A Lifelong Journey by Lulu Khodijah

Saturday, February 24, 2018

Pengalaman Ikut Try Out Uji Kompetensi Sarjana Kesehatan Masyarakat 2018

February 24, 2018 1
Pengalaman Ikut Try Out Uji Kompetensi Sarjana Kesehatan Masyarakat 2018
Niatnya mau ngelanjutin cerita KKN tapi bingung mulai darimana saking banyaknya cerita. Akhirnya dipinggirkan dulu dan nulis ini aja. Yup, barusan aja saya mengikuti Try Out Uji Kompetensi Sarjana Kesehatan Masyarakat 2018. Iya baru try out alias uji cobanya aja belum ujiannya yang "beneran". Dan ini gratis ya nggak dipungut biaya sama sekali.


Info untuk Try Out ini udah jauh-jauh hari diumumkan. Kalau nggak salah tahun lalu, kah? Atau awal tahun 2018 ini diumumkan lewat komting peminatan masing-masing. Alhamdulillah, instansi tempat saya belajar termasuk yang proaktif dapetin info semacam ini. Tahun kemarin bulan Agustus juga ada try out ini. Saya aja yang belum berkesempatan ikut. Baru dapet gilirannya sekarang. Sekali lagi, Alhamdulillah.


Oh iya, ada yang belum tau apa itu Uji Kompetensi Sarjana Kesehatan Masyarakat? 

Uji Kompetensi adalah suatu proses untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, dan sikap tenaga kesehatan sesuai dengan standar profesi. Uji Kompetensi Sarjana Kesehatan Masyarakat Indonesia (UKSKMI) dikembangkan dan diselenggarakan sebagai pemenuhan amanat Undang-undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi yang kemudian diikuti oleh Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 83 Tahun 2013 tentang Sertifikat Kompetensi dan Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 36 Tahun 2013 dan Nomor 1/IV/PB/2013 tentang Uji Kompetensi bagi Mahasiwa Perguruan Tinggi Bidang Kesehatan.

Tujuan dari adanya Uji Kompetensi ini agar ada standar mutu lulusan Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM). Karena nggak bisa dipungkiri saat ini banyak banget perguruan tinggi maupun swasta yang membuka fakultas/program studi Kesehatan Masyarakat. Nah untuk mengontrol mutu lulusannya ya diadakan Uji Kompetensi ini. Tiap perguruan tinggi itu Fakultas Kesehatan Masyarakat-nya beda-beda loh.


Contoh di UI untuk peminatan K3 udah jadi jurusan sendiri. Sedangkan di Undip masih tergabung dalam peminatan. Di salah satu perguruan swasta, peminatannya malah "hanya" ada tiga saja. Bandingkan dengan Undip yang ada sembilan. Kan beda banget gitu. Makanya UKOM ini diperluin deh biar nggak ada sebutan sarjana "abal-abal".

Sarjana Kesehatan Masyarakat yang telah lulus dari UKSKMI akan diberikan serifikasi kompetensi namun tetap dibina didalam naungan organisai profesi (IAKMI). Sertifikat Kompetensi adalah pengakuan kompetensi atas prestasi lulusan yang sesuai dengan keahlian dalam cabang ilmunya dan/atau memiliki prestasi di luar program studinya. Sertifikat kelulusan akan dikirim ke MTKI dan dikirim ke KeMenKes untuk diregistrasi.
Registrasi adalah pencatatan resmi terhadap Tenaga Kesehatan yang telah memiliki Sertifikat Kompetensi dan telah mempunyai kualifikasi tertentu lainnya serta diakui secara hukum untuk menjalankan praktik dan/atau pekerjaan keprofesiannya oleh organisasi profesi (IAKMI). 
Saat ini UKOM baru direncanakan akan diadakan dua kali selama setahun. Dan setiap UKOM, standarnya PASTI dinaikkan. Terakhir, standarnya itu 38% atau 3,86? Entah kurang paham kayak gimana penilaiannya hehe. Yang pasti katanya sih jauh banget dengan UKOM Kedokteran yang standarnya sampe 60%-an.

Output dari UKOM ini dengan diberikannya STR bagi mereka yang lulus. Apa itu STR?

Surat Tanda Registrasi yang selanjutnya disingkat STR adalah bukti tertulis yang diberikan oleh Menteri kepada Tenaga Kesehatan yang telah diregistrasi. Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia yang selanjutnya disingkat MTKI adalah lembaga untuk dan atas nama Menteri yang berfungsi menjamin mutu tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan yang terdiri dari unsur kementerian dan organisasi profesi kesehatan.
STR (Surat Tanda Registrasi) sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 2013 tentang Registrasi Tenaga Kesehatan. STR memiliki keterbatasan waktu (berlaku 5 tahun).
Kegunaan dari STR ini buat daftar-daftar kerja gitu. Salah satunya nih program dari Kemenkes: Nusantara Sehat.
Tuh, ada persyaratan punya STR
Sementara ini memang UKOM dan STR belum menjadi kewajiban. Masih pilihan aja untuk para SKM. Tapi kabarnya di masa mendatang bukan nggak mungkin semua lulusan akan diwajibkan untuk memiliki STR sebagai syarat lulus.


Trus kayak gimana Try Out-nya?

Walaupun namanya Try Out nih, ternyata nggak maen-maen. Tetep serius udah kayak UKOM. Sehari sebelum Try Out, peserta WAJIB ikut briefing. Di briefing ini dijelaskan kewajiban apa aja yang harus dilakukan oleh peserta. Mulai dari jam kedatangan, berkas yang harus dibawa, hingga teknis pelaksanaan ujian. Dari briefing-nya aja udah lumayan ketat. Nggak boleh berpakaian kurang rapi, nggak boleh telat, nggak boleh pake jam tangan, kacamata harus diperiksa, nggak boleh bawa kotak pensil (cuma alatnya aja dikeluarkan). 

Bentuk soalnya seperti apa?

Terdorong dari pertanyaan ini nih saya mau ikut Try Out. Biar ada gambaran. Soalnya kalo ikut UKOM membayar setengah jeti tapi gak lulus kan sayang uangnya. Huhu. Dan pelaksanaan UKOM kurang lebih sama kayak Try Out kok. Karena yang ngadain sama-sama dari pusat.

Jumlah soal sebanyak 180 pilihan ganda yang terangkum dalam bentuk BUKU. Udah kayak tes TOEFL aja ya pakenya buku. Pengisian lembar jawab pake Lembar Jawab Komputer (LJK). Soal yang diujikan semua mata kuliah yang masuk ke dalam Kurikulum Nasional. Jadi bukan mata kuliah peminatan yah. Kata pengawas yang nge-brief kemarin ada 17 mata kuliah. Setelah searching kok dapetnya ini, entah mana yang bener. 


Jadiii....bentuk soalnya ini studi kasus. Proporsi soal tentang epidemiologi berapa, gizi berapa, gitu NGGAK ADA. Atau nggak dikasih tau? Hehe. Yang saya kerjain mayoritasnya biostatistika, epidemiologi, AKK, dan K3. Soal tentang gizi kesmasnya dikit. Tapi temen saya yang kode bukunya beda, katanya malah banyak tentang gizi kesmas. Hmm misterius.

Tipe soalnya tuh bukan hafalan gitu. Misalkan soal tentang biostatistika. Dijelaskan tuh akan ada penelitian hubungan antara kejadian anemia dengan keaktifan ibu meminum tablet Fe. Kemudian akan ada kelompok kasus dan kontrol bla bla. Nanti ditanya, metode penelitiannya apa? Kohort kah? Cross Sectional kah? Trus ujinya pake apa? T-Test? Mann Whitney? Huft. Akibat nggak belajar, saya jawabnya mengarang bebas karena...lupa. Baru mulai belajar lagi buat skripsi *sigh*. 


Ada juga soal hitungan tentang proporsi, angka prevalensi, angka kesakita, sensitivitas spesifisitas, incidence rate, indikator kesehatan semua itulah yang pernah dipelajari di Dasar Epidemiologi semuanya ada.

Kalo boleh jujur, soalnya nggak susah karena emang udah diajarin. Tinggal kitanya aja masih inget pelajarannya nggak? Serius nggak belajarnya? HEHE. Ya gitu deh. Dari 180 soal diberikan waktu 180 menit alias 3 jam udah bikin berasap. Mau ikut UKOM atau enggaknya...mikir-mikir dulu deh! Harus beneran dipersiapkan soalnya. Jadi teman-teman itu sedikit tentang try out UKOM ya, semoga bermanfaat!

Tuesday, February 20, 2018

A Trip To: Bukit Kukusan Pemalang

February 20, 2018 3
A Trip To: Bukit Kukusan Pemalang
Bukit Kukusan Pemalang - Bersyukurnya punya temen suka jalan adalah pasti menyempatkan waktu untuk ke tempat baru. Karena KKN sering juga diplesetkan jadi Kuliah Kerja Ndolan, ya kami juga nggak bisa nggak Ndolan (main). Pemalang ini salah satu wilayah yang lengkap. Ada dataran rendah yang super terik dan ada pula dataran tinggi yang super dingin! Berhubung kami udah ke pantainya dua kali alhasil kami memutuskan untuk ke dataran tinggi.

My 42 days housemate

Baca: A Trip to: Pantai Widuri Pemalang

Destinasi awal kami sebenarnya ke Guci yang ada di Tegal. Tempat wisata yang akan saya tulis ini tempat “melipir” sebentar sebelum melanjutkan perjalanan pulang. Walaupun nggak lama, tapi puas beneran kok! Nambah stok foto instagram banyak. Kebanyakan malah. Sampe bingung yang mau diupload yang mana *problematika*.
Nama tempat wisata ini adalah... Bukit Kukusan! Udah pernah denger? Belum? Sama. Saya juga pertama kali tahu waktu jalan kok. Bukit Kukusan ini masuk di Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang. Untuk menuju kesana bisa tulis alamat lengkapnya Jalan Raya Karangsari – Guci No. 6020, Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari atau tulis aja “Bukit Kukusan” di aplikasi GPS smartphone. Pasti ketemu!



Bukit Kukusan ini aksesnya gampang. Berada pas di pinggir jalan jadi nggak bakal bikin bingung. Yang harus dicatet nih, kondisi jalannya. Namanya juga udah masuk dataran tinggi. Harap maklum jalannya bakal naik turun dan ada beberapa jalan yang curam. Oh ya, lebar jalannya juga standar. Paling muat 1 mobil di masing-masing arah. Makanya nggak disarankan buat ngebut apalagi waktu hujan. NO NO NO.

Sampai di tempat, awalnya nggak kelihatan jelas kayak gimana. Kok gitu? Iya, soalnya kayak sempit gitu dan area parkirnya masih tanah merah yang basah. Belum dipaving dan dirapihin. Saat saya kesana (Februari 2018) masih terlihat tukang-tukang buat renovasi. Uhuy! Tandanya udah mulai diperbaiki nih biar lebih asyik lagi untuk dikunjungi 

Pemandangan dari Bukit Kukusan
Harga tiket masuk Bukit Kukusan lumayan murah. Cukup Rp 3.000 tiap orang. Ditambah parkir Rp 2.000 untuk kendaraan toda dua, dan Rp 5.000 untuk roda empat. Kalau mau bawa SLR sendiri kalo nggak salah ya, nambah lagi Rp 35.000. Di pembelian tiket ini kami ketemu penjaganya yang..kembar! *penting*. Isengnya anak-anak pada godain gitu LOL. Btw waktu kami kesini pada bawa tas ransel yang berat. Kami titipin aja ke mbak-mbak ini. Dan ternyata boleh tanpa harus bayar lagi.

Apa sih isinya Bukit Kukusan ini?

Tempat ini lebih layak disebut selfie spot. Karena ya, dari bawah ke atas semuanya diisi tempat foto-foto. Ada banyak spot yang bisa digunakan untuk foto. Spot ini sengaja didesain ala-ala rumah pohon, tempat nongkrong, sampai ayunan. Beruntungnya kami karena dateng nggak saat liburan, nggak perlu ngantri buat foto. Ini beberapa spot buat foto.


Untuk foto disini bayar tambahan Rp 2.000

While talking to your loved ones..


Sending my love from the peak
Naah yang menantang, untuk bisa ke spot-spot ini harus mendaki tangga satu per satu yang tingkat kecuramannya lumayan juga. Makanya kalo mau kesini harus pastiin pake baju yang aman dan nyaman. Yang muslimah ini pake syar’i tetep bisa, asalkan jangan yang lebar bagian bawahnya ya. Tetep juga pakai daleman celana. Trus pilih sepatu yang NGGAK LICIN. Jangan yang alasnya udah tipis, apalagi pake sandal. Bisa-bisa nggak menikmati perjalanan. Kayak temen saya ada yang kepleset, huhu.

Baca: A Trip To: Curug Sewu Kendal

Spot-spot selfie-nya ada yang standar, ada juga yang menantang. Dalam artian ada di pinggir tebing yang bawahnya langsung sawah! Hahaha. Jajal aja semuanya jangan sampe menyesal. Enak kok ngerasain angin yang adem membelai wajah *eaa*.

Fasilitas lain yang disediakan:
⇒ Toilet di beberapa tempat. Kebersihannya nggak tau karena pas disana nggak make.
⇒ Mushola.
⇒ Warung-warung buat sekedar melepas lelah.

Saya menyarankan temen-temen yang mau dateng kesini buat bawa minum sendiri, lumayan hemat dan nggak bikin sampah. Dan datengnya pagi, atau sore sekalian biar nggak panas. Kemarin saya datengnya sekitar jam 14.00 – 15.00 masih lumayan kerasa panasnya. Malah lihat-lihat di instagram ada yang dapet foto bagus saat malam. Yaaa tergantung sempatnya kalian kapan sih, ya 

Overall, saya nggak nyesel pergi kesini. Dapet stok foto banyak! Hahaha. Semoga setelah direnovasi jadi tambah rapi dan banyak wisatawan yang dateng ya! Jangan lupa untuk selalu jaga kebersihan!

(Btw credit photos ke Mas Od, Mas Ig, Mbak Dit maafkan daku tidak menyebut satu persatu karena nggak tau foto mana yang nge-take siapa heu).

Monday, February 19, 2018

Cerita 42 Hari #KKNLyfe: How It Started

February 19, 2018 1
Cerita 42 Hari #KKNLyfe: How It Started
Hola! Awal tahun ini saya udah ngerasa campur aduk banget. Ya, sejak tanggal 4 Januari - 14 Februari yang lalu saya menjalani KKN alias Kisah Kasih Nyata Kuliah Kerja Nyata. Ini ceritanya bakal panjang deh kayaknya, bener-bener mau nyeritain dari awal banget pembekalan sampai akhirnya penarikan kembali.

Our first picture together. Taken after opening ceremony.

Karena menurut saya momen ini salah satu dream-like moment. Kedengerannya berlebihan ya. Tapi emang kenyataannya gitu. Sama seperti saat magang dulu, momen ini masuk ke dalam tahap "TERNYATA AKU PERNAH NGALAMIN KAYAK GINI JUGAAA" hahaha. 

(Cerita magang lengkapnya ada disini dan disini!)

Setelah PBL yang ceritanya baru satu bagian aja itu, saya udah ancang-ancang buat KKN. Jangan salah ya, KKN ini masuk ke dalam SKS berjumlah 3. Dan saya ambil di semester 7. Sedangkan pelaksanannya setelah liburan semester 7. Eh lebih tepatnya saat liburan peralihan dari semester 7 ke semester 8.

Untuk bisa ngikutin KKN harus mendaftar lewat bagian kemahasiswaan(?) atau apalah. Seriously saya nggak tahu. Akibat dari sistem paketnya FKM, kami udah secara otomatis diurusin buat daftar KKN. Tugas mahasiswa cuma melengkapi persyaratannya aja. Yaitu surat keterangan bahwa udah menjalani perkuliahan sebanyak 110 SKS. 

Selain itu kami juga diwajibkan mendaftar secara online. Disitu mengisi form yang ada identitas diri beserta orang tua. Gunanya identitas orang tua ini biar kalo pait-paitnya ada apa-apa bisa dihubungi segera. Dan entah kenapa keteledoran saya terjadi di bagian pendaftaran ini. Bisa-bisanya salah masukin tanggal lahir! Huhu. Akhirnya saya ngurusin deh di gedung ICT Undip. Kenapa gitu harus diurus? Katanya sih nanti terkait dengan klaim asuransi. Ya, KKN ini ada asuransinya juga.

Daftar kelar. Tinggal nunggu aja nih penempatannya dimana. Yang namanya nunggu kan nggak pernah enak ya. Bikin tidur nggak nyenyak *halah*. Hari H pengumuman, jeng jeng! Nama saya tercantum di Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang. Antara seneng dan sedih gitu rasanya. Seneng karena Pemalang itu kampung halaman saya sendiri. Yang tiap lebaran pasti mudiknya kesana. Sedihnya ya nggak kesempatan buat eksplore daerah lain. But still, I'm grateful. Seenggaknya ada saudara yang bisa dimintai tolong sekiranya dibutuhkan.

KKN Tim 1 Undip tahun 2018 kali ini saya dapet bareng 2 fakultas lain. Fakultas Hukum dan Fakultas Teknik. Sedangkan dari Teknik-nya ya bermacam-macam. Sebelum penerjunan, kami diwajibkan untuk ikut pembekalan. Kegiatan pembekalan ini berupa pemberian materi tentang apa itu KKN, teknik reportase, dan pengenalan wilayah dari Bappeda Kabupaten Pemalang serta perwakilan Camat Taman.

Pada pembekalan ini juga momen buat ngelihat muka-muka mana yang bakal jadi teman hidup 42 hari ke depan. Saya yang dasarnya agak males bersosialisasi sama sekali nggak merhatiin sekitar, lol. Pembekalan duduk di depan dan nggak mau kepoin orang-orang seruangan. Sigh. Jangan dicontoh.

Waktu pembagian lokasi KKN ini random bener. Dosen KKN-nya cuma nyuruh 1 orang maju terus ngacak aja deh ini ditaruh mana semau 1 orang ini. Lucu emang ya. Di antara 90an orang lainnya itu yang saya kenal cuma anak se-fakultas aja. Lainnya blank nggak tau sama sekali. Alhasil nggak berharap mau ditaruh sama siapa, dimananya juga enggak. Lha wong daerahnya aja nggak tau kayak gimana. Mau berharap apa?

Akhirnya dari acakan itu saya ditempatin di Kelurahan Beji bersama 8 orang lainnya. Kami ber-9 terdiri dari 5 cowok dan 4 cewek. Udah kayak yang yey karena semakin dikit cewek, mikirnya bakal semakin dikit drama yang ada. Haha.

Pertama kalinya kami duduk bareng saya masih biasa aja tanpa menghafal nama dan muka. Cuma scanning sekilas aja. Disitu kami bahas siapa nih yang mau jadi Kordes (Koordinator Desa)? Sempet alot juga nggak ada yang mau, apalagi mengajukan diri. Udah pasti Kordes pilihnya yang cowok aja. Bakal ribet kan kalo cewek jadi Kordes dan baperan? It's a big NO. Kami pilihnya asal banget. Gimana sih ya kan nggak tau asal usulnya hahaha. Yang penting anak organisatoris aja itu cukup. Dan dari situ kepilihlah Ig sebagai Kordes! *prok prok* (btw nama sengaja saya samarkan aja kali ya demi privasi).

Udah kepilih pun masih ogah-ogahan gitu. Maklum tanggung jawab Kordes itu besar dan cukup lama. Dan..nggak ada persiapannya sama sekali. LOL. Saya yang tadinya kepilih jadi Bendahara taunya digeser ke Sekretaris. It's okay. Kata salah satu kating, usahakan jadi perangkat desa. Biar apa? Dengan sedikit "kekuasaan" itu siapa tau bisa memberikan influence yang baik. Asli, itu doang tujuannya. Nggak mikir yang bakal ribet gimana-gimananya.

***
Selanjutnya kami diberikan waktu untuk survei. Dulu, survei ini dilaksanain rame-rame sekelompok gitu. Bebas mau motoran atau naik kendaraan lain. Tapi sejak ada kasus mahasiswa KKN yang kecelakaan di jalur pantura, kami dilarang keras buat itu. Akhirnya diputuskanlah perangkat desa se-kecamatan ini yang survei.

Begitu ngelihat lokasi KKN, kesan pertamanya adalah..

"KOTA BANGET INIII". Beneran. Lokasi KKN saya ini mirip-mirip sama Tembalang. Letaknya di pusat kota. Rame. Akses kemana-mana gampang. Bahkan ke alun-alun Kabupaten Pemalang-nya hanya 4 kilometer dari kantor kelurahannya. Kurang amazing apa? Salahnya, kami malah seneng. Mikirnya nggak bakal kehilangan sinyal lol millenials banget. Padahal ini jadi blunder kami dalam menyusun program nantinya.

Agenda survei yang terpenting adalah nyari posko. Dengan embel-embel mahasiswa, kami (lebih tepatnya Kordes sih HAHA) mengutarakan ke pak Lurah untuk cari posko yang gratis aja. Iya, gratis. Kalian nggak salah baca.

Dapet nggak? Ya dapet lahhh! LOL. Posko kami ini berada di komplek perusahaan. Semacam mess perusahaan gitu. Terisolasi dari rumah warga. Gerbang setiap hari ditutup jam 10 malem. Sekitarnya cuma sungai, kantor, dan pabrik. Rasa shock-nya nggak berhenti sampe situ. Kamarnya cuma satu yang otomatis dipake buat ciwi-ciwi berempat. Sedangkan cowoknya di ruang tamu. Jadi bentuknya kalo ada orang yang buka pintu rumah langsung keliatan deh kasurnya para cowok ini. Hahaha. Aseli nggak habis pikir bisa-bisanyaaa! Enaknya, bersih! Dan peralatan dapurnya lengkap. Jadilah kami betah-betah aja disini sampe 42 hari *ehem*.

Dan, cerita 42 hari pun dimulai!

Saturday, January 13, 2018

A Trip To: Pantai Widuri Pemalang

January 13, 2018 12
A Trip To: Pantai Widuri Pemalang
Seminggu berselang setelah KKN, akhirnya dapet kesempatan untuk jalan-jalan. Fyi KKN saya dapet di wilayah Pemalang alias pantura. Nggak heran tujuan jalan-jalan kami ya ke pantai. Ada sih gunung atau yang dataran tinggi gitu tapi jauh. Jadi kami pilih yang deket dulu aja, Pantai Widuri.


Pantai yang letaknya nggak jauh dari jalan provinsi ini lumayan gampang diakses. Ada penunjuk arah yang gede warna ijo itu loh di pinggir jalannya. Kami kesana sekitar pukul 16.00 WIB.

Pantai Widuri bisa dibilang salah satu yang paling terkenal di Pemalang. Semacam kebanggaan gitu kali, ya? Banyak acara yang diadain di pantai ini. Seperti penerbangan lampion waktu tahun baru. Selain itu ada juga water park dan bukit... Di dekatnya. Karena keterbatasan  waktu, kami cuma ke pantainya aja.

Untuk masuk kesini tiket masuknya murah banget. Cuma 2000 rupiah! Tapi saya ingetin ya, jangan berekspektasi tinggi-tinggi. Mengingat pengalaman pantai lain di Pemalang ya biasa-biasa aja.

Dan benar saja, kata yang bisa mendeskripsikan Pantai Widuri: KOTOR 😭😭 pake banget. Sedih dong, ngiranya ya lebih baik lah dari pantai yang pernah saya kunjungi juga di pantura. Sampah-sampah berserakan dimana-mana.

Ditambah air saat itu sedang pasang. Kami cuma foto-foto aja sambil menikmati kencangnya angin sore. Lumayan refreshing sejenak. Salah satu spot selfie berupa jembatan yang lumayan terkenal pun nggak bisa dituju juga. Soalnya airnya bener - bener tinggi! Ada peringatannya pun nggak boleh deket-deket.




Kata temen saya sesama orang Semarang, "Nggak ada bedanya sama Pantai Marina!". Yang konotasinya..nggak terlalu bagus 😐

Yahh sayang aja sih destinasi yang bisa jadi unggulan Pemalang kurang terawat. Mungkin sebaiknya dinas setempat bisa memperbaikinya. Pengunjung juga dong!

Oya saya pun sempet ngobrol juga sama dosen KKN. Beliau nggak menyarankan untuk ke Pantai Widuri saat holiday session seperti Lebaran. Kenapa? Karena disana banyak orang yang malak. Parkir aja bisa sampe 15.000! Huft. Beruntunglah saya yang cuma bayar dua ribu aja. Hehe.

Orang Pemalang adakah rekomendasi tempat wisata alam yang asik? 🙋

Wednesday, January 03, 2018

Plans for 2018

January 03, 2018 3
Plans for 2018
Masih New Year vibes kan? Plis bilang iya. Ya dong kan masih minggu pertama. Rasanya tahun baru nggak afdhol ya tanpa resolusi? 


Bentar. Dari dulu denger kata "resolusi" padahal belum pernah cari tau makna sebenarnya dari resolusi itu apa. Mau tau nggak apa kata KBBI? Nih.
resolusi/re·so·lu·si/ /résolusi/ n putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal: rapat akhirnya mengeluarkan suatu -- yang akan diajukan kepada pemerintah.
Lho kok kayak nggak nyambung ya sama resolusi yang selama ini didengung-dengungkan? Biarlah. Makna resolusi versi saya: kumpulan, rancangan pemetaan (?) yang akan dilakukan selama setahun kedepan. Ada 365 hari nggak mungkin saya habiskan dengan leyeh-leyeh nonton drama Korea. Apalagi Wanna One Go: Zero Base karena udah tamat! *brb nangis di pojokan*. Gak deng. Lebhay.


Beda dari tahun sebelumnya yang gigih banget buat nulis resolusi, kali ini nggak. Yang ada di kepala cuma satu: I want to be healthy. Mentally and physically. Mau sehat jiwa dan raga. Berkaca dari tahun kemaren yang rasanya batin tuh nggak tenang. Hidup kayak dikejar-kejar padahal nggak punya utang kartu kredit. Trus menyesal sendiri kenapa nggak bisa fokus sama diri sendiri? Kamu tuh nyari apa? 

Dan, kesehatan itu mahal harganya. Emang nggak kerasa saat kita sehat. Nggak ada masalah. And then we take for granted. Padahal saat sakit wuh masyaAllah ya. Doa terus sambil nangis-nangis biar dikasih kesehatan.

Makanya saya pengen tahun ini SEHAT JIWA DAN RAGA. Inget pasti jaman SD dulu ada pepatah "Men sana in corpore sano". Diterjemahkan jadi "Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat". Bener loh. Dengan kita sehat, bisa melakukan banyak aktivitas, eksplor ini itu tanpa merasa lelah. Kesehatan jiwa pun nggak kalah pentingnya. Liat gimana kasus depresi yang sering diangkat di media massa. It's a new emerging disease for millenials, I guess.


Dengan cara apa sehatnya?

Dari segi fisik mau mulai teratur dulu beraktivitas fisik. Kata Kim Jong Kook di Running Man buat pemula pake prinsip 3-30-7. Apa itu? 3 kali selama 30 menit dalam 7 hari alias seminggu. Maksudnya dalam satu minggu minimal disempatkan 3 hari diantaranya untuk beraktivitas fisik selama 30 menit. Nggak muluk-muluk. Jogging atau lompat tali juga bisa.


Untuk mentalnya sendiri berusaha buat memperbaiki ibadah. Hablumminallah. Sampe sekarang masih belum bisa di tahap "menikmati" ibadah. Sampe mana ya? Kayaknya masih sekedar kewajiban aja huhu. Iri banget rasanya ngeliat orang yang ngadepin hidup adem ayem aja (keliatannya) karena kedekatannya sama Allah. Emang ya, hanya dengan mengingat Allah hati terasa tenang.

Masalahnya buat mengingat itu bukan hal yang gampang. Perlu dibiasakan. Nungguin bus dateng, zikir. Nunggu iqomah, zikir. Pengen bisa terbiasa di hati dan di lisan buat mengingat Allah. Yuk temen-temen kita usaha bareng!

Tahun untuk menyelesaikan kewajiban

Jeng jeng. Kewajiban menyelesaikan kuliah. Harus punya mental berjuang banget ini. Namanya skripsi PASTI dikerjain diri sendiri. Dimulai dari diri sendiri. Diselesaikan oleh diri sendiri. Hasilnya untuk orang banyak. Bismillah semoga dilancarkan buat lulus 8 semester aja nggak usah nambah! Amin ya Robbal Alamin.


Rencana-rencana lain masih melanjutkan dari resolusi tahun 2017 yang belum terlaksana. Masih lumayan banyak PR-nya. Bismillah lagi semoga dimudahkan dan diberi ke-istiqomahan sama Allah. InsyaAllah bisa!

Ingat akhir zaman

Akhir-akhir ini juga banyak banget berita yang menandakan akhir zaman. Contoh yang nyata kekeringan di Israel sana karena keringnya Danau Tiberias. Sepanjang yang saya tahu dari belajar sana sini yang masih seadanya, ini merupakan tanda dari munculnya Dajjal.

Karena itu juga saya berusaha banget apapun yang dilakukan di sisa-sisa tahun ini HARUS dilandaskan dengan niat yang lurus. Niatnya beramal. Untuk Allah. Bukan untuk yang lain. Dan meyakinkan diri sendiri kalo semua itu udah diatur. Nggak usah mencemaskan terutama masalah dunia. As long as you do your best as ikhtiar and du'a, InsyaAllah saat ditimbang nanti bisa memberatkan amalan baik ketimbang buruk.

This is my spirit for 2018, and if you do have too let's say Bismillah and let's do the best!