book

#BookReview: Lost in Korea

May 13, 2016,0 Comments

Pertama kalinya nulis review buku! Entah pertama kali di blog ini atau pertama kali dalam tahun ini? Hehe. Tahun 2016 ini salah satu dari banyak goals saya adalah membaca buku lebih banyak. Membaca buku itu memperkaya wawasan sekali, novel atau bahkan komik sekalipun. Rasanya miris sehabis lihat di instagram Kang Emil (@ridwankamil) kalau masyarakat Indonesia rata-rata pertahun hanya membaca buku sebanyak 27 lembar. Itu.......buku bacaan anak SD jaman sekarang pun sudah lebih banyak dari 27 lembar. Sedih nggak, sih?:(

Nah, kali ini buku apa yang akan saya review? Buku travelling! Siapa sih yang nggak suka travelling? Yang pasti bukan saya. Tapi saya mungkin termasuk orang yang "kurang beruntung" kalau dalam travelling karena berbagai sebab. Oleh karena itu saya merasa perlu baca buku ini, biar serasa travelling di dalam kamar #ea. Seperti judulnya, buku ini menceritakan tiga orang traveller yaitu Cayi, Gelbi dan Bunbun mengeksplorasi Korea dalam waktu 6 hari. Perlu diketahui, di buku ini termasuk travelling jenis backpaker alias dengan bujet yang seminimal mungkin. Walaupun begitu, mereka bertiga membuktikan dengan bujet yang minim pun masih bisa merasakan travelling yang nyaman dan tentunya aman.

Bukunya minjem perpustakaan, hihi
Di bagian awal buku ini diceritakan sedikit sejarah tentang Korea. Mulai dari Korea secara umum sampai kenapa sih, kok Korea Selatan dan Korea Utara sampai sekarang masih "musuhan"? Selanjutnya proses pembuatan visa dan paspor. Untuk pemula seperti saya yang paspor saja belum punya *nangis dipojokan* bagian ini sangat bermanfaat. Setelah itu, barulah diceritakan pengalaman mereka ke Korea (selatan, ya bukan utara :p).

Cayi, Gelbi dan Bunbun menghabiskan waktu di Seoul, Nami Island, Sokcho, dan juga Jeju. Masih ingat kan kalau ini wisata backpacker? Maka tempat tinggal sementara yang mereka tempati bukanlah hotel, tapi hostel. Cuma beda huruf s di tengahnya, tapi beda banget lho. Apa bedanya? Kalau hotel sudah pasti lebih privat daripada hostel. Hostel itu layaknya kos-kosan harian gitu. Jadi satu kamar pun bisa berisi beberapa orang.

Kemana saja tempat-tempat yang dikunjungi? Lotte World? Jawabannya: Bukan. Mereka mengunjungi Seoul National Musem, Namsan Hanok Village, dan berbagai hal lainnya. Yang saya dapatkan disini, mereka berkunjung ke tempat-tempat wisata sejarah tentang Korea. Nah, di buku ini ada satu tempat yang bikin saya penasaran. Apa itu? DMZ atau Demiliterized Zone. DMZ ini semacam area perbatasan antar dua korea yang dijaga ketat oleh militer. Pernah lihat dramana Ha Ji Won-Lee Seung Gi yang The King 2 Hearts? Adegan waktu menikah melewati perbatasan itu lah DMZ. Seperti yang ditulis Cayi, disini ketat banget pemeriksaannya. Harus bawa dokumen asli dan tetek bengek lainnya. Cayi aja bilangnya sampe deg-degan takut ga dibolehin, walaupun akhirnya: boleh :))

Buku ini juga berisi transportasi yang ada di Seoul yang digunakan Cayi dkk. Mulai dari bus, subway, kereta, dan pesawat. Mereka juga berbaik hati menuliskan harga tiket, sampai rute masing-masing alat transportasi tersebut. Nggak cuma itu aja, mereka juga menuliskan pengalaman horror waktu mengunjungi kuburan di Korea. Hihihi, sampe Korea pun teteup aja ada makhluk kasat mata yang ganggu ya. Menarik banget deh, bukunya. Yah, diakui sih sekarang pun banyak travel blogger yang sudah menjelaskan secara rinci, tetap saja membaca versi cetak lebih asyik.

Oh iya, buku ini terbitan tahun 2012 jadi kemungkinannya ada beberapa hal yang sudah berbeda. Baca buku ini jadi pengen ke Korea juga! Siapa tau bisa ketemu BabyJ a.k.a Lee Jong Suk? Hahaha. Bismillah, semoga bisa kesampean ya ke Koreanya hihi :D

You Might Also Like

0 comment(s):

Hai! Terima kasih sudah membaca. Silahkan berkomentar dengan bahasa yang santun ya :)