Asus Indonesia
Bicara tentang menulis, rasanya harus memperkenalkan diri dulu dengan latar belakangku. Anak ketiga dari enam bersaudara. Jarak antar saudara tipis, hanya dua tahunan. Orang tuaku sibuk bekerja untuk menghidupi kami yang banyak ini.


Sejak dulu, sebenarnya aku suka sekali bercerita. Dirumah, aku masih punya buku harian jaman SD dulu. Loh, kok ceritanya di buku harian? Iya, aku jarang punya kesempatan untuk cerita keseharianku dengan orang tua. Sepulang kerja mereka segera mengerjakan hal domestik yang bisa dikerjakan. Entah itu masak maupun beberes. 

Waktu aku mulai beranjak remaja, akupun mulai diberdayakan. Cuci piring, momong adek, sampai cuci baju sendiri. Meskipun punya asisten rumah tangga, kerjaan domestik seperti nggak ada habisnya. Ditambah dengan posisiku sebagai anak tengah. Di satu sisi aku harus "nurut" sama kakakku. Di sisi lain aku harus merelakan perhatian orang tuaku lebih banyak ke adik-adikku.

In short, aku nggak punya tempat untuk mencurahkan isi hatiku.

Aku harus cerita kemana?

Kalau sebelumnya cukup di buku harian. Sewaktu SMP internet sudah mulai masuk kerumah. Dulu masih lewat sambungan telpon. Yang kalau ada telpon ya koneksi internet mati. Hihi.

Media sosial menjadi tempatku menulis dan mencari teman. Friendster, facebook, plurk, tumblr, dan yang paling berdampak bagiku adalah blog.

Media ini dikenalkan oleh kakakku yang jatuh cinta di bidang IT (sampai sekarang pun kerjanya di bidang IT). Dia mengajakku untuk buat blog. Menurutnya ada banyak keuntungan yang bisa didapat. Saat itu salah satu yang menarik adalah adsense. Wow, anak sekolahan udah dibayar pake dollar? Entah waktu itu gimana cara narik dananya. Yang kuingat, karena uangnya nggak bisa dicairkan akhirnya digunakan untuk belanja online. Bangga sekali rasanya sebelum ada platform oren dan ijo bisa belanja aksesoris dari China. Hahaha. Mana barangnya unik dan jarang dijual di Indonesia.

Daaan...cerita berlanjut.

Aku tertarik untuk ngeblog setelah tahu bahwa aku bisa menulis panjang lebar! Tahu kan, kalau di media sosial itu kecenderungannya orang nulis pendek. Nggak bisa dong aku meluapkan 20.000 kata perhari di blog. Akhirnya aku memutuskan untuk menjadikan blog sebagai buku diariku.

Sepertinya waktu itu di zaman kelas 8 atau 9 SMP. Layaknya gadis gadis centil yang suka warna warni, aku mendesain blogku dengan tema cute dan widget yang banyak. Hahaha. Sayang sekali nggak pernah kepikiran untuk screenshot tampilannya untuk nostalgia. Beda banget sama zaman sekarang yang lebih minimalis suatu website, lebih baik dan nggak berat untuk diakses.

Selama sekolah itu aku rajin menulis apaa aja. Ada yang masih bisa diakses di blog ini. Ada yang akhirnya aku putuskan masuk draft aja karena kayaknya kok terlalu alay ya untuk diumbar? :P

Postingan terlama yang masih ada disini dari tahun 2011. Wah, sudah 14 tahun menuliskan ceritaku di dunia maya!


Ngeblog yang mulai serius..

Sekitaran waktu kuliah-lulus. Di tahun 2014 - 2019. Aku mulai join grup blogger khususnya perempuan. Alhamdulillah ketemu yang sesama di Semarang. Kenal banyak orang walaupun lewat dunia maya.

Dan, beneran dapetin uang dari blog. Bukan adsense loh. Dengan cara apa? Review produk. Ikut lomba. Sponsored post. Dateng ke event. 



Contohnya nih, ditahun 2018 aku dateng ke event Asus untuk kopdar temen blogger plus ngecengin laptop cakep. Well, ujungnya ga menang lomba sih. Hahaha. Tapi di masa itu rasanya membanggakan banget. Temen-temen kuliahku yang tahu aku bisa dapet pada bertanya, gimana sih caranya? Yang aku jawab dengan: Yaa mulai aja dulu!

Dari situ aku justru memutuskan setelah kerja untuk pilih Asus sebagai laptop pertamaku. Asus juga merupakan salah satu brand yang konsisten mendukung berbagai komunitas blogger. Dengan cara apa? Mengadakan berbagai event baik offline maupun online sejak tahun 2015. 

Event yang aku ikutin tadi hanya satu dari banyaknya event Asus. Bahkan, setauku saking seringnya Asus melibatkan blogger, sampai ada komunitas blogger Asus atau yang dikenal dengan Blus. Apakah kamu menjadi anggota didalamnya?

Selain dukungan untuk ngeblog, buatku Asus juga membantuku saat kerja dimana lebih banyak pakai laptop pribadi. Banyak banget hal-hal yang udah aku hasilkan. Pertama, video profil. Bisa dilihat disini.


Ada pula konten-konten yang aku hasilkan di akun kantor. Laporan ini itu. Dan pastinya masih dengan aktivitas ngeblog. Dibeli dengan gaji pertama ditahun 2019, sampai saat ini aku udah ganti charger 2x untuk memperpanjang hidup laptop Asus-ku. Kurang setia apa, coba?

Denger-denger, kalau sebenernya alat elektronik itu udah mencapai umur maksimalnya ketika 5 tahun. Nah kayaknya udah saatnya nih aku bisa ganti ke seri lebih baru. Pengennya sih dapet laptop ASUS Vivobook M415. 

Peran laptop tuh sangat krusial baik dikerjaan maupun aktivitas ngeblogku. Ketika banyak temen yang canggih bisa ngeblog pake smartphone aja, aku nggak bisa! Rasanya aneh dan kurang puas untuk mengetik sampai menerbitkan tulisan pakai blog. Kayak, yaa nggak ril aja!

Kenapa aku langsung menyasar ke laptop ASUS Vivobook M415? Yang pertama sih pastinya dari brand ASUS udah terjamin kualitasnya. Udah punya experience pakai, lagi. Setiap tahun ASUS komitmen untuk meningkatkan kualitas produk yang diluncurkan. Laptop ini dibekali dengan spesifikasi 14” Full HD, AMD Ryzen 3 3250U, 8GB RAM, 512GB SSD, Windows 11 Home.

Jujur, Asus A407U ini udah kerasa banget uzurnya. Minta diganti! :p 



Ah ya, balik lagi ke 10+ tahun ngeblog. Aku berterima kasih ke diriku sendiri yang konsisten menulis apapun keadaanya. Berguna banget ketika aku mulai melupakan hal-hal udah kulewati. Ini penting loh karena kadang dengan tingginya tekanan sosial untuk ini itu, aku sadar sejauh mana aku berjalan. Aku lebih menghargai perjalananku dan berusaha nggak membandingkannya dengan orang lain.

Dan dengan jauhnya aku dari keluarga serta teman-teman, aktivitas menulis di blog justru semakin penting. Jarak dan waktu yang memisahkan kami nggak akan bisa memberikan kesempatan untuk bercerita setiap saat. Alhasil, harus kemana lagi aku untuk menumpahkan cerita kalau nggak di blog? :))

Udah punya kerja dan penghasilan tetap, masih mau ngeblog?

Masih dong! Lihat aja nih dalam sebulan postinganku udah empat biji. Lumayan kan untuk orang kantoran yang biasa nulisnya di weekend aja? Seperti prinsip di komunitas blogku. Gandjel rel: ngeblog ben rak ngganjel. 

Saat ini fokusnya mengisi blog dengan cerita perjalanan hidupku. I know I'm special. Aku nggak ada duanya. Cerita hidupku ya nggak ada yang menyamai. Oleh karenanya, aku bersemangat untuk menuliskan kisah hidupku ini agar bisa kukenang sepanjang masa. Manfaat lainnya, bonus buatku!

Artikel ini diikutsertakan pada Lomba Blog 2015 ke 2025 Perjalanan Ngeblogku yang diadakan oleh Gandjel Rel
Entah kenapa akhir-akhir ini lagi terngiang satu lirik lagu. “Let’s not fall in love..” – jika diterjemahkan. Yup, lagu ini adalah lagu Korea. Bukan lagu baru. Justru berasal dari grup yang hampir seluruhnya sedang wamil.

“Let’s not fall in love...
...We don’t know each other that well”

Jatuh cinta itu berat. Biar aku aja. Tsaah, dikiranya Dilan apa.


Satu-satunya hal yang bikin saya jatuh cinta sampe sekarang adalah menulis. Saya jatuh cinta dengan proses pencarian ide. Mengumpulkan data pendukung tulisan. Menyusun kata demi kata hingga apik untuk dibaca. Saya kira saya hanya akan jatuh cinta pada menulis saja. Tapi sepertinya mulai tergoyahkan. Ada hal lain yang menggerakkan saya untuk kembali jatuh cinta.

Apa itu?

Sebuah benda. Berbentuk kotak. Dan terpenting bisa mendukung saya melakukan hal yang saya cintai selama ini.


ASUS Zenbook Pro 15 UX580, namanya. Balutan warna biru yang tak terlalu kentara langsung melekat di hati. Pada pertemuan kami pagi itu. Sabtu 15 Desember lalu di Hotel Gets Semarang. It was our first meet.

“Jangan jatuh cinta sama dia, atau kamu akan menyesal.” – kata hati saya.


Layar 15,6 inch yang dia miliki begitu berkilau. Dengan resolusi 4K-nya, saya dibawa masuk ke dalam dunianya. Apa yang saya lihat di layar terasa nyata. Dekat. “Bahaya!” – alarm dalam diri saya berbunyi. Bisa-bisa saya betah menghabiskan waktu berjam-jam di hadapannya.

“Jangan jatuh cinta sama dia, atau kamu akan menyesal.” – kata hati saya.

Ternyata audio yang dia miliki tak kalah menggoda. Speaker khusus yang dikonfigurasikan oleh ASUS Golden Ear Team tertanam. Tambahan sertifikasi Harman Kardon menambah pesona audionya. Masih ada lagi? Masih! Teknologi ASUS Soinic Master menjadi pelengkapnya. Hasilnya? Suara yang dihasilkan oleh si pemikat hati ini 1,4x lebih keras dari yang lain. ah, sepertinya lebih keras dari debar jantung wanita yang sedang jatuh cinta.

“Jangan jatuh cinta sama dia, atau kamu akan menyesal.” – kata hati saya.

Orang bilang, coba lihat lebih dekat sebelum jatuh cinta. Ada hal lain yang tak kasat mata. Hm, apakah itu? Si cantik ini menyembunyikan prosesor yang ada didalamnya. Otak dari Asus Zenbook Pro 15 UX580. Tak kalah memikar dari penampilannya, tersimpan prosesor Intel Core i7-8750H. Bisa dimanfaatkan untuk banyak hal yang tidak bisa dilakukan oleh seri dibawahnya.

Coba saya absen satu per-satu:
1) Kemampuan hyper-threading (memproses dua thread dalam satu waktu secara bersamaan)
2) Clock speed (kecepatan memproses operasi)
3) Cache lebih besar

Didampingi NVIDIA Geforce GTX 1050, lengkap sudah. Video editing sanggup, photo editing dijamin ciamik, 3D rendering? Sudah pasti bukan masalah.

“Jangan jatuh cinta sama dia, atau kamu akan menyesal.” – kata hati saya.

Karena sekali jatuh cinta, kamu akan sulit untuk melepaskan pikiran dari dia. Masih berderet kelebihan yang ditawarkan. RAM DDR4 16 GB. Penyimpanan sebesar 1 TB. Duh Gusti, bakal berapa episode drama korea yang bisa disimpan? otak saya tak kuat untuk menghitungnya.

“Jangan jatuh cinta sama dia, atau kamu akan menyesal.” – kata hati saya.

Dengan tampilan yang sempurna, jeroan yang gahar, ASUS Zenbook Pro 15 UX580 bisa bertahan hingga 9,5 jam. Untuk mengecasnya hanya membutuhkan waktu 49 menit. Baterai pun terisi hingga 60%. Duh, siapa juga yang ingin menunggu lama untuk bertemu dia yang berhasil membuat saya jatuh cinta?

Tapi dibalik kelebihan yang sudah berderet diatas, masih ada rahasia yang belum terkuak. Satu rahasia yang akan membuat dia layak mendapat gelar “One and Only”. Screenpad. Rahasianya. Touchpad yang biasanya hanya berfungsi sebagai kursos, disini dia memberikan hal yang berbeda.

Sebutannya adalah layar kedua. Hah, layar kedua? Iya. Ternyata Screenpad memang bisa difungsikan sebagai layar kedua. Mulai dari menyetel musik. Membuka aplikasi Ms. Word, hingga menampilkan slideshow PowerPoint. Walaupun menyandang sebutan “kedua”, kehadirannya justru melengkapi layar “pertama”. Bukan sebagai pesaingnya.

“Jangan jatuh cinta sama dia, atau kamu akan menyesal.” – kata hati saya.

Karena dia yang dihargai Rp 35.999.999 akan membuat kamu (dan saya) rela mengeluarkan jumlah sebesar itu untuk mendapatkannya. Demi memiliki apa yang kita cintai, butuh pengorbanan bukan Ah, sepertinya saya tidak menyesal telah jatuh cinta pada pada ASUS Zenbook Pro 15 UX580.

Pic source:
ASUS Indonesia
Dok. Pribadi

Inspired by:
Big Bang - Let's Not Fall in Love

Sebelum membaca postingan ini, pastikan kamu punya waktu yang cukup ya. Karena postingan ini agak lebih panjang dari postingan saya yang biasanya, LOL. Yup, kali ini saya akan bercerita mengenai pengalaman menggunakan handphone berkamera yang bisa dibilang sudah cukup lama.

Pertama kali punya handphone berkamera
Saya merupakan generasi yang termasuk terlambat dalam mengadopsi handphone berkamera. Seingat saya, saya baru memiliki handphone berkamera saat kelas 8 MP. Kira-kira sekitar 8 tahun yang lalu (entah kenapa saat menuliskan ini saya merasa tua...). Handphone waktu itu sederhana sekali. Kualitas kameranya belum ada berapa megapixel seperti saat ini. Hanya VGA dan koneksinya pun masih 2G. Parahnya lagi, disaat yang lain sudah memiliki handphone berteknologi bluetooth, handphone satu ini cuma punya inframerah. Iya, inframerah. Jadi kalau ingin mengirim foto atau data apapun handphonenya itu harus didekatkan bersisian di bagian yang ada inframerahnya :))

Handphone lungsuran dari Ibu saya ini saya gunakan sampai akhirnya di bangku SMA kelas 12 rusak. Rusak. Rusak. Harus diulang 3x biar dramatis. Iya, rusak :(( Mau nggak mau saya pegang hp yang cuma bisa buat telfon dan sms untuk sekedar mengabari ke orang tua dan menanyakan tugas.

Handphone itu pun berganti menjadi smartphone
Di tahun 2014, saya berhasil menjadi mahasiswa Undip melalui jalur SNMPTN. Itu tuh, jalur undangan yang tanpa tes #sombong. Sebagai hadiahnya, orang tua saya pun membelikan smartphone yay! Dengan kamera belakang 5 megapixel dan kamera depan VGA, sudah cukup menyenangkan hati saya. Saya menggunakan kamera itu untuk mengabadikan momen *eaa*. Momennya itu kadang disimpen buat diri sendiri sebagai bukti nyata (halah) pernah melewatinya atau pun disebarluaskan. Kok bisa? Nah lebih jelasnya contoh momen yang buat diri sendiri kayak gini nih:

Selfie & wefie
Jelas lah ya, kalo ini, ihiy. Apalagi pertama kali punya smartphone timingnya passs banget waktu jaman mahasiswa baru (maba). Banyak ketemu temen-temen baru yang pastinya seneng diajakin narsis bareng. Ditambah jaman maba masih pake banyak pritilan yang unyu-unyu hahaha.

Maba banget yah aksesorisnya :")
Selain itu, dengan foto selfie seperti ini juga berguna untuk memberi tahu teman yang lain saya berkuliah dimana. Nggak sedikit lho, temen-temen yang baru pada tahu kuliah dimana. Ada yang karena gengsi jadi nggak mau nyeritain kuliah dimana, dan alasan lainnya.

Kelompok ospek jaman maba. Yang cowok pake baju item ganteng gak? Haha

Mengabadikan sunset dan sunrise
Sudah puas lihat betapa unyunya saya jaman maba? Hahaha. Nah selanjutnya saya sukaaaaa banget mengabadikan momen matahari terbit dan matahari terbenam. Momen ini tuh spesial banget. Meskipun setiap hari terjadi, tapi nggak pernah sekalipun gradasi warna yang diciptakan itu sama.



Coba tebak mana yang sunrise dan mana yang sunset??

Momen yang paliiiiiiiiiiiiing paling paling nggak terlupakan saat saya berhasil memotret salah satu orang penting di Jawa Tengah. Siapa itu? Yak! Pak Ganjar Pranowo! Gubernur Jawa Tengah! :D

Lebih ganteng aslinya:))
Pokoknya tuh sejak pake smartphone ini apa-apa difoto. Jogging sore, difoto dulu jalannya. Nugas buat ospek, difoto tugasnya LOL every moment deserve to be capture lah pokoknya. Kamera ini udah kayak jadi separuh hidup saya, udah disayang-sayang banget. Bhak!

Sekian lama saya menggunakan kamera "hanya" untuk keababilan saya, sampai di titik ini saya merasakan betapa berharganya kamera smartphone. Kok bisa? Di semester dua, mahasiswa baru mulai mendaftar organisasi yang diminati. Saya pun tidak ketinggalan. Pilihan saya jatuh pada Lembaga Pers Mahasisa Publica Health FKM Undip. Sebuah lembaga kerjunalistikan yang menurut saya sangat cocok dengan passion saya yaitu menulis dan mengabadikan momen. Singkat cerita, saya berhasil bergabung menjadi staf Cyber. Tugas saya adalah meliput berbagai berita maupun kegiatan yang ada di fakultas hingga universitas. Tidak hanya kemampuan menulis saja yang dibutuhkan, guna mendukung tulisan saya, foto sangat dibutuhkan. Siapa sih, yang betah membaca berita tanpa foto? Menurut saya pribadi, itu sangat membosankan. Foto juga bisa menjadi sebuah bukti kalau suatu peristiwa itu benar-benar terjadi. Betul, nggak?

Nah, dengan adanya kamera smartphone ini amat sangat menunjang kegiatan saya waktu peliputan. Dibanding kamera saku atau DSLR, smartphone ini jauh lebih baik dalam segi keringkasan. Karena nggak setiap saat kan, bisa megang DSLR? (alibi padahal nggak punya SLR sih, hahaha). Kamera smartphone ini pula yang membawa saya menjadi Crew of The Month dari LPM Publica Health. Senengggg banget rasanya karena bisa berguna nggak buat diri sendiri aja :)

Kebahagiaan itu musnah karena.....jamur
Hari demi hari berganti, sampai suatu ketika kebahagiaan saya dengan kamera dirusak karena.....negara api menyerang. Hahaha. Nggak deng. Perusak kebahagiaan itu bernama jamur! Iya, kamera smartphone saya berjamur! Huhuhu sedih banget nggak sih? :(

Pertama kali sadar kok ada apaan nih bintik hitam bulat gitu satu. Trus saya coba bersihin pakai cairan pembersih kacamata. Nggak hilang juga. Akhirnya saya biarkan karena waktu itu nggak terlalu mengganggu. Lama kelamaan, jamurnya tambah banyak! Sampai kayak gini hampir satu frame penuh jamur:



Sedih, stress, campur aduk banget rasanya! Dari yang awalnya lagi ngapain aja selalu ambil gambar, sekarang jadi berkurang. Mending lah kalo Cuma selfie-selfie gitu berkurang gapapa kan saya bukan artis yang harus update instagram tiap hari. HEHE. Masalahnya gimana dengan tugas negara jurnalistik saya? Rempong cyin. Gara-gara kamera berjamur itu saya harus melakukan dua hal kalo liputan. Pertama: bawa temen. Kedua: pastiin temen saya hapenya berkamera dan masih ada batre.

Huft. Kalo liputan jadinya harus nyari temen dulu. Pernah waktu itu nggak ada temen emang pada ada agenda sendiri. Jadi saya berangkat sendiri. Lalu waktu saya nulis liputannya bingung, ini fotonya cari dimana???? Gara-gara nyari foto nggak dapet-dapet, liputan yang harusnya terbit maksimal 24 jam dari peliputan, jadi molor. Saya merasa terhina *waks* dan nggak profesional, walaupun nggak ada yang negur atau nyemooh juga. Teteup, rasanya nggak enak aja.

Di lain waktu, saya harus bikin live report buat Line@. Bingung lagi, ini gimana dapetin gambar yang bagusnya??? Melipir deh deket temen yang bawa hape. Dengan muka tebel minta fotoin buat dikirimin ke saya. YaAllaaaaah kapan ini semua akan berakhir? *zoom in* *zoom out*

Coba deh kalo saya punya tuh ASUS Zenfone 2Laser ZE550KL pasti nggak bakal gini jadinya. Tenang aja lah kalo mau liputan sendirian, aman. Gimana nggak aman, kalo kameranya udah 13 mega pixel, 13! *megap-megap*. Ditambah lagi apertur lensanya f/2.0 bisa ambil resolusi tinggi tanpa ngelag. Juaraaaa banget kalo buat liputan tuh, apalagi kalo liputan aksi (baca: demo) mahasiswa. Waah pasti nggak bakal ketinggalan banyak momen penting. Misal: waktu mahasiswa mulai anarkis *lha. Nggak bakal back light juga kalo pas panas-panasnya. Mau liputan malem juga nggak masalah, nggak perlu takut burem atau gelap. Kan udah ada laser nya, yang bikin gambar tetep jernih walaupun dikit pencahayaannya. 



Idaman banget yah, pasti nggak gampang berjamur :”) *mupeng*. Trus gimana dong cara dapetinnya? BELI LAH. Hahahahaha iya kalo THR udah keluar gampang aja beli. Kalo mahasiswa kayak saya? Ikut laah Giveaway Aku dan Kamera Ponsel by uniekkaswarganti.com. Kapan lagi coba bisa dapet smartphone sekeren ini dengan modal nulis? Ah, saya sih mau. Biar dapet smartphone kece ini. Biar kalo liputan gambarnya tajem. Biar dapet titel Crew of The Month lagi *eaaa.

Jadi gimana, udah dramatis belum cerita saya? Atau masih kurang? Coba dong ceritain juga punya kamyu! Ihiy :D

Sumber informasi dan gambar: https://www.asus.com/id/Phone/ZenFone-2-Laser-ZE550KL/

Giveaway Aku dan Kamera Ponsel by uniekkaswarganti.com