pribadi

20 Years Old Me

October 14, 2016,2 Comments


11 Oktober. Mungkin buat orang lain jadi hari biasa. Buat saya hari ini pengingat bahwa umur saya sudah berkurang, lagi. Dua puluh tahun begitu orang mengejanya. Angka 2 diikuti dengan 0 dibelakangnya.

Masih suka nggak percaya kalau saya sudah se"tua" itu. Iya, saya merasa tua. Rasa-rasanya masih kemarin cari-cari SMP setelah jadi peraih NEM tertinggi. Rasa-rasanya masih kemarin ditemani Umi untuk mendaftar SMA. Rasa-rasanya baru tadi pagi ikut verifikasi mahasiswa baru.

Time. Indeed. Flies.
Kata orang, umur tidak menentukan kedewasaan seseorang. Nggak sepenuhnya benar, dan nggak sepenuhnya salah juga. Nyatanya saya merasa saya masih kekanakan. Banyak sifat yang masih harus diperbaiki. Harus diasah kembali. 

Semakin kesini, saya semakin banyak berpikir. Sebenarnya, hidup saya ini tujuannya apa? Apa saja yang sudah saya lakukan? Yakinkah kalau semua itu sudah membuat saya merasa hidup?

Pada suatu titik, saya pernah merasa kehilangan arah. Pepatah bilang: hidup segan, mati tak mau. Saya terus bertanya-tanya kemana takdir akan menggiring saya setelah waktu saya habis. Di pagi hari saya masih bisa tertawa. Di malam hari ketakutan bila esok sudah tak lagi ada disini. Dan hari seperti itu berulang seperti memainkan kaset rusak.

Maka disini saya mencoba kembali menyusun kepingan yang lama hilang. Menuliskan tujuan hidup saya. Hanya satu: beribadah. Ketika kuliah, niatkan untuk beribadah. Mengerjakan tugas kelompok, niatkan untuk beribadah. Membantu orang tua, niatkan untuk beribadah. Walaupun untuk meluruskan niat nggak pernah gampang.

Menuliskan kembali capaian-capaian yang diinginkan. Mimpi-mimpi yang sempat terkubur oleh kejamnya realita kehidupan. Berhenti membandingkan pencapaian diri dengan orang lain. Setiap orang berbeda, Lu. Beda passion-nya. Beda niatnya. Beda cara menggapainya. Sekarang, sudah siap untuk meraih semua capaian itu? Insya Allah.

Bicara kepala dua pun nggak bisa jauh-jauh tentang...nikah. Jadi teringat percakapan saya dan adik saya. Ceritanya, saudara saya ada yang lamaran. Kemudian terjadilah pecakapan ini.

Adik: "Mba lulu nggak ngelamar juga?."
Me: "Loh, aku kan perempuan ya dilamar lah."
Adik: "Itu Siti Khodijah kan melamar Rasulullah."
Me: "Bukan tau. Kan Khodijah yang minta dilamar."
Adik: "Yaudah sana minta dilamar."

Adik saya kelas 1 SMP btw. Disitu ada umi juga yang nahan ketawa. Duh. Secara jujur kalo ditanya pengen nikah, ya pengen. Pengen banget? Engga sih. Ya pernah sih fase pengen banget apalagi setelah booming nikah muda gara-gara Alvin-Larissa itu. Untungnya sekarang sih udah sadar ya. Ngeset dulu paling enggak lulus kuliah lah. Masih ada 2 tahun buat mempersiapkan diri.

Yang paling diharapkan di umur segini?
Masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Jadi anak yang baik buat orang tua, jadi kakak yang bisa diteladani sama adik-adik, jadi adik yang bisa dibanggain kakak. Jadi teman yang menyenangkan, pokoknya bisa jadi the best version of me. 

Ada lagi sih: jadi yang nggak mageran. Nggak banyak alasan. Berusaha ngisi waktu untuk hal-hal yang bermanfaat. Banyak baca terutama tentang ilmu agama. Dan...jadi orang yang bermanfaat di sekitar.

Oh iya, terakhir. Saya ucapin terima kasih buat yang udah ngirim doa ke saya. Semoga doa baik juga untuk kalian.

Amin ya Robbal Alamin...

You Might Also Like

2 comments:

  1. umur 20 dulu sih fokus membanggakan orang tua, namanya nikah diusia itu gak kepikiran
    malu justru. umur segitu belom jadi apa2. yang mampu kan orangtua, daku mah apa cuma nebeng :)
    haha
    karena itu kaget banget anak dibawah umur menurut undang2 udah campaign nikah muda. ah untung orang tuanya mampu banget, semisal dia remaja yang sekolah cuma ngandalin beasiswa apa bakal sama ceritanya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. lingkungan mempengaruhi sih, kalo emg lingkup pergaulannya udah pd nikah jd ada semacam tekanan dr sekitar wkwk x))
      Nah, karena tiap org punya cerita masing2 jd tinggal kita mau bikin cerita kaya gimana ehehe

      Delete

Hai! Terima kasih sudah membaca. Silahkan berkomentar dengan bahasa yang santun ya :)