Tuesday, September 01, 2020

Membandingkan Luka

 Seperti biasa I had severe pain on my first day of period. Sejak SMA kali ya. Sakitnya nggak tertahankan. Aku bisa bilang antara hidup dan mati. Nggak lebay lho. Kenyataan emang sesakit itu. Kalo mau sakitnya ilang (dengan agak cepet) pilihannya minum pereda nyeri. Aku menghindarinya karena yaudahlah bisa ilang kan. Pas juga lagi WFH bisa sambil jungkir balik.

Dalam sehari itu aku bisa nggak makan minum sama sekali. Cuma bisa rebahan. Itupun termasuk Alhamdulillah.

"Periksa ke dokter dong!"

Udah pernah, my friend. Awal tahun ini aku USG. Nggak ada kelainan. Hanya disarankan banyak minum dan rajin olahraga, terutama di badan bagian bawah. Nah disini nggak paham standar "banyak" dan "rajin" itu seberapa. I am pretty sure I drink a lot. Ya sesuai kebutuhan lah. Rata-rata sehari 3 x 600 ml = 1800 ml. Olahraga sih yang masih kurang. Sekarang aja udah rada mendingan banyak gerak.

Lalu pas ngerasain sakitnya period ada postingan yang membuat triggered. Intinya di postingan ini bilang masih mending merasakan sakit bulanan daripada penderita PCOS. Bisa mens berupa darah aja udah Alhamdulillah, gitu katanya. I know how stupid I am to respod this situation since I don't even know her LOL but...

...yang mau aku tekankan adalah, perlukah ngomong seperti itu. Menyuruh "bersyukur, daripada... (membandingkan penderitaan dia)". Seolah-olah mengkerdilkan penderitaan dan dia itu lebih menderita daripada sakit bulanan. Proper nggak sih membandingkan luka, membandingkan rasa sakit tuh?

We have our difficulty and situation. Gak ada yang mending, coy. Kalo mending mendang mending ya maunya pilih sehat aja gimana sik :)

I mean, there's no need lah to claim yours is most difficult to deal. Marilah sama-sama mengakui bahwa rasa sakit itu wajar. Marilah menguatkan satu sama lain. Either saying, "Let's overcome this" or "It must be painful. We can do this. You can do this". Be kind, please.

No comments:

Post a comment

Halo! Terimakasih sudah membaca. Setiap komentar masuk akan dimoderasi. Untuk komentar dengan anonim tidak akan saya balas, ya. Yuk biasakan menjadi diri sendiri di dunia maya!

COPYRIGHT © 2020 · A LIFELONG JOURNEY BY LULUKHODIJAH | THEME BY RUMAH ES