cerita

60 Menit yang Tak Terduga #2

April 17, 2017,3 Comments

Postingan ini lanjutan dari seri pertama kemarin. Yang belum baca silahkan dibaca disini ya.



Masih berlanjut dengan obrolan bersama bu Harsi. Jika di postingan kemarin lebih banyak membahas tentang lulusan FKM dan endebrei-endebreinya, kali ini lebih umum. Kayak petuah hidup yang bisa diterapin gitu LOL. Ya emang beneran, beliau ceritanya soal keluarganya dan perjuangannya bagaimana bisa mencapai di titik yang sekarang ini.




Bu Harsi bercerita bahwa beliau bukanlah lulusan SMA seperti halnya kami. Jaman dulu (ngga tau tahun berapa) ada tuh akademi keperawatan. Beliau masuk kesitu sehabis lulus SMP. Nah kemudian ketika beliau menikah, beliau "diremehkan" gitu sama suaminya. 

Susah ya jadi perempuan itu. Sekolah tinggi-tinggi nanti di-judge, "Ngapain habis-habisin uang aja toh nanti ujung-ujungnya ngurus anak." 

Sedangkan kalau cuma sarjana atau diploma dikomentari, "Bisa ngurus anak nggak tuh?". 

Please berhenti nge-judge perempuan dengan kata-kata sarkasme seperti itu. It's better to empower them rather than looking down.

Akhirnya beliau melanjutkan di FKM melalui lintas jalur. Mungkin terbersit ya di benak kita, dari keperawatan kok ke FKM? Kata bu Harsi, tidak ada ilmu yang tidak bermanfaat. Lagipula dua bidang itu masih berhubungan di satu rumpun yaitu kesehatan.
Setelah lulus, pun masih juga ada ejekan yang terdengar. "Ah, cuma dari Undip". CUMA... Sedih ga sih? Sedih banget ternyata almamater saya masih belum punya nama dibanding universitas lain. Sebut sama UGM, UI. Lagi-lagi ini tentang judging. Secara logika, okelah emang UGM dan UI udah punya nama dibanding Undip. TAPI, bukan berarti menentukan kualitas lulusannya. Kualitas lulusan ya tergantung lagi ke individunya kayak gimana. Ayo mahasiswa Undip, alumni Undip, kita harumkan nama Undip dan jangan sampai diremehkan!


Toh akhirnya Bu Harsi membuktikan bahwa beliau memang layak untuk dipilih. Apakah setelah sekolah (lagi), beliau berhenti sampai situ aja? Enggak.
Beliau juga masih suka loh mengikuti seminar/pelatihan yang memang dibutuhkan. Kata beliau kegiatan semacam itu penting untuk mengisi ini (sambil menunjuk dada hingga ke kepala). Artinya bisa menambah pengalaman, keilmuan, dan juga kapasitas diri. Dananya dari mana? Merogoh kocek sendiri. She's just like what my mom do! :'D


Bedanya beliau dengan teman-temannya, setelah pelatihan beliau langsung menerapkan apa yang diberikan. Nggak cuma udah dapet sertifikat, yaudah gitu aja. Take action! Without action, there is no miracle. Itu yang beliau katakan.

Kemudian tentang working mom. Seorang ibu yang bekerja. Beliau juga find it hard ketika anak-anaknya minta buat berhenti kerja aja. I can relate. Ibu saya juga bekerja dan kadang ada rasa iri kok lihat temen-temen yang dibawain bekal, diantar-jemput sama ibunya.. Haha.

Untuk menanganinya, yang beliau lakukan adalah berbicara baik-baik dengan anaknya. Dengan tutur kata lembut dan menggunakan bahasa mudah dimengerti. Beliau sih bilang ke anaknya seperti ini, "Kalo ibu dirumah aja, nanti kamu nggak usah beli sepatu merk X ya. Karena ibu kan nggak ada uang. Trus nanti nggak bisa lagi kirim-kirim kartu pos dari Thailand, sana, sini. Padahal kamu sering kan ceritain kartu pos itu ke temen-temen kamu? Kamu bangga kan?"

Dan voila si anak nggak merajuk lagi. Hahaha. Being a working mom is okay. Asalkan komunikasi sama anak nggak terputus. Noted.

***

Dua topik terakhir ini menarik: tentang pemilihan kuliah dan magang. Apalagi anak-anak SMA ini udah persiapan lagi ya buat SBMPTN. Sebagian besar saya jamin bingung mau pilih mana masuk apa.

Bu Harsi udah berpengalaman dengan kedua anaknya. Yang ditanyakan kepada anaknya bukan mau jadi apa tapi inginnya apa? 

Pertanyaan mau jadi apa pasti menjurus ya ke pekerjaan apa yang ingin ditekuni. Sedangkan pertanyaan inginnya apa, jawabannya ya keinginan yang emang pengen dipenuhi. Salah satu anak bu Harsi menjawab dia pengen kuliah yang isinya seneng-seneng, bisa jalan-jalan kesana-sini. Jawabannya: oke masuk ke jurusan perhotelan & pariwisata. Bu Harsi tetap menanyakan, "Kamu malu nggak lulusan D3", setelah anaknya mantap jawab enggak yaudah masuk situ.

Intinya wahai para calon mahasiswa diluar sana, pikirkan dulu apa keinginanmu. Baru komunikasikan dengan orang tua. Pun begitu dengan orang tua jangan memaksakan kehendaknya ke anak. Boleh lah memberi saran dan masukan, tapi tetap saja serahkan keputusannya di anak. Jangan sampai si anak merasa terbebani saat menjalaninya. 4 tahun loh kuliah, bukan waktu yang sebentar. Ditambah kemungkinan mencari kerja juga menggunakan skill yang didapat selama kuliah. Rugi besar kalo seorang anak nggak menjalaninya dengan bahagia. Yang ada malah resentment ke orang tua dan anak nggak lagi respek ke orang tua.


Tentang magang saya yang khusus sih menanyakan. Hehe. Berdasarkan cerita dari kakak tingkat yang lalu, magang di instansi pemerintahan itu kayak nggak ada kerjaannya yang jelas. Cuma ditaruh di posisi yang kosong aja.

Oh iya magang disini sebelum lulus ya, bisa juga disebut PKL (Pengalaman Kerja Lapangan) jadi murni emang cari pengalaman tanpa digaji. Tentang hal ini beliau mengatakan seharusnya dari instansi yang dituju dengan kampus udah ada sinkronisasi dulu biar klop apa-apa aja yang jadi kerjasamanya. 

Dari mahasiswanya juga harus jelas dong mau mempelajarinya tentang apa saat di instansi yang dituju. Begicuuu.

***

Selesai sudah cerita bersama bu Harsi! Hehehe. Alhamdulillah cukup banyak ilmu baru yang diterima. Semoga temen-temen yang baca juga begitu yaa. Salam!

You Might Also Like

3 comments:

  1. Hebat ya Bu harsi ini. MEmang perempuan kadang nggak dianggap. Kita harus buktikan!! semangat!

    ReplyDelete
  2. kuliah itu kalau jurusannya emang udah jadi passion ya harus jadi terbaik menurutku entah prestasi lain yang bisa dibanggakan lewat kompetisi atau akademik seenggaknya IPKnya harus bagus

    aku sendiri pilih jurusan bukan karena passionate tapi karena pengin kerja dibidang itu. sebatas itu doang :D soal kuliah emang nggak happy menurutku, memang kuliah bukan buat happy2 saat ditempuh tapi buat hepi di kemudian hari. jadi kalau pas kuliah susah payah plus stress yaa nggakpapalah.

    napa kalo ke blog lulu jadi inget2 jaman kuliah s1 mulu yak padahal umur udah segini hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe gimana sih ya mbaa kan aku masih muda *ehem*

      Delete

Hai! Terima kasih sudah membaca. Silahkan berkomentar dengan bahasa yang santun ya :)