapasitasnya 4.500. Gatau rilnya berapa tiket yang kejual.
Culture shock paling membagongkan yaitu fans yang nonton banyak ahjumma (perempuan setengah baya). Ekspektasiku ya mba-mba kantoran lah. Maklum toh Changsub juga udah masuk kepala 3. Ternyata emak-emak demen sama Changsub. Mirip sih sama musikal Memphis lalu, ajumma-nya juga banyak. Cuma ini kan harga tiketnya lebih mahal ya. Masih gak nyangka aja.... :')
Penukaran tiketnya gampang banget tinggal tunjukkan Residence Card. Kalo di Indonesia biasanya tas diperiksa, kadang sampe badan pun dicek, ini engga sama sekali. Yaudah langsung masuk aja. Selain tiket, dapet hand banner dan photocard juga! Yeay!
Disini habis konser pada ngebuangin hand banner. Beda kayak di Indonesia pada di-keep. Mungkin karena gampang ya ngonser di Seoul? :))
Udah ga heran liat photocard doi amat sangat flat dan tidak kreatif. Harus berguru ke Suju sih dia...
Anyway, ada beruntungnya juga venue yang dipilih tergolong "kecil". Walaupun kata Changsub ini peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya. Sedekat itu coy! Meski pori-pori Changsub ga keliatan, mukanya masih keliatan jelas. Bahkan lebih jelas daripada waktu nonton Musikal. LOL.
Isi setlist sebagai berikut:
Spotlight
Saturday night
멘트
Golden Hour
멘트
Stay
VCR
혼자
처음처럼
주르르
멘트
사랑,이별 그 사이
멘트
한번 더 이별
그 자리에 그 시간에
멘트
너를 기다릴게
꽃이 되어줄게
VCR
VROOM VROOM
뻠뻠
뉴웨이브
멘트
33 (마지막곡)
앵콜 👇🏻
Old Town (Jazz.ver)
포토타임
ENDAND
Jujur....aku....sepanjang konser.....terharu. Masih ga percaya, waw bisa ya aku ngonser habis kuliah banget. Masih pake baju kuliah. Cuma modal naik bus dan subway.
Kedua kalinya denger suara Changsub secara langsung. Meleleh banget. Kali ini ditambah betapa harmoninya suara Melody. Terutama waktu bagian Lyn di lagu 사랑,이별 그 사이. Itu kan lagu duet. Lyn-nya ngga bisa hadir. Jadilah Melody yang menyanyikannya. YaAllaaah bagus banget. Aku sih diem aja sadar diri :')
Ngga banyak fancam yang bisa diambil. Peraturannya beneran seketat itu. Dari Changsub pun udah ikutan bersuara untuk ngga ngerekam.
Sebagai gantinya? Blio muterin venue DUA KALI. Disamperin beneran tuh keatas. Jackpot banget pilih bangku deket tangga gini. SEJELAS ITU. Bahkan dengan henpon siomay kentang ini masih terpancar kilaunya *tsaaahhh.
Dahlah perfect way to end the weekend. Let's meet again next year Changsobieee~
Apa? Alien? Haha. Bercandaan warga sini sih. Kok bisa disebut Alien? Jadi ada ceritanya...
Banyak banget sebenernya yang bisa aku ceritakan selama 2 bulan disini. Saking banyaknya, bingung mau nulis yang mana dulu. Biar adil ga cuma cerita jalan-jalan aja, marilah menyimak tentang administrasi kehidupan disini.
Untuk tinggal lebih dari 60 hari, selain visa dibutuhkan kartu sakti. Dulunya kartu ini bernama Alien Registration Card (ARC). Sekarang berubah menjadi Residence Card (RC). Meskipun begitu, ketika mengurus sesuatu lebih mudah menyebut Alien Card daripada Residence Card. Sepertinya sudah mendarah daging dibanding RC.
Jika mengikuti peraturan aslinya, kami (mahasiswa) bisa mengurus sendiri di website hikorea. Berhubung kami berada dibawah payung Yonsei University, kampus menunjuk pihak ketiga untuk mengurusnya. Jangan dikira beneran diurusin dan kami lepas tangan. Masih ada alur yang kami harus turun serta.
Langkah pertama, kami diminta untuk mendaftar akun sebut saja H-app. Kami harus mengisi identitas sesuai paspor. Kemudian mengunggah dokumen yang diperlukan.
1. Residence Documents
Berisi informasi dimana kami tinggal. Ada nama dorm dan alamatnya. Yonsei memang punya banyak dorm. Ada Muak, Avision House, SK Global House, Jejung, dll.
2. ID Photo
Latar belakang putih. Disarankan fotonya jelas, nggak berbayang. Bukan foto lama. Aku pakai foto paspor terbaru.
3. Passport Copy
Foto/scan dari paspor. Ini agak tricky karena aku foto pakai handphone, berbayang dari lapisan plastik paspornya. Kudu ngulang berkali-kali sampai ilang tuh bayangan masa lalu.
4. Certificate of Enrollment
Berisi bukti bahwa kami memang mahasiswa Yonsei, kalo ga salah inget ini ada informasi nomor identitas mahasiswa (NIM). Disini nyebutnya Student ID.
Kayaknya itu aja...
Kemudian kami bayar 50.000 won. Ada selisih 15.000 won untuk bayar jasanya. Di hikorea "hanya" 35.000 won. Berhubung pakai aplikasi pihak ketiga, aku ga tau gimana prosesnya kalau lewat hikorea dan apa bedanya.
Selama langkah ini kami didampingi senior, termasuk bayar membayar. Waktu itu kami belum punya akun bank. Biaya hidup bulanan masih diberikan secara tunai. Terima kasih senior! Apalah kami tanpamu~~
Singkat cerita, di proses ini kami tunggu aja gimana verifikasi H-app ke imigrasi. Alhamdulillah dokumenku diproses mulus tanpa ada masalah. Beberapa teman dari Afrika dan Asia entah kenapa harus konfirmasi dokumen ke kantor imigrasi. Agak merepotkan sebenarnya berhubung kami ada kelas, jarak kampus ke imigrasi pun nggak bisa dibilang dekat.
Langkah kedua, pengambilan sidik jari. Disinilah terdapat sedikit perubahan. Seharusnya pihak H-app serta imigrasi akan datang ke kampus untuk pengambilan sidik jari. Udah ambil slot jadwal tuh, nggak taunya diubah. Lokasinya jadi ke kantor imigrasi Nambu. Kalau di emailnya sih hal ini disebabkan oleh kebakaran yang terjadi di pusat data nasional-nya Korea.
Mau gimana lagi kan ya, masa iya nyalahin?
Alhasil selepas kelas kami menuju kantor imigrasi. Ini tuh masih di Seoul tapi pas kami kesana berasa beda dunia. HAHA. Se-beda itu daerah Magok dan Sinchon. Disana isinya gedung tinggi perkantoran.
Pengalaman deh, ke imigrasi. Sepanjang perjalanan naik bus, aku perhatikan isinya anak Yonsei juga yang mau ke imigrasi. Cukup banyak emang mahasiswa internasional disini. Bahkan The Korea Herald bilang tahun ini rekor tertinggi jumlahnya (se-Korea sih) dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Proses di kantor imigrasi jujur CEPET BANGET. Emang semua disini serba cepet alias ppali-ppali. Kami lapor ke petugas bahwa kami dari Yonsei. Dikasih nomor antrian. Sekitar 20 menitan dipanggil. Cap sidik jari ga sampe lima menit. Udah, kelar.
Saking ga mau ruginya kami udah jauh-jauh keluar kampus, pulangnya kami mampir ke Kebun Raya. Ini diceritakan lain kali ya (kalau sempat :p).
***
Terakhir, 31 Oktober 2025 menjadi hari bersejarah dimana aku mendapatkan Residence Card. Aww, bahagianya! Kali ini bisa ambil di Global Lounge Yonsei aja. Dengan semangat '45 aku kesana pagi hari, sebelum berangkat konferensi.
Untuk apa sih kartu ini?
Selayaknya KTP di Indonesia, Residence Card tuh ada nomor identitas uniknya. Mirip fungsinya di Indonesia, untuk daftar nomor handphone, banking, dan beragam aplikasi belanja (e-commerce). Sebelumnya aku udah buka rekening Korea bermodalkan certificate of enrollment dari kampus. Hanya saja, masih terbatas pakai ATM aja untuk transaksi. Penggunaan mobile banking harus mendaftarkan RC.
Nggak cuma itu sih, untuk kehidupan sehari-hari kayak nyuci pakai mesin pun selama ini bergantung sama senior. Perkara ga punya RC untuk daftar aplikasi. Beli tiket konser juga. LOL. Pokoknya ini kartu penting pake banget.
Apa yang dilakukan setelah punya RC?
Dua hal penting versiku: daftar post-paid untuk nomor telepon dan menyambungkan ke RC. Lanjut ke bank agar bisa transaksi lewat mobile banking. Dua hal itu jujur sangat memakan waktu. Kek, luamaaaa bener prosesnya. Banyak form yang harus diisi. Udah gitu languange barrier is real, baby. Komunikasi kami menggunakan papago. Aplikasi penerjemah punya Korea. Paling akurat (katanya) dibanding Google Translate.
***
Memang setelah punya RC kehidupan disini lebih mulus sih. Plus, nggak perlu lagi bawa-bawa paspor kemanapun. Hehe. Alhamdulillah, mari kembali menikmati kehidupan sebagai 외국인!
This month Allah gave me another time to remain alive. On top of that, he blessed me with so many first(s) in my life. I could say, all of them was beyond what I'm asking for.
So, as I wrote here I moved to a new city. New country. I felt complicated on the night before my birthday. Eventually I ended up calling one of my closest friend. I weep. I told him that I don't want to celebrate my birthday alone. Well, to be fair I never really celebrate it.
Yet, here in foreign country I hate the idea being with myself. I cried because I knew then that my roommate was going to a concert. Without me, since our idol was different.
I remember that freezing night spent midnight outside dormitory. Withstanding the cold just to speak to my bestie in another side of world.
Then, can I say it was a miracle?
When I least expected it, my roommate and a senior threw a little celebration. They even prepared cake and gift for me. I can't express my feeling clearly that time. But I knew that I'm forever grateful for them. I can feel their sincerity toward me. I may not say it out loud, but maybe if you guys reading this: thank you so much! You don't know how much it means for me.
That day we had Korean class. I, still not sure what I was going to do to spend my birthday, shamelessly asking for companion. LOL.
"I don't want to spend my birthday alone"
"OK birthday gurl, what do you want to do?" - that was my classmates. Even we just met and interact for a few months, I'm kind of touched on how they respond me and even granted my wish :")) so precious.
So I had lunch with them.
Walked to nearby park and sightseeing Han River.
Did my first noraebang (karaoke) here in Hongdae.
Finished with a random photo box. LOL. I can't believe they really went along everything I want.
They also showered me with gifts T_T
I remember feeling loved, blessed, and my heart was full. Even writing this again (I scribbled on my journal earlier) can bring smile in my face.
Thank you for everyone who's staying beside me.
Thank you for cheering me up.
Thank you for...being here :)
Dua tahun setelah mendeklarasikan diri sebagai Melody, fangirl ini sukses bertemu dengan BTOB :")) baru 4 member memang yang tergabung dalam BTOB Company. But it's okay, tahun depan ketemu OT6 ya!
Hanya dengan biaya 2.000 won alias dua puluh ribuan rupiah bisa nonton BTOB. Kok bisa?
As you know sebelum pindah Korea, aku udah SKSD duluan sama Melody Indonesia yang tinggal di Korea. Dia-lah yang memberikan informasi tentang BTOB perform di Hey Gangnam Festival. Yap, ini bukan konser BTOB. Acara festival yang isinya gabungan dengan grup lain.
Diselenggarakan di COEX Mall, aku menuju TKP setelah kelas mingguan bahasa Korea. Rasanya? Uuuh~ dugun dugun macam orang ngedate. Dari yang tadinya sendiri, janjian di COEX bertiga ditambah kak Yasmine dan kak Syammi. Yeay, another networking. Hehe.
Hanya dengan biaya 2.000 won alias dua puluh ribuan rupiah bisa nonton BTOB. Kok bisa?
As you know sebelum pindah Korea, aku udah SKSD duluan sama Melody Indonesia yang tinggal di Korea. Dia-lah yang memberikan informasi tentang BTOB perform di Hey Gangnam Festival. Yap, ini bukan konser BTOB. Acara festival yang isinya gabungan dengan grup lain.
Kami nunggu dari sore untuk nonton rehearsalnya. Aaakkk dari jauh pun udah kedengeran suara cakepnya. Monanges jyujyurrr sangat terharu hati ini mengingat kegagalan bertemu BTOB di tahun sebelumnya (duit pun belum balik lol).
Baca: Kena Scam Promotor
Cukup lama bisa lihat perform mereka. Urutan dari ((panitia)) tuh mulai dari rookie idol alias baru debut sampai paling berpengalaman.
Ini urutannya:
1. Baby Don't Cry (grup baru debut dari P-Nation)
2. n.SSign
3. FIFTY FIFTY
4. SF9
5. BTOB
6. god
Sorry not sorry line up sebelum BTOB aku gatau lagunya sama sekali T_T bahkan FIFTY FIFTY yang kuharapkan bisa sing along Cupid ternyata nggak dibawakan.
Baca: Kena Scam Promotor
Cukup lama bisa lihat perform mereka. Urutan dari ((panitia)) tuh mulai dari rookie idol alias baru debut sampai paling berpengalaman.
Ini urutannya:
1. Baby Don't Cry (grup baru debut dari P-Nation)
2. n.SSign
3. FIFTY FIFTY
4. SF9
5. BTOB
6. god
Sorry not sorry line up sebelum BTOB aku gatau lagunya sama sekali T_T bahkan FIFTY FIFTY yang kuharapkan bisa sing along Cupid ternyata nggak dibawakan.
Sekitar jam 8 atau 9 malam aku lupa, BTOB tampil. Oemji oemji. Dagdigdug banget rasanya tolong. Meskipun nonton dari layar, liat langsung cuma segede upil tapi tetep senengnya bukan main. Nggak akan lupa perasaan itu :')
Semua sudah kuabadikan di youtube. Ini salah satunya, lagu paling legend dari BTOB: Missing You.
Selama kurang lebih 30 menit, ada 5 lagu yang dibawakan dengan urutan:
1. Only One for Me
Sering banget emang ini lagu sebagai pembuka. Lagu yang juga dibawakan member Running Man tiap fan meeting. Hihi.
2. Love Today
Lagu terbaru dari album berempat :" scene ikoniknya ketika Eunkwang buka payung bareng Hyunsik. Aww, gemeccc!
3. Beautiful Pain
Lagu patah hati. Kedua legend setelah Missing You.
4. It's All Good
Sangat sangat tidak disangka lagu ini keluar. I mean, it's not even title track dari album Be Together yang keluar 3 tahun lalu. Nevertheless, I looove its lyrics. Especially this one.
New car, new house 놀러 갔네 호캉스 (five star)
It seems like 나만 빼고 다
Has everything all figured out? (Everyone)
나만 갈 길을 잃은 것 같아 right now
근데 기억해 (remember) 네가 보고 있는 게
(what you see)그들 삶의 highlight reel (uh)
There's no need to sweat (no need)
잘 하고 있는데 (yeah)
너무 걱정 마 (yeah)
Just do your best (yeah)
Then there's no need for any regrets
Intinya di lagu ini ngga perlu membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain. Apalagi yang cuma keliatan di medsos. No No No. It's all good :)
Daaan....terakhir paling gong: Missing You!
Di lagu ini rasa bangga ke BTOB tinggi banget. Hampir semua orang ikutan nyanyi bersama. Artinya apa? Iya, se-populer itu lagunya. Hehe :') terharu euy. Pengennya encore tapi ternyata ga adaa hahaha ya sudahlah. Hati ini rasanya penuh bisa ketemu BTOB tanpa drama.
Ditutup dengan pesta kembang api. Nggak mau kalah dengan sejuta manusia yang di Hangang liat festival kembang api.
Hari itu pertama kalinya menyusuri Seoul sampai lewat tengah malam. Naik subway TERAKHIR ke line 2. Nanya arah ke stranger. Plus pegel kaki berdiri berjam-jam selama festival. Rasanya semua kebayar dengan harmoni suara BTOB. Akkkk!
곧 다시 만나요 BTOB!
Subscribe to:
Comments (Atom)




























