Thursday, January 01, 2026

Busan is Good: 3D2N Trip! Day 1

Kalau ada kota yang wajib dikunjungi di Korea, pasti Busan salah satunya. Seoul-Busan-Jeju. Minimal 3 daerah kesebut. Masing-masing punya daya tarik sendiri.


Seoul dengan segala gemerlap dan pilihan hiburan. Busan dengan pantainya. Jeju dengan alam khas kepulauan yang menenangkan.

Target kami selama tinggal disini bisa mengunjungi sebanyak mungkin tempat di penjuru Korea. Daaan, akhirnya terwujud juga pergi ke Busan. Beberapa orang bilang idealnya ke Busan saat musim panas/summer agar bisa menikmati kehangatan pantainya. 

Berhubung kami nggak punya waktu banyak, ayoklah gas aja di musim dingin. Ternyata justru menjadi pengalaman baru merasakan pantai yang nggak lengket dan panas. Sebagai gantinya, angin dan air pantainya semua DINGIN!

Let's breakdown the journey.

Untuk transportasi ada pilihan kereta dan bus. Kami memilih kereta dengan pertimbangan waktu. Dari segi harga memang lebih tinggi dibanding bus, tapi jelas efisien. Kereta ada 2 tipe: ITX dan KTX. Bedanya apa? ITX ini kereta jarak jauh versi biasa. Sedangkan KTX versi kereta cepat (kayak whoosh).

Dengan ITX, jarak tempuh Seoul-Busan sekitar 4-5 jam. Sedangkan dengan KTX hanya 2-3 jam aja. Bersyukurnya tinggal di Seoul dan deket dengan pusat kota, perjalanan menuju Seoul Station ga sampai 30 menit. Nice!

Gimana cara beli tiketnya? Bisa datang langsung ke ticket booth di stasiun. Atau online lewat situs Korail. Kami memilih beli online yang pasti-pasti aja. Berangkat menggunakan ITX, pulang menggunakan KTX. Sengaja mix selain menghemat biaya (KTX lebih mahal), juga agar bisa membandingkan apa sih bedanya.

Mirip dengan kereta di Indonesia, ada kelasnya loh. Ekonomi dan first class. Pilihan kami? Tentu ekonomi. Hehe. Kami sempat tanya warlok pun menyarankan ekonomi aja. Toh waktu tempuhnya sama. Kalo nggak salah bedanya di seat lebih lega, dapat snack juga.

Sejujurnya, kelas ekonomi pun udah nyaman banget!
Ini penampakan kereta ITX.


Yang unik dari kereta disini tuh informasi peron baru muncul 15 menit menjelang keberangkatan. Beda dengan di Indonesia yang udah pasti. Untuk perkara ketepatan waktunya, sama. Kebersihannya? Oke banget! 


Dari bangunan stasiun menurutku stasiun-stasiun di kota besar itu nggak kalah modern. Malahan dengan kekhasan bangunan masing-masing menjadi nilai tambah. Stasiun besar kayak Seoul, Busan dan Gangneung agak mirip. Bentuk lingkaran. Sisinya dipenuhi layar besar berisi iklan. Lalu ditengahnya berfungsi sebagai ruang tunggu, berisi tempat duduk.

Keunikan lainnya disini kami nggak perlu scan tiket masuk. Nggak ada pengecekan petugas. Beneran culture shock banget. Sepercaya itu loh sama kita. Tinggal kitanya aja mau jujur apa enggak. 

Hal serupa terjadi waktu kami nonton film di bioskop. Sama sekali nggak ada petugas cek tiket didepan pintu teaternya. Temenku yang iseng pernah nyeletuk, 
"Wah kita kalau ganti film di jam yang sama kayaknya nggak bakal ketahuan juga"
Tidak untuk dilakukan beneran, yha~

Lanjut,
aku nggak eksplor di kereta ada apa aja. Setauku sih nggak ada gerbong makan/resto. Tapi untuk makan dan minum boleh asalkan nggak mengganggu penumpang lain. Dan jaga kebersihan tentunya.

Sepanjang perjalanan berhubung ini musim dingin, dedaunan terlihat gersang. Kecoklatan. Kering kerontang. 


Yang aku perhatikan, kami tuh sering banget ngelewatin terowongan/tunnel. Rasanya agak penging di telinga setiap keluar masuk.

Nginep dimana?

Setelah pencarian panjang, kami memutuskan pesan di Airbnb dengan lokasi dekat stasiun Busan. Kenapa? Karena daerahnya rame. Bisa beli sesuatu gampang. Lalu dapetin transportasi umumnya juga gampang. Dekat stasiun jarak jauh, stasiun subway, serta depannya halte besar. Sebagai pelancong tanpa mobil pribadi, transportasi publik ini berasaaa banget ngebantunya.

Pembayaran bus bisa menggunakan tunai. Sedangkan subway harus menggunakan kartu transportasi. Aku pakai T-money yang bisa dipakai seluruh Korea. Jangan pakai climate card ya, itu cuma bisa di Seoul aja.

Lupa ga foto dalemnya malah foto pemandangan luar

Akomodasi kami tipe apartemen. Untuk harga disini sih standar. Cuma kalau dikurs ke rupiah ya...berasa. Check in check out nggak ribet sama sekali. Kami dikasih password unit lewat aplikasi. Tersedia handuk, sabun, dan ini paling enak. Bisa masak. Heheh. Hemat sikit laa.

Hamdalah host-nya gercep dan nggak ribet. Namanya di Korea, tetep wajib memisahkan sampah. Udah ada instruksi bagaimana kami harus pilah food waste, general waste dan lainnya. Tinggal ikutin aja aturan mainnya.

Main kemana aja?

Hamdalah lagi grup jalan-jalan ini fleksibel. Nggak ambis yang kudu kesini kesitu. Yang penting merasakan Busan Vibes aja. Apakah ini rasanya ketika sudah menginjak usia 30an? Hahaha.

Hari pertama kami sampai Busan pas jam makan siang. Dari stasiun jalan kaki ke penginapan. Nitip barang di lobby karena belum jam check in. Caw ke pasar. Lupa antara Jagalchi atau Gwangjang. Kayaknya sih Gwangjang Market untuk cari makan. Udah duduk di resto, ternyata ada ((member)) yang maunya ke resto lain. Ya syudah, kami split tim.

Setelah makan balik lagi ke penginapan untuk check in. Masukin barang, beres-beres sebentar. Caw lagi ke pantai. Tau kan kalau Busan itu terkenal dengan pantainya. 

Gwangalli Beach



Pantai pertama ini Gwangalli Beach. Lumayan jauh sekitar 1 jam. Dan busnya itu penuh BANGET. Semua orang mau ke pantai untuk lihat mentari terbenam.

Lucunya ya, ada aja orang Indonesia yang kami temui. Memang udah seterkenal itu Korea sekarang. Setiap jengkal kalo nggak ketemu orang Malaysia ya orang Indonesia :))


Di Gwangalli kami menikmati vibesnya. Jembatannya. Fireworknya. Lighting shownya. Bagus nggak? Yaa bagus karena belum pernah nemu pantai yang kaya gini di Indonesia. LOL. Dan semuanya gratis. Inget yah, gratis. Nggak ada pungli di tiap pengkolan :P

Disini ada hal lucu kuingat. Segerombol remaja cowok yang menghampiri kami.
"Can you speak English?" - kata dia. 
Of course we can. Nggak kepikiran mereka ini mau ngapain. Apa yang terjadi? Si bocil ini minta kami untuk rate tingkat kegantengan :)))) ngakak banget. Salut sih sama keberanian mereka menyapa foreigner. Karena jarang banget disapa warlok duluan. Seringnya kami yang minta tolong sesuatu.

Capek dan kedinginan di pantai, kami ngadem di kafe. Setelahnya? Pulang~ 
Simpel banget emang perjalanan day 1 ini. Yuk lanjut ke day 2!

Post a Comment

Halo! Terimakasih sudah membaca. Setiap komentar masuk akan dimoderasi. Untuk komentar dengan anonim tidak akan saya balas, ya. Yuk biasakan menjadi diri sendiri di dunia maya!