Busan
Hari terakhir di Busan, apa agendanya? Jalan dan makan. Emang dah kerjaannya itu doang, maklum namanya trip tanpa persiapan. Hanya ada 2 destinasi ((untuk diwujudkan)).
Sebuah pedesaan? Perkampungan? Dimana isinya rumah bercat warna warni. Mural. Dan banyak toko suvenir khas daerah. Setauku dia ini tenar karena ada mural BTS. Tau kan fans BTS sebesar apa?
Gamchoen Culture Village
Sebuah pedesaan? Perkampungan? Dimana isinya rumah bercat warna warni. Mural. Dan banyak toko suvenir khas daerah. Setauku dia ini tenar karena ada mural BTS. Tau kan fans BTS sebesar apa?
Untuk kesini lumayan effort sejujurnya. Bus yang kami tumpangi tipe village bus. Ukurannya tuh kecil. Jumlah tempat duduknya lebih sedikit. Imbasnya apa? Cepet banget penuhnya karena kapasitas kecil. Alhasil kalau kelewat yhaa mau ga mau nunggu berikutnya. Mana intervalnya cukup lama lagi. Di naver map ga ada ETA kecuali stand by. Sungguh tidak bisa diprediksi.
Sesampainya disini, yang pertama kali kupikirkan adalah....ini mah kampung pelangi :)) liat aja deh. Semirip itu kan sama kampung pelangi Semarang?
Saranku sih kalau kesini mending pake guide. Tanpanya, asli bingung banget ini mah mau ngapain....berhubung aku bukan tipe yang kudu cobain kafe viral. Atau belanja banyak yah. Ini tuh literally perkampungan yang ditinggali warga. Ada kafe dan toko suvenir.
Kami mampir di toko suvenir semacam batik. Harganya lumayan berat yah shay dikantong. Seukuran syal itu mulai dari 70.000 won. Hampir sejutak!
Tempat ini cocoknya untuk yang niat foto ootd atau udah ngincer spot tertentu.
Disini ada satu momen nggak terlupakan. Dan langka banget. Baru pertama kali ngalamin ini. Jadi ada solo traveler perempuan, kami tawarin fotoin. Pas aku liat gantungannya...jreng! Haetnyangi-nya Seo Eunkwang. Oh my god. Oh my god.
Aku yang biasanya pendiam ini langsung ngoceh, "I have the same doll!". Lalu kami ngobrol. Mbaknya ini dari New Zealand. Habis nonton konser Eunkwang di Busan. OH MY GOOODDD. Dan setelahnya bakal nyamperin Lee Changsub di Daegu. OH MY GOODDD.
Baca: Konser Lee Changsub
Baca juga: Konser Seo Eunkwang
Se-happy ituu ketemu manusia dengan kesukaan yang sama. Meski kami nggak tukeran medsos apapun. It was a wonderful encounter :')) terharu.
Se-happy ituu ketemu manusia dengan kesukaan yang sama. Meski kami nggak tukeran medsos apapun. It was a wonderful encounter :')) terharu.
Bosen jalan dan ambil foto, lanjut ke destinasi terakhir.
BIFF Street
Aku tuh nggak ada riset sama sekali dengan trip ini. Cuma ngikuut aja sama itinerary yang udah dibuatin. I can say, I'm anti ribet traveler. Ketika udah ada yang ngelead, akan kuikuti tanpa banyak protes. Yang aku tau cuma kepanjangannya: Busan International Film Festival.
Loh tapi kan gak lagi ada festival filmnya? Trus ngapain dong? Akhirnya terjawab. Ini tuh semacam gang yang didedikasikan untuk memasang hal-hal seputar film. Kayak di Hollywood itu yang ada nama superstar di lantai(?) jalanan.
Kanan kiri seperti biasa pertokoan. Daaan...kuliner! Yap. Bisa dibayangkan suasananya mirip Myeongdong atau Hongdae di malam Jumat. Streetfood bertebaran tinggal pilih. Kami pilih makan hotteok.
Hotteok murah yang kubeli di Sinchon itu rasanya biasa aja. Kayak bakpia pathuk beda di isi. Yang ini luarnya garing kres kayak gorengan, isiannya bisa pilih madu dan kacang-kacangan. Paling enak? Yang kacang! Sampe beli dua kali dong :)) antriannya juga panjaaang. Hamdalah penjualnya satset. Nggak perlu nunggu lama meski famous.
***
Berhubung tiket kami sore, 2 jam sebelumnya kami memutuskan udah harus sampai di stasiun. Perkara makan siang? Nyobain food court.
Masih heran loh, kok bisa ya regulasi disini tuh ngatur makanan yang dijual harganya nggak tinggi? Ya harga umum pasaran aja. Beda sama di stasiun atau tempat wisata di Indonesia. Apa-apa dinaikkan dengan embel-embel: kan tempat wisata. Sigh.
Apa menu yang sekiranya "aman"? Balik lagi ke...seafood :)) dahlah halo kolesterol ini sepulang dari Busan. Tapi gapapa. Kapan lagi kan makan seafood ditempat aslinya. Perkara lain kita pikirkan belakangan aja.
Jadi, berapa budget ke Busan?
Aku coba itung ya. Ini diluar tiket pesawat Indonesia-Korea.
Tiket ITX Seoul-Busan
Tiket KTX Busan-Seoul
Total 102.400
Airbnb 60.653
Top up T-money 25.000
Jajan (makan dan suvenir) 115.312
Total pengeluaran 303.365 won. Konversi ke rupiah sekitar Rp 3.600.000.
Mahal atau murah balik lagi ke kepercayaan masing-masing yah.
Buatku ini masuk akal aja. Kami udah berusaha press di tiket dan airbnb. Makan sempet masak. Nggak jajan banyak suvenir pun. Nggak nyobain capsule train. Ah, sempet pakai taksi juga.
Tips liburan ke Busan (or maybe traveling in general):
1. Tentukan "genre"-nya mau apa. Wisata kuliner? Cari spot estetik? Atau cari aktivitas?
2. Kalau udah, tentukan lokasinya. Jangan lupa sekalian mapping rute agar bisa efisien waktu. Tanpa habis banyak dijalan.
3. Untuk destinasi yang perlu beli tiket, pastikan apakah bisa beli ditempat? Ada kemungkinan untuk habis? Bisa beli online jauh-jauh hari? Apakah harus diaktivasi/redeem beberapa hari sebelum digunakan?
Aku sempat baca untuk Blueline Busan itu harus aktivasi beberapa hari sebelum kedatangan.
4. Tempat sholat dan makan dimana? Kami (sebenernya aku ngga pas sholat sih...) sholat di tempat yang sekiranya agak sepi dan nggak buat lalu lalang orang.
5. Kemungkinan bakal makan seafood. Apakah ada alergi tertentu?
6. Cek suhu dan kemungkinan cuaca. Bawa baju yang sesuai. Jangan sampai liburan malah sakit!
7. Secara umum, Busan masih foreigner-friendly. Tapi nggak ada salahnya siap aplikasi papago untuk membantu terjemah.
***
Anyway, sebagai manusia yang tidak ambis destinasi sih aku merasa puas. No complain whatsover setelah liburan :)) meski kalau dibanding konten IG traveling ini nggak bisa dibilang seru sih. LOL. Well, yang penting diri sendiri menikmati. Nggak perlu dibandingkan lah ya.
Next: Jeju, I'm coming!
Lanjut hari kedua. Hari pertamanya bisa baca disini!
Kami sarapan seadanya dari minimarket terdekat. Kali ini tujuannya adalah Oryukdo Skywalk.
Oryukdo Skywalk
Skywalk tuh apa ya? Jembatan? Jadi dia ini jembatan kaca yang dibangun diatas laut.
Karena dia letaknya tinggi, nggak heran bus yang kami tumpangi ukurannya kecil. Jalanan cukup menanjak. Apakah skywalk ini berbayar? Lagi-lagi gratis pemirsa. Berasa jalan di taman perumahan warga gitu deh cuma view-nya ya emejing. Untuk berjalan diatas jembatan kacanya, disediakan pelapis sepatu dan WAJIB dipake ya.
Meski matahari bersinar terik, suhu masih dingin. Daan...ini nih gongnya. Anginnya kenceng banget. Sampe takut diri ini kebawa saking kencengnya. Mau nggak mau jaket musim dingin harus tetap dipake biar ga masuk angin. Bisa sih lepas tapi nggak bakal tahan sama dinginnya.
Disini nggak ada activity tertentu. Menikmati pemandangan dan foto-foto tentunya. Eh, ada sih teleskop gitu untuk mengintip mengamati pulau kecil yang ada diseberangnya.
Haeundae Beach
Cukup lama kami di skywalk sampai bunyi perut mengingatkan untuk segera diisi. Kami pilih makan di daerah Haeundae Beach. Disitu berjajar resto seafood dan kafe cantik yang bisa dikunjungi.
Ada kejadian tak terlupakan lagi. Untuk ke Haeundae kami harus transfer bus. Nah di salah satu perhentian, ada yang mampir buat beli pisang saking lapernya.
Eh disamperin sama halmoeni. Kayaknya kasian ngeliat orang kelaperan. Beliau kasih tteok buat kami makan :))) Memang Asian parent tuh love languagenya makanan deh.
Sampai di Haeundae kami pilih resto yang reviewnya banyak. Stafnya bisa atau setidaknya paham lah bahasa Inggris untuk komunikasi seadanya. Jujurlyyy ini pertama kali aku cobain the famous abalone. Hahah.
Harga makan disini lumayan mahal untuk kurs Indonesia. Tapii...rasanya tuh worth it. Mulai dari vibes pinggir pantai, pelayanannya. Aslik jos banget sih pelayanannya, ibaratnya kami tuh tinggal makan aja ga perlu nge-grill sendiri. Imonimnya ramah. Lucu pula bisa bikin jokes :)))
Lagi-lagi ada kejadian tidak terlupakan. Sayangnya kali ini nggak bisa dibilang memori baik. Kenapa? Handphoneku yang baru satu tahun umurnya itu jatuh :))))) kena layar :))) sampai akhirnya sekarang nggak bisa dipakai. Ada aja ya serba-serbi liburan. Ya syudahlah ya~ keteledoran diri sendiri naruh handphone sembarangan dan nggak dikasih casing.
Kenyang makan, kami lanjut ke Haeundae Sky Capsule. Ini posisinya deket dari resto sebelumnya. Kan emang sekomplek gitu isinya tempat turis. Capsule train ini yang viral dan banyak muncul di konten liburan Busan gitu loh.
Kami coba tuh untuk naik. Ada 2 pilihan, capsule train yang kotak kecil kapasitas 4 orang. Satunya Beach Train. Nggak taunya capsule train habis. Sedangkan Beach Train kudu nunggu sejam. Kami nggak sesabar itu. Akhirnya memutuskan yaudah jalan aja di sepanjang jalur relnya.
Emang seniat itu sih pemerintahnya. Ngga dapet akses kereta bukan berarti balik kanan. Di satu sisinya dibangun jalanan untuk tetep bisa menikmati pemandangan meski tanpa kereta. Gapapa lah ga dapet konten dan pengalaman estetik *LOL. Yang penting bisa menikmati pantai Busan serta dapat momen matahari terbenam.
Jadi ((pembelajaran)) kalau emang mau menikmati fasilitas berbayar kayak gini mending booking dari jauh-jauh hari.
Hwangnyeongsan Observation Deck
Destinasi terakhir di hari kedua: observatori. Niat kami menikmati city light dari ketinggian. Dari Haeundae kami memutuskan untuk pesan taksi aja. Kenapa? Jaraknya cukup jauh. Udah gelap. Malas untuk transfer bus karena nggak ada yang langsung. Hamdalah kami berempat jadi naik taksi patungan nggak berasa mahal. Lebih cepet pun.
Disini mirip sebenarnya kayak Oryukdo. Ada tempat buat menikmati pemandangan serta teleskop(?). Cuma kan udah malem ya jadi yang kelihatan lebih ke lampu sepenjuru Busan. Bener-bener nggak ada apa-apa lagi kan udah malem. Pertokoan juga tutup.
Untuk kesini wajib banget pake sepatu yang enak buat mendaki. Cukup melelahkan soalnya :") baliknya kami dengan taksi lagi. Udah capek lol.
Hari kedua disudahi dengan masaaak! Yeay. So happy to enjoy this moment. Lanjuut, last day!
Kalau ada kota yang wajib dikunjungi di Korea, pasti Busan salah satunya. Seoul-Busan-Jeju. Minimal 3 daerah kesebut. Masing-masing punya daya tarik sendiri.
Seoul dengan segala gemerlap dan pilihan hiburan. Busan dengan pantainya. Jeju dengan alam khas kepulauan yang menenangkan.
Target kami selama tinggal disini bisa mengunjungi sebanyak mungkin tempat di penjuru Korea. Daaan, akhirnya terwujud juga pergi ke Busan. Beberapa orang bilang idealnya ke Busan saat musim panas/summer agar bisa menikmati kehangatan pantainya.
Berhubung kami nggak punya waktu banyak, ayoklah gas aja di musim dingin. Ternyata justru menjadi pengalaman baru merasakan pantai yang nggak lengket dan panas. Sebagai gantinya, angin dan air pantainya semua DINGIN!
Let's breakdown the journey.
Untuk transportasi ada pilihan kereta dan bus. Kami memilih kereta dengan pertimbangan waktu. Dari segi harga memang lebih tinggi dibanding bus, tapi jelas efisien. Kereta ada 2 tipe: ITX dan KTX. Bedanya apa? ITX ini kereta jarak jauh versi biasa. Sedangkan KTX versi kereta cepat (kayak whoosh).
Dengan ITX, jarak tempuh Seoul-Busan sekitar 4-5 jam. Sedangkan dengan KTX hanya 2-3 jam aja. Bersyukurnya tinggal di Seoul dan deket dengan pusat kota, perjalanan menuju Seoul Station ga sampai 30 menit. Nice!
Gimana cara beli tiketnya? Bisa datang langsung ke ticket booth di stasiun. Atau online lewat situs Korail. Kami memilih beli online yang pasti-pasti aja. Berangkat menggunakan ITX, pulang menggunakan KTX. Sengaja mix selain menghemat biaya (KTX lebih mahal), juga agar bisa membandingkan apa sih bedanya.
Mirip dengan kereta di Indonesia, ada kelasnya loh. Ekonomi dan first class. Pilihan kami? Tentu ekonomi. Hehe. Kami sempat tanya warlok pun menyarankan ekonomi aja. Toh waktu tempuhnya sama. Kalo nggak salah bedanya di seat lebih lega, dapat snack juga.
Sejujurnya, kelas ekonomi pun udah nyaman banget!
Ini penampakan kereta ITX.
Yang unik dari kereta disini tuh informasi peron baru muncul 15 menit menjelang keberangkatan. Beda dengan di Indonesia yang udah pasti. Untuk perkara ketepatan waktunya, sama. Kebersihannya? Oke banget!
Dari bangunan stasiun menurutku stasiun-stasiun di kota besar itu nggak kalah modern. Malahan dengan kekhasan bangunan masing-masing menjadi nilai tambah. Stasiun besar kayak Seoul, Busan dan Gangneung agak mirip. Bentuk lingkaran. Sisinya dipenuhi layar besar berisi iklan. Lalu ditengahnya berfungsi sebagai ruang tunggu, berisi tempat duduk.
Keunikan lainnya disini kami nggak perlu scan tiket masuk. Nggak ada pengecekan petugas. Beneran culture shock banget. Sepercaya itu loh sama kita. Tinggal kitanya aja mau jujur apa enggak.
Hal serupa terjadi waktu kami nonton film di bioskop. Sama sekali nggak ada petugas cek tiket didepan pintu teaternya. Temenku yang iseng pernah nyeletuk,
"Wah kita kalau ganti film di jam yang sama kayaknya nggak bakal ketahuan juga"
Tidak untuk dilakukan beneran, yha~
Lanjut,
aku nggak eksplor di kereta ada apa aja. Setauku sih nggak ada gerbong makan/resto. Tapi untuk makan dan minum boleh asalkan nggak mengganggu penumpang lain. Dan jaga kebersihan tentunya.
Sepanjang perjalanan berhubung ini musim dingin, dedaunan terlihat gersang. Kecoklatan. Kering kerontang.
Yang aku perhatikan, kami tuh sering banget ngelewatin terowongan/tunnel. Rasanya agak penging di telinga setiap keluar masuk.
Nginep dimana?
Setelah pencarian panjang, kami memutuskan pesan di Airbnb dengan lokasi dekat stasiun Busan. Kenapa? Karena daerahnya rame. Bisa beli sesuatu gampang. Lalu dapetin transportasi umumnya juga gampang. Dekat stasiun jarak jauh, stasiun subway, serta depannya halte besar. Sebagai pelancong tanpa mobil pribadi, transportasi publik ini berasaaa banget ngebantunya.
Pembayaran bus bisa menggunakan tunai. Sedangkan subway harus menggunakan kartu transportasi. Aku pakai T-money yang bisa dipakai seluruh Korea. Jangan pakai climate card ya, itu cuma bisa di Seoul aja.
![]() |
| Lupa ga foto dalemnya malah foto pemandangan luar |
Akomodasi kami tipe apartemen. Untuk harga disini sih standar. Cuma kalau dikurs ke rupiah ya...berasa. Check in check out nggak ribet sama sekali. Kami dikasih password unit lewat aplikasi. Tersedia handuk, sabun, dan ini paling enak. Bisa masak. Heheh. Hemat sikit laa.
Hamdalah host-nya gercep dan nggak ribet. Namanya di Korea, tetep wajib memisahkan sampah. Udah ada instruksi bagaimana kami harus pilah food waste, general waste dan lainnya. Tinggal ikutin aja aturan mainnya.
Main kemana aja?
Hamdalah lagi grup jalan-jalan ini fleksibel. Nggak ambis yang kudu kesini kesitu. Yang penting merasakan Busan Vibes aja. Apakah ini rasanya ketika sudah menginjak usia 30an? Hahaha.
Hari pertama kami sampai Busan pas jam makan siang. Dari stasiun jalan kaki ke penginapan. Nitip barang di lobby karena belum jam check in. Caw ke pasar. Lupa antara Jagalchi atau Gwangjang. Kayaknya sih Gwangjang Market untuk cari makan. Udah duduk di resto, ternyata ada ((member)) yang maunya ke resto lain. Ya syudah, kami split tim.
Setelah makan balik lagi ke penginapan untuk check in. Masukin barang, beres-beres sebentar. Caw lagi ke pantai. Tau kan kalau Busan itu terkenal dengan pantainya.
Gwangalli Beach
Pantai pertama ini Gwangalli Beach. Lumayan jauh sekitar 1 jam. Dan busnya itu penuh BANGET. Semua orang mau ke pantai untuk lihat mentari terbenam.
Lucunya ya, ada aja orang Indonesia yang kami temui. Memang udah seterkenal itu Korea sekarang. Setiap jengkal kalo nggak ketemu orang Malaysia ya orang Indonesia :))
Di Gwangalli kami menikmati vibesnya. Jembatannya. Fireworknya. Lighting shownya. Bagus nggak? Yaa bagus karena belum pernah nemu pantai yang kaya gini di Indonesia. LOL. Dan semuanya gratis. Inget yah, gratis. Nggak ada pungli di tiap pengkolan :P
Disini ada hal lucu kuingat. Segerombol remaja cowok yang menghampiri kami.
"Can you speak English?" - kata dia.
Of course we can. Nggak kepikiran mereka ini mau ngapain. Apa yang terjadi? Si bocil ini minta kami untuk rate tingkat kegantengan :)))) ngakak banget. Salut sih sama keberanian mereka menyapa foreigner. Karena jarang banget disapa warlok duluan. Seringnya kami yang minta tolong sesuatu.
Capek dan kedinginan di pantai, kami ngadem di kafe. Setelahnya? Pulang~
Simpel banget emang perjalanan day 1 ini. Yuk lanjut ke day 2!
Subscribe to:
Posts (Atom)



























