Saturday, March 21, 2026

Ramadan di Negeri Ginseng

Rasanya gimana?

  
Sendu. Syahdu. Rindu. Apa yah? Segala perasaan akan kerinduan akan kampung halaman dan hiruk pikuknya menjadi satu.

Dari awal aku udah tau akan menjalani Ramadan, Idul Fitri dan Idul Adha di perantauan. Dimulai dari Ramadan, tentu nggak semeriah di Indonesia. Perkuliahan berjalan seperti biasa. Resto tetap buka dan menyediakan makan minuman. Dugderan? Pawai Ramadan? Apa ituu? Azan aja harus dari aplikasi handphone.

Hanya diri sendiri yang harus berusaha keras mencari kegiatan Ramadan. Kalau bukan, siapa lagi ya kan? Misalnya buka bersama, salat tarawih berjamaah, atau iktikaf. Alhamdulillah selama Ramadan aku mengikuti khataman One Day One Juz bersama Rumaisa Korsel. 

Bagi mahasiswa Indonesia, banyak organisasi yang mengundang untuk buka bersama. Salah dua yang kuikuti yaitu dari Yonsei Indonesia Association (YIA) dan Persatuan Pelajar Indonesia di Korea Selatan (Perpika). 


Kami berempat mahasiswa Indonesia Yonsei yang senasib sepenanggungan lewat beasiswa KOICA pun mengadakan bukber mandiri, hehe. Bukber dengan Perpika ini kayaknya harus diabadikan di satu tulisan terpisah deh. Karena spesial pake telor ada guest star para casting Clash of Champions cabang Korea!

Puasa 1447H di Korea lama waktunya mirip dengan Indonesia. Subuh sekitar jam 5 lalu buka di jam 5-6 sore. Ditambah masih musim dingin, semuanya terasa dimudahkan. Nggak ada kendala yang cukup berarti.

Lalu, pertanyaan selanjutnya. Ada nggak yang menyelenggarakan tarawih?

Ada dong! Lagi-lagi harus bersyukur memang. Diberikan kelonggaran waktu untuk salat DAN ini penting sih. Ada 2 masjid terdekat yang aksesibel. Masjid mana aja tuh?

1. Seoul Central Masjid (https://naver.me/GeURdG2x)


Masjid terbesar di Seoul (kalau nggak salah di Korea?). Menyediakan iftar dengan sistem kupon. Sayangnya aku nggak pernah dapet karena harus datang minimal 30 menit sebelum Magrib. Walaupun begitu, jamaah bisa mudah mendapatkan makanan halal di banyak resto sekitar masjid.

Salat Isya dan Tarawih dimulai pukul 20.00 setiap harinya. Disini, tanpa kultum yah. Jumlah rakaatnya 11. Sama dengan jumlah yang biasa kulakukan. 

Di 10 hari terakhir Ramadan menyelenggarakan iktikaf juga. Tapi untuk makan sahur nggak ditanggung. Lagi-lagi sayang sekali aku nggak sempat untuk iktikaf huhu :')

2. Sinchon Masjid (https://naver.me/5WOtMS3N)


Kalau nggak karena Ramadan, kayaknya aku nggak akan menemukan masjid ini. Lokasinya hanya 20 menit jalan kaki dari dorm. Aah sukanya! Sama seperti masjid Seoul, jumlah rakaat tarawih 11. Hanya bedanya disini ada doa qunut di rakaat terakhir witir.

Meskipun namanya masjid, untuk ukuran orang Indonesia tergolong sebagai mushola. Letaknya pun di basemen yang mungkin tergolong nggak biasa. Masjid ini tuh kayak yang tau tau aja. Hahaha. Beneran deh, sekali saat hujan deras aku tetep dateng ke masjid eh cuma ada 1 orang lain yang dateng. Mana itu temen sekelasku. Akhirnya balik aja deh :))

Jamaah perempuannya pun seringnya dari Indonesia. Belakangan baru aku tau, ada mazhab yang melarang perempuan ke masjid. Makanya isi shaf perempuannya ya itu lagi itu lagi :)) kami menyebut diri kami: remaja masjid Sinchon. LOL.

Untuk kegiatan buka bersamanya hanya tersedia di akhir pekan (Sabtu dan Minggu). Baru seminggu sebelum Idul Fitri, dilakukan setiap hari.


Oh ya, tarawih disini mulai 20.30. Dugaanku sih untuk mengakomodasi para pekerja dan mahasiswa yang bisa aja butuh persiapan lebih lama untuk datang ke masjid. 

***

Jujur sangat bersyukur bisa menjalani Ramadan di Korea dengan cukup baik (menurutku). Dapat temen baru. Banyak waktu pula untuk beribadah, berhubung 2 minggu awal Ramadan itu bertepatan dengan winter break (libur musim dingin).

Sekarang baru sadar buat Muslim yang akan merantau ke negara minoritas, ada baiknya mempersiapkan kemungkinan menjalani ibadah akan seperti apa. Lakukan riset kecil-kecilan, gali informasi daimana mencari makanan halal, masjid yang menyelenggarakan tarawih, hingga hal-hal lain untuk senantiasa menguatkan dengan keyakinan yang kita jalani.

Satu hal yang mempermudah: adanya teman. Rasa malas sangat mudah datang ketika kita sendiri. Beda dengan keberadaan teman yang ayok ayok untuk diajak ke jalan kebaikan. Rasanya sangat berharga :)

Nanti dilanjutin ceritanya untuk Idul Fitri di Koreaaa~

Post a Comment

Halo! Terimakasih sudah membaca. Setiap komentar masuk akan dimoderasi. Untuk komentar dengan anonim tidak akan saya balas, ya. Yuk biasakan menjadi diri sendiri di dunia maya!