Mereka yang Kurang Beruntung

September 04, 2017,2 Comments

https://www.insbright.com
Welcome to September! Walaupun telat ngucapin, saya tetep mau bilang "Selamat Hari Raya Idul Adha!" semoga kita semua bisa meneladani kisah keikhlasan Nabi Ibrahim Alaihissalam.

Ternyata bulan September a.k.a Zulhijjah ini nggak semua muslim merayakan dengan riang gembira. Lihatlah di sudut yang lain, muslim Rohingya kembali jadi sorotan atas penderitaan mereka untuk melarikan diri. Sedih, ya?

Saya sempet baca dari insert link panjang kali lebarnya konflik Rohingya ini bermula. Kenapa juga pemerintah Myanmar maupun Bangladesh angkat tangan. Persoalannya cuma satu, kewarganegaraan. Mereka sampai sekarang status warga negaranya nggak jelas. Bangladesh menolak karena mereka dianggapimigran yang udah keluar dari negara tersebut. Bagi Myanmar, sulit untuk memberikan warga negara begitu saja ke etnis ini. Correct me if I wrong, ya. Itu yang saya pahami.

Memberikan status warga negara itu nggak gampang. Ada persyaratan yang harus dipenuhi, diikuti pertimbangan A-Z.

Setelah tahu akan hal ini, rasanya bertambah lagi alasan buat bersyukur. Identitas saya (dan mungkin kalian yang baca ini juga) jelas. Dari mana asal muasalnya, warga negara, hak dan kewajibannya apa. Kita nggak mengalami krisis identitas seperti mereka yang kurang beruntung.

Kalo kita mau cari tqhu, masih banyak banget orang yang nggak "seberuntung" kita. Kali ini tentang warga Korut (Korea Utara) yang melarikan diri.

I watched in Youtube this channel named ASIAN BOSS. Awalnya mereka cuma nge-vlog agar penontonnya sekedar tau aja gimana sih tinggal di Korut itu. Lama kelamaan mereka melangkah kebih jauh. They help people raise awareness about how North Korean goverment violenced human right.

Yang ngikutin berita pasti tau, pemerintah Korut lebih gencar buat bikin rudal daripada mengayomi warganya. Alasannya biar bisa mengancam AS. Kim Jong Un, si pemimpin ini nggak mau AS ikut campur urusan negaranya. Yang ditakutkan nanti krisis kayak di Libya terjadi.

Justru karena itu rakyatnya terabaikan. Bayangin aja, berdasarkan pengakuan narasumber yang asli Korut, semua bilang hal yang sama. Buat makan aja susah. Bisa nggak sih ngebayangin di tahunnya teknologi gini dan mereka masih mengais-ngais makanan? 😢

Sampw ada yang bilang, ulang tahunnya dia cuma pengen dapet hadiah berupa makan nasi dan satu butir telor! Telor ini, bukan daging. Bukan sesuatu yang "wah". Sesederhana itu.

Yang lain bilang, temen sebayanya atau keluarganya meninggal karena kelaparan adalah hal yang biasa. Nggak mengherankan 😭😭😭

Setelah mereka bisa hidup di Korsel, mereka nggak serta merta bahagia. Mereka teringat sama keluarga maupun teman yang masih "terjebak" di Korut. Dan.. mereka mengusahakan untuk reunification. Penyatuan kembali dua Korea.

Miris ya, di Korut mereka khawatir soal makanan sedangkan di Korsel udah uji coba mobil hidrogen.

Betapa masih banyak orang yang kurang beruntung.
Betapa masih banyak orang yang membutuhkan uluran tangan kita.
Betapa sebenarnya nikmat Allah yang diberikan kita terlalu banyak.

If you still have a sense of humanity, do something.
Berdoa, kirim doa untuk mereka.
Berdonasi, bantu dengan menyisihkansedikit harta kita.
Beri pencerdasan ke orangterdekat kita agar mereka tahu dan melakukan gerakan, apapun itu.

Dan, jangan lupa bersyukur.

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat."
(QS. Ibrahim 14: Ayat 7)

You Might Also Like

2 comments:

  1. Alhamdulillah iya ya Lulu. Kita harus lebih banyak bersyukur. Dilimpahi berkah iman dan InsyaAllah Indonesia selalu damai. Soal Rohinghya saya prihatin dan yakin ini cuma oknum karena sesungguhnya Budha mengajarkan ajaran yg penuh kasih. Semoga lekas ada jalan keluar yaaa..

    ReplyDelete
  2. Harus lebih banyak bersyukur ya Mbak. MAsih sering merasa kurang, padahal yg di bawah dari kita lebih banyak. Makasih sudah mengingatkan Mbak

    ReplyDelete

Hai! Terima kasih sudah membaca. Silahkan berkomentar dengan bahasa yang santun ya :)