book

A Tribute: Langkah untuk Memunculkan Bintang

March 08, 2017,4 Comments

A Tribute Jamil Azzaini

Banyak orang dalam kehidupannya menginginkan untuk memiliki karier gemilang, hidup sejahtera, dan tidak kekurangan materi apapun. Bagi karyawan, promosi jabatan menjadi incaran. Sedang bagi pebisnis, untung besar-besaran yang selalu ditargetkan. Buku-buku motivasi maupun pedoman untuk mencapai hal-hal tersebut pun banyak beredar di pasaran.


Namun, bagaimana bila kita menjadi penyedia panggung? Men-support orang di sekitar kita untuk mencapai hal-hal diatas? Gebrakan ini dicetuskan oleh Jamil Azzaini - seorang motivator yang oleh Kaskus disebut top motivator ketiga di Indonesia - dalam bukunya yang berjudul A Tribute.

Terinspirasi dari kisah Tenzing Norgay, seorang pemandu pendaki. Norgay adalah orang yang memandu Sir Edmund Hillary, pendaki pertama yang berhasil mencapai puncak Everest. Dalam suatu wawancara seorang reporter menanyainya:

"Andakan seorang Sherpa (pemandu) bagi Edmund Hillary, tentunya posisi Anda berada di depan dia, bukankah seharusnya Anda yang menjadi orang pertama yang menjejakkan kaki di puncak Mount Everest?"

Dan jawaban yang dia berikan sederhana saja.

"Karena itulah IMPIAN Edmund Hillary, bukan impian saya. Impian saya hanyalah berhasil membantu dan mengantarkan dia meraih IMPIANnya."

Kemudian muncul pertanyaan, bagaimana mungkin kita justru membukakan jalan bagi orang lain? Bagaimana dengan nasib kita sendiri?

Pada dasarnya ketika kita membuka panggung bagi orang lain, panggung yang sama juga akan terbuka bagi kita. Sebagai contoh seorang guru yang membukakan panggung bagi muridnya, ia pun mendapat panggung yang sama. Ilmu yang diberikannya semakin mengkristal kuat dalam dirinya.

Pun begitu dengan karyawan. Seorang karyawan yang membukakan panggung bagi atasannya akan bekerja dengan sebaik mungkin. Bukan dengan maksud "menjilat". Dan ketika atasannya terkesan atas jasanya, ia memiliki kesempatan lebih besar untuk naik panggung berupa promosi jabatan.

Tentu, sebelum kita membukakan panggung untuk orang lain, kita harus memahami apa yang menjadi visi kita. Sehingga kita ikut naik panggung bersama orang yang akan kita bantu. Usaha ini juga mencerminkan bahwa kita bukan manusia egois. Kita tidak hanya memikirkan tentang diri sendiri namun juga berkontribusi kepada orang di sekitar kita.

Memilih calon bintang

Dalam membukakan panggung bagi orang lain kita tidak bisa memilih sembarang orang. Jika kita tidak jeli bisa jadi justru menjadi boomerang yang merugikan kita. 

Jamil Azzaini menjelaskan hal-hal yang perlu diperhatikan ketika memilih calon bintang ini.

1| Visi
Setidaknya ada 3 hal pertanyaan yang diajukan untuk mengetahui visi seseorang.

- Benarkah ini hal terbaik dan tertinggi yang hendak Anda capai? Tidak ada yang lebih tinggi lagi?
- Apabila visi Anda tercapai, apakah Anda, keluarga, dan orang-orang yang mencintai Anda bangga dengan Anda?
- Apabila visi Anda tercapai, apakah itu bisa menjadi bekal utama saat Anda kelak dipanggil menghadap-Nya?

Dari ketiga pertanyaan tersebut, kita bisa mengukur apakah visi orang tersebut benar-benar menjadi keyakinannya atau hanya sekedar menulis. Visi yang ditulis dengan keyakinan bulat akan memberikan energi bagi sang pemilik visi untuk mewujudkannya.

2| Value
Dengan valus, semua hal yang kita kerjakan mempunyai nilai dan energi yang besar. Pada bagian ini Jamil Azzaini mencontohkan value yang ia pegang. Belajar pada ahlinya, rendah hati, dan yakin bisa.

3| Core Competence
Core Competence diartikan sebagai kemampuan atau keahlian utama yang dimiliki seseorang di mana hal tersebut jarang dimiliki oleh orang lain. Apabila ada orang lain yang memiliki, kemampuan atau keahlian seseorang ini masih di atas rata-rata dibandingkan dengan yang lainnya.

Setiap orang pasti memiliki kelebihan. Temukanlah kelebihan itu dan asahlah hingga menjadi seorang expert di bidang tersebut.

4| Passion
Tentang passion ini beliau memberikan beberapa pertanyaan untuk dijawab agar pembaca dapat menemukan passion-nya. Yang utama adalah passion merupakan hal dimana dalam keadaan apapun kita mengerjakannya dengan suka cita dan tidak terbebani. Jika diibaratkan kita bisa hidup tanpa uang "hanya" dengan sesuatu yang disebut passion ini, maka itulah passion kita.

5| Environment
Terakhir, jangan lupa untuk mengetahui latar belakang keluarga, pergaulan, dan pendidikan calon "bintang" yang hendak dimunculkan. Dari informasi ini, kita sebagai penyedia panggung bisa menentukan dan menyesuaikan pendekatan apa yang akan dilakukan untuk memunculkan sang bintang.

Kelima hal diatas kita selaraskan untuk mencapai tujuan menelurkan bintang-bintang baru.

***

Rasa-rasanya ini buku pertama yang saya baca dimana isinya bukan hanya mengembangkan diri tetapi juga orang lain. Meskipun begitu, buku ini pun juga berisi tentang pengembangan diri bagi pembaca.

Di beberapa bagian, penulis mengajukan pertanyaan yang harus dijawab sebelum pembaca melanjutkan ke bagian berikutnya. Beliau juga melampirkan beberapa lembar tabel yang harus diisi mulai dari visi hingga siapa yang akan kita jadikan bintang.

Sejatinya, bintang itu tidak harus orang yang "lebih tinggi" dari kita. Seorang suami yang istrinya tidak bekerja pun bisa menjadikan istrinya seorang bintang. Caranya? Bila suami mendapatkan pelatihan/training tertentu dia bisa membagikan ilmunya kepada istri. Dengan begitu istrinya tidak menjadi "terbelakang" dan gap dengan suami khususnya pengetahuan tidak terlampau jauh.

Jamil Azzaini menutup bukunya dengan memberikan kisah-kisah usaha apa saja yang telah beliau dirikan untuk memunculkan bintang. Para bintang itupun beliau sebutkan pula untuk memotivasi pembaca.

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

***

Good point about this book is to remind us caring for others. Jangan khawatir buku ini terlalu "berat", tidak realistis, dan lain sebagainya. Buku ini penuh dengan pengalaman langsung penulisnya. Beliau juga menambahkan kisah-kisah jenaka sebagai ilustrasi. Plusnya lagi, banyak nilai-nilai Islami yang disematkan disini. Kurangnya, bacanya harus serius dan konsentrasi penuh. Hehe. And don't forget to take notes. Banyak banget soalnya yang bisa dipraktekin langsung. Saya bisikin ya salah satunya, tentang ngambek. Kok bisa? Penasaran? Yaa baca aja! :D

You Might Also Like

4 comments:

  1. Awalna lihat kayaknya buku berat. Tapi nggak juga ya Mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enggak mbak, bukunya "bergizi" tapi enak dibaca, nggak berat, dan nggak menggurui

      Delete
  2. Bagus ya bukunya, buat menyemangati diri lagi buat maju

    ReplyDelete

Hai! Terima kasih sudah membaca. Silahkan berkomentar dengan bahasa yang santun ya :)