#GuestPost

#GuestPost - Words in Frame: Lombok, Nusa Tenggara Barat #2

April 20, 2017,1 Comments


3rd Day – March 11, 2017 | Gili Trawangan

“For everything that has been through, is being through, and will be through, I can feel the grace of God. I am blessed.” 


Hari ketiga, paling ditunggu-tunggu mungkin sama semua temen-temen GFE. Kami ke Gili Trawangan!


Bangun pagi-pagi, mandi duluan mumpung masih kosong jadi tak perlu antri. Jalan-jalan susur pantai Klui sama mbak Zaenab (Jogja), tetangga yang setenda sama mbak Fifin (Ponorogo). Setelah capek jalan, cuci kaki, dan lanjut sarapan.


Ke Gili Trawangan naik bis yang sama seperti kemarin waktu ke Banyumulek dan Cemare. Dapat mandate dari mbak Zaenab, duduk di sebelah kiri bis, soalnya pemandangan tiga Gili akan kelihatan selama perjalanan. Laksanakan mbak haha.


Dan, benar saja, sepanjang perjalanan isinya laut semua, masyaAllah. Warna-warni biru hijau, putih nan cantik. Perjalanan Klui-ke Pelabuhan kapal sekitar 30 menit. Dilanjut naik kapal ke Gili Trawangan dari pelabuhan. Setelah sekitar 20 menit terombang-ambing di atas kapal dengan pemandangan birunya laut, dan sesekali berpapasan sama kapal isi bule, finally arrived at Gili Trawangan!

Disini ternyata tidak cuma akan snorkeling, kami masih punya satu project yang tadinya di-schedule harus mewawancarai turis, tapi menurut pengalaman GFE tahun sebelumnya, banyak turis yang benar-benar ingin freetime holiday, tak mau diganggu.

Akhirnya project diganti buat video presentasi mengenai rencana konservasi yang sebelumnya sudah dibahas dalam diskusi malam kemarin setelah dari Banyumulek dan Cemare. Sebelum tempur buat video dan snorkeling, kami makan dulu. Tambora dibagi 2 tim, ada tim nasi dan tim bakso. Harganya sama rata-rata 20-25 ribu. Tapi kalau mau murah ada juga tukang nasi bungkus keliling. Hargaya cuma 5 ribu, kalau tambah minum jadi 10 ribu. Aku masuk di tim nasi. Menurut cerita kak Ilham, bakso di Lombok beda. Banyakan taugenya daripada mi ataupun baksonya ahaha.

Tambora mengambil tema konservasi tanah bekas pertambangan untuk videonya. Agak niat dan tidak untuk project ini, Kak Ilham dan Kak Elsa jadi tumbal disini. Entah apa korelasi foto ini dengan tema video hahaha. 


Buat lelucuan aja. Enjoy kami disini. Alhamdulillah. Setelah video selesai, saatnya siap-siap untuk snorkeling!

4th Day – March 12, 2017 – Go Home

Pagi-pagi sekitar jam 6 baru bangun karena capek banget badan seharian kemarin di Gili dilanjut malam ada closing ceremony yang sungguh indah banget, bikin nggak mau pulang :( Ditambah seminar dari dua pakar pengolahan limbah yang kereen! Ada Pak Syawaludin dengan Bank Sampahnya yang sukses dan Pak Theo dengan kerajinannya dari limbah kertas bekas jadi kursi yang kuat dibuat duduk orang gendut sekalipun, nggak percaya? – sila cek di instagramnya @thegriyalombok.

Malam itu juga lembur buat jurnal kelompok – yang akhirnya nggak selesai juga nyerah sama ngantuk haha.  Area camp mulai sepi soalnya udah ada yang balik jam 3 pagi :( Mumpung masih pagi langsung mandi, sebelum rame antrian – serius kangen dinomorin buat antri dan aku pernah nyusup waktu malem soalnya nggak keliatan wajahnya siapa-siapa, dianggapnya aku datang awal, mianhe haha.


Habis mandi tambah sepi lagi, soalnya ada yang pulang jam 7 pagi. Aku sendiri dapat kloter ketiga jam 9 pagi, soalnya dapat pesawat jam 11 siang. Rapi-rapi barang bawaan. And then, GOOD BYE LOMBOK. GOOD BYE KLUI. GOOD BYE SASAMBO.

WE ARE FRIEND OF THE EARTH!
“Couldn't be more grateful to breath this fresh air every morning, and realize that I'm alive.”

***

Lulu:

Penasaran ih itu gimana bikin tulisan sasambonya HAHA. Masih ada 1 cerita lagi gimana Vina (the writer of this series!) bisa ikut camp ini dan GRATIS. Tungguin minggu depan yaa! Hahaha. Stay tune!

You Might Also Like

1 comment:

  1. Aku pernah ke Gili Trawangan. Tapi cuma sehari semalam, jadi kepengen balik lagi kesana.

    ReplyDelete

Hai! Terima kasih sudah membaca. Silahkan berkomentar dengan bahasa yang santun ya :)