Baca: Busan in Good
Thanks to Indonesian girls yang sudah merencanakan dengan matang. Selama 4 hari 3 malam bener-bener mendalami kehidupan sebagai turis di Jeju.
Desain rumah dengan pagar batu dan atap berwarna biru ini ada makna tersendiri. Jeju punya nickname Samdado ("Island of Three Abundances"): angin, batu, dan perempuan.
Sekalian kronologis biar bisa dicontek itinerary bisa kali ya?
So, mari mulai dengan hari pertama a.k.a Day 1.
Dimulai dari Seoul kami keluar dorm jam 4 pagi! Dimana subuh itu 3.30. Penerbangan yang kami ambil masih masuk akal paginya. Bukan dini hari. Cuma biar aman aja kami lebih suka spare waktu. Bandara yang kami tuju bukan Incheon, melainkan Gimpo.
Kami pesan taksi dari hari sebelumnya. Daan, tada! Sudah muncul saat kami keluar dorm. Perks of living in Korea: semua on time. Bahkan si sopir terkejut dan komen, wah kalian ternyata pagi juga datengnya. Perjalanan ke Gimpo Airport lebih cepat dibanding Incheon. Kurang lebih 30 menit ditemani playlist old korean songs dari supir.
Sampai di airport, kami self check in. Take konten. Menunggu boarding.
Kami bawa paspor tapi ternyata nggak perlu. Karena udah punya kartu identitas disini. Semua berjalan lancar tanpa kendala. Airportnya bersih, jelas. Se-pagi itu banyak juga yang terbang ke Jeju. Maklum, musim liburan.
Selama 45 menit - 1 jam di udara, akhirnya sampai juga di Jeju. Hello Jeju~
Hari pertama ini kami langsung menuju U Island. Atau lebih dikenal dengan Udo. Jaraknya cukup jauh karena berada di sisi timur. Sedangkan bandara terletak di sisi utara. Kami pilih naik bus. Drama nomor 1 dimulai. Jadi di Jeju ini interval bus-nya nggak sesingkat Seoul. Ketinggalan 1 bus, bisa menunggu 30 menit sampai 1 jam kemudian. Sempat bingung dan gonta ganti jalur antrian. Antara bus nomor 300an atau 100an gitu.
Akhirnya kami memilih salah satu kalau nggak salah bus nomor 111. Dan, ya. Berhasil untuk menuju Seongsan Port. Pelabuhan dimana kami harus menaiki ferry menuju Udo. Metode pembayaran menggunakan T-money. Penting untuk top-up. Aku mengisi saldo sekitar 25 atau 28 ribu KRW untuk trip ini. Biayanya 3000 atau 4000 KRW sekali jalan ke Seongsan Port. Untuk kami yang membawa koper bisa diletakkan di bagasi sisi kanan bus.
Sepanjang jalan, pemandangan hijau dan hewan seperti kuda terpampang nyata. Culture shock: supir bus disini lebih fast furious daripada Seoul punya. Aku yang dapet tempat duduk di paling belakang sungguh diuji ketahanan agar tidak muntah :)) setiap guncangannya tuh aduhaaai berasa sekali~
Sekitar 1,5 jam menahan mual, akhirnya sampai juga di Seongsan Port. Halte paling ujung dari rute ini. Dengan menggeret koper grudak gruduk kami membeli tiket.
Sempat bingung gimana caranya, ternyata:
1. Isi form. Ada 2 form yang harus diisi, form 1 untuk kepergian. Form 2 untuk balik. Sama sih isinya. Kayaknya cuma untuk memastikan aja semua balik. Isiannya nama, nomor ID atau paspor, nomor handphone dan jenis kelamin
2. Bayar di loket per orang 10.500 - 11.000 KRW.
3. Tetap pegang tiket untuk menyeberang
Muncul pertanyaan selanjutnya, mau ditaruh dimana koper kami?
Di sebelah tourist information tersedia loker. Tapi ukurannya kecil, nggak muat untuk koper kabin ini. Akhirnya disarankan menuju ke CU untuk dititip. Biayanya 4000 KRW per koper.
Jangan harap ada receipt ya, ini sih nggak resmi. Yaudah gapapa kan ga mungkin kami bawa sampe ke Udo? :)) cuma terima cash!
Ferry pertama ke Udo sekitar 7.30 - 8.00 pagi.
Jam terakhirnya 05.00 - 06.30 sore. Tergantung musim dan ombak. Interval 30 menit sekali. Waktu tempuh 15 - 20 menit.
Perlu antimo nggak? Nggak. Aman. Ombaknya bersahabat. Penumpang bisa pilih mau outdoor (lantai 2) atau indoor (lantai 1).
Di bagian indoornya berupa ruangan luas tanpa sekat dan tempat duduk. Konsepnya ngemper gitu. Kelebihannya ada AC jadi lebih adem.
Waktu berangkat kami pilih outdoor. Pas balik pilih indoor. Tepar se-tepar teparnya dengan kondisi terik matahari yang menyengat.
U Island (Udo)
Sampai di Udo, kami sewa sepeda listrik. Ada beberapa pilihan harga gitu. Awalnya kami langsung dikasih yang 25000 KRW. Ga mau dong, orang ada pilihan 20000 KRW. Tipenya ada yang single, ada juga yang kayak mobil mini kapasitas 3 orang. Tipe mobil ini enak sih bisa terlindung dari panas, tapi kurang dapet vibesnya untuk kami berempat yang sudah dewasa.
Dilihat dari cara stafnya memperlakukan kami, mereka udah biasa dapet turis mancanegara. Terutama turis China buanyak banget! Usut punya usut kata temenku sih karena Jeju itu deket dari Shanghai. Oooh, masuk akal. Stafnya bisa ngomong mandarin pun.
Waktu kami nanya gimana cara pake sepeda listriknya, staf yang notabene udah uzur bisa menjelaskan dengan english patah-patah. Appreciate lho. Jangan heran juga ya kalau tenaga kerja disini kebanyakan lanjut usia. Memang Korea mengalami yang namanya aging society.
Dengan angka harapan hidup tinggi (artinya banyak lansia masih sehat) dikombinasikan dengan rendahnya angka kelahiran, ya alhasil populasi diisi dengan lansia. Mungkin di Seoul nggak terlalu keliatan. Begitu ke luar Seoul, jarang banget ngelihat anak usia sekolah atau dewasa muda.
Okay lanjut. Jadi kegiatan siang bolong itu adalah keliling Udo. Sampai sekarang masih nggak habis pikir, kok kuat ya mana nggak pake topi pula. LOL.
Pagar batu berfungsi sebagai windbreaker. Bebatuan ini disusun tanpa perekat ataupun semen. Sengaja dibuat seperti itu agar angin bisa masuk perlahan-lahan di sela bebatuan. Sehingga yang masuk kerumah bukan lagi angin kencang. Lebih ke sepoi-sepoi.
Untuk atap berwarna birunya, dimulai dari tahun 1970. Awalnya jerami digunakan sebagai atap. Seiring dengan modernisasi, pemerintah menggalakkan pembaruan dengan mengganti menjadi atap yang lebih kuat dan tahan lama. Ada unsur estetik juga kan dengan perubahan ini.
Entah kenapa kami nggak nyicip peanut ice cream yang terkenal itu. Bahkan sampai udah balik lagi ke Seoul :)) gapapa lah artinya emang kudu remidi. Menyenangkan sekali bisa sepedaan cantik di pulau yang juga cantik. I keep thinking to myself, I don't know when will I get another chance to spend this kind of time. Just enjoying the nature without any other thoughts. So so grateful for this opportunity.
Puas di Udo, kami lanjut ke hotel. Sengaja pilih yang masih sekitaran Seongsan Port karena masih ada destinasi yang akan kami kunjungi.
K-drama Spot: Rumah Cho Yong Pil
Ada yang nonton drama Welcome to Samdal-ri? Banyak lokasi syutingnya di Jeju. Meski bukan di satu titik terpusat. Kayaknya emang jarang ya.
Nah untuk rumah ini paling sering muncul di konten medsos. Alamatnya di 시흥상동로68번길. Sekitar 5 bus stop dari Seongsan Port? Terjangkau. Sebenarnya rumah ini tuh ada penghuninya. Pengunjung tetep boleh foto-foto asal nggak berisik. Ada bannernya juga kok didepan tentang informasinya. So, don't worry.
Agak salah fokus, halamannya tuh wangi kenanga banget. Enak!
K-drama Spot: Gimnyeong Beach
Destinasi terakhir di hari pertama masih k-drama spot, yaitu Gimnyeong Beach. Highlight disini pantai pasir putih dengan warna hijau turqoise dan ombak minimal. Tenang banget. Di kejauhan nampak pula kincir angin. Semakin menambah estetika.
Katanya ini muncul di episode 12 Samdal-ri. Entahlah, sejujurnya aku nggak nonton dramanya. Hehe..
Karena ombaknya tergolong aman, banyak warlok terutama cowok-cowok remaja nyebur disini. Emang se-tenang itu. Behubung kami dateng saat matahari terbenam, Alhamdulillah dapet warna warni yang cantik banget!
Tanpa pernah kami tahu bahwa itulah sunset terakhir kami di Jeju! Haha. Setelahnya yang kami dapet awan gelap, kabut dan hujan deras :)) Alhamdulillah masih rezeki.
***
Begitulah hari pertama kami yang menyenangkan di Jeju. Untuk tempat makan aku sengaja nggak masukin ya. Mayoritas menunya seafood. Tapi kan preferensi dan standar halal mungkin beda. Daripada menimbulkan perdebatan~ cukup lokasi wisata aja yang aku ceritain :P
Anyway, kami harus tidur awal agar bisa bangun pagi di hari kedua. Kenapa? Mau kemana? Lanjut di postingan berikutnya~
























Post a Comment
Halo! Terimakasih sudah membaca. Setiap komentar masuk akan dimoderasi. Untuk komentar dengan anonim tidak akan saya balas, ya. Yuk biasakan menjadi diri sendiri di dunia maya!