Yeongmori Beach
Pagi-pagi kami meluncur ke pantai. Lumayan jauh perjalanan sekitar 1-1,5 jam. Tempat yang meskipun technically kami "fail" karena tutup, tapi buatku pribadi justru salah satu yang berkesan.
Pantai ini secara harfiah berarti Kepala Naga. Yeong = naga. Meori = kepala. Jika dilihat dari atas, katanya sih bentuknya seperti itu. Nah, kenapa aku bilang fail? Karena tutup gais! Awalnya kami mengira "Ah, belum buka aja kali ya..". Lihat papan berinfokan tutup pun masih denial. Mungkin petugasnya belum dateng?
Untuk mencapai pantai ini harus menuruni banyak tangga. Karena penasaran, kami berjalan terus dan menemukan Yongmeori Coast Climate Change Exhibition Center beserta petugas yang dengan baik hati menjelaskan banyak hal.
Kestimewaan dari pantai ini adalah adanya geological landmark yang terbentuk oleh aktivitas vulanik. Jadi, ada area bebatuan tinggi di area pantainya. Dimana, area ini boleh dikunjungi ketika ketinggian air laut dinyatakan aman.
Sebagus apa sih? Kayak gini gaiss...
![]() |
| Gambar milik 제주회계컨설팅(머니바이블) dari Google Review |
Estetik kan? Iyaa. Sayang kami ga dapet momennya. Setiap jam 9 pagi petugas akan mengecek keamanannya. Jika dinyatakan aman, area dibuka. Kalau enggak? Ya tutup. Lalu, gimana pengunjung tau informasi tersebut? Dengan nelepon gais. In this modern world, nelepon T_T agak speechless mendengarnya. Sangat manual sekali :))
Nomor teleponnya berdasarkan AI nih: +82-64-760-6321. Ada instagram juga kurang tau aktif enggak di @6sot_official.
Apa yang membuat exhibition ini menarik? Dari penjelasannya aku bisa menangkap bahwa krisis iklim ini mempengaruhi kondisi air laut. Tau kan semakin panas suhu bumi, semakin banyak es mencair, air laut pun semakin naik? Pernah baca kalau pemanasan global ini nggak direm atau dihentikan, di tahun 2100 diprediksi akan semakin banyak tempat nggak bisa dihuni. Utamanya negara kepulauan seperti Maldives.
Ngeri nggak? Iya :( dan di exhibition ini pengunjung bisa lihat di Jeju pun juga mengalami kenaikan air laut. Makanya di Yeongmori ini semakin jarang untuk dibuka areanya karena nggak aman. Huhu, sedih banget sih jujyuuur. Sekaligus merinding, apa ini yang dinamakan kiamat perlahan? :")
Disini petugas juga ngasih tau rekomendasi destinasi wisata alam di Jeju. Sebanyak itu yang udah kami kunjungi selain Yeongmori Beach hanya Udo dan Seongsan Ilchulbong. Ah, harus remidi ke Jeju kah ini :))
Habis itu ngapain?
Eksplor aja sekeliling. Masih bisa merasakan hembusan angin. Ambil foto (tentuu!).
Kalau masih kuat tenaga dan waktu bisa mengunjungi temple yang ada diseberangnya. Vibes religiusnya dapet banget dimana banyak patung-patung tinggi besar diselimuti kabut tebal.
Kami juga menemukan hal yang menarik disini. Ada area perkebunan bunga cukup luas. Insting perempuan yang suka foto nggak mau dong melewatkan, apalagi udah gagal mendapat foto di area pantai bawah. Pas masuk, foto-foto. Aku lihat tuh ada papan pengumuman seadanya. Langsung curiga, "Wah apakah ini berbayar?". Soalnya ada tulisan "won" dan nomor rekening.
Berbekal aplikasi penerjemah, betul dong harus bayar. Kami dengan kesadaran penuh membayar :)) lucunya tuh apa yah, si pemilik dengan penuh kepercayaan ninggalin begitu aja. Percaya kalau pengunjung bakal bayar. Percaya kalau orang jujur akan selalu ada.
Oh, apakah ini ya yang dimaksud tinggal di negara berintegritas? Nggak perlu punishment untuk menerapkan kejujuran. Cukup kesadaran diri masing-masing. Kami membayangkan apakah di Indonesia bakal bisa?
Obrolan kami terbawa tentang kantin kejujuran yang pernah ramai pada masanya. Dimana ujungnya malah bangkrut. Ah, kapan ibu pertiwi ini bisa maju? :')
Camellia Hill
Puas di pantai, kami lanjut ke destinasi outdoor lagi. Eh iya, Alhamdulillah banget walaupun matahari bersinar malu-malu, nggak ada hujan. Bisa menikmati keindahan alam ditambah udara segar Jeju. Udah khawatir bakal melewatkan tempat ini. Alhamdulillah rezekinya~
Berhubung nungguin bus lama, kami memutuskan pesan taksi aja. Masih cukup terjangkau kok! Alhamdulillah supir taksinya ramah. Sepertinya mereka udah biasa membawa wisatawan. Jadi kami mendapat sambutan, "Welcome to Jeju!".
Camellia hill merupakan kebun raya alias botanical garden alias arboretum. Eh, apa bedanya sih?
Klaimnya, ini merupakan arboretum bunga camellia terbesar se-Asia. Dengan luas 20 hektar, berisi 6000 pohon camellia dari 500 spesies berbeda. Perbandingannya dengan Kebun Raya Bogor luasnya 87 hektar. Fokusnya aja beda, kalau di Bogor kan lebih beragam tuh koleksinya. Disini emang fokus ke camellia.
Dengan biaya 12000 KRW menurutku sih ini cukup terjangkau ya. Mengingat pasti biaya pemeliharaannya nggak murah. Apalagi harus bertahan di 4 musim dengan 4 karakteristik cuaca yang berbeda.
Setiap musim ada kekhasannya sendiri. Mau dikelilingi camellia merah? Datang di musim dingin (November-Februari). Saat kami datang di musim panas ini, yang lagi merekah adalah bunga hydrangea berwarna biru! Iya, warna favoritku! Sungguh menyenangkan.
Siapkan kaki untuk berjalan mengelilingi areanya ya! Kebetulan waktu kesini sedang ada exhibition tentang camellia. Jadi tau buuaaanyak banget spesies camellia berdasarkan asalnya, ukuran, serta waktu mekarnya. All worth it~
Gyulkot Darak Cafe
Menutup perjalanan Jeju dengan kafe super estetik dengan perpaduan vintage dan jeruk. Kafe ini restorasi dari warehouse berdinding batu yang dibangun pada 1978. Setiap sudutnya udah disiapkan se-estetik mungkin. Sampai ada informasi spot dan pengumuman untuk bergantian dengan pengunjung. Rata-rata yang datang kesini turis Chinese dan udah memakai kostum gaun-gaun syantiq~
Meskipun begitu lagi-lagi harga cake dan minuman yang ditawarkan masih terjangkau. Jadi jangan khawatir.
Tujuan kesini apa? Ya foto-foto laah :P
Ternyata jeruk yang ada disini properti. Kalau didekati udah cenderung busuk dan gak fresh. LOL. Maklum, belum musim panen juga sih. Bolehlah effort-nya untuk memuaskan hasrat foto-foto para ciwi ini.
***
Kalau mengikuti kata hati sih...maunya lebih lama eksplor Jeju. Apa daya waktu (dan budget) terbatas :P padahal udah cukup banyak spot yang dikunjungi. Kok masih banyak yang belum ya?
Usut punya usut, memang Jeju se-luas dan se-banyak itu tempat yang layak untuk dikunjungi! Memang lebih fleksibel sewa kendaraan sih dibanding harus menunggu bus tiap ganti tempat. Tapi yah balik lagi ke kemampuan masing-masing.
Aku pribadi merasa cukup puas dengan petualangan mengelilingi Jeju ini. It's worth every penny I spent. Makanannya enak, tempat wisatanya sangat siap dan terawat, bukti dari komitmennya pemerintah dalam memajukan sektor pariwisata.
Setiap habis liburan dari daerah di Korea tuh mikirnya selalu,
"Kapan ya pemerintah serius untuk memperbaiki segala sektor termasuk pariwisata?"
Tau sendiri lah ya Indonesia tuh nggak kalah kekayaan alamnya. Malah bisa dibilang lebih lebih berkali lipat. Cuma ya....tiket untuk menuju ke tempatnya aja mahal. Apalagi yang lain-lainnya. Ah, jadi overthinking.
Terima kasih sudah berpetualang virtual. Nantikan perjalanan lainnya~
























Post a Comment
Halo! Terimakasih sudah membaca. Setiap komentar masuk akan dimoderasi. Untuk komentar dengan anonim tidak akan saya balas, ya. Yuk biasakan menjadi diri sendiri di dunia maya!