college

Pengalaman Belajar Lapangan (1)

November 24, 2017,3 Comments

Kayaknya baru kapan hari nulis tentang PBL. Tau-tau PBL-nya udah kelar aja. Padahal niat awal mau diceritain tiap minggu kegiatannya itu ngapain. Emang ya ekspektasi dan realitas nggak bisa disatukan *sigh*.






Untung ada pembaca setia lol yang nagih cerita saya. Jadinya termotivasi buat nginget-inget lagi dari awal. Perlukah saya menyapa pembaca ini di blog? Hahaha. Faizah, dibaca sampe kelar ya tulisan ini!

So, PBL dilaksanakan selama 5 minggu. Sabtu Minggu pun juga tetep berangkat, di aturan awalnya. Tapi namanya juga mahasiswa, ada aja caranya buat cari celah refreshing. Trust me, it feels suffocating being in the same place with same people for 35 days.

Di awal mulai PBL kami udah mengatur nih timeline kegiatan. Minggu pertama ngapain, kedua ngapain, daaan seterusnya. Kami udah berusaha banget buat melakukan timeline itu secara serius. Walaupun akhirnya agak-agak melenceng dikit. Nggak terlalu jauh kok. All is well.

Minggu pertama

Hari pertama yang seharusnya Senin digeser karena bertepatan dengan persiapan kedatangan Jokowi ke kampus. Saat Jokowi datang, kami nggak bisa lihat. Sedih deh hilang kesempatan buat dapet sepeda! Haha. Kami mengikuti upacara penerjunan tim PBL di Kantor Kecamatan Tembalang. Disitu kami dipertemukan oleh bapak camat Tembalang dan lurah Kedungmundu. 

Selesai upacara langsung meluncur ke TKP alias posko. Apa yang ada di benak kalian saat denger kata “posko”? Rumah? Ternyata...bukan sodara-sodara. Yang kami tempati ini Balai Kelurahan. Kebayang nggak, kayak gimana? Semacam aula besar dan luas buat pertemuan warga. Kayak gitu. Kenapa dapet di Balai, karena rumah dinas Pak Lurah yang ada disampingnya dipake untuk posko KKN universitas swasta. It’s okay lah. Selama ada Wi-Fi dan colokan kami bisa bertahan hidup kok lol kids jaman now.

Budayakan kula nuwun

Minggu pertama kami sowan ke kelurahan, FKK (Forum Kesehatan Kelurahan), Gasurkes (Tenaga Surveilans Kesehatan), dan Ketua Pokja 4. Ditambah ke Puskesmas Kedungmundu juga sebagai kepanjangan tangan pemerintah yang ada di masyarakat. Khususnya kelurahan Kedungmundu. Kulo nuwun semacam ini tuh perlu banget lho biar kita bisa diterima di masyarakat. Nggak yang tiba-tiba dateng terus minta ini itu.



Saya yang diamanhi jadi Penanggung Jawab bidang Gizi ikut juga untuk dateng kerumah Ketua Pokja 4. Eh tau nggak Pokja 4 itu apa? Jadi gini kan di PKK itu ada banyak pokja yah. Nah pokja 4 ini yang ngurusin kesehatan masyarakat kayak posyandu, KB, dll. Senangkep saya gitu sih. Correct me if I’m wrong ya! Dari pembicaraan dengan beliau, yang paling saya inget itu satu. Bahwa untuk jadi kader kesehatan (khususnya posyandu) harus MAU dan MAMPU.


Maksudnya gimana? Gini, kenapa harus MAU? Yha kalo nggak mau nantinya ngerjakan tugas nggak ikhlas dong. Ujung-ujungnya program nggak jalan. Kenapa juga harus MAMPU? Karena bakal ada saat-saat dimana harus mengeluarkan dana pribadi. Kedua hal ini saling berkait, nggak bisa dipisahkan. Dan di lapangan realitanya nggak gampang nemuin kader yang punya 2 karakter ini.

Maka dari itu berterima kasihlah kepada kader di wilayah kalian yang udah mau bersuka rela untuk kerja sosial demi kesehatan masyarakat yang lebih baik!

Berharganya data

Nah selain ke masyarakat kami juga ke puskesmas untuk meminta data pencatatan terkait Gizi dan KIA. Jangan dibayangkan sekali minta langsung dapet data yang bisa langsung dipake. No! Saya nggak ingat berapa kali harus bolak-balik ke puskesmas saking seringnya demi hal yang bernama “data” ini.

Perihal data ini emang lucu-lucu menggemaskan, kalo nggak mau dibilang bikin bingung. Haha. Awalnya kami berniat minta rekap 3 tahun bekalangan aja. Tapi tuh susah banget kayak ada data yang pencatatannya per bulan. Ada data yang pencatatannya per tahun. Ada data yang ditulis tangan. Ada yang udah rapi terketik. Belum lagi saat di-cross check ke data kader, 

“Loh kok angkanya beda?” *garuk-garuk tembok*

Disitu saya merasa sedih gaes. Ujung-ujungnya kami pake data tahun 2017 aja dengan analisis tiap bulan mulai Januari-September.

Udah dapet tuh data mentah. Lanjut ke pengolahan. Masalah pengolahan data ini nggak bisa maen-maen. Ibarat pondasi rumah, sekali aja ada salah maka bangunan diatasnya nggak bakal bertahan lama. Di PBL ini juga seperti itu. Semua langkah-langkah harus dilakukan secara BERURUTAN. Nggak boleh part ini diskip dulu baru ke part lanjutnya. Nggak bisa. Alhamdulillahnya di kelompok saya ada anggota yang paham tentang data karena beliau posisinya udah kerja. Di puskesmas pula.


Berhati-hatilah saat menggunakan data. Dengan data ini literally bisa melakukan apa aja. Makanya nggak heran start-up kayak Go-Jek banyak yang minat. Karena mereka punya apa? Data. Data tentang konsumen, behaviornya, their interest, dll. Eh maapkan jadi kemana-mana ya lol.

Menganalisis data

Masih kuat bacanya nggak? Haha. Ternyata panjang kali lebar banget yah cerita PBL ini. Padahal baru minggu pertama loh *terharu*.

Data mentahan yang didapat diolah untuk dibuat analisis GAP, tren, dan besar masalah. Ketiga analisis ini diperlukan karena dalam melihat masalah kesehatan nggak bisa dilihat Cuma dari besar masalah aja, misalnya. Harus dari berbagai sudut pandang. Kalau Cuma satu sudut pandang aja dikhawatirkan pemilihan masalahnya nggak sesuai dengan apa yang dialami masyarakat di lapangan. Nah loh, ribet ya? Iyalah.


Ada tuh dosen yang bilang, kadang orang bukan nggak ngerti cara penyelesaian masalah. Tapi pilih yang mana tergolong masalah aja belum tepat. Ya gimana tau penyelesaiannya ya kan? 

Buat saya yang peminatannya bukan di statistik ataupun administrasi kesehatan, I can say it was hard. It wasn’t what I learned before. Huhu. I wanna cry. Merasa kayak nggak tau apa-apa gitu. I feel insecure at that time. Tapi ya mau gimana lagi, yang namanya Sarjana Kesehatan Masyarakat emang dituntut serba bisa. So I decided to learn, learn, and learn again. 

Selesai analisis data, berlanjut ke menentukan 1 aja masalah yang dianggap benar-benar masalah. The real problem we have to solve menggunakan metode MCUA. Silahkan cari tau sendiri metode ini kayak gimana ya if you’re curious enough *wink*

Metode ini nggak yang ribet banget gitu, lebih menitikberatkan dari kesepakatan kelompok aja. Dan, dari semua proses diatas keluarlah satu masalah yang harus diselesaikan. Cling! Kurang Energi Kronik (KEK) pada ibu hamil.

***

Hectic amat yak minggu pertama? Baru sadar juga nggak terlalu banyak foto related yang bisa dimasukin disini. Kebanyakan foto aib anak-anak lol. Lanjutannya di postingan selanjutnya aja biar nggak kepanjangan. See you!

You Might Also Like

3 comments:

  1. Jadi ingat kegiatan PM (Posdaya Masjid), program pengabdian masyarakat dr kampus utk mahasiswa sem 5 yg saya jalani semester lalu.

    Hmmm, tujuan mulianya utk pemberdayaan masyarakat berbasis masjid. Tapi......malah lebih banyak nonton film nya. Soalnya ya begitu deh (kebanyakan alasan). Rasanya mau menyesal krn waktu terbuang, tapi kesel duluan gara2 gak ada sinyal wkwk.

    Kakak yang semangat ya :)

    ReplyDelete
  2. kak luluuuu
    ayo lanjut ceritanya!! aku ngikutin terus!!

    ReplyDelete
  3. Ah, baca ini jadi pengen KKN lagi :) Rindu banget satu rumah sama teman-teman dan tiap hari jalan-jalan di desa hehe. Kadang jauh dari kota besar itu perlu ya.

    ReplyDelete

Hai! Terima kasih sudah membaca. Silahkan berkomentar dengan bahasa yang santun ya :)