college

A Trip to SOLO: Belajar dari LPM Pabelan UMS

September 23, 2017,2 Comments

For the third time, I joined LPM Publica Health roadshow. Tahun ketiga saya di Lembaga Pers Mahasiswa tingkat fakultas. Nggak terasa sebentar lagi udah mau lengser aja. Sedih. Masih banyak PR yang belum terselesaikan. Semoga di akhir kepengurusan bisa kelar semua tanpa hutang. Amin!



Roadshow a.k.a audiensi pers ini salah satu program kerja sub-divisi PSDM. Tujuannya untuk belajar dari LPM lain dan bisa diterapkan di LPM Publica Health. Tahun pertama saya disini, kami melakukan audiensi pers ke Bandung. Tepatnya ke LPM Ganeca Pos ITB dan Bandung TV. Tahun kedua, kami ke LPM Himmah UII. Dan, tahun ketiga kami ambil yang deket aja. Solo. LPM Pabelan Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Alasan kami pilih ke LPM Pabelan ini karena pernah menang lomba desain sampul majalah tingkat Jawa untuk majalah mahasiswa. WOW lah, LPM PH belum pernah ikutan lomba semacam ini. Menang pula.

Kami diterima dengan ramah oleh pengurus LPM Pabelan di gedung Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Btw di universitas swasta Islam, muslimah pake cadar biasa aja ya.

Baca: 8+1 Cara Survive di Bangku Kuliah

Tentang LPM Pabelan
Lembaga ini ternyata udah berdiri dalam rentang waktu yang cukup lama. Berapa tebak? 40 tahun! Setua itu.

"Kak kenapa ya LPM di universitas swasta itu rata-rata udah lama? Kemarin di Himmah UII juga udah lama ya."
Komentar salah satu adik kelas saya. Saya yang sotoy jawabnya ya...mungkin karena emang universitasnya udah lama didirikan?-_- ada yang bisa jawab nggak?

LPM Publica Health malah nggak tau kapan didirikan. Jadi kami dari tahun lalu berinisiatif buat mengeset satu tanggal di bulan November. Tahunnya 2010 diambil dari tahun majalah terlama yang ditemukan.


Balik ke LPM Pabelan, LPM ini tingkat universitas. Jadi anggotanya lintas fakultas. Of course ini menguntungkan banget! Isu-isu yang diangkat lebih banyak. Kemampuan lebih mumpuni. Conyoh aja dari segi desain. Menang banyak since mereka ada anak arsitektur yang notabene ahli dalam hal gambar-menggambar. Ini yang bikin kami dari LPM PH iri pake banget.

Ndakpapa nak, ndakpapa. Asal kalian mau belajar pasti kalian bisa melakukan apa aja kok *membesarkan hati sendiri*

Produk yang dihasilkan
Nah! Di poin ini asli saya nggak bisa menahan kekaguman lagi. Bayangin aja ya, ada 4 produk yang dihasilkan oleh LPM Pabelan.

Pertama, online. Terbitnya sedang diusahakan setiap hari. Lingkupnya nggak cuma kampus aja.
Kedua, koran. Terbitnya SEMINGU SEKALI. Ya, kalian nggak salah baca. Seminggu sekali. Bentuknya mirip koran masa kini dengan jumlah halaman yang lebih tipis dan kecil. But still I'm beyond amazed how they managed to make it ONCE a week. Di sela-sela tugas kuliah dan berbagai hal lainnya. Patut diacungi jempol.

Ketiga tabloid. Terbit 4x setahun kah? Iya kalo ga salah. Berarti bener. Bentuknya kayak tabloid yang dijual di loper koran gitu. Lebih tebel jumlah halamannya, berwarna, cetak kertasnya pake yang ada rasa-rasa minyak waktu dipegang.

Terakhir ada majalah, lingkupnya regional. Karena majalah yang saya dapetin ini mengangkat isu sentimen rasis gitu ke masyarakat Tionghoa. Terbitnya 6 bulan sekali. Alias 2 majalah terbit dalam waktu 1 tahun.

Sistem kepengurusan di LPM Pabelan
Ini dia kunci dari kekonsistenan (?) dan kekerenan dari LPM Pabelan. Saya nggak paham jelasnya struktur kepengurusannya mereka gimana karena beda lyke beda banget sama LPM saya dan LPM lain yang pernah saya kunjungi.

Mulai dari keredaksian-nya dulu ya. Tadi diatas udah disebutkan ada 4 produk yang dihasilkan. Nah masing-masing produk ini bener-bener dipegang oleh satu pimpinan redaksi. Sebagai perbandingan. saat ini saya diamanahkan menjadi pimred. Dan saya megang semua produk mulai dari majalah, buletin, mading, dan online. Meskipun didampingi sekretaris redaksi sih, tapi rasanya emang masih berat ya...

Terus layout-ing nya juga tiap produk punya layouter sendiri nggak yang tumpang tindih gitu. Ditambah lagi, jangan kaget ya ini. Para layouter ini dalam mengerjakan produk selalu didampingi oleh tim reporter. Entah satu atau berapa orang. Jarang banget yang ditinggal sendiri gitu. Ngerjainna dimana? Yha di sekretariatnya mereka. Beneran sampe lembur pagi gitu. Sungguh aku tidak bisa membayangkan gaes betapa "militan"-nya mereka. Totalitas banget *tears*

Perekrutan staf gimana? Ini nih bagus sistemnya terutama untuk reporter. Namanya aja reporter, mau nggak mau harus punya skill menulis yang mumpuni. Sistemnya mereka berjenjang dan nggak bisa si reporter yang milih mau masuk ke bagian mana. Di awal mereka magang dulu nggak bisa langsung nulis. Setelah diikuti perkembangannya, baru boleh ikut nulis. Itupun di online dan koran aja. Untuk majalah dan tabloid masih belum boleh.

Baru setelah kemampuannya terus meningkat dan dianggap cakap reporter bisa gabung untuk menulis di tabloid dan majalah. Nggak heran produk yang disebut dua terakhir ini output-nya bagus. Saya aja suka loh baca majalahnya. Pembahasannya mudah dipahami. Pemilihan diksi katanya nggak biasa. Dan yang terpenting enak dibaca. Huhuhu mendadak mengecil deh kayak butiran debu.

***

Alhamdulillah wa syukurillah bisa selesai nulis ini jugaa padahal acaranya udah seminggu yang lalu. Menulis adalah melawan lupa. Menulis adalah melawan kemalasan. Tiap udah nulis rasanya plong. Hihihi.

Dan...ini audiensi pers terakhir saya! Nggak tau sih tahun depan mau ikutan lagi apa nggak. Kali aja diajak kaan kaan.. Nah semoga bermanfaat yah buat yang mungkin lagi aktif di LPM, atau mengobati kangen yang dulunya anggota LPM. Hehe.


Terimakasih untuk LPM Pabelan yang udah menerima dengan tangan terbuka! Tetap melejit!

You Might Also Like

2 comments:

  1. Wah LPM lama juga iya dibentuknya, 40 tahun. Saat didirikannya berarti ak masih belum lahir nih, hahaha

    Kira-kira aku masih bisa ikutan LPM tidak iya :-)

    Owh iya, salam kenal iya :-)

    ReplyDelete
  2. Azzeeekkkk.... yang ngetrip ke Solo. Jadi kangen deh sama Solo.

    ReplyDelete

Hai! Terima kasih sudah membaca. Silahkan berkomentar dengan bahasa yang santun ya :)