glamping
Akhirnyaa 5 tahun kerja bisa ikutan gathering. Tahun-tahun sebelumnya ada aja alasan ga ikut. Salah satunya: malah ditugasin dinas. Jiakh.
Gathering kali ini kami pilih ke Cikole. Lumayan terjangkau dari Bogor, sekitar 3-4 jam aja. Bisa dibilang Cikole nih ga beda sih dari Puncak. Yhaa kan sama-sama dataran tinggi. Aku sempet nanya ke rekan kerja, "Cikole masih dingin nggak sih?" - se-trust issue itu dengan pemanasan global yang semakin menjadi ini. Hamdalahnya dijawab masih. Bener aja dong, sepanjang disana aku olesin minyak kayu putih biar tetep hangat.
Eh ya Cikole ini kan banyak pilihan camping maupun glamping. Kami menginap di Terminal Wisata Grafika Cikole atau yang lebih terkenal dengan sebutan Grafika. Kompleknya lumayan luas dan banyak fasilitas tersedia. Diantaranya tenda camping, glamping, resto, toilet umum, aula, area outdoor untuk outbond, tempat api unggun.
Sebenarnya banyak fasilitas yang bisa digunakan. Ga sempet aja explore berhubung acara kantor udah ada jadwal ketatnya. Beberapa yang bisa kucobain adalah....
Mulai dari penginapannya
Disini ada banyak pilihan tipe glamping maupun camping menggunakan tenda. Kami sendiri pilih glamping. Ada 2 tipe yang kami pesan: tipe Urban dan tipe Pinus. Harganya di rentang Rp 1.500.000-Rp 1.700.000an. Info lebih lengkap ada di instagram @officialgrafika. Tapi perlu diperhatikan ya, harga ini akan berubah ketika high season. Beda dari Glamping Rumah Atsiri yang harganya ga liat season.
Kami berempat dapet yang tipe Urban. Dengan kapasitas 4 orang, kami dapet bed sendiri-sendiri. Bukan tipe yang guedee jadi satu gitu ya. Jujur lebih suka gini sih. Ga bikin awkward kalau-kalau gelundungan waktu tidur.
Fasilitas yang didapat termasuk tiket masuk wisata, tike masuk hutan mycelia (setiap hari nginep dikasih), sarapan, air mineral, teh, bajigur, tv channel, wifi, dan kamar mandi dalam dengan air panas. Cukup standar.
Sayangnya, menurutku dan para temen sekamar: kasurnya kotor. Kayak yang banyak debu gitu. Sampe beberapa ga mau pake bantalnya dan melapisi kasur dengan kain bawaan sendiri. Selain itu dari segi bangunan keliatan udah uzur. Terlihat dari beberapa titik di atap banyak kehitaman macem jamur.
Selebihnya oke. Ada sabun, shampo, sikat gigi. Pasta giginya tuh merk P loh bukan pasta gigi hotel yang pake merk sendiri itu. Air panasnya juga bisa dengan baik. Ukuran kamarnya cukup luas! Ada area duduk juga di seberang kasur. Ah ya sayangnya jendela kamar bening transparan. Berhubung kami berkerudung ya nggak bisa buka gorden dengan santai. Karena kan langsung keliatan tuh dari luar. Alhasil selama didalem kamar ga bisa menikmati pemandangan pinus diluar, deh.
Gimana untuk makannya?
Dari makan 3 kali sehari yang kami terima, paling oke adalah sarapannya. Maklum ya modelnya kan buffet jadi bisa pilih sendiri pengen apa. Sistemnya nukerin kupon warna hijau. Makanya jangan sampe ilang tuh kupon :))
Pilihannya bervariasi mulai dari nasi putih, nasi goreng, sayur, protein kayak ayam dan ikan ada. Minumannya ada wedang buat yang cari kehangatan atau es juga ada.
Yang paling diinget ada mie stationnya. Langsung deh rame tuh yang ngantri buat dibikinin. Sayangnya pas dicoba entah karena keburu-buru atau gimana, mienya tuh setengah matang. Masih ada rasa kerasnya.
Lalu saat kami barbeque-an udah mengkhayal bakan makan banyak. Gataunya diambilin sama chefnya, LOL. Dagingnya alot. Malahan yang enak ikannya. Ah yasudahlah ya.
Yang paling seru adalaaah.... Hutan Mycelia!
Nah ini buatku jadi highlight yang menarik. Biasanya kan hutan cuma dibatesin sampe sore aja. Ini justru bukanya mulai sore ke malem. Kenapa? Karena dipasang instalasi lampu dan audio visual yang menarik! Hutannya jauh dari kesan serem dan berwarna-warni.
Kami dapet tiketnya 2. Tiap hari 1. Tapi cuma kesana sekali aja sih. Efek paginya off-road udah capek dan pengen buru-buru istirahat.
Sebelum masuk Hutan Mycelia, bakal ditawarin mau face painting ngga. Tentunya dipatok biaya lagi. Kami pilih engga karena berhemat. Jiakhhh. Kalo mau sebenernya juga boleh loh buat foto-foto estetik gitu. Kan catnya glow in the dark. Lebih keliatan waktu difoto dalam keadaan gelap.
Pada intinya Hutan Mycelia ini menceritakan kehidupan kerajaan jamur. Lucu deh, aku yang ((udah gede)) aja merasa ini menarik. Apalagi bocil. Wajib banget menikmati setiap sudutnya dengan seksama. Dan jangan lupa pepotoan :))
Begitulah glamping tahun ini disponsori oleh kantor. Harapannya sih semoga kami semakin solid loyal tangguh pantang menyerah. Bisa? Kita lihat tahun depan :P
Malam sebelumnya kami ditanya mau dibangunin gak? Yah meskipun biasa bangun pagi. Ga ada salahnya kan siapa tau kelewat.
Tidurnya nyenyak gak??? Nah ini. Tenda kami tuh nggak kedap suara seperti yang disampaikan host sebelumnya. Dan ternyata benar. Masih kedengeran orang ngomong. Mending sih ngomong. Ini rumpita ibun-ibun keknya. Rame banget terutama pas ketawa ketiwi. Agak mengganggu sih. Harusnya ya tahu diri sama-sama mau istirahat :')
Kemudian namanya deket gunung kan. Anginnya lumayan kenceng. Si tenda ini mengeluarkan bunyi berderit. Awalnya aku kira ada serangga di dalem tenda. Setelah beberapa kali kok berulang ya? Aku menyimpulkan sendiri karena terpaan angin. Ya, sudahlah...namanya juga di alam kan.
Trekking
Di jam 06.00 pagi pintu kamar diketok untuk bangun. Yang pada kenyataannya kami udah bangun. Hehe. Siap-siaplah untuk trekking. Ingat "hanya" trekking ya. Jaraknya bolak balik paling hanya 3-4 km lah. Masih bearable untukku. Tidak untuk teman jompoku. LOL.
Kami trekking dalam tim. Bergabung dengan rombongan lain. Ini juga caution ya karena bergabung, saling sadar diri aja tepat waktu biar ga banyak waktu kebuang.
Trekking dimulai dengan pemanasan yang dipimpin oleh tour guide. Maap, lagi-lagi lupa namanya. Setelahnya, dari keluar Rumah Atsiri menuju perkampungan rumah warga. Jalannya turunan, hati-hati. Tour guide-nya beneran jempolan. Menjelaskan tentang tanaman obat yang ada disekitar, sejarah daerah Tawangmangu, dsb. Responsif juga dengan pertanyaan yang kami ajukan.
Pemandangannya....yaAllah sangat menyenangkan. Paduan hijaunya persawahan & perkebunan, sinar matahari terik dan langit biru. Monanges :') cuma mau bengong aja liatnya. Saking di Cibinong ketemunya langit abu mulu karena polusi :')
Cerita dari tour guide-nya hanya beberapa yang bisa aku ingat WKWK yaAllah gimana cara mengingat dengan baik???
Ada cerita tentang petilasan dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Ada cerita tentang tumbuhan apa aja yang bisa digunakan untuk pengobatan, termasuk ada untuk mata! Ih ngeri deh ini kayaknya harus diteliti lebih lanjut. Lalu ada cerita tentang singkong khas Tawangmangu yang hanya ada di daerah ini. Digunakan untuk getuk khas-nya. Cerita tentang Gunung Lawu, dsb. Kaaan pengen mendaki gunung. Kapan, ya?
Aku kira jalurnya nggak terlalu ekstrim. Ternyata salah besar. Jalur naik turun rerumputan, licin, harus hati-hati kalo ga mau kepleset. Kami berpegangan satu sama lain. Dengan aku yang paling belakang alias menjaga ketiga ciwi-ciwi ini. Sekaligus seksi dokumentasi berhubung pada ga berani megang handphone. Oke bhaiq.
Di perjalanan balik, kami berhenti sejenak untuk minum teh. Spot peristirahatan sementara ini pas banget deh. Memandang keatas ada gunung. Bawahnya ada sawah dan jalan setapak yang estetik pol. Tehnya enak :') jajan pasarnya juga enak :') ah I love slow living wkwkw. Definisi healing-nya anak perkotaan begini.
Capek trekking, istirahat sebentar dilanjutkan sarapan. Yeay! Another makan-makan.
Menu sarapan kami adalah:
1. Rendang Tacos
Unik banget ini. Biasanya rendang dipadukan sama nasi, kuah, sambel ijo dan daun singkong rebus. Kali ini disajikan tanpa nasi, digantikan dengan selembar nacos dipaling bawah, diatasnya ada rendang + kacang merah, diatasnya lagi ada kentang goreng. Terakhir ada sentuhan sayur kering! Iya krispi kriuk-kriuk gitu. Secara keseluruhan sih rasanya "seret" ya. Kering kerontang gitu. Nacosnya nggak cocok sih buatku terlalu keras jadi ga habis.
Si sayurnya ini awalnya enak WAW ga pernah liat penyajian macam ini. Tapi lama kelamaan kayak di tenggorokan ga enak ehehe. Ya sudaahlaaah. Cukup untuk mengisi bahan bakar keliling Rumah Atsiri nantinya.
2. Fruit Platter a.k.a buah potong
3. Beverage. Minumnya disediakan infused water dan jus buah sayur gitu. Enak. Seger bats!
Tour Taman Aromatik
Kenyang makan lanjuut tour taman aromatik. Awalnya nih aku kira ngga bakal terlalu capek. Sebelumnya udah pernah kan. Tapi kok buat temenku yang jompo bilang capek :') bisa mengukur diri masing-masing lah ya. Pas capek bilang ke guide biar ngga ditinggal.
Sesuai dengan namanya, tur ini keliling taman yang isinya tanaman penghasil minyak atsiri. Ya, bukan lagi sawah atau kebun sayur buah kayak waktu trekking. Semua yang ada di taman, diolah langsung oleh Rumah Atsiri untuk dijadikan sediian farmasi berupa kosmetika. Paling banyak tentu minyak atsiri, atau hits dengan essential oil. Kemudian ada produk hand sanitizer, sabun, parfum, daan masih banyak lagi.
Disini kami diperlihatkan bagaimana cara mengambil minyak atsiri dari tanaman. Ada yang dengan disuling, ada yang diletakkan di media lilin (lupa euy namanya :P). Semua alat dan bahan tersedia pada saat taman.
Dijelaskan pula sejarah dari tanaman atsiri, kegunaan, cara tumbuh, serta berbagai trivia. Menyenangkaaan sekali buatku. Memanjakan indra penglihatan, penciuman, pengecap dan peraba. Indra pendengaran juga sih kalo beneran menyimak atau mendengarkan angin yang bertiup. Hehe.
Di beberapa titik ada tanaman yang bisa kita sentuh dan hirup aromanya seperti sereh wangi dan sereh dapur. Yang bisa dicicip: daun mint. Rasanya? Enak aja tuh :P
Lagi-lagi aku dibuat terpesona sama guide-nya. Eh nyebutnya edukator ding. Beneran berwawasan, bisa menjawab pertanyaan kami, cara menjelaskannya pun menarik. Keliatan niat dan nggak asal-asalan. Kudos to mbaknya!
Istirahat sebentar, kali ini ngadem. Yup, Museum Rumah Atsiri ini indoor. Tenang ngga bakal gembrobyos.
Tour Museum Rumah Atsiri
Kami udah diingatkan untuk makan/minum/buang air dulu sebelum masuk. Soalnya ngga boleh melakukan 3 hal tsb dan ngga ada toilet juga.
Naah, museumnya isinya apa? Buanyaaak dan sarat akan informasi. Ada sejarah Rumah Atsiri, yep bangunan ini merupakan peninggalan sejarah yang masih ada. Bentuk fasadnya masih tetap terjaga. Ada foto before after renovasi. Ada juga bagian tungku yang dipamerkan. Saat ini nggak digunakan, sih...
Dipamerkan sejarah penggunaan minyak atsiri dari berbagai kebudayaan, daerah penghasil minyak atsiri di Indonesia, fungsi minyak atsiri, dsb. Semuanya ditata apik sehingga (uhuk, ini penting) instagram-abel. Sangat jauh dari stigma museum yang gelap dan menyeramkan.
Oh ya, museum ini buat pengunjung non glamping bisa ya. Untuk masuk harus disertai edukator. Nggak bisa sendirian. Meski keliatannya dari luar kecil, ternyata luas juga lhooo. Setiap bangunan di Rumah Atsiri ini terhubung satu sama lain. Di penghujung bangunan aku sempat mengintip ruang produksinya (alias yang mengaudit yah temenku :P).
![]() |
| Bukan nganter orang ya, maksudnya... |
Katanya kalau datang di weekday bisa liat langsung proses produksinya. Soalnya memang dari luar diberikan kaca bening, bukan yang tembok semua. Ah, pasti seru. Belum pernah nih audit ke pabrik kosmetik *LAH.
Capek? LUMAYAN. WKWK. Saatnya makan siang. Ini dia menu terbanyak selama glamping. Apa sajakah ituuu?
1. Chicken Parmigiana
2. Swedish Meatball (haa keinget bakso-ya Ikea yang sampai detik ini belum pernah aku coba)
3. Sauted Vegetables
4. Meatball Sauce
5. Beverage
6. Butter Rice
7. Baby Potato
8. Mix Salad
Aslikk pas dateng meja kami penuh! Sangat mengisi tenaga setelah keliling berkilo-kilo meter dalam sehari. Yang aku notice dari makanan Rumah Atsiri ini: well balance. Sayur, buah, karbo, protein, semua diolah dengan rasa ENAKKKK dan penampilannya warna-warni me luv.
Biarkan gambar yang berbicara aja ya berhubung nggak terlalu pandai mendeskripsikan makanan. Kelar makan, goleran bentar di tenda, packing dan check out.
Kelas Ecoprint
Kegiatan terakhir dari glamping. Udah sisa-sisa banget tenaganya jujyuur. Ecoprint adalah sebuah seni mencetak pola tertentu diatas kain. Kali ini kami kebagian tas berbahan blacu. Alat bahannya antara lain bagian tanaman yang berwarna. Bisa daun atau bunga. Plastik sebagai media transfer, palu untuk memukul-mukul (palunya tipe ujung karet bukan besi).
Cara bikinnya?
Tempelkan pola serta warna yang diinginkan diatas kain. Pastikan bagian warna yang mau dicetak itu bersentuhan langsung dengan kainnya. Jadi misal kelopak bunga, yang warna ngejreng itu yang nempel di kain. Setelah itu lapisi dengan plastik. Tipis aja plastiknya kayak plastik fotokopian. Udah deh dipukul-pukul pake palu.
Di saat energi udah terkikis eh ini disuruh mengeluarkan energi lebih. Alhasil mleyot lah WKWK. Durasinya 30 menit-1 jam tergantung tingkat kelelahan memukul ya ges ya. Kami sekitar 30 menit aja berhubung ibu driver harus nyetir sendiri sampe Semarang. Iya, kami belum ada yang bisa menggantikan :")
AAAAKKKK cepet banget rasanya selesai. Masih gak rela. One of best experience in my quarter life ini sih. Untung temenku juga beranggapan yang sama. Kapan lagi bisa liburan bareng sobi, kan?
At the end of the day di waktu pamitan ternyataa masih dioleh-olehin lagi sama Rumah Atsiri. Yaampuuun!!! Totalitas deh. Nggak perlu cari oleh-oleh buat keluarga dirumah. Luv luv. Biaya yang dikeluarkan selama glamping buatku really really worth it!
Makasih ya Rumah Atsiri atas pelayanannya. Semua karyawan well-trained. Gercep satsetsatset. I'm a happy costumer.
Akhirnya kesampaian juga menuliskan pengalaman glamping di Rumah Atsiri Indonesia. Untuk memulainya aku bakal langsung ke kesimpulan: IT’S WORTH THE MONEY. EXCELLENT SERVICE INDEED.
Pengalamanku glamping di Bobocabin langsung berasa….. :’) jangan dibandingkan lah. Ya secara harga pun beda jauh ya. Sekilas tentang Rumah Atsiri Indonesia udah pernah kutulis di postingan terdahulu. Baca aja yak!
Baca: Pengalaman Glamping di Bobocabin Ranca Upas
Baca: Pengalaman Glamping di Bobocabin Ranca Upas
Baca: Berkunjung ke Rumah Atsiri Indonesia
Easy peasy. Go to their instagram profile. There’s a whatsapp contact. Send a message. Yup, cuma lewat whatsapp aja. Pertama aku minta pricelist-nya dulu. Memang mereka nggak mencantumkan langsung di instagram profilnya. Don’t worry. Adminnya lumayan responsif, kok.
Untuk glamping disini sistemnya paket wellness yah. Jadi nggak bisa “cuma” nginep di glampingnya aja. Ada program yang harus diikuti. Setelah ngobrol mencari tahu detail lewat whatsapp, kami memutuskan tanggal dan booking. Dikenakan DP sebesar 50%. Kami ambil paket termurah dan tanpa add on. 1 orangnya kena bersih Rp 1.500.000.
Aku diminta untuk mengisi google form berisi identitas, nama rombongan siapa aja, ada dietary tertentu nggak. Aku sih menuliskan: HALAL. Dengan keterangan no pork, no lard, no alcohol dan turunannya. Honestly I don’t cross check when I arrived there. Semoga aja request ini beneran dilaksanakan.
Kenapa ada form kek gitu? Karena oh karena selama glamping ini makanan disediakan pihak Rumah Atsiri. Percayalah, ini nyaman beneran dibandingkan cari makan sendiri. Apalagi rombonganku makhluk-makhluk mager.
Oh ya setelah DP itu yang menghubungi adalah host-nya. Bukan admin umum lagi. Untuk makannya ada paket beberapa paket juga yang bisa dipilih. Awalnya kami pengen beda gitu biar bisa nyicipin. Tapi ada 1 menu yang isinya kebanyakan sambel. Ga cocok hahaha. Yaudahlah akhirnya sama aja semuanya daripada mubazir ga kemakan. Ga boong, semua paketnya keliatan enak banget yaAllah :')
Kami ambil paket glamping 2D1N. Makannya 3x yaitu makan malam, sarapan dan makan siang. Nggak perlu bingung mau ngapain selama glamping, rundown udah dibuatin sama host. Bisa mengubah jadwal? Bisa. Mau nambah aktivitas juga bisa, tentunya dengan tambahan biaya.
Untuk rombongan kami rundownya kayak gini:
Day 1
Check in and welcome drink
Foot bathing
Relaxing and exploring room
Dinner
Take a rest
Day 2
Wake up call
Morning trekking
Breakfast
Aromatic garden tour
Tour museum
Check out and lunch
Workshop eco print
Keliatan full ya? Emang. Menjelang kedatangan aku dihubungi lagi sama nomer whatsapp berbeda. Diminta share live location segala. SOP-nya begitu kali ya biar bisa menyambut dengan tepat waktu.
Perjalanan dari Solo ke Tawangmangu (Karanganyar) sesuai dengan estimasi di Google Map. Gak ada macet Alhamdulillah. Dugun dugun rasanya aaakkkk! Another wishlist checked!
Untuk rombongan glamping, pintu masuknya bukan yang terletak di paling timur alias pintu yang biasa ya. Harus ke barat, ada tulisannya glamping. Eits, itu juga bukan parkir deng. Hehe. Jadi agak turun itu tempat buat nurunin barang. Kami disambut mas.. (yaampun lupa namanya gimana sih zZzZz) dengan troli barang.
Sedangkan mobilnya balik lagi ke atas untuk parkir. Nah pas sampe ini udah disambut dengan atmosfer yang Rumah Atsiri banget. Adem, ijo, menenangkan. Sesuai dengan definisi healing anak jaman now. Kami diberikan semacam kain kassa berwarna putih dimana udah direndam dengan essential oil. Fungsinya sanitizer, bisa buat tangan atau wajah.
Enakeun. Sayang, 1 temenku ada yang gak terlalu suka wewangian gini. Yaah selera orang beda ya udah gapapa.
Another good thing about Rumah Atsiri Glamping is they’re trying to be as eniromentally friendly as possible. Ini yang aku harapkan dari sebuah glamping. Udah didirikan di daerah dataran tinggi yang umumnya buat pertanian kan, seharusnya ada timbal baliknya. Nggak cuma eksploitasi aja.
Tenda kami berdampingan dan terletak di sisi paling timur. Disini ada beberapa tipe tenda ya, kami booking tipe Citronella. Pas masuk huwahuwahuwa melebih ekspektasi. Jujurly udah sering ngepoin dalemnya atsiri glamping ini dari para influencer :P
Begitu masuk tenda, di sisi kiri ada tempat untuk taruh barang dan sepatu. Kunci tendanya manual aja bukan scan QR. Masuk dikit ada tangga untuk keatas. Nah di bagian kanan ini ada sofa bed yang keliatan nyamaannnn banget buat rebahan (dan emang beneran), karpet (pattern-nya bagus, sampe pengen dibawa pulang lol), dan tempat duduk berbentuk lingkaran. Di samping sofabed ada diffuser (dan oilnya tentu saja). Sayang aku ngga mencoba karena lagi-lagi temenku ga suka hahaha #pasrah.
Gimana cara bookingnya?
Easy peasy. Go to their instagram profile. There’s a whatsapp contact. Send a message. Yup, cuma lewat whatsapp aja. Pertama aku minta pricelist-nya dulu. Memang mereka nggak mencantumkan langsung di instagram profilnya. Don’t worry. Adminnya lumayan responsif, kok.
Untuk glamping disini sistemnya paket wellness yah. Jadi nggak bisa “cuma” nginep di glampingnya aja. Ada program yang harus diikuti. Setelah ngobrol mencari tahu detail lewat whatsapp, kami memutuskan tanggal dan booking. Dikenakan DP sebesar 50%. Kami ambil paket termurah dan tanpa add on. 1 orangnya kena bersih Rp 1.500.000.
Aku diminta untuk mengisi google form berisi identitas, nama rombongan siapa aja, ada dietary tertentu nggak. Aku sih menuliskan: HALAL. Dengan keterangan no pork, no lard, no alcohol dan turunannya. Honestly I don’t cross check when I arrived there. Semoga aja request ini beneran dilaksanakan.
Kenapa ada form kek gitu? Karena oh karena selama glamping ini makanan disediakan pihak Rumah Atsiri. Percayalah, ini nyaman beneran dibandingkan cari makan sendiri. Apalagi rombonganku makhluk-makhluk mager.
Oh ya setelah DP itu yang menghubungi adalah host-nya. Bukan admin umum lagi. Untuk makannya ada paket beberapa paket juga yang bisa dipilih. Awalnya kami pengen beda gitu biar bisa nyicipin. Tapi ada 1 menu yang isinya kebanyakan sambel. Ga cocok hahaha. Yaudahlah akhirnya sama aja semuanya daripada mubazir ga kemakan. Ga boong, semua paketnya keliatan enak banget yaAllah :')
Kami ambil paket glamping 2D1N. Makannya 3x yaitu makan malam, sarapan dan makan siang. Nggak perlu bingung mau ngapain selama glamping, rundown udah dibuatin sama host. Bisa mengubah jadwal? Bisa. Mau nambah aktivitas juga bisa, tentunya dengan tambahan biaya.
Untuk rombongan kami rundownya kayak gini:
Day 1
Check in and welcome drink
Foot bathing
Relaxing and exploring room
Dinner
Take a rest
Day 2
Wake up call
Morning trekking
Breakfast
Aromatic garden tour
Tour museum
Check out and lunch
Workshop eco print
Keliatan full ya? Emang. Menjelang kedatangan aku dihubungi lagi sama nomer whatsapp berbeda. Diminta share live location segala. SOP-nya begitu kali ya biar bisa menyambut dengan tepat waktu.
***
Untuk rombongan glamping, pintu masuknya bukan yang terletak di paling timur alias pintu yang biasa ya. Harus ke barat, ada tulisannya glamping. Eits, itu juga bukan parkir deng. Hehe. Jadi agak turun itu tempat buat nurunin barang. Kami disambut mas.. (yaampun lupa namanya gimana sih zZzZz) dengan troli barang.
Sedangkan mobilnya balik lagi ke atas untuk parkir. Nah pas sampe ini udah disambut dengan atmosfer yang Rumah Atsiri banget. Adem, ijo, menenangkan. Sesuai dengan definisi healing anak jaman now. Kami diberikan semacam kain kassa berwarna putih dimana udah direndam dengan essential oil. Fungsinya sanitizer, bisa buat tangan atau wajah.
Enakeun. Sayang, 1 temenku ada yang gak terlalu suka wewangian gini. Yaah selera orang beda ya udah gapapa.
Another good thing about Rumah Atsiri Glamping is they’re trying to be as eniromentally friendly as possible. Ini yang aku harapkan dari sebuah glamping. Udah didirikan di daerah dataran tinggi yang umumnya buat pertanian kan, seharusnya ada timbal baliknya. Nggak cuma eksploitasi aja.
Kayak gimana tuh isi tendanya?
Tenda kami berdampingan dan terletak di sisi paling timur. Disini ada beberapa tipe tenda ya, kami booking tipe Citronella. Pas masuk huwahuwahuwa melebih ekspektasi. Jujurly udah sering ngepoin dalemnya atsiri glamping ini dari para influencer :P
Begitu masuk tenda, di sisi kiri ada tempat untuk taruh barang dan sepatu. Kunci tendanya manual aja bukan scan QR. Masuk dikit ada tangga untuk keatas. Nah di bagian kanan ini ada sofa bed yang keliatan nyamaannnn banget buat rebahan (dan emang beneran), karpet (pattern-nya bagus, sampe pengen dibawa pulang lol), dan tempat duduk berbentuk lingkaran. Di samping sofabed ada diffuser (dan oilnya tentu saja). Sayang aku ngga mencoba karena lagi-lagi temenku ga suka hahaha #pasrah.
Deket tangga ada meja dan kursi kerja. Diatasnya ada welcome card yang personal sekaliii karena ada nama kami :)
Tersedia stop kontak, alat pemijat kaki elektrik beserta kaos kaki, gelas (besar dan kecil), tisane, madu, air mineral 2 botol, tatakan (alas gelas), kopi, dan sendok kecil. Oh ya benda-benda datas meja ini diletakkan di nampan yang terbuat dari plastik daur ulang. Tjakeeep!
Di pojokan ada jendela dan kaca. Kacanya dibawah. Langsung keliatan view sereh :P dan di kejauhan ada kolam renang!
Di pojokan ada jendela dan kaca. Kacanya dibawah. Langsung keliatan view sereh :P dan di kejauhan ada kolam renang!
Sayang waktu berkunjung, belum dibuka tuh untuk umum. Gilak si emang membangun terus ini Rumah Atsiri. Glampingnya aja masih soft opening TAPI udah full terus. Ngga tau gimana kalo grand opening nanti.
Kami liat-liat kamar sambil menikmati welcome drink. Gatau namanya apa. Semacam minuman herbal yang rasanya ada asem-asemnya. Seger. Terutama ketika dinikmati dingin. Plus finger food dari baguette dikasih topping tuna dan selada. Enaaak! Baru welcome drink aja udah enak. Kebayang makan selanjutnya.
***
Mari kita mulai agenda hari pertama, yaitu foot bathing. Sesuai dengan jumlah orang di tenda, terapis yang dihadirkan 2 orang. Kami udah diminta ganti pakaian yang nyaman dulu. Bisa pake kimono yang disediakan. Mijetnya cuma sampe mata kaki aja.
Bisa request seberapa keras tekanan pijetannya. Untuk foot bathing ini pake garam mandi produknya Rumah Atsiri + kelopak bunga. Jujur sih enak ya :') sayang 15 menit berasa cepet amattt?
Setelahnya free time. Kami bertiga beneran explore di sekitar tenda. Sedangkan temenku 1 itu tetep stay di tenda. Anak rumahan sejati sih gitu ga mau rugi menikmati WKWK. Biasalah kami fefotoan gitu. Sembari menunggu matahari terbenam. Di samping Rumah Atsiri ini masih ada sawah. Cucok bangettt feeling so grateful dengan pemandangan yang dihamparkan didepan mata.
Di jam 6 sore kami bersiap-siap makan malem. Laper bok. Ternyata kakak host-nya tuh ngechat duluan makanan mau disiapkan kapan. Akunya nggak ngeh.
Untuk makan ini ada 2 tempat ya. 1 di resto utama. Dimana pada siang hari juga digunakan untuk pengunjung non-glamping. 1 lagi di area khusus glamping. Dulu waktu masih pembangunan, area ini belum dijadikan khusus. Nah sekarang yang boleh wara wiri hanya yang glamping.
Makan malam kami di resto utama karenaa pengunjung non-glamping udah ga ada kan. Konsep makan di Rumah Atsiri ini fine dining ya. Artinya ada makanan pembuka, menu utama dan hidangan penutup. Soo excited. Lebih excited lagi di mejanya ada akrilik bertuliskan namaku sebagai pemesan. Makin berasa spesial gak, sih?
Menu makan malam kami:
1. Appetizer
2. Potato Soup
3. Desserts
4. Beverage
Sebentar, aku harus menggali ingatan appetizer dan desserts nya apa :P untuk beverage-nya susu jahe. Cocok di kondisi dingin. Tapi aku nggak into herbal drink jadi ya seruput-seruput aja. Sisanya minta air mineral.
Appetizer: pastri rasa asin. Hahah lupa isiannya apa.
Potato soup: porsinya gedeee (plis note ini ukuran manusia yang emang makannya dikit). Enak, tapi buatku kebanyakan jadi ga habis hu mubazir :(
Desserts: es krim pancake toping stroberi dan kismis. Enak. Cuma pancake nya lagi-lagi kebanyakan. Haha.
Kirain ga bakal kenyang gitu eh ternyata kenyang banget dong :) me likey. Kenyang makan, saatnya tidur. Niat rumpita ga jadi terlanjur lelah. Lanjut ke day 2!
This is the highlight during my trip to Bandung. Glamping. Merupakan kepanjangan dari glamorous + camping. Artinya "berkemah" dengan mevvah *ngarang dhewe. Intinya versi upgrade dari camping, gitu.
Disclaimer: review-nya acakadut becauseee belom pernah review penginapan macam gini.
Rencana awal kami hanya camping aja. Seperti yang aku ceritakan di postingan sebelumnya. Tujuan awal kami adalah igloo camp yang berada di komplek Ranca Upas. Udah kontak narahubung tuh melalui Whatsapp. Ternyata di tanggal yang dipilih udah penuh semua. Agak heran kok bisa. Padahal kedatangan kami itu di hari kerja alias weekday.
Lalu, apakah yang harus kami lakukan? Tidur di tenda? Oh tentu saja tidak mau hahaha. Sebagai sesama pemula, nggak mau ambil resiko deh. Akhirnya si partner menemukan Bobocabin.
Buat yang baru pertama dengar apa itu Bobocabin, udah pernah denger Bobobox? Beberapa waktu lalu sempat gencar dipromosikan. Konsep hotel kapsul dengan budget minimal untuk traveler. Nah ini masih 1 grup dengan Bobobox. Bedanya dari nama udah keliatan ya. Box itu kotak. Cabin itu menurut oxford dictionary lebih ke "enlarge imagea small house or shelter, usually made of wood".
Bobocabin adalah sebuah jalan keluar yang tepat dari hiruk-pikuk dan keramaian kota. Kombinasi dari ketenangan alam yang dibalut dengan sentuhan teknologi membuat pengalaman menginap anda menjadi tidak terlupakan. Dengan menyediakan aktivitas petualangan yang menarik sekaligus mendukung pemberdayaan masyarakat lokal, Bobocabin siap menjadi bagian dari gaya hidup baru anda.
Spending time in cabin is one of hygge activity menurut Meik Wiking didalam bukunya. Pas banget aku sebelum glamping baca buku ini jadi berekspektasi :P
Bobocabin udah tersedia di beberapa tempat selain Ranca Upas, yaitu Cikole dan Kaldera (daerah Danau Toba). Kalo nggak salah untuk di Ranca Upas ini baru beroperasi Desember 2020. Belum ada setahun, tergolong baru lah ya.
Untuk pesan di Bobocabin bisa melalui 2 cara. Pertama lewat Traveloka. Kedua lewat aplikasi Bobobox. Kami pesan lewat Bobobox dan mendapat cashback Rp25.000 pembayaran melalui Shopee Pay. Lumayan buat jajan :P
Harga yang dibayarkan belum termasuk parkir dan tiket masuk Ranca Upas, ya! Selengkapnya bisa cek di website ternyata informasinya cukup memadai.
Letak Bobocabin ini berada di komplek Ranca Upas milik Perhutani.
Warga Bandung sekitarnya udah familiar pasti dengan Ranca Upas. Terbukti, bulan ini aja beberapa temen udah update di wilayah Rancaupas Ciwidey untuk liburan. Terkenalnya dengan penangkaran rusa. Perjalanan dari kota Bandung makan waktu 1,5-2 jam tergantung cuaca dan kemacetan.
Ada 2 tipe kabin yang ditawarkan: Standar dan Deluxe. Kami ambil Standar karena...yang murah. Hahaha. Cuma pindah tempat tidur ini kan.
Kami sampai di Bobocabin sebelum jam 1 siang. Letak Bobocabin ini persis setelah pos tiket ke-3 Ranca Upas ya. Langsung keliatan begitu bayar tiketnya, di sisi kiri. Itu ada kabin resepsionis. Kami diterima oleh mas-mas resepsionis. Keliatannya memang sengaja hire kawula muda.
Jam check-in adalah 14.00 WIB. Yaudah kami muterin Ranca Upas dulu sambil nunggu ruangan dibersihkan. Sambil memperhatikan sekeliling, masih ada pembangunan beberapa kabin di sekitarnya.
| Kayaknya bukan danau, deh... Kabinnya dibalik pepohonan itu |
Jadi konsep Bobocabin disini mengelilingi danau? Aku nggak yakin itu ditengah apa sih. Agak kurang meyakinkan, airnya hijau dan keliatan nggak terawat. Hahaha. Tersedia 2 toilet. 1 di sisi kanan dan 1 di sisi kiri.
Toilet di sisi kanan terbagi jadi toilet laki dan perempuan. Nah di bagian perempuan ada lagi 1 untuk mandi dan 1 untuk buang air aja. Sedangkan di toilet sisi kiri ada 1 untuk mandi dan 2 buang air.
| Ini toilet buat mandi. Isinya shower doang |
| Yang ini bisa untuk buang air (kecil maupun besar) |
14.00 kami masuk ke kabin. Yeayyy! Finally. Keunggulan Bobocabin ini semua diakses melalui aplikasi. Termasuk masuk ke kabin dan toilet, disediakan QR untuk scan. Tenang, nggak semua harus punya aplikasi kok. Aku dikasih screenshot QR-nya aja dan bisa tetep buka. HOHO.
Bagaimana first impression kami terhadap Bobocabin?
HUWAAAA. Mantap. Ada untungnya ga baca review dulu belum kesini. Jadi nggak kebayang macem apa. Kabin ini 2/3 nya udah dipenuhi kasur. Untuk naruh barang bisa dibawah. Ada 1 meja nakas berisi nampan kayu, 2 cangkir, pemanas air, 2 handuk dan 2 botol minum ukuran 600 ml. Ada cermin bunder desain kekinian. Tidak lupaa gantungan baju.
Di tipe Standar yang kami pesan ini jendela yang bisa dibuka ada di sisi kasur. Selain itu nggak ada sumber ventilasi lain. Untuk orang yang takut ruang sempit, menurutku masih bisa dihandle ya. Gak kayak bobobox (walaupun belom pernah coba sih).
Best part of glamping: listrik dan wifi ada. Di aplikasi selain QR, ada menu untuk blur-unblurred jendela, gonta ganti warna lampu dan nyambungin ke bluetooth speaker yang disebut dengan bobopod.
Panel ini juga tersedia didalam kabin. Gimana, udah keliatan glamorous bin luxury belom?
| Touch screen ya ini. Bisa kontrol warna lampu, connect bluetooth, dll. Bisa pake aplikasinya juga |
| The colokan |
Kekhawatiranku disini cuma 1: toiletnya jauh bookkk! Makluk toilet bersama. Udah pesen ke partner ntar kalo tengah malem mau pipis minta anter, ya! Wkwkwkwk.
Di toilet tersedia wastafel, sabun, sampo, tissu, tempat duduk menyatu dengan tak barang, dan hair dryer. Ukuran toilet tergolong kecil. Palingan didalem cuma bisa muat 3-5 orang. Itupun udah desak-desakan.
Lalu, apakah semua berjalan lancar?
OHOOO tentu tidak semudah itu Maemunah. First problem: QR pintu masuk ga kebaca. Solusi: direstart sistem sama masnya. Hasil: nggak bisa. Akhirnya pake kunci manual :) byebye kemevvahan.
Second problem: jendela ga bisa di unblurred. Yahhhh penonton kecewa berat. Ngapain dong nginep di bobocabin kalo ga ngerasain teknologinya? 😑
Ga mau rugi laah minta ganti kabin. Kan kami nginep 2 malam tuh. yaudah semalem tetep nempatin kabin problematik ini.
Kasur ngga ada masalah sih. Selimut ini kuecilll untuk ukuran berdua. Positif thinking aja mungkin emang target pasarnya pasangan honeymoon jadi bisa kruntelan. Kami? Enggalah. Tidur aja saling memunggungi wkwkwk tetep rebutan selimut sih pas tidur.
Malem 1 kami pesen makan di aplikasi bobocabin: beef bulgogi dan nasi. Nah, jangan khawatir kelaparan ya. Disini disediakan menu bervariasi. Tapiii dengan resiko harganya standar tempat wisata lah. MIHIL :P
Beef bulgogi disediakan alat grillnya. Sedangkan nasi dikirim terpisah, katanya sih dari warlok yang diberdayakan. Ngono. Tapi lucu sih nasi dateng duluan, beef nya 30 menit kemudian thank you. Disuruh ngekepin nasi dulu biar kerasa kehangatannya.
Kemudian datanglah itu beef bulgoginya sebanyak 250 gram. Udah dibumbuin. Yaa...lumayan. Nggak zonk toh udah sesuai deskripsi. Kami menikmatinya didepan kabin lain. Berhubung kabin kami nggak punya lahan untuk masak-masak.
***
Paginya kami jalan-jalan dulu ke Kawah Putih. Deket aja bisa jalan kaki ternyataa. Pas jalan keluar ini kami mampir ke resepsionis minta kamar diganti. Bilangnya oke akan diusahakan, kemungkinan baru bisa siang. Apakah kami benar mendapat gantinya?
BENERAN DIGANTI. Berhubung kabin Standarnya habis, kami diganti ke kabin Deluxe. AAAAKKK. Berkah nih.
"Mas ini nambah charge ga?" - tanyaku si konsumen curigaan
"Enggak kak, kan ini kesalahan kami. Nanti untuk pindah kabin butuh dibantu barang bawaan juga bisa" - mungkin masnya menahan kesabaran ngadepin kami wkwkwk
Lumayan juga si kabin Deluxe ini letaknya naik lagi ke ujung. KARENA APAA??? Akhirnya aku menemukan jawabannya, guys. Kabin Deluxe ini udah ada toiletnya! Ga perlu remponk deh bolak balik toilet nan jauh disana. Pantesaaan pantesan pantesan.
| Begitu pintu dibuka, voila! Toilet |
Oke, apa aja perbedaan kabin Deluxe dan Standar selain toilet?
1. Ukuran. Ofkors lah Deluxe ini lebih geday. Bisa dilihat dari depan, si Standar ini cuma cukup buat naruh 2 kursi lipat. Sedangkan si Deluxe ada kursi dan meja kayunya buat grill di depan kabin nggak masalah.
| Pintu masuk |
2. Desain. Kasur si Deluxe posisi dipannya ini lebih tinggi daripada di kabin Standar. Konsekuensinya, ruang penyimpanan yang terletak dibawah kasur lebih lega kalo nginep di Deluxe.
3. Jendela Deluxe lebih gedeee! Di bagian atap pun ada sekotak yang terbuat dari kaca? Plastik? Bening. Buat ala-ala memandang langit bisa (yha meskipun ketutupan rimbunnya pohon, sih).
Beda banget emang si Standar dan Deluxe. Kalo punya bujet lebih mending pilih si Deluxe deh. Lebih lega. Minusnya ada bau-bau dari toilet kalo ga bersih wkwk yha gimana cuma sepetak kan palingan mau ga mau ada dampak dari toiletnya.
Toiletnya ini aestetik lho cocoklah buat upload instagram. Lantainya keramik putih. Ada WC duduk, shower air panas dan dingin. Sabun dan shampoo disediakan. Ada tirai penyekat. Cermin bulat dan hair dryer. Udah ga perlu bolak balik ke toilet nan jauh disana. Lampu toiletnya jadi 1 dengan lampu kabin. Alhasil ketika di toilet, lampu diset warna putih biar keliatan. Boleh aja warna lain tapi resiko ga keliatan jelas :))
Tambahan lainnya di Deluxe: ((colokan)) lebih banyak, tersedia pengusir nyamuk elektrik. Having deluxe cabin doesn't mean problem solved. Kok ya tetep aja ga bisa buka kunci pake QR. Tetep bawa-bawa kunci manual kemanapun thank you. Yang penting jendela bisa blur-unblurred deh!
| Mode blur |
| Mode un-blur. Kayak tv kaaan? |
Aku cukup perhatian sama bahan dari Bobocabin ini. Mirip particle board dan ada rembesan disana sini. Kemudian ada beberapa titik berjamur putih-putih. Bisa dimaklumi karena letaknya memang di tempat bersuhu rendah. Tapi....nggak enak aja diliat ya. Mungkin bisa mempertimbangkan bahan lain yang lebih kuat terhadap kelembapan sekitar.
Daaann...ini terparah sih makan di malem ke-2. Kami pesen suki. Di bayangan kalian, suki isinya apa aja? Minimal fish ball dan semacamnya, sayur dan jamur enoki gitu ya? Ini cuma fish ball dan kawan-kawan berapa biji doang + bumbu instan WKWKWK yaAllah langsung drop selera makanku. Ini pun suki instan yang dijual di medsos lebih proper isinya monanges sungguh.
Final verdict: glamping disini cocok untuk cari experience baru. Tapi siapkan kesabaran lebih dengan hal nggak terduga, ya :))
Tips:
1. Bawa makanan sendiri
2. Nginep di musim kemarau. Jangan musim hujan deh serius.
3. Bawa temen banyak! Makin rame glamping makin seru
4. Bawa payung dan jas hujan
Sekian, kalo ada yang mau ditanyain silakan aja ya!
Subscribe to:
Posts (Atom)














































