Let's Stop Body Shaming! - A Lifelong Journey by Lulu Khodijah

Monday, April 16, 2018

Let's Stop Body Shaming!

Pernah nggak sih kalian dikomentarin sama orang (entah temen, keluarga atau sodara) tentang kondisi fisik tubuh?


“Kok kamu gendutan?”

Ini kalimat pertama yang dikatakan seorang temen sebut aja A pada si B yang baruuu banget menginjakkan kakinya ke kampus. Ceritanya si B ini udah lama nggak keliatan karena penelitian. Posisi mereka agak jauh dan si A ngomongnya lumayan keras. Otomatis banyak orang yang denger.

Case lain, baruu aja. Ini baru aja. Saya hang out (azek) sama cewek-cewek KKN. Trus sengaja nge-share foto berempat ke grup KKN. Dan komentar yang didapat adalah,

“Ih habis KKN kalian pada tambah ndut ya?”

INI YANG NGOMEN COWOK GAES BUKAN CEWEK. Yha walaupun saya nggak membenarkan juga sih cewek wajar melakukan body shame. Tapi tu :””)

Oiya, kalian udah tau body shame(-ing)? 

“The action or practice of humiliating someone by making mocking or critical comments about their body shape or size.”

THEIR BODY SHAPE OR SIZE. Berkomentar tentang fisik dengan tujuan tertentu. Di instagram, beberapa influencer (ofkors good influencer) udah ada yang stand up buat ngajak berhenti body shaming. Salah satunya video Gitasav yang ini.



Beberapa contoh body shaming seperti komentar yang udah saya tuliskan diatas. Jelas-jelas mereka mengomentari bentuk tubuh. Entah dengan tujuan apa. But, here’s the explanation that I hope you stop doing body shaming.

Kita nih manusia nggak diciptakan dalam bentuk yang sama. Jenis kulit yang sama. Metabolisme tubuh yang sama. Hasilnya adalah ada yang dikategorikan kurus, gendut, berkulit cerah, kulit gelap, dan masih banyak lagi perbedaan. You name it. Dan, perbedaan itu sebenarnya bukan masalah. Kenapa sih, kita selalu mengomentari perbedaan dan menjorokkan orang ke satu hal seakan-akan hal itu adalah wajib?

Contoh:

Cewek gendut DIKOMENTARIN. Loh, emangnya kenapa gitu kalo gendut? Apa mereka berdosa karena gendut?

Cewek berjerawat. Emangnya mau dia berjerawat? Kan enggak.

***

“Kan Cuma bercanda. Jangan baper deh”
“Itu tandanya temen deket”

Hmm saya nggak setuju. Pertama, masih banyak bercandaan lain yang lebih berkelas dan nggak menyakiti hati. Kedua, berteman dekat bukan berarti menjustifikasi kalian untuk berkata seenaknya.

Coba pikirkan, apa kalian tau orang yang gendut ini berusaha keras untuk menurunkan berat badannya? Dengan mengurangi makan, memperbanyak olahraga, dan banyak lainnya. Betapa stress nya dia ketika berat badannya segitu-gitu aja?

Bagaimana dengan si cewek berjerawat. Berapa banyak yang dihabiskan untuk mendapatkan kulit mulus? Pengorbanan dia gonta ganti dokter dan krim wajah? We never know other’s story. So let’s be kind. Don’t give them discourage words.

Bagi kalian yang sering ngasih komentar kayak gini, saya percaya bukan maksud kalian menghina. Maybe you still don’t know it’s considered as rude? Nah makanya pelan-pelanlah mengubah dari sekarang. Saya juga sedang berusaha.

Pernah saya ketemu adik tingkat. Doi keliatan kurus, emang. Hampir aja hampir banget saya ngucapin, “Kamu kurusan ya?” beberapa cewek bakal seneng banget ya dibilang kayak gini. Tapi saya pikir dia enggak. Karena emang dia kurus. Alarm di otak saya bunyi, “DON’T SAY IT! NO! DON’T!” dan akhirnya yang saya ucapkan, “Apa kabar? Sehat kan?” terdengar lebih baik, bukan?

***

Selain emang nggak tau, saya juga merhatiin toko penjual pakaian mendorong untuk melakukan body shaming. Dengan memberikan caption, “Kerudung ini bakal bikin pipi kamu keliatan tirus” LAH EMANG KENAPA KALO TEMBEM IS DAT A PROBLEM? Tembem bukanlah dosa. Tembem adalah lucu. Hidup tembem *lah*

Ya, segitunya. Kadang kita nggak sadar ya kita digiring untuk menciptakan “body standard” yang ujung-ujungnya ke “body shaming”? Now you know. Berhentilah untuk mengomentari fisik orang lain (dan berhentilah untuk menulis caption "Abaikan pipi" atau "Jidat nggak kekontrol" dan sejenisnya). Its. Not. Cool.

6 comments:

  1. Kalau menurut saya, iya, body shaming itu gak bagus, gak penting.

    Tapi satu hal sih, semisal kita sebagai objek body shaming.....kadang itu gini, we can't stop someone giving opinion about us. Whether it's performance, behavior, even body.

    Kalau menurut aku tentang kasus ini, berhentiin dulu dari kita. Tentang orang lain, yaudah. Karena kita hidup dan terlihat di mata mereka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seenggaknya kita ngasih awareness ke orang lain bahwa body shaming itu tidak baik :)

      Delete
  2. aduh setuju banget luluuu
    komentar begitu justru makin nyakitin kalau yang bilang orang deket
    hahahha nusuk bok.
    oh aku jadi inget2 apa pernah ngomong begitu ke fisikku sendiri ya? hmm

    dan iya gendut ga dosa yang penting sehat jangan sampe obess

    big is beautiful, as long as you love your body
    but being healthy also a priority

    aku pernah berat badan sampek over dan itu gak enak jatohnya, males gerak, badan berasa berat, gampang cape, perubahan hormon yang ngefek banget ke badan daaan ada penyakitnya pula.

    sampek sekarang masih ngebatesin makan dan jarang makan daging karena masih takut sakitnya balik dan udah telanjur biasa juga makan lauk tahu tempe mulu :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, tau diri aja batasan tubuh yang sehat kayak gimana. Concern nya bukan ke shape tapi lebih healthy life. Wah, iya? Sehat2 mbaak :D

      Delete
  3. Pas kurus dulu dibilang, "Kayak tiang listrik," atau "rata banget, ya,"
    Pas habis melahirkan dikomen, "Kok bisa segede ini,"
    Pas udah turun sekitar 25 kg dikomen lagi, "Bagusan dulu. Ndut. Lucu. Gini gak pantes,"
    Cuma bisa menghembuskan napas panjang aja karena mau bales, "Lah kamu tambah item," rasany gak tega
    Setuju banget banget sama tulisannya
    Masih banyak kok becandaan lain yang enggak receh

    ReplyDelete

Hai! Terima kasih sudah membaca. Silahkan berkomentar dengan bahasa yang santun ya :)