Aya Swords

Membedah Novel Psikologi Indonesia: Reflection & Les Masques

February 22, 2017,13 Comments


Hola! Kali ini saya coba "membedah" novel bertema psikologi tepatnya tentang DID (Dissociative Identity Disorder) yang ditulis oleh novelis Indonesia. Membedahnya ala-ala saya sih nggak yang profesional banget apa gimana-gimana. Mau dikasih judul membandingkan kok, err...kayaknya kurang pas. Saya baca novel ini juga nggak ada rencana buat pilih tema. Cuma nemu aja eh kok temanya sama. Yaudah dua-duanya ditulis aja sekalian. 


Novel pertama: Les Masques karya Indah Hanaco

Novel ini bercerita tentang tokoh utama yang memiliki 4 kepribadian dalam satu tubuh. Fleur Radella, perempuan cantik berdarah campuran yang terlahir dari sebuah kebejatan seorang laki-laki. Fleur lahir dari rahim Reene, seorang gadis SMA. Dia hamil disebabkan oleh Noah, cowok yang udah lama menyukai Reene namun selalu ditolaknya.

Malam itu ia memberikan obat tidur pada Reene. Dan tragedi pun terjadi. Reene memutuskan untuk tidak mengaborsi janinnya meskipun sang ibu memaksanya. Akhirnya Reene pun melahirkan Fleur Radella. Sayangnya, Reene tidak bisa melihat Fleur karena ia harus menemui ajalnya. 

Marini - nenek Fleur sekaligus Ibu Reene - yang akhirnya hidup bersama Fleur. Itu pun tak lain hanya karena permintaan terakhir Reene yang tidak ingin anaknya untuk diadopsi. Sayangnya keputusan Reene menjadi neraka bagi Fleur. Marini yang begitu membenci Fleur karena dianggap menghancurkan masa depan Reene, mulai melakukan hal-hal yang menyakiti Fleur. Tak jarang, ia juga memanggil Fleur dengan sebutan pembunuh. Fleur yang masih berumur 4 tahun saat dikunci di kamar mandi oleh Marini tidak bisa tumbuh dengan normal. Di dalam satu tubuh Fleur, hadir juga 3 kepribadian lainnya.

*

Fleur tumbuh menjadi gadis yang tidak percaya diri. Sampai suatu ketika ia ditelpon untuk mengikuti karantina sebuah lomba model bergengsi. Ia bingung sekaligus tak percaya. Kapan ia mengikuti seleksi untuk lomba itu? Dan, bagaimana mungkin ia - gadis pemalu yang sulit bersosialisasi - bisa untuk berekspresi di depan kamera?

Keanehan demi keanehan terus terjadi. Fleur berkali-kali berpikir tentang apa yang terjadi namun tak kunjung menemukan jawabannya. Dia pun menganggap sakit kepalanya yang sering datang sebagai akibat dari kecelakaan yang pernah dialami saat kecil. Di sisi lain, karir Fleur terus menanjak. Dari model menjadi aktris. Dari pemeran pembantu menjadi pemeran utama.

Elektra, sisi kepribadian Fleur yang lain terus ikut campur dalam karir Fleur. Akibat perbuatan Elektra pula, Fleur harus meninggalkan karirnya sebagai aktris papan atas.

Novel kedua: Reflection karya Aya Swords, Tita Rosianti, Adeliany Azfar

Emily dan Elysa adalah saudara kembar yang diadopsi bersamaan. Saat tinggi bersama keluarga adopsi tersebut, Emily selalu menganggap bahwa Elysa lebih disayang oleh mama angkatnya. Terkadang ia merasa iri akan hal tersebut. Emily selalu menjadi "tameng" untuk mengatasi masalah-masalah Elysa. Meskipun begitu ia selalu mau mengalah untuk Elysa. 

Padahal, yang sebenarnya terjadi justru sebaliknya. Elysa sebenarnya tidak diinginkan kehadirannya oleh sang mama. Dia beralasan bahwa Elysa hanya menjadi beban karena terus-menerus sakit-sakitan. Berbeda dengan Emily yang energik dan tidak mudah sakit. Elysa pun terpaksa harus meminum obat-obatan yang diberikan sang mama tanpa mengetahui untuk apa sebenarnya obat tersebut.

Setelah mama mereka meninggal, mereka dan papa angkatnya memutuskan untuk pindah rumah. Di rumah baru ini - yang besar dan terlihat seram - muncullah Boy. Kata tetangga mereka, rumah tersebut memang memiliki sejarah yang mengerikan. Satu keluarga yang dulunya menempati rumah itu ditemukan tewas. Kecuali satu anak lelakinya yang tak diketahui kemana sosoknya.

Emily termakan oleh cerita tersebut. Ia pun memutuskan untuk mencari Boy. Namun yang ia temui justru membuatnya meregang nyawa.

***

Nah, itu sekilas tentang novelnya. Sama-sama tentang kepribadian Ganda. Sama-sama berasal dari trauma masa lalu. Tapi kepribadian yang muncul berbeda. Fleur dengan 3 kepribadian lainnya dan Elysa "hanya" memunculkan 1 kepribadian yang terus mengikutinya.

Dari gaya nulisnya juga beda. Indah Hanaco menggunakan sudut pandang orang ketiga. Sedangkan Aya dkk berbeda. Aya membagi novelnya menjadi 3 bagian sudut pandang. Bagian pertama sudut pandang Emily, kedua Boy, dan terakhir Elysa.

Aya dkk juga mengisahkan bahwa Elysa akhirnya mengerti ada yang salah dengan dirinya. Lain halnya Fleur yang hingga di akhir cerita nggak pernah mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Dari sisi riset ceritanya sendiri Indah Hanaco lebih mendalam ya. Karena ada beberapa istilah dalam medis yang itu digunakan untuk menghilangkan nyawa. Jadi nilai plus buat Indah.

***

Saya lumayan suka denga novel yang temanya psikologi. Kayak, apa ya? Jadi ngerti ini itu lah. Dan kadang merasa ngeri juga sih. Takut jangan-jangan selama ini pernah "memperlakukan" anak kecil yang menurut saya biasa aja tapi bisa jadi bikin trauma buat anak-anak. Yha walaupun interaksi sama anak kecil jarang sih. Tetep aja saya punya adik 3 yang ketiga-tiganya pernah lah dikit-dikit saya momong bantuin ummi. Hati-hati ya man teman dalam memperlakukan orang lain..

Bertanya-tanya juga sih emang tekanan seperti apa dan seberapa besar sih yang bisa membuat orang itu bisa split kepribadian? Kan ngeri juga ya. Kalo kepribadian yang pertama itu keliatan kayak orang baik dan yang kedua malah bisa jadi pembunuh. Ini yang sering banget diulas sih. Di drama korea pun juga ada tentang topik ini. Yang pernah saya tonton itu Kill Me Heal Me (saya review di blog ini juga dan termasuk post yang viewersnya banyak!) dan Hyde, Jekyll, Me.


Overall, dua novel ini bisa dibilang sama-sama bagus. Cuma saya prefer-nya ke Reflection. Soalnya apa ya, seru aja gitu bikin menebak-nebak. Awalnya malah saya ngira ini novel horror loh, ternyata bukan. Jadi surprise banget. Blurb yang diberikan pun juga nggak menggambarkan gitu kalau tokohnya ada yang memiliki kepribadian ganda.

Rasanya baca novel dua-duanya juga nggak rugi karena sama-sama menegangkan dan bikin penasaran. Selamat membaca!

You Might Also Like

13 comments:

  1. Novel2 yang bertema psikolog itu memang menarik untuk diulas, karena bikin penasaran dan terkadang, ada orang2 disekitar kita yang mengalaminya atau bahkan kita sendiri yang mengalaminya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju banget mba hbs baca mikir2 lagi deh

      Delete
  2. Wah, bagus ya cerita2na. Makin penasaran gimana kisah akhirnya Mbak :)
    Idenya lain dibanding novel kebanyakan

    ReplyDelete
  3. aaa aku suka banget novel novel psikologi. malah baru tau ada novel psikologi asal indonesia! thanks rekomendasinya mbak, aku penasaran banget sama reflection!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuhuu ini juga termasuknya novel lama mbak

      Delete
  4. Novel psikologi biasanya kasi inspirasi buat memahami perilaku org maupun perilaku sendiri ya mbak TFS reviewnya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener banget mbak jadi ngerasa ada sesuatu yang bisa di-relate gitu deh

      Delete
  5. Aku juga suka mbak novel yang membahas psikologi. Memang mulutmu harimaumu mbak, perkataan kita bisa saja menyakiti perasaan orang lain tanpa kita sadari lho

    www.extraodiary.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makanya belajar pengendalian diri itu perlu ya mbak

      Delete
  6. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai Lembaga Pengembangan Psikologi .
    Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai Lembaga Pengembangan Psikologi yang bisa anda kunjungi di Informasi Seputar Lembaga Pengembangan Psikologi

    ReplyDelete
  7. Thanks kak atas review novelnya,aku pernah baca novel psikologi karya ruwi meita judulnya Rumah Lebah ,menurut aku bagus banget karna tokoh utamanya penyidap DID

    ReplyDelete

Hai! Terima kasih sudah membaca. Silahkan berkomentar dengan bahasa yang santun ya :)