Apa manfaat membaca novel untuk kehidupanku? Satu: hiburan. Dua: bahan refleksi diri. Nggak nyangka? Iya. Novel apa yang berhasil mengusik pemikiranku? All is Fair in Love and Game oleh Adhita Purwitasari. Aseli loh hasil diskonan gramediadotcom menimbulkan damage di aku :))
Berikut ini aku taruh kutipannya ya. Semoga nggak termasuk membajak.
Konteksnya, ada pria dewasa mengajak nikah wanita dewasa. Lalu wanita ini mempertanyakan apa alasannya menikah. Pria dewasa fafifu wasweswos. Dihantam dengan jawaban:
Berikut ini aku taruh kutipannya ya. Semoga nggak termasuk membajak.
"Percayalah, kamu nggak cinta sama aku, ego kamu yang cinta sama aku."
Mirip seperti itu. Mungkin selama ini aku berlagak seperti Fedi. Menganggap diriku jatuh cinta. Sementara yang cinta adalah egoku. Terhadap aku yang aku imajinasikan tentang orang tersebut. Aku menghitung kata "jatuh cinta" sejak kerja ya. Kalo diitung dari jaman sekolah kurang valid karena otak belum terbentuk sempurna *halah.
So there's a bunch of guys I think I fall in love to. But when I break it down will be like this...
"Prospektif nih biar aku bisa pindah kantor ke Semarang"
"Pasti hidupnya terjamin karena kaya raya"
"Instagram husband banget deh pasti ini"
Yang paling shallow
"We'll be so cute together" - karena punya foto di masa lalu yang bisa digunakan sebagai bahan posting from this to this.
Sungguh aku mempertanyakan kewarasanku sekarang :)) kok bisa aku berpikir seperti itu? KOK BISAAA???? It's a good thing that I never really confessed to them. Terima kasih kepada tempat sampahku yang bersedia mendengarkan....omong kosongku selama ini. I understand now how stupid I sound back then. Like a baboo.
Sekarang justru hati kecilku bertanya-tanya: jadi aku pernah jatuh cinta ke lawan jenis yang murni tanpa tendensi apa-apa nggak sih? Embuh. Aku meragukan diriku atas ini.
Semakin kesini aku merasa akal sehatku berjalan dengan cukup baik dan rasional. Aku nggak lagi meromantisasi hubungan pria dan wanita. Salah satu alesan males nonton drama korea belakangan ini ya karena aku merasa that was far from real. Takut halu kejauhan.
Inti tulisan ini apa sih? Gatau, random aja menuangkan isi kepala. Sambil menoyor diri sendiri. HAHA.
PS: seperti tulisan remaja tanggung lol auk amat ah.
"Aku punya info travel nih ke Semarang" - seorang temen kerja memberikan info begitu tahu asal daerah kami sama. Yep, bagi perantau wajib hukumnya tau transportasi apa saja yang bisa membawa pulang *ECIYEH.
Dari beragam pilihan, aku paling sreg sama kereta api. Nyaman dijalan. Pilihan banyak. Jadwal jelas. Rapi dan cocok buat manusia organized macem aku. Tapi kan namanya hidup ya, nggak semua hal yang kita inginkan itu bisa didapat. Terima kasih semesta karena nggak ada kereta api langsung Semarang - Bogor :)) kegigihan milih kereta api akhirnya sirna seiring penerapan colok colok alias swab.
Baiklah, kulirik saja Mahendra Travel ini. Toh udah ada testimoni dari temen sendiri. Nggak mungkin dia rekomen sesuatu aneh-aneh ya kan.
Aku pesen travel untuk keberangkatan Kamis. Biayanya sebesar Rp 300.000 dengan kelebihan: diantar dan jemput sampai tujuan. Yup, kamu nggak perlu ke pool travelnya. Enak? Ya enak dong bagi manusia gak punya kendaraan pribadi kayak akyuu.
Sejak pukul 18.00 sopir travelnya udah ngehubungi bakal jemput. Sampenya jam berapa? Jam 20.00. Hadee. Kirain kan ya. Macem kurir gitu ngechat pas udah deket. Taunya kagak. Ini miss banget sih karena aku udah prepare, udah ngejamak sholat pula. Yaudah gapapa. Ternyata aku penumpang kedua yang dijemput.
Sistem travelnya ini gimana sih?
Nah ini aku denger dari penjelasan sopirnya. Jadi patokan keberangkatannya tuh pukul 23.00 WIB keluar dari Jakarta. Sebelum waktunya, ngapain? Ya keliling ngejemput penumpangnya door to door. Mereka ini nungguin konfirmasi admin sampe last minutes. Begitu jamnya tet udah nggak ada penambahan penumpang, langsung cus. Kalo masih ada yang pesen tapi udah lebih dari jam sebelas itu ya ditinggal. Diarahin ikut keesokan harinya.
Saat itu penumpangnya hanya 4 orang. Kapasitas maksimal 16. Lumayaan lega, kan? Isi mobilnya ditambah 3 orang kondektur (?) dan sopir. Total 7 orang dan aku perempuan sendiri wow ternyata aku cukup bernyali.
Lewat tol nggak?
Iya. Masuk tol dari Jakarta (ga paham gerbang tol yang mana maap). Lalu keluar di Batang untuk sarapan. Kami sarapan sekitar pukul 05.00 WIB hahah too early but still dinikmati aja. No need to pay yah, sarapannya udah termasuk di tiket yang dibayarkan. Setelah sarapan itu kami nggak masuk tol lagi. Jadi Batang-Semarang lewat jalan biasa.
Nah, pros cons nya apa nih?
Kelebihannya dulu aja ya:
- Enak dong dianter jemput ga repot
- Penumpangnya 2 doang tetep jalan (kata sopirnya ya si bos berani rugi)
- Dapet sarapan
- Unit lumayan bersih
- Sopirnya paham safety driving. Unit dicek sebelum berangkat. Gatau yah ini tergantung sopir/ngga
- Boleh berhenti di SPBU pas kebelet sesuai kesepakatan
Nah kekurangannya:
- Sopir dan kondektur. Tidak. Bermasker :) bye banget yah padahal di masa pandemi gini. Sama sekali ngga ada rasa amannya.
- Di perjalanan berisik hahah biar gak ngantuk kali sopirnya
- Bau rokok :(
Perkara waktu perjalanannya panjang tuh bukan kekurangan ya. Namanya aja dijemput door to door kan. Harusnya udah tau konsekuensinya kalo buru-buru nggak bisa naik travel yang model gini. Tapi dari obrolan dengan penumpang yang udah 2x naik Mahendra Travel dia sih merasa puas. Apalagi trayeknya sampe Jogja-Solo. Tuh lumayan banget kan. Cocoknya buat yang nggak diburu waktu.
Yak demikian ulasan singkat semoga ada manfaatnya wkwk see ya~
Hola. Aku mulai overthinking lagi mendekati bulan-bulan akhir di 2021. Yang tandanya usiaku bertambah. Akkkk I don't want to get old! Haha.
Bulan September aku merasa nggak baca sebanyak di Agustus. Tapi belum crosscheck di goodreads sih. Mari kita crosscheck bersama ya!
Fiksi
Romance
1. Special Order - Alifiana Nufi
2. All That is Lost Between Us - Winna Effendi
3. Algoritme Rasa - Pradnya Paramitha
4. Savanna & Samudra - Ken Terate
5. Tarian Bumi - Eka Rusmini
Teenlit - Mystery
1. A Hole in The Head - Annisa Ihsani
Fantasy
1. Before The Cofee Gets Cold - Toshikazu Kawaguchi
Women empowerment & Human-ish (is that even a genre?)
1. A Woman is No Man - Etaf Rum
2. Sweat Bean Paste - Durian Sukegawa
Non-Fiksi
2. 148 Tips for Life - Desi Anwar
Total 12 buku. Betul ternyata lebih sedikit dibanding bulan lalu. Tidak apa. Tujuan membaca kan bukan sebanyak-banyaknya. Lebih ke apa yang didapat dan dirasakan setelah membaca *JIYAKKH.
Buku terbesar damage-nya alias nancep banget di hati: A Woman is No Man - Etaf Rum.
Buku ini udah jadi wish list-ku sejak berselancar di litbase. Ketika ada deals di amazon ya ambil lah! Dan sukses mengaduk emosi. Ceritanya tentang 3 generasi wanita Palestina: Mertua-Mantu-Cucu (aku lupa namanya HAHA). Ketiganya menjadi imigran di Amerika Serikat. Dituliskan menggunakan sudut pandang ketiganya.
Si Menantu ini tipe polos diluar tapi sebenernya suka mikir didalam. Maklum, pembaca. Ketika dia ikut suaminya pindah ke Amerika Serikat, dia pikir akan mendapatkan kebebasan dibanding di Palestina. Ternyata, salah. Peran Mertuanya disini justru menjadikan dia semakin terbebani. Menuntut punya anak laki-laki dan ketika yang dia lahirkan "hanya" anak perempuan, si Mertua memandang sebelah mata. Cenderung meremehkan malah.
Situasi nggak membaik karena dia nggak punya support system. Ibunya jauh di Palestina. Dan udah menjadi budaya bahwa perempuan yang bersuami, bukan lagi bagian dari anggota keluarga sebelumnya.
Suaminya kemana? Sebagai anak pertama, doi kerja lembur bagai quda. Macem sandwich generation gitulah. Lagi-lagi peran Mertua ini yang terus mendorong dan mendoktrin bahwa anak pertama tuh harus bisa bertanggung jawab atas keluarga. Termasuk adik-adiknya. Gila nggak? Iya, suaminya gila sampe mabuk-mabukan dan akhirnya membunuh istri (si Menantu). Hiks. Sad :"
Pada intinya lingkaran setan macam ini tuh harus terputus. Perempuan wajib berilmu. Berpendidikan. Dibuka akses pada banyak hal. Budaya patriarki jangan dipertahankan. Heran juga kenapa perempuan dipandang sebagai makhluk "kelas dua". Padahal perannya besar kan di kehidupan: melahirkan. Melanjutkan keturunan. Tapi selaluuuu laki-laki yang dinomorsatukan. Sigh. Harus kuat baca ini. Trigger warning.
Buku ter-plot twist: A Hole in The Head
Seriously buku ini vibesnya buku terjemahan! Padahal penulisnya orang Indonesia lho. Latar belakangnya di Swiss aduh cakep banget deh penggambaran bentang alamnya. Sampe aku googling dan sholawatin bisa traveling kesana *yuk aminin bareng2 yuk*
Ini tuh cerita detektif-detektifan ala bocah. Mencari penyebab kenapa penginapan ayahnya dibilang ada hantu? Sebagai anak yang kepo akhirnya cari tahu deh. Udah merinding duluan baca ini, taunya bukan buku horor :D
Favorite atau best book? Nggak ada. I think each book have their own charm gitu loh. After taste yang dikasih beda. Oh, kalo ada buku yang aku bingung apa maksudnya: Tarian Bumi. Alasan bacanya karena covernya itu cakep bener :') dan berakhir dengan: HAH? Trus ini maksudnya gimana? Alias aku nggak mendapatkan "sesuatu" dari buku tersebut. Yaudahlah ya...
***
Here goes the bookmails! Mayan boros nih bulan September :")) lagi seneng-senengnya beli di Amazon Kindle. Eh habis itu jadi ga bisa bayar karena dianggep regionnya beda. Hadeeh ga paham akutu. Doanya gini aja deh: yaAllah semoga dikasih rezeki buat beli buku original!
1. Rapijali 1: Mencari - Dee Lestari
2. Rapijali 2: Menjadi - Dee Lestari
3. Al-Masih 2 - Tasaro GK
4. The Spanish Love Deception - Elena Armas
5. The Little Book of Hygge: Danish Secrets to Happy Living - Meik Wiking
6. Before the Coffee Gets Cold: A Novel - Toshikazu Kawaguchi
7. Sweet Bean Paste - Durian Sukegawa, Alison Watts
8. My Brilliant Life - Ae-ran Kim, Chi-Young Kim
9. Black Girl Unlimited: The Remarkable Story of a Teenage Wizard - Echo Brown
10. Where the Crawdads Sing - Delia Owens
11. Wonder - R.J. Palacio
Nggak usah dicantumkan harganya ya. Lumayan bikin kaget ngapain aku beli sebanyak ini HAHA :)) PR banget buat menyelesaikan semuanya :P yang aku cetak tebal itu udah selesai dibaca kok!
So, how's your reading journey last month guys?
Subscribe to:
Posts (Atom)





