Berbekal 20000 KRW udah dapet akomodasi full PP Seoul-Sokcho + Taxi Tour senilai 30000 KRW + kaos dan totebag. Kok bisa? Iya. Di Korea tuh banyak tur subsidi pemerintah khusus untuk pendatang alias foreigner.
Apakah ada kewajiban tertentu? Kadang iya dengan posting di media sosial untuk tur yang beneran gratis tanpa mengeluarkan apapun. Untuk trip yang masih bayar gini cuma mau difoto as a group dan diposting di medsos penyelenggara aja. Enak kan? Enak dong :P
Cons-nya sih trip kayak gini umumnya ppali-ppali alias cepet-cepet. Mengejar beberapa destinasi bukan menikmati. Yaah tinggal pilihan aja mau seperti apa. Kebetulan Sokcho ini udah masuk ke daftar list yang perlu aku kunjungi. Alhamdulillah kesempatan dan waktunya cocok.
Pagi hari jam 7 pagi kami udah standby di area Hongdae. Katanya akan ada bus yang menunggu. Udah beberapa lama kok gak ada yah? Mana tour guide-nya nunggu di drop point lain. Usut punya usut bukan bus, melainkan minivan. Pantes aja nggak ketemuu :))
Sokcho merupakan kota pesisir di Provinsi Gangwon. Kotanya cukup unik, punya pantai dan gunung secara bersamaan. Berjarak 180an kilometer dari Seoul, butuh waktu 2-3 jam dengan kendaraan pribadi.
Saat tur kami agak kurang beruntung, macet panjang banget! Molor hampir 4 jam. Gapapa deh yang penting terlindungi dari terik matahari didalam mobil. Toh kendaraannya nyaman pula.
Sampai di Sokcho pas tengah hari dimana matahari rasanya tepat diatas kepala. Kami turun di Sokcho Express Terminal untuk di-assign taxinya. Kami terbagi jadi grup yang ke Abai Village dan ke Seoraksan. Kebetulan aku pilih ke Seoraksan.
Rute taxi tour yang kami dapatkan seperti ini:
Seoraksan National Park
Salah satu pendakian paling populer di Korea. Masuk kedalam UNESCO Biosphere Reserve tahun 1982. Daftar ini didapat karena Seoraksan punya biodiversity yang tinggi, spesies tanaman langka dan hewan terancam punah: Korean goral (sejenis antelope) serta musk deer.
Di tahun 1994, Seoraksan termasuk dalam UNESCO World Heritage Tentative List. Daftar ini merupakan daftar resmi berisikan kandidat tempat/situs sebelum layak masuk kategori UNESCO World Heritage.
Sebagai pengetahuan, di Indonesia daftar National Park yang masuk ke UNESCO World Heritage ada Komodo National Park, Ujung Kulon National Park, dan Lorentz National Park.
Luas Seoraksan sekitar 398 kilometer persegi. Puncak tertingginya yaitu Daecheongbong Peak (1708 mdpl). Ranking ketiga di Korea setelah Hallasan dan Jirisan. Kalau mau mendaki full course bisa makan waktu 10-14 jam. Apakah kami mendakinya?
Tentu tidak :P
Easy tourist ini sesampainya di Seoraksan langsung ke tiket cable car. LOL.
Harap maklum. Nggak punya persiapan hiking, emang nggak diniatkan sih. Terbatas waktu pula. Shortcutnya adalah naik cable car. Tiket seharga 12000 KRW round trip per orang. Ada jam yang bisa dipilih.
Waktu terdekat yang bisa kami dapatkan tetap harus menunggu kurang lebih 1 jam. Kami memutuskan untuk makan siang dulu di resto sebelah ticket booth.
Kami pesan menu seafood dan bibimbap. Agak lucu yah mengingat ini gunung tapi kok hidangannya laut? Eits, kan dia punya pantai juga. Jadi nggak heran. Harga makanannya tergolong standar di range belasan ribu sudah termasuk banchan (side dish).
Selesai makan kami kembali mengantri untuk naik cable car. Jujur agak merinding shay liat ketinggian cable car ini. Bawahnya tuh bebatuan tajam gitu.
Hamdalahnya cable car ini rasanya solid dan nggak ada guncangan berarti. Selama di cable car berdiri, nggak ada tempat duduk.
Pemandangannya...masyaAllah tabarakallah bund. Bagus buanget. Bebatuan + rimbun pohon + pesisir pantai di kejauhan. Seneng banget bisa mendaki dengan cara mudah kayak gini :P
Sampai di Gwongeumseong Peak kami liat-liat aja sekeliling. Panas ngentang-ngentang mohon maaf T_T sempet ngerasain dikit jalan disekitar area berbatu ini. Agak ngeri ya shay kalau tergelincir.
Di puncak ini juga kedengeran Daily Sutra Recitations (Yebul / 예불) dan moktak (목탁). Doa-doa dalam agama Buddha diiringi instrumennya.
Merasa cukup disini, kami turun dan nyamperin supir taksi yang udah menunggu. Destinasi selanjutnya harusnya pasar. Tapii ketika supir tau kami bisa bahasa Korea sikit-sikit, dia bilang skip aja.
"Di Seoul ada pasar kan?"
"Ada sih..."
"Makanya, gak usah. Sebagai gantinya kalian aku ajak keliling danau aja"
"Makanya, gak usah. Sebagai gantinya kalian aku ajak keliling danau aja"
Bhaiqqq. Jadilah sepanjang jalan itu kami menyusuri area Yeongnangho sambil mendengarkan penjelasan beliau. Mungkin dikira kami udah paham 100% kali ya. Beliau dengan semangat 45 menjelaskan banyak hal. Padahal jujur kami cuma paham setengahnya aja. LOL. Gapapa lah, makasih gisanim udah ditemenin.
Yeongnangho
Penjelasan yang kami tangkap adalah tentang danau terhubung dengan laut. Disini bisa menikmati jalan setapak untuk jogging atau bersepeda, lapangan golf, dan jembatan terapung. Menurut sang supir musim terbaik untuk menikmati pemandangannya pada musim semi.
"Besok musim semi balik lagi kesini bawa orang tua kalian", kata beliau sambil memberikan kartu namanya. Aih, baiklah. Semoga ada rezekinya ya paak.
Pemandangannya sebagus itu emang. Kami padahal "hanya" menikmati dari dalam taksi dengan jendela terbuka. Dari kejauhan tampak air danau tenang yang memantulkan cerah sinar matahari. Ditambah kalau menyeberangi jembatan terapungnya bakal bisa melihat pemandangan 360 derajat. Di satu sisi ada pemandangan laut, sisi lainnya Seoraksan.
Batu yang ditunjukin lupa apaan, ga terlalu paham :))
Yeonggeumjeong Sunrise Pavilion
Destinasi pantai pertama yang kami singgahi. Nama Yeong-geum (영금 / 靈琴) diambil dari instrumen tradisional Korea. Semacam kecapi dengan enam senar. Berdasarkan sejarahnya, lebih ke cerita rakyat ini..waktu ombak laut menghantam bebatuan di pinggir pantai, ada bunyi yang tercipta. Nah menurut masyarakat dahulu kala ini mirip dengan suara alat musik yang dimainkan oleh spirit. Dewa? Roh halus? Semacam itulah.
Adapun kata Jeong (정 / 亭) berarti paviliun. Sebenarnya situs ini di zaman kolonial Jepang belum berupa paviliun, melainkan pemecah ombak. Lalu dilakukan beberapa perubahan, tapi pemerintahnya pengen mempertahankan peninggalan ini. Akhirnya dibangunlah paviliun sebagai ikon barunya.
Sesuai namanya, paviliun (atau gazebo?) paling cocok berburu matahari terbit. Yaah kami sih nggak mengalami karena datengnya bukan di pagi hari :)) meski begitu tetep menikmati bengong menatap burung-burung berterbangan sambil mendengar deburan ombak. Sesekali ada kapal yang lewat juga menambah keramaian.
Terakhir sekaligus penutup kami diantar ke Sokcho Beach.
Sokcho Beach
Ternyata pemirsaaa pantai ini cuma berjarak 5-10 menit jalan kaki dari terminal kedatangan kami! Gampang banget untuk diakses. Disini ada yang nyebur dan main air. Aku kebagian duduk santai nungguin barang. Walau nggak ditungguin pun tetap aman yah.
Pantainya rame banget nget kayak pasar. Tumplek blek semua tua muda cowok cewek. Harus hati-hati mengarahkan pandangan, maklum busananya minim bahan kan lagi di pantai~
Sebenarnya ada attraction yang bisa dilakukan, yaitu Sokcho Eye. Sebuah kincir alias ferris wheel. Tapi kami lagi bokek HAHA udah budgetnya buat makan dan cable car sebelumnya. Gapapa lah skip aja. Yang penting udah merasakan Sokcho vibes~ Azek~
***
Alhamdulillah puas. Another city unlocked. Masih banyak daerah yang belum kukunjungi. Sejong, Gyeongju, Daegu, Daejeon, ah kapan ya? YaAllah tolong kasih rezeki melimpah :"))
Jalan-jalan outdoor waktu summer gini sungguh menguras kesabaran. Walau asalku dari Semarang yang panasnya juga kerasa di ubun-ubun, tetep aja ini tuh menyengat. Siap-siap bawa payung anti UV, sunscreen, kacamata demi trip yang bebas tantrum :))
















Post a Comment
Halo! Terimakasih sudah membaca. Setiap komentar masuk akan dimoderasi. Untuk komentar dengan anonim tidak akan saya balas, ya. Yuk biasakan menjadi diri sendiri di dunia maya!