Jurnalistik

Diskusi Editor's Forum #UntukPublikDemiRepublik

May 19, 2017,2 Comments


Halo! Sedih banget rasanya ninggalin blog lebih dari seminggu huhu saya belum bisa berkomitmen untuk rutin nulis gengs :(

Jadi hari ini saya diundang oleh Kominfo untuk mengikuti forum diskusi. Undangannya ditujukan bukan sebagai blogger sih, lebih tepatnya sebagai pers mahasiswa. Bela-belain bolos kuliah dong buat ikutan ini. Nggak papa, manfaatkanlah jatah bolos 3x semaksimal mungkin dan se-berfaedah mungkin.


Acara diskusi Editor's Forum "Untuk Publik Demi Republik" ini diadakan di Hotel Horison. Pembicaranya banyak dan orang-orang yang udah punya nama di bidangnya. Ada Rosarita Niken Widiastuti (Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Kominfo, Hermien Y. Klayden dari Tempo English, Setiawan Hendra Kelana Pemred Suara Merdeka Online, dan satu lagi Blontank Poer, blogger profesional. Moderator acara ini udah level nasional loh, Indiarto Priadi. Itu tuh yang sering wara-wiri di TVOne.

Seperti yang udah kita ketahui, di Indonesia yang mengawasi dan meregulasi dunia siber adalah Kominfo. Mulai dari penyebaran berita sampai pemblokiran situs-situs yang dianggap bisa merusak bangsa. Situs ini bisa jadi memuat konten pornografi (terbanyak), radikalisme, hingga kebencian. But, bagaimana peran kominfo dalam arus media mainstream? 

Nah berbeda dari zaman orde baru yang begitu strict dengan penyebaran informasi, saat ini kominfo lebih terbuka dan menerima dengan tangan lebar. Menurut bu Niken, media sekarang punya kontribusi yang cukup banyak di Indonesia. Kominfo memang nggak lagi melakukan campur tangan seperti halnya pemerintah jaman Orba. Tetapi tetep aja ada batasan yang harus dilakukan saat pemberitaan ini. Batasannya yaitu etika, melalui etika jurnalistik. Kemudian profesionalisme, dan aturan berupa undang-undang.

Meskipun ada batasan, masih belum bisa juga mewadahi banyaknya arus berita. Apalagi netizen sekarang udah mengalami yang namanya mediaformosis. Dimana masyarakat lebih mau membaca berita yang menarik menurut mereka. Padahal kadang-kadang berita yang naik secara online itu saling bertautan satu sama lain. Kalo netizen cuma baca satu berita tanpa membaca yang lainnya dikhawatirkan terjadi kesalahpahaman.

Makanya penting banget tuh temen-temen saat baca berita di media online usahakan bener-bener ngikutin dari awal. Karena berita online kan emang dibuat pendek, resikonya bakal ada pemotongan jadi beberapa bagian artikel. Jangan males dan langsung gampang membagikan berita tanpa tau kontennya secara keseluruhan. Dari medianya juga harus bin wajib menautkan artikel terkait. 

Media dan keberpihakan

Nggak bisa dipungkiri juga sekarang media ada beberapa yang berpihak pada golongan tertentu. Bisa jadi golongan itu yang mempunyai saham atau membiayai operasional industri media. Toh media itu juga bisnis bukan? Lalu gimana sih media mainstream (dalam hal ini Tempo) bisa mencegah agar nggak terjadi konflik kepentingan?

Menurut bu Hermien, memang benar mau bagaimanapun juga industri media butuh yang namanya investment. Saat ada kelompok tertentu memberikan investasi dan mengatakan nggak ingin balasan apa-apa, it's nonsense. Makanya triknya menurut beliau ini investasi diarahkan ke anak usaha yang lain. Sedangkan "rumah utama"-nya sebisa mungkin nggak ada campur tangan dari pihak luar. Contohnya gini Tempo kan mengulas tentang ekonomi dan politik, nah investasi diarahkan ke kanal fashion atau entertainment yang emang nggak terlalu apa yaa...bahasanya butuh in-depth investigation gitu. 

Saring sebelum sharing

Ada yang suka nge-share berita? Hati-hati ya. Cek ricek dulu siapa penulisnya. Apakah dipercaya atau enggak. Suka ada tuh biasanya jarkom lewat Whatsapp atau LINE yang kayak gini,
"AWAS! JANGAN MENGONSUMSI MINUMAN INI BILA TIDAK INGIN BERAT BADAN ANDA NAIK DRASTIS..."

....ya nggak gitu juga sih hahah. Pokoknya jarkoman dengan judul yang bombastis itu salah satu indikasi hoax. Dan tentang croscek/tabayyun ini udah diingatkan juga loh dalam Al-Qur'an surat Al-Hujurat ayat 6

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu."

Tau tentang 10:90? sumber konten berita itu biasanya hanya 10%. Sisanya 90% adalah orang-orang yang suka nge-share itu tadi. Bayangin tiap ada 1 berita yang nge-share 9 orang, begitu terus sampai beranak pinak. Hati-hati loh guys, ternyata nih yang bisa kena pidana karena membagikan berita hoax itu nggak cuma si pembuatnya aja. Yang bagi-bagiin juga bisa kena. Dan hukumannya bisa sampai dipenjara. Nggak mau kan yah pasti :|

Terakhir, sebenarnya setiap orang punya potensi buat menciptakan berita. Sebelum membagikan berita ke orang lain, pastikan dulu ada unsur 3E + 1N. Apa itu? Education: memuat konten yang bisa mengedukasi penerima informasi. Empowerment: bisa untuk membangun masyarakat. Enlightment. Dan yang terakhir 1N: Nationalism. Jangan sampai kita membuat/membagikan berita yang bisa memecah belah NKRI. Oke? Okesip.

***

Bermanfaat banget semua yang ada dalam diskusi tadi. Saya bisa menarik kesimpulan bahwa sebenarnya kita bisa membentengi diri dari hoax, fake news, penebar kebencian dengan 2 hal. Yang pertama hati nurani dan kedua dengan ilmu. Coba tanyakan hati nurani kalian gengs sebelum membagikan informasi/menyebarkannya. Bagilah yang bermanfaat aja. Jangan pake emosi waktu nulis. Trus jangan males juga membaca. Semakin banyak baca, semakin banyak pengetahuan. Ibarat titik, dengan membaca titik yang kita miliki semakin banyak. Semakin banyak titik, semakin banyak garis-garis yang bisa kita buat. Sehingga kita nggak cuma berhenti disitu aja dan bisa memainkan logika.

Jadilah agen penebar kebaikan dan manfaat, sekecil apapun. Yuk! :)

You Might Also Like

2 comments:

  1. Jadi keselek deh di bagian (manfaatkanlah jatah bolos 3x semaksimal mungkin dan se-berfaedah mungkin.) wkwkw jadi keinget bolos ke Jogja gargara nemenin temen seminar. Nemenin, gak ikut seminarnya, malah nongkrong di mall xD wkwkkwkw.

    Nah, gak bisa lebih setuju dari apa yang ka Lulu tulis ini :)
    suka sedih kalau lihat teman-teman berdebat tentang hal yang viral di dumay. Dan itu adl sesuatu yg gak penting dan bahkan kebenarannya simpang siur. Sebagai generasi millenial, harusnya kan lebih pintar untuk kroscek berita yang omdo dan berbobot.

    Waaaaaaah!! Pokoknya terimakasih banyak atas tulisan ini kak! Eh aku jadi pingin bikin "3E+1N" jadi tagline blog ku deh hehehe. Untuk motivasi diri sendiri dan orang lain dalam dunia blogging.

    Oke. Hati nurani dan ilmu. Akan selalu diingat :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Copyright nya ke Kominfo langsung loh! Wkwk. Senengg bisa bermanfaat :D

      Delete

Hai! Terima kasih sudah membaca. Silahkan berkomentar dengan bahasa yang santun ya :)