college

Plus Minus Jadi Aktivis Kampus

December 03, 2016,10 Comments

Di penghujung tahun menandakan banyak hal yang harus diakhiri. Setiap ada akhir maka itu berarti ada awal yang baru pula. Begitu juga dengan kehidupan organisasi yang sudah saya jalani selama 2 tahun belakangan. Rasanya masih belum percaya kalau 2 tahun sudah terlewatkan.

Dari awal jadi mahasiswa baru saya memang bertekad tidak akan menjadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang). Why? Karena...akan membosankan. Ya gak, sih? Ketemunya cuma orang itu-itu aja. Ditambah lagi sistem perkuliahan yang memaksa untuk sekelas bersama orang yang sama selama 2,5 tahun.

Aktivis kampus? Yang saya maksud disini mahasiswa yang aktif organisasi ya. Boleh 1, 2, 3 atau berapapun. Menurut saya itu semua termasuk dalam aktivis. Pokoknya selain mahasiswa kupu-kupu, deh. Maka dari itu saya juga boleh dong menyebut diri saya sebagai aktivis kampus? Hehe. Meskipun jam terbangnya yah apalah saya ini butiran jas-jus aja di pinggir gelas.

***

Banyak yang saya rasakan selama 2 tahun berorganisasi. Oh ya, btw organisasi yang saya geluti ini bergerak di bidang kejurnalistikan. I'm a proud journalist of Lembaga Pers Mahasiswa Publica Health.

Masih banyak loh ternyata maba-maba gitu yang nanya kenapa sih berorganisasi? Memang organisasi itu wajib ya? 

Jawabannya: nggak wajib. Hanya saja organisasi ini diperlukan untuk menampung bakat dan minat kita yang mungkin tidak bisa tersampaikan saat kegiatan belajar-mengajar. Juga untuk meningkatkan soft skill disamping hard skill yang didapat selama kegiatan belajar-mengajar dengan dosen.

Soft skill ini penting banget lho. Jaman sekarang orang nggak bisa cuma mengandalkan kecerdasan otak belaka. Kalo orang itu nggak bisa bersosialisasi, kecerdasannya kurang berguna untuk sekitarnya. Mengutip dari perkataan entah siapa lupa, ini saya baca di koran. Intinya beliau ini mengatakan zaman sekarang perusahaan lebih memilih lulusan yang memiliki karakter. Kenapa? Karena keahlian, kemampuan, dan hal-hal lain yang sifatnya keilmuan itu bisa dipelajari. Bisa diberikan lagi melalui pelatihan-pelatihan. Sedangkan untuk membangun karakter butuh waktu yang lama. Pun nggak semua pelatihan pembentukan karakter ini bisa berefek cepat. Karena ya itu tadi, kembali pada pribadi masing-masing kan dididiknya kayak gimana. 

***

Biar lebih greget, saya ceritain dulu ya minusnya jadi aktivis kampus. Hahaha. Kalo boleh jujur minusnya cuma satu kok: harus banyak berkorban. Iya, "cuma" berkorban. Tapi berkorbannya banyak nggak cuma satu aja.

Berkorban waktu. Di saat mahasiswa lain selesai kuliah bisa langsung ngacir atau hang out, kami masih harus meluangkan waktu untuk rapat. Entah membahas proker atau permasalahan yang ada. Saat weekend pun nggak selamanya bisa leha-leha. Masih ada pelatihan-pelatihan wajib yang harus diikuti untuk seluruh anggota. Malam hari ketika tugas kuliah selesai masih harus juga mengerjakan laporan kegiatan ini itu. Saya pribadi berkorban waktunya untuk: liputan, nulis berita, editing, bikin link share di berbagai media sosial, ngejarin deadline para staff. Tough life I say! LOL.

Berkorban tenaga dan pikiran. Wuih, nggak terhitunglah kayaknya ini. Hahaha. Di saat udah selesai ngerjain tugas masih harus mikirin kemajuan program kerja. Keutuhan lembaga. Bercapek-capek ria ngerjain laporan pertanggung jawaban, ngerjain job desk yang ada.

Berkorban materi. Pengeluaran tambahan untuk makan saat rapat (anak rumahan uang sakunya cuma buat jajan bukan makan besar LOL), bensin buat kesana kemari, bayar uang kas, bayar seragam. Dan masih banyak lainnya. Jadi jangan kaget ya kalo kita para aktivis kampus suka kreatif apa-apa didanusin untuk menghasilkan sekeping rupiah *lebhay*.

But, don't you worry. Beneran lah plusnya itu buanyak banget. Pol-polan.

Bisa kenal banyak orang. Ea ini standar ya. Di organisasi saya itu setidaknya ada 3 angkatan tiap periode. Jadi bisa dibayangin kan berapa banyak orang yang bisa dikenal? Manfaatnya apa? Nih kalo seangkatan bisa dikepoin tentang dosennya. Atau tugas di mata kuliah yang sama. Beberapa kali saya pernah juga minta tolong mengenai tugas dan sebaliknya. Nggak ada lah namanya pelit berbagi info.

Kakak tingkat buat minjem modul-modul kuliah. Sering juga dikasih nasihat kehidupan seputar kuliah. Percayalah nasihat ini bermanfaat untuk mengatur strategi biar selama kuliah nggak stress. Menjalin hubungan dengan orang banyak juga nggak ada salahnya kan. Kita nggak pernah tahu lho posisi orang di hidup kita itu kayak gimana. Bisa jadi di masa depan nanti orang tersebut dipilih oleh Allah buat jadi perantara pertolongan dari-Nya. Makanya ini nasihat dari uti Dhigo kakaku yang baik bangetttt bilang gini "Jadi orang mah yang penting jalin aja hubungan baik sama orang lain. Nggak usah ada kebencian dan macem-macemnya." Setuju!

Nggak cuma itu aja. Bersosialisasi dengan banyak orang bisa memperluas wawasan dan pemikiran. Nggak ada deh yang namanya aktivis kampus itu pikirannya sempit. Lalu toleransi dengan perbedaan pendapat jadi bukan hal yang baru lagi. Bukan toleransi dalam aqidah loh, ya. Hehe.

Mengenal dan memahami karakter orang lain juga bisa meningkatkan skill gimana sih mengatasi orang yang karakternya A, B, C, D sampe Z? Jangan harap di organisasi orangnya rajin semua. Atau berani show up semua. Enggak. Ada yang baperan ketika dikasih masukan, ada yang malah bodo amat ngga pernah dengerin omongan orang. It's challenging.

Menyalurkan bakat dan minat. Pilihlah organisasi yang bisa menyalurkan bakat dan minatmu. Kenapa? Ya biar nggak menyesal saat kuliah nggak bisa ngapa-ngapain. Heu. Dimana lagi gitu mahasiswa kesehatan tapi nyari-nyari beritanya malah tentang UKT naik? Haha.

Sebagai ajang pengembangan diri. Jangan pernah beranggapan "Ah, ngapain gabung organisasi. Aku kan orangnya pemalu. Nggak bisa ngomong." JUSTRU ITU POINNYA. Percayalah berorganisasi bakal bikin diri kamu berkembang. Saya nih di SMA nggak pernah ikutan ekskul apa-apa, nekad aja join 2 organisasi sekaligus. Nyatanya? Keterima.

Awalnya malu - malu kucing buat nyapa orang aja, sekarang mayan bisa senyum dikit ke orang. Dari awalnya tiap mau nanya mikir terus biar pertanyaannya keliatan berbobot, sekarang kalo mau nanya ya angkat tangan aja tanpa perlu ragu apakah keliatan bodo ato nggak pahaman. Dari awalnya ngomong didepan umum tremor, nggak bisa atur suara (kadang masih sih.....) sekarang mendingan lah.

Time management, leadership, kepercayaan diri, team work, banyak banget pengembangan diri yang saya dapetin. Di organisasi saya juga diberikan pelatihan public speaking, desain, kepenulisan, yang pastinya lebih intens daripada ikut pelatihan yang diadakan secara umum. Soalnya pelatihan ini udah memetakan kebutuhan dari para pengurusnya jadi insyaAllah nggak salah sasaran. Huehue.

Bisa "deket" birokrat kampus. Percayalahhhh kalo dikenal sama birokrat kampus itu asyique. Banget. Ngurus apa-apa jadi gampang. Dipermudah karena udah kenal. Trus seakan-akan kita jadi orang yang pertama tahu isu apa yang lagi berkembang *ea*.

Dapet free-pass acara. HUAHUAHUA ini sih karena saya anak pers ya jadi dapet gratisan. Seneng? Seneng bangetlaa apalagi pas pembicaranya itu yang saya kenal *lebih tepatnya tau aja LOL* dan materinya oke punya.


Daaan yang pastinya dapet "keluarga" baru yang penuh perhatian dan kejutan #Azek. Eh beneran lho secara nggak langsung anak-anak kelas saya yang bergabung di organisasi yang sama itu cenderung lebih dekat satu sama lain.

Tapiii itu semua nggak akan bisa didapat kalau tujuan organisasi cuma buat nyari jabatan. Dapetnya ya capek doang. Yang penting tujuannya itu berkontribusi untuk organisasi dan yang lebih penting lagi: mau membuka diri untuk hal-hal yang baru. Nggak harus dipancing dulu buat ngikutin ini-itu. Nggak harus didorong dulu buat melakukan kegiatan. Selalu mau untuk mencari tahu, mau untuk membuka diri pada hal-hal baru, insyaAllah banyak manfaat yang bisa didapat.

Terakhir: jangan sampai lupa sama kuliah ketiga berorganisasi. Apalagi lupa sama Allah. Hihi :D

You Might Also Like

10 comments:

  1. salut buat yg aktif berorganisasi, jaman kuliah dulu nggak aktif blas hehehe. jadwal praktikum menggunung. PAs tahun ke 3 mulai deh. Yg jelas nambah temen dan pola pikir kita tambah sistematis n oke

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi sebenarnya nggak cuma lewat organisasi saja sih untuk pengembangan diri. masih banyak jalan lainnya :D

      Delete
  2. Menjadi seorang siswa dengan menyandang kata maha sangat merugi jika hanya kupu-kupu. Akademik penting namun aktif di organisasi tentu akan menambah nilai lebih dr segi skill, kemampuan sosialisasi serta organisasi itu sendiri. Salut sama mbak luluuk 😁 selamaat berjuang di semester akhir. Salam kenaal 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. yeayyy the real life begins now haha. salam kenal :D

      Delete
  3. aku sendiri cuma jadi aktivis aktif ditahun pertama
    setelah itu lebih banyak nonaktif dan memilih untuk jadi kupu-kupu karena pengin lulus cepet, buat aku sendiri jadi kupu-kupu nggak pernah membosankan karena kita bisa mencoba hal2 baru diluar organisasi contohnya nyari duit hahha
    nampaknya lulu sama kayak aku dulunya persma juga. dan dasarnya aku lebih suka tulisan dihargai uang karena bisa nyambung hidup dibandingkan dihargain dgn jabatan di organisasi.
    karena itu aku memilih menulis untuk majalah yang berbayar :) dasarnya matre
    tapi sama juga sih CV jadi keren LOL ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. poinnya sih sebenarnya yg penting selama kuliah nggak cuma akademis aja yg dikejar ya mbak tapi juga ada soft skill lain yg didapat meskipun gak harus dari organisasi :D

      Delete
  4. Tosss Mba, dulu saya juga aktif di pers mahasisa, memberi banyak pengalaman :D

    ReplyDelete
  5. Kuliah memang penting, tapi ikut organisasi juga penting. aku kuliah di Australia, gabung organisasi PPIA disana. lumayan lah, dapat berbagai penglaman baru..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuiiih pasti kalo organisasi Indonesia di luar negeri gitu lebih berasa ya kekeluargaannya *sotoy x)

      Delete

Hai! Terima kasih sudah membaca. Silahkan berkomentar dengan bahasa yang santun ya :)