college

Jadi Asisten Praktikum, Kenapa Enggak?

September 17, 2017,6 Comments

Tahun terakhir (InsyaAllah) kuliah ini saya menambah kesibukan. Di saat yang lain beralasan fokus skripsi aja, entah kenapa saya enggak. Saya dengan gagah berani mengajukan diri menjadi...asisten praktikum! Asli ini nggak ada rencana sama sekali di awal.



Jadi di peminatan Gizi itu ada mata kuliah yang mengharuskan praktikum. Untuk mahasiswa sejumlah 46 orang melakukan praktikum hanya dengan 1 dosen + 1 PLP (pengelola laboratorium) rasanya nggak mungkin, ya? Maka dari itu dibutuhkan peran asisten praktikum. Sebut aja asprak lah ya biar gampang. Dan mulai minggu lalu menjadi pertama saya jadi asprak. Rasanya? Nano-nano! Haha.



Kenapa daftar jadi asisten praktikum?
Nah ini baru banget dapet pertanyaan dari adik tingkat. Alasan sebenarnya adalah saya emang menyengajakan diri nambah kegiatan yang belum pernah diikuti di semester sebelumnya. Ibarat perang (apaan...) saya mau habis-habisan lah di masa-masa akhir.

Pernah denger nggak sih quotes yang bunyinya, "In the end you won't regret things you have done. You'll regret things you didn't." Artinya penyesalan akan datang bukan karena kita udah melakukan tapi justru karena kita menyesal nggak melakukannya. That's why I decided to submit the application. Dan Alhamdulillah-nya sih, keterima. Yeayyy!


Persyaratan untuk asisten praktikum apa aja?
Kemarin sih simpel ya. Untuk mata kuliah yang akan di asisten-in minimal dapet B. Saya udah dapet di semester 6 yang lalu. Kemudian menyertakan transkrip nilai plus surat pernyataan kesediaan menjadi asisten praktikum.

Yang didapet asisten praktikum?
Apa yaaaaa hmm....networking? Hahah. Pasti lah ya lebih kenal dosen dan pengelola laboratorium. Penting banget sih mahasiswa tingkat akhir buat memperluas networking. Terus bisa juga belajar lagi! Kok gitu? Iya soalnya praktikum di semester kemarin itu kan ngerjainnya kelompok. Kadang ada yang ngelakuin bener-bener. Ada yang enggak.

Ya gimana dong perbandingan alat dengan jumlah mahasiswa itu nggak sepadan. Alhasil nggak bisa beneran melakukan langkahnya satu per satu. Harus bergantian gitu sama temen yang lain. Masa iya sekelompok 5 orang yang melakukan step A-Z cuma satu orang itu aja? Egois dong namanya.

***

Baru sekali praktikum aja rasanya, widih lumayan menghabiskan waktu dan tenaga yah! 

Tugas asisten praktikum:
- Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan untuk praktikum
- Membuat soal pre-test sebelum praktikum
- Mengawasi adik-adik saat praktikum
- Menilai hasil pre-test

Endebrei-nya masih banyak, belom juga ada laporan praktikum. So far, I enjoyed being asprak. Mulai dari keribetannya, komunikasi dengan PLP dan dosen, menyusun jadwal praktikum biar nggak tabrakan denga jadwal kuliah. Berusaha sabar ngadepin pertanyaan dedek-dedek yang tidak gemez.

Semoga saya bisa jadi asprak idaman yah! LOL

You Might Also Like

6 comments:

  1. unik juga lihat suasana praktikum di postingan lulu, pake jas lab dan masker
    maklum kagak pernah lab praktikum yang kayak gini
    hehe dulu praktikum ya analisis pakai aplikasi statistik dan melototin perusahaan yang terindeks di BEI which is gak pake kostum khusus :)

    ReplyDelete
  2. Kuliah hukum salah satu jurusan yang ga ada praktikumnya (ada sih lab kemahiran litigasi alias latihan sidang-sidang gitu), tapi berhubung kos di Tembalang jd teman-teman sekos pada praktikum dan sepertinya seru. Sekarang lebih ngeh tentang asprak setelah baca postingan ini, tFs Lu.

    ReplyDelete
  3. suami aku dulu juga asisten praktikum mba! lumayan buat cari pengalaman dan bagus buat cv hahaha

    aku sendiri juga kuliah hukum (kaya mba anisa diatas) jadi ngga ada praktikumnya. terus ngga pernah pake jas lab juga hehehe jadi liat foto foto mba lulu terus excited sendiri hehehehe
    btw kalo dede dedenya ada yang gemes beneran lumayan dong mba hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dedenya cewek semua tapi gimana dong yah :( LOL

      Delete
  4. waaaah tante lulu keren
    kayak ibu dokter yaa

    ReplyDelete

Hai! Terima kasih sudah membaca. Silahkan berkomentar dengan bahasa yang santun ya :)