Thursday, January 07, 2021

Review Perikardia: Perjalanan Indah untuk Dikenang, Ribet untuk Diulang

Review Perikardia: Perjalanan Indah untuk Dikenang, Ribet untuk Diulang


Judul: Perikardia - Perjalanan Indah untuk Dikenang, Ribet untuk Diulang
Penulis: dr. Gia Pratama
Terbitan: Desember 2019
Penerbit: Mizania
Jumlah Halaman: 336 halaman

Sinopsis


Gia tidak pernah menyuntik, membius, menjahit luka, apalagi menyembuhkan orang.

Gia tidak pernah membayangkan itu semua. Cita-citanya waktu kecil menjadi seorang astronaut. Diinspirasi Papanya yang seorang penerbang. Dia ingin melihat hamparan Bumi yang indah dari kejauhan. Impian yang terus memenuhi kepalanya lebih dari dua dekade.

Semua berubah saat Gia masuk Fakultas Kedokteran. Menjadi Dokter? pikirnya berulang-ulang.
Saat koas, Gia ditempatkan di kota yang tidak dia kenal seumur hidupnya, Garut. Kesempatan itu membuat pikirannya semakin terbuka.

Kehidupan yang nyaman, serbacukup, praktis, dan nyaris tidak terbayang susahnya hidup, saat koas semuanya berubah. Gia yang awalnya terpaksa melakukan pengabdian masyarakat, mendapat pelajaran berharga dan menakjubkan.

Bersama teman-temannya, mereka bahu-membahu membantu siapa pun yang membutuhkan pertolongan. Saling mendukung, menggali kenyataan tentang tubuh manusia yang indah tiada dua, dan mengingat tentang tanggung jawab untuk menjaganya.

Semua yang dialaminya akan mempersiapkan dirinya untuk ujian sesungguhnya, "Ujian Tingkat Dewa".

Review


Sebelumnya saya udah baca buku pertama dr. Gia: #BerhentidiKamu. Isi bukunya udah saya ulas disini. Kurang lebih cerita romantis tentang pertemuan dr. Gia dengan istrinya. Kisah cintanya gitu deh. Sebab itu saya nggak langsung tertarik untuk beli buku ini saat rilis. Padahal buku yang pertama itu ikutan pre-order saking semangatnya. Saya pikir palingan nggak beda jauh isinya. Masih kisah cinta.

Ternyata eh salah besar! Buku ini memang masih menjadikan dr. Gia dan istrinya sebagai tokoh utama. Tapi, inti ceritanya bukan disitu. Justru intinya adalah pengalaman koas dr. Gia yang nggak terlupakan. Di postingan instagram istri dr. Gia bilang ini novel. Saya nggak tau sih sejauh mana fiksi mana nyata. Tapi bener deh, baca ini perasaannya campur aduk. Haru, lucu, serem (asli!), dan miris.

Cerita dimulai dari pengundian tempat koas. Ya, lulusan kedokteran bergelar Sarjana Kedokteran (S.Ked) harus menjalani koas untuk mendapatkan gelar Dokter. Dan dilanjutkan Uji Kompetensi agar bisa praktik dokter. Saat undian, dr. Gia mendapatkan penempatan di Garut. Kedengarannya masih "aman", ya? Kan masih di Jawa tuh. Nggak jauh pula dari Jakarta.

Ternyata di Garut ini bagi dr. Gia beda banget dengan kehidupan sehari-harinya. Yang serba ada, apa-apa udah disiapin. Gampang kesana kemari. Perbedaan mencoloknya tentu dari segi bahasa. Di Garut, masyarakatnya menggunakan bahasa Sunda.

Ada 13 Bab disini:
1. Goblet of Undian
2. Hari Perdana
3. Bangunkan Putri Tidur
4. QR Code
5. Batas Pemisah Alam Semesta
6. Setipis Timpani
7. Penyimpan Kenangan
8. Valar Morghulis
9. Para Pemilik Rahim
10. Pisau Tertajam
11. Bukan Hobbit
12. Serbuan Ribuan Penyakit
13. Ujian Tingkat Dewa

Sebenarnya tiap bab itu menggambarkan stase koas. Mulai dari Anestesi, Mata, Kulit dan Kelamin, THT, Neuro, Forensik, Obgyn, Bedah, Anak, dan Penyakit Dalam.

dr. Gia bercerita tentang pasien yang dia rawat disetiap stase tersebut. Asli sih menarik banget. Di tiap cerita ada hikmah yang bisa diambil. Misalnya di stase Kulit dan Kelamin. Ada nggak yang nyadar kalau kulit itu organ terbesar dan terberat di tubuh kita? Beratnya hampir 10% dari berat tubuh.

Berasa dapet ilmu, gitu di setiap ceritanya. Ternyata tubuh manusia ini sungguh menarik dan kompleks. Mereka bekerja satu sama lain sesuai fungsinya. Namanya juga cerita tentang kedokteran ya, pasti banyak istilah asing untuk masyarakat awam. Jangan khawatir, dr. Gia selalu menyertakan catatan kaki dibawahnya. Sehingga kita bisa langsung paham apa yang dimaksud.

Cerita paling ngena di saya waktu stase forensik. Agak horor disini. Saya baca malem-malem skip biar dibaca pagi aja khusus bagian forensik. Hahaha. 

"Kalian akan menjalankan hal-hal yang tidak biasa. Pasien yang kalian hadapi bukan hanya datang untuk berobat, tapi mencari keadilan. Sayangnya, pasien yang datang ke kalian tidak semuanya bernyawa, tapi mereka butuh bantuan kalian." - hal. 163

Meskipun di hadapan jenazah, makhluk yang nggak bernyawa, harus tetep berlaku sopan santun. Percaya nggak percaya sih, kalau meremehkan atau berkata nggak seharusnya pasti ada hal-hal yang nggak diinginkan.

Jangan pernah sia-siakan waktu. Gunakan waktu hanya untuk segala sesuatu yang bermanfaat, khususnya untuk menjaga kesehatan. Berikanlah waktu yang cukup kepada satu-satunya kendaraaan jiwa kita ini, untuk berolahraga yang rutin, untuk minum air putih yang cukup setiap hari, dan untuk memberikan seluruh makanan sehat yang diperlukan.

dr. Gia menutup ceritanya dengan apik. Banyak pelajaran dan pengingat yang bisa diambil dari buku ini. Apalagi dr. Gia juga menyelipkan beberapa ayat Al-Qur'an untuk kita maknai. Bintang 5 deh, bravo dr. Gia!

Post a comment

Halo! Terimakasih sudah membaca. Setiap komentar masuk akan dimoderasi. Untuk komentar dengan anonim tidak akan saya balas, ya. Yuk biasakan menjadi diri sendiri di dunia maya!

Instagram