Kayaknya baru kemarin landing tau-tau udah masuk seminggu aja. So, udah ngapain aja di Korea?


1. Kelas bahasa Korea

Sedari awal masih di Indonesia, kami diberikan akun Yonsei Korean Language Institue untuk melihat jadwal. Isinya? Sehari 6 jam kelas. Mulai dari jam 9 sampai 12. Lalu kembali di 14.00-16.50. Setiap sesi (atau SKS gitu kalau di Indonesia?) berjalan 50 menit. Istirahat 10 menit.


Senior kami bilang, kalau di Korea tuh "on time" artinya udah telat. Mereka mewanti-wanti untuk kami datang sebelum jadwal. Dan bener aja dong. Di hari pertama aku datang sekitar 20 menit sebelum kelas. 5 menit kemudian gurunya udah dateng. Untunglah kebiasaanku dari Indonesia bukan seperti kebanyakan orang: ngaret. So, aku nggak kesulitan untuk beradaptasi mengenai waktu disini.

"Kamu kelas bahasa Korea setahun, ya?"

Beberapa orang bertanya begitu. Jawabannya: enggak. Yang setahun adalah anak GKS (Global Korean Scholarship). Mereka diwajibkan karena perkuliahan yang akan diikuti dalam bahasa Korea. Sedangkan kami bahasa pengantarnya adalah Inggris. Bisa dibilang, kelas ini agar kami bisa bertahan hidup di Korea. Toh juga akan kepakai dengan banyaknya signage atau pengumuman yang ditulis dalam bahasa Korea. Kelas kami hanya 2 minggu.


Kelas ini basic banget. Mulai dari pengenalan huruf sampai bacanya. Sebagai orang yang udah belajar dan ambil ujian sebelumnya, aku bisa cepat mengikuti. 


Gurunya pun sadar. Temen-temenku juga sadar. Agak gak enak pula kesannya kek show off tapi gimana ya emang udah bisa...

Sedangkan bagi yang baru pertama kali mengenal hangeul dkk ini bakal kesulitan. Ngajarnya tuh cepet banget. Di akhir pekan kami udah sampai belajar partikel dan bikin kalimat. Sementara bisa jadi hafalin hurufnya aja belum tuntas.

Kesulitanku pribadi untuk pengucapan. Lidah medok ini untuk ngucapin D, T, H masih tebal. Ternyata yang bener itu tipis. H-nya lebih kaya huruf ha di arab (yang sebelum kho itu). 

Hamdalahnya Ssaem-ku ini baik dan encouraging. Ditengah kelas disisipkan obrolan-obrolan buat kenal lebih lanjut. Selama 3 hari berturut-turut pun kami dikasih snack: permen dan yakgwa. Small gesture yang buat foreigner tuh...terasa warm-nya. 

Untuk kelas ini nggak masuk SKS perkuliahan kami. So, kami bisa ikuti dengan suka cita tanpa beban berarti.

2. Belanja ke Daiso

Kalau Indonesia punya Miniso, di Korea ada Daiso. Dan literally everywhere! Untuk menunjukkan arah tempat, disini lebih presisi menggunakan naver/kakao map. Di hari pertama kami tiba, sorenya kami ke Daiso. Berhubung belum tau, kami memilih ke Daiso dekat Ewha Station. Padahal sebenernya ada yang lebih dekat :P

Kurang lebih kami berjalan 30 menit dengan kontur jalan naik turun khas Seoul itu. Jalannya enak, trotoar luas. Mobil dan motor tertib ketika lampu merah. Kayaknya cuma kami doang yang sebelum nyebrang kudu tengok kanan kiri. Sedangkan yang lain yakin aja langsung jalan. Saking aman dan terpercaya-nya pengendara kali ya. Gak ada atau jarang ceritanya lampu menunjukkan kuning dan kendaraan justru tancap gas.

Awalnya kami agak kesulitan untuk menemukan Daiso ini. Pas dibaca lagi di ulasannya, oooh ternyata di underground alias basement. Mana ga ada plangnya pula. Pantesan ga keliatan...

Barang di Daiso ini memang terjangkau. Kata seniorku sih maksimal dibanderol 5000 won. Isinya juga lumayan lengkap, yaa printilan kayak di Miniso lah. Untuk pembayaran ada 2 sistem. Self check in dan manual. Yang manual masih ada kasirnya, biasanya untuk pembayaran menggunakan cash. Kami pakai yang terakhir berhubung uang Won kami berupa cash.

3. Belanja online

Di coupang yang terkenal itu! Untuk ini kami dibantu sunbae (senior). Beliau juga yang mau untuk ditanya-tanya sejak aku daftar. Bersyukur banget deh!

"Emang ga bisa beli sendiri?"
Sayangnya, enggak. Banyak hal di Korea itu daftar pakai nomor handphone, yang terhubung di akun rekening. Sedangkan untuk punya nomor handphone lokal, harus punya ARC (Alien Registration Card). Kartu identitas resmi bagi warga asing yang tinggal di Korea lebih dari 90 hari.

Tentu untuk mendapatkannya butuh waktu sekitar 1-2 bulan. That's why we rely a lot like A LOT on our sunbae <3 termasuk delivery order makanan.


4. Cobain transportasi publik

Ada 2 yang udah kami coba. Subway (MRT?) dan bus. Kami diantar dulu untuk beli T-money. Yaa semacam kartu elektronik buat naik KRL-lah. Bisa beli di convenience store bernama CU. Kurang tau kalau di GS ada atau engga.

Belinya di kasir. Pilih kartunya. Harga beda tergantung desain. Kartu kosongnya yang aku beli seharga 4000. Lalu kami minta top up 10.000. Biaya naik subway 1.550 kalau ngga salah. Untuk bus 1.500. Nah yang bus ini diterapkan juga sistem ketika transfer (transit?) untuk pindah bus, selama belum 30 menit nggak akan kepotong 2x. 

Tips bertahan hidup disini adalah jangan mengkonversi uang ke rupiah :P udah jelas nilai mata uang kita rendah. Ditambah UMR yang ngga sebanding. Padahal kemerdekaan cuma beda 2 hari, kok nasibnya bisa berbanding terbalik? Uhukkk.

Skill utama yang dibutuhkan: baca map. Map disini tuh jelas banget. Misal mau naik bus. Tertera kapan bus yang akan ditumpangi datang. Untuk memastikan kita ga salah halte, tiap halte juga ada nomornya. Buat yang pernah naik TJ (transjakarta) ini mirip kok. 


Misalnya gambar diatas nih. Halte Sinchon ID-nya 13-211. Bus nomor 5713 akan datang 7 menit lagi. Sedangkan 742 harus menunggu 12 menit lagi.

Aturannya: naik dari pintu depan. Tap kartu ke alat. Kalau mau turun pencet bel, tap kartu di pintu belakang. Turun deh. Bedanya, alat pembaca kartu disini lebih cepat daripada di Jakarta :P

Untuk subway gimana? Yaa sama aja dengan MRT di Indonesia. Harus mau naik turun tangga dan itu BANYAK. 


Awalnya kami kesulitan menentukan peron mana yang harus kami pilih. Hamdalah nggak nyasar berbekal pede dan map :)) kondisi subway di Korea pun ya kurang lebih sama dengan MRT. 


Plus aku bisa mendengarkan lagu kedatangan subway yang legend itu :P

"Enak naik bus atau subway?"

Bagi orang Indonesia yang jarang jalan kek kami enakan naik bus. LOL. Lebih mudah menavigasi. Nggak bingung pilih peron. Plus nggak perlu naik turun ratusan anak tangga. Takut aku tu pulang-pulang tambah kurus :P

Selain keempat hal diatas, kami juga udah eksplor gerbang utama Yonsei University! Emang ada apaan? Biar ga kepanjangan, nyambung di post selanjutnya ya. Dadaah!
Hi. Finally I can share this happy news. Unlocked another new chapter in life. Another "first" for me. Even I'm already few days here, still feel like a dream.


So, yeah. I settled in Korea. For a year and half. Sometimes I think it's going to be a long time. But also not too long at the same time. Depends on our own perspective actually.

Sebenarnya agak sedikit sedih dan kesal dengan rencana sebelum keberangkatan yang sudah kususun berantakan. Berkaitan dengan birokrasi yang yaa...begitulah. Tapi ya sudah lupakan saja dan fokus menjalani apa yang didepan mata. 

Keberangkatan dari Indonesia

Aku berangkat berdua dengan maba yang satu jurusan. Alhamdulillahnya kok ya satu instansi. Kami janjian di CGK untuk lebih mudah. Diluar dugaan, akhirnya aku pun berangkat diantar keluarga. Maybe because I'm the first one to live abroad in my family? That is a real privilege, I know.


Untuk penerima beasiswa KOICA, tiket sudah diuruskan. Jadi ya kami tinggal mempersiapkan sebaik mungkin. Selain visa, apa yang harus dipersiapkan?
- Pengisian q-code
- Pengisian e-arrival
Semua sudah ada petunjuknya yang dikirimkan bersama e-ticket. Maskapai yang kami naiki adalah Korean Air.

Sebelum terbang, kami udah pesan dulu untuk makanannya yaitu Moslem Meal. Caranya tinggal ke website Korean Air, isi kode booking dan service apa yang dibutuhkan. Jangan lupa untuk check in online. Kami kelupaan, alhasil dapetnya tempat duduk di tengah. Padahal pengen deket jendela ((buat konten)). Hahah.

Berikut penampakan moslem meal:



Semuanya enak. Sayangnya aku udah makan sebelum terbang. Udah laper banget. Alhasil ngga aku habisin semua, takut pupup di pesawat kan ribet yak. Gapapalah yang penting daging ayam sebagai proteinnya kemakan.

Selama penerbangan ini aman aja. Ada hal yang aku baru tahu. Jadi di pesawatnya itu disediakan alas kaki tipis. Nah kebanyakan warloknya pake ini. Sepatu dilepas, lalu mereka ganti alas kaki dari maskapai. Aku? Enggak. Takut kedinginan. Lol.

Tiba di Korea

Kami mendarat pagi hari di Incheon. Wah, semuanya pake hangeul. Bagi yang mau ke Korea untuk keperluan apapun aku sarankan minimal bisa baca hangeul sih. Iya, ada translator app. Tapi akan lebih hemat waktu ketika udah bisa baca. Nggak cuma di airport, di segala tempat plangnya lebih banyak menggunakan hangeul. Bagi yang hangeul-illiterate yah, tentu saja susah dan berat.

Saat mendarat langsung siapkan q-code ya biar cepat. Lalu ambil bagasi. Nggak terlalu lama, dan aman pula meski tanpa wrap atau pelindung lain.

Next, mencari akomodasi untuk ke Seoul. Seperti bandara CGK yang ada di Tangerang, bandara Incheon ini bukan pas di ibukota yaitu Seoul. Perjalanannya sekitar 1 jam. Ada banyak pilihan, kereta, bus, taxi. 

Sesuai petunjuk, kami menuju stand KOICA. 


Disitu ada staf yang memesankan transportasinya, semacam van gitu? Cukup lega untuk 2 orang dan 4 koper kami.


Kami cukup menikmati perjalanannya. Ya, berhubung sama-sama pertama kalinya menginjakkan kaki di Korea. Banyak foto-foto jalan. Memperhatikan ini itu. Sambil mencocokkan informasi yang selama ini kami tonton di drama atau variety show dengan kondisi nyata.

Sampai juga di dorm!

Yap, kami disediakan dorm untuk mahasiswa. Lokasinya dari gerbang utama Yonsei University agak jauh memang. Masih bisa dijangkau dengan jalan kaki. Oh ya, kalau tinggal disini akan sering jalan kaki. Sisanya bisa naik transportasi umum berupa bus atau subway (MRT). Pilihan paling menguras kantongnya: taksi.

Kami disambut oleh Koordinator dan Teaching Assistant yang selama ini memandu kami lewat email dan zoom. Ramah banget! Kami diminta masuk ke lobby dorm. Kemudian diberikan 3 barang.

1. Cover kasur. Berhubung kasur ini milik umum, kami ga bisa langsung merebahkan badan tanpa ada alas dasar. Bukan sprei ya. Cover yang melekat gitulah.
2. Uang settlement dan allowance. Secara cash. Kan kami belum punya akun bank Korea tuh. Alhasil dikasih cash dalam amplop. Kayak angpau dengan jumlah yang kalo dirupiahkan.....melebihi gajiku sebulan :))


3. Buku ajar bahasa Korea dasar. Yap, sehari setelah mendarat kami langsung mengikuti kelas bahasa Korea. Kelasnya wajib, walaupun nggak terhitung sebagai SKS.

Dalam pembagian roommate, ternyata kami sekamar. Alhamdulillah, bersyukur banget. Udah ga inget kapan terakhir kali sekamar berdua. Selama ini ngekos sendiri udah nyaman. Kalau sekamar dengan sesama Indonesia setidaknya otak bisa istirahat sebentar dari switching language. Selain itu ya pastinya lebih mudah penyesuaiannya.


Masing-masing kami diberikan akses kartu untuk masuk dorm. Udah ditekankan untuk selalu menjaga keamanan jangan sampai hilang atau ketinggalan.

Begitulah cerita singkat sampai menjejakkan kaki di negeri Ginseng. Meski masih seminggu kami udah cobain naik bus dan subway. Udah belanja belanji. Udah ke masjid pula. Semoga aku bisa istiqomah posting blog ya ^^

Doakan kami agar bisa menyelesaikan studi dengan baik!