Museum
Apa pilihan ketika hanya punya 6 jam di Jogja? Yang terlintas pertama dikepalaku adalah ikut walking tour. Untungnya, Jogja adalah salah satu kota yang punya walking tour DAN mudah untuk diakses. Walking tour yang kupilih adalah Jogja Good Guide. Dimana layanan ini berafiliasi dengan Jakarta Good Guide.
Aku pernah ikut rute walking tour Jakarta Good Guide dan lumayan puas. Jadi nggak ragu buat daftar walking tour bareng Jogja Good Guide.
![]() |
Foto milik Jogja Good Guide |
Aku pernah ikut rute walking tour Jakarta Good Guide dan lumayan puas. Jadi nggak ragu buat daftar walking tour bareng Jogja Good Guide.
Untuk daftarnya gampang banget.
- Pertama, kunjungi instagram Jogja Good Guide. Cek di postingan (biasanya di-pin) jadwal bulan berjalan ada rute mana aja.
- Udah menentukan pilihan? Lanjut, di kolom link ada url yang bisa diklik berisi form reservasi google doc. Isi aja data diri dan rute yang ditentukan, serta jumlah orangnya berapa.
- Nantinya akan dapat email balasan seperti ini. Aku lupa deh ini langsung auto reply atau enggak. Kayaknya sih langsung ya.
Udah jelas banget di email info titik temu, kontak guide dan tip yang sebaiknya diberikan. Ada info yang kelewat kubaca, yaitu foto titik temunya. Kebiasaan ngga baca attachment begitulah :P
![]() |
Foto milik Jogja Good Guide |
Di hari H aku termasuk yang dateng awal. Biasalah gabut LOL. Alhamdulillah ga nunggu lama dari jam janjian sih. Peserta walking tour di ruteku pas 10 orang. Jadi 11 ditambah kak Age sebagai guide-nya. Hehe.
***
Disini kami masuk ke 2 museum. Yang pertama ya sesuai di email: Museum TNI-AD Dharma Wiratama. Museum ini ada di persimpangan Gramedia Kotabaru. Tinggal nyebrang dikit aja.
Didominasi warna hijau khas TNI-AD, dari luar kelihatan sepi bener. Aku intip google reviews-nya cukup bagus as in terawat dan nggak suram khas museum di Indonesia.
Untuk masuk museumnya nggak ada HTM. Hanya disarankan untuk beli stiker buatan mereka, karena hasil penjualannya akan digunakan untuk perawatan museum. Fyi museum ini 100% dikelola oleh TNI-AD.
Dihalaman ada beberapa alat perang yang dipajang. Katanya sih ini asli ya, hanya udah ga bisa digunakan aja.
Masuk kedalam isinya sejarah TNI-AD, pergerakan perjuangan tentara waktu masa sebelum merdeka, termasuk strategi perang yang digunakan ditiap wilayah.
Ada pula dipajang seragam TNI dari tahun ke tahun. Yang menarik disini ada display senjata tembak yang buanyaaak banget. Kata guide-nya display macam ini cuma ada beberapa aja di dunia.
Untuk ukuran museumnya tergolong kecil, tapi padat. Jujur nggak terlalu menikmati karena kak Age cepet banget jalannya. Telat dikit ditinggal. Hiks. Kenapa keburu-buru banget sih, kaaak???
Highlight yang nggak boleh terlewatkan dari museum ini yaitu bunker bawah tanahnya.
Tepat di sebelah kanan dan masih terawat banget. Awalnya aku ragu sih bisa masuk apa enggak. Takut dengan ruangan sempit, mana dibawah tanah. Kalo ambrol piye?
Tapi melihat peserta lain santai aja yaudah aku ikutan. Nggak ada kesan serem sama sekali lho. Wong dalemnya di cat putih, ada pencahayaan cukup dari lampu kuning, dan akses naik turunnya cukup baik.
Bukan mudah ya, baik. Tetep aja harus hati-hati, agak nunduk biar ga kejeduk.
Pas harus naik lagi ke permukaan tanah, tangganya tegak lurus :")) tidak disarankan pake rok saat ikut tour ini.
***
Jalan kurang lebih 10 menit, kami menuju destinasi selanjutnya: Museum dr. Yap Prawirohusodo. Baru pernah denger? Sama. Aku juga.
Museum ini berada di komplek RS Mata dr. Yap. Aksesnya bisa dari depan (bagian rumah sakit) atau agak muter dulu lewat belakang. Agar lebih sopan, kata kak Age lebih baik lewat belakang. Agak sungkan juga kan ya ngelewatin pasien-pasien....
Untuk museum ini SSS: sangat super sederhana. Hehe. Hanya ada 1 ruangan yang berisi peralatan dr. Yap selama bertugas. Tentunya berhubungan dengan pemeriksaan mata. Untuk koleksinya lumayan menarik, tapi cara display-nya kurang. Kayak dijejerkan gitu aja.
Siapakah dr. Yap? Mengutip dari website Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, dr. Yap adalah agkatan pertama pelajar Tionghoa yang bersekolah di Universitas Leiden. Sekembalinya ke Yogyakarta, beliau mendirikan Rumah Sakit Mata Prinses Juliana Gasthuls voor Ooglijders.
dr. Yap mengabdikan dirinya dengan mendirikan Balai Mardi Wuto pada 12 September 1926. Balai ini menjadi lembaga sosial yang fokusnya pada pembinaan pasien tuna netra.
Musem ini gak ada HTMnya ya alias gratis. Cuma nulis nama aja di buku tamu. Sebagai penutup walking tour, kami diajak masuk sedikit ke perbatasan antara museum dan rumah sakitnya.
Bangunannya jadul banget berasa kembali ke masa lalu. Di Semarang ada juga nih klinik yang vibesnya jadul. Lupa namanya, yang diseberang Sekolah Hidayatullah di Banyumanik.
Pas banget cuaca sejuk, angin sepoi-sepoi. Ga pengen balikkkk. Oh ya di akhir perjalanan (ahzek) kak Age ngasih tebakan. Sama seperti walking tour lainnya nih. Hadiah kali ini adalah kartu post a.k.a postcard special edition yang dibuat sendiri oleh Jogja Good Guide.
Aku dapet gak? YA DAPET LAAAHHHHH HAHAHA gitu aja bangga aku tuh :')
***
Overall aku menikmati dan puas banget dengan rute walking tour ini. Menemukan hidden gemnya Jogja. Heheh. Tapi plis waktunya kurenggg dan jangan cepet-cepet kasih penjelasan buat guidenya :P
Akhir tahun 2023 lalu kembali lagi ke Jogja. Terhitung sudah 4 kali dalam setahun. Seperti mudik saja yhaa.
Kali ini tempat yang berhasil didatangi adalah Museum Sonobudoyo. Yay!
Sebelum pandemi melanda, aku sempat jalan ke Jogja sendiri. Melihat plang Museum Sonobudoyo tapi nggak tertarik. Dari depan tampak jadul dan kuno seperti museum yang kurang perawatan.
Lalu di 2023 konten Museum Sonobudoyo banyak muncul di Tiktok. Usut punya usut ternyata memang baru ada penambahan gedung di belakang.
Kami cus masih pakai baju kondangan langsung ke museum. Di google maps ada 2 titik. Museum Sonobudoyo Unit I dan Unit II. Dengan pedenya kami ke unit II. Emang bener sih ada plang Museum Sonobudoyo gedhay. Lha tapi kok sepi?
"Ah palingan karena hari kerja" - pikirku yang sotoy ini. Lhadalah ketemu petugas dikasih tau ini tuh kantor bukan museumnya. Pantes yang wara-wiri pada pake lanyard Coach.
"Jauh nggak pak dari sini kalau jalan kaki?"
"Wah jalan kaki ya lumayan"
Kami pun memutuskan untuk memesan ojek online sampai.....bapak satpamnya manggil kami dan bilang,
"Ayo mbak saya anterin. Mbak satunya ikut bapak itu ya" (kami berdua ciwi-ciwi)
Kalau bukan pelayanan prima apaaa ini namanya pemirsa? Dengan dibonceng petugas yang baik hati kami dianter ke tempat yang benar. Di deretan titik 0 yagesya plis jangan nyasar kayak kami. Kasian ngerepotin bapak satpamnya :P
Baru deh disini keliatan antrian turis kayak kami. Harga tiket Museum Sonobudoyo untuk turis domestik Rp10.000 saja. Bisa tunai atau QRIS (ingat, kris bukan kyuris). Antri tiketnya agak lama, petugasnya sekalian ngerapiin tiap dapet uang tunai kayak bakulan kukut.
***
Masuk aja ada gedung pamer tetap Museum Sonobudoyo. Ini belum gedung barunya ya. Wajar kalau isinya kurang instagram-able. Boleh titip tas di petugas (kaya aqu yang bawaannya segede gaban). Isi gedung depan ini koleksi kerajaan Bali, serta gamelan plus pemainnya.
Jangan kecewa dulu dengan isinya. Kamu cukup jalan ikut arah ke gedung baru, lewat jalan kecil bersuasana Bali ini.
Dan voila! Sampailah kita di gedung pamer baru Museum Sonobudoyo. Tingkat 6 gaes ini. Aku nggak ekspektasi sama sekali. Udah buuuaaannyyaaaakkk pol koleksi yang dilihat di lantai 1-4. Eh di lantai 5-6 itu luwih apik yakin orak ngapusi.
Tiket masuk diminta nunjukin lagi ya. Jangan sampai ilang. Didepan ini ada kumpulan bocah-bocah ngebatik. Kayaknya bisa ikutan kalau ada waktu.
Secara isinya nggak ada alur kronologis yang harus diikuti runtut. Lebih ke tematik. Tapi jujur aku lupa tema per lantainya apa. Ada banyak yang ditampilkan, seperti alat makan, kendaraan, batik, topeng, perwayangan, senjata tradisional.
Salahku itu dilantai bawahnya lama, baru terkejut di lantai atas ternyata bagus.
Kenapa?
Ada bagian yang pake virtual reality seperti memanah. Ada bisa main semacam ayo dance gitu dengan lagu tradisional. Ada juga video yang disetel dan seru banget (kayaknya). Karena aku kelamaan di lantai bawah, yang atas jadi cuma selintas doang. Padahal kepo T_T plis kalo kesini beneran luangin waktu yang lama ya. Atau langsung keatas dulu baru keliling bawah.
Wahana interaktifnya se-menarique itu.
Dari Museum Sonobudoyo kami berpindah ke Gedung Pamer Temporer Museum Sonobudoyo untuk lihat Pameran AMEX 2023. Pas banget cuma diadakan pada 7 November - 30 Desember 2023. Tiketnya udah termasuk dari Rp10.000 yang udah dibeli diawal. Berasa dapet jackpot keliling 3 tempat dengan 1 tiket aja.
Untuk disini yang dipamerkan tentang koneksi budaya yang dihasilkan perdagangan maritim di Asia Tenggara, khususnya Nusantara. Ada tentang beragam agama dan kitab suci yang masuk ke Indonesia, kain batik, perbumbuan (rempah kali ya tepatnya), sampai alat transportasinya.
Lumayan lengkap dan menjelaskan gimana ekspedisi agama, rempah, budaya nyampe ke Indonesia. Terakhir sebelum keluar bisa foto dulu yang hasilnya segemoy ini.
Kalau kamu tipe yang menikmati museum, bukan hanya berburu konten, waktu 3 jam puas kali ya. Semua bisa dibaca, dicek satu-satu. Asal ga dipegang yah kan ga boleee. Nyesel deh dateng kesini. Iya nyesel cuma punya waktu dikit, kurang mendalami eksplorasinya :))
Subscribe to:
Posts (Atom)