Sunday, July 12, 2026

Summer Trip to Jeju! - Day 2

Hari kedua di Jeju dimulai setelah subuh. 



Semua udah di-briefing untuk bangun sebelum matahari terbit. Ada satu yang kami kejar, yaitu momen matahari terbit. Tempatnya pun spesial, sebuah tempat yang masuk dalam daftar UNESCO World Natural Heritage Site.

Seongsan Ilchulbong



Tempat ini merupakan fenomena alam terbentuknya kerucut (tuff cone) setinggi 182 meter yang disebabkan oleh letusan hidrovulkanik ribuan tahun lalu. Dilihat dari ketinggian bentuknya seperti mangkuk cekung. Apakah pengunjung bisa lihat? Enggak. Hanya bisa keliatan kalau liat pakai drone misalnya.


Titik ini menjadi bagian paling timur, dan terkenal untuk berburu keindahan matahari terbit. Maka dari itu tempat ini udah dibuka 1 jam sebelum matahari terbit. Waktu kami kesana agak bingung area mana yang gratis dan mana yang berbayar. Alhasil kami bayar aja deh cari aman, per orang 5000 KRW.


Yang kami lakukan apa? Yaa..bengong memandang matahari terbit. Rasanya tenang, meski banyak pengunjung. Kami sama-sama tau untuk menjaga kesyahduan momen ini *eak.

Area ini terbilang luas. Pengunjung bisa mendaki sampai puncak, kalau mau. Kami? Cukup dibawah saja. Hehe. Lalu ada penampilan haenyeo atau penyelam wanita Jeju di jam 2 siang. Kalau mau liat bisa datang pada waktu tersebut.







Puas menghabiskan waktu di sisi timur Jeju, kami beranjak berganti hotel ke daerah Seogwipo. Tapi sebelumnya, nggak afdhol dong nggak cari tahu lebih lanjut tentang haenyeo. Jadilah kami menyambangi Jeju Haenyeo Museum.

Jeju Haenyeo Museum



Museum yang didedikasikan untuk Haenyeo. Apa sih, atau siapa sih haenyeo itu? Mereka ini para penyelam perempuan ikon Jeju. Para pencari nafkah yang menyelam tanpa peralatan modern seperti tabung oksigen. Masih tradisional! Haenyeo sendiri juga sudah terdaftar dalam Warisan Budaya Takbenda UNESCO.

At this moment, I think Indonesian government should learn how to preserve our culture and history. Agar nggak ada lagi momen berantem dengan negara lain karena tuduhan klaim budaya. But, looking at our situation right now, do they have that kind of spirit? When all their focus is to enrich themselves? Ah, entahlah.

Balik lagi ke haenyeo. Peran haenyo disini sangat besar. Aku merasa jiwa feminim dan girl power begitu kuat. Mereka mencari nafkah untuk keluarganya, berserikat, bahkan sampai mendonasikan sebagian penghasilannya untuk membangun sekolah di wilayah masing-masing. Haenyeo juga menggambarkan perlawanan pada masa penjajahan Jepang. Mereka yang terdampak karena pajak penjajah, bersatu untuk melawan. Sungguh perjuangan :')



Didalam museum ada tiga ruang pameran utama, berkisah tentang replika rumah haenyeo, pakaian tradisional, alat makan, sampai bagaimana pakaian penyelamnya ini berevolusi dari masa ke masa. Sebagian besar koleksi disini donasi dari para haenyeo. Jadi keautentikannya bisa dijamin. 

Saking detailnya museum ini dipikirkan, di belakang bangunan ini langsung menghadap pemandangan laut Hado-ri dan rumah-rumah haenyeo. Setelah melihat koleksi, naik ke lantai observasi sambil membayangkan bagaimana kehidupan haenyeo.


Di masa kini, kondisi haenyeo bisa dibilang cukup mengkhawatirkan. Diperkirakan jumlahnya tinggal 3000an aja, dan laju regenerasinya sangat lambat. Generasi muda jarang mau "berkarir" menjadi haenyeo, sebab selain kurang stabil, membutuhkan fisik yang kuat (harus menyelam berjam-jam per hari).

Selain itu, krisis iklim juga menjadi tantangan. Dengan peningkatan suhu air laut, terumbu karang memutih. Lantas populasi rumput laut berkurang. Dampaknya? Tentu hasil buruan laut seperti abalon, kerang dan bulu babi jauh berkurang.

Di sisi lain, pemerintah terus berusaha untuk melestarikan. Ada jaminan sosial dan kesehatan, sekolah haenyeo, dan integrasi dengan pariwisata. Salah satunya melalui pertunjukan di Seongsan Ilchulbong tadi.

To be honest, di satu sisi aku merasa kok mereka jadi kayak "tontonan" ya? Macam sirkus yang harus perform. Di sisi lain, itu cara mereka bertahan hidup. Well, I hope they can live and preserve this culture for long long time.

Kalau kamu tertarik tentang haenyeo, ada beberapa drama korea yang memasukkan kisah haenyeo didalamnya. Seperti Our Blues, Welcome to Samdal-ri, dan yang terbaru drama IU When Life Gives You Tangerines.

Jeongbang Waterfall



Destinasi ketiga di hari ini yaitu sebuah air terjun. Aksesnya mudah dan terjangkau dengan jalan kaki dari hotel. Walau setelahnya capek banget bookkk dengan tangga yang curam di air terjun ini. 

Eh di jalan disapa sama warga lokal yang mau hiking. Dipuji karena bisa bahasa Korea. Hihi. Pujian yang sangat umum untuk foreigner :P




Apa istimewanya Jeongbang Waterfall? Dengan biaya 2000 KRW pengunjung bisa menikmati air terjun pemegang predikat satu-satunya air terjung di Asia yang langsung jatuh dari surga ke laut. Harus hati-hati untuk kesini, isinya batuan tajam dan terjal. Herannya masih penuh dengan manusia :)) I think we're curious mind dan pengen lihat seberapa kerennya air terjun ini.


Oh ya, perlu pakai windbreaker juga agar terhindari dari enter wind alias masuk angin.

Seogwipo Maeil Olle Market



Lelah berkelana, kami menikmati malam di Seogwipo Maeil Olle Market. Bentuk pasar di Korea tuh ternyata mirip-mirip bangunannya. Kalau udah pernah liat Mangwon atau Namdaemun, ya kurang lebih seperti inilah.

Isinya tenan makanan berbagai macam. Ada 3 hal yang mendominasi, 1) toko oleh-oleh 2) babi hitam 3) seafood. Kami sempat jajan jeruk kering yang dibalut yogurt, enak! Asem seger gitu. Recommended deh kalau ke Jeju.


Adapun makanan lain ya standar sih~ kata temenku yang pesan babi, memang lebih enak karena lemaknya kerasa banget. Kami hanya "OOHHH...." sambil melihat dia menikmati kudapannya. LOL.

Saat belanja-belanja gini, kami mengamati loh. Toko jual oleh-oleh baik di Udo, Seongsan Ilchulbong, maupun Seogwipo ini harganya terstandar. Contoh, harga parfum di range 10.000 - 12.000 KRW. Harga topi jeruk 10.000 KRW. Piyama jeruk 18.000-20.000 KRW. Bahkan di hotel yang kami kira bakal mahal, harganya cuma beda 1000 KRW aja.

Salut sama regulasi harganya. Mau belanja dimana pun nggak akan merasa rugi. Di sisi konsumen nyaman, sisi penjual tinggal berpasrah dengan rezeki. Hehe. Rata-rata penjualnya ramah di Seogwipo. Bahkan di satu toko, mereka effort pakai alat penerjemah untuk ngasih tau informasi. Pas tau kami dari Indonesia, eh lagu tabole bole itu disetel dong. Haha. Terniat :))

Keramahan seperti ini yang bikin semangat menggerakkan perekonomian Korea (alias belanja :P). Hari kedua ditutup dengan berpayung menuju hotel. Berlindung dari hujan rintik-rintik~

Stay tune untuk hari ketiga!

Post a Comment

Halo! Terimakasih sudah membaca. Setiap komentar masuk akan dimoderasi. Untuk komentar dengan anonim tidak akan saya balas, ya. Yuk biasakan menjadi diri sendiri di dunia maya!